• kunjungan

    free counters
  • RSS hang tuah batam

  • Album Foto

  • fans page

  • <script type="text/javascript">var cstrpuid = 234893;var cstrpwidth = "200";var cstrpheight = "130";</script><script type="text/javascript" src="http://cdn.caster.fm/0070B7/widgets/player.js"></script><!-- DO NOT REMOVE THE LINKS BELOW, THEY WILL BE HIDDEN (AND WILL HELP US A LOT) --><a id="cstrplb" href="http://www.caster.fm/">Free Shoutcast Hosting</a><a id="cstrplb2" href="http://www.caster.fm/">Radio Stream Hosting</a><div id="cstrpdiv"></div>
  • Iklan

Mak Dayang, Perempuan Suku Laut Yang Tegar


Enam kali sudah lebaran sejak kenal Mak Dayang, barulah tahun 2013 ini Mak Dayang datang berkunjung ke rumah kami di Batam. Mak Dayang tidak sendiri puluhan kerabatnya ikut bersama.

SONY DSC
Mak Dayang adalah perempuan Suku Laut, kini menetap di pinggir pantai dapur arang Selat Desa. Sebelumnya keluarga Mak Dayang hidup diatas sampan berpindah pindah (nomaden).

Selat Desa, pemukiman Suku Laut itu hanya sekitar 30 menit dengan pompong dari pelabuhan Telaga Punggur. kecamatan Nongsa
Pertengahan tahun 2008 lalu, Mak Dayang dan Pak Din datang ke Pusat Dakwah Muhammadiyah (PDM) di Tembesi. Pak Din adalah ketua Suku Laut, Mak Dayang pula kakak dari Pak Din. Pak Din tinggal di Air Mas.

Mereka sengaja datang ke PDM untuk mengadukan nasib 8 kepala keluarga Suku Laut yang masih setia dalam Islam, lainnya telah berpindah agama, termasuk putra putri Pak Din dan Mak Dayang sendiri.”Sudi apalah kiranya, saudara Islam datang menjenguk dan membantu kami” itulah keluhan kedua kakak beradik ini.

Di Air Mas dan Selat Desa, dipemukiman Suku Laut tempat bermukim kakak beradik yang sudah bercucu ini, hampir semua mereka bersaudara.

Sebenarnya bukan hal perpindahan agama itu saja yang merunsingkan hati Mak Dayang, tangkapan ikan sudah sangat jauh berkurang sebagai sumber penghidupan mereka, laut tercemar, perairan tempat menangkap ikan mereka dilalui hilir mudik ferry cepat dari ke Tanjung Pinang – Batam.

Alih Profesi?

Mak Dayang pun sudah semakin tua dan lemah, “Dah tak larat lagi nak kelaut.” ujar Mak Dayang suatu ketika. Kini, sesekali Mak Dayang bersama teman-temannya datang ke Telaga Punggur, mengumpuli barang bekas, dari tempat pembuangan sampah. Barang yang masih berguna dijual kembali, setelah dicuci bersih.

Akhir tahun 2009, tak jauh dari pondok Mak Dayang kami dirikan sebuah mushala kecil, atas permintaan Mak Dayang. Disitu pula menetap seorang Dai, ustadz Masri namanya. Sehingga bisalah mereka belajar agama, terutama anak-anak mereka dapat juga belajar mengaji.

Style Mak Dayang dengan Jilbabnya....... tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek.... satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya......... banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama.....

Style Mak Dayang dengan Jilbabnya……. tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek…. satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya……… banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama…..


Kini telah belasan kepala keluarga Suku Laut yang beragama Islam. Shalat jumat pun telah dilaksanakan di kampung itu.

Ada bantuan Generator Set dari LAZ Masjid Raya Batam. Sepan-jang usia Mak Dayang, hampir sama dengan usia Indonesia Merdeka, barulah itu Mak Dayang menikmati terangnyanya lampu listrik walaupun itu hanyadari pukul 6 petang ke pukul 10 malam.

Baru-baru ini sudah dibangun pula pelantar di pemukiman Suku Laut itu, pelantar bantuan dari Pemko Batam.

Menjelang Idul Fitri 1434H yang baru lalu kampung Selat Desa dikunjungi sahabat dari Singapura, Alhamdulillah, lumayan jumlah infaq yang diterima mereka.
“Bisalah untuk tambang ke Batam naik keri, berhari raya” kata Mak Dayang sambil tersenyum menjeling.

Sebenarnya teringin sekali nak membawa Mak Dayang sekeluarga orang Selat Desa, keliling Batam yang jarang dikunjungi mereka, tetapi hari itu juga aku harus segera ke Teluk Nipah Galang Baru, karena Pak Dul teman lama meninggal dunia. (Imbalo)

Iklan

Pabrik Bir di Batam


Restoran disponsori Minuman Beralkohol

Adalah Ilham Eka Hartawan Kasubdit Humas dan Publikasi Badan Penguasahaan (BP) Batam mengatakan, bahwa rencana Investasi yang akan ditanamkan perusahaan asal Swiss, semakin meningkatkan citra Batam sebagai salah satu tujuan investasi utama kawasan Asia-Pasifik.

Investasi yang akan ditanamkan perusahaan asal Swiss itu adalah pabrik Bir, bernilai 250 juta Dolar Amerika (AS).
Selain membangun pabrik Bir, kata Ilham investor juga akan membangun fasilitas untuk menikmati Bir bagi para wisatawan seperti cafe Bir. BP Batam pun diminta menyiapkan lahan seluas lima hektar.

Bandar Dunia Madani?

Selama ini kita mendengar Batam adalah Bandar Dunia Madani. Apa hubungannya dengan Bandar Dunia Madani.? Setahu saya tidak ada perda ataupun perangkat hukum yang mengatur dan menyatakan bahwa Batam Bandar Dunia Madani, jadi sah sah saja kalau di Batam di bangun pabrik Bir, kata seorang teman. Dalam Undang Undang Batam adalah Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ).

Namun Ketua MUI Kepri, Haji Azhari Abbas, yang dihubungi Buletin Jumat, rabu (14/03), tidak sependapat. Beliau tidak setuju adanya pabrik minuman beralkohol itu di Batam. “Kalau betul, kita akan pertanyakan hal ini, kita akan ajak hearing DRPD, Walikota Batam dan juga BP Batam.” ujar nya . “Sudah enggak betul itu” sambung Ketua MUI asal Aceh itu.

Kebutuhan Bir di Batam
Sementara itu, Marganas Nainggolan, wartawan Senior koran harian Lokal Batam, menyebutkan, “Memang semakin enggak jelas arah visi, misi Batam ini”. tulisnya melalui sms
Beberapa Tahun yang lalu Marganas yang kini Direktur Utama dan juga Ketua Dewan Redaksi koran terbesar di Batam, pernah menulis bagaimana melimpahnya Bir masuk ke Batam, seakan tak wajar, tetapi itulah kenyataannya. Minuman beralkohol, haram dikonsumsi umat Islam ini, jumlah liter yang masuk dibagi dengan jumlah penduduk Batam, termasuklah bayi, adalah, seorang mengkunsumsi 3 liter perhari. Mungkin itu membuat investor asal Swiss ini tergiur membangun pabrik Bir di Batam.

Pulau Boyan Rumah Pak Panjang


Dari Perjalanan Mengunjungi Pemukiman Sulu Laut

Dari Pelabuhan Sagulung, kami naik spead boat 40 PK. Hanya beberapa menit saja, persis disebalik sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sampailah kami di Pulau Boyan.  Pulau Boyan di dalam peta tertulis Pulau Bayan. Entah sejak bila, pulau kecil berpenghuni belasan kepala keluarga suku laut ini, berubah nama menjadi Pulau Boyan.

Pak Panjang Orang yang paling tua di pulau itu pun tak tahu persisnya. Sekitar tiga tahun yang lalu, kami dirikan sebuah mushala kecil disitu. Dai yang dikirim oleh AMCF, hanya bertahan setahun. “Sejak Ustadz Tasman tak ada, tak ada lagi yang mengajari kami me ngaji” ujar Ibu Ani.  “Di mushala jarang ada kegiatan”.lanjutnya Kami shalat Juhur dan Asyar di jamak dan diqasar berjamaah.

Di dalam mushala terlihat bersih, tetapi hampir seluruh dinding plaster semen terkelupas. Mung kin dulu pasir yang digunakan bercampur dengan air asin, jadi mudah terkelupas. Dibagian luar dinding mushala pun demikian juga. Plasteran terlihat mengelem bung, seakan ingin berpisah deng an pasangan batunya.

Pulau kecil masuk dalam kelu rahan Pulau Buluh dan kecamatan Bulang ini, tidak ada sumber air tawarnya , tetapi Alhamdulillah saat wuduk tadi, tandon 1000 liter sumbangan dari seseorang yang tak mau disebut namanya, berisi air, walaupun tidak penuh. Beberapa kali ada lembaga sosial survei kesitu, ingin membantu membuat sumur bor, tapi hingga kini belum terwujud.

Beberapa tahun yang lalu pu lau kecil yang eksotik ini, ramai di kunjungi kapal kapal kecil yang lalu lalang, untuk mengisi minyak. Disitu dulu, ada pangkalan pengisi an bahan bakar minyak (BBM). Masih terlihat beberapa buah tangki dari baja yang sudah mulai berkarat. Perpipaannya pun masih rapi terpasang. Diantara pipa – pipa dan tangki BBM itulah ada jalan setapak menu ju ke pantai, kerumah ibu Ani. Bu Ani mengharapkan ada seorang Dai lagi datang ke situ, agar dapat mengajari mereka tentang Islam.

Pak Panjang Dari jauh , melihat kami datang, ter gopoh gopoh pak Panjang datang, Pria tua 70 tahunan ini tersenyum, terlihat giginya rapi, rupanya baru dipasang gigi palsunya. Pak Panjang punya beberapa orang anak perempuan , seorang anak perempuannya bernama Fatimah menikah dengan warga keturunan dan hingga kini meme luk agama suaminya. Begitu juga cucu lelaki bu Ani, menikah dan mengikut agama isterinya.

Tak banyak yang dapat kami lakukan, hanya mendengar cura han hati dari penduduk kampung pulau Boyan itu. Pulau Boyan, mau dikatakan pulau terpencil, tidak juga. Hanya beberapa menit saja dari Batam, kota Metropolitan yang sibuk dengan segala kegiatan.

Tak jauh dari pulau itu ratusan kapal – kapal besar bersandar dan berlabuh menunggu perbaikan. Tentunya itu semua adalah devisa, yang tak menyentuh kehidupan mereka. “Umur saya paling juga 3 tahun lagi” ujar pak Panjang kali ini dia tidak tersenyum, tetapi tertawa, tampak semua gigi palsu nya. “Kapan kampung kami ada listriknya”. rungutnya.

Pantas pak Panjang merungut, tak jauh dari pulau itu pipa Gas diameter besar mengalir ke Singapura, puluhan kilo meter panjangnya. Aku tersenyum, lalu mengajak nya photo bersama. Kumasukkan lembaran berwarna biru ke dalam sakunya, itulah yang dapat kula kukan. Dan Aku tak mau berjanji, tapi isnyaAllah, akan kukabar kepada Datuk Bandar, mudah mudahan beliau mendengar.

Kami tinggalkan pulau Bayan, bersama Adi Sadikin dari Malaysia, Ita Hasan Si Pulau Terluar, Aisya dari Pekanbaru, Jogie dari Hang Tuah, Sabri anak jati pulau Bulang dengan lincahnya menjadi tekong kami menuju destinasi yang lain.

Hari pun beranjak petang. (*)

Info Halal : Selanjutnya Terserah Anda


Makanan halal menjadi tidak halal, ada beberapa faktor penyebabnya. Seperti masakan laut (seafood) misalnya, makanan yang sangat banyak penggemarnya ini, menjadi tidak halal apabila bumbu masak nya terbuat dari yang tidak halal.

Hampir semua masakan laut menggunakan saus, tidak afdol masakan itu tanpa saus. Apa lacur kalau saus digunakan dari barang yang tidak mempunyai sertifikat Halal?.
Seperti penuturan Herman (65) : “Kalau kami ganti sausnya dengan yang lain, langganan kami sudah terbiasa dengan saus yang itu” Ujar Herman pengelola Restoran Dju Dju Baru, sembari mengangkat sebuah botol tanpa label, berisi cairan bening dan kental.
Restoran Dju Dju Baru berada di seputaran Nagoya, Buletin Jumat (BJ) berkunjung ke Restoran itu kemarin, selasa (26/02). Adalah Ibu Yanti dari Telaga Punggur bertanya kepa da BJ tentang ke-halalan masa kan di Restoran itu.
“Restoran ini sudah 18 tahun, sejak kami dibelakang Hotel Harmoni” ujar Herman. “Tidak ada masaalah, tanpa sertifikat halal, langganan kami tetap ramai” Tambahnya lagi.
“Kalau ada sertifikat Halal, nanti kami tak boleh jual Beer, tak boleh ini tak boleh itu, banyak aturan” Jelasnya lagi. Herman pun menjelaskan kalau Restorannya tidak menjual Daging Babi. “Yang Jual Babi di Restoran Dju Dju satu lagi.” Ujar Herman.
Tidak berapa jauh dari Restoran Dju Dju Baru, persis disamping Hotel Dju Dju ada sebuah Restoran bernama Dju Dju, tanpa kata Baru, pengelola nya masih kerabat Herman.

Haram bukan karena unsur babi saja

Jadi, menurut sebagian orang, Halal itu cukup tidak ada babi. Sebagaimana pernyataan Herman. Menurut Herman tetamunya yang dari luar negeri selalu minta Beer, itulah sebab nya Restoran menyediakan minuman beralkohol itu.
Kalau tetamu dari dalam, jarang yang minta Beer. “Banyak juga tamu dari orang pemerintahan.” Ujar Herman lagi sambil terse nyum. Bahkan mantan orang nomor satu di Kepri ini pun acap makan di Restoran itu.
Semua mereka Muslim. “Kalau mereka datang lantai dua itu penuh, muat 50 orang” ujar Herman , matanya menga rah ke lantai dua Restoran itu.

Tidak Melanggar UU Perlindungan Konsumen

Kita tidak bisa memaksa Herman harus mengurus serti fikat Halal untuk Restorannya, tanpa itu pun pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Herman pun tak henti-henti nya menerima pembayaran uang dari pembeli selama kami berbincang.
“Sabar ya pak, Sabar ya pak, jangan tulis seperti itu. Nanti terdengar kasar, agak lembut sedikit.” ujar Herman kepada BJ. Sesaat BJ hendak meninggalkan Restoran itu.
Apa yang dikatakan Herman adalah benar, disisi Undang Un dang Perlindungan Konsumen, karena Restoran Dju Dju Baru tidak melanggar Undang-Undang. Herman tidak menyata kan Halal Restorannya :”Terse rah mau makan disini atau tidak, karena saya akan tetap menjual Beer dan menggunakan saus dan bumbu yang sama”.
Jadi terpulanglah kepada kita sebagai Muslim, peminat makanan laut yang masih peduli dengan halal dan haram. Kami anjurkan belilah dan konsumsilah makanan di tempat yang sudah berser tifikat Halal.

Masjid Cheng Ho Surabaya : Tiru Arsitektur Masjid Niu Jie Beijing


Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Tiba  dilokasi masjid Muhammad Cheng Ho, seorang satpam menyambut kami. Dari pintu gerbang masuk , tak terlihat kalau ada masjid. Terhalang bagian belakang areal bangunan serba guna komplek Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI) Jawa Timur .

Memasuki halaman parkir yang juga berfungsi sebagai lapangan oleh raga, barulah terlihat bangunan yang menyerupai kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma) . Itulah masjid Cheng Ho, masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid.

Arsitektur Masjid Cheng Ho meniru Masjid Niu Jie (Ox Street) di Beijing sana yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal, Jawa. Arsiteknya pula adalah Ir. Abdul Aziz dari Bojonegoro.

Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.Selain Surabaya di Palembang juga telah ada masjid serupa dengan nama Masjid Cheng Ho Palembang atau Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang.

Bersama Ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid Cheng Ho Surabaya

Bersama Ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid Cheng Ho Surabaya

Masjid ini terletak di jalan Gading Surabaya , saat kami datang, shalat juhur sedang berlangsung, Buletin Jumat (BJ) bergegas mengambil wuduk, namun sayang tak sempat mengikuti shalat berjamaah.

Masjid Cheng Ho ini selesai dibangun dan diresmikan 13 Oktober 2002,” Diberikan nama seperti itu merupakan bentuk penghormatan pada Cheng Ho, Laksamana asal Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho bukan hanya berdagang dan menjalin persahabatan, juga menyebarkan agama Islam”. Jelas ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid yang sudah delapan tahun menjadi imam tetap di masjid itu.

Tak ada daun pintu di masjid, secara keseluruhan Masjid Muhammad Cheng Hoo berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama 11 x 9 meter. Pada sisi utara dan selatan bangunan utama terdapat bangunan pendukung yang lebih rendah daripada bangunan utama. Ukuran 11 meter pada bangunan utama masjid diambil dari ukuran panjang/lebar Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Sedangkan ukuran 9 meter inspirasinya didapat dari sejarah Walisongo yang melaksanakan syi’ar Islam di tanah Jawa. Masjid Muhammad Cheng Hoo mampu menampung hingga 200 orang jamaah.
Imam masjid yang juga punya nama Indonesia , H. Ahmad Hariyono ini menjelaskan, soal penyebutan china yang sangat menyakitkan hati, diawal kemerdekaan RI. Hingga ke hari ini masih terngiang ngiang dan sejarah pahit bagi mereka.  “Sebut dan panggil saja Tiong Hoa “ jelas ustad yang fasih berbahasaa Arab ini.

Gedung PITI Jawa Timur

Gedung PITI Jawa Timur

Saat BJ mengenalkan diri dan menyebut nama Indonesia, Imbalo Iman Sakti,  dan punya nama Tiong Hoa juga, yaitu “Tan Ko Cu”.  Ustadz Ahmad Wong,  demikian beliau sering disapa tersenyum lucu.  Tetapi, setelah dijelaskan bahwa Tan bukan lah she (marga) hanya asal kata dari ATAN, itu  adalah panggilan untuk lelaki suku melayu, tempatku bermastautin di Batam sekarang, dan KO CU pula kebalikan dari asal kata UC OK, nama panggilan anak lelaki di Tapanuli, tempat kelahiranku dulu. Ustadz yang sedang menunggu bea siswa untuk melanjutkan Phd nya ini, malah tambah tertawa. Dan aku yakin,  beliu tahu betul dengan Ucok AKA penyanyi legendaris asal Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo dibangun atas gagasan HMY. Bambang Sujanto dan teman-teman PITI. Fasilitas yang ada di dalam kompleks Masjid Muhammad Cheng Hoo itu antara lain: kantor, sekolah TK, lapangan olah raga yang juga berfunsi sebagai lapangan parkir , kelas kursus bahasa mandarin dan kantin.
Fasilitas tersebut disediakan demi kenyamanan beribadah dan untuk mempererat tali silaturahmi sesama umat. Selain itu banyak juga kegiatan sosial yang diselenggarakan PITI mengambil tempat di kompleks masjid ini, beberapa diantaranya: distribusi sembako murah, donor darah, serta pengobatan akupunktur.

Ustadz Ahmad Wong, bergegas masuk ke ruang sebelah tempat Imam , beberapa buku diberikannya kepada BJ. Sayang kami tak dapat bertemu dengan Haji Bambang Sujanto pendiri dan penggagas berdirinya masjid yang banyak dikunjungi orang baik dalam dan luar negeri ini . “Beliau selalu berpergian keluar daerah maupun keluar negeri” ujar Imam Ahmad Wong yang juga dosen tetap disalah satu universitas terkenal di Surabaya.
Kami tinggalkan komplek masjid yang diilhami Perpaduan Gaya Tiongkok dan Arab yang memang menjadi ciri khas masjid itu.

Ilal Liqo ustadz Wong, semoga cepat dapat bea siswa.

Pengalaman Qurban 1433 H di Burma, “Terjebak di Perbatasan”


Kota Kok Song Myanmar

Kota Kok Song Myanmar

Lepas saja dari kawasan hutan dan jalan bebatuan, lega sedikit perasaan. Kampung Teluk Cina kami tinggalkan, menuju Pulau Dua. Hampir 50 kilogram daging qurban yang dibawa, rencana untuk dibagi kepada saudara muslim yang ada dikampung Pulau Dua itu.

Ada perbedaan yang sangat terasa saat mengendarai kenderaan di Burma, kita berjalan di sebelah kanan. Teman dari Thailand yang membawa sepeda motor selalu lupa, kalau kami masih di Burma. Meskipun jalan tak ramai hanya sesekali ada sepeda motor dan sejenis tuk tuk yang lalu, selalu saja arah sepeda motor kami masuk kejalur kiri.

Tidak seperti sewaktu berangkat ke Teluk Cina, pagi harinya. Sepeda motor yang kami sewa , sudah diservise , karburator dan remnya pun sudah diperbaiki. Memang sewaktu keluar hutan kami tidak bersama, aku diantar dengan sepeda motor oleh seorang pemuda Abidin namanya. Tidak ada signal henpon sepanjang jalan yang kami lalui, sehingga tidak bisa mengabarkan kepada kawan yang ada di Pulau Dua, bahwa kami akan tetap pulang juga malam itu.

Seorang lelaki yang dari tadi mengikuti kami dari belakang dengan sepeda motornya , menyapa dengan salam. Tak tahu apa yang diucapkannya dalam bahasa setempat , kami mengikutinya berputar arah ke bukit yang lebih tinggi , ada dua garis signal terkadang satu terlihat di layar henponku . Satu nomor Thailand yang sudah ter-regstrasi dan satu lagi nomor Telkomsel roaming dari Indonesia.

Alhamdulillah dengan berteriak teriak melalui henpon, keberadaan kami diketahui oleh kawan yang ada di dermaga, 30 menit lagi harus sudah sampai disana. Jalanan aspal berlobang lobang , mirip di Batam , ditancap terus karena mengejar waktu. Penat rasanya pinggang menahan sepeda motor agar jangan terus arah ke kiri, kawan orang Thailand tetap saja mengarah jalan kekiri.

Akhirnya sampai juga di dermaga, kami melaju menuju Ra Nong Thailand malam itu juga. Setelah sebagian daging qurban diserahkan di Kok Song, yang kami khawatirkan tadinya bisa busuk, sebagian lagi kami bawa ke Ra Nong Thailand.

Semua perkantoran sudah tutup. Hal ini yang membuatku gelisah, meskipun pasporku sudah di chop keluar di checkpoint imigrasi Kok Song Myanmar, tetapi checkpoint imigrasi Ra Nong Thailand ternyata sudah tutup. Anehnya 3 pos pemantauan di perbatasan yang kami lalui memberikan izin memasuki batas wilayah.

Kantor imigrasi Ra Nong yang kudatangi menyarankan agar aku kembali saja keesokan harinya ke checkpoint di dermaga. Namun setelah keesokan harinya petugas imigrasi di checkpoint Ra Nong Thailand tidak mau terima alasan yang kami buat, tetap saja dia ngotot menyuruhku kembali ke Kok Song Myanmar .

Lemas rasanya, karena aku sudah keluar dari sana dan harus masuk kesana lagi tanpa ada penjelaasan . Seorang pemuda setempat ber tato menghampiriku , dia bersedia membantu menguruskannya . 400 bath untuk bot pulang pergi, dan 100 bath untuk di pos pemantauan perbatasan. Aku bertolak lagi ke Kok Song Myanmar , bersama beberapa warga Negara Asing berambut pirang. Tekong bot orang Burma yang pandai berbahas inggris ini menyarankan kepadaku agar aku mengangguk saja bila ditanya.

Benar saja, petugas imigrasi di checkpoint Kok Song itu memandangi wajahku, aku tersenyum sembari mengangguk kepadanya , dibalasnya senyumanku terlihat gigi-giginya memerah karena banyak makan sirih. Untuk merubah dan membatalkan tanggal keberangkatan , petugas imigrasi itu memintaku uang 500 bath lagi. Aku bernafas lega. Lepas satu masaalah pikirku dalam hati.

Aku kembali lagi ke Ra Nong Thailand , petugas imigrasi di checkpoint tadi masih bertugas. Kesal saja kepadanya, padahal seperti ini (bermalam di checkpoint) adalah hal yang lumrah karena tutup dan petugas sudah pulang. Seperti kalau kita dari Ha Noi Vietnam naik Bus hendak ke Vientiane Laos , kedua Negara itu menutup perbatasannya sebelum magrib. Dan kita harus menunggu sampai pagi pukul 7 keseokan harinya.

Mudah2an hal ini tidak terjadi lagi……

Merentasi Hutan Belantara Bumi Burma, Qurban 1433 H


Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H

Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H


Pagi itu Jumat (26/10), dicheck point keberangkatan Imigrasi di Ra Nong Thailand penuh sesak, antrian mengular panjang sampai ketempat penjualan ikan. Buletin Jumat salah seorang yang ikut antri dalam barisan itu.

Di Thailand pelaksanaan Idul Adha 1433 H, adalah sama dengan di Arab Saudi, yaitu hari Jumat 26 Oktober 2012, sementara di Myanmar , sebagaimana kita maklumi, pemerintahnya melarang kegiatan yang berbau pemotongan hewan sapi/lembu itu. Kita juga tahu sebagian besar pemeluk agama di negeri para biksu itu menganggap suci sapi/lembu. Tragedi pembantaian Muslim minoritas Rohingya di Arakan, berdampak juga sampai ke Rangon, bahkan hampir seluruh wilayah Myanmar (Burma).

Menurut KBRI di Rangon, mereka tetap shalat idul adha dan pemotongan hewan qurban hari Jumat. Namun di tempat lain terutama di kota-kota, umat Islam melaksanakan shalat hari Sabtu (27/10). Staff KBRI ini juga menyarankan kepadaku kalau hendak ke Myanmar, harus applay izin dulu ke Jakarta. “Kalau langsung datang (VOA), nanti bikin repot, kami harus datang ke Imigrasi” ujar staff perempuan yang kuhubungi melalu telpon selular, apakah sudah bisa masuk ke Rakhine.

Selat Andaman

Selat Andaman

Selesai saja pasport dicop, aku bekejar ke boat yang telah menunggu di dermaga.Sengaja kami charter boat seharga 200 baht. Boat melaju ke ke pos pertama 50 bath lagi harus dibayar ke petugas imigrasi dan bea cukai yang ada di satu pulau yang masih wilayah Ra Nong Thailand.

Dari pos pertama tadi ada satu pulau lagi yang harus disinggahi, pulau paling ujung, setelah itu kita akan kelaut bebas,Laut Andaman. Di pos ini hanya dari jauh kita tunjukkan buku paspor masing-masing penumpang. Di pos itu beberapa petugas yang memakai baju loreng hijau seragam lengkap dengan senjata laras panjang yang tersandang di bahu.

Hampir 30an menit melalui selat Andaman, kita akan tiba di satu pulau pula, pulau ini sudah masuk wilayah Burma, semua barang bawaan diperiksa oleh petugas. Barulah kita akan merapat ke dermaga khusus boat yang tidak jauh dari kantor imigrasi di kota Kok Song Myanmar.

Sama dengan di Ra Nong Thailand, di check pont imigrasi Kok Song Myanmar ini pun penuh sesak. Tiba giliranku bertatap dengan petugas imigrasi, petugas itu membolak balik buku paspor milikku, seakan tak percaya ada paspor hijau milik orang Indonesia , mau datang ke Kok Song. Agak tersenyum petugas itu, melihat stempel imigrasi Myanmar yang sudah beberapa kali tertera di pasporku. “Ten Dollar” ujarnya. Tak tok tak, tertera masuk tanggal 26 keluar tanggal 8 Nopember 2012.

Di Kota Kok Song atau dalam bahasa melayu berarti Pulau Dua, tidak terlihat suasana Idul Adha, kalau pun ada, banyaknya orang lalu lalang di pintu masuk tadi, dari cara berpakaian menunjukkan kalau mereka Islam. Di Kok Song ada beberapa masjid, pun tak terlihat suasana pemotongan hewan.

Nun jauh di pelosok hutan, di teluk – teluk sepanjang pantai laut Andaman, banyak bermukim komunitas muslim yang sudah ratusan tahun menetap disana. Jauh sebelum negara Myanmar terbentuk. Komunitas ini sebagian berasal dari Langkawi, seorang dari mereka bernama Tengku Yusuf.
“Sejak tok – tok kami sudah tinggal disini” ujar nya menerangkan tentang keberadaan mereka disalah satu teluk indah, daerah penghasil emas dulunya.

Tidak ada akses jalan darat ke pemukiman – pemukiman itu, semua ditempuh melalui perjalanan laut. Kalau tetap ingin memaksanakan jalan darat harus ditempuh dengan masuk hutan keluar hutan, dan berjalan diatas aliran sungai yang kering berbatu-batu kiloan meter jauhnya. Dari satu teluk ke teluk lainya bisa empat jam perjalanan dengan sepeda motor, bukan hanya hutan saja dilalui, tetapi naik bukit dan turun bukit yang berbatu-batu cadas.

Di pemukiman itu banyak penduduk usia diatas 60 tahun yang dapat dan menulis huruf jawi (arab melayu),dan tentunya berbahasa melayu.”Sejak 20 tahun terakhir ini, banyak pula orang macam Ali ini kat sini” kata Tengku Yusuf menerangkan sembari memperkenalkan Ali. Ali pemuda 30 an itu ikut membantu memotong hewan Qurban, kulit Ali rada hitam hidungnya mancung, giginya terlihat agak kemerah merahan, karena mereka disana suka makan sirih.

“Kami Shalatnya (maksudnya Idul Adha) tadi” ujar Tengku Yusuf lagi. “Karena kemarin (Kamis) wukuf di Arafah” ujarnya lagi. Tengku Yusuf terus bercerita tentang masa lalu sambil rebahan di lantai masjid kecil yang baru saja selesai dibangun mereka. Badannya terlihat lemah, senang sekali kelihatan dia dengan kedatanganku. Banyak yang diceritakannya kepadaku, yang tak mungkin kutulis satu persatu di media ini. Banyak yang diharapkannya dan penduduk kampung itu,tak terkecuali tragedi Arakan yang menyayat hati. Tengku Yusuf pun sama tak berharap terus membayar upeti dari hasil jerih payah mereka, kepada pemerintah yang tak pernah memperhatikan kehidupan sosial mereka.

Bukan kehendak mereka seperti itu, jauh sebelum perang dunia meletus mereka adalah bangsa yang berdaulat. Tidak disekat-sekat batas negara nisbi, dan ambisi segelintir manusia. Jauh sebelum pemerintah Junta memerintah mereka adalah manusia yang bertamadun. Jauh sebelum traktat London diterapkan.

Hari menjelang petang, aku masih terpikir dan teringat perjalanan masih jauh, akan 4 jam lagi melalui hutan semak belukar dan bebatuan air sungai yang mengering sebatas mata kaki, untuk pulang. Tiga kali terguling-guling dan terjerembab dari boncengan sepeda motor saat menuruni bukit bebatuan,sewaktu datang ke kampung itu tadi, bukanlah hal yang pernah kubayangkan sebelumnya. Seakan Tengku Yusuf membaca pikiranku, mengajakku untuk bermalam di kampung itu saja, kahawatir hari telah gelap.

Masih banyak yang akan di kerjakan esok harinya,ditempat lain pula, kami putuskan berangkat pulang, petang hari itu juga, nun jauh disana terlihat indah ciptaan Allah, di ujung pepohonan puncak bebukitan laut Andaman, hari ke 12 bulan Zulhijjah 1433 H, bulan purnama mulai mengambang, menerangi perjalanan kami, merentasi hutan belantara, bumi Burma.

Sampai jumpa lagi, ilal liqok. Semoga Allah membebaskan penderitaan saudara kami yang ada disana.

%d blogger menyukai ini: