Mengunjungi Karez, Turpan Urumqi Xinjiang Cina


CATATAN PERJALANAN DARI CINA
10325696_857915710889168_7567631160711394665_n
KAREZ dalam bahasa Uyghur berarti baik, tempat ini sekitar 200 kilometer dari Urumqi arah ke tenggara, Gansu, Urumqi adalah ibukota provinsi Xinjiang Cina.
10341999_857892830891456_6504423942862093238_n
Uyghur adalah penduduknya, dari etnik ras-ras Turki, dulu mereka mayoritas di Urumqi, sejak zaman Dinasti Han daerah ini sudah sangat terkenal, kafilah yang akan berniaga sutera mesti melalui daerah ini, istirahat, menambah bekal, sebelum meneruskan perjalanannya.

System pengairan di Karez, yang masuk wilayah Turban ini adalah salah satu yang teristimewa di Dunia, Kanal bawah tanahnya menyambung dari pegunungan Flaminggo lebih 5000 kilometer panjangnya, menghubungkan sumur sumur vertikal ribuan pula banyaknya, sumur-sumur vertikal itu digali dengan tangan, dibantu alat sangat sederhana, terkadang tanah dari dalam sumur itu ditarik oleh hewan.
10390404_857892750891464_1068834565655143786_n (1)
Kanal air bawah tanah ini mengalir dan teratur kecepatannya sampai di Karez, jadilah Karez tempat yang subur, ratusan hektar pohon anggur dan tanaman lainnya menghasilkan produksi yang tak henti hentinya.

Ada kesempatan berkunjunglah kesana, lihatlah betapa sayangnya Allah pada kita, negeri tandus, ribuan kilometer jauhnya dari laut itu pun menghasilkan Garam. Kanal bawah tanah di Karez ini disebut keajaiban dunia kedua setelah tembok Cina.

Jalur Sutera
Jalur Sutera yang terkenal sejak ribuan tahun yang lalu itu, kini tidak susah untuk dikunjungi, sekitar 3 jam dari kota Urumqi dengan kenderaan roda empat.
10325289_857892947558111_3337201705236970361_n (1)
Jalur ini pun dulu, pernah dilalui oleh sahabat Rasulullah SAW, Saad bin Aby Waqas ra. diutus Khalifah Usman bin Affan berdakwah mengembangkan Islam, jejak peninggalan itu masih terlihat hingga sekarang, terlihat pada ras Uyghur yang taat beragama, ramah, dan sangat menghormati tamu.

Kini suku Uyghur sangat tertekan oleh pemerintah Cina, mereka ingin merdeka, budaya gotong royong, dan keramahtamahan seperti dulu mereka membangun kanal dan sumur itu sudah susah ditemui di Xinjiang Cina.

Memelihara jenggot saja sesuai Sunnah, bagi kaum lelaki di Cina adalah hal yang terlarang, padahal kalau kita lihat dari postur tubuh dan banyaknya bulu yg tumbuh di muka mereka, sepertinya sudah menja dikodrat, sangat berbeda dengan orang Cina dari entik lain nyaris mukanya mulus, tidak berbulu itulah dilemma jadi minoritas, minoritas di Cina bukanlah hal yang mereka ingini.

Sepekan sebelum kunjungan kami ke Uyghur (07/05/2014), terjadi huruhara di Stasiun kereta api Urumqi yang menewaskan tiga orang, demikian pula setelah 10 hari dari sana, 31 orang tewas dipasar terbesar Urumqi, dikota penghasil sutera dan jade batu giok itu.

Saat kami ke Turban, Karez, kawalan cukup ketat, pemeriksaan orang dan barang bawaan, beberapa 10322817_857894260891313_5404236719853508991_nakan kita lalui sebelum dan setelah Karez, sepanjang 300 kilometer itu. Tentara dan polisi berjaga di sepanjang jalan, dan dipersimpangan, tetapi walaupun begitu tidak mengurangi minat wisatawan mancanegara datang mengunjungi daerah konflik itu.

Daerah Karez ini seperti cawan, pegunungan Himalaya, Nepal, Tibet menjulang di Selatan. Mongolia, Rusia, Kazakhstan membentang pula di Utara. Turki, Pakistan India di Barat mengapit. Dan nun jauh di Timur, laut Cina 3000 kilo meter jaraknya, meresap airnya dibebatuan pegunungan sampai ke Karez, Danau-Danau asin, kadar garamnya menyamai Laut Mati di Asia Tengah. Subhanallah. (Imbalo)

Iklan

ISLAM DI CINA


Catatan Perjalanan dari Cina: Imbalo Iman Sakti

Assalamualaikum ucapku, kepada kakek yang hampir berusia 80 tahun ini, jauh dari tempat tinggalnya sengaja datang mendengarkan petuah dan khotbah jumat di Masjid.
10345042_843645205649552_1636978708_n
Tongkat ditangan, tas kecil seukuran 25 x 25 cm sebelah kiri isinya payung lipat, tas terbuat dari kain agak tebal dipakai untuk tempat duduk sebagai alas, dia berjalan perlahan ke ruang belakang masjid menuju tempat wuduk lelaki.

Cuaca saat itu cukup dingin, di Kunming ibukota provinsi Yunnan Cina, sekitar 11 derajat celsius, hujan sesekali turun gerimis. Wuduk, menggunakan air hangat di dalam ceret satu literan yang disediakan oleh pengurus masjid.

Di beberapa masjid air hangat ini tersedia langsung dari kran. Acap teman muslim Cina yang sama wuduk dengan kita menjelaskan cara memakai air hangat ini, mungkin karena kedua sisinya bertuliskan aksara Cina. Meskipun tak mengerti apa perkataan yang diucapkannya, te tapi dengan bahasa tubuh fahamlah kita.

Alhamdulillah tak begitu sulit berkomunikasi dengan Kakek Ibrahim ini, karena ada teman Cina yang dapat berbahasa melayu bersama kami, Ismail yang sedang menyelesaikan Phd nya di Universitas Islam Malayisa, di dapuk jadi juru bahasa.

Sang Kakek ini terus bercerita dalam bahasanya yang sedikitpun tak ku mengerti, “jangan , jangan ” kira kira begitu lah agak katanya, saat kuminta photo berdua, Orang di Cina terutama yang memakai jenggut seperti kakek ini tidak mau di photo, photo itu bisa membaha yakan dirinya, karena bila diberikan kepada pemerintah komunis Cina, sipemberi mendapat uang sampai 8000 yuan, dan si punya jenggot entah bagaimana nasibnya, sebenarnya hal ini terutama di daerah provinsi Xinjiang yang mayoritas Islam suku Uyghur, “diatas 45 tahun sebenarnya boleh pakai jenggot” ujar teman kami dari suku Uyghur……
“jadi di Cina Islam dilarang piara jenggot sebelum usia 45 tahun”.

Muslim Cina Entik Uyghur
Sepertiga Muslim Cina berada di provinsi Xinjiang. Provinsi ini adalah daerah otonomi yang berba tasan dengan daerah Otono mi Tibet di sebelah selatan dan Provinsi Qinghai serta Gansu di Tenggara.

Penduduk Asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uyghur, sekitar 45.21 persen dan suku Kazakh 6, 74 persen.

Kakek Ibrahim berasal dari suku Hui, di Xinjiang selain Uyghur juga terdapat suku Han yang merupakan suku mayoritas di Cina.
Sebelum terbentuk Republik Rakyat Cina tahun 1949, entis Uyghur ini adalah mayoritas di Xinjiang, provinsi ini ibukotanya adalah Urumqi.

Kini mereka menjadi minoritas, suku Han yang semula hanya berkisar 6 persen, menjadi mayoritas menjadi leboih 6o persen.
Pemerintah Cina benar benar memberi tekanan yang berat terhadap suku Uyghur ini terutama dalam Agama dan budaya apalagi terhadap bidang ekonomi.

Itulah mengapa Uyghur hingga kini lebih memilih merdeka memisahkan diri dari pemerintah pusat atau bergabung dengan Karjiskistan yang berbatasan langsung dengan Rusia ke timbang terus dalam cengkeraman Cina.

Kondominium puluhan tingkat ribuan jumlahnya dibangun oleh pemerintah Cina, nyaris penghuninya adalah pekerja dari suku Han yang non Muslim. Bentrok antara dua suku ini sering terjadi.

Negeri jalur sutera, terkenal ribuan tahun lalu yang kaya mineral ini terus di kuras, tak terhitung banyak dan panjangnya setiap hari rangkaian kereta api mengangkut batu bara dari perut bumi Urumqi, jutaan kincir angin pembangkit listrik berdiri kokoh di gurun yang dulu tandus itu, demikian pula solar cell tak terhitung jumlahnya sepanjang jalan sejauh 3000 kilometer antara Chengdu dan Urumqi yang kami lalui, terus mengarah ke matahari memanfaatkan panasnya.

Pompa angguk memompa minyak tak henti henti menggangguk terus mengalirkan minyak. Demikian pula dam bendungan air dan kincir airnya memutar turbin, dan terus mengalir kan air ke tali air ribuan kilometer panjangnya jauh mata memandang ladang gandum, padi terbentang.
Bagaimana mungkin Cina mau melepaskan negeri yang banyak dilalui para kafilah berdagang sutera ini dan pernah dilalui oleh sahabat Rasulullah SAW Saad bin Aby Waqas ber dakwah menyebarkan Islam.

Etnis Uyghur adalah masyarakat yang sederhana, jujur dan menghormati tamu, hal ini sangat kami rasakan, tahu kalau kami datang dari negeri muslim, bagaimana ramahnya Al Murad menjamu kami makan, membawa kami seharian dengan kenderaannya sendiri mengunjungi perkam pungan suku Uyghur nun jauh ratusan kilometer jauhnya sampai ke Turban, Karez.

Meskipun kini pemerintah Cina mulai melunak, dengan diinstruksikan para pejabat pemerintah Cina untuk mempelajari bahasa Uyghur dan teradisi Islam lainnya.

Tetapi anehnya pemerintah Cina malah melarang pria dibawah usia 45 thn memelihara jenggot. (imbalo)

Sungguh Allah Pencipta Yang Sempurna


Catatan Perjalanan ke Cina
10366204_783900314962622_8508420346361356565_n
SEJAK pagi lagi Al Murad pria 30 tahun suku Uyghur yang tinggal menetap di Urumqi provinsi Xin Jiang Cina itu, membawa kami bertujuh dengan Toyota Land Cruiser Outlander dan Honda New CRV nya jauh menyusur ke Selatan kota Urumqi, dialek Cina disana mengucapkan Urumqi terdengar berbunyi seperti “wulumuchi” dan memang dipapan nama yang ada disepanjang jalan tertulis ‘wu lu mu qi’.

Dingin hembusan angin pegunungan berselaput salju dari utara terlihat memutih, Urumqi Cina, berbatasan dengan Mongolia, dan disebelah Selatan, membentang gurun berselaput debu kuning, Urumqi, provinsi otonomi Islam di negeri Cina ini berbatasan dengan Nepal, kadang angin bertiup kencang berputar keatas menerbangankan debu seperti tordano

Sepanjang gurun gersang yang kami lalui ratusan kilometer, dulu, ribuan tahun yang lalu, para kafilah untuk mendapatkan sutera yang terkenal sejak zaman Dinasti Tang itu, gurun ini harus dilalui. Membuat bibir ini tak henti-hentinya bergu mam menyebut asma Allah.

Danau Air Asin
10267768_849625618384844_4690406129174270681_n
Al Murad dengan sabar melayani pertanyaan ketidak tahuan kami, seperti hamparan putih bak salju terlihat menyebar di pinggir danau. Subhanallah, ternyata itu adalah garam yang mengkristal, tak terbayangkan ditengah gurun kerontang, puluhan danau-danau disepanjang jalan itu berair asin (Nacl – Natrium clorida) dan kadar garamnya menyamai kadar garam Laut Mati di Timur Tengah sana.
Allah memberikan rahmat dan hidayah kepada yg diinginkan dan rezeki sudah diatur NYA, kalau hanya mengandalkan akal dan logika semata, tak terbayangkan negeri terjauh dari laut di dunia ini, nyaris jaraknya 3.000 kilometer jauhnya, itulah negeri orang-orang Uyghur, Urumqi.

Turban
10258724_783900691629251_6732547954743343768_n
Daerah tempat tinggal suku Uyghur dipegunungan, pengunungan ini disaat tertentu, musim dingin, malah mengeluarkan panas, telur bisa matang jelas Al Murad kepada kami.

Di dinding gunung terjal itu banyak terlihat gua-gua, sebagian penduduk Uyghur menetap di dalam gua tersebut.
Memasuki perkampungan suku Uyghur, entis yang bahasanya mirip bahasa Turki dan tampang mereka pun sama dengan orang – orang Turki.

Puluhan kilometer jalan beraspal sejak simpang dari jalan besar, mengelilingi pegunungan batu penghasil Jade terkenal di Cina, sampai di perkampungan yang kami tuju, nyaris semua bangunan rumah mereka terbuat dari tanah liat dicampur dengan jerami sebagai penguat.
Perkampungan Uyghur di Turban ini salah satu tujuan wisata andalan Cina.
10366250_783900538295933_1371503712166524297_n
Udara masih dingin pergantian musim, sedang berlangsung, pepoho nan terlihat mulai berbunga , demikian pula ladang anggur puluhan ribu hektar sejauh mata memandang di lembah lembah subur di Turban, mulai memu tik, terlihat rombongan wisata wan tak henti henti berdatangan.

Dengan menikmati buah anggur kering hasil ladang orang Turban, kami tinggalkan kampung itu, menuju tempat lain……….(***)

Urumqi Daerah Otonomi di Cina


Catatan Perjalanan ke Cina

“Yindhinixya” ucapku, setelah menjawab salam dari Al Murad, awal pertemuan, Murad, demikian nama pemuda berbadan kekar itu, mengiraku orang Malaysia.

Soal pertanyaan dan tak dikenalnya orang Indonesia di benua Cina itu, membuat geram Ashari, yang bersamaku dalam program “Bekpeker Dakwah” ke negeri Tirai Bambu itu.

Kami termasuk bekpeker yang nekat, hanya berbekal bahasa alakadarnya dan buku kamus bahasa Indonesia – Mandarin, kami mulai perjalanan dari Batam – Kuala Lumpur dan dari Kuala Lumpur dengan penerbangan murah Air Asia, kami jejak Kunming ibukota provinsi Yunnan, kota paling Selatan di Cina.

Di Kunming tiga hari dengan kereta api seharga 260 yuan selama 18 jam, kami tinggalkan kota terbesar di Selatan Cina itu dengan kereta api, menuju Chengdu. Meskipun Chengdu tidak seramai Kunming, banyak hal yang menarik kami temui di Chengdu, terutama mengenai umat Islam nya. Mereka peduli dengan makanan halal.

3hari dua malam di Chengdu, perjalanan kami lanjutkan ke Utara, meskipun dalam map Cina tempat yang kami tuju terletak di Barat Laut Cina, yaitu provinsi Xinjiang otonomi Urumqi.

Masjid di Urumqi, disela sela gedung pencakar langit.....

Masjid di Urumqi, disela sela gedung pencakar langit…..

Dari Chengdu dengan kereta api selama 48 jam melalui gurun jalur sutera, dua hari kemudian tiba di Urumqi tengah hari, sekitar pukul 12.00 waktu setempat.

Walaupun waktu Kuala Lumpur dengan dengan Urumqi sama, tetapi waktu shalat subuh di Urumqi adalah pukul 03.20 dini hari, nah lho sementara shalat juhurnya pukul 13.20.
SONY DSC
Jadi di Urumqi waktu siangnya, saat ini, lebih panjang dari malamnya. Hari pertama di kota mayoritas muslim Uyghur itu rombongan kami berjalan mengelilingi kota, hampir semua rasanya ceruk kota dah di jalanai, photo sana photo sini, banyak sekali momen momen yang sayang dilewati, kaki ini sudah tak larat nak berjalan di usiaku yang ke 61, dan memang akulah orang tertua dirombongan kami.

Aku menyerah pulang sendiri ke hotel, teman yang lain melanjutkan “tawaf” nya ke tempat tempat lain. Berjalan perlahan, menyusuri jalan semula, sembari mengingat ingat gedung yang sudah dilewat, takut tersesat, kalaupun tersesat, paling juga naik taksi ke hotel yang sudah dicatat alamatnya, dalam perjalan pulang itu terkadang aku berhenti berehat, di bangku – bangku yang banyak tersedia di kota wisata itu, hari sudah pukul 18.30 petang, tetapi sinar matahari masih terang tak terlihat warna merahnya.

Sapaan salam menyentakkanku dari lamunan melihat gedung tinggi berbentuk kubah, “Alaikumsalam” jawabku itulah awal perkenalan dengan Al Murad “Malaysia” tanyanya lagi.

Tahu kalau aku dari Indonesia, orang cina dan dalam kamus yang kubaca, Indonesia dilafalkan Yindhinixya.
Murad bertanya “Apa yang boleh saya bantu untuk pakcik” kata Murad, menjelaskan kalau dia pernah ke Jakarta dan lima tahun di Kuala Lumpur.
“jadi saya boleh sikit bahasa melayu” ujarnya lagi.

Pucuk dicinta ulam tiba, senang sekali hatiku berkenalan dengan Murad, pertemuan tak terduga duga ini, sering kualami di negeri minoritas Islam yang tak mengenal Indonesia dan dapat berbahasa Melayu.

Dengan bahasa alakadarnya, kuutarakan keinginanku hendak mengunjungi pemukiman suku Uyghur, yang kebetulan juga adalah bangsa dan sukunya Murad.
Dan alangkah bahagianya hatiku kalau dapat shalat jumat juga disitu ujarku pada Murad.

Bertukar nomor telpon berpoto bersama, aku mengatakan kalau datang ke Urumqi tidak sendiri, tetapi bersma rekan enam lagi yang sedang keliling melihat lihat kota. Murad berjanji akan datang dan membawa kami ke tempat-tempat khas kehidupan bangsa Uyghur.

Murad meskipun baru berusia 30 tahun, adalah pebisnis yang termasuk sukses. Di Uyghur umat muslimnya puluhan juta jumlahnya, tetapi masih kala persentasi dengan suku Han yang terus menerus memasuki daerah otonomi Cina itu.
Kami agak hati hati membicarakan hal ini.

Kebijakan pemerintah Komunis Cina, seperti tak dibenarkannya kaum Uyghur yang bentuk phisik dan bahasa nya jauh sekali dari suku Han itu memakai jenggot, adalah hal sensitif yang dibicarakan.

Tetapi satu dua orang tua lanjut usia masih terlihat memakai jenggot yang sudah memutih, “Iya dilarang memakai dan memelihara  jenggot dibawah usia 45 tahun” ujar Murad menjelaskan.

Disinggung soal hilangnya pesawat terbang milik Malaysia MAS MH370, dan awal sebelum dinyatakan “berakhir di lautan “ Uyghur, adalah tersangka, satu orang penumpang pesawat itu yang memakai paspor palsu adalah berkebangsaan cina dari suku Uyghur.

Kulihat Murad sering dan acap memperhatikanku, entah apa yang ada didalam pikirannya tentang aku, mungkin kopiah yang selalu kugunakan selama di negeri para Shaolin ini, membuat iya terkesan akupun tak tahu.

Dihari Jumat seperti yang dijanjikan, Sungguh Allah Pencipta Yang Sempurna,  Murad membawa kami, seorang yang menyupiri kami temannya Murad adalah seorang Polisi. Tak menyulitkan kami melalui beberapa kali pemeriksaan sampai keperkampungan suku Uyghur. Barikade tentara dan polisi layaknya daerah bergolak seperti di Aceh jaman DOM dan di Patani Selatan Thailand, begitu juga di Mindanao Filiphina, hal yang sama berlaku juga di seluruh wilayah Urumqi.

Alhamdulillah, aku yakin dan percaya perjalanan kami selama di Urumqi dan pertemuan dengan Al Murad pria beranak dua ini, semua diatur Allah SWT. (Imbalo)

Islam di Yunnan Kunming Cina


Catatan Perjalanan ke Cina

Imam masjid Kunming

bersama Imam masjid Kunming

Buletin Jumat berkesempatan mengunjungi Cina, lawatan, kami mulai dari Kunming ibukota provinsi Yunnan. Hampir empat jam perjalanan dengan pesawat Air Asia, dari Kuala Lumpur Malaysia, tiba di lapangan terbang antara bangsa Kunming, hari menjelang petang, meskipun tidak ada perbedaan waktu antara Kuala Lumpur dengan Kunming, tetapi waktu shalat berbeda.

Dengan taksi menuju pusat kota, tarifnya 100 yuan, 1 yuan sekitar 1.900 rupiah. Bandara Yunnan ini terlihat lengang, masih gersang dari pepohonan, karena sedang dalam tahaf pembangunan. Sepanjang perjalanan ke pusat kota, terlihat pembangunan kondominium dan pabrik tempat industri disana sini.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 tetapi matahari masih bersinar terang, udara terasa dingin sekitar 12 derajat selsius.
Kedatangan kami di Kunming (Cina) sedang libur, hari buruh, hotel penuh, 01 Mei benar benar dinikmati pekerja di negeri tirai bambu tersebut.

Hidung terasa sesak dan kering, cuaca dingin dan bau menyengat khas kota Kunming, awalnya kami tak itu bau apa, ternyata bau tahu busuk dari parit pembuangan, persis di dekat pembuangan limbah ada kamar hotel dekat masjid seharga 240 yuan semalam, dengan dua tempat tidur.

Di Kunming, warga negara asing harus tidur di hotel, sebenarnya ada penginapan murah di sekitar masjid. Tapi pemerintah komunis itu tak membenarkannya.

Karena tak tahan bau yang menyengat entah bau apa, seperti aroma bawang dan busuknya hembusan angin dari parit tertutup pembuangan limbah dari pabrik tahu, malam itu kami menginap di We Long Hotel. Tarif paling murah 450 yuan, satu malam.

Masjid di Kunming

Ada enam masjid, terletak di pusat kota Kunming, satu masjid provinsi yang kami kunjungi, ribuan jumlah jamaahnya pada shalat jumat. Di ruang utamanya dapat memuat sekitar 700 orang jamaah, masjid tanpa kubah ini, adalah masjid paling tua di Kunming. Masjid ini terletak persis di depan jaringan Mall terkenal di Cina yaitu Wang fun jing.

Jamaah shalat jumat penuh sampai ke halaman masjid, diperkirakan ratusan ribu umat islam di Kunming , sebagian besar dari suku Han

Jamaah shalat jumat penuh sampai ke halaman masjid, diperkirakan ratusan ribu umat islam di Kunming , sebagian besar dari suku Han

Diseputaran masjid ini banyak dijual makanan halal. Tidak waktu shalat jumat saja apalagi waktu shalat jumat, jauh waktu sebelum shalat tiba jamaah sudah berdatangan. Kebanyakan warga tua. Masing masing dengan tongkatnya. Mereka duduk berdua dua , duduk di bangku – bangku yang disediakan di halaman masjid, di bawah pohon-pohon pelindung.

Akrab terdengar perbincangan mereka kelihatannya, sebagian jamaah itu datang sengaja untuk shalat jumat, jauh dari kampung kampung kiloanmeter jaraknya dari masjid. Hujan yang turun tiba tiba selama pergantian musim nyaris semua membawa payung, dan bungkusan persegi empat, rupanya bungkusan itu untuk tempat alas duduk, dan sehelai handuk kecil.

Cuaca dingin, sesekali hujan turun, wuduk memakai air panas yang disediakan masjid, handuk kecil tadi digunakan untuk melap bekas wuduk terutama bagian kaki. Setelah dilap langsung memakai kaos kaki.

Kamar kecil untuk tempat buang air besar dan kecil ada yang terpisah, bila tidak biasa istinjak dengan kertas, kita terpaksa harus membawa gayung (ceret) yang ada tersedia disitu yang berisi air panas. Semua jamaah di Kunming shalat pakai kaos kaki, mungkin karena dingin udaranya.

Hari kedua kami menginap di hotel peris bersebelahan dengan masjid, tarifnya lebih murah satu malam 180 yuan. Subuh itu kami datang awal untuk shalat, ada rombongan dari Jakarta ikut turnamen golf disana, sebagian mereka ikut shalat di subuh yang dingin itu. Kebetulan kami satu hotel saat di We Long hotel, ada Ade Chandra mantan pemain Bulu Tangkis.

Di Kunming, sama dengan di Thailand Utara, bacaan basmalah pada Alfatiha tidak di zaharkan, begitu juga sebutan Amin, tidak terdengar, kalau di Indonesia dam Malaysia, sebutan Amin setelah Fatiha terdengar kuat dan panjang.

Bentangan sajadah pun sebagian besar masjid di Cina letaknya tidak memanjang ke depan tetapi kesamping, sajadah hanya untuk tempat duduk dan berdiri, sementara untuk sujud, kening menepel di papan di lantai tidak beralas.

Saat azan dikumandangkan, jamaah yang duduk langsung semuanya berdiri. Hal ini bukan untuk shalat subuh saja, setiap shalat fardu lain pun begitu. Bacaan Fatihah dan ayat yang dibaca intonasinya terdengar agak lain dari biasa yang kita dengar di Tanah air. Muazzin pula mengumandangkan azan di luar bangunan masjid, tidak menggunakan pengeras suara.

Jamaah wanita shalat di bangunan tersendiri, sementara tak terlihat anak-anak maupun remaja.
Esok kami ke Cheng Du……..

%d blogger menyukai ini: