Shalat Jumat di Masjid Merah Colombo Sri Lanka


SONY DSCCatatan Perjalanan dari Sri Lanka

Colombo-Kesempatan mengunjungi Colombo Sri Lanka, Buletin Jumat (BJ) sengaja shalat Jumat di Masjid Merah, berangkat dari Batam melalui Kuala Lumpur dengan penerbangan murah Air Asia. Sri Lanka bertetangga dengan India dan di kelilingi oleh Lautan Hindia, sampai ke Aceh Indonesia.
Kamis (9/4), dari pelabuhan ferry Batam Center tiba di Stulang Laut Johor Bahru (JB), hari sudah menjelang magrib, kami bersama Azhari dijemput dan langsung diantar Sabil ke stasiun Bus di Batu Pahat.
Sekarang ada Shutle Bus langsung ke KLIA Kuala Lumpur dengan harga RM 50 perorang. Selain Batu Pahat, Bus ini juga menyinggahi Muar. Lumayan mu rah, bila selama ini kita hendak ke KLIA, harus melalui KL Central baik itu dengan Bus atau pun naik kereta api, dengan Bus ini lebih hemat sekitar RM. 30
Sengaja naik Bus malam dari JB, agar tiba di KLIA menjelang pagi, sementara penerbangan kami ke Colombo sekitar pukul 09.30 waktu setempat.
Punyalah waktu istirahat sebentar dan tidak tergesa-gesa, soalnya lumayan jauh antara tempat pemeriksaan imigrasi dengan terminal keberangkatan penum pang berharga murah yang baru di operasikan oleh Air Asia di Sepang Kuala Lumpur ini.
Mudahnya lagi semua tiket pesawat dan Bus kami beli melalui online. Karena memang tidak punya bagasi, chek in, dan semuanya berjalan lancar hingga tiba di lapangan terbang Bandaranaike di Colombo.
WNI ke Sri Lanka dapat kemudahan dengan Visa on Arraival (VOA) sebesar 35 $ US untuk sekali masuk selama sebulan, dibayar langsung di konter imigrasi. Dan dapat sebuah kartu perdana gratis dari petugas imigrasi Colombo.
Suhu udara 31 derajat celsius terasa menyengat dan membuat berkeringat. Hari sudah pukul 11.00 ws (Sri Lanka), saat kami keluar menunggu taksi. Berangkat pukul 09.30 dari Malasysia tiba di Sri Lanka pukul 10.40 ws. kalau hitungan jam hanya satu jam saja, padahal penerbangan dari KL ke Colombo lebih dari 3 jam. Iya, selisih waktu antara kedua kota itu sekitar 3 jam. Itulah sebab kami berangkat dari KL hari Jumat (10/4) karena ingin shalat jumat di Colombo di Masjid Merah yang terkenal itu masih bisa terkejar.
Masjid Jamik Ul-Alfar.
Naik taksi dari Bandara ke kota Colombo, lokasi masjid merah atau masjid jamik Ul-Alfar sebenarnya tidak jauh, sekitar 23 kilometer, tarif resmi taksi bandara 3.870 rupe sri lanka (RSL), kalau mau di konversi dengan mata uang rupiah Indonesia tinggal nambah angka nol dua buah dibelakang.
Keluar lokasi bandara yang tidak seberapa besar itu, jalan kenderaan mulai merayap, macet, supir taksi yang membawa kami menyarankan agar melalui tol saja, minta tambahan 600 RSL lagi-lagi setara dengan 60.000 ribu rupiah. Semula kami keberatan karena tadinya teman yang memesan mengata kan sudah termasuk biaya lainnya.
Kenderaan serasa tak beranjak karena macet hari pula sudah menjelang pukul 12.00 terpaksalah kami meng-iyakan masuk tol. Dan ternyata 600 RSL itu hanya dari pintu tol kedua menuju pintu ketiga sekitar 10 kilometer saja. Dan keluar tol macet lagi. “Alamak alamat tak sempat shalat jumat.” pikirku
Dalam keadaan macet itu terlihat dari jauh puncak menara masjid merah khas batu bata seperti kue lapis yang disusun. BJ berpikir kalau masih menunggu di dalam taksi, dan macet, enggak bakalan 30 menit lagi sampai disana.
Kami turun disekitar patung budha yang besar, persis ditengah pusat pasar yang sangat ramai sekali. Keluar taksi udara panas langsung menyengat, ditimpali bau khas pasar dan bau pesing . Jalanan yang kami lalui menuju lokasi masjid itu dipenuhi kuli panggul barang dari truk yang mengunggah dan menurun kan muatannya.
Sampai jua kami di masjid bersejarah yang selesai dibangun tahun 1909 terletak di jalan palang kedua di Pettah, memang dekat dengan pelabuhan.
Akh senang sekali rasanya hati, khatib sudah membacakan khotbah nya, orang-orng masih antri mengam bil wuduk. Masjid yang menjadi tujuan populer para wisatawan ini, memuat lebih 5000 orang, kini ditingkatkan lagi menjadi tujuh lantai penuh sesak jamaahnya saat kami tiba, pintu utara ditutup sedang di renovasi dari pintu barat pun sedang direnovasi .
Masjid salah satu yang tertua di Colombo ini dibangun komunitas Muslim Pettah untuk melakukan shalat lima waktu dan juga Jumat dan atas inisiatif para pedagang Muslim India .
Keberadaan bangunan masjid ini dirancang oleh HL Saibo Lebbe. Seluruh dana pembangunan masjid ini ditanggung oleh komunitas muslim Pettah saat itu. Pengaruh arsitektur India cukup kentara pada masjid ini. Sentuhan kebesaran masjid masjid dinasti Mughal dan bangunan bangunan kastil Inggris cukup terasa meski balutan warna merah dan putih nya yang khas itu menjadikan masjid ini begitu istimewa dan tampil beda.
Daerah Pettah tempat masjid ini berdiri merupakan cikal bakal kota Colombo bermula, dan daerah ini merupakan daerah berpenduduk mayoritas kaum muslimin.

masjid srl1
Masjid ini begitu terkenal di kota Colombo hingga ke mancanegara sampai sampai disebut sebagai landmark nya kota Colombo sejak selesai dibangun tahun 1909 hingga kini. Masjid tersebut terkenal juga dengan nama masjid Pettah karena berada di daerah Pettah. Etnis Shinhala yang merupakan etnis terbesar di Sri Lanka menyebutnya Rathu Palliya, Etnis Tamil etnis terbesar kedua di Sri Lanka menyebutnya dengan nama Samman Jottu Palli, dalam bahasa Inggris disebut dengan nama Red Masjid, Nama resmi nya adalah Masjid “Jamiul Adhfar” tertulis dengan jelas dalam hurup Arab di fasad depan masjid (mungkin karena dialek setempat yang menjadikanya berbunyi Masjid Jamiul Alfar atau Jami Ul-Alfar), semua nama itu bermakna “Masjid Merah”
Bentuk Masjid ini sangat unik dalam bentuknya yang sangat imp resif dengan rancangan unik mirip sebuah bangunan istana gula gula dengan warnanya yang berlapis lapis merah dan putih seperti kue lapis. Warna merah lebih mendominasi warna ekterior masjid ini. Warna khas itulah yang menuntun orang kelokasi masjid itu karena terlihat dari jauh puncaknya.
Detil struktur bagian luar masjid yang didominasi warna merah dan putih namun tidak menghilangkan nilai spiritual yang terdapat pada bangunan megah ini. Sedang kan dinding bagian dalam didominasi oleh warna hijau toska. Tidak hanya menampil kan efek kue lapis berwarna merah-putih, arsitek masjid ini juga berupaya mengede pankan pola lengkungan pada bagian atap din ding. Pola lengku ngan ini digunakan hampir pada setiap pintu masuk yang menghu bungkan bagian halaman dalam masjid dengan ruang tempat shalat di lantai dasar. Bagian lantai dalam dan anak tangga sedang di perbaiki. Material masih terlihat berantakan, lantai satu penuh jamaah, lantai dua penuh, kelantai tiga demikian sampai ke lantai tujuh pun semua penuh padahal masih banyak sekali jamaah di luar.
Rasanya sudah tak sanggup lagi mau berjalan, kaki ini berat sekali mau melangkah, baju basah kuyup, tak ada ruang tempat untuk meletakkan punggung, jadi teringat di masjidil haram Makkah, tangga bisa dijadikan tempat shalat. Kuhempaskan tas punggung ke anak tangga diatasnya, masih ada ruang untuk dua orang, anak tangga yang lain pun penuh semua dengan jamaah. Bisalah sedikit bernapas lega, sembari mendengarkan khot bah sang khatib, yang sudah hampir selesai.
Di lantai empat dianak tangga, aku beringsut berpindah ketempat yang sudah mulai ditinggali jamaah. Kupan dangi seluruh ruangan yang mulai kosong itu. Dari jendela kanan terlihat teluk Colombo, sebelah jendela arah mihrab depan, berdiri dengan kokohnya dua buah menara besar dan kecil. Seperti lazimnya bangunan sebuah masjid, Masjid Jami Ul-Alfar juga dilengkapi dengan menara. keseluruhan nya ada empat belas menara pada bangunan masjid ini, terdiri dari dua menara berukuran sedang dan sisanya berukuran kecil. Lokasinya yang berada tepat di tengah pusat keramaian komunitas Muslim, membuat di setiap sudut pada bagian atap masjid dilengka pi sebuah pengeras suara untuk mengu mandangkan suara azan.
Haus dan lapar mulai terasa, rasa penat pun sudah berkurang. Disekita ran masjid yang memang terletak persis di tengah tengah kota itu banyak dijual makanan Muslim. Semua makanan khas masakan India. Nasi Briyani dengan potongan besar ayam seharga 450 RSL.
Kembali terulang pertanyaan yang sama saat ke Nepal dan China, Assalamualaikum..Malayisa, Malaysia, Malaysia?…. No… I am Indonesia. oooo Indonesia demikian gumam mereka yang bertanya.
Memang sangat terlihat lain penam pilan kami hidung pesek kulit agak cerah, selama di Colombo, topi putih haji tak pernah lepas dari kepalaku. Suprais sekali mereka melihat kami Muslim dari Indonesia. “Saya melayu sri lanka, nenek kakek dari Jawa” ujar yang lain sebari kami bersalaman. Menjelang Ashar kami beranjak ke Hotel yang tak jauh dari masjid itu sekitar satu kilometer naik bajaj seharga 80 RSL. (***)

Rencana Khitan di Phan Rang Vietnam


masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi

masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi


Bersama Yayasan Amal Malaysia di Saigon

Rasa tak muat lagi perut hendak menyantap hidangan pagi dirumah Tok Hakim Ysa. Menu yang telah tersedia tak jauh beda dengan di rumah Hasan, ada roti, telur ceplok, sayuran berbagai macam dan yang lain adalah bubur dari gandum, dan sup.

Tak satupun kawan yang hendak makan, kami minta selepas shalat Jumat saja makan kembali. Ibu Basirun yang memasak semua masakan itu dapat memahaminya. Untuk menghilangkan rasa kecewanya berdua orang satu piring bubur itu kami makan juga.

Tok Hakim Ysa menyarankan kepada kami pakai mini bus saja, kapasitas 12 tempat duduk, hari itu Jumat (7/9) masih sekitar pukul 11 waktu setempat, disepakati harga sewa 4.5 juta Dong hingga ke hari senin (10/9) sampai pukul 8 malam berakhir dibandara Ho Chi Min, rombongan diantar pulang.

Betul saran Tok Ysa, dengan mini bus ini kami lebih mudah mengunjungi berbagai tempat, di kampong Ban Lam ada dua masjid selain masjid Islam Bani. Keluhan yang sama kami dengarkan dari penduduk sekitar masjid itu. Perlunya tenaga pendidik untuk agama Islam disana.

Tidak terasa singkat sekali rasanya waktu, waktu shalat hamper tiba. Kami segera bergegas ke Masjid yang satu lagi masjid dekat rumah Tok Hakim. Persis di depan Masjid rumah Tok Hakim Ysa berdiri sebuah masjid Islam Bani, masjid aitu cukup besar, tidak terlihat aktifitas orang melaksanakan shalat jumat disana.

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa


Selepas makan di rumah Tok Hakim Ysa, kami pamitan, Sani, telah menunggu kami untuk bertemu Tok Hakim Islam Bani. Namun sebelum ke rumah Tok Hakim Bani kami mampir dulu kesebuah masjid yang juga berdampingan dengan masjid Bani. Dua tahun lalu saya pernah ke masjid ini, sehingga ada beberapa jamaah yang masih ingat kepadaku.

Banyak cerita tentang Islam Bani meluncur lancer dari bibir Tok Hakim Bani, Hasan dan Sani yang menjadi penterjemah. Koleksi Alquran terbitan Iran ada disana, begitu juga kitab panduan tulisan tangan diperlihatkan oleh Tok Hakim.

Rumah Tok Hakim Bani tak seberapa jauh dari masjid Bani, berjalan kaki kami kesana, menurut Tok Hakim Bani ini, jamaah Bani tidak shalat dan tidak puasa diwakilkan kepada Imam, ada 20 Imam sebagai perwalian seluruh umat Islam Bani di daerah Phan Rang itu. Para Imam ini pun tak perlu shalat sebagaimana layaknya umat Islam lima kali sehari semalam. Hanya sesekali saja. Begitu juga dengan puasa ramadhan, cukup sekali saja. Tok Hakim adalah yang mengetuai seluruh Imam Bani, termasuk menikah kan pasangan umat Bani.

Tok Hakim ini sepanjang umurnya tetap bebaju putih dengan desain khusus, lengan panjang seperti jubah. Dan menurut Tok Hakim ini, diseluruh kain jubah itulah amalan dan syariat umat Bani melakat. Dan beliau yang mempertanggungjawabkannya kelak dihadapan Allah SWT.

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran


Ada selempang kain berwarna-warni melilit di leher Tok Hakim Bani yang katanya pernah Umrah ke Makkah itu, dan konon katanya lagi Tok Hakim inilah satu satunya Tok Hakim yang pernah menginjak Makkah. Selempang berwarna warni itu menandakan surga , sementara ada pula seperti 3 buah kantong bertali menjuntai dari depan ke belakang di pundak Tok Hakim. Kantong macam uncang itu berwarna warni juga, ada manik manik melekat menhiasi pinggirannya, ketiga uncang itu mengandung pengertian yang berbeda, yaitu tentang alam, alam sebelum lahir , alam dunia dan alam akhirat.

Tok Hakim yang satu ini baru diangkat menjadi Tok Hakim Baru, Tok Hakim yang lama adalah masih pakcik Sani. Kondisi ruang tamu Tak Hakim lama dengan yang baru mirip, di sudut raung ada bale bale dari kayu tanpa alas, papan bale bale ini mengkilap. Biasanya Tok Hakim duduk menerima tamu disitu terkadang menjuntai kaki. Tetapi mungkin karena rombongan kami banyak kami duduk dengan menggelar tikar di lantai.

Hari beranjak petang saat kami meninggalkan rumah Tok Hakim, ada satu lagi masjid yang hendak kami kunjungi. Masjid ini masih baru , terletak persis di pinggir jalan raya kampong Ban Lam Phan Rang. Masjid ini dibangun oleh orang Dubai. Berpagar rapi lengkap dengan sanitasi yang memadai, dua tahun yang lalu saat aku mengunjungi Phan Rang , masjid ini baru selesai diresmikan .

Masjid itu hanya kami lalui saja, karena hendak mencari makanan, untuk makan malam. Tidak ada restoran atau kedai makanan di kampong itu, di Bandar Phan Rang pun belum pasti ada yang halal. Sani lah yang mengajak kami makan malam dirumah kerabatnya.

Rumah itu cukup besar berlantai dua, halamannya cukup luas , dari jalan raya sekitar 3 kilometer, jalanan ke rumah itu kiri kanannya sawah, tidak beraspal. Pemilik rumah itu seorang perempuan tua, anak perempuannya menikah dengan orang Islam dan bekerja di Luar Negeri. Agaknya yang membangunkan rumah itu adalah anak menantunya tadi. Dan sang Ibu tua itu, baru sekitar setahun mengucapkan syahadat, mengikuti agama putrinya.

Senang sekali ibu tua itu menerima kami, kami disuguhi satu jenis makanan seperti kulit lumpia kering tetapi ditaburi dengan sejenis wijen yang di sangria dengan minyak , dengan lembaran itu dimasukkan berbagai jenis sayuran , ikan , daging ataupun telur dadar digulung dan dicelupkan ke dalam bumbu sebelum di makan.

Seorang lagi putri ibu itu menikah, dan masuk Islam, sekitar dua tahun yang lalu. Namun hingga kini belum lagi di khitan. Dan masih seorang lagi kerabat sang ibu yang bersama kami makan malam itu juga telah masuk Islam umurnya sekitar 40an tahun dan juga berlum ber khitan.

Hal seperti kedua lelaki tadi banyak terdapat di Phan Rang, belum lagi mereka yang dari Islam Bani, nyaris semua tidak di khitan, termasuk Tok Imam. Itulah salah satu misi kunjungan kami bersama Yayasan Amal Malaysia (Amal Kedah) ke sana.

Insyaallah bulan juni 2013 saat libur anak sekolah Amal Kedah akan mengadakan sunat massal disana. (bersambung)

Yayasan Amal Malaysia : Dari Surau ke Surau


Rasanya tak ingin beranjak dari kampung Kalok Ujung itu, kampung yang damai tenang jauh dari kebisingan, masyarakatnya akur, saling tolong menolong tak membedakan suku dan agama, malah pengurus dan yang membangun mushalanya saja orang Budha yaitu pak Amin yang fasih dan lancar mengucapkan Insyaallah , alhamdulillah.  Namun hari telah beranjak petang, surau kecil yang belum lagi berplaster  dinding luarnya itu harus kami tinggalkan. Karena banyak lagi tempat dan surau yang akan kami kunjungi.

Diantar oleh pompong kerabat pak Amin,  dari kampung Kalok Ujung,   hari telah  magrib  setibanya  di kampung Rempang Cate.  Jadi kami putuskan untuk shalat jamak Takhir di Surau Desa Tiang Wang Kang saja. Disana  ada ustadz Subur yang menjadi Dai dari AMCF yang akan kami ziarahi (kunjungi).Tak lama di Tiang Wangkang selesai shalat jamak takhir dan menyerah kan buku-buku iqra dan beberapa helai mukena (telekung). Kami pun bergegas berangkat.

Dari Tiang Wangkang menuju Telaga Punggur. Memang  dari semula rencana  rombongan kami sebanyak 14 orang  hendak bermalam di pulau Selat Desa, pulau kecil tempat kediaman mak Dayang, disitu ada Mushala kecil Taman Dayang namanya.

di gelap gulita itu harus berhati hati betul menjaga keseimbangan .......hem kalau tidak akibat basah kuyublah kecebur laut

di gelap gulita itu harus berhati hati betul menjaga keseimbangan .......hem kalau tidak akibat basah kuyublah kecebur laut

Namun malangnya tak seorang pun yang berani mengantarkan kami ke pulau yang hanya dihuni belasan kepala keluarga dari suku laut itu . ” Tak berani  kami dilarang untuk membawa penumpang malam hari” ujar Bulek Pancung penambang yang selalu membawa kami dengan boat pancung nya bila hendak ke pulau-pulau sekitaran desa Ngenang itu.

inilah mak Dayang dan suaminya pak Tamam......senang hati dapat telekung baru.....

inilah mak Dayang dan suaminya pak Tamam......senang hati dapat telekung baru.....

Nadi,  putra mak Dayang bersedia membawa kami,  namun pompong miliknya hanya dapat memuat tujuh orang saja.  Cuaca cukup  gelap, saat itu telah  pukul sembilan malam, terlihat kilat sesekali di langit, hujan mulai rintik.  Karena kami semua berjumlah tujuhbelas orang, termasuk Nadi dan dua orang yang menemaninya, jadilah pompong kecil itu duakali bolak balik mengantar kami.

Syukurlah ombak tidak terlalu besar , tak ada pula ferry yang melintas, sehingga tidak menimbulkan gelombang besar. Mengapa  tak ada pancung atau speadboat yang berani dan dilarang membawa penumpang malam hari karena lima hari sebelum keberangkatan kami  ada boat pemancing yang tenggelam diperaian Ngenang itu, dua orang dari empat penumpangnya tenggelam hingga kehari kami menyeberang itu belum  ditemukan lagi.

Menjelang tengah malam rombongan kedua baru tiba di pulau Selat Desa, Alhamdulillah bisa bernafas lega, kami selamat semua tiba di kampung mak Dayang yang cukup terkenal bagi rekan rekan dari Malaysia itu,  nasi bungkus yang kami bawa dari Batam, nyaris tak bersisa.  Tidur pun terasa nyenyak di dalam surau ukuran 5 x 5 itu, berbantalkan lengan atau apa saja yang bisa membuat ganjal (alas)  kepala.

surau taqwa di selat desa..........

surau taqwa di selat desa..........

“Saya tak bisa tidur pak ” ujar ustadz Masri Aceh Dai AMCF yang bertugas di Selat Desa itu, sambil tersenyum dia mengatakaan “ngorok semua”, , iya, hampir semua rombongan dari Malaysia yang datang badannya besar dan gemuk pula.

Menjelang pukul 10 pagi, selepas bersilaturahim  mengunjungi beberapa rumah penduduk, perjalanan kami lanjutkan, yaitu ke pulau Air Mas dan pulau Kubung……(bersambung

Suku Laut di Thailand disebut Chaulie


SURAT UNDANGAN

TEMPAT 2 MUKIM RAWAI

DAERAH MERANG WILAYAH PHUKET

KEPADA MEREKA YANG BERKENAN

MAJLIS PERTEMUAN ORANG-ORANG LAUT (KAUM CHAULIE)

Bahawa kami jawatan  kuasa perantuan ORANG–ORANG LAUT (KAUM CHAULIE) hak Rawai dengan ini mengundang MUHAMMADIYAH INTERNASIONAL dan rakan–rakan dari MALAYSIA dan INDONESIA untuk hadir bersama memeriahkan MAJLIS PERTEMUAN ORANG-ORANG LAUT THAILAND pada 24 & 25 SEPTEMBER 2011 .

Kehadiran pihak Tuan/Puan adalah amat diharapkan. Kerjasama dari pihak Tuan/Puan kami dahului dengan ucapan ribuan terima kasih.

AJK PERSATUAN ORANG-ORANG LAUT (KAUM CHAULIE)

WAN PIT CHAI BIN SAM NIANG LAM .

Baliho pertemuan majlis orang-orang Chaulie di pantai Rawai Phuket Thailand. Kami utusan dari Muhammadiyah Internasional

Baliho pertemuan majlis orang-orang Chaulie di pantai Rawai Phuket Thailand. Kami utusan dari Muhammadiyah Internasional

Pantai Rawai Phuket Thailand

Hat Rawai berarti Pantai Rawai, pantai ini terletak paling selatan dari Pulau Phuket.  Dari Bandara Internasional Phuket  yang terletak di utara ke Rawai ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dengan taxi, tarifnya 750 bath, 1 bath sekitar rp.300,-

Di pantai Rawai ini bermukim ribuan orang suku laut , orang disana menyebut mereka Chaulie.  Mereka bermukim di sepanjang pantai Rawai.  Dipantai itulah tahun ini (2011) diadakan pesta tahunan atau majlis pertemuan seluruh orang-orang Chaulie yang bermukim di sepanjang pantai Andaman sea maupun yang berada di pulau-pulau sekitar Phuket seperti Pulau Lepak (asal kata dari Lipan). Diperkirakan orang Chaulie yang berada disana sekitar 20.000  orang.

Hampir 40 % penduduk Phuket beragama Islam, tetapi di Rawai di pemukiman orang Chaulie hanya 3 keluarga saja yang beragama Islam. Salah seorang  bernama A Noi. Pak A Noi ini dapat berbahasa melayu. Yang seorang lagi bernama pak Su demikian dipanggil, pak Su ini adalah Penghulu di kampung Rawai itu. baca  Melayu, Masihkah Identik Dengan Islam ?

Mereka berdua lah yang mengundang kami, untuk datang menghadiri majlis itu, kami kenal baik dengan mereka karena telah beberapa kali datang ke perkampungan itu. Bahkan kalau kesana kami tidur dirumah mereka.

Pantai Rawai adalah salah satu pantai tujuan wisata dan terindah di Phuket, meskipun wisatawan tidak sebanyak ke Patong atau Kemala, pantai yang pernah di porakporandakan Tsunami itu. Kini pantai Rawai sudah semakin sempit dengan bangunan bungalow, hotel dan resort  maupun toko penjual cendera mata bertebaran di sepanjang pantai.

Bahkan lokasi pertemuan tahunan yang dihadiri ribuan orang Chaulie dari berbagai tempat itu, kini adalah tapak sebuah resot yang akan di bangun. Lahan untuk bercengkerama dan berehat sejenak di bibir pantai melepas lelah setelah penat ke laut nyaris tak ada. Konon pula untuk membuat rumah. Itulah nasib orang – orang Chaulie disana.

Sebenarnya boleh dikata orang pertama yang mendiami dan menemukan pulau Phuket adalah nenek moyang orang Chaulie, tetapi ironisnya tak sehelai surat pun yang menyatakan ada sebidang tanah di daratan itu milik mereka.

Itulah hal yang paling krusial diperbincangkan wakil Pemerintah dari Bangkok  yang datang menghadiri majlis orang-orang Chaulie selama dua hari itu.

Antara Suku Laut di Indonesia dengan Chaulie di Thailand

Saat  diberikan waktu oleh panitia kepada kami untuk berbicara, sebagai  satu satunya orang Indonesia yang datang hadir di dalam majlis itu . Meskipun sebelumnya surat undangan ini telah kami sampaikan dan teruskan kepada Konsulat Jenderal Indonesia di Songkla Thailand yaitu Bapak Heru Wicaksono, melalui email.

Dalam kesempatan itu kami utarakan bahwa nasib suku laut di Indonesia khususnya Batam tidak jauh berbeda dengan orang-orang Chaulie di Phuket Thailand. Dan kebetulan, kami  memanglah sering mengunjungi pemukiman suku laut yang berada diseputar  kepulauan Batam .

Nelayan yang suka berpindah pindah (Nomaden) , karena memang tuntutan alam, sesuai dengan musim harus berpindah. Kedarat hanya untuk mengambil air dan menjual hasil tangkapan laut misalnya. Bahkan nasib orang-orang Chaulie di Phuket masih lebih baik, lautnya masih menghasilkan ikan yang melimpah, tidak tercemar sebagaimana laut di Batam.

Suku Laut di Batam sebagian telah beralih profesi menjadi “penyelam” besi tua atau bekas, karena hampir sebagian besar pantai di Batam menjadi tempat galangan kapal, maupun kawasan industri.  Mungkin sedikit ada perhatian pemerintah membuatkan pemukiman seperti di Pulau Gara.

Agaknya mereka belasan para NGO dan wakil pemerintah Thailand serta tokoh  masyarakat dan perwakilan parlemen yang hadir di majlis itu terkesima mendengar penjelasan kami.

Beberapa peserta dari Universitas Chulalongkorn Bangkok, yang sedang mengadakan penelitian tentang orang-orang Chaulie  ini yang hadir juga disitu, berjanji akan datang ke Batam untuk melihat kehidupan nelayan suku laut yang berada di perairan Batam khususnya.

Mungkin ada keterkaitan mereka, antara suku laut dengan orang Chaulie karena kalau dilihat budaya yang di tampilkan saat pehelatan di majlis itu hampir sama. Seperti tari – tarian maupun nyanyian. Ada silat, ronggeng  bahkan rafal mantera jampi-jampi mirip belaka.

Pii Nong Khan………. memang kita bersaudara.

Makam Tengku Amir Hamzah di Langkat


TUHANKU APATAH KEKAL?

Tuhanku , suka dan ria
gelak dan senyum
tepuk dan tari
semuanya lenyap, silam sekali.

Gelak bertukar duka
suka bersalinkan ratap
kasih beralih cinta
cinta membawa wangsangka…

Junjunganku apatah kekal
apatah tetap
apakah tak bersalin rupa
apatah baka sepanjang masa…

Bunga layu disinari matahari
makhluk berangkat menepati janji
hijau langit bertukar mendung
gelombang reda di tepi pantai.

Selangkan gagak beralih warna
semerbak cempaka sekali hilang
apatah lagi laguan kasih
hilang semata tiada ketara…

Tuhanku apatah kekal?

Sepenggal sajak karya pujangga Tengku Amir Hamzah, dari kumpulan sajak Buah Rindu.

Awal bulan Juni 2011 yang baru lalu berkesempatan mengunjungi Langkat Tanjung Pura. Mampir di Masjid Azizi yang cukup indah itu. Masih sempat ikut shalat Juhur disitu.

Berangkat dari Medan sekitar pukul 9 pagi, berdua dengan Irwan berkenderaaan melalui jalan perkebunan Kebun Lada Kabupaten Langkat. Kami lalui Kuala Begumit tempat wafatnya Tengku Amir Hamzah. Tengku Amir Hamzah, tidak hanya diakui menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang.

Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang.

Tengku Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatera bagian timur di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Tengku Amir Hamzah dimakamkan di pemakaman Masjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.

Makam Bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) ini terawat dengan baik. Di batu nisannya tertulis

Biarlah daku tinggal disini.
Sentosa diriku di sunji sepi.
Tiada berharap tiada berminta.
Djauh dunia disisi dewa.


Masjid Azizi Tanjung Pura Langkat

Selalu bila ke Medan, sengaja mestilah aku harus mampirkan ke masjdi Azizi di Langkat Tanjung Pura yang megah itu untuk shalat, dan ziarah ke makam yang ada di lingkungan masjid.

Dari Medan ke Tanjung Pura sekitar 2 jam perjalanan, biasanya dari Langkat perjalanan kulanjutkan ke Besilam (Babussalam), sekitar 4 kilometer jauhnya, disitu terdapat tempat Tarekat yang cukup terkenal di Nusantara, Tarekat Naqsabandiyah namanya. Tuan Guru Syehk Abdul Wahab Rokan adalah pendirinya. Yang juga di panggil Tuan Guru Besilam.

Bagiku selain silaturrahim ke yang masih hidup, aku juga acap mengunjungi pusara ayahanda tercinta, yang dimakamkan sejak tahun 1959 yang lalu, di kompleks pemakaman Tuan Guru Besilam itu.

Penerimaan Siswa Baru Hati – Hati Mencari Sekolah Swasta.


Sekedar tip bagi orang tua yang hendak memasukkan anak nya di sekolah swasta.

Penerimaan Siwa Baru di Sekolah Islam Hang Tuah Batam...

Penerimaan Siwa Baru di Sekolah Islam Hang Tuah Batam...

Di Jakarta (DKI) Penerimaan Siswa Baru (PSB) on line bermasaalah, di Batam pun ada di beberapa sekolah yang PSB online bermasalah seperti ada dua nama yang sama, namun hal itu tidak jadi masaalah, tetap nama dan rangkin dibawah nya bisa masuk.

Di Batam ribuan siswa mulai dri TK, SD , SMP, SMA dan SMK tak tertampung di sekolah yang dikelola oleh pemerintah, di sekolah swasta, banyak kursi kosong.

Banyak sekolah swasta di Batam bertumbuhan bak cendawan di musim hujan, ada yang di rumah toko (ruko) bekas gudang, bekas hotel  disulap menjadi sekolah.

Mereka menawarkan bermacam – macam fasilitas pendukung, bahkan ada yang menjanjikan dapat kerja langsung setelah tamat. Bukan main, tipu tipu.

Sekolah ini terletak di Bengkong Polisi telah puluhan tahun berdiri

Sekolah ini terletak di Bengkong Polisi telah puluhan tahun berdiri

Sebenarnya bila sekolah itu beriklan dapat menjamin langsung dapat kerja , ternyata tidak dapat kerja , hal itu jelas melanggar Undang – Undang , dapat dipidana penyelenggara sekolah nya.

Untuk itulah bagi orang tua yang terpaksa harus menyekolahkan anak nya ke sekolah swasta berhati – hati memilih sekolah, jangan tergiur oleh iklan yang menyesatkan tadi.

Spanduk seperti ini harus dicermati, dilihat benar tidak adanya.....

Spanduk seperti ini harus dicermati, dilihat benar tidak adanya.....

Bagi orang tua muslim hendaknya sekolah kan lah anak – anak nya di sekolah yang dikelola oleh orang muslim. Karena semua sekolah swasta punya misi dan visi.

Dan simpan lah iklan mereka yang beriklan di media yang menyatakan ini dan itu , karena dengan iklan itu kita dapat menjerat mereka dengan hukum.

Melayu, Masihkah Identik Dengan Islam ?


Pak Arik dengan seperangkat alat musiknya , alat alat musik peninggalan atok yang masih terawat dengan baik, tetapi anak cucunya sudah tak berapa berminat lagi untuk menghapal lagu lagu melayu yang didendangkan oleh pak Arik

Pak Arik dengan seperangkat alat musiknya , alat alat musik peninggalan atok yang masih terawat dengan baik, tetapi anak cucunya sudah tak berapa berminat lagi untuk menghapal lagu lagu melayu yang didendangkan oleh pak Arik

Jadi juga mampir di Phuket, setelah kembali dari Kaw Thoung Myanmar yang rencana semula hendak tiga hari disana , karena aparat tak mengizinkan kami lebih dari 3 kilometer keluar dari kota, kami putuskan kembali saja ke Thailand.

Hari itu senin (1/3) selepas shalat Juhur jamak takdim kami berlepas dari Kaw Thoung menuju Ra Nong Thailand.  Dari Ra Nong menuju provinsi Phang Nga kami lalui dengan santai sembari menikmati pemandangan alam pantai timur Thailand.

Banyak kesan yang kami bawa dari Kaw Thoung (baca Kok Song), rencana bila nanti akan mengunjungi Myanmar sebaiknya melalui udara ke ibukota Rangon saja. Pernah juga aku ke Myanmar melalui perbatasan Mae Sai Chiang Rai Thailand Utara , kota yang terdekat dengan Mae Sai itu adalah Ta Chi Lek, disitu pun banyak muslim tetapi jarang terlihat hampir tidak ada yang mirip melayu, apalagi yang dapat berbahasa melayu, tidak seperti di Kok Song.

Ratusan kilometer dari Ra Nong menuju Phang Nga (baca pak nga) disepanjang jalan banyak kita jumpai masjid. Dan banyak penduduk disitu yang pandai berbahasa melayu, tak sulit untuk mendapatkan makanan halal disepanjang perjalanan yang di lalui.

Hari menjelang petang kami belum lagi masuk ke provinsi Phuket. Entah apa di sebut phuket, mungkin asal kata dari pukat yaitu sejenis alat penangkap ikan yang lumayan besar. Phuket adalah sebuah pulau terpisah dari tanah besar Thailand, dihubung dengan sebuah jembatan tak terasa seakan bersatu dengan tanah besar Thailand.

Indah memang saat itu melihat matahari hampir terbenam, masih jauh lagi kota Phuket, malam itu kami bermalam di Su  Rein. Di Guest Haouse teman di pinggir pantai Su Rein, sarapan pagi makan nasi krabu, hem lezat betul dengan campuran budu khas Thailand.

Pantai Rawai Phuket Thailand, suku laut yang dulu awal bermukim disitu kini terpinggirkan, di pinggir pantai itu berdiri ratusan gerai menjual souvenir , dimaksudkan untuk mereka tetapi tak satu pun dari gerai itu milik mereka

Pantai Rawai Phuket Thailand, suku laut yang dulu awal bermukim disitu kini terpinggirkan, di pinggir pantai itu berdiri ratusan gerai menjual souvenir , dimaksudkan untuk mereka tetapi tak satu pun dari gerai itu milik mereka

Rencana tempat yang akan kami kunjungi adalah Rawai , Rawai sama dengan Su Rein adalah pantai pantai yang ada di Phuket. Di Rawai di kampung di pinggir laut itu banyak di temui orang yang masih dapat berbahasa melayu.  Tetapi tak satu pun dari mereka yang ber agama Islam. Di Rawai mereka di panggil suku laut. Tak jauh berbeda dengan suku laut yang ada di kepulauan Riau di sekitaran Batam , kehidupan mereka pun hampir sama. Terpinggirkan dan tak terperhatikan.

Ketua suku Laut yang ada disitu bernama Arik berusia sekitar 65 tahun senang sekali dengan kedatangan kami, terutama aku yang dari Indonesia ” ma cag Indonesia kun Dio” ujar ku kepada pak Arik , pak Arik tersenyum, terlihat lesung pipit dipipi yang sudah mulai keriput itu.  “Tok kami sebut dulu dia orang dari Indonesia” jelas pak Arik. Tetapi pak Arik tak tahu Indonesia dari daerah mana. Pak Arik pun menjelaskan sewaktu kecil dulu dia di kampung Rawai itu tak ada orang selain kelompok dan keluarga mereka .Yang dia tahu tok nya ada yang bernama Berahim, Dolah,  Seman. sekarang pun ada pak Putih, ada mak Iyam, Timah.

Sewaktu ianya sekitar berusia 12 tahun mulai lah kampung mereka di datangi oleh orang asing, sejak itu mereka pun tak leluasa lagi untuk pergi ke pulau pulau sekitaran Rawai , pak Arik menunjukkan pulau pulau di depan pantai Rawai yang kini tak boleh mereka singgahi karena disana telah berdiri bungalow dan penginapan warga asing.

Pilihan Yang Pahit

Dia masih ingat bagaimana tok dan bapak nya berjuang untuk hidup dari intimidasi orang Siam, hanya ada dua pilihan bagi suku laut kala itu, masuk masjid mati ditenggelamkan atau nak masuk wat selamat.

Pak Arik tak tahu asal mereka, tetapi pak Arik adalah generasi ketiga yang tinggal di Rawai dan hanya generasi mereka lah yang masih dapat berbahasa melayu. Anak dan cucu nya langsung tak dapat lagi bercakap dengan bahasa melayu.

Tok Bomo

Hampir tak ada jedah pak Arik terus bercerita, tak terasa dua jam mendengar keluh kesahnya.  Aku dibawa kerumah nya dikenalkan dengan isterinya. Dirumah itu ada seperangkat alat musik untuk pertunjukan ronggeng melayu. Ada sebuah biola tua peninggalan atoknya ,  dan hanya pak Arik saja lah yang dapat memainkan alat musik itu dari sekian ribu komunitas suku laut yang ada disitu.

gambar pak Arik sewaktu muda

gambar pak Arik sewaktu muda

Dan pak Arik seorang pula yang masih hafal dengan jampi jampi untuk mengusir jin jahat. Itulah sebabnya pak Arik di panggil tok bomo. “Coba lah sebut rafal jampi untuk pengusir jin itu”  pinta kami. Pak Arik pun mengucapkan jampi nya sbb : “Assalamualaikum, Alaikumsalam, Lailaha …….. hai jin penunggu jangan engkau menggangu… kalau asalmu dari daun kembali ke daun asalmu dari air kembali ke air sasalmu dari pokok kembali ke pokok………… dan lain lain … ”  Dengan sembur sana sini serta menabur bertih biasan ya jin itu pun pulang ke tempat asalnya….. “Begitu pula jin yang masuk menggangu ke tubuh manusia”, jelas pak Arik kepada kami

Saat kami tanya tau tak arti Assalamualaikum dan La ilaha itu , pak Arik malah melihat ke wajah kami berganti ganti .

Pak Arik pun bercerita kalau saat dia kawin dulu di tabuh kompang dan ada silat sebagai pengiring pengantin. Kompang itu masih ada hingga kini , tetapi silat sudah tak ada lagi karena tak ada yang mengajari.

Pak Arik pun terkesima saat ku beritahukan bahwa semua jampi jampi dia itu ada belaka di tempat kami, tambah merapat lah pak Arik kepadaku karena akupun punya jampi yang lebih ampuh dari jampi pak Arik yang dapat mengusir seluruh setan jin jembalang yang ada di dunia ini. Aku berjanji dengan pak Arik satu waktu tidak dalam waktu yang lama akan datang kembali ke Rawai membawakan buku jampi jampi bukan saja untuk mengusir jin jembalang tetapi juga memberikan kunci surga kepada pak Arik.

Dari Mana Asal Mereka ?

Kalau di tilik dari kata Rawai  tempat tinggal suku laut yang ada di situ, tak membuat kerut kening, suku laut yang memang hidup di laut tahu belaka apa itu rawai , yaitu alat penangkap ikan dan mereka pun tinggal di pulau Phuket , berubah dari kata pukat, yang juga sejenis alat penangkap ikan.

Di  Phuket banyak pantai, selain Rawai Su Rein , ada lagi pantai Kamala disitu ada kampung yang bernama kubo Muslim maksudnya kubur orang muslim.

Satu lagi pantai yang menjadi andalan Phuket adalah Patong (Patung) Beach. Di Pantai Patung ini banyak terdapat anak suku laut yang menjadi pemandu olah raga pantai paragliding.

Phuket  Tahiland dengan Langkawai Malaysia tak jauh dari Lhok Semawe Aceh Indonesia, di sekitaran Phuket pun banyak pulau pulau yang orang disana menyebutnya Kok. Seperti Kok Lanta , dimana di daerah itu banyak penduduknya berbahasa melayu.

Selepas magrib hari berikutnya Phuket kami tinggalkan menuju Pulang, banyak yang masih tersisa kenangan dengan pak Arik belum sempat ku tuliskan, bagaimana dia menyanyikan lagu lagu melayu dengan biolanya, dengan suara tuanya , lagu itu sangat populer dinyanyikan puluhan tahun dulu nya di kota kami di Medan dan Deli Serdang , siapa yang tak ingat Mainang Pulau Kampai.  Serampang Dua Belas………. tetapi anak cucu pak Arik tak pandai lagi merapal jampi , tak pandai lagi bekecek melayu, tak pandai lagi main kompang. Yang lebih ironis lagi mereka masih menyebut suku laut orang melayu tetapi sudah tak mengenal Islam.

%d blogger menyukai ini: