Masihkah Sumpah Muntah Darah Tujuh Turunan Itu Berlaku??


10917062_1011786895502048_6743744893587662480_nSultan Mahmud Mangkat Dijulang

Antara Bentan dan Kota Tinggi.

Tengah hari itu ( 8/1) dari Johor Bahru, bersama Sabil aku sengaja ke Kota Tinggi, Setelah melalui Ulu Tiram tempat kediaman Nurdin M Top (ingat Bom Bali) tak lama kemudian, belok ke kiri masuklah Kota Tinggi, Persis saat Sultan Mahmud Mangkat menjelang waktu Lohor, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya , padahal dibelakang kami panas Matahari masih menyerlak, Dan memasuki jembatan hendak ke kampung Makam hujan berhenti sama sekali.10896929_1011787188835352_6770874549227565306_n

Jadi teringat Kisah tragis kemangkatan Sultan Mahmud yang hendak menunaikan shalat Jumat ke Masjid yang tak jauh dari tempat kediaman beliau, terbunuh atau dibunuh oleh Laksamananya sendiri Laksamana Bentan yang sangat patuh kepada Sultannya, Laksamana Bentan yang marah, karena Laksamana Lingga tak hendak turut serta, terpaksa dibunuhnya.

Laksamana Bentan meskipun disebut demikian sang Laksamana bermastautin di Semenanjung, bukan di Pulau Bentan tanah kelahiran dan asalnya. Laksamana Lingga hingga akhir hayat nya tetap di Lingga. Lingga kini masuk dalam satu kabupaten di Kepulauan Riau Indonesia.

Kisah tragis terbunuh atau dibunuhnya Sultan Mahmud yang sedang di Julang menuju Masjid, sebagai seorang Sultan yang taat terhadap agama yang dianutnya, dia tak gentar atas rayuan sang Bendahara yang menghimbau tidak usah dulu keluar karena Laksamana Bentan sedang Amuk.

Benarkah sang Sultan berperilaku menyimpang? wallahu a’alam tak sesiapa yang dapat membelanya.

Sumpa itu pun konon terkeluar, rakyat Bentan yang ke Kota Tinggi akan muntah darah….. Entah sudah berapa nyawa yang terkorban akibat sumpah ini, nyaris tak seorang pun yang tahu…..1010222_1011787065502031_6309620527975768606_n

Yang jelas sejak itu zuriat sang Sultan hilang hingga sekarang, meskipun ada setelah beberapa tahun kemudian Raja Kecik yang disokong sebagian besar rakyat Lingga (orang laut) yang hingga kini banyak mendiami kepulauan riau.

Kisah Sultan Mahmud Mangkat Dijulang agak mirip dengan kisah Raja Nepal yang dibunuh ditembak seluruh keluarganya dan ironis konon yang membunuh adalah calon Raja, dan sang calon Raja pun bunuh diri. Hingga ke hari ini Kerajaan Nepal Hilang dari permukaan bumi berganti dengan Republik.

Begitu pula dengan Zuriat Sultan Johor (Mahmud Mangkat Dijulang) ……Bagaimana pendapat tuan

Iklan

4 Tanggapan

  1. Kerajaan Johor (yang waktu itu jajahannya sampai sejauh pulau-pulau selatan (sekarang Kepulauan Riau) dan Jambi, tetap wujud sampai sekarang meski luasnya mengecil tinggal sebesar Johor seperti yg ada pada hari ini. Selepas Sultan Mahmud mangkat (dijulang), ada Raja Kechil yg datang dari Siak mengaku satu-satunya zuriat Sultan Mahmud dan melantik diri sebagai Sultan Johor (dan jajahan takluknya). Namun perseteruan baginda dengan Bendahara Johor (yang didukung pahlawan Bugis) pula tercetus. Raja Kechil kalah, Bendahara Johor diangkat sebagai Sultan Johor (dan jajahan takluk) seterusnya oleh angkatan bugis 5 saudara ini. Legasi Kesultanan dari keturunan Bendahara pun berlangsung lama hingga pusat pemerintahan berpindah dari tanah besar Johor ke pulau-pulau selatan (Bintan, Tambelan dan terakhir di Lingga) sebelum berpecah dua. Ketika Johor berpecah dua, Legasi Sultan keturunan bendahara ini sempat bertahan singkat di Kepulauan Riau (sebelum ia pupus kekal bila Sultan Riau-Lingga IV (Sultan Abdul Rahman) dipaksa turun tahta dan serahkan seluruh kuasanya kepada Belanda. Sultan Abdul Rahman lari ke Singapura, mangkat dan dimakamkan di sana). Sementara tanah besar Johor (yang sudah berpisah dengan pulau-pulau selatan) tetap bertahan meneruskan tradisi pemerintahan bersultan dengan melantik Temenggung sebagai Sultan khusus di tanah besar Johor yang baru. Legasi sultan dari darah Temenggung berlangsung hingga ke hari ini meski selepas Johor menyertai Malaysia

    Suka

  2. bisa jadi, karena bagaimanapun raja punya daulat. krn dia punya kelebihan apalagi laksamana kan diamgkat oleh raja

    Suka

  3. hai, saya hamzhya saya dari bandung, Indonesia. saya tertarik kepada pembicaraan ini. atok saya adalah orang tanjung pinang kepulauan riau, dan begitu juga orang-orang sebelum atok saya juga lahir disana, mungkin besar disana dan sebagian ada yang di malaysia. yang menarik disini adalah saya pikir sumpah tersebut masih berlaku, karena beberapa tahun silam ketika uncle saya nak pergi ke kota tinggi atau daerah sekitar kota johor lama, dia mengalami pusing bahkan hingga muntah darah. saya masih ragu. because i havent experienced that yet. setahu saya uncle saya itu keturunan ke enam, dimana berarti saya keturunan ke 7. yang masih jadi pertanyaan saya adalah, apakah rakyat bentan mengalami itu? atau hanya keturunan laksamana bentan? terima kasih, please reply. i have a lot of unanswered question. sorry i can speak proper malay. please reply. thanks!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: