Baksos Yayasan Amal Malaysia di Batam


Hari kedua rabu (25/04) kegiatan Yayasan Amal Malaysia di Batam antara lain, khitanan di kampung Dapur Arang Selat Desa. Selepas Juhur dari kampung Air Lingka Pulau Galang Baru,  kami menuju desa Tiang Wangkang, disitu telah menunggu pak Pinci dengan boat 40 PKnya. Dari Tiang Wangkang menuju Selat Desa, spead boat lalu dibawah Jembatan Barelang, ditempuh sekitar 20 menit saja.

Ustadz Masri sudah berdiri di pinggir pantai menyambut kami,  seorang anak lelaki berlari meninggalkan kami, sesaat melihat dokter Mahyudin. “Takut dia, enggak mau di sunat” ujar ustadz Masri sambil tersenyum.

Sebelumnya sudah dikabari kepada ustadz Masri peralatan sunat yang kami bawa memerlukan daya listrik, dan itu tidak ada masaalah karena di Pulau itu ada Genset kecil sumbangan dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) Masjid Raya Batam. “Tinggal start saja pak” ujar ustadz Masri lagi , saat kami minta daya listriknya.

Nah yang jadi masaalah tak satu pun penduduk di kampung itu yang punya tempat tidur seperti dipan misalnya. Untuk sunatan itu sang dokter posisinya harus berdiri, “Susah pak kalau ditidurkan di lantai mushala.” kata dokter Muhyidin .

Lirik kanan lirik kiri tanya sana tanya sini tak ada yang cocok untuk tempat untuk pelaksanaan sunatan di kampung yang dihuni sebahagian besar suku laut ini.  Tak ada rotan akar pun jadi , di pinggir pantai persis di depan mushala kecil itu ada bangku tempat duduk yang terbuat dari rangkaian potongan kayu bulat kecil. Ada sekeping triplek bekas ukuran 120 x 120 cm itulah kami sepakati dibuat alas untuk tempat tidur, triplek itu diletakkan diatas potongan rangkaian kayu tadi.

Dialam terbuka dipinggir pantai dibawah rindangan pohon jambu batu satu persatu anak lelaki kampung Selat Desa, desa tempat suku laut itu berada, yang selama ini bila ada sunatan , mereka yang datang kini mereka didatangi, dilaksanakan prosesi sunatan.   Bukan dengan fasilitas seadanya, nyaris tanpa fasiltas, agaknya inilah sunatan yang agak unik dilasanaka.

Terima kasih Dokter Mahyudin, terimakasih Amal Malaysia.

Iklan

Mass Rapid Transit (MRT)


hari dah beranjak petang , tiba di NE 1 Harbour Front, mereka belum shalat Juhur dan Ashar lagi, tak ada lansung fasilitas tempat shalat disitu

hari dah beranjak petang , tiba di NE 1 Harbour Front, mereka belum shalat Juhur dan Ashar lagi, tak ada langsung fasilitas tempat shalat disitu.

Sabtu pagi (8/4) lalu dari Batam Center,  naik  ferry Batam Fast,  sampai di Harbour Front Singapura, hari sudah pukul 10 waktu setempat.  Bukan main berjubelnya orang, antrian di imigrasi. Panas lagi,  ruang kedatangan itu sedang direnovasi.

Dua orang perempuan usia 30-an melirikku, disampingnya seorang pria sedang menggendong bayinya yang terus menangis. Dua baris didepan seorang nenek terseok – seok ikut antrian, agaknya usia sang nenek sekitar  70-an.

Jubelan manusia terus bertambah, kalau tadi ferry yang membawaku datang dari Batam Center, mungkin yang ini dari Sekupang. Dan antrian yang didepan rombongan kami tadi agaknya dari Harbour Bay Batam.

Begitulah, kalau tak salah ada 6 (enam) titik penyeberangan ferry dari Batam ke Singapura. Ribuan orang setiap harinya numpek blek di Harbour Front itu. Begitupun sebaliknya, ribuan orang pula yang datang ke Batam baik dari Singapura, maupun dari Malaysia. Terutama di akhir pekan.

Bayi dan Warga Tua

Anak bayi itu terus menangis, sang nenek terus antri dengan sabarnya, didepan konter hanya ada 4 petugas imigrasi, sedikitpun tak tampak senyumnya. Bagaimana mau senyum, agaknya sakin sibuknya. Mengajukan pertanyaan yang sama, “pernah ditolak masuk Singapura, berapa lama, mau apa”, kemudian melirik memastikan gambar yang ada di pasport, sama belaka, tak  ada tampang yang berbeda dan yang dicekal, maklum banyak teroris berkeliaran, terkadang meminta kartu tanda penduduk bagi yang agak dicurigai, hampir 2 – 3 menit prosesi itu, apalagi scaner nya macet. Itu yang tidak ada masalah bung, lain lagi kalau saspek, teruklah, tunggu masuk opis.

Jadi harap maklum ribuan orang yang ditolak masuk ke Singapura selama tahun 2011. Termasuklah anggota Dewan yang terhormat. Bahkan Watimpres pun pernah di tolak. Bukan main Singapura memperlakukan warga Indonesia sedemikian rupa. Mau protes??

Terlihat seorang lelaki orang melayu, dari 4 orang petugas  imigrasi yang bertugas saat itu. Tak lama kemudian datang dua orang lagi. Tetapi tak juga mempercepat lajunya antrian.  Sementara persis sebelum garis kuning tanda berhenti antri, seorang petugas berbaju gelap mengatur dan menyuruh orang-orang yang antri ke tempat petugas imigrasi yang sudah kosong.  “Cepat, Cepat ” katanya sembari menunjuk ke tempat kounter yang sudah kosong.

Dari Batam, aku bersama pak Yusuf warga Singapura, hampir sejam lamanya dia menungguku di luar, sebenarnya tadi aku bisa bersama pak Yusuf masuk jalur Singaporean. Pak Yusuf mengajakku, “kalau bersama saya, pak Imbalo boleh jalur Singporean” katanya .  Tetapi Ferry Batam Fast yang kutumpangi terlambat sampai, padahal Penguin yang membawa pak Yusuf selisih 20 menit berangkat lebih lama dari Batam Fast, bisa lebih dulu sampai. Akh besok – besok naik Penguin saja lah pikirku.

Sambil terus berjalan perlahan merapat ke depan antrian,  tiba-tiba pagar pembatas antrian kami (jalur orang asing) dibuka oleh seorang petugas, dilihat dari tampangnya warga keturunan India. Ditangannya tergenggam Handy Talky (HT) , tak henti-hentinya dia berbicara melalui HT itu, sambil berjlan hilir mudik.

Rupanya dia memerintahkan agar antrian yang penuh sesak itu berpindah ke sebelah, ketempat antrian warga khusus Singapura.
Agaknya apa yang dikatakannya orang-orang yang didekatnya tak mengerti. Kelihatan dia agak kesal dan dengan kasar ditariknya tangan orang di dekatnya itu dan ditolaknya untuk segera ke antrian khusus Singaporean, karena memang di jalur itu terlihat lengang.  Demikianlah tertibnya orang-orang Indonesia yang ke datang ke Singapura, padahal mereka tamu lho, tidak semua pencari kerja yang datang itu,

Dibeberapa Negara Asia lainnya, bahkan di Bandara Changi, ada jalur khusus untuk warga tua, kalau pun tidak khusus, mereka diutamakan terlebih dahulu untuk masuk , tidak antri berlama-lama seperti di Harbour Front itu. Bahkan di MRT ada bangku khusus untuk orang tua, wanita hamil dan bayi.

Bayi dalam gendongan bapaknya tadi terus menangis tak henti-hentinya. Sengaja agak kukeraskan  suaraku berbicara kepada wanita yang berdiri disebelahku, tentang perlakuan khusus. Mungkin terdengar petugas imigrasi orang melayu tadi, kulihat tangannya melambai ke bapak yang sedang mengendong anak yang sedang nangis itu. Bersama isterinya, mereka lalui orang-orang didepannya,  langsung menuju ke konter pemeriksaan.

Tetapi sang nenek tak sempat mendapat fasilitas, karena memang sudah dalam barisan terdepan. Tak apa ya nek……

Petang Hari.

Menjelang magrib aku tiba kembali di Harbour Front, selepas menghadiri pemakaman  Ustadz Abdus Salam bin M Sultan Mantan Presiden Muhammadiyah Singapura. Dari Kembangan naik MRT turun di Outram Park,  di Outram Park ganti kereta ke NE 1.  Melihat aku sudah tua agaknya, apalagi berkupiah, tak pernah aku berdiri selama di dalam MRT, ada saja yang memberikan tempat duduknya kepadaku. Ternyata orang tua dihormati di dalam MRT.

Sembari menunggu antri masuk ke ruang keberangkatan ferry di Harbour Front yang tak selesai – selesai di renovasi itu, terlihat olehku kedua wanita yang tadi pagi antri bersamaku di ruang kedatangan. Mereka tersenyum kepadaku, sembari bertanya, dimana tempat shalat. Rupanya sejak juhur mereka belum shalat – shalat lagi.  Padahal hari sudah menjelang petang.  Shalat juhur belum, mau shalat ashar tadi maksudnya di Harbour Front, sudah muter kamana-mana katanya tak ada tempat shalat.

“Padahal tadi niatnya mau jamak takhir aja pak” . ujar kedua perempuan itu memelas.

Didepan kami seorang petugas perempuan berbaju batik lengan pendek warna kuning bunga-bunga -kelihatan semua petugas di pelabuhan ferry itu berbaju warna dan motif yang sama- juga  memegang HT sibuk hilir mudik memanggilin orang – orang yang sudah waktunya masuk ke ruang pemeriksaan pasport.

Kutanyakan ke petugas perempuan yang kebetulan orang melayu itu, dimana tempat shalat. “Tak ada disini” jawabnya agak terkesima. Saat kutanya dimana dia shalat, petugas perempuan orang melayu tadi meleos pergi.  “Sudah dengar.” jelasku lagi kepada kedua perempuan asal Jakarta yang hanya jalan-jalan sebentar ke Singapura, pergi pagi pulang petang, sementara datang ke Batam, mereka hendak menghadiri pernikahan kerabatnya.

Ribuan pengunjung ke Singapura, sebahagian besar muslim, bisa dilihat dari pakaian yang dipakainya, seingatku sejak puluhan tahun yang lalu  tak ada fasilitas mushala di Harbour Front Singapura yang cukup luas dan besar itu.

“Kalau mau shalat ya bentang aja kertas di pojok sana” ujarku kepada kedua orang perempuan tadi. ” Saya pun demikian”. tambahku  menjelaskan bila saat masuk waktu shalat . “Ambil wuduk pakai air mineral saja, masuk toilet” tambahku lagi.

“Sungguh kalau tak perlu sangat males nak ke Singapura ini, dulu saya sering shalat dibawah tangga pusat perbelanjaan.” ujarku lagi. Syukurlah barang – barang di Singapura lebih mahal dari Jakarta bahkan Batam. Jadi mengurangi accopancy datang ke negeri yang dulu pusat penjualan barang – barang elektronik itu.

Kedua perempuan itu tadi beranjak dari tempat duduknya, bukan untuk shalat tetapi masuk ke ruang tunggu karena sudah harus naik ke ferry, hari sudah gelap magrib pun sudah tiba.

Sambil bergumam dia pamitan kepadaku, “Mudah-mudahan Allah mengetahui niatku tadi mau shalat koq, setibanya disini (Harbour Front)”.

Kubalas dengan senyum gumamannya, wallahu’alam apakah Allah memaafkannya karena sudah meninggalkan shalat Juhur dan Ashar. “Sampaikan ke teman-teman yang mau datang ke Singapura, tentang keadaan negara sekuler tetangga kita ini.

Dolpin – Dolpin Jinak yang Terlupakan


pak Atmo penjaga Dolpin

pak Atmo penjaga Dolpin

Tinggal 5 ekor lagi, yang lainnya sudah dibawa ke Bali ” kata pak Atmo lelaki tua hampir 70 tahunan salah seorang dari 4 orang petugas atau orang yang masih tertinggal di Pulau Mencadas. 

Pulau Mencadas berseberangan selat saja dengan Pulau Air Raja, kedua pulau itu masuk wilayah Kecamatan Galang, Batam, Kepulauan Riau.

nunggu gantian lewat karena pelantarnya sudah rusak....takut jatuh kalau rame rame

nunggu gantian lewat karena pelantarnya sudah rusak....takut jatuh kalau rame rame

Dua ratusan orang dengan 4 unit kapal cepat kapasitas masing-masing 50 orang, hari kamis (25/12) lalu, kami berangkat dari Telaga Punggur ke Pulau tempat penagkaran Dolphin itu.

Bu Reni guru Sekolah Hang Tuah Batam ini pun tak mau ketinggalan ... nak menjamah Dolpin yang jinak itu

Bu Reni guru Sekolah Hang Tuah Batam ini pun tak mau ketinggalan ... nak menjamah Dolpin yang jinak itu

Dolpin Dolpin jinak di penangkaran...........Potensi pariwisata yang tak terdeteksi oleh pemko batam.........ironis.

Dolpin Dolpin jinak di penangkaran...........Potensi pariwisata yang tak terdeteksi oleh pemko batam.........ironis.

Seluruh peserta Karyawan PT Panasonic Batam, dalam rangka wisata dakwah (Wisdah), terlihat peserta Wisdah mayoritas perempuan.

mereka pun bisa bermesra...

mereka pun bisa bermesra...

Dolpin ni pon sangat jinak, dia pandai berbisik.......... tahukah anda apa yang dibisikkan oleh Dolpin ni ketelinga wanita yang berjilbab tu...?????????

Dolpin ni pon sangat jinak, dia pandai berbisik.......... tahukah anda apa yang dibisikkan oleh Dolpin ni ketelinga wanita yang berjilbab tu...?????????

Gembira ria tertawa lepas, melihat ayat qauniyah, ikan – ikan Dolphin yang begitu jinak.

Mirip ya senyum nya .... begitulah ramahnya ikan ini  Ikan - Ikan Dolpin ini pon sungguh ramah..... seramah orang melayu di tempat tinggal (hidupnya) ........ Mereka sangat senang dikunjungi.... lha kan buktinya semua tetamu yang datang disalami ... termasuk lah abang yang satu in

Mirip ya senyum nya .... begitulah ramahnya ikan ini
Ikan - Ikan Dolpin ini pon sungguh ramah..... seramah orang melayu di tempat tinggal (hidupnya) ........ Mereka sangat senang dikunjungi.... lha kan buktinya semua tetamu yang datang disalami ... termasuk lah abang yang satu ini

Dolphin atau ikan Lumba-Lumba ini di tangkarkan diperairan Pulau Mencadas, tetapi 3 bulan mendatang sudah tak ada lagi kata pak Atmo.
Sang pengusaha akan merelokasi usahanya ke Bali, kelihatannya dia tak berminat lagi mau mengelola usaha penangkaran ikan dolphin ini di Batam.
Tak tahu apa sebabnya. Terlihat bangungan yang sudah mulai roboh , semak belukar disana sini, plantar pun sudah reot-reot dan rapuh.
Padahal ini adalah salah satu tujuan wisata yang cukup menarik pelancong, bila dikelola dengan baik.

ikh gemes nya....

ikh gemes nya....

Ustadz Abdus Salam bin M Sultan Presiden Muhammadiyah Singapura dalam Kenangan


Tuhan kita satu yaitu Allah kata ustadz Salam , saat di Batam awal 2012 yang lalu mengislamkan suku laut yang ada di kepulauan riau Indonesia

Ustadz Abdus Salam bin Mohamed Sultan, lahir 66 tahun yang lalu di Singapura.  “Saat itu Singapura belum merdeka lagi”. ujar pak Yusuf teman sepermainan ustadz Salam demikian beliau  akrab di panggil.  Ustadz Salam pernah menjadi Presiden Muhammadiyah Singapura. Di Singapura panggilan untuk Ketua atau Pimpinan adalah Presiden. Di akhir hayatnya ustadz Salam menjabat sebagai naib (wakil ) Presiden, sementara Presiden di jabat oleh Shaik Husein.

Selepas mengantar jenazah ustadz Salam di pemakaman umum yang cukup jauh dari kampung Kembangan tempat kelahiran ustadz Salam. Di pojok jalan Selamat, ada kantin yang menjual makanan, sembari  menunggu makanan yang kami pesan selesai dimasak, pak Yusuf bercerita lagi.

“Ditanah lapang itu dulu tempat kami nonton layar tancap, Kembangan ini dulu hampir semuanya orang melayu, ” ujar pak Yusuf lagi. Berbatasan dengan lapangan itu terlihat berdiri sebuah bangunan tertulis Comunity Center Kembangan.

“Kami satu sekolah, jadi saya tahu persis siapa ustadz Salam” kata pak Yusuf lagi. Masih cerita pak Yusuf , yang sejak dari pagi hingga menjelang pukul 4 petang itu belum ada makanan yang masuk kedalam perutnya.

Dulu, Ustadz Salam pernah melompat dari beranda rumahnya sembari berteriak katanya hendak pergi ke Surga. Tentu semua orang seisi rumah terkaget kaget. “Ustadz Salam terus berlari menuju  masjid  Mydin itu” ujar pak Yusuf menunjukkan masjid Mydin yang tak jauh dari tempat kami duduk.

“Rupanya setelah itu dia minta  belajar  ke Gontor” jelas pak Yusuf lagi sembari tersenyum.

Pak Yusuf teman ustadz Salam ini, sekarang lebih lama tinggal di Batam daripada di Singapura.  Itulah sebabnya sejak subuh setelah mendapat sms kalau ustadz Salam meninggal dunia, dia langsung bekejar ke Termina Ferry Batam Center. Aku sudah menunggu di terminal ferry, mengharapkan dapat berangkat dengan Ferry pertama bersama-sama.

Islam Serantau

Akhir 2011 yang lalu, kami dengan ustadz Salam dan ustadz Abdul Wahab dari Malaysia  menjadi tamu undangan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), mereka membahas pertemuan Islam Serantau.

Sebagai salah seorang Ulama terkemuka di Singapura, sejak muda lagi ustadz Salam sudah berkiprah di dunia Islam seperti  mewakili negaranya menjadi utusan di konvrensi pemuda Islam se-dunia.  “Kami pemuda kampung Kembangan ini sangat bangga dengan ustadz Salam” kata pak Yusuf bernostalgia. Karibnya sejak kecil itu diterima semua lapisan masyarakat. “Susah nak di cari gantinya,  Bukan Muhammadiyah saja yang kehilangan tokoh Ulama, tetapi Singapura, nyaris tak ada penggantinya.”  lanjut pak Yusuf lagi.

Selama di Jakarta tak henti hentinya tamu ustadz Salam yang datang. Subuh lagi sudah ada yang menjemput, entah kemana saja beliau dibawa. Ada yang membawanya meninjau pondok pesanteren yang sedang dibina nun jauh di pelosok Jawa Barat sana.   Banyak sekali sahabat beliau sewaktu belajar di  Gontor. Jadi teringat buku 5 Menara karang A Fuadi, yang bercerita tentang Gontor.

Murid beliau pun cukup banyak di Singapura.  Jumat malam itu tanggal 6 april 2012 sekitar pukul 23 ustadz Salam baru selesai memberikan kuliah kepada murid-muridnya. Seorang muridnya mengingatkan kepadanya, karena melihat ustadz,  sewaktu selesai memarkirkan mobil (orang Singapura menyebut mobil adalah kereta) nya, agak sempoyongan dan terlihat pucat. Maklum parkir kereta (mobil) di tempatnya mengajar itu ditingkat 6. Jadi naik keatas berputar putar.

Selesai mengajar ustadz Salam mengendari keretanya sendiri, turun dari lantai 6 tempat parkir masuk ke jalan raya, lampu hijau sudah menyala tetapi kereta ustadz Salam belum bergerak lagi. Ternyata beliau terkena serangan Jantung, Ustadz dibawa dengan ambulan ke hospital, saat  di dalam ambulan beliau masih dapat menjawab salam dari murid murid nya, syahadat terahhir dari bibirnya  yang diingatkan oleh murid-muridnya mengantarkan ustadz Salam keharibaan Ilahi.    Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Presiden Muhammadiyahy Singapura

kantor pusat dakwah muhammaadiyah singapura, sesaat sebelum pelepasan jenazah, yang disemayamkan disitu

kantor pusat dakwah muhammaadiyah singapura, sesaat sebelum pelepasan jenazah, yang disemayamkan disitu

Ustadz Salam yang pernah menjabat sebagai Presiden Muhammadiyah Singapura itu, adalah generasi kedua sejak berdirinya Muhammadiyah di Singapura.  Organisasi yang didirikan oleh KH A Dahlan di Jogjakarta ini, sejak tahun 1957 telah ada di Singapura.   “Bapak Saya almarhun yang ikut mendirikan Muhammadiyah di Singapura, dulu tempatnya bukan di Jalan Selamat itu” kata pak Yusuf. “Agaknya Haji Karim orang yang masih hidup, hingga kini masih selalu datang setiap jumat dengan bertongkat” lanjut pak Yusuf lagi dan diamini oleh chik Gazali Sekretaris Muhammadiyah Singapura.

Ustadz Salam acap ke Batam, hanya beberapa menit dari Singapura dengan Ferry. Hubungan Muhammadiyah Batam dengan Singapura cukut erat. Yang dibincang dan di bahas bukan melulu urusan organisasi. Belakangan ini ustadz Salam pun sering ke Batam, terkadang untuk ke Jawa beliau via bandara Hang Nadim Batam. Isterinya asal  Surabaya, dikaruniai anak 4 (empat) orang Salman bin Salam putra yang pertama,  sudah menikah mempunyai 2 (orang) putra,  Ia mengikut jejak sang ayah menjadi ustadz dan beristerikan orang Indonesia pula. Putra kedua meninggal di Madina saat menimba ilmu disana. Yang ke-tiga bernama Bilal bin Salam.

Salman bin Salam putra tertua ustadz Salam , selesai pemakaman di Singapura

Salman bin Salam putra tertua ustadz Salam , selesai pemakaman di Singapura

Salman lah yang menjadi imam shalat jenazah pertama yang diadakan, ruang aula pusat Muhammadiyah Singapura itu penuh sesak, selesai shalat jenazah  terdengar isak tangis Salman, meskipun hanya isak, membuat ruangan aula itu menjadi hening sejenak, tak terasa airmataku pun mengalir.

Teringat kebaikan dan begitu sabarnya ustadz Salam mendengar penjelasan kami saat mampir ke Singapura kepusat Muhammadiyah,  beberapa tahun lalu, sekembali dari Bangkok menyampaikan salam karib beliau di Islamic Center Bangkok, dan menceritakan kondisi umat Islam di tiga negara bagian Thailand Selatan.   Saat itu terjadi pembunuhan di masjid Krisik Patani oleh tentara yang sekarang berkuasa. Ustadz Salam bersahabat erat dengan DR Ismail Lutfi rektor universitas Islam Yala di Patani.

Dalam kesempatan lain ustadz Salam ikut dengan kami tidur di pulau – pulau terpencil, bercampur baur dengan masyarakat suku laut yang belum mengenal Islam. Dengan sabar dan telaten beliau menjelaskan tentang Islam kepada masyarakat suku laut itu. Tidur beralaskan tikar dan makan seadanya, membuat perasaanku tak mementu, tetapi   saat kulihat beliau tertidur mendengkur dengan pulasnya mungkin karena kecapean , barulah agak tenang perasaanku. Sungguh saat itu aku takut sekali melihat kondisi ustadz Salam, saat di pulau yang jauh dari jangkauan transportasi itu bila Dia tertimpa sakit?.

Karena beberapa hari sebelumnya ustadz Salam tidak jadi melanjutkan perjalanan ke Savanakhit Laos, hanya sampai di perbatasan Thailand saja , beliau harus kembali ke Singapura, karena kurang sehat badan. “Memang belakangan ini kondisinya agak menurun apalagi sejak putera keduanya meninggal dunia akibat kecelakan di Madina itu” jelas pak Yusuf menjelaskan. Tetapi cepat cepat pak Yusuf meralat ” Tapi yang jelas kami sudah tua, sudah 66 tahun” kata pak Yusuf lagi dan menjelaskan Senin besok pak Yusuf akan General chek di hospital di Singapura. Jadi petang selepas  berbual, berbincang – bincang di kampung Kembangan yang sudah tak terlihat lagi ciri khas kampung melayunya itu. Tak ada beranda rumah panggung tempat melompat sebagaimana yang dilakukan oleh ustadz Salam muda dulu.

Diantar pak Yusuf  berjalan kaki  ke station MRT Kembangan, melewati jalan Selamat, jalan Senang dan jalan Aman. Hanya nama itu saja lagi yang menandakan kalau daerah itu dulu dihuni oleh orang-orang melayu.  Dari Kembangan turun di Outrm Park berganti kereta melanjutkan ke Harbour front, terminal ferry ke Batam, aku pulang seorang diri. Akh banyak sekali kenangan bersama ustadz Salam yang tak dapat kutuliskan disini.

Sampai di Batam sms masuk ke HP ku, tertulis  “Saya dan Keluarga ikut berbela sungkawa dengan iringan do’a InsayAllah Almarhum Husnul Khotima, diampuni segala dosanya, dimudahkan urusannya, dilapangkan kuburnya dan diterima disisi-Nya didalam  Syurga Fi Jannatin Na’im. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menerima ujian ini, Amin ya Mujibasailin (Mohon disampaikan salam maaf Saya kepada keluarga Almarhun)” .Dari Haji Didi Suryadi sahabat sesama belajar satu bangku di Gontor. H Didi Suriyadi adalah salah seorang pengurus Majelis Ulama Indonesia  (MUI) Batam.

%d blogger menyukai ini: