April Fool’s Day


Ditulis oleh :  Zulzaidi bin Mahmod budak Malaysia.

Dikirim via email 31 hari bulan March 2008 pukul 18.00 wibb 

UMAT ISLAM JANGAN MENYAMBUT APRIL FOOL’S DAY

            Tarikh 1 April merupakan tarikh yang dinanti-nantikan oleh ramai orang terutama golongan muda di dunia. Detik 12 malam 1 April budaya tahunan iaitu april fool dijadikan mainan dan gurauan dalam kehidupan. Hari ini mereka membuat rancangan yang bermacam-macam untuk menipu atau menganiaya sahabat, jiran termasuk juga ibu bapa dan guru. Mereka menganggap perbuatan mereka adalah tidak berdosa sedikit pun.

            Dalam fikiran anak muda mula ligat berfikir bagaimana cara melihat kawan mereka ketakutan, teraniaya dan terpedaya, kemudian selepas itu dengan tersenyum dan ketawa mereka berkata “April Fool”. Ini bukanlah budaya orang timur lebih-lebih lagi ia sama sekali bukan amalan umat Islam. Kanak-kanak juga tidak terkecuali untuk bermain permainan april fool ini yang dianggap paling menyeronokkan.

            Penipuan pada hari-hari biasa apatah lagi hari april fool merupakan larangan yang sangat keras oleh Islam, sehingga Rasulullah s.a.w bersabda orang yang bertutur dengan dusta adalah dari golongan munafiq. Cuba kita lihat dan imbas kembali tahun-tahun yang sudah april fool ini mampu mencetuskan pergaduhan, perceraian dan sebagainya yang bersifat negatif.

          Menurut En. Shah Jahan bin Lukman Hakim dari Persatuan Pengguna Pulau Pinang (CAP) menyatakan bahawa april fool tidak wajar disambut oleh orang Islam di Malaysia kerana ia mampu memecahbelahkan ukhuwah sesama Islam akibat gurauan melampau.

                Sejarah april fool di dalam buku RAHSIA UNTUK UMAT ISLAM  karangan Nazri Zakaria membuktikan pada tanggal 1 April kaum muslimin dibunuh beramai oleh tentera Sepanyol. Mereka membunuh dari kalangan kanak-kanak dan wanita. Perayaan kemenangan atas nama pembersihan terhadap kaum muslimin ini bukan hanya dirayakan di Sepanyol tetapi seluruh dunia dengan nama April Fool’s Day.

             Selaku umat Islam perkara ini amat menyedihkan sehingga ada juga dari kalangan umat islam dari kanak-kanak sehingga orang dewasa menjadikan gurauan april fool mainan.

            Justeru umat Islam perlu bersikap dan berfikiran kritikal serta mengkaji setiap apa yang berlaku disekeliling kita. Pada tanggal 1 April diharapkan umat Islam dapat menjauhi gurauan dan permainan april fool ini kerana disebaliknya mempunyai sebuah sejarah yang amat menyedihkan umat Islam.

(ZULZAIDI BIN MAHMOD)

JABATAN SYARIAH DAN UNDANG-UNDANG

AKADEMI PENGAJUAN ISLAM

UNIVERSITI MALAYA

860904-56-6593

Email: matnyum@yahoo.com

HP : 012-5002954/016-2201456

Iklan

Jalan-Jalan ke Vietnam


Jalan – jalan  ke Vietnam.

Di tengah kota simpang enam  Ho Chi Min city begitu ramai dan semerawutnya

Surat Terbuka Untuk Gubernur BI yang Baru


Tulisan ini pernah dikirimkan kepada Jenderal Sutanto KAPOLRI melalui email, nggak tahu apa sudah dibaca beliau atau belum, dan pernah pula dimuat oleh Koran Lokal Batam Pos di halaman opini. Sebagai tanggapan atas Berita “Aktivitas BNI Singapura masih Normal” yang dimuat di Batam Pos.

Tulisan ini ditulis 3 tahun yang lalu, saat itu Kepala BI di Batam adalah Tindomora Siregar , sampai hari ini pun belum ada data valid berapa pengiriman uang dari Singapura ke Indonesia, begitu pula pengiriman uang dari Malaysia.

Menyikapi Surat Edaran BI Terhadap Kiprah PVA

Sebagai orang awam tergelitik rasanya membaca berita di Harian Pagi Batam Pos Selasa (25/3) “Aktivitas BNI
Singapura Masih Normal”, demikian judul berita dimaksud. Aktivitasnya tidak terganggu kendati jasa layanan pengiriman uang ke tanah air disaingi oleh banyak lembaga remmittance lainnya. Hal ini ditegaskan Anizar MD Anis Head of Costumer Service Departement Bank BNI Singapura..

Selanjutnya menurut catatan Anizar, sehari-hari bank ini rata-rata melayani pengiriman uang ke tanah air antara 300 hingga 400 nasabah. Untuk biaya pengiriman uang dibawah 1000 dolar Singapura, BNI Singapura hanya mematok 25 dolar Singapura saja. Sedangkan bank sejenis tidak bisa melakukkannya. Bank lain mematok biaya antara 40 sampai 50 dolar Singapura. Jadi BNI lebih murah tegasnya.

Mari kita hitung-hitungan, kenapa para nasabah memilih lembaga remmittance lain diluar BNI, padahal BNI
Singapura telah mematok harga lebih murah dari bank lainnya. So pasti remmittance itu pun mematok harga
jauh dibawah yang dipatok BNI Singapura. Kalau dikonversikan 25 dollar Singapura, equivalen dengan Rp. 125.000,- Malah salah satu remmittance yang bekerja sama dengan salah satu lembaga keuangan bukan
bank di Batam sejenis Pedagang Valuta Asing (PVA) tidak memungut biaya apapun, hanya selisi kurs setelah
dikonversikan. Bukan main. Itulah yang dikejar para nasabah.

Soal jaminan keamanan yang ada pada bank tidak bisa dimiliki oleh remmittance ?, Bukankah Money Authority
of Singapore (MAS) telah memberikan izin operasionalnya. Pasti MAS tidak tinggal diam bila ada remmittance yang neko-neko. Kita tahu negara pulau itu sangat taat dengan Undang-undang. Lagi pula belum ada data yang pasti sudah berapa banyak kegagalan pengiriman uang ke tanah air melalui remmittance ini.

Yang jadi pertanyaan kita adalah melalui lembaga apa remmittance yang ada di Singapura mengirimkan uang
yang diterima dari nasabah di Singapura ? Yang jelas uang sampai ke alamat di tanah air dan belum pernah terdengar ada keluhan selama ini dari si pengirim, yang nota bene sang pengirim kebanyakan adalah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Negara jiran itu.

Ternyata dekatnya Batam dengan Singapura membuat peluang, dan factor ini yang dimanfaatkan remmittance
tersebut. Cukup dengan lembaran fax ke Batam, di Batam pula dengan layanan prima sebuah bank, biaya kirim hanya berkisar 4.000 hingga 10.000,- rupiah saja, Insya Allah dana telah sampai ke tujuan keseluruh Indonesia. Itu terlihat disalah satu bank di Nagoya yang membuka layanan prima, tumpukan transaksi aplikasi pengiriman uang menggunung, ribuan transaksi setiap hari melaui bank itu.

Kalau dilihat dari sisi perbankan, menurut Johan salah seorang staf Bank Mandiri di Nagoya pengiriman uang secara kolektif tidak ada salahnya. Bank di Batam tidak dirugikan dalam hal ini. Demikian pun menurut Edy staf Bank Indonesia di Batam. Jadi siapa yang rugi? Konsumen dilayani dengan prima dan dengan biaya relatif murah? Dan yang jelas untung
dalam hal ini adalah PVA yang berperan ganda menjalin korespondensi dengan lembaga keuangan diluar negeri.

Mungkin adanya korespondensi antara PVA di Batam dengan remmittance di Singapura yang belum diketahui
oleh BI?. Jelas dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/2/PBI/2003 tangal 3 Februari 2003 Tentang Pedagang
Valuta Asing Bab II Bidang Usaha tertera bahwa kegiatan usaha yang dilakukan oleh PVA adalah hanya dua saja yaitu jual beli Uang Kertas Asing (UKA) dan pembelian Traveller’s Cheque (TC) dan PVA dilarang melakukan kegiatan-kegiatan antara lain memelihara hubungan korespondensi dengan bank-bank di luar negeri guna mengeluarkan langsung perintah pembayaran yang diuangkan di luar negeri; mentransfer/menagih sendiri ke luar negeri; bertindak sebagai agen penjualan TC dan atau melakukan kegiatan margin trading, spot, forward, swap dan transsaksi deviratif lainnya.

Yang dimaksud margin trading adalah transaksi jual/beli mata uang (valuta) tanpa diikuti pergerakan dana, melainkan hanya marjin selisih kurs. Pasti pihak BI mafhum tentang apa spot, forward, swap dan transaksi deviratif itu. Keberanian PVA yang berperan ganda di Batam sanggup melanjutkan pengiriman dana nasabah dari Singapura tanpa dipungut biaya sesenpun. Apakah bukan bentuk pelanggaran?. Sayangnya surat edaran BI No. 5/2/DPM tanggal 3 Februari 2003 yang
ditandatangani Tarmiden Sitorus Direktur Pengelolaan Moneter dan berlaku efectif sejak tanggal 3 Maret 2003 mungkin belum diketahui seluruhnya oleh PVA?.

Sekali lagi sebagai seorang awam tentang lika liku perbankan dan moneter, sebenarnya menurut hemat kami dengan otoritas yang ada padanya, kalau mau, tidak susah bagi BI untuk melacak PVA yang berperan ganda.
Aplikasi perbankan pengiriman dana dari salah satu bank di Nagoya mungkin titik awalnya. Apalagi pengawasan dari BI dan bertindak terhadap PVA yang nyeleneh, sebagai mana dimaksud dalam surat edaran diatas cukup jelas.

Disamping itu kita pun melihat apa memang benar keberadaan BNI di Singapura masih dapat terus berlanjut? dengan hanya 300 transaksi dengan biaya operasional yang cukup signifikan bandingkan dengan ribuan transaksi serupa di BNI Batam Bisa jadi BNI Singapura ditutup juga karena kalah bersaing dengan remmittance lainnya, menyusul BNI di Caymant Island Afrika sana yang baru-baru ini ditutup. Wallauhua’lam

Bermunculan BPR di Batam 

Kini, setelah 3 tahun  berlalu, belasan Bank Perkereditan Rakyat (BPR) bermunculan bak cendawan dimusim hujan. entah apa kiprah BPR – BPR itu terhadap perekonomian Batam. Tetap saja banyak rentenir-rentenir bergentayangan yang mengaku koperasi..

Redaksi Bertanggung Jawab atas Surat Pembaca


Berita-berita terkini di situs hukumonline.com !! Berita ini dikirim setiap hari langsung kepada Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam sebagai bukti komitmen kami untuk selalu memberikan informasi yang terkini.

Redaksi Bertanggung Jawab atas Surat Pembaca
[27/3/08]

Surat pembaca diterbitkan oleh perusahaan media dan melalui proses seleksi dan editing di meja redaksi.

Khoe Seng Seng tidak bisa menutupi ekspresi kecemasan. Pasalnya, jika tidak ada aral melintang, palu vonis hakim akan dijatuhkan tidak lama lagi. Pria paruh baya itu memang sedang menghadapi gugatan yang dilayangkan PT Duta Pertiwi Tbk di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara.

Seperti diberitakan sebelumnya, Seng Seng digugat karena diangap telah mencemarkan nama baik Duta Pertiwi. Perkara ini bermula saat Seng Seng ingin memperpanjang hak guna bangunan (HGB) atas kiosnya di ITC Mangga Dua, Jakarta. Kala itu, ia sangat terkejut begitu mengetahui fakta adanya hak pengelolaan lahan (HPL) Pemda DKI Jakarta di atas hamparan tanah Mangga Dua, dimana ia menyewa kios. Merasa ‘dikibuli’, Seng Seng mengeluarkan uneg-unegnya terhadap Duta Pertiwi – selaku pengembang ITC Mangga Dua- dengan melayangkan surat pembaca ke beberapa media pada September 2006. Surat itu pun dimuat.

Aksi Seng Seng kemudian direspon oleh Duta Pertiwi dengan ‘membalas’ melalui forum surat pembaca di media massa pada Oktober 2006. Mungkin karena merasa tidak puas, pada pertengahan 2007 lalu, Duta Pertiwi memilih mengajukan gugatan perdata kepada Seng Seng.

Dalam sidang yang digelar PN Jakarta Utara pada Rabu (26/3), majelis memberikan kesempatan terakhir pada Seng Seng untuk mengajukan alat bukti. Pada kesempatan itu, Seng Seng menghadirkan Bambang Harymurti yang kini duduk sebagai anggota Dewan Pers untuk memberikan keterangan seputar kasus yang sedang melilitnya.

Di persidangan, Bambang mengungkapkan bahwa surat pembaca adalah bagian dari pers. “Karena diterbitkan oleh media massa, maka surat pembaca adalah bagian dari pers,” terang Bambang yang juga mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo ini. Karena bagian dari pers, maka tanggung jawab atas isi dari surat pembaca dibebankan kepada redaksi.

Sementara merujuk pada ketentuan Pasal 12 dan penjelasan Pasal 12 UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers, penanggung jawab pada perusahaan pers dibedakan menjadi dua, yaitu penanggung jawab bidang usaha dan bidang redaksi. Lazimnya, Pemimpin Redaksi (Pemred) adalah penanggung jawab di bidang keredaksian.

Pasal 12 UU Pers

Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan.

Penjelasan Pasal 12 UU Pers

“…Pengumuman tersebut dimaksud sebagai wujud pertanggungjawaban atas karya jurnalistik yang diterbitkan atau disiarkan. Yang dimaksud dengan “penanggung jawab” adalah penanggung jawab perusahaan pers yang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi…”

Pendapat yang dilontarkan Bambang senada dengan Hinca Panjaitan. Hinca yang mantan anggota Dewan Pers pada berita terdahulu menyatakan bahwa redaksi tidak bisa mengalihkan tanggung jawabnya kepada penulis ketika surat pembaca dipublikasikan.

Tidak sembarangan

Bambang menuturkan, karena surat pembaca merupakan tanggung jawab redaksi, maka pada praktiknya tiap surat pembaca akan melalui proses seleksi yang ketat di meja redaksi. “Tiap media pasti akan menyeleksi terlebih dulu surat pembaca yang masuk. Jika isinya dianggap berbohong, atau tidak benar, maka redaktur tidak akan memuat surat pembaca itu,” ungkapnya.

Lebih jauh Bambang menjelaskan bahwa salah satu kriteria agar surat pembaca layak untuk dipublikasikan adalah sejauh mana pengaruhnya pada kepentingan publik. Hal tersebut karena di satu sisi surat pembaca juga bisa berfungsi sebagai alat penyebarluasan informasi dan kontrol sosial layaknya sebuah berita. ”Meski di sisi lain, surat pembaca juga dikategorikan sebagai opini karena berisikan pendapat seseorang,” jelasnya.

Tempuh hak jawab

Menurut Bambang, jika ada pihak yang merasa keberatan atas isi surat pembaca, yang bersangkutan bisa menggunakan haknya sebagaimana diatur dalam UU Pers. “Sama dengan pemberitaan, orang yang merasa dirugikan dapat memakai hak jawab. Jika masih tidak puas, silahkan mengadu ke Dewan Pers, karena Dewan Pers yang berhak menilai apakah hak jawab sudah layak atau belum”.

Meski di satu sisi surat pembaca dapat dikategorikan layaknya sebuah berita, namun di sisi lain nuansa opini surat pembaca juga kental. “Surat pembaca memang bisa masuk ke dalam dua-duanya (berita dan opini, red),” kata Bambang menjawab pertanyaan Taripar Simanjuntak, kuasa hukum Duta Pertiwi. “Karenanya, media harus melayani surat pembaca yang berisikan hak jawab. Hal itu perlu dilakukan supaya media tidak dijadikan keranjang sampah yang bisa digunakan salah satu pihak untuk menyerang pihak lain,” pungkasnya.

Sidang yang dipimpin hakim Nelson Samosir ini ditunda hingga sepekan mendatang (2/4) dengan agenda penyampaian kesimpulan. Patut dicatat bahwa sebelum perkara ini, PN Depok pernah menjatuhkan putusan yang menyatakan bahwa penulis opini di media massa dapat dimintai pertanggungjawaban atas tulisan opininya. Namun pada saat itu terdakwa menyatakan banding, seingga putusan atas perkara ini belum berkekuatan hukum tetap.

(IHW)

Saat Tsunami di Aceh


9944-e-5.jpg

Ini Photo Rudi, dengan kedua anaknya, sudah besar sekarang. Ibunya hilang saat Tsunami melanda Aceh. Aku jumpa dan berkenalan dengan Rudi di terminal Bus Lhok Semawe. Kami sama-sama terhalang banjir selepas Tsunami. Dari Medan tak bisa Ke Aceh dari Aceh tak bisa ke Medan, saat itu yang bisa dilalui lewat udara, penerbangan saat itu terbatas.  

Mulai dari Langkat Tamiang kami berjalan kaki menempuh banjir setinggi dada, puluhan kilo meter antrian kenderaan sepanjang jalan tak dapat melalui cekungan, lembah yang digenangi air.  Bakda Ashar dari Langkat Tamiang hingga lah menjelang dini hari baru sampai di tempat yang dituju.  

Keadaan dan situasi banjir itu kukabarkan kepada Putut, Putut adalah Wartawan Batam Pos di Batam, hubungan telpon ke Batam melalui satelit, dipinjam dari pos tentara-tentara yang tetap siap siaga dan berjaga-jaga di sepanjang jalan ke Aceh. Handphone tidak berfungsi. 

Yang kubawa saat itu dari Medan adalah sambal pecal dan rendang di dalam kaleng, tak ketinggalan  celana dalam pesanan M. Nur wartawan Batam Pos yang telah dahulu tiba di Banda Aceh. Di Banda Aceh kami tidur di Beranda Kantor Gubernur Aceh. Sampai di Aceh sambal pecal dan rendang dah bercampur aduk, karena selama perjalan sewaktu menempuh banjir yang hingga ke dada orang dewasa, bekal – bekal itu tadi di junjung diatas dikepala.  

Sholat Idul Qurban, adalah Sholat  pertama dilaksanakan di Masjid Baiturahman Banda  Aceh setelah Tsunami,  dihadiri ribuan umat muslim.

YLKM sengaja qurban di Aceh, banyak hewan qurban yang tertahan di tengah jalan, karena banjir tadi.

Kini anak-anak Rudi sudah tumbuh besar , ceria…… Rudi masih sering menghubungi ku di Batam, dia bekerja di Kantor Gubernur Aceh.

“Belum pak, belum terpikir untuk cari isteri lagi” katanya saat kutanya apakah setelah ditinggal isterinya dan sekarang sudah sekian tahun tidak terpikir untuk beristeri lagi.

“Kasihan sama anak-anak” jawabnya lagi. Itu lah Rudi , aku jadi teringat saat di Aceh sewaktu Thusami setelah melihat gambar Rudi dan kedua anaknya.

Salam untuk orang Aceh…………..

    

   

KETUA NU DAN PIMPINAN MUHAMMADIYAH TERTUKAR DI THAILAND


tentara.jpg

Tentara Thailand lagi Patroli di  kota Yala Thailand Selatan Nopember 2007 bertepatan dengan Ramadhan 1428 H.

Gara-gara membaca Detikcom 28 Maret 2008 pukul 18.55 wibb, jadi ingin menulis tentang tertukarnya kedua tokoh ini. Sebagaimana ditulis oleh Fitraya Ramadhanny, dengan judul RI Siap Bantu Damaikan Konflik Thailand Selatan. Dalam gambar terlihat Presiden SBY dengan Perdana Menteri terpilih hasil pemilu Desember 2007 lalu, Samak Sundaravey sedang berjabat tangan.

Yang dibicarakan tentang kiprah NU dan Muhammadiyah yang telah banyak membantu perdamian di Thailand Selatan, Indonesia pun siap membantu perdamaian kata Menteri Luar Negeri Indonesia Hasan Wirayuda.

Menurut Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda NU dan Muhammadiyah memang sudah terjun langsung memediasi perdamaian umat muslim di Thailand Selatan, kerjasama ini siap  ditingkatkan menjadi level government to government.

Sementara dalam jumpa pers bersama Presiden SBY dan PM Samak Sundaravey, Samak menyampaikan terima kasih  secara khusus kepada NU dan Muhammadiyah “Saya berterimakasih atas kerja sama pendidikan untuk pemuda Muslim di Thailand Selatan” kata Samak.

Prof. Din Syamsudin Jadi Ketua NU, KH Hasyim Muzadi Pimpinan Muhammadiyah

Desember 2007  yang lalu, YLKM Batam berkunjung ke Thailand naik mini Bus selama 3 hari tiga malam, mulai dari Provinsi Yala di Selatan Thailand hinggalah Provinsi Chiang Rai di Thailand Utara. Puluhan Provinsi yang dilalui, di Thailand ada 76 Provinsi.  Saat itu lagi musim kampanye di sana, sebagaimana kita ketahui Samak terpilih menjadi Perdana Menteri yang baru, PM Samak nota bene masih kolega dari mantan PM Thailand Thaksin yang ditumbangkan oleh Jenderal Shonti.

Begitu besarnya pengaruh NU dan Muhammadiyah, dalam membantu mengatasi konflik di  Negara Gajah Putih itu, dibuatlah oleh Pemerintah Thailand sebuah buku rangkuman kunjungan tokoh-tokoh Islam ke Thailand dalam tiga bahasa, yaitu Inggris, Arab, dan dalam bahasa Thailand sendiri tentunya.

Tokoh dan ulama dari Timur Tengah tak terkecuali ada tercantum dalam buku yang cukup lux itu (full color) . Mungkin mereka kurang mengenal siapa KH Hasyim Muzadi dan Prof Din Syamsudin. Lagian siapa yang peduli gambar – gambar di buku yang dibuat dalam masa kampanye itu salah. Kebetulan saja di Baca YLKM Batam. Yang pentingkan di dalam buku itu  ada tokoh Islam dari Indonesia.

Foto Prof Din Syamsudin terpampang di dalam buku itu menjadi Ketua NU dan sebaliknya Foto KH Hasyim Muzadi menjadi Pimpinan Muhammadiyah. Bukan hanya sekali, karena buku itu ditulis dalam 3 bahasa, setiap bahasa mencantumkan gambar dan keterangan serta kata sambutan dari masing-masing tokoh yang ada di dalam buku itu.

Buku itu tersebar di komunitas Islam yang ada di seluruh Thailand, menunjukkan begitu “peduli”nya pemerintah Thailand yang sekarang dengan Islam. Tapi kalau benar-benar terjadi seperti itu bagus juga ya…..

DOM DI THAILAND SELATAN

masjid.jpg

Nick Naseer Presiden Youth Muslim Asosiation Thailand (YMAT) baju merah, berbincang dengan YLKM Batam dan turunan ke 13 Raja Pattani, juru kunci masjid (pakai songkok putih) diberanda masjid tua yang telah berusia 400 tahun, disitu terjadi tragedi berdara puluhan muslim tewas tertembak tentara Thailand di era pemerintahan Thaksin

Di awal Bulan Nopember 2007 pun YLKM Batam ke Hatyai Thailand saat itu bulan Ramadhan 1428 H, YLKM  menyaksikan gundukan karung goni diperempatan perempatan jalan, di tempat-tempat strategis di tiga Provinsi di Thailand Selatan yaitu Yala, Pattani dan Naratiwat, sementara di Provinsi Songklah dan lainnya tak terlihat. Hanya sekatan sekatan pemeriksaan yang terlihat di beberapa ruas jalan. Tetapi mangkin ke Utara di puluhan Provinsi yang lain di Thailand hal seperti di ketiga Provinsi yang ada di Selatan tidak terlihat. Tetapi seorang ustaz di Mae Sai mati tertembak. Mae Sai terletak di Provinsi Chiang Rai, berbatasan dengan Miyanmar Burma.

Di Masjid Tua yang sudah 400 tahun, tak beratap, masih dalam wilayah Provinsi Pattani,  terlihat didinding masjid yang tidak diplaster itu  bekas-bekas peluru yang ditembakkan dan menewaskan puluhan  orang yang sedang berlindung di dalamnya. Disamping masjid itu diseberang jalan terlihat  gundukan – gundukan karung goni berisi pasir, dibalik gundukan itu siap siaga  beberapa orang tentara.

Kondisi  ini persis sama saat YLKM Batam ke Aceh tahun 1996 saat menghadiri Muktamar Muhammadiyah, tentara dimana-mana. Di Thailand Selatan pun tentara dimana – mana berpatroli, baik yang berjalan kaki maupun dengan kenderaan bermotor roda empat.

Pertengahan Maret 2008 masjid di Bom beberapa orang tewas. Sampai kapan kondisi seperti ini di Thailand Selatan? , Benar-benarkah Pemerintah Thailand ingin mengakomodir keinginan umat Islam di Thailand?

Benarkah Mas Selamat Kastari Sudah dimatikan?


 

Siapa yang mau peduli dengan nasib mas Selamat Kastari masih selamat hidup atau pun sudah mati?. Yang jelas saat keluarganya akan menjenguk ke penjara, dikabarkan bahwa tiba-tiba mas Selamat sudah kabur dari penjara, bukan main.

Sama dengan tahanan teroris lainnya, diberi kesempatan kabur, terus di dor. Sudah, habis perkara, dari pada merepotkan, apalah artinya seorang Selamat Kastari, bagi Singapura, apalagi bagi Indonesia.

Enggak percaya lihat saja tahanan lainnya baik di Amerika maupun di Philipina, diberikan kesempatan lari dari kurungan. “Melawan saat ditangkap kembali setelah lari dari penjara, melawan petugas terpaksa dilumpuhkan” itu adalah jawaban jitu.

PENGEMPLANG BLBI   

 

Kemarin aku melihat tayangan berita di AnTV  (24/3) malam, itu pak Samadikun tammatan SMP pemilik Modern Photo yang ngemplang dana talangan BLBI, enak sekali tinggal di Singapura koq enggak bisa kesentuh ya…… kan pasport nya sudah habis…….. pemilik BDNI yang bikin bang Buyung kelimpungan di Singapura, enak enakan di Singapura….. aku tanya teman ku Aries Kurniawan koq enggak dibikin seperti Mas Selamat Kastari aja ya…..

Aries yang Master Hukum dari UGM ini bilang beda la pak…….. wong pejabat nya ikut menikmati…… beda sama petrus dulu malah bikin susah pejabat. “Lha kalau gitu pengemplang BLBI ini bikin senang pejabat” bukan menyenangkan pejabat saja juga menyenangkan pengacara.. he he he he , kan banyak pengacara jadi kaya karena mereka.

Jadi bang Arman ke Singapura dalam rangka apa sebenarnya…… ya ….. termasuk itu mungkin katanya…….

Kasihan Mas Selamat Kastari …………… tak ada orang yang peduli…  

 ANTARA CINA PERANTAU DAN JI (JAWA INTERNASIONAL)

Katanya Mas Selamat Kastari itu JI , JI  bukan Jamaah Islamiyah tetapi Jawa Internasional, beda dengan Cina Perantau. Dalam salah satu artikel tentang Cina Perantau (CP) ,  disebutkan hampir 40 juta CP dimerata dunia termasuk mereka yang lahir diluar Cina, terbesar dari CP itu berada di Indonesia, tak usah diceritakan disini siapa saja mereka yang berjaya di Indonesia.

CP tetap diakui oleh negara Cina meskipun lahir di perantauan , begitulah hebatnya. Di Singapura, CP menjadi Perdana Menteri, di Malaysia banyak Menteri yang berkuasa, di Philipina Presidennya asal CP, di Thailand pun demikian.

Begitu berjayanya CP ini, bila di bandingkan dengan Jawa Internasional (JI),  meskipun populasi Jawa di dunia banyak, tetapi belum seberjaya CP, di Suriname baru setingkat menteri.

Jadi kalau Samadikun Hartono dan isterinya, Syamsul Nursalim dan lain lain obligator BLBI yang ngemplang duit rakyat Indonesia itu berada di Singapura biar sudah habis visanya , tetap saja di terima dengan baik disana oleh CP yang ada di Singapura, lain halnya dengan Mas Selamat Kastari yang JI alias Jawa Internasional itu. Apa iya demikian?????????  Terussss koq enggak malu ya Singapura itu ngumpulin orang-orang yang buat sengsara orang.

%d blogger menyukai ini: