Bulang Lintang, Pulau Bersejarah yang Terlupakan.



Pulau Bulang pernah memainkan peranan penting dalam peristiwa sejarah di kawasan Selat Melaka. Ia jadi pusat pertahanan Kerajaan Melayu dari serangan Portugis. Kini, Bulang terabaikan, satu per satu instansi pemerintah angkat kaki dari pulau itu.

Pelabuhan Bulang Lintang tak begitu ramai, Kamis (20/12) siang. Hanya ada dua kapal motor bersandar di sana. Satu kapal siap mengantar sejumlah warga ke Batam. Satu kapal lagi mengangkut semen dan bahan bangunan.
542015_532189270133729_72298048_n
Siang itu, warga Bulang Lintang bergotong royong membangun masjid. Mereka bergantian memindahkan semen dan besi dari kapal ke atas ponton pelabuhan dan mengangkutnya dengan sepeda motor ke lokasi pembangunan masjid yang berjarak 200 meter dari pelabuhan.

Gotong royong siang itu merupakan satu-satunya aktivitas warga Bulang Lintang. Biasanya, mereka beristirahat di siang hari. Baru sehabis salat Isya mereka melaut hingga dini hari.

Penduduk Bulang Lintang sekitar 400 kepala keluarga. Sebagian besar nelayan. Mereka tinggal di tepi laut, di rumah-rumah panggung berpancang kayu. Akses jalan yang membelah perkampungan berupa jalan semen selebar 2 meter. Banyak sisa-sisa pembangunan di kampung itu. Bulang Lintang pernah jadi ibu kota kecamatan. Namun, sejak beberapa tahun lalu Kantor Camat Bulang berupa bangunan dua lantai ditinggal. Kantor camat pindah ke Pulau Buluh.
206499_532189576800365_1427244422_n
“Sebentar lagi Puskesmas juga akan ikut pindah ke Pulau Buluh,” kata Raja Hilmi, Ketua RW I Bulang Lintang.

Pulau Buluh berjarak 20 menit perjalanan laut dari Bulang Lintang. Jika Puskesmas ikut pindah, suasana Bulang Lintang akan lebih sepi lagi. Sebelumnya, Kantor Urusan Agama (KUA) Bulang juga sudah pindah ke Pulau Buluh bersamaan dengan pindahnya kantor camat.
148948_532189593467030_1960805901_n
Bulang Lintang bukan pulau sembarangan. Pulau ini sarat sejarah. Menteri Pariwisata dan Kebudayaan I Gede Ardika, pernah menyambangi pulau ini. Puluhan tahun sebelumnya, pasukan TNI AD dan marinir juga pernah mendiami pulau ini saat Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia, sekitar tahun 1963.
564588_532189446800378_1488114146_n
Ratusan tahun sebelumnya, jauh sebelum Batam dikenal, Bulang Lintang juga sudah tercatat dalam sejarah Melayu Riau-Lingga-Johor. Di sana, ada situs sejarah Melayu. Ada makam Bendahara Temenggung Abdul Jamal bersama istrinya Raja Maimunah.

Pemko Batam memasukkan makam Temenggung Abdul Jamal dalam peta pariwisata religius Kota Batam. Begitu juga Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, menjual pulau ini sebagai salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi.

 Yayasan Amal Malaysia datang berkunjung

Yayasan Amal Malaysia datang berkunjung


Namun, kondisi situs sejarah tersebut tak dikelola dengan baik. Penunjuk jalan menuju area makam hanyalah berupa plang bertuliskan nama jalan Temenggung Abdul Jamal. Kita harus bertanya ke penduduk sekitar untuk mengetahui letak makam sang Bendahara. Lokasinya sekitar 100 meter dari pelabuhan.

Memasuki area pemakaman Temenggung Abdul Jamal kita akan langsung berhadapan dengan gapura khas Melayu. Gapura itu bercat kuning dengan tulisan Obyek Wisata Religius Makam Bulang Lintang berwarna hijau. Begitu kaki melangkah, dedaunan kering sudah langsung menyambut. Daun-daun itu mengotori jalan, terlihat jarang dibersihkan. Pohon-pohon seperti cempedak, akasia, rambe, dan lainnya menaungi area pemakaman.

Makam Temenggung Abdul Jamal berada di dalam komplek pemakaman seluas 12×15 meter. Pagar asli makam tersebut berupa batu kapur dibiarkan tetap berdiri. Di luarnya, Pemko Batam memugarnya dengan membangun tembok setinggi 1,5 meter. Tembok tersebut juga dicat kuning. Sebagian sudah berlumut. Warna kuningnya kusam, tak lagi bercahaya.

Jasad Makam Temenggung Abdul Jamal dibaringkan tepat di tengah-tengah komplek pemakaman. Makam sang bendahara dinaungi rumah kecil. Nisannya berupa batu berbentuk tiang bulat. Nisan itu dilapisi kain kuning. Ada sejumlah tasbih membelit nisannya. Di sebelah kirinya, istrinya, Raja Maimunah dimakamkan. Di sekelilingnya, banyak makam berukuran sedang. Ada juga belasan makam berukuran kecil, seperti makam bayi-bayi.

Selain makam Temenggung Abdul Jamal dan istrinya tak ada keterangan apapun tentang makam-makam yang lain. Kamarul Zaman, anak pasangan Mustafa dan Raja Halidah, pemegang pusaka peninggalan Temenggung Abdul Jamal, menduga makam-makam di sekeliling Abdul Jamal adalah makam para pembantu bangsawan tersebut. “Mungkin semacam hulubalangnya,” katanya.

Di luar komplek makam Temenggung, ada sebuah museum kecil bernama Museum Mini Cik Puan Bulang. Museum itu dibangun bersamaan dengan pemugaran komplek makam Tumenggung di zaman Wali Kota Batam Nyat Kadir, sekitar sepuluh tahun lalu. Ukurannya 8×8 meter. Isinya kosong. Tak ada barang atau dokumen apapun yang disimpan di museum tersebut.

Awalnya, museum tersebut akan diisi peninggalan Temenggung Abdul Jamal berupa dua keris berlekuk tiga, tongkat raja, pedang, dua tombak berbalut bulu kuda, dan separuh potongan kelapa laut. Separuh potongan kelapa laut itu konon adalah tempat membasuh kaki Temenggung Abdul Jamal. Namun, benda pusaka itu tak pernah menghuni museum karena pemegang pusaka yakni keluarga Raja Halidah dan Mustafa tak mengizinkannya.

“Takut hilang,” kata Mustafa, Kamis siang itu.

Dulu, kata Mustafa, banyak orang datang ke rumahnya ingin melihat benda-benda pusaka itu. Sebagian bermaksud hendak mengambil harta karun yang terkubur di area makam Temenggung Abdul Jamal. “Banyak yang sudah mencoba ambil harta karun, tapi tak ada yang bisa,” ujarnya. Itu sebabnya, katanya, ia tak meletakkan benda-benda peninggalan Temenggung Abdul Jamal di museum itu.

Mustafa mengaku benda pusaka itu milik keluarga istrinya. Ia bercerita, suatu hari mertuanya Raja Umar kedatangan tamu dari Pulau Penyengat. Namanya Mukhsin Khalidi, penilik dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Kepri.

Kepada mertuanya, kata Mustafa, Khalidi menanyakan apakah mertuanya memegang benda-benda pusaka peninggalan Temenggung Abdul Jamal? “Mertua saya tak langsung jawab. Mertua saya balik nanya, benda apa,” kata Mustafa.

Barulah setelah Khalidi menjelaskan soal keris dan pedang, Raja Umar membenarkan, dialah yang memegang benda-benda itu. “Sejak saat itulah benda pusaka ini ada di keluarga kami,” tuturnya.

Meski pemegang benda pusaka, Mustafa tak bisa memastikan, apakah keluarga istrinya termasuk keturunan Temenggung Abdul Jamal. Tak ada catatan tertulis soal silsilah keturunan Temenggung Abdul Jamal di keluarga mereka. Yang Mustafa tahu, mertuanya bernama Raja Umar bin Raja Yahya. “Di atas Raja Yahya, mertua saya tak ada cerita lagi,” tukasnya.

Mustafa sendiri adalah perantauan dari Adonara, Nusa Tenggara Timur. Ia datang ke Bulang Lintang sekitar tahun 1962. Belum banyak penduduk di sana, hanya ada tiga kepala keluarga. Setahun kemudian, Bulang Lintang menjadi basis tentara saat Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia. “Banyak tentara yang berjaga-jaga di sini. Mereka bikin tenda di dekat makam Tumenggung Abdul Jamal,” ucapnya.

Di masa-masa konfrontasi itulah, kata Mustafa, ia menikah dengan Raja Halidah, anak Raja Umar. Dari pernikahan itu, ia dikarunia tujuh anak. Kamarul Zaman, yang hari itu, mengantar Batam Pos ke situs-situs sejarah Temenggung Abdul Jamal, adalah anak Mustafa-Halidah, yang kini menjadi pegawai di kantor Lurah Bulang Lintang.

Banyak turis Malaysia maupun rombongan ibu-ibu majelis taklim yang berkunjung ke makam tersebut. Sebagian, setelah berziarah ke makam, melihat-lihat pusaka peninggalan Temenggung Abdul Jamal. Konon, tempat membasuh kaki Temenggung Abdul Jamal memiliki khasiat menyembuhkan batuk dan flu. Mustafa mengaku sudah membuktikan kesaktian tempat membasuh kaki itu. Semua anaknya, katanya, jika batuk cukup ia beri air yang sebelumnya diendapkan dulu di dalam tempat membasuh kaki Temenggung Abdul Jamal itu.

“Orang Malaysia yang datang juga banyak yang minta minum air dari tempat membasuh kaki ini,” kata Mustafa.

Keluarga Mustafa ikut memegang kunci makam Temenggung Abdul Jamal. Namun, mereka bukan penjaga makam. Penjaganya adalah Mathaha atau biasa dipanggil Wak Taha oleh warga sekitar. Wak Taha mengaku sudah berumur 80 tahun. Rambutnya memutih. Kulitnya legam terbakar matahari. Giginya sudah banyak yang tanggal. Cara berjalannya agak membungkuk.

Wak Taha mengaku diminta Wali Kota Batam Nyat Kadir menjaga makam saat pertama kali area pemakaman itu dipugar Pemko Batam. Sampai sekarang ia menjaga makam tersebut. Setiap bulan, katanya, ia mendapatkan gaji Rp500 ribu dari Camat Bulang. Namun, karena usianya yang sudah tua, Wak Taha tak lagi rajin membersihkan area pemakaman. Daun-daun kering di sana dibiarkannya.

Meski begitu, Wak Taha masih rajin membaca tahlil di makam Temenggung Abdul Jamal, saban malam Jumat. Ia mengaku sering didatangi sosok Temenggung Abdul Jamal. Saat pertama kali menjaga, katanya, Temenggung Abdul Jamal hadir di depannya. Saat itu, ia sedang membaca tahlil. Temenggung tiba-tiba datang, memegang tangannya, dan meminta dia menjaga kebersihan makam tersebut.

Temenggung Abdul Jamal, kata Wak Taha, datang dengan menggunakan baju Melayu warna kuning. Ia bertanjak dan mengenakan selendang yang juga berwarna kuning. “Jenggotnya panjang, sudah beruban. Dia datang hanya sekilas. Setelah minta saya bersihkan makamnya, ia menghilang,” kata Wak Taha.

Aswandi Syahri, Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Provinsi Kepulauan Riau, mengatakan berdasarkan penelitiannya, saat ini tak ada lagi keturunan Temenggung Abdul Jamal di Bulang Lintang. Pasalnya, Bulang Lintang yang pernah ditinggali keluarga Temenggung Abdul Jamal sejak tahun 1722, sudah ditinggalkan keluarga tersebut tahun 1824.

“Keturunan Temenggung Abdul Jamal yakni Temenggung Abdulrahman pindah ke Singapura pada tahun 1811. Keluarga itu pindah bertahap dan tahun 1824 itu sudah tak ada lagi keluarganya yang mendiami Bulang Lintang,” katanya, Sabtu (22/12).

Temenggung Abdul Rahman membuka kawasan pemerintahan Temenggung Johor di kuala Sungai Singapura. Saat ini, kata Aswandi, keturunan Temenggung Abdul Jamal menjadi Sultan Johor. “Kalau silsilahnya, Sultan Johor yang sekarang Sultan Ibrahim Ismail inilah keturunan Temenggung Abdul Jamal,” tutur Aswandi.

Aswandi pernah menulis buku Pulau Bulang dan Sejarah Temenggung Riau-Lingga-Johor dan Pahang Yang Terlupakan (1722-1824). Menurut dia, sejumlah bahan sumber Melayu dan Eropa mencatat bahwa Pulau Bulang pernah memainkan peranan yang cukup penting dalam peristiwa sejarah di kawasan Selat Melaka. Dalam Sejarah Melayu Sulalatus Salatin umpamanya, nama Pulau Bulang paling tidak telah dicatat dalam kaitannya serangan-serangan Portugis terhadap pusat pertahanan Sultan Mahmud Syah, Sultan Melaka yang menyingkir ke Pulau Bintan.

Kawasan perkampungan orang-orang Melayu di Pulau Bulang pernah dibakar habis oleh sayap armada laut Portugis di bawah komando Don Sancho Enriquez yang berkekuatan 25 buah perahu, galley, dan fusta, sebelum menyerang pusat pertahanan Sultan Mahmud Syah, yang dikenal dengan nama Kopak dan Kota Kara di Pulau Bintan pada pada tahun 1526.

Sebuah laporan Portugis juga mencatat bahwa kawasan sekitar Pulau Bulang telah terkenal sebagai pelabuhan dagang sejak tiga puluh lima tahun sebelum Laksamana Tun Abdul Abdul Jamil dari Johor (Lama) diutus membuka sebuah negeri baru di Pulau Bintan yang kemudian dikenal sebagai “bandar dagang” bernama Riau pada tahun 1673.

Resende, orang Portugis yang menulis laporan itu mencatat terdapat pelabuhan dagang yang penting berhampiran dengan Selat Singapura yang disebutnya dengan nama Bulla atau Bulang dekat Pulau Batam.

Menurut Resende, pelabuhan ini padat dengan penduduk Melayu dan seringkali dibanjiri oleh sejumlah pedagang dari seluruh rumpun masyarakat dari wilayah Selatan pelabuhan itu.

Dua ratus tahun kemudian, perairan di sekitar Teluk Bulang juga tampil memainkan peranan yang sama, seperti pada zaman Resende melaporkan situasi pulau ini pada tahun 1638. Pada tahun 1843, seorang pengamat Eropa lainnya bernama Horsburg melaporkan, “Teluk Boolang, di Pulau Battam, atau Pulo Battam, terletak kira-kira 13 atau 14 miles sebelah tenggara Singapura, menyediakan tempat berlabuh yang aman, dan sering dikunjungi kapal-kapal Amerika; di sini mereka memperoleh barang muatan, dan berdagang dengan Singapura, dalam rangka menghindari biaya tambahan bila langsung pergi ke Singapura, karena Teluk Bulang berada di luar batas wilayah kekuasaan Inggris”.

Pada masa pemerintah Sultan Riau yang pertama, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1722-1760), Pulau Bulang tampaknya juga menjadi “benteng alamiah” yang melindungi Riau dan sekaligus tempat “perlindungan” menjelang menyingkir ke kawasan tertentu bila terjadi krisis politik di Riau.

Sekitar tahun 1724, umpamanya, Sultan Sulaiman pernah berada di Pulau Bulang sebelum menyingkir ke Kampar ketika terjadi perselisihan dengan pembesar-pembesar Bugis di Riau. Menurut sejarawan Eliza Netscher, salah satu sebabnya adalah karena terdapat sebuah benteng tangguh bernama Kota Karang di pulau ini. (abdul hamid) (82)

Iklan

Masjid Cheng Ho Surabaya : Tiru Arsitektur Masjid Niu Jie Beijing


Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Tiba  dilokasi masjid Muhammad Cheng Ho, seorang satpam menyambut kami. Dari pintu gerbang masuk , tak terlihat kalau ada masjid. Terhalang bagian belakang areal bangunan serba guna komplek Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI) Jawa Timur .

Memasuki halaman parkir yang juga berfungsi sebagai lapangan oleh raga, barulah terlihat bangunan yang menyerupai kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma) . Itulah masjid Cheng Ho, masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid.

Arsitektur Masjid Cheng Ho meniru Masjid Niu Jie (Ox Street) di Beijing sana yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal, Jawa. Arsiteknya pula adalah Ir. Abdul Aziz dari Bojonegoro.

Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.Selain Surabaya di Palembang juga telah ada masjid serupa dengan nama Masjid Cheng Ho Palembang atau Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang.

Bersama Ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid Cheng Ho Surabaya

Bersama Ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid Cheng Ho Surabaya

Masjid ini terletak di jalan Gading Surabaya , saat kami datang, shalat juhur sedang berlangsung, Buletin Jumat (BJ) bergegas mengambil wuduk, namun sayang tak sempat mengikuti shalat berjamaah.

Masjid Cheng Ho ini selesai dibangun dan diresmikan 13 Oktober 2002,” Diberikan nama seperti itu merupakan bentuk penghormatan pada Cheng Ho, Laksamana asal Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho bukan hanya berdagang dan menjalin persahabatan, juga menyebarkan agama Islam”. Jelas ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid yang sudah delapan tahun menjadi imam tetap di masjid itu.

Tak ada daun pintu di masjid, secara keseluruhan Masjid Muhammad Cheng Hoo berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama 11 x 9 meter. Pada sisi utara dan selatan bangunan utama terdapat bangunan pendukung yang lebih rendah daripada bangunan utama. Ukuran 11 meter pada bangunan utama masjid diambil dari ukuran panjang/lebar Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Sedangkan ukuran 9 meter inspirasinya didapat dari sejarah Walisongo yang melaksanakan syi’ar Islam di tanah Jawa. Masjid Muhammad Cheng Hoo mampu menampung hingga 200 orang jamaah.
Imam masjid yang juga punya nama Indonesia , H. Ahmad Hariyono ini menjelaskan, soal penyebutan china yang sangat menyakitkan hati, diawal kemerdekaan RI. Hingga ke hari ini masih terngiang ngiang dan sejarah pahit bagi mereka.  “Sebut dan panggil saja Tiong Hoa “ jelas ustad yang fasih berbahasaa Arab ini.

Gedung PITI Jawa Timur

Gedung PITI Jawa Timur

Saat BJ mengenalkan diri dan menyebut nama Indonesia, Imbalo Iman Sakti,  dan punya nama Tiong Hoa juga, yaitu “Tan Ko Cu”.  Ustadz Ahmad Wong,  demikian beliau sering disapa tersenyum lucu.  Tetapi, setelah dijelaskan bahwa Tan bukan lah she (marga) hanya asal kata dari ATAN, itu  adalah panggilan untuk lelaki suku melayu, tempatku bermastautin di Batam sekarang, dan KO CU pula kebalikan dari asal kata UC OK, nama panggilan anak lelaki di Tapanuli, tempat kelahiranku dulu. Ustadz yang sedang menunggu bea siswa untuk melanjutkan Phd nya ini, malah tambah tertawa. Dan aku yakin,  beliu tahu betul dengan Ucok AKA penyanyi legendaris asal Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo dibangun atas gagasan HMY. Bambang Sujanto dan teman-teman PITI. Fasilitas yang ada di dalam kompleks Masjid Muhammad Cheng Hoo itu antara lain: kantor, sekolah TK, lapangan olah raga yang juga berfunsi sebagai lapangan parkir , kelas kursus bahasa mandarin dan kantin.
Fasilitas tersebut disediakan demi kenyamanan beribadah dan untuk mempererat tali silaturahmi sesama umat. Selain itu banyak juga kegiatan sosial yang diselenggarakan PITI mengambil tempat di kompleks masjid ini, beberapa diantaranya: distribusi sembako murah, donor darah, serta pengobatan akupunktur.

Ustadz Ahmad Wong, bergegas masuk ke ruang sebelah tempat Imam , beberapa buku diberikannya kepada BJ. Sayang kami tak dapat bertemu dengan Haji Bambang Sujanto pendiri dan penggagas berdirinya masjid yang banyak dikunjungi orang baik dalam dan luar negeri ini . “Beliau selalu berpergian keluar daerah maupun keluar negeri” ujar Imam Ahmad Wong yang juga dosen tetap disalah satu universitas terkenal di Surabaya.
Kami tinggalkan komplek masjid yang diilhami Perpaduan Gaya Tiongkok dan Arab yang memang menjadi ciri khas masjid itu.

Ilal Liqo ustadz Wong, semoga cepat dapat bea siswa.

Wisata Religi di Batam : Minal Masjid Ilal Masjid


minal masjid ilal masjid
Bukan mudah merubah imej negatif tentang kehidupan Batam di luar negeri, sebagai tujuan wisata ke tiga terbanyak di Indonesia , apa yang bisa “dijual”?

Minal Masjid Ilal Masjid, itulah tema yang diusung oleh AJK (Ahli Jabatan Kuasa) masjid – masjid Negara Brunei Darussalam. Sebanyak 30 orang rombongan yang di ketua oleh H. Kamal, datang berkunjung ke Batam, sejak 14 hingga 16 Desember 2012.

Pemko Batam cukup respon, rombongan AJK masjid-masjid Negara Brunei Darussalam itu di terima oleh Assisten, Kadis Kesra, pengurus DMI (Dewan Masjid Indonesia) kota Batam . Dijamu makan siang di Masjid Raya Batam selepas shalat jumat. Banyak hal yang dibicarakan, kedua belah pihak, terutama tentang Lembaga Zakat . Hal ini disampaikan oleh Ustadz Amiruddin Dahad mewakili MUI dan LAZ masjid raya diwakili oleh Syarifuddin.

Di hari yang sama , rombongan berkunjung ke masjid Jabar Arafah, selepas shalat magrib tamu rombongan dijamu makan malam oleh pengurus masjid . Menyaksikan progres report melalui slide, yang ditayangkan, pembangunan masjid yang terletak di tengah kota Batam, bersebelahan dengan mall Nagoya Hill ini, baru selesai sekitar 30 persen . Padahal dana yang dikeluarkan sudah mencapai puluhan miliar rupiah. Sebagaimana dijelaskan oleh pengurus masjid Jabal Arafah H Alamsyahruddin. Jadi masih banyak lagi dana yang diperlukan.

Keesokan harinya rombongan berkesempatan mengunjungi Sekolah Islam Hang Tuah, Sekolah yang terletak di Bengkong Polisi ini, bersebelahan lokasinya dengan masjid Nurul Hidayah. Suguhan tari selamat datang , dan tarian dari anak-anak taman kanak kanak Islam Hang Tuah, yang memakai pakaian adat melayu , dan terlihat lucu, membuat Datuk Paduka Haji Ahmad bin Haji Ibrahim yang masih kerabat Sultan itu, serta rombongan lainnya , berebut untuk poto bersama.

Dari Sekolah Islam Hang Tuah perjalanan dilanjutkan ke lokasi sebuah masjid yang belum selesai , lokasi masjid ini terletak di Sei Panas, dekat patung kuda, demikian orang menyebut lokasi masjid yang belum selesai hampir sepuluh tahun itu. Hujan lebat , rombongan hanya dapat melihat bangunan yang ditumbuhi ilalang dan semak belukar itu dari dalam bus saja.

Buletin Jumat (BJ) bersama rombongan meneruskan perjalanan ke arah Barelang, hendak menuju sebuah surau diperkampungan suku laut di Air Lingka kecamatan Galang . Namun bus yang ditumpangi mengalami kerusakan setelah jembatan 4, sehingga tidak semua rombongan dapat datang ke Air Lingka.
Jembatan 6 yang masih belum selesai perbaikan itu, kami lalui dengan Rush muat tujuh orang, sampai juga kami ke suaru kecil di pinggir pantai yang dihuni minoritas muslim suku laut itu. Keseriusan Ibu Siti mengajari anak2 suku laut mengenalkan Islam, menjadikan kesan tersendiri bagi Prof. Madya DR H Hashim bin Abd Hamid .

Rombongan lain dengan Bus menuju desa Monggak , di panti asuhan al mubarrok yang terletak di kecamatan Rempang Cate , rombongan kami, bersatu kembali. Dua puluhan anak – anak asuh panti , menyambut dengan pukulan rebana .
Cuaca mendung dan terkadang rintik hujan, membuat ribuan lalat berkerumun menghinggapi makanan yang disajikan tuan rumah. Buah nangka dan pisang yang tadinya berwarna kuning nyaris berubah hitam, begitu banyaknya lalat hinggap. Tak heran lalat begitu banyak, puluhan kandang ayam ternak berdiri di daerah itu.

Ada beberapa tamu tak sanggup makan melihat ribuan lalat yang hinggap terus tak henti hentinya , disemua makanan yang terhidang. Sembari makan sembari mengibaskan tangan menghalau lalat. Berebut makan dengan ribuan lalat, adalah pengalaman bagi mereka seumur hidup agaknya .
Kami tinggalkan desa monggak, menuju Batam. Kerumunan lalat yang sempat masuk kedalam bus pun menjadi pembicaraan diantara para rombongan. Antara lain tak satupun penduduk dan anak asuh disitu yang terserang sakit perut.

“Insya Allah kami akan datang lagi” ujar H Kamal. “Dengan rombongan yang lebih banyak lagi, dan semuanya anak muda, akan mengunjungi pulau – pulau sekitaran Batam “ tambahnya lagi.

Shalat Tapi Nampak Aurat


563616_563054493708626_1473750461_n
Saat shalat di sebuah masjid di bilangan Nagoya Batam, persis di depan Buletin Jumat (BJ) ada seorang pemuda sedang shalat sunat . Pemuda yang cukup besar perawakannya itu memakai celana panjang dan kaos. Sayangnya saat pemuda itu rukuk, kaos yang dipakainya menyingkap keatas dan celananya pula tertarik kebawah. Terlihat lah belahan punggungnya dari belakang. Singkapan itu menjadi lebih melebar nyaris belahan pantatnya terlihat, saat waktu sujud.

Pakaian seperti itu (celana dan kaos) acap dan banyak dipakai pada saat shalat oleh kaum lelaki, tak kira remaja, pemuda bahkan orang tua sekalipun. Bahkan pakaian semacam itu banyak juga dipakai pada saat shalat Jumat.

Celana dengan pinggang model dibawah pusat dan kaos yang menyingkap pada saat rukuk apatah lagi saat sujud , menjadi trend dipakai saat kini.
Selesai shalat, pemuda itu BJ hampiri , dan memberitahukan bahwa kaos yang dikenakannya tadi tersingkap dan nyaris belahan punggung nya yang masih batas aurat terlihat.

Beberapa temannya ikut nimbrung, ternyata mereka tergabung di dalam Pemuda Remaja Masjd Jabal Arafah, yang memang sengaja datang shalat di masjid itu. Diskusi makin lancar membahas masaalah aurat. Kegiatan diskusi kelompok pemuda remaja masjid semacam ini, sudah jarang dilaksanakan.

BKPRMI

Tidak semua masjid di Batam mempunya kelompok Pemuda Remaja Masjid . Di Indonesia, organisasi pemuda remaja masjid seperti BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda remaja Masjid Indonesia), semasa dibentuk dahulu tahun 1977, peranan BKPRMI ini , cukup berperan di kanca Nasional. Masih ingat salah seorang ketuanya yang hingga kini berkiprah di kanca Nasional adalah Idrus Marham.

Remaja masjid adalah perkumpulan pemuda masjid yang melakukan aktivitas sosial dan ibadah di lingkungan suatu masjid. Dan perlu diingat bahwa penting pembagian tugas dan wewenang dalam remaja masjid termasuk dalam golongan organisasi yang menggunakan konsep Islam dengan menerapkan asas musyawarah, mufakat, dan amal jama’i (gotong royong) dalam segenap aktivitasnya.

JPRMI (Jaringan Pemuda Remaja Masjid Indonesia), tahun berdiri 2003). Dan perbedaan antara Pemuda dan Remaja adalah terletak faktor usia seperti kalau Pemuda berusia antara 25 – 40 tahun, dan dituntut telah Mampu menjadi Imam dan Khatib Salat Jama’ah, serta memiliki kemampuan manajerial secara fiqud Dakwah Islamiyah.

Sementara bila Remaja, berusia antara 15 – 25 tahun, dan hanya mampu menjadi Muadzin dan pembaca Acara Hari Besar Islam serta hanya mampu membantu manajerial Dakwah dalam upaya memakmurkan Masjid.
Kegiatan Pemuda dan Remaja Masjid

Banyak kegiatan yang dapat dilakukan para pemuda dan remaja yang bergabung dalam Jaringan dan Badan Kontak ini. Kegiatan Olah Raga misalnya. Apatah lagi bagi masjid yang mempunyai halaman luas. Banyak pula kita lihat dan temui masjid-masjid besar di Batam tidak mempunyai kegiatan Pemuda dan Remaja. Entah apa masaalahnya.

Peranan Dewan Masjid sebagai induk organisasi yang membawahi BKPRMI, nyaris tak terdengar suaranya lagi. Contoh pemuda yang memakai celana dan kaos saat shalat sebagaimana tulisan diatas tadi, ternyata adalah seorang ketua remaja masjid. Diskusi singkat tentang menutup aurat, sangat terkesan baginya dan teman – temannya.

Diskusi singkat bisa dilaksanakan bakda shalat yang tidak memakan waktu lama, bila para pemuda dan remaja telah mempunyai wadah dan kegiatan yang terencana.

Wahai para pengurus masjid, mari kita rangkul mereka, ajak mereka untuk memakmurkan masjid.

Warga Cacat dan Tua Singapura : Tak menghalangi Mereka Beraktifitas


SONY DSC

“Panggil saja kak Isa” ujar perempuan tua itu bersemangat. Kami bertemu di Muhammadiyah Health and Day Care Center (MHCC) . Di teras bangunan yang terletak di di Blok 10 Eunus Crescent #01-2711 Singapura ini , kak Isa mengenalkan dirinya.

Kami melangkah masuk ke dalam ruangan bangunan milik Muhammadiyah itu , terlihat kaki kanannya menyeret bila berjalan.

Di dalam ruangan sudah menunggu belasan orang , ada yang berkursi roda, ada yang memakai tongkat. Memang MHCC , atau kerap dipanggil Jagaan Siang ini didirikan sebagai upaya bersama antara Departemen Kesehatan Singapura dengan Muhammadiyah Singapura , yang menyediakan berbasis komunitas kesehatan, tempat penitipan dan program rehabilitasi untuk penderitaan warga tua , pasca stroke, penyakit Parkinson, pasca amputasi, arthritis dan rematik.

Hanya saja pusat rehabilitasi ini digunakan oleh Muhammadiyah Singapura dari hari senin hingga hari Sabtu saja. Dan hari Ahad tidak ada kegiatan. Nah hari Ahad (2/12) yang lalu, Buletin Jumat (BJ) berkesempatan ke pusat Jagaan Siang bagi warga tua itu.

“Kami diberikan oleh Muhammadiyah memakai gedung ini “ ujar kak Isa lagi. “Tak berbayar, tapi kami bagi sedikit untuk uang api” kata kak Isa sambil berjalan mengenalkan BJ ke jamaah yang hadir.

SONY DSC

Kak Isa lahir 71 tahun yang lalu, dia masih terlihat sehat diusia senjanya. Menurut penderita polio sejak usia dua tahun ratusan anak seusianya menderita polio di Singapura, saat itu, “Belum ada imunisasi polio” kata kak Isa menjelaskan.

Aktifitas masa remaja dilewatkan dengan jalan terpincang- pincang , karena kaki kanannya mengecil dan tak dapat dipergunakan. Sebagai remaja perempuan, tentulah menjadi beban kejiwaan tersendiri,  tetapi tak membuat kak Isa menjadi minder. Bahkan, kak Isa adalah atlet Boling yang mumpuni di Singapura.

Seakan tak mau berhenti kak Isa terus bercerita kepada BJ , bagaimana kisah cintanya dengan seorang pria , meskipun tahu kalau kak Isa cacat, pria itu tetap mencintai kak Isa. Kak Isa pun menikah diusia 29 tahun. Dari hasil perkawinannya kak Isa dikarunia tiga orang anak.

Sambil bercerita, tetamu kak Isa terus saja berdatangan, tiga orang yang memakai tongkat , datang menghampiri kak Isa, terlihat ingin berjabat tangan. Mereka semua tuna netra. Ada perasaan hiba melihatnya , mereka hanya mendengar suara kak Isa saja .

Club yang ditaja oleh kak Isa ini , hanya bertemu sepekan sekali di hari Ahad saja, ada pengajian dan berbagi pengalaman, bersimbang – simbang sesame anggota warga tua . Tetapi ada juga terlihat beberapa orang yang masih muda, tetapi semua cacat.

Pak ustadz yang akan mengisi ceramah belum datang lagi, untuk mengisi waktu, kak Isa menyanyi , sambil menari , kak Isa pun tertawa-tawa melihat BJ memperhatikan kakinya. Kaki kecil karena polio yang kini sudah ditopang dengan besi, dibawa menari tentulah beda.

Kalau di Malaysia , usia diatas 60 tahun dipanggil warga emas. Di Indonesia , KTP mereka seumur hidup. Anggota club kak Isa , bukan lah semua orang – orang jompo yang tak dapat mengurus dirinya sendiri. Di Jagaan Siang itu tidak ada yang tidur atau menetap di gedung MHCC . Mereka kesitu hanya siang hari saja, itu sebab agaknya disebut Jagaan Siang bagi warga senior (tua).

SONY DSC

Di Batam pun kini sudah banyak warga tua, usia diatas 60 tahun. Setelah pensiun misalnya, apa yang akan dikerjakan? Siapa pula yang akan mendengarkan cerita yang berulang – ulang?. Duit pensiunan ada. Kalau ada Taman Kanak-Kanak, agaknya kita perlu pikirkan juga untuk membuat Taman Orang-Orang Tua.

Tengah hari itu BJ pamitan kepada kak Isa, dan tak lupa mengajak anggota club kak Isa untuk datang ke Batam. Bukan main senang kak Isa atas undangan BJ itu. Sampai jumpa lagi di Batam kak Isa. Meskipun cacat dan usia telah tua, tak membuat mereka harus dikasihani.

%d blogger menyukai ini: