Semalam Di Medan


monumen guru patimpus

monumen guru patimpus

Tiga orang teman dari Malaysia yaitu Prof. Zulkifli, DR. Hasyim dan Ustadz Abdul Wahab sengaja datang ke Medan, akhir Mei kemarin. Agenda bertemu dengan Pak Din Syamsudin yang kebetulan akan menghadiri Ta’aruf pimpinan wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara.

“Kalau boleh datang lah” tulis pak Wahab dalam SMS nya kepadaku. Pak Wahab tahu kalau aku berasal dari Medan meskipun kini tinggal di Batam. “Jadi boleh lah bawa kami” tulis pak Wahab lagi berbasa basi.

Malam itu kami menginap di Madani Hotel Medan, hotel ini terletak jalan Sisingamangaraja / Amaliun. Hotel Muslim pertama bintang empat di Medan dibawah manajemen syariah. Hotel yang terletak persis di depan Masjid Raya Al Ma’sum Medan ini mayoritas tamunya berasal dari Negara tetangga Malaysia.

Agaknya kedekatan antara Medan dengan Pulau Pinang Malaysia, hanya sekitar 25 menit dengan penerbangan low cost. Hotel Madani yang syariah dan terletak di tengah pusat kota ini benar-benar menjadi tempat alternative.

Terasa sekali suasa melayu di hotel itu, dari Sisha Lounge mengalunkan irama melayu. Bahkan tukang parkir semua berbicara dalam dialek melayu.

Guru Patimpus.

Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah orang yang dikenal sebagai pendiri Medan Sumatera Utara. Guru Patimpus lahir di Aji Jahe dataran tinggi Karo sekitar abad ke-16. Menikah dengan seorang putri Raja Pulo Brayan dan mempunyai dua anak lelaki. Guru Patimpus adalah pemeluk Agama Islam yang taat.

Setelah menikah, Guru Patimpus dan istrinya membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dengan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan dan tanggal kejadian itu 1 Juli 1590 adalah sebagai hari jadi kota Medan.

Malam itupun kami nikmati penganan yang seleranya tak jauh beda. Mungkin racikan bumbu yang terasa lebih legit. Di Pujasera terletak samping kiri Hotel Madani. Menyajikan aneka makanan nusantara.

Sembari bercerita tentang Medan Jus Martabe yang dipesan telah datang. Martabe adalah istilah yang di populerkan oleh almarhum Gubernur Raja Inal Siregar. Martabe singkatan dari Marsipature hutana be yang berarti Membenahi Kampungnya Sendiri itu menjadi nama minuman campuran buah Markisa dengan Terong Belanda.

Rasa khas campuran kedua buah yang memang khas Medan ini rupanya menjadi minuman kesukaan teman-teman dari Malaysia.

Perut kenyang kami beranjak ke Hotel, terngiang obrolan tentang masjid yang di bongkar paksa oleh oknum TNI . Begitupun Gubernur SUMUT non aktif yang sedang tersandung kasus korupsi, kini terbaring sakit.
Mungkin dulu, tak terpikir oleh Guru Patimpus kota Medan seperti sekarang ini, sehingga tak lah beliau atau juriatnya menyiapkan tanah untuk pemakamannya.

Hinggalah kehari ini tak jelas dimana kubur Guru Patimpus pendiri kota Medan itu. Ada yang mengatakan, kubur Guru Patimpus di Kecamatan Hamparan Perak Deli Serdang dan kubur itu diketemukan pada bulan Juli 2010 yang lalu , jadi setelah 420 tahun berlalu

Iklan

Medan Menangis Masjid Di Bongkar Paksa


Imam dan Khatib Masjid Raya Medan Jumat 3 Juni 2011

Imam dan Khatib Masjid Raya Medan Jumat 3 Juni 2011

Jumat 3 Juni 2011  yang lalu, selepas shalat di Masjid Raya Medan, kami langsung bergegas ke jalan Timor. Kalau dulu jalan Timor bagi masyaraakat Medan terkenal dengan Rumah Sakit Jiwa nya, tetapi dalam dua bulan terakhir ini, jalan Timor acap menjadi sebutan karena Masjid Al Ikhlas yang berada di jalan itu di bongkar paksa.

Imam dan Khatib Masjid Raya Medan Jumat 3 Juni 2011

Jamaah tetap melaksanakan shalat Jumat di bekas reruntuhan masjid Al Ikhlas

“Ini adalah Shalat Jumat yang kelima kami laksanakan, setelah masjid di bongkar” ujar pak Ujang pedagang buah yang masih berada disitu saat kami datang. Seorang ibu yang juga berjualan buah-buahan persis di depan pagar lokasi masjid Al Ikhlas yang dibongkar paksa itu menjelaskan kalau prosesi shalat itu dilaksanakan di tengah jalan. “khatib dan Imamnya di jalan itu” kata sang ibu pedagang buah tadi. Sembari menunjukkan posisi berdirinya Khatib.

“Tak sebanyak jumat lalu, mungkin karena kantor pada tutup.” sambung pak Ujang lagi. Karena hari Jumat (3/6) kebetulan adalah hari libur bersama.

Intimidasi

Masjid Al Ikhlas, Medan, memang telah dihancurkan oleh aparat TNI dari Kodam I Bukit Barisan. Namun, intimidasi yang dialami oleh para pembela Masjid Al Ikhlas serta Jamaah Masjid tersebut ternyata belum berhenti.

Ancaman-ancaman melalui telepon juga dialami oleh fungsionaris FUI Medan.  Pada hari ini, Jumat 10 Juni 2011, Jamaah Masjid Al Ikhlas kembali mendapat intimidasi dan hambatan dari pihak yang tak bertanggung jawab. Yakni dengan disebarkannya kotoran manusia, lembu, bangkai tikus, serta telur busuk tepat di Jalan Timor beberapa saat sebelum Sholat Jumat dilaksanakan.

”Kita yakin bahwa ini hanyalah bentuk intimidasi dan provokasi agar kita semakin marah dan berbuat anarkis,” kata Ustadz Indra Suheri. ”Namun, kita tidak akan melakukan hal tersebut. Sebab, kita komit bahwa perjuangan kita tetap di jalur hukum.”

Kotoran lembu, bangkai tikus, dan telur busuk dibiarkan sampai perwakilan ormas Islam hadir. Mereka memberi kesempatan kepada wartawan untuk mengambil gambar untuk bukti dokumentasi. Mereka kemudian membuang serta membersihkan kotoran dan bangkai tersebut.

Pelaksanaan shalat Jumat tetap berjalan lancar dengan Ustadz Musa Abdul Ghani, Ketua Hizbut Tahrir Sumatera Utara, sebagai khatibnya.

Jumat Ketujuh

masjid al ikhlas sebelum di bongkar

masjid al ikhlas sebelum di bongkar

Masih terbayang tempat Imam dan Khatib yang di lumurin kotoran, karena sebagian besar kotoran itu disebarkan di tempat biasanya Imam dan Khatib berada.

Hari ini Jumat (17/6) berarti adalah prosesi shalat jumat yang ketujuh mereka mengadakan shalat jumat berjamaah di jalan bekas reruntuhan masjid Al Ikhlas itu.

Meskipun Wakil asisten intel Kodam I BB, Letkol Hendrawan, sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya tidak tahu-menahu dengan tindakan pembuangan kotoran di Jalan Timor itu. “Untuk apa? Kami anggap soal Masjid Al-Ikhlas itu sudah selesai,” kata Hendrawan.

Hendrawan sebaliknya menilai tindakan jamaah yang melakukan shalat Jumat di lokasi bekas Masji Al Iklhas itu tidak tepat. Karena, menurut Hendrawan, sekitar 150 meter dari lokasi runtuhan Masjid Al Ikhlas itu ada masjid yang bisa digunakan untuk shalat jamaah. Masjid itu dibangun oleh pihak Kodam-I Bukit Barisan.

“Menurut yang kami ketahui dari kaum ulama, kalau tidak ada hal yang mendesak, itu tidak boleh shalat Jumat di tempat terbuka seperi itu,” katanya.

Masjid Nurul Hidayah

Informasi yang diperoleh sebagaimana isi khotbah Jumat di Masjid Raya Medan pada 3 Juni 2011 yang sempat kami hadiri, karena kebetulan kami berada di Medan, selama tahun 2010 hingga ke akhir Mei 2011 tak satu pun Masjid yang berdiri di Medan, sementara masjid yang di bongkar untuk perumahan mewah,  perkantoran  dan pusat bisnis yang tercatat 3 buah, termasuklah masjid Al Ikhlas di Jalan Timor.  Sementara pada priode yang sama hampir 50 buah rumah ibadah  non muslim berdiri di Medan

Satu lagi Masjid yang menanti “akan di bongkar”  adalah masjid Nurul Hidayah yang terletak di jalan Pancing Medan. Masjid ini tak jauh letaknya dari Gedung Serba Guna Medan yang sedang di kerjakan. Dan masih diseputaran Universitas Medan (UNIMED).

Di depan halaman masjid Nurul Hidayah itu terbentang sepanduk minta dukungan, puluhan hektar tanah bekas perkebunan tembakau Deli yang terkenal itu telah di bebaskan. Jadilah masjid  yang di tunggui beberapa orang mahasiswa yang tergabung dalam HMI itu terlihat terpencil di tengah lapangan luas.

Makam Tengku Amir Hamzah di Langkat


TUHANKU APATAH KEKAL?

Tuhanku , suka dan ria
gelak dan senyum
tepuk dan tari
semuanya lenyap, silam sekali.

Gelak bertukar duka
suka bersalinkan ratap
kasih beralih cinta
cinta membawa wangsangka…

Junjunganku apatah kekal
apatah tetap
apakah tak bersalin rupa
apatah baka sepanjang masa…

Bunga layu disinari matahari
makhluk berangkat menepati janji
hijau langit bertukar mendung
gelombang reda di tepi pantai.

Selangkan gagak beralih warna
semerbak cempaka sekali hilang
apatah lagi laguan kasih
hilang semata tiada ketara…

Tuhanku apatah kekal?

Sepenggal sajak karya pujangga Tengku Amir Hamzah, dari kumpulan sajak Buah Rindu.

Awal bulan Juni 2011 yang baru lalu berkesempatan mengunjungi Langkat Tanjung Pura. Mampir di Masjid Azizi yang cukup indah itu. Masih sempat ikut shalat Juhur disitu.

Berangkat dari Medan sekitar pukul 9 pagi, berdua dengan Irwan berkenderaaan melalui jalan perkebunan Kebun Lada Kabupaten Langkat. Kami lalui Kuala Begumit tempat wafatnya Tengku Amir Hamzah. Tengku Amir Hamzah, tidak hanya diakui menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang.

Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang.

Tengku Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatera bagian timur di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Tengku Amir Hamzah dimakamkan di pemakaman Masjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.

Makam Bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) ini terawat dengan baik. Di batu nisannya tertulis

Biarlah daku tinggal disini.
Sentosa diriku di sunji sepi.
Tiada berharap tiada berminta.
Djauh dunia disisi dewa.


Masjid Azizi Tanjung Pura Langkat

Selalu bila ke Medan, sengaja mestilah aku harus mampirkan ke masjdi Azizi di Langkat Tanjung Pura yang megah itu untuk shalat, dan ziarah ke makam yang ada di lingkungan masjid.

Dari Medan ke Tanjung Pura sekitar 2 jam perjalanan, biasanya dari Langkat perjalanan kulanjutkan ke Besilam (Babussalam), sekitar 4 kilometer jauhnya, disitu terdapat tempat Tarekat yang cukup terkenal di Nusantara, Tarekat Naqsabandiyah namanya. Tuan Guru Syehk Abdul Wahab Rokan adalah pendirinya. Yang juga di panggil Tuan Guru Besilam.

Bagiku selain silaturrahim ke yang masih hidup, aku juga acap mengunjungi pusara ayahanda tercinta, yang dimakamkan sejak tahun 1959 yang lalu, di kompleks pemakaman Tuan Guru Besilam itu.

%d blogger menyukai ini: