Sekelumit Kisah Yusuf Pelaut Muslim Asal Indonesia di Vietnam


SONY DSC
Hampir setahun bekerja di kapal cargo bendera Malaysia, Yusuf namanya, pria 24 tahun asal Bogor Indonesia ini menjabat sebagai 2nd Chief Enginer di kapal kapasitas 2.000 ton yang mengangkut beras dari Vietnam ke Malaysia. ( https://www.facebook.com/silobakj )

“Selama ini saya kalau Jum’atan ke Cou Doc, sekitar 2 jam naik speda motor sewa dari tempat kapal bersandar ” ujar Yusuf . “Khotbahnya pakai tiga bahasa, melayu, kamboja dan vietnam”.tambah Yusuf lagi.

Cou Doc adalah satu kota terbanyak populasi muslimnya di seluruh Vietnam negeri Komunis yang beribukota di utara Ha Noi, tetapi kota terbesar dan terbanyak jumlah penduduk ada di selatan yaitu Ho Chi Min (dulu Saigon).
SONY DSC
Cou Doc masuk dalam provinsi An Giang, provinsi kedua terbesar setelah Ho Chi Min. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Phom Penh Kamboja, bahasa di kedua negeri itu nyaris sama, mereka menggunakan bahasa Champa.

Petang kemarin Jumat (26/4) Yusuf kembali mengunjungi Masjid Salamad di An Giang, menjelang magrib Yusuf baru bisa turun dari kapalnya. “Jadi tidak jum’atan Ki” kata Yusuf. ” saat kutanya pakai bahasa apa dan siapa khatib shalat jum’at di Masjid Salamad itu.

Yusuf yang memanggilku Aki ini baru tahu kalau dari tempat kapalnya bersandar, ada sebuah masjid melalui blog pribadiku https://imbalo.wordpress.com/2012/10/02/masjid-kecil-di-an-giang-vietnam/ Jutaan penduduk kota itu, tak sampai sepuluh keluarga orang muslimnya, dan hanya Masjid Salamad yang mau rubuh itu saja ada rumah ibadah bagi orang Islam disana.
SONY DSC
Tiga tahun belakangan ini pemerintah komunis Vietnam telah membuka diri, terutama terhadap kegiatan islam, seperti jamaah haji misalnya, mereka sudah bisa mengirimkan sendiri langsung dari vietnam , selama ini melalui Thailand atau Malaysia.

Pelajar yang mau belajar Islam dulu tidak diizinkan, kalau mau juga dengan diam diam dan harus menukarkan kewarganegaraannya dengan warga negara Kamboja, kini mahasiswanya telah direstui dan diizinkan menggunakan pasport Vietnam.

Imam masjid Salamad bernama Sholeh, saat kami kunjungi tahun 2012 lalu bersama rekan dari Yayasan Amal Malaysia ( https://www.facebook.com/yayasanamal.malaysia?fref=ts ), mereka sekeluarga belajar Islam melalui internet, menitik air mata saat beliau membaca surat Fatiha, dalam shalat magrib berjamaah yang diimaminya, terdengar tidak sebagaimana lazimnya kita membaca.
Lokasi tanah bangunan masjid itupun kini diincar oleh investor.

” Kaca sebelah selatan masjid sudah pecah Ki” ucap Yusuf kepadaku melalui whatsapp.

Dan Yusuf pun mengirimkan gambar masjid yang sudah tambah reot itu, ibah hati melihatnya.
Kukatakan kepada Yusuf disela sela kesibukannya , agar bisa meluangkan waktunya mengunjungi keluarga Imam Sholeh untuk mengajarkan Quran kepada mereka.

Dua anak pak Sholeh dari 4 bersaudara sudah menikah, nyaris tak bisa membaca al-Quran. Cucu-cucu nya pun sudah mulai masuk usia sekolah.

“Insyaallah Ki” kata Yusuf terkadang kami ngobrol dengan bahasa sunda, rupanya Yusufpun sudah rindu pulang ke kampung halamannya………..

Moga-moga ada pelaut pelaut lain seperti Yusuf yang membaca postingan ini mampir ke sana ke masjid Salamad.Dan ada pula para aghniya yang berkenan membantu untuk merenovasi masjid yang sudah reot itu….????
Kang Arief Darmawan (https://www.facebook.com/arief.darmawan.693?fref=ts) ,tadinya kami sangat berharap satu dari putra Imam Sholeh ini dapat belajar di Mahad Said bin Zaid Batam tapi bagaimana lagi kondisinya seperti itu.

Sriotide Marbun, (https://www.facebook.com/sriotide.marbun?fref=ts) bantu bang melalui Konjen RI di Saigon, kalau dari Ha Noi kejauan…

Iklan

Terminal Cargo di Bandara Hang Nadim (Terjebak)


10006450_823480627666010_2008526118_nPINTU tempat mengambil karcis masuk ke terminal Bandara Hang Nadim Batam, dipindah, semula satu tempat, kini menjadi dua. Yang satu di letakan di jalan masuk tempat pengiriman dan pengambilan barang (cargo).

Rp. 2.500,- / orang sekali masuk, ke terminal pengiriman dan pengambian barang itu, yang dihitung orang nya,” ya… paling yang kami ambil dua orang saja, paling banyak, walaupun dalam mobil ada 4 atau 6 orang, gak sampai hati lebih dari rp. 5.000,-” ujar petugas jaga di gate masuk lapangan parkir termina cargo itu.

Padahal jelas di papan tanda, tertu lis per-orang Rp. 2.500,- kenapa?. Tak tau juga, sambil tersenyum petugas itu pun menjelaskan bahwa sejak tahun lalu, tak jauh dari gate mereka, PT Persero Batam ada juga kutipan uang parkir dari perusahaan lain yaitu “ADHIL PARKING” nama nya yang kini mengelola perparkiran pelataran lapangan terminal Bandara Hang Nadim Batam itu.

1972304_823481550999251_941700310_nJarak gate Adhil Parking dengan gate PT Persero Batam hanya sekitar 25 meter saja.
Kalau parkir Adhil Parking ini pulak enggak penting berapa isi kenderaan anda, pokoknya kenderaan roda empat sekali masuk rp.3.000,-

1966857_823481717665901_1678496540_nEntah karena petunjuk tanda masuk terminal cargo ini tak jelas, sudah kabur tulisannya, agak mungkin sejak ada Bandara Hang Nadim belum pernah di cat ulang, banyak kenderaan terjebak masuk setelah berbelok dan mengambil karcis di gate pertama milik Adhil Parking, terpaksa berpatah balik setelah sampai di gate kedua milik PT Persero itu. Ada apa? Rupanya mereka tak tahu kalau dari terminal 1011039_823481204332619_2126405196_ncargo tidak ada akses jalan ke terminal kedatangan maupun terminal keberangkatan.

Mau keluar? bayar dulu rp.3000,- di gate Adhil Parking, padahal hanya berputar sekitar 25 meter saja.
Berbelok ke kiri ada gate Adhil Parking lagi, masuk lagi bayar lagi. Kalau awalnya dari terminal Cargo dengan tiket yang diambil digate awal bisa masuk kembali dengan jalan lain berputar ke terminal kedatangan atau keberangkatan sekarang tidak lagi. Buatlah tanda lebih jelas.

Sungguh Adhil Parking ini tak adil. Merugikan konsumen (***)

%d blogger menyukai ini: