White Channel TV Muslim di Thailand


WhitFotoe Channel adalah nama sebuah stasiun televisi di Bangkok.  Akhir Januari 2013 yang lalu, Buletin Jumat (BJ) berkesempatan mengunjungi stasiun televisi yang cukup banyak pemirsanya itu, tentulah dari kalangan Islam.

Hampir semua rumah, dari komunitas Islam yang ada di Thailand, dan yang pernah kami kunjungi dan temui, pernah melihat acara televisi tanpa musik ini. Seperti pengakuan seorang ibu rumah , yang tinggal di Pattaya Bangkok Thailand. “Saya paling suka tengok acara waicenet” ujar ibu Sarannyu. Sarannyu, adalah pelajar Thailand yang menuntut Ilmu di Batam. Senang sekali terlihat ibu Sarannyu, ikut bersama kami mengunjungi stasiun televisi Dakwah itu.

Sewaktu kami masuk ruang lantai dasar tempat menerima tamu, terlihat hanya ada seorang wanita. Shaik Ridha adalah nama pemilik dan pengelola tv yang terletak di Jalan Ban Kapi, lokasinya persis ditengah jantung kota Bangkok. Shaik Ridha menerima rombongan kami diruang kerjanya dilantai tiga. Saat itu, tv White Channel sedang menyiarkan ceramah agama, disampaikan oleh ustad DR Ismail Lutfi Chapakia, Rektor universitas Yala Thailand.

Di Thailand, tv Islam seperti White Channel, ada empat station. Padahal negeri Gajah Putih itu mayoritas penduduknya beragama Budha. Kesulitan mendapatkan izin frequensi, mereka atasi dengan menggunakan streaming. Jadilah siaran tv Dakwah ini, dapat diakses diseluruh wilayah Thailand , bahkan diseluruh Dunia.

Hampir nyaris rasanya saat ini, hal itu terlaksana di Indonesia, yang mayoritas penduduknya muslim. Bahkan Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini, kalah jauh dalam bidang per-televisian bila dibanding Vietnam sekalipun. Kalau benar info yang kami dapat, dari sepuluh Negara yang tergabung dalam Asean, Indonesia, adalah Negara terbawah dalam bidang pelayanan umum, yang menyangkut fasilitas telekomunikasi, seperti kebutuhan akan bandwidth misalnya. Dalam pengembangan media Isam, terutama media elektronika seperti televisi, di Batam, khususnya daerah perbatasan , hal yang mustahil rasanya mendapatkan izin fequensi, karena memang jumlah yang terbatas. Disamping itu Indonesia, masih diatur dan sangat tergantung dengan Malay sia, apalagi Singapura.

Meskipun sudah memungkinkan dan ada regulasi untuk tv digital, adanya  pembagian channel – channel yang lebih banyak lagi. Investasi untuk itu terlalu besar, Nyaris pula investor hendak menanamkan modalnya ditempat yang hanya sedikit pemirsanya.

Yang memungkinkan adalah dengan Streaming, sebagaimana yang dilakukan oleh TV White Channel dan TV Islam lainnya yang ada di Thailand. Namun kendala adalah, radio ataupun televisi streaming ini, sangat tergantung dengan fasilitas dan kwalitas bandwidth yang ada, Negara kita, Indonesia ini, masih sangat jauh dari yang diharapkan.
Kalau dari segi sumber daya manusia, memang kita tidak kalah dengan mereka. Namun demikian, untuk bertukar pengalaman dan pengembangan sumber daya manusia. “White Channel memberi kan kesempatan kepada pelajar yang hendak Prektek Kerja Lapangan (PKL), maupun pelatihan yang menyangkut konten siaran” ujar Shaik Ridha, sembari mempersilahkan rombongan kami makan, bersama dengan tamu tamu yang tak henti henti nya datang ke studio TV, yang banyak menggalang dana untuk pengungsi Rohingya itu. Tengah hari itupun bersama lebih 50an orang crew TV White Channel kami shalat Juhur berjamaah, dan Shaik Ridha sebagai Imamnya.

BJ juga, melalui media elektronik nya seperti radio, dan terutama televisinya, yang tergabung dalam Hang Tuah Group, kini sedang mengembangkan siaran dengan Streaming. Seperti di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Islam Hang Tuah Batam, mungkin satu-satunya sekolah SMK yang mempunyai studio radio dan televisi milik sendiri. Para pelajar beserta staf pengajarlah, yang mengelola siaran berbasis streaming ini. Tidak tertutup kemungkinan mereka pun akan berkunjung kesana.

Disana sebagaimana yang direncanakan, mereka para pelajar itu akan dilatih membuat konten siaran, dan mempelajari bagaimana cara kerja Streaming, dan yang utama kerja sama dalam bidang siaran antar dua negara.

Di Batam banyak pelajar asal Thailand, beberapa diantara mereka fasih dan lancar berbicara dan menulis dalam empat bahasa, seperti Sarannyu yang menemani dan menjadi penterjemah kami sewaktu berkunjung ke TV White Channel itu misalnya, pemuda kelahiran Pattaya Thailand 19 tahun itu, lancar berbahasa Inggris, Arab, Indonesia, dan sudah pasti bahasa Thailand.

Menjelang petang, kami tinggalkan studi tv White Channel itu , setelah hampir semua ruangan gedung berlantai empat itu, baik ruang siaran dan produksi kami kunjungi. (*)

Iklan

Peristiwa Berdarah Tak Bai Thailand Delapan Tahun Lalu


Peristiwa Berdarah Tak Bai


Tak Bai adalah nama salah satu tempat di Provinsi Narathiwat Thailand Selatan. Sama dengan Provinsi Yala, Patani dan juga Songkla, daerah ini dulu adalah kerajaan Islam Patani, sebelum di obok-obok oleh Inggris.

Patani termasuk kerajaan Islam terkemuka di Nusantara, sebagian daerah takluknya dibagi pula oleh Inggris kepada Malaysia. Hinggalah kerajaan Islam yang cukup termasyhur itu hilang dari muka bumi. Hingga sekarang rakyat Patani, tetap menuntut kemerdekaan, lebih seratus tahun mereka menuntut haknya kembali, sudah puluhan ribu nyawa terkorban untuk hal itu.

Sekatan kawat berduri seperti ini, mewarnai sepajang jalan di empat Wilayah kompli selatan Thailand

Sekatan kawat berduri seperti ini, mewarnai sepajang jalan di empat Wilayah kompli selatan Thailand

Empat daerah yang dianeksasi oleh Kerajaan Siam yang mayoritas Budha, hingga kehari ini terus bergolak. Empat daerah konflik ini pula mayoritas penduduknya beragama Islam dan berbahasa melayu. Dari segi agama, bahasa, tulisan dan adat istiadat, sungguh sangat jauh berbeda. Pemaksaan tidak secara langsung itulah yang kerap dan acap terjadi.

Tak Bai Narathiwat Thailand, daerah ini berbatasan langsung dengan Kelantan Malaysia, budaya dan bahasanya sama, karena mereka memang dulunya bersaudara, hanya sungai golok yang tak seberapa lebar itu saja yang memisahkan kedua Daerah dan Negara ini.

Delapan tahun yang lalu tepat nya 24 Oktober 2004 terjadi suatu peristiwa yang sangat menyayat hati. Umat Islam yang saat itu sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, dibantai dengan bengis dan sadis oleh tentara Siam Thailand. Tak Bai yang terletak di pinggir salah satu pantai itu dipenuhi genangan darah dan tumpukan mayat.

Tentara Siam siaga 24 jam sepanjang tahun di jalan - jalan

Tentara Siam siaga 24 jam sepanjang tahun di jalan – jalan

Mayat yang mati lemas karena ditumpuk bertindih tindih , dan dilemparkan begitu saja ke dalam truck, menurut laporan resmi pemerintah Thailand sekitar 85 orang yang mati saat itu. Tetapi orang kampong bilang jauh lebih banyak dari pada itu.

Tak Bai delapan tahun yang lalu disaat itu bulan Ramadhan, ditengah panas terik mereka dijejerkan dan dibaringkan di pinggir pantai di jalan dan pasir yang panas, diseret dan dilemparkan kedalam truck untuk dijebloskan ke tahanan. Hampir ribuan jumlahnya.

Oktober 2012 yang lalu Buletin Jumat (BJ) berkesempatan mengunjungi Tak Bai, dari Hadyai menuju Narathiwat , mampir beberapa jam di Patani. Sekatan jalan raya dari tumpukan pasir dan gulungan kawat berduri, nyaris terlihat disemua persimpangan. Disamping dipersimpangan jalan, jarak-jarak beberapa kilometer tentara Siam dengan senjata laras panjang terhunus, memeriksa semua kenderaan yang lalu llang dan memeriksa seluruh penumpangnya tanpa terkecuali.

Apalagi menjelang tanggal 24 Oktober 2012 itu, penjagaan semakin diperketat. Memasuki daerah Tak Bai, sepeda motor yang masuk keluar daerah itupun di periksa. Minibus yang ditumpangi BJ, hampir semuanya adalah penduduk Tak Bai yang sedang merayakan Idul Adha 1433 H di sana. Terlihat setiap ada pemeriksaan tentara yang berlebihan, contohnya pasangan yang duduk disamping BJ menarik nafas panjang.

Begitulah kondisi Tak Bai saat BJ kesana, setelah delapan tahun kasus berdarah yang tak pernah dapat perhatian Dunia ini, seakan terlupakan begitu saja, tetapi terlihat pemerintah Siam malah semakin takut dan meningkatkan pengamanan dengan menambah tentara dan sekatan jalan raya dimana-mana, dan tetap juga bom-bom meletup dimana-mana di daerah 4 komplik itu.

Entah sampai bila hal ini berakhir, sudah seratus tahun lamanya. Tak Bai masih seperti dulu, tak ada bangunan yang berubah, Jalan raya yang menghubungkan Patani – Narathiwat , kini dapat di tempu hamper 3 jam itu memang terlihat mulus, dua jalur. Dibangun oleh Kerajaan Siam, tetapi puluhan pos keamanan dengan bentangan kawat berduri dan tumpukan pasir dengan tentara yang terus 24 jam berjaga dengan senapang terhunus, masih juga menjadi pandangan yang dominan bagi para pendatang.

Sekatan di tengah pekan (bandar) empat wilayah komplik , biasanya tentara ini siaga di tempat-tampat fasiltas kerajaan dan toko warga non muslim

Sekatan di tengah pekan (bandar) empat wilayah komplik , biasanya tentara ini siaga di tempat-tampat fasiltas kerajaan dan toko warga non muslim

Peristiwa Tak Bai di Narathiwat Thailand, pembunuhan terhadap umat Islam oleh tentara Siam Budha yang kita tahu untuk merengut nyawa serangga saja mereka tidak lakukan, Tetapi mengapa begitu sadisnya mereka menembaki dan membunuh dan mencabut nyawa manusia.

Tak jauh beda umat Budha di Thailand dan umat Budha di Myanmar Burma sana, mengapa mereka begitu bencinya terhadap sesame manusia, yang kebetulan beragama Islam.

Ya Allah tolonglah Saudara kami yang terzolimi di sana……………

Merentasi Hutan Belantara Bumi Burma, Qurban 1433 H


Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H

Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H


Pagi itu Jumat (26/10), dicheck point keberangkatan Imigrasi di Ra Nong Thailand penuh sesak, antrian mengular panjang sampai ketempat penjualan ikan. Buletin Jumat salah seorang yang ikut antri dalam barisan itu.

Di Thailand pelaksanaan Idul Adha 1433 H, adalah sama dengan di Arab Saudi, yaitu hari Jumat 26 Oktober 2012, sementara di Myanmar , sebagaimana kita maklumi, pemerintahnya melarang kegiatan yang berbau pemotongan hewan sapi/lembu itu. Kita juga tahu sebagian besar pemeluk agama di negeri para biksu itu menganggap suci sapi/lembu. Tragedi pembantaian Muslim minoritas Rohingya di Arakan, berdampak juga sampai ke Rangon, bahkan hampir seluruh wilayah Myanmar (Burma).

Menurut KBRI di Rangon, mereka tetap shalat idul adha dan pemotongan hewan qurban hari Jumat. Namun di tempat lain terutama di kota-kota, umat Islam melaksanakan shalat hari Sabtu (27/10). Staff KBRI ini juga menyarankan kepadaku kalau hendak ke Myanmar, harus applay izin dulu ke Jakarta. “Kalau langsung datang (VOA), nanti bikin repot, kami harus datang ke Imigrasi” ujar staff perempuan yang kuhubungi melalu telpon selular, apakah sudah bisa masuk ke Rakhine.

Selat Andaman

Selat Andaman

Selesai saja pasport dicop, aku bekejar ke boat yang telah menunggu di dermaga.Sengaja kami charter boat seharga 200 baht. Boat melaju ke ke pos pertama 50 bath lagi harus dibayar ke petugas imigrasi dan bea cukai yang ada di satu pulau yang masih wilayah Ra Nong Thailand.

Dari pos pertama tadi ada satu pulau lagi yang harus disinggahi, pulau paling ujung, setelah itu kita akan kelaut bebas,Laut Andaman. Di pos ini hanya dari jauh kita tunjukkan buku paspor masing-masing penumpang. Di pos itu beberapa petugas yang memakai baju loreng hijau seragam lengkap dengan senjata laras panjang yang tersandang di bahu.

Hampir 30an menit melalui selat Andaman, kita akan tiba di satu pulau pula, pulau ini sudah masuk wilayah Burma, semua barang bawaan diperiksa oleh petugas. Barulah kita akan merapat ke dermaga khusus boat yang tidak jauh dari kantor imigrasi di kota Kok Song Myanmar.

Sama dengan di Ra Nong Thailand, di check pont imigrasi Kok Song Myanmar ini pun penuh sesak. Tiba giliranku bertatap dengan petugas imigrasi, petugas itu membolak balik buku paspor milikku, seakan tak percaya ada paspor hijau milik orang Indonesia , mau datang ke Kok Song. Agak tersenyum petugas itu, melihat stempel imigrasi Myanmar yang sudah beberapa kali tertera di pasporku. “Ten Dollar” ujarnya. Tak tok tak, tertera masuk tanggal 26 keluar tanggal 8 Nopember 2012.

Di Kota Kok Song atau dalam bahasa melayu berarti Pulau Dua, tidak terlihat suasana Idul Adha, kalau pun ada, banyaknya orang lalu lalang di pintu masuk tadi, dari cara berpakaian menunjukkan kalau mereka Islam. Di Kok Song ada beberapa masjid, pun tak terlihat suasana pemotongan hewan.

Nun jauh di pelosok hutan, di teluk – teluk sepanjang pantai laut Andaman, banyak bermukim komunitas muslim yang sudah ratusan tahun menetap disana. Jauh sebelum negara Myanmar terbentuk. Komunitas ini sebagian berasal dari Langkawi, seorang dari mereka bernama Tengku Yusuf.
“Sejak tok – tok kami sudah tinggal disini” ujar nya menerangkan tentang keberadaan mereka disalah satu teluk indah, daerah penghasil emas dulunya.

Tidak ada akses jalan darat ke pemukiman – pemukiman itu, semua ditempuh melalui perjalanan laut. Kalau tetap ingin memaksanakan jalan darat harus ditempuh dengan masuk hutan keluar hutan, dan berjalan diatas aliran sungai yang kering berbatu-batu kiloan meter jauhnya. Dari satu teluk ke teluk lainya bisa empat jam perjalanan dengan sepeda motor, bukan hanya hutan saja dilalui, tetapi naik bukit dan turun bukit yang berbatu-batu cadas.

Di pemukiman itu banyak penduduk usia diatas 60 tahun yang dapat dan menulis huruf jawi (arab melayu),dan tentunya berbahasa melayu.”Sejak 20 tahun terakhir ini, banyak pula orang macam Ali ini kat sini” kata Tengku Yusuf menerangkan sembari memperkenalkan Ali. Ali pemuda 30 an itu ikut membantu memotong hewan Qurban, kulit Ali rada hitam hidungnya mancung, giginya terlihat agak kemerah merahan, karena mereka disana suka makan sirih.

“Kami Shalatnya (maksudnya Idul Adha) tadi” ujar Tengku Yusuf lagi. “Karena kemarin (Kamis) wukuf di Arafah” ujarnya lagi. Tengku Yusuf terus bercerita tentang masa lalu sambil rebahan di lantai masjid kecil yang baru saja selesai dibangun mereka. Badannya terlihat lemah, senang sekali kelihatan dia dengan kedatanganku. Banyak yang diceritakannya kepadaku, yang tak mungkin kutulis satu persatu di media ini. Banyak yang diharapkannya dan penduduk kampung itu,tak terkecuali tragedi Arakan yang menyayat hati. Tengku Yusuf pun sama tak berharap terus membayar upeti dari hasil jerih payah mereka, kepada pemerintah yang tak pernah memperhatikan kehidupan sosial mereka.

Bukan kehendak mereka seperti itu, jauh sebelum perang dunia meletus mereka adalah bangsa yang berdaulat. Tidak disekat-sekat batas negara nisbi, dan ambisi segelintir manusia. Jauh sebelum pemerintah Junta memerintah mereka adalah manusia yang bertamadun. Jauh sebelum traktat London diterapkan.

Hari menjelang petang, aku masih terpikir dan teringat perjalanan masih jauh, akan 4 jam lagi melalui hutan semak belukar dan bebatuan air sungai yang mengering sebatas mata kaki, untuk pulang. Tiga kali terguling-guling dan terjerembab dari boncengan sepeda motor saat menuruni bukit bebatuan,sewaktu datang ke kampung itu tadi, bukanlah hal yang pernah kubayangkan sebelumnya. Seakan Tengku Yusuf membaca pikiranku, mengajakku untuk bermalam di kampung itu saja, kahawatir hari telah gelap.

Masih banyak yang akan di kerjakan esok harinya,ditempat lain pula, kami putuskan berangkat pulang, petang hari itu juga, nun jauh disana terlihat indah ciptaan Allah, di ujung pepohonan puncak bebukitan laut Andaman, hari ke 12 bulan Zulhijjah 1433 H, bulan purnama mulai mengambang, menerangi perjalanan kami, merentasi hutan belantara, bumi Burma.

Sampai jumpa lagi, ilal liqok. Semoga Allah membebaskan penderitaan saudara kami yang ada disana.

Komunitas Buddha Indonesia Minta Kasus Rohingya Dijauhkan Dari Unsur Agama


Budha di Indonesia ini masih juga bilang kalau itu bukan persoalan Agama, penindasan terhadap Islam bukan hanya terjadi di Rakhine saja, Ayo ketua Budha Indonesia anda kubawa keliling Myanmar untuk melihatnya.

Budha di Indonesia ini masih juga bilang kalau itu bukan persoalan Agama, penindasan terhadap Islam bukan hanya terjadi di Rakhine saja, Ayo ketua Budha Indonesia anda kubawa keliling Myanmar untuk melihatnya.


Konflik sektarian yang melibatkan Muslim Rohingya pecah di Myanmar. Komunitas pemeluk Buddha di Indonesia pun meminta agar kasus tersebut dijauhkan dari unsur agama.

“Secara khusus kami mendesak agar yang pertama, ketegangan yang terjadi segera dipulihkan dan dijauhkan dari unsur agama,” ujar pemuka agama Buddha, Bikkhu Dhammakaro Thera.

Hal itu disampaikan di Kantor Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI), Plaza Center, Jl Jenderal Sudirman Kav 47, Jakarta, Selasa (7/8) seperti dilansir detikcom.

Bikkhu Dhammakaro juga meminta pemerintah Myanmar segera memberikan status kewarganegaraan Myanmar secara penuh kepada komunitas Muslim Rohingya. Sebab Muslim Rohingya telah menetap selama puluhan bahkan ratusan tahun di negara Myanmar. Karena itu mereka berhak atas status kewarganegaraan yang sama dengan mayoritas warga Myanmar lain.

“Meminta pemerintah Myanmar memberi kemudahan kepada lembaga-lembaga bantuan dari luar Myanmar untuk memberikan bantuan kepada seluruh korban konflik tanpa memandang latar belakang agama,” harapnya.

Bikkhu Dhammakaro juga meminta pemerintah Myanmar aktif mempertemukan pemuka-pemuka agama untuk mempererat jalinan kerja sama, dalam menciptakan perdamaian. Myanmar pun diharap memenuhi permintaan itu dengan mempertimbangkan posisinya sebagai bagian dari komunitas ASEAN.

Zainal, pengurus Center of Asian Studies (Cenas) yang hadir dalam acara tersebut mengatakan wajar komunitas Buddha di Indonesia memperhatikan apa yang dialami Muslim Rohingya. Sebab hubungan Buddhis dan Muslim di Indonesia sangat harmonis.

“Selama ini menerapkan multikulturalisme dalam demokrasi di Indonesia khususnya dan Asia pada umumnya, lebih concern lagi di Asia Tenggara. Kami juga mengadakan riset yang diatuangkan dalma buku berjudul ‘Berpeluh Berselaras mengenai Harmonisasi Komunitas Buddhis-Muslim’,” paparnya.

Jo Priastana, cendekiawan Buddha yang juga hadir pun sepakat apa yang terjadi di Myanmar bukanlah persoalan agama. “Kasus kebijakan pemerintah dalam menangani problem sosial ekonomi dan sosial demografi,” terangnya.

Hal yang sama disampailan dr Dharma K Widya dari Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi). Disampaikannya, segala usaha kemanusiaan pasti akan didukung.

“Kita sebagai manusia mendukung semua upaya apapun demi mengurangi penderitaan sesama makhluk,” ucapnya.

Acara itu juga dihadiri Bikhu Jayamedho dari KASI, dr Metasari dari Wanita Theravada Indonesia (Wandani), Gunandana dari Majelis Tridharma Indonesia. Tanagus Dharmawan dari Pemuda Theravada Indonesia (Patria), dan Romo Sumedo dari Forum Dharmaduta DKI.

Kekerasan sektarian yang berlangsung di negara bagian Rakhine, Myanmar barat antara warga Buddha Rakhine dan muslim Rohingya telah menewaskan sekitar 80 orang sejak Juni lalu. Bahkan tiga orang tewas dalam kerusuhan yang kembali terjadi pada Minggu, 5 Agustus lalu.

Kekerasan itu dilaporkan dipicu oleh peristiwa pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita Buddha, yang berlanjut dengan pembunuhan 10 orang muslim Rohingya oleh massa Buddha yang marah.

Organisasi Kerjasama Islam (OKI) telah mengusulkan untuk mengirimkan misi OKI guna menyelidiki pembantaian muslim Rohingya tersebut.

Selama ini pemerintah Myanmar menganggap warga Rohingya yang tinggal di negeri itu sebagai warga asing. Sementara kebanyakan publik Myanmar menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh dan memusuhi mereka.

Diperkirakan saat ini sekitar 800 ribu orang Rohingya tinggal di Myanmar. Selama beberapa dekade terus mengalami diskriminasi pemerintah Myanmar, warga Rohingya tidak memiliki kewarganegaraan. PBB pun menyebut mereka sebagai salah satu minoritas paling teraniaya di dunia.

Harga Kursi Wakil Rakyat Republik Indonesia


kerusi anggota banggar dpr yang akan datang...........

kerusi anggota banggar dpr yang akan datang...........

Tahukah anda 1 (satu) unit kursi alias kerusi bahasa di tempat kami, anggota banggar dpr di negara republika indonesia seharga rp. 27.000.000,-?

Sementara sebuah kerusi berikut dengan meja lipat di depannya yang dipakai murid SMK di tempat kami seharga rp. 270.000,-  merk FUTURA lumayan bagus kualitasnya. Satu kerusi anggota dpr yang katanya terhormat itu senilai 100 set kerusi siswa SMK di tempat kami.

Ruang banggar  senilai rp. 20.000.000.000,- terbilang : DUA PULUH MILIAR RUPIAH  itu kalau dijadikan kelas baru di tempat kami bisa dapat 138 ruang belajar dengan ukuran 8×9 m = 72 M2 atau dijadikan sekolah dengan rombongan belajar (rombel) 2 saja dengan 3 kelas bisa jadi 15 sekolah SMK .

8×9 = 72 M2 itu sudah cukup besar lho. Ruang yang kami pakai sekarang hanya 10 x 5 meter saja = 50 M2 . sudah nyaman karena kelas kecil .

1 ruang belajar ukuran 8 x 9 = 72 M2 (standar) Kemendiknas sekarang Kemendikbudnas .

harga per M di tempat kami untuk membangun sekolah = rp. 2.000.000,-

satu ruang 72M2 x rp. 2.000.000,- = rp. 144.000.000,-per ruang

rp. 20.000.000.000,- : rp. 144.000.000,- per ruang : 138.8 ruang

itu sudah lantai keramik anti gores  seharga rp. 65.000,- per meternya.  Pintu dan jendela terbuat dari kaca , kosen pintu dan jendela dari aluminium, rangka atap baja ringan dan atap dari spandek.

Kerusi jadi JEMURAN DI RUANG SIDANG DPRD...Batam

Kerusi jadi JEMURAN DI RUANG SIDANG DPRD..Batam

Ironis memang wakil rakyat republik indonesia ini, banyak sekali sekolah yang rusak, masih banyak siswa yang masih belajar di lantai, menumpang di masjid dan di gereja.

Tetapi mereka seenaknya saja mengeluarkan biaya untuk merenovasi ukuran yang hanya beberapa meter saja ber puluh puluh miliar.

Masih pantas kah mereka disebut terhormat?.

Mushala Kecil di Kampung Kalok Ujung Rempang Galang


Pak Amin (Budha) Yang Membangun Mushalla

lokasi mushalla yang sedang dibangun, pak Amin bercelana pendek merah.

lokasi mushalla yang sedang dibangun, pak Amin bercelana pendek merah.

 Satu lagi Pulau di sekitaran Batam kami kujungi, awal Maret 2011 yang lalu. Pulau itu bernama kampung Kalok Ujung. Luasnya sekitar 300 hektar.  Masuk wilayah kecamatan Galang, kelurahan Subang Mas. Untuk ke  Kalok Ujung ,  kita harus melalui kampung Cate Rempang, dan naik perahu motor pula, sekitar 10 menit . Waktu itu kami harus membayar tambang, sebesar 200 ribu rupiah. Lumayan mahal untuk jarak sejauh itu.

Kalok Ujung  ini termasuk kampung tua, terdiri dari dua RT dan satu RW. Di kedua – dua RT yang hanya dihuni sekitar 70 an Kepala Keluarga ini, kini kami sedang membangun dua mushala kecil. Satu mushalla di Kalok Tengah dan satu lagi di Kalok Ujung.  Pak RW saat itu masih di jabat pak Amin. “Kini RW sudah berganti” kata pak Amin

Pak Amin adalah orang Tiong Hoa. Dia adalah pak RW lama, dan Dia pula lah yang menyediakan lahan dan sekaligus membangun mushala itu. “Insyaallah akhir bulan ini mushalla itu sudah dapat di pakai” kata pak Amin kepadaku tadi pagi, kamis (21/4) melalui HP nya. “Pak Imbalo datang ya , meresmikan nya” lanjut pak Amin. Terharu aku mendengar nya.

“Di kalok Ujung ini hanya ada 10 KK yang Muslim dari 30 KK yang ada, lainnya Budha” jelas pak Amin waktu kami awal bertemu. Mulanya aku tak menyangka kalau pak Amin ini bukanlah Muslim karena begitu fasihnya dia menyebutkan Alhamdulillah, Insyaallah dan tak lupa setiap memulai pembicaraan melalui HP menyebutkan Assalamualaikum,  apalagi namanya Amin. Tampangnya pun tak mencerminkan orang Tiong Hoa.

anak - anak kampung Kalok Ujung menunggu Dai datang kesana.......

anak - anak kampung Kalok Ujung menunggu Dai datang kesana.......

Sambil tersenyum di lokasi mushala yang akan dibangun itu, aku mengatakan kepada pak Amin, setelah mushala ini selesai nantinya,  pak Amin pun bisa ikut shalat di dalam nya. “Amin “ kata Aries yang juga ikut bersama rombongan kami, menimpali. Pak Amin terlihat tersipu, “iya” kataku melanjutkan “orang Islam itu, sembahyang  paling tidak menyebut kata Amin, sebanyak 17 kali” menjelaskan kepada pak Amin.

Kampung yang sudah ada sejak jaman baheula (Belanda, Jepang) ini, jarang sekali di kunjungi, baik itu dari kalangan Budha maupun dari Islam. Itulah sebabnya , meskipun pak Amin – sejak lahirnya sudah bernama Amin – orang Budha , Dia mengharapkan selesai nya mushalla ini kelak dapat lah anak – anak kampung Kalok Ujung itu belajar mengaji dan Dia pun mengharapkan ada Dai yang akan datang kesana untuk mengajar.

Dalam kesempatan lain, pak Amin pernah mengutarakan, Ada satu kampung lagi , yang juga setua kampung Kalok ujung ini, belum ada mushalla, yaitu kampung Penurun namanya, masih dalam wilayah Kelurahan Subang Mas. “Kalau boleh, di kampung itu pun di bangun juga mushalla” kata pak Amin berharap.

“Insyallah pak Amin” kataku  . Mudah-mudahan saja ada yang membaca tulisaan ini dan tergerak hatinya untuk membangun mushalla kecil di kampung Penurun Subang Emas sebagaimana harapan pak Amin.

Mushala Kecil di Kampung Tua Setengar


Adalah pak Pinci dari kampung Tia Wangkang yang memberitahukan kepada kami bahwa ada kampung yang nama nya Setengar. Dan di Setengar itu ada tinggal kerabat pak Pinci masih dari Suku Laut yang muslim, namanya pak Abu. Hanya pak Abu keluarga muslim yang masih bertahan di kampung itu. Seorang putri pak Abu menikah dengan Sunoto asal Rembang Jawa Tengah dan tinggal di kampung itu juga tetapi agak ke darat, tidak di pinggir pantai, seorang lagi putri pak Abu menikah dengan orang Air Raja.

Keluarga pak Abu mewakafkan sebidang tanah untuk didirikan mushala, persis diatas bukit yang berada di tanjung kampung itu kini berdiri mushala kecil. Sunoto dan 2 orang temannya yang menjadi tukang nya. Bukan main senang nya hati Sunoto dengan keberadaan mushala itu. Karena sudah ratusan tahun keberadaan kampung tua Setengar, baru lah kini ada mushala di situ.

mushala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

ala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

“Datanglah pak kalau bisa, besok kami akan menaikkan kubah” pinta Sunoto kepadaku melalui HP nya. “Kami pun mengundang juga yang non muslim, karena memang masih saudara” tambah Sunoto lagi.   Terenyuh hatiku mendengar nya karena saat itu aku tak bisa memenuhi undangan mas Sunoto begitu aku memanggilnya,  karena  pada saat yang sama aku ada urusan dengan  Polsek Bengkong. Mudah mudahan mas Sunoto dapat memaaklumiku.

Selama ini bila ke Setengar aku selalu melalui kampung Tia Wangkang diantar oleh pak Pinci dengan speed boat. Membelah Selat antara Pulau Batam dengan Pulau Tonton lalu persis dibawah jembatan I Barelang (Raja Haji Fisabillah), terasa tinggi sekali jembatan ini saat kita dibawahnya, kagum kepada pembuaat nya. Terus speed boat melaju  menuju arah ke Tanjung Piayu Laut, terlihat kecil pula jembatan II (Nara Singa) dari jauh, berkelok ke kiri memasuki selat yang berputar putar arusnya disitulah terletak kampung Tua Setengar.

Dan memanglah secara administrasi kampung Tua yang hanya dihuni beberapa kepala keluarga ini RT nya di jabat oleh pak Anton orang kampung Tia Wangkang. Kampung Tia Wangkang pula  masuk keluarahan Tembesi kecamatan Sagulung. “Itu sudah sejak dahulu pak” jelas Sunoto.

Sekali pernah kucoba jalan melalui darat, karena menurut informasi dari Sunoto untuk ke kampung tua itu bisa melalui darat. Berdua dengan Aries Kurniawan kami jelajahi jalan-jalan tak beraspal mulai dari Kantor Kelurahan Pancur Tanjung Piayu.

Sepanjang hutan yang kami lalui ternyata adalah hutan tempat latihan Militer Tuah Sakti. Puluhan kilometer tanah berbauksit dan berlubang lubang terkadang becek dan harus extra hati hati. Di kiri kanan jalan itu banyak  kebun sayur, ada yang sedang panen semangka. Dan juga puluhan kandang ayam (peternakan) yang menyebarkan aroma  spesial.

RUSH  kami terhenti di puncak bukit terjal, tak dapat melanjutkan perjalanan lagi karena memang tak ada fasilitas jalan untuk roda empat.  Kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Menyusuri pinggiran hutan mangrove naik turun beberapa gundukan bukit yang cukup menguras tenaga. Kami memotong jalan agar lebih dekat  di pandu oleh Sunoto.

“Kalau jalan dari sana , lebih jauh lagi pak” kata Sunoto sembari menunjukkan bangunan tugu tanda bahwa kampung Setengar adalah kampung tua. Bangunan tugu tanda kampung tua itu adalah proyek pemko Batam sedang dibangun oleh beberapa orang pekerja.

Jarang berjalan jauh nafas ngos-ngosan juga, sampai di pinggir pantai, sebuah sampan kecil yang hanya dapat dimuat empat orang  menunggu kami. Dengan sampan itulah kami berkayuh  menuju ujung tanjung tempat mushala itu berdiri.

Sebenarnya merentas hutan perdu untuk mencapai lokasi mushala yang saat itu sedang dibangun, dapat juga di lalui dengan jalan setapak, tidak harus bersampan.  Tetapi sebelum kelokasi ada puluhan kuburan terdapat disitu. Mungkin Sunoto segan membawa kami melalui kuburan itu.

Tetapi pada kesempatan lain nya saat aku mengunjungi kampung Setengar sengaja kulalui kuburan di Kampung itu. terlihat beberapa puluh batu nisan tua yang menandakan kalau itu adalah kuburan muslim.

“Itulah pak kalau mushala ini sudah siap, diharapkan orang kampung kembali ke mari” harap Sunoto.  Di samping mushala itu pun kini  sedang kami bangun sebuah rumah kecil untuk Dai yang nantinya akan tinggal disana.

“Dan kami pun mengharapkan disini ada RT sendiri. Warga tidak harus ke Tia Wangkang lagi”. Harap Sunoto

Kalau kita simak secara kedekataan kampung Setengar sebaiknya memang masuk kedalam wilayah Kelurahan Pancur. “Hal ini sudah pernah kami sampaikan kepada pak Rinaldy” kata Sunoto lagi.   Pak Rinaldy yang dimaksud Sunoto itu adalah pak Lurah Pancur.

Sunoto bercerita terus tak terasa kami sudah sampai di rumah pak Daniel, Pak Daniel ini adalah Orang Tua pak Pinci tetapi berlainan agama, usia nya sekitar 70 an tahun, pak Pinci beragama Islam.  Untuk menaiki speed boat harus melalui rumah pak Daniel karena air sudah surut.

Anjing penjaga kerambah toke dari Batam menyalak beramai-ramai melihat kami melalui kerambah kerambah apung yang banyak terpasang di alur laut Selat Setengar itu. Kerambah itu harus di lalui karena persis di depan rumah pak Daniel.

Sambil melambaikan tangan. Aku berharap mudah-mudahan harapan Sunoto terkabul.

%d blogger menyukai ini: