Shalat Tapi Nampak Aurat


1614953_785270281487045_349149288_nTidak di Batam saja, nyaris diseluruh pelosok Indonesia, kini kaum lelaki shalat di Masjid pada hari Jumat tidak memakai kain sarung lagi.  Fenomena ini pun terjadi di negara tetangga kita, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, terutama kaum muda nya.

Bahkan di Vietnam, Laos pun yang hanya segelintir muslimnya mereka sudah terbiasa memakai celana dan berbaju kaos.
Sebenarnya tidak jadi masaalah lelaki memakai celana dan berbaju kaos, tetapi apa lacur kalau model celana anak muda sekarang, pinggangnya dibawah pusat dan kaosnya pula rada ke atas.1608859_785269001487173_36299787_n
Hal ini acap berlaku, dan para pemuda itu sebenarnya menyadari kalau celana dan bajunya tersingkap, buktinya terlihat terkadang tangan mereka menarik ujung kaos/baju yang dipakainya, pada saat rukuk dan sujud, tetapi toh tetap tersingkap juga karena memang pendek.

Buletin Jumat ber ulang kali telah menulis tentang hal ini, mungkin kita dari pihak pengurus masjid membuat himbauan tertulis dibeberapa tempat, agar para jamaah memperhatikan cara berpakaian ini. Atau himbauan lisan oleh petugas masjid sesaat sebelum pelaksanaan shalat dimulai. Sebagai contoh dahulu, saat awal-awal pemakaian telepon geng gam (hp). 

Demikian pula, tidak ada salahnya, sebagai mana penyediaan mukena atau telekung yang kerap ada di masjid, langkah baiknya ada pula tersedia kain sarung , serta baju yang agak panjang untuk mereka pakai. Agak sulit memaksa mereka anak anak muda itu tidak mengikuti trend, mode pakaian yang memang kita tahu salah satu perusak aqidah Islam.

Gambar ilustrasi ini terekam oleh kamera Buletin Jumat, di beberapa masjid di beberapa negara.
Semoga menjadi perhatian kita bersama, mungkin juga ada solusi lain yang intinya adalah tidak menjadikan ibadah anak-anak muda itu menjadi sia-sia. Wallahu’alam. Imbalo

Counter Damri Bandara Hang Nadim Batam


1521828_778256625521744_1396232711_n (1)Sebagian masyarakat Batam, belum mengetahui dimana letak, mangkalnya bus Damri jurusan Bandara Hang Nadim. Karena beberapa waktu yang lalu, moda transportasi ini agak terkucilkan. Berada agak jauh kebawah didekat tempat parkir mobil penjemput dan pengantar.

Alangkah repotnya kala itu, apalagi bila saat hari hujan, membawa barang , troly tidak bisa langsung keparkiran, karena harus melalui tangga.61427_778256292188444_1178405368_n

Kini Bus itu telah mangkal diujung bangunan terminal kedatangan, persis disamping rumah makan Singgalang Jaya.
Menurut petugas Damri yang ada di Bandara itu saat di temui Buletin Jumat, ternyata sudah cukup lama juga mereka disitu “setahun lebih kami disin” ujarnya.1504098_778256482188425_949266424_n
Bus ini melayani 2 tempat tujuan yaitu Bandara – Batu Aji dan Bandara – Jodoh. Dengan tarif cukup terjangkau 20 ribu rupiah, jauh dan dekat. Namun meskipun sudah sedemikian rupa, pengguna moda ini belum terlalu diminati. Terlihat kosong, hanya beberapa penumpang. 

Mungkin Damri bisa merubah atau menambah trayeknya dari Jodoh, dialih kan atau diteruskan ke Bengkong, Batu Aji diteruskan ke Sei Harapan, Sekupang. (imbalo)

Pulau Bulang Lintang Batam Indonesia


1488247_770456819635058_691531731_nMasih banyak warga Batam belum tahu mengapa Stadion Olah Raga di Muka Kuning diberi nama Tumenggung Abdul Jamal.
Seorang Tumenggung Kesultanan Johor Riau Lingga yang bernama Abdul Jamal itu,  dulu, bermastautin di Pulau Bulang Lintang ini , makam beliau masih terawat dengan baik.

Konon tempat kediaman sang Tumenggung, dibakar habis oleh Belanda.1499550_770464699634270_167991463_n

Kalau kita kesana, disekitar komplek pemakaman keluarga Tumenggung,  banyak terlihat batu nisan yang sudah berumur ratusan tahun.
Pulau Bulang Lintang dulu sebagai pusat perwakilan kerajaan, kini hanya sebuah desa sepi, meskipun pemerintah Batam menetapkan Pulau ini sebagai ibukota kecamatan Bulang, tetapi pak Camat tak mau berdiam di pulau ini lagi.

Petang 22/12/ 2013 yg lalu, kami mengunjungi Pulau itu lagi, bersama dengan kami ikut beberapa teman dari Kepulauan Sulu atau Jolo Selatan Piliphina, namanya Prof. Neldy Jolo, beliau seorang ahli sejarah Melayu.

Dari Pelabuhan Sagulung Batam ke tempat itu naik speadboat hanya 15 menit saja, dan ongkosnya 10 ribu rupiah perorang.1524963_770464932967580_1012706146_n
Di Batam, kini ratusan pelajar dari berbagai negara Asean, Piliphina, Kamboja, Vietnam, Thailand, Malaysia, tentu saja dari Indonesia lebih banyak, ikut bersama kami. Mereka sedang menuntut ilmu di Mahad Said bin Zaid. Mendengar tutur bahasa mereka menjadi keunikan tersendiri. (imbalo)

Sekelumit Kisah Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Johor Malaysia di Singapura


Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Johor Malaysia di Singapur

Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Johor Malaysia di Singapur

Semula Buletin Jumat (BJ) hendak shalat Jumat (27/12/2013) di Masjid Sul tan Singapura, karena ferry Wave Master berangkat terlambat dari Batam, tiba di Harbourfront Singapura waktu shalat jumat sudah masuk.

Antrian cukup panjang di counter Imigrasi, nyaris semua penumpang bermata sipit. Selesai saja papsort di chop,BJ bergegas ke Jalan Te luk Belanga. Ada sebuah masjid disitu Te menggung Daeng Ibrahim namanya, jalan Teluk Belanga tidak jauh dari terminal ferry, berjalan kaki sekitar 10 menit, sudah termasuk menungu lampu penyeberangan, jadi cukup dekat.

Saat itu cuaca mendung, gerimis terkadang turun. Jamaah membludak, pantas, karena memang itulah masjid yang ada disekitar pelabuhan, ironisnya lagi masjid itu bukan milik Singapura.  Jamaah terus berdatangan, Khatib membacakan khotbahnya, di khotbah kedua ada terdengar bacaan doa untuk keluarga Sultan. Dan sebagaimana kata Imam Hanafi, Masjid yang terletak di jalan Teluk Belanga ini lokasi tanah dan bangunan masjidnya itu memang milik Kerajaan Negeri Johor Darul Takzim Malaysia, dan hal itu ditandai dengan adanya bendera Negeri Johor didepan halaman masjid.

JKR nomor plat Johor

JKR nomor plat Johor

Bersama  Imam Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Teluk Belanga

Bersama Imam Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Teluk Belanga

Khatib, Imam dan pengurus masjid semuanya berasal dari Johor Malaysia. Ada yang pulang hari, ada yang bermukim. Dua tahun lepas, kalau naik kereta api dari Johor, kita bisa turun persis di dekat masjid, karena disitu terminal terakhir Kereta Api Tanah Melayu (KTM), tetapi sejak lokasi tanah KTM milik Malaysia ini “diambil alih” oleh Singapura, KTM tak berfungsi lagi di Singapura, hanya sampai Woodland saja, perlakuan khusus terhadap passport pun berbeda. Kalau naik bis, turun di Bugis street. Tetapi jumat ketika BJ shalat disana, ada mobil (kereta) warna hitam yg membawa khatib dan imam keluar dari lokasi masjid.

Komplek Makam di Areal Masjid

Komplek Makam di Areal Masjid

Bangunan station KT M, masih di biarkan seperti dulu belum di bong kar, ada beberapa kelompok pekerja sedang memperbaiki sisi bangunan. Cat bangunan terlihat kusam, tetapi lapangannya bersih terawat. Bangunan ini mungkin akan dijadikan Museum saja, bukan karena di perlukan tanahnya, lha bayangkan saja, Malaysia bisa begitu jauh masuk mengintervensi sampai ke Teluk Belanga dari Woodland sana, berapa luas pula lokasi tanah yang terpakai, yang dilalui KTM, mulai dari Woodland ke station terakhir di Teluk Belanga.

Bekas stasiun kereta api tanah melayu (KTM) tak jauh dari Masjid

Bekas stasiun kereta api tanah melayu (KTM) tak jauh dari Masjid

Demikian juga dengan bangunan masjid, selama pelaksaan shalat jumat berlangsung, terdengar terus bunyi mesin alat-alat kerja, pekerja sedang merenovasi kamar mandi/wc. Tetapi bangunan induk masjid yang sudah tak muat lagi menampung jamaahnya ini, tak kunjung jua direnovasi. Menurut Imam masjid, sudah lama terdengar rencana akan diper luas, tetapi tekendala izin dari peme rintah Singapura. Sang Imam hanya tersenyum saat BJ menanyakan barangkali saja pemerintah Singapura pun ingin menguasai lokasi tanah masjid. Dan membangun yang lebih besar dan bagus?

tak ada lapangan parkir

tak ada lapangan parkir

Singapura dulu bernama Temasik, sejak dulu pula Negara Pulau ini bagian dari Negeri Johor, itulah sebabnya hingga kini banyak tempat di Singapura lokasi tanahnya masih milik Negeri Johor. Perlahan, lokasi tanah-tanah itu beralih kepemilikan, seperti lokasi pemakaman luas yang ada di Singapura.

Tetapi semua lokasi itu tidak terlalu memiliki nilai stategis dan politis seperti lokasi jalur KTM. Apa iya?, seorang jamaah tersenyum penuh arti. (***)

%d blogger menyukai ini: