Dicari : Dokter Gigi.


dokter gigiYang berminat menjadi dokter praktek di Klinik Hang Tuah, kami membutuhkan dokter Gigi.

Dapat menghubungi ke joe_jogie@yahoo.com atau imbalobatam@yahoo.co.id atau surat lamaran dikirim ke jalan ranai no 11 Bengkong Polisi Batam 29432, ditunggu

Lowongan Menjadi Guru di Batam


Sekolah Islam Terpadu Hang Tuah di Batam

Membutuhkan  guru bidang studi :

1. Fisika

2. Matematika

3. Bahasa Inggris

4. Ekonomi Akutansi

Syarat :  S1, Islam, Dapat membaca Alquran,

Guru Agama minimal hafiz 4 jus. 

Lamaran ditujukan ke : Sekolah Islam Terpadu Hang Tuah Batam

Jalan Ranai no 11 Bengkong Polisi Batam 29432

Email : imbalobatam@yahoo.co.id

Pulau Boyan Rumah Pak Panjang


Dari Perjalanan Mengunjungi Pemukiman Sulu Laut

Dari Pelabuhan Sagulung, kami naik spead boat 40 PK. Hanya beberapa menit saja, persis disebalik sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sampailah kami di Pulau Boyan.  Pulau Boyan di dalam peta tertulis Pulau Bayan. Entah sejak bila, pulau kecil berpenghuni belasan kepala keluarga suku laut ini, berubah nama menjadi Pulau Boyan.

Pak Panjang Orang yang paling tua di pulau itu pun tak tahu persisnya. Sekitar tiga tahun yang lalu, kami dirikan sebuah mushala kecil disitu. Dai yang dikirim oleh AMCF, hanya bertahan setahun. “Sejak Ustadz Tasman tak ada, tak ada lagi yang mengajari kami me ngaji” ujar Ibu Ani.  “Di mushala jarang ada kegiatan”.lanjutnya Kami shalat Juhur dan Asyar di jamak dan diqasar berjamaah.

Di dalam mushala terlihat bersih, tetapi hampir seluruh dinding plaster semen terkelupas. Mung kin dulu pasir yang digunakan bercampur dengan air asin, jadi mudah terkelupas. Dibagian luar dinding mushala pun demikian juga. Plasteran terlihat mengelem bung, seakan ingin berpisah deng an pasangan batunya.

Pulau kecil masuk dalam kelu rahan Pulau Buluh dan kecamatan Bulang ini, tidak ada sumber air tawarnya , tetapi Alhamdulillah saat wuduk tadi, tandon 1000 liter sumbangan dari seseorang yang tak mau disebut namanya, berisi air, walaupun tidak penuh. Beberapa kali ada lembaga sosial survei kesitu, ingin membantu membuat sumur bor, tapi hingga kini belum terwujud.

Beberapa tahun yang lalu pu lau kecil yang eksotik ini, ramai di kunjungi kapal kapal kecil yang lalu lalang, untuk mengisi minyak. Disitu dulu, ada pangkalan pengisi an bahan bakar minyak (BBM). Masih terlihat beberapa buah tangki dari baja yang sudah mulai berkarat. Perpipaannya pun masih rapi terpasang. Diantara pipa – pipa dan tangki BBM itulah ada jalan setapak menu ju ke pantai, kerumah ibu Ani. Bu Ani mengharapkan ada seorang Dai lagi datang ke situ, agar dapat mengajari mereka tentang Islam.

Pak Panjang Dari jauh , melihat kami datang, ter gopoh gopoh pak Panjang datang, Pria tua 70 tahunan ini tersenyum, terlihat giginya rapi, rupanya baru dipasang gigi palsunya. Pak Panjang punya beberapa orang anak perempuan , seorang anak perempuannya bernama Fatimah menikah dengan warga keturunan dan hingga kini meme luk agama suaminya. Begitu juga cucu lelaki bu Ani, menikah dan mengikut agama isterinya.

Tak banyak yang dapat kami lakukan, hanya mendengar cura han hati dari penduduk kampung pulau Boyan itu. Pulau Boyan, mau dikatakan pulau terpencil, tidak juga. Hanya beberapa menit saja dari Batam, kota Metropolitan yang sibuk dengan segala kegiatan.

Tak jauh dari pulau itu ratusan kapal – kapal besar bersandar dan berlabuh menunggu perbaikan. Tentunya itu semua adalah devisa, yang tak menyentuh kehidupan mereka. “Umur saya paling juga 3 tahun lagi” ujar pak Panjang kali ini dia tidak tersenyum, tetapi tertawa, tampak semua gigi palsu nya. “Kapan kampung kami ada listriknya”. rungutnya.

Pantas pak Panjang merungut, tak jauh dari pulau itu pipa Gas diameter besar mengalir ke Singapura, puluhan kilo meter panjangnya. Aku tersenyum, lalu mengajak nya photo bersama. Kumasukkan lembaran berwarna biru ke dalam sakunya, itulah yang dapat kula kukan. Dan Aku tak mau berjanji, tapi isnyaAllah, akan kukabar kepada Datuk Bandar, mudah mudahan beliau mendengar.

Kami tinggalkan pulau Bayan, bersama Adi Sadikin dari Malaysia, Ita Hasan Si Pulau Terluar, Aisya dari Pekanbaru, Jogie dari Hang Tuah, Sabri anak jati pulau Bulang dengan lincahnya menjadi tekong kami menuju destinasi yang lain.

Hari pun beranjak petang. (*)

Semalam Di Medan


monumen guru patimpus

monumen guru patimpus

Tiga orang teman dari Malaysia yaitu Prof. Zulkifli, DR. Hasyim dan Ustadz Abdul Wahab sengaja datang ke Medan, akhir Mei kemarin. Agenda bertemu dengan Pak Din Syamsudin yang kebetulan akan menghadiri Ta’aruf pimpinan wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara.

“Kalau boleh datang lah” tulis pak Wahab dalam SMS nya kepadaku. Pak Wahab tahu kalau aku berasal dari Medan meskipun kini tinggal di Batam. “Jadi boleh lah bawa kami” tulis pak Wahab lagi berbasa basi.

Malam itu kami menginap di Madani Hotel Medan, hotel ini terletak jalan Sisingamangaraja / Amaliun. Hotel Muslim pertama bintang empat di Medan dibawah manajemen syariah. Hotel yang terletak persis di depan Masjid Raya Al Ma’sum Medan ini mayoritas tamunya berasal dari Negara tetangga Malaysia.

Agaknya kedekatan antara Medan dengan Pulau Pinang Malaysia, hanya sekitar 25 menit dengan penerbangan low cost. Hotel Madani yang syariah dan terletak di tengah pusat kota ini benar-benar menjadi tempat alternative.

Terasa sekali suasa melayu di hotel itu, dari Sisha Lounge mengalunkan irama melayu. Bahkan tukang parkir semua berbicara dalam dialek melayu.

Guru Patimpus.

Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah orang yang dikenal sebagai pendiri Medan Sumatera Utara. Guru Patimpus lahir di Aji Jahe dataran tinggi Karo sekitar abad ke-16. Menikah dengan seorang putri Raja Pulo Brayan dan mempunyai dua anak lelaki. Guru Patimpus adalah pemeluk Agama Islam yang taat.

Setelah menikah, Guru Patimpus dan istrinya membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dengan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan dan tanggal kejadian itu 1 Juli 1590 adalah sebagai hari jadi kota Medan.

Malam itupun kami nikmati penganan yang seleranya tak jauh beda. Mungkin racikan bumbu yang terasa lebih legit. Di Pujasera terletak samping kiri Hotel Madani. Menyajikan aneka makanan nusantara.

Sembari bercerita tentang Medan Jus Martabe yang dipesan telah datang. Martabe adalah istilah yang di populerkan oleh almarhum Gubernur Raja Inal Siregar. Martabe singkatan dari Marsipature hutana be yang berarti Membenahi Kampungnya Sendiri itu menjadi nama minuman campuran buah Markisa dengan Terong Belanda.

Rasa khas campuran kedua buah yang memang khas Medan ini rupanya menjadi minuman kesukaan teman-teman dari Malaysia.

Perut kenyang kami beranjak ke Hotel, terngiang obrolan tentang masjid yang di bongkar paksa oleh oknum TNI . Begitupun Gubernur SUMUT non aktif yang sedang tersandung kasus korupsi, kini terbaring sakit.
Mungkin dulu, tak terpikir oleh Guru Patimpus kota Medan seperti sekarang ini, sehingga tak lah beliau atau juriatnya menyiapkan tanah untuk pemakamannya.

Hinggalah kehari ini tak jelas dimana kubur Guru Patimpus pendiri kota Medan itu. Ada yang mengatakan, kubur Guru Patimpus di Kecamatan Hamparan Perak Deli Serdang dan kubur itu diketemukan pada bulan Juli 2010 yang lalu , jadi setelah 420 tahun berlalu

Mushala Kecil Di Pulau Semakau


P Semakau Indonesia dan P Semakau Singapura berhadapan lngsung arah barat daya

P Semakau Indonesia dan P Semakau Singapura berhadapan lngsung arah barat daya

Ia, kami telah membangun sebuah mushala kecil di Pulau Semakau. Pulau Semakau terletak sekitar 1.06.06′.01″ Lintang Utara dan 103.49.27′.41″ Bujur Timur, posisi pulau kecil ini bisa terbaca dari google Eart. Pulau Semakau masuk di kelurahan Kasu kecamatan Belakang Padang Kota Batam.

Pulau ini tidak masuk dalam daftar pulau terluar, mungkin agaknya karena sebelah barat dari pulau Semakau ini terletak pulau Nipah, p Nipah dengan p Semakau agak sejajar, namun p Nipah agak menjorok sedikit ke laut Singapura.

Dari Pulau yang hanya di huni sekitar 8 keluarga ini terlihat langsung Pulau Sekeng atau Pulau  Semakau Singapura. Menurut pak Pon yang telah menghuni pulau itu sejak puluhan tahun yang lalu, pulau itu memang bernama Semakau. Jadi sama persis namanya dengan Pulau Sekeng atau Semakau yang berada di perairan negara  Singapura.

Kalau pulau Semakau di Singapura di timbus  dengan bekas debu bakaran sampah puluhan ribu ton, agar tidak tenggelam, pulau Semakau yang di huni pak Pon anak beranak ini pula, hanya di pagari batu miring dan di timbus dengan pasir yang ada disekitar pulau itu. “Kalau air pasang besar semua daratan ini tenggelam, kecuali tapak mushala itu pak” ujar pak Pon kepada kami saat mengunjungi mereka pekan lalu.

Indah sekali pemandangan dari pulau Semakau pak Pon ini, demikian kami menyebutnya karena ada dua pulau namanya sama tetapi berlainan negara yang hanya dibatasi selat. Kalau Semakau Singapura kini setelah di timbus dengan debu hasil pembakaran sampah menjadi salah satu tujuan wisata yang menjanjikan. Tak demikian dengan Semakau pak Pon.

mushala di p semakau hampir rampung, hanya tapak bangunan ini saja yang tak di genangi pasang

mushala di p semakau hampir rampung, hanya tapak bangunan ini saja yang tak di genangi pasang

Mereka pindah ke pulau itu puluhan tahun yang lalu dimulai geliat pembangunan di Batam yang berimbas terhadap pulau pulau disekitarnya.  “Tempat kami tinggal dulu di dekat pulau Mecan” ujar isteri pak Pon. Pulau Mecan pula terletak arah ke timur laut dari pulau Semakau berseberangan dengan pulau Sarang .

Jadilah sekeluarga pak Pon disuruh pindah oleh pengusaha yang telah membeli pulau tempat tinggal mereka dan mereka disuruh mencari tempat tinggal sendiri.  Dan ke Semakau lah jatuh pilihan karena tidak terlalu jauh dari Pulau Mecan. “Tetapi sampai sekarang tempat wisata itu tak jadi jadi juga ”  tambah isteri pak Pon.

“Tetapi kami sudah betah disini”,  ujar nya lagi sembari menambahkan meskipun untuk air minum dan memasak harus mengandalkan air hujan  atau mengambil air dari pulau lain.

Ada tiga tandon (tangki air) kapasitas 1000 liter berderet terpasang, terlihat masih baru. Yang satu aku masih ingat adalah kiriman dari Batam  sumbangan dari bang Hendri anak Ramhan ketua KPUD Batam melalui kami.

Banyak cerita pak Pon yang sudah tua renta ini, sudah bertahun tahun dia tak pergi kemana mana, karena mata pak Pon sudah tak dapat melihat lagi. “Terakhir saya ke Batam pada saat nak operasi katarak”   kata pak Pon dengan logat melayu yang kental. Dia pun  lupa entah sudah berapa tahun yang lepas pergi ke Batam itu. “Karena syaraf matanya sudah rusak , kata dokter,  tak dapat dioperasi lagi” ujar pak Ramli menantu pak Pon menimpali.

berbincang dengan pak pon (berkaos putih), dan kedua menantu nya ramli dan jamal.

berbincang dengan pak pon (berkaos putih), dan kedua menantu nya ramli dan jamal.

Jadi lah sejak itu pak Pon hanya duduk duduk saja di rumah di temani isterinya yang setia yang dinikahinya sejak 50 tahunan yaang lalu.

Tak terasa hampir 3 jam kami di pulau terluar ini, hari telah menjelang petang, air laut terlihat surut ke tengah , gundukan pasir dan karang terlihat di sekitar pulau Semakau padahal sewaktu kami merapat ke pulau itu tadi dataran pasir itu belum terlihat. Untunglah speed boat kami sudah di bawa ke tengah laut agar tak kandas oleh pak Pinci dari Tia Wangkang .

Kami pamitan pulang pak Pon terlihat berusaha berdiri hendak mengantar kami ke luar dari beranda rumahnya. Wajah nya terlihat sumringah. Meskipun dia tak dapat menatap wajah kami  satu persatu rombongan kami menyalaminya. Sampai jumpa lagi pak Pon. “Ilal Liqo ” kata yahya dalam bahasa arab

Butuh 3 mushala lagi

Pak Sam  tersenyum senyum saja, melihat tingkah laku beberapa orang  pelajar dari Thailand yang memang ikut bersama kami mengunjungi mushala di pulau Semakau itu.  Karena memang pemandangan dari pulau itu sungguh menawan. View Singapura saat air surut terlihat jelas.

Dengan menggulung kaki celana kami menuju speed boat jauh ke tengah. Pak Sam yang jadi penunjuk jalan . Pak Sam ini tinggal di pulau Lingka,  sekitar 30 menit dari pulau Semakau ini. Dari beliau lah kami mendapat informasi untuk pendirian mushala di sana. Pak Sam beragama nasrani, tetapi sudah 3 buah mushala yang dibangunnya. Beberapa anak menantu pak Sam beragama Islam.  “Ada tiga lagi tempat yang membutuhkan mushala” ujar pak Sam. Kami pun di tunjukkan oleh pak Sam tempat yang dimaksud.

Pak Sam adalah Nelayan suku laut, terkadang mereka menamkaan dirinya orang sampan, kalau di Malaysia di sebut orang selat,   dia adalah salah seorang pemuka suku laut, jadi dia tahu banyak tentang pulau-pulau mana yang berpenghuni dan tak berpenghuni.  Dimana banyak suku laut yang muslim dan yang tidak muslim. Pak Sam selalu membawa kami sebagai penunjuk jalan.

Mudah mudahan saja 3 buah tempat untuk bangunan mushala yang di maksud pak Sam tadi dapat terealisir .

Suara Azan Mengantar Lee Shin Kuang Menjadi Muslim


Rudi sedang berbincang dengan Dedy Azhar ketua KTMB

Rudi sedang berbincang dengan Dedy Azhar ketua KTMB

Setahun setelah tinggal di daerah Pademangan Jakarta, Lee Shin Kuang tergerak hatinya mengenal Islam. Lee Shin Kuang atau yang akrab di panggil A kuang ini hampir setiap hari mendengar suara azan yang berkumandang tak jauh dari tempat kost nya.

Setammat dari SLTA tahun 2005 di Pekan Baru A kuang berangkat ke Jakarta, rencana hendak melanjutkan studi dan sembari bekerja. “Di dekat tempat kost saya ada masjid pak” ujar A kuang, ” Dan tak asing bagi saya suara itu” lanjut Akuang lagi.  Lagian Akuang  saat di Pekan Baru bersekolah di SMA Nurul Falah sebuah Yayasan Islam. Tahun 2006  A kuang mengucapkan dua kalimat syahadat di depan imam masjid Istiqlal Jakarta.

Sejak tahun 2008 A kuang menetap di Batam.  Akuang atau Rudi Gunawan alias Lee Shin Kuang ini sehari – hari bekerja di sebuah perusahaan penyuplai minuman. PT Marsenta Mitra namanya. Dia sering datang ke tempat kami di Bengkong Polisi. Malah boleh dikatakan rutin, karena kami pun menjual produk yang dipasarkan nya. Itulah sebabnya aku sering bertemu dengan A kuang.

Siapa sangka kalau dia seorang muslim, karena wajah dan tampang seperti A kuang ini banyak yang datang ke mini market kami. Maklum hampir semua distributor makanan dan minuman serta bahan sembako lainnya yang ada di Batam semua di kelola oleh warga keturunan Tiong Hoa.

Rudi alias Lee Shin Kuang dan Dedi Azhar alias Leim Kok Seng..

Rudi alias Lee Shin Kuang dan Dedi Azhar alias Liem Kok Seng..

Tengah hari itu sengaja kusapa A kuang karena dia sedang duduk sendirian menunggu pembayaran tagihan.  Ternyata A kuang mengenal ku dan sering membaca tulisan yang ada di Buletin Jumat yang diterbitkan Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam yang memang kami kelola. Aku terkesima saaat A kuang menyebut Buletin Jumat, dalam hatiku bertanya  “koq orang China baca Buletin Jumat ya”?..  Melihat aku agak tertegun sejenak Akuang menjelaskan kalau dianya muslim  dan sering shalat Jumat di Masjid Pelita. “Iya pak terkadang aku enggak dapat baca (buletin jumat) karena sudah habis” kata A kuang. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Pengajian KTBM

Sama dengan Tiong Hoa muslim lainnya yang baru memeluk Islam, agak sulit bagi mereka di Batam ini untuk belajar  memperdalam agama, karena belum begitu banyak tempat pilihan lain.   Di Masjid Raya Batam misalnya, adanya bimbingan muallaf hanya ada di siang hari. Sementara di siang hari hampir semua kaum lelaki seperti Rudi demikian A kuang dipanggil oleh teman-temannya adalah saat bekerja. ” Sebagai pekerja , makan gaji tak mungkin kami meninggalkan kerjaan pak” ujar Rudi.

Itulah sebabnya adanya pengajian Komunitas Tiong Hoa Muslim Batam (KTMB) yang diadakan setiap Rabu malam setiap pekannya yang di mulai selepas shalat Isya di Komplek Sekolah Islam Hang Tuah Jalan Ranai no 11 menjadi alternatif.

Rudi masih bujangan, dengan tersenyum malu malu Rudi mengatakan kalau kini dia sudah ada dekat dengan seorang wanita.   “Baru kenalan pak, insyaaallah kalau ada jodoh” kata Rudi.

Rudi pun tidak pulang ke Pekan Baru saat imlek kemarin. “Biasa saja pak karena sudah beberapa kali imlek, aku tak ikut lagi, ya sejak muslim.” jelas Rudi lagi. Kedua orang tua Rudi masih menganut Budha, dan keluarga besar nya  maklum atas pilihan Rudi menganut Islam.

Pengumuman Hasil UN tingkat SMA/SMK/MA tahun 2010 Di Beberapa Kota


Di Batam.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Drs Muslim Bidin

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Drs Muslim Bidin

“InsyaAllah pengumuman tetap hari senin tanggal 26 April 2010″ ujar Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam Drs Muslim Bidin menjawab sms yang ku kirim pada Sabtu petang (24/04) kemarin . Karena  hasil pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA sederajat telah keluar, Jumat (23/4).

Muslim Bidin menegaskan, dari 4.700 siswa Batam peserta UN ada peserta yang tidak lulus. Mereka para Kepala Disdik  Provinsi Kepri dan Disdik kabupaten/kota se-Kepri, menggelar rapat.   Ada yang tidak lulus.  Namun Muslim tak menyebutkan berapa persen yang tidak lulus. ”Kita sudah berkomitmen tak akan bocorkan sebelum waktunya,” ujarnya.
Menurut Muslim, seperti tahun lalu pihaknya baru mengungumkan kelulusan Senin (26/4) besok pukul 16.00 WIB serentak di seluruh sekolah di Batam. ”Pihak sekolah pun belum mengetahui mengenai kelulusan. Kita baru mengadakan rapat dengan pihak sekolah Senin pagi di kantor Disdik kota Batam.

Mengapa sore hari ?, bukan kah Jumat sudah di terima?… mungkin untuk menghindari corat coret atau perbuatan yang tidak bertanggung jawab dari para siswa yang lulus, kalau pagi kan panjang waktu untuk siswa siswa untuk turun kejalan.  Disdik mengimbau, para siswa yang mengambil hasil kelulusan di sekolah agar didampingi orang tua.

Biasanya siswa terlalu berlebihan dalam meng ekspresikan kebahagiaannya. ”Kita imbau kepada siswa, terutama orangtua siswa agar memberi arahan agar anaknya tidak pergi ke sekolah pada Senin besok menggunakan motor,” tegas Muslim.  Berkaitan dengan teknis pengumuman UN, Disdik juga telah instruksikan sekolah agar dalam mengumumkan hasil UN kepada siswa dibagikan dengan menggunakan amplop.

Tahun ini Disdik Kota Batam juga memberi aturan baru. Semua siswa yang akan menerima hasil pengumuman harus memakai baju biasa dan bukan baju seragam. ”Kita juga mengantisipasi aksi corat coret baju,” terangnya.  Muslim juga menyarankan agar amplop hasil pengumuman dibagikan saat siswa mau ke luar pagar, agar tidak terjadi desak-desakan dan amuk siswa yang stres tidak lulus.

Sepeti diketahui, tahun 2009 lalu, tingkat kelulusan siswa di Batam sebanyak 91,7 persen. Tahun ini, Disdik Kota Batam menargetkan 85-90 persen kelulusan.

Di Provinsi Riau.

Untuk Provinsi Riau terdapat 3.615 siswa yang gagal tahun ini artinya melonjak 3 kali lipat dari tahun sebelumnya. meskipun pengumuman dilakukan Senin (26/04/2010) Dinas Pendidikan Provinsi Riau telah menerima hasil penilaian yang dilakukan oleh pusat. Untuk Provinsi Riau, hasil UN tahun ini jauh mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika 2009 tingkat kelulusan UN SMU mencapai 97,5 persen atau 1.338 dari total peserta 42.777, tahun ini hanya 93.97 persen.

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Riau dari total 59.946 peserta UN SMA sederajat di Riau, terdapat 3.615 (6.03 persen) peserta yang gagal alias tidak lulus. Jumlah ini merupakan akumulasi dari peserta UN dari SMA, Madrasah Aliyah dan SMK.

Secara rinci, peserta dari SMA dan Madrasah Aliyah tingkat kelulusannya cukup membanggakan, yakni mencapai 96,86 persen atau dari total 44.641 peserta, hanya 1.403 orang yang tidak lulus. Prosentasi paling buruk untuk tingkat kelulusan terjadi pada peserta dari SMK. Dari 15.305 peserta, terdapat 2.212 orang tak lulus atau 23,61 persen.

“Untuk peserta SMA dan Madrasah Aliyah prosentase kelulusannya masih cukup bagus, namun untuk peserta dari SMK memang terjadi penurunan yang sangat dratis,” keluh Kepala Dinas Pendidikan Riau Irwan Effendi.

Jika berdasarkan jumlah peserta yang tidak lulus, peserta dari Kabupaten Bengkalis paling banyak, yakni mencapai 558 orang, terdiri dari 249 peserta SMA dan MA. Sedangka peserta SMK yang tak lulus 309 orang. Sedangkan Kuansing menjadi daerah dengan peserta tidak lulus tersedikit, hanya 152 orang. Terdiri dari SMA dan MA 35 orang. Sedangkan SMK terdapat 117 peserta tidak lulus.

Namun jika berdasarkan prosentase, maka untuk peserta dari SMA dan MA, Kabupaten Kepulauan Meranti tertinggi, dengan 8,01 persen (188 orang). Sedangkan Pekanbaru terendah dengan 0,93 persen atau hanya 68 peserta. Sementara untuk peserta dari SMK, prosentase peserta yang tak lulus tertinggi ada di Kabupaten Bengkalis dengan 41,23 persen (309 peserta). Sedangkan dengan prosentase hanya 3,90 persen (32) menjadikan peserta UN kelompok SMK Kabupaten Kampar terendah prosentasenya.

Di Solo.

Sementara Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) Pemkot Surakarta memutuskan untuk menunda pengumuman hasil ujian nasional (UN) tingkat SLTA. Penundaan tersebut terkait dengan pelaksanaan Pemilu kepala daerah (pilkada) Kota Surakarta yang berlangsung pada hari yang sama dengan jadwal pengumuman UN.

Hal tersebut disampaikan oleh anggota KPU Kota Surakarta, Untung Sutanto, kepada wartawan di Kantor KPU Kota Surakarta di kompleks Stadion Manahan, Senin (12/4/2010). Menurutnya, keputusan tersebut merupakan hasil koordinasi yang dilakukan KPU dengan Desk Pilkada yang dibentuk Muspida Kota Surakarta.

“Seharusnya pengumuman dilakukan Senin 26 April 2010 pagi hari, tetapi karena bersamaan dengan pilkada akhirnya pengumuman hasil UN untuk SLTA baru dilakukan pada pukul 16.00 WIB. Keputusan itu dilakukan untuk memberi kesempatan kepada pemilih memberikan suara dalam pilkada ,” papar Untung.

Selain itu, lanjutnya, dalam pengumuman tersebut pihak sekolah hanya mengundang orangtua siswa untuk mengambil hasil tes UN yang dilakukan anaknya. Petimbangannya adalah untuk menjaga kondusivitas kota karena bersamaan dengan peningkatan suku politik pada pilkada tersebut.

Pilkada di Kota Surakarta diikuti dua pasangan calon yaitu pasangan incumbent Joko Widodo – Hadi Rudyatmo yang dicalonkan oleh PDIP dan pasangan Eddy Wirabhumi – Supradi Kertamenawi yang diajukan Partai Demokrat.

Di Palembang.

Hasil Ujian Nasional (UN) SMA/SMK/MA 2010 secara resmi baru akan diumumkan pada Senin, 26 April mendatang. Namun dapat diketahui, dari 76.508 jumlah peserta, tercatat 73.466 siswa yang lulus dan 3.042 siswa dinyatakan tidak lulus.  Bahkan ada satu sekolah yang menjadi peserta UN tidak lulus 100 persen.”Memang ada sekolah yang tidak lulus 100 persen, tapi kami belum mau kasih tahu,” kata Kadisdik Provinsi Sumsel, Widodo, di Palembang, Sabtu (25/4/2010).

Agar menghindari dampak buruk, Widodo tidak mau menyebutkan nama sekolah tersebut kecuali saat pengumuman resmi.  Ia menjelaskan, angka kelulusan UN tahun ini mencapai 96,02 persen, turun 2,13 persen dibanding kelulusan tahun 2008/2009, yaitu 98,15 persen.

Kendati demikian, kata Widodo, pihaknya merasa puas dengan hasil tersebut. Sebab, angka itu paling tidak menunjukkan adanya peningkatan dari aspek pengawasan. Ia juga tidak menampik adanya indikasi kecurangan seperti diberitakan media massa.

“Secara keseluruhan kita sangat puas dengan UN tahun ini. Paling tidak dalam pengawasan ada peningkatan dibanding sebelumnya,” ujar Widodo.

Rerata Nilai UN SMA/MA 2010 Naik.

m nuh mendiknas

m nuh mendiknas

Rerata nilai kelulusan Ujian Nasional  (UN) SMA/MA 2010 mengalami kenaikan dari 7,25 pada tahun 2009 menjadi  7,29. Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas)  Mohammad Nuh saat memberikan keterangan pers di Kementerian Pendidikan  Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Jumat (23/4/2010).

“Kalau dibandingkan reratanya antara tahun 2009 dan 2010 ada  peningkatan, ” kata Mendiknas yang didampingi Wakil Mendiknas Fasli  Jalal dan sejumlah pejabat eselon I dan II Kemdiknas.

Berdasarkan data sementara Kemdiknas, rerata nilai UN SMA negeri 7,43,  sedangkan SMA swasta 7,17. Sementara rerata nilai UN MA negeri 7,25, dan MA swasta 6,96.  “Insya Allah hari Senin (hasil UN) akan disampaikan ke masyarakat di masing-masing sekolah,” kata Mendiknas.

Lebih lanjut Mendiknas menyampaikan, dari total peserta UN SMA/MA 2010 sebanyak 1.522.162 siswa terdapat 154.079 (10,12%) siswa yang mengulang. Sementara jumlah siswa yang tidak mengulang 1.368.083 (89,88%) siswa.

Mendiknas menyampaikan, berikut berturut-turut jumlah siswa yang  mengulang mulai dari satu sampai dengan enam mata pelajaran, yakni  sebanyak 99.433 siswa (64,5%), 25.277 (16,4%), 10.034 (6,5%), 4.878 (3,2%), 2.548 (1,7%), dan 930 (0,6%). Selain itu, kata Mendiknas, terdapat 10.979 (7,1%) siswa yang mengulang karena rerata nilainya di bawah 5,5. “Mudah-mudahan nanti setelah mengulang bisa (lulus) 96 persen,” katanya.

Mendiknas menyebutkan, jumlah siswa yang mengulang untuk tingkat provinsi diantaranya Provinsi Jakarta dari 59.697 peserta mengulang  sebanyak 5.426 atau 9,09 persen dan Provinsi Jawa Barat (2,83%).

Di Depok.

Sebanyak 1.321 siswa dari total 13.180 peserta Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dinyatakan tidak lulus. “Siswa yang gagal dalam mengikuti UN tersebut, diwajibkan untuk mengikuti UN ulangan yang akan dilaksanakan 10 hingga 14 Mei 2010,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) kota Depok, Farah Mulyati, di Depok, Minggu (25/4).

Ia mengatakan tingkat kelulusan di kota Depok secara total menurun sekitar 4 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, pesentase kelulusan untuk SMA di Kota Depok mencapai 99,12 persen, dan saat ini mencapai 95,49 persen.

“Sejumlah siswa yang tidak lulus mengeluhkan sulitnya soal paket B,” katanya.

Farah mengatakan pengumuman resmi akan disampaikan sekolah masing-masing pada Senin (26/4) mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB. Mekanismenya terserah sekolah, apakah diumumkan langsung, melalui intenet, pos, atau SMS.

Lebih lanjut ia mengatakan siswa tersebut sebenarnya bukan tidak lulus tapi harus mengulang atau her UN. “UN merupakan satu dari empat komponen kelulusan. Jadi tidak secara otomatis, yang lulus UN, lulus sekolah, harus memenuhi empat kompenen tersebut,” imbuh Farah.

Sehingga diharapkan, para siswa yang sebelumnya tidak lulus dalam UN utama dan susulan dapat lulus pada UN ulangan.

Mendiknas memberikan catatan khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). “Tahun lalu cukup bagus sekitar 93 persen (tidak  mengulang), tetapi sekarang yang mengulang 23,70 persen dan 77 persen  tidak mengulang. Ini daerah Jawa yang paling besar yang mengulang dari sisi persentase,” katanya.

Beberapa provinsi lain yang persentase mengulangnya besar, papar  Mendiknas, yakni Kalimantan Tengah (39,29%), Kalimantan Timur (30,53%), Sulawesi Tenggara (35,89%), NTT (52,08%), Maluku Utara (41,16%), dan Gorontalo (46,22%).

Mendiknas mengatakan, berdasarkan analisis internal yang dilakukan, salah satu faktor penyebab turunnya ‘kelulusan’ adalah karena pengawasan  yang lebih ketat. “Tetapi jangan diterjemahkan kalau dulu tidak diawasi. Pengawasan sekarang memang lebih ketat,” katanya.

Di Provinsi Gorontalo.

Mendiknas mencontohkan, yang paling menonjol siswa yang mengulang adalah Provinsi Gorontalo. Mendiknas menyebutkan, pada 2009 kelulusan siswa  SMA/MA mencapai 96,54 persen, tetapi sekarang turun menjadi 53,53 persen. “Kepala dinas (Gorontalo) menyampaikan pada saat teken kontrak pakta kejujuran bertekad  mementingkan kejujuran. Tetapi sekali lagi jangan diterjemahkan yang lulusnya 93 persen ke atas tidak jujur karena memang tidak ada bukti tidak jujur itu,” katanya.

Mendiknas juga telah menyampaikan kepada kepala dinas untuk menginstruksikan kepada sekolah agar memberikan remediasi, pengayaan, dan pelatihan bagi siswa-siswa untuk mata pelajaran yang harus

mengulang. Ujian Ulangan dijadwalkan pada 10-14 Mei 2010.

Di Bali.

Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA/SMK di Bali tahun 2010 mencapai 1.093 siswa. Jumlah ini melonjak tajam dibanding tahun 2009 hanya sebanyak 66 siswa.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga Provinsi Bali I Wayan Suasta di kantornya, Jl Puputan Raya Renon, Denpasar, Minggu (25/4/2010).

“Tingkat kelulusan tahun ini memang turun. Meskipun turun ini membuktikan tingkat kejujuran siswa itu tinggi,” kata Suasta.

Disebutkan, tingkat kelulusan siswa SMA tahun 2009 mencapai 99,62 persen atau dari 26.775 peserta ujian tingkat SMA, siswa yang tidak lulus sebanyak 20 orang. Sedangkan UN 2010, jumlah siswa SMA yang tidak lulus sebanyak 702 siswa dari 25.562 peserta ujian atau tingkat kelulusan 97,25 persen.

Sementara itu, pada siswa SMK jumlah siswa yang tidak lulus sebanyak 46 dari 11.253 peserta ujian atau tingkat kelulusannya 99,59 persen sedangkan pada tahun 2010, dari 15.425 peserta ujian, siswa tidak lulus 391 orang atau tingkat kelulusannya menjadi 97,47 persen.

“Untuk SMA tingkat kelulusan terendah ada di Kabupaten Buleleng, dan tertinggi di Kabupaten Bangli,” katanya.

Di Ponorogo.

sebagaimana di tulis oleh http://panyaruwe.wordpress.com di Ponorogo SMA Kabupaten Ponorogo, Tidak Lulus IPA=41, IPS=16  di samping itu  kepala dinas juga menginstruksikan kepada sekolah agar memberikan remediasi, pengayaan, dan pelatihan bagi siswa-siswa untuk mata pelajaran yang harus mengulang. Ujian Ulangan dijadwalkan pada 10-14 Mei 2010.

Daftar SMA Se Ponorogo.

1. SMA 1 Ponorogo : lulus semua
2. SMA 2 Ponorogo : lulus semua

3. SMA 3 Ponorogo :
4. SMA 1 Babadan : 1 tidak lulus
5. SMA 1 Kauman :
6. SMA 1 Badegan :
7. SMA 1 Sampung :
8. SMA 1 Slahung : 2 tidak lulus
9. SMA 1 Balong :
10. SMA 1 Bungkal :
11. SMA 1 Mlarak :
12. SMA 1 Jetis :
13. SMA 1 Sambit :
14. SMA 1 Ngrayun : 3 tidak lulus
15. SMA 1 Pulung :
16. SMA 1 Sooka :
17. SMA 1 Jenangan :
18. SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo : 7 tidak lulus
19. SMA Bakti : lulus semua
20. SMA Merdeka :
21. SMA Muhammadiyah 3 Jetis :
22. SMA Hudaya Ponorogo :
23. SMA PGRI Ponorogo :
24. SMA Immersion : 4 tidak lulus

Dari 1.522.162 peserta ujian nasional tingkat sekolah menengah atas dan madrasah aliyah, sebanyak 154.079 siswa di antaranya, atau sekitar 10,12 persen tidak lulus. Siswa-siswa tersebut harus mengikuti ujian nasional ulangan yang akan diselenggarakan pada 10-14 Mei 2010.

Dari data hasil ujian nasional tahun 2010, jumlah paling banyak siswa yang tidak lulus dan harus mengikuti ujian nasional ulangan ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (23,7 persen), Kalimantan Tengah (39 persen), Kalimantan Timur (30,53 persen), Nusa Tenggara Timur (52,08 persen), dan Gorontalo (46,22 persen).

Adapun persentase siswa yang paling banyak lulus ada di Bali (97,18 persen), Jawa Barat (97,03 persen), Jawa Timur (96,69 persen), dan Sumatera Utara (95,85 persen).

Diambil dari beberapa sumber. (depdiknas/Detik.com/Batam Pos/riauterkini.com)

%d blogger menyukai ini: