Aceh Tidak Pernah Berontak


Catatan Perjalanan Mengunjungi Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau

Bangunan berbentuk masjid itu bukan lah masjid, tetapi makam tuan Guru Besilam

Bangunan berbentuk masjid itu bukan lah masjid, tetapi makam tuan Guru Besilam

SEBELUM berangkat ke Aceh, BJ sempat mampir ke Besilam, Desa ini masuk kecamatan Padang Tualang, letaknya sekitar empat kilometer dari Langkat Tanjung Pura. Disitu terdapat makam Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru Besilam. Beliau adalah seorang Ulama dan pemimpin Tarekat Naqsabandiyah yang merupakan murid dari Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubais Mekkah. Bagi penulis kampung ini sangat berarti, disitu terbaring jasad orang tua lelaki penulis, Ayah, meninggal  tahun 1959 yang lalu.

Di Langkat, tidak ada perwakilan Bus jurusan Aceh, tetapi kita tidak sulit mendapatkan bus ke Aceh, hanya duduk sebentar di warung-warung yang ada didepan masjid Azizi, Bus, dari Medan yang lalu dari situ, siap membawa kita.

Masjid Azizi Langkat Tanjung Pura

Masjid Azizi Langkat Tanjung Pura

Selepas shalat magrib, Isya, jamak taqdim di masjid Azizi, BJ berangkat ke Aceh dengan Bus Anugrah ongkosnya 130 ribu rupiah.

Sudah Merdeka Sebelum NKRI Lahir

Menjelang subuh tiba di Kota Banda Aceh, tidak banyak yang bisa dilihat selama dalam perjalanan dari Tanjung Pura karena malam. Dengan beca bermesin,  dan membayar 20 ribu rupiah, kita diantar ke masjid Baiturrahman.

Toko-toko disekitar Masjid Raya Baiturrahman masih tutup semuanya, penjajah makanan yang selalu ada pun belum buka lagi. Tahun 2004 saat Tsunami menerjang Aceh,  BJ juga berkunjung kesana, bersama dengan rekan M Nur reporter dari Batam Pos, koran lokal Batam. Peristiwa sembilan tahun yang lalu itu, sepertinya baru kemarin terjadi.  Teringat kembali kondisi halaman masjid, masih dipenuhi lumpur.

Masjid Baiturrahman Banda Aceh

Masjid Baiturrahman Banda Aceh

Di pojok depan sebelah kiri masjid arah jalan keluar ke pasar Aceh, ada sebuah prasasti, ditempat prasasti itu dulu, adalah tempat terbunuhnya seorang Jenderal Belanda yang hendak membakar dan menghancurkan masjid, ini adalah bukti kegigihan rakyat Aceh mengusir Belanda.

Di dalam buku-buku pelajaran sejarah dan media massa nasional, beberapa tahun sebelum terciptanya perdamaian di Nangroe Aceh Darussalam, kita sering mendengar istilah ‘pemberontakan rakyat Aceh’ atau ‘pemberontakan Aceh’ terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak zaman kekuasaan Bung Karno hingga presiden-presiden penerusnya, sejumlah ‘kontingen’ pasukan dari berbagai daerah dikirim ke Aceh untuk ‘memadamkan’ pemberontakan ini.

Kita seakan menerima begitu saja istilah ‘pemberontakan’ yang dilakukan Aceh terhadap NKRI. Namun sesungguhnya istilah itu bias dan kurang tepat? Karena sesungguhya Naggroe Aceh Darussalam tidak pernah berontak pada NKRI, namun menarik kembali kesepakatannya dengan NKRI.

Dua istilah ini, “berontak” dengan “menarik kesepakatan” merupakan dua hal yang sangat berbeda. Hal ini kajian dari pakar sejarah Aceh.

NKRI secara resmi baru merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Sedangkan Nanggroe Aceh Darussalam sudah berabad-abad sebelumnya merdeka, memiliki hukum kenegaraan (Qanun)nya sendiri, menjalin persahabatan dengan negeri-negeri seberang lautan, dan bahkan pernah menjadi bagian (protektorat) dari Kekhalifahan Islam Turki Utsmaniyah.

Jadi, bagaimana bisa sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sejak abad ke-14 Masehi, bersamaan dengan pudarnya kekuasaan Kerajaan Budha Sriwijaya, dianggap memberontak pada sebuah Negara yang baru merdeka di abad ke -20?

Nanggroe Aceh Darussalam merupakan negara berdaulat yang sama sekali tidak pernah tunduk pada penjajah Barat. Penjajah Belanda pernah dua kali mengirimkan pasukannya dalam jumlah yang amat besar untuk menyerang dan menundukkan Aceh, namun keduanya menemui kegagalan, walau dalam serangan yang terakhir Belanda bisa menduduki pusat-pusat negerinya.

Aceh Darussalam sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Qanun Meukuta Alam yang bernafaskan Islam. Bekas peninggalan sejarah ini masih dapat dilihat.  Bukti keganasan tsunami terekam didalam museum, demikian pula kuburan masal, kapal yg terangkat sampai 10 kilometer dari laut menjadi objek wisatawan kini. (bersambung)

Iklan

Sinterklas Muslim di Bumi Melayu


1488099_765910243423049_200734800_nRibuan pengunjung hilir mudik memasuki lobi Hotel Planet Holiday Batam, malam itu sedang berlangsung acara peluncuran Tiga Buku Karya Agung Raja Ali Haji.

Pada keesokan harinyapun berlangsung acara seminar ditempat yang sama, pembicara, pemakalah dan para Guru Besar, membahas kebesaran dan kejayaan pengarang Gurindam Duabelas itu, antara kerangka dan isi dikupas tuntas. Sastra melayu identik dengan Islam dan tentunya tidak terlepas dari Quran dan Hadist.

Para pengunjung, peserta dan tamu undangan yang memasuki hotel tersebut disuguhi pemandangan suasana natal, ada pohon cemara, dibubuhi kapas warna putih, agar terlihat  seakan berselaput salju. Dan para pekerja disitu memakai atribut sinterklas. Ironisnya baik tamu undangan dan pekerja yang berada di hotel itu, nyaris seluruhnya beragama Islam.

Disatu tempat lain,  Agu Dian Sofiyani, seorang ibu rumah tangga merasa resah, “Belumlah Natal tiba, pernak pernik dan atributnya sudah menghiasi tempat perbelanjaan yang saya kunjungi, para kasir sudah dilengka pi dengan topi santa clause. Lagu-lagu natal diperdengarkan”.

Hal pernak pernik dan atribut natal ini, membuat berang seniman Batam.Tarmizi, seniman dari sanggar Rumah Hitamini  bersama tamunya dari Tahiland yang juga seorang seniman, sedang chek in di Hotel Harmoni One dilayani recepsionis muslim yang memakai atribut sinterklas.1499471_765910066756400_1985563184_n

Bukan main meradang pria yang selalu berbaju hitam ini, karena marah dan mengomel di depan resepsionis yang tak dapat menjawab keberatan Tarmizi. Staff front office dan kepala security hotel tersebut pun tak dapat memutuskan.

Pemberian ucapan selamat Natal pun sudah mulai ramai diperbincang kan di televisi, ada sebagian kaum muslimin yang menganggap pembe rian ucapan Natal sebagai sebuah hal yang sah-sah saja namun ada juga yang kontra terkait hal ini.

Sepanduk “kampanye” ucapan selamat natal dan tahun baru para calon legislatfp pun bertebaran disepanjang jalan, di depan nama caleg itu tercantum Haji dan Hajjah. Sepertinya mereka yakin betul dengan membuat ucapan seperti itu pemilih non muslim akan memilihnya dan berapah sih jumlah mereka?

Ouw bukan, ini bentuk toleransi saja, sesama warga negara, “lagian kenapa tahun tahun lalu tidak ada teguran atau apapun tentang atribut ini”?. tanya Yudi kepala security Hotel Harmoni One yang di temui Buletin Jumat bersama Tarmizi.  Yudi pun mengharapkan sebagai pelaksana semua kebijakan dari owner atau atasannya, hendaknya pihak terkait seperti Pemko atau MUI memberikan surat kepada mereka, jadi ada acuan dan pegangan.

Bagus itu saran dari Yudi, seperti Pemerintah Provinsi Aceh melarang semua kegiatan yang berbau Natal. Kecuali kepada umat kistiani saja. Ketua MUI KH Usman Ahmad mengatakan, hal ini sudah berulang kali dibahas, baik dari pihak PHRI, Penge lola Mall, bersama Muspida setempat.

Nah kembali ke Kenduri Melayu 2013, bersempena dengan ulang tahun Kota Batam ini, bagaimana untuk tahun hadapan tidak lagi diadakan di Hotel yang tidak mengindahkan perasaan orang Islam itu, hal itu BJ sampaikan kepada Tarmizi yang juga juru bicara FPI, sebagai salah seorang seniman yang tersangkut paut dengan kegiatan Kenduri Melayu itu.

Atau paling tidak para seniman itu bersikap seperti Ketua MUI Batam yang menolak hadir pada acara peng-anugrahan, karena menurut beliau acara tersebut tidak Islami. Untuk itu Kita kembalikan saja kepada pejabat yang paling berwenang di bumi segantang lada dan bandar dunia Madani ini. (imbalo)

Mengunjungi Masjid Masjid Bersejarah di Medan


Catatan Perjalanan Mengunjungi Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau

SELEPAS shalat Jumat (22/11) di Masjid Raya Batam Center , Buletin Jumat (BJ) berangkat ke Medan dengan Lion Air pukul 14.45 wibb, tiba di Bandara Kuala Namu hari telah menjelang petang. Bandara baru ini sedang berbenah, terlihat disana sini pekerja .

Damri dari Kuala Namu - Medan

Damri dari Kuala Namu – Medan

Dari Bandara Kuala Namu ke kota sekitar 39 kilometer, cukup jauh bila dibandingkan lapangan terbang yang lama Polonia. Keluar saja dari ruang kedatangan Bandara ini, disebelah kanan tertulis Bus dan Taxi. Naik Bus Damri ke Simpang Amplas tarifnya 20 ribu rupiah, ada dua tempat tujuan hendak ke Medan satu lagi turun di Careefour.
Naik Taxi, masih seperti biasa hampir diseluruh bandara yang punya taxi, bisa nego maupun dengan argo. Banyak taxi liar menawarkan harga miring dari tariff taxi resmi. Mobil sejenis avanza misalnya, cukup 80 ribu rupiah diantar ketempat.

Ada juga Bus ALS , Bus ini langsung ke kota Binjai Kabupaten Langkat. Naik Kereta Api , dari Bandara kedua terbesar di Indonesia ini, ongkosnya 80 ribu rupiah, Kereta Api hanya tiga kali sehari. Untuk menghindari macet, satu lagi moda transportasi dari Bandara yang baru diresmikan 25 Juli 2013 yang lalu itu adalah speda motor “ojek” .

Masjid – Masjid Bersejarah
BJ, berkesempatan mengunjungi Masjid bersejarah, yaitu satu tempat tujuan orang datang ke Medan, namanya Masjid Raya Medan, masjid ini mulai dibangun pada tahun 1906 semasa Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli . Masjid yang terletak di Jalan Sisingamangaraja XII ini, Sultan memang sengaja membangun mesjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun.

Masjid Raya Medan

Masjid Raya Medan

Persis di depan Masjid yang juga bernama Al Mashun ini, berdiri sebuah Hotel Madani. Hotel ini pun menjadi tempat tujuan wisatawan terutama dari Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Hotel Madani Medan

Hotel Madani Medan

Masjid Raya Stabat Kabupaten Langkat

Masjid Raya Stabat Kabupaten Langkat

Sekitar 60 kilometer dari Medan arah ke Timur, terdapat sebuah masjid bersejarah juga. Yaitu Masjid Azizi. Dengan bersepada motor dari Medan sekitar 1, – 2 jam saja lamanya. Sebelum sampai ke Lankat, Tanjung Pura, BJ mampir sejenak di dekat Jembatan Sungai Wampu, Persis di pinggir Jembatan itu ada sebuah masjid , namanya masjid Stabat.

Masjid Azizi Langkat Tanjung Pura

Masjid Azizi Langkat Tanjung Pura

Stabat kini menjadi ibukota Kabupaten Langkat.
Belum lagi masuk waktu Juhur, BJ lanjutkan perjalanan setelah menghilangkan rasa dahaga dengan segelas cendol yang dijual dihalaman masjid Stabat itu.
BJ, Masih sempat shalat Juhur berjamaah di Masjid Azizi, Masjid  ini adalah masjid peninggalan Kesultanan Langkat yang berada di kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang merupakan ibukota kesultanan Langkat di masa lalu.

Masjid ini terletak di tepi jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Medan dengan Banda Aceh. Mulai dibangun oleh Sultan Langkat Haji Musa pada tahun 1899, selesai dan diresmikan oleh putra beliau, Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah pada tahun 1902.
Keindahan Masjid Azizi ini kemudian dijadikan rujukan pembangunan Masjid Zahir di Kedah Malaysia  hingga kedua masjid tersebut memiliki kemiripan satu dengan yang lain.
Kubah masjid dua Kesultanan Deli dan Kesultanan langkat ini pun mirip.

Pusara Tengku Amir Hamzah Putra Langkat , Pahlawan Nasional

Pusara Tengku Amir Hamzah Putra Langkat , Pahlawan Nasional

BJ, berkesempatan ziarah ke pusara yang ada di halaman depan masjid Azizi. Di komplek makam itu terbaring jasad seorang Pahlawan Nasional yang bernama Tengku Amir Hamzah. Beliau dikenal dengan Sastrawan Pujangga Baru. (***)

Umat Islam Sumbar Bersatu Tolak Investasi Bermuatan Missi Pemurtadan


Catatan Perjalanan Mengunjungi Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau

Masjid ini terletak di tengah-tengah Pasar Raya Padang.

Masjid ini terletak di tengah-tengah Pasar Raya Padang.

Setelah mengunjungi Aceh, Buletin Jumat (BJ), kembali ke Medan,tidak ada jalan alternatif yang lebih baik, selain via Medan, bila harus ke Padang dengan bus umum. Dari Medan dengan Bus ALS, sengaja BJ pesan Bus Super Executive 2-1, dengan tiket sebesar rp. 280.000,- berangkat sekitar pukul 17.00 wibb petang, tiba di Padang keesokan harinya menjelang juhur.

Hari itu Kamis, 28 Nopember 2013. ribuan orang sedang bersiap demontrasi, dimulai dari masjid Nurul Iman Masjid Raya Padang. Mereka menuntut agar izin pendirian pusat pemurtadan itu dibatalkan.

Rancak Bana, Universitas Andalas & Aisyiah Kembalikan Bantuan Lippo

Aisyiah adalah organisasi perempuan tertua di Indonesia , kiprahnya sudah tak terbilang banyaknya, jauh sebelum ada negara yang bernama Indonesia ini. Aisyiah dan Muhammadiyah adalah dua ormas yang berbeda tapi satu.

Pengalaman dalam pelayanan masyarakat seperti pendirian balai pengobatan untuk ibu dan anak, Rumah Sakit dan yang menyangkut kesehatan, nyaris ada diseluruh provinsi di Indonesia. Di Sumatera Barat organisasi ini cukup berkembang, di negeri kelahiran Buya Hamka ini pula Islam sangat kental, kalimat seperti “Adat bersendikan sarak, sarak bersendikan Kitabullah”. Kitabullah itu sendiri adalah Al Quran.

Dan daerah ini rupanya sudah lama menjadi target kristenisasi, dengan membuat injil berbahasa daerah setempat contohnya, walaupun hanya berapa gelintir saya “gembala” disana.

Siapa lagi yang dituding kalau bukan James Riyadi dengan group Lipponya. Mereka pun berusaha membuat sebuah pelayanan masyarakat sebagaimana yang telah dibuat oleh Aisyiah dan Muhammadiyah, yaitu Rumah Sakit.

Rupanya mereka dapat persetujuan penggunaan lokasi milik pemerintah oleh yang sedang berkuasa disana, maka jadilah peletakan batu pertama investasi Lippo Superblock di Jl Khatib Sulaiman benar-benar di lokasi yang strategis di pusat kota itupun dilaksanakan, Jumat, 10 Mei 2013 yang lalu.

Itu ditandai dengan pemencetan sirine oleh Ketua DPD RI Irman Gusman, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Walikota Padang Fauzi Bahar, Menko Kesra Agung Laksono, Kepala BNPB Syamsul Maarif, Preskom Lippo Group James T Riyadi, Presiden Lippo Theo Sambuaga, mantan Gubernur Sumbar Azwar Anas dan Ketua Dewan Syuro Hilmi Aminuddin.

Aisyiah pun mendapat bantuan dari group ini berupa uang sebesar 50 juta rupiah. Bukan Aisyiah saja Fak. Kedokteran Andalas pun diberikan juga.
Dan kedua lembaga ini telah mengembalikan uang bantuan tersebut. Karena Beberapa hari setelah peletakan batu pertama, langsung muncul penolakan dari berbagai Ormas Islam atas investasi Lippo Group itu.

Pemicunya, karena James T Riyadi disinyalir memiliki agenda besar berupa misi misionaris dengan sasaran masyarakat Minangkabau. Hal itu didasari latar belakang James Riyadi sebagai pengusaha yang menjadi misionaris nomor satu di Indonesia.

Dugaan itu juga didukung oleh banyak informasi di berbagai media, baik di internet dan banyak literature buku. Apalagi di sejumlah daerah investasi yang sama juga ditolak karena persoalan yang sama.

Penolakan dari Ormas Islam itu pun terus membesar seperti bola salju. Sebagai dampaknya, hingga kini investasi senilai Rp1,2 triliun itu belum bergerak sama sekali.

Penolakan Proyek Pemurtadan Tak Digubris Walikota dan Ketua DPRD Padang

Semak pun telah tumbuh dan meninggi di lahan seluas lebih kurang 1,5 hektar tersebut. Para pendemo tetap akan menuntut Walikota Padang mencabut izin investasi / pembangunan RS Siloam. Pasalnya izin investasi tersebut melanggar Perda No 4 Tahun 2012, pasal 70 tentang pengembangan kawasan Jl Khatib Sulaiman dan Jl Sudirman yang diperuntukan untuk pengembangan perkantoran Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Namun ternyata Walikota Padang Fauzi Bahar menerbitkan izin untuk pengembangan perdagangan dan jasa di Jl Khatib Sulaiman kepada Lippo Superblock yang terdiri dari RS Siloam, Lippo Mall, Hotel Aryaduta dan Sekolah Pelita Harapan.

Padahal MUI dan Ormas Islam telah tegas-tegas menyatakan bahwa di balik investasi itu terdapat misi misionaris yang dapat membahaya kan akidah anak cucu umat Islam Minangkabau. Tapi Walikota Padang Fauzi Bahar dan Ketua DPRD Padang Zulherman bergeming dan bahkan mati-matian mempertahankan investasi milik pengusaha J Riady itu.

Group FB Tolak Pemurtadan

Meskipun, berita tentang demo akbar umat Islam di Kota Padang, Kamis (28/11) yang menolak investasi RS Siloam dan Lippo Superblock diboikot nyaris oleh semua televise, media cetak dan media online nasional, namun hal itu tidak membuat para ulama dan Ormas Islam mati langkah dan kehilangan akal. Diduga berita tersebut tidak dimuat, karena nyaris semua media nasional di Indonesia dikuasai oleh non mulim.

Karena itu, selain memaksimalkan pemberitaan melalui beberapa Koran lokal yang selama ini masih tetap berimbang menyajikan pemberitaan tentang RS Siloam, MUI dan Ormas Islam juga memanfaatkan media sosial online berupa group facebook dengan nama “Umat Islam Sumatera Barat Bersatu Menolak Investasi Pemurtadan”.
Dalam kurun waktu beberapa hari saja pengikut group Facebook itu langsung membeludak. Jumlah anggota pengikut group tersebut telah mencapai puluhan ribu orang. Mereka berasal dari Sumatera Barat dan luar Sumatera Barat.

Di group ini pun diumumkan secara terbuka jumlah sumbangan yang terkumpul untuk keperluan aksi penolakan terhadap investasi RS Siloam dan Lippo Superblock.
Sumbangan yang terkumpul pun cukup banyak, mendekati angka Rp100 juta. Di group itu dijelaskan, sumbangan dapat dikirimkan ke rekening BRI Padang, atas nama Yeyen Kiram, No Rekening: 5474-01-005700-53-2. (berbagai sumber)

%d blogger menyukai ini: