Pak Kosot Suku Asli Batam Terakhir Dari Kampung Sadap ?


1662745_794192770594796_237297810_nLama juga tidak mengunjungi pak Manan, menyesal betul rasanya hati ini. Padahal bulan lalu, aku melewati kampung pak Kosot demikian pak Manan lebih dikenal. Kosot lelaki tua, tinggal di kampung Sadap Kelurahaan Rempang Cate, jembatan empat.

Petang Selasa (4/2), M. Nur dari Batam Pos, mengajakku keperkampungan Suku Asli yang masih tersisa di Batam. Dan suku Asli dimaksud itu adalah pak Kosot. Keesokan harinya, Rabu pagi (5/2) kami berangkat, ke Rempang, jalan Bumi Melayu demikian tertera nama jalan masuk ke kampung Sadap tempat pak Kosot bermastautin.

Jalan tanah, masuk ke kampung Sadap itu kini tengah diperbaiki, bekas gusuran tanah, terlihat sebagian masih menumpuk disebelah kiri kanan jalan, termasuklah menutupi jalan masuk ke rumah pak Kosot.

Sewaktu tahun 2010, aku datang ke tempat pak Kosot dengan speda motor, tidak bisa berkenderaan roda empat, karena ada sungai kecil yang jembatannya rusak tidak bisa dilalui.
Perbaikan jalan masuk itu, rupanya, karena diujung kampung Sadap, puluhan hektar lahan yang melalui tempat tinggal pak Kosot, kini telah menjadi kebun buah Naga dan Semangka.62372_794215403925866_257959204_n

Tahun 2010 kami mendirikan sebuah mushala kecil persis di jalan masuk ke rumah pak Kosot, pernah juga seorang Dai dari AMCF tinggal disitu. Lokasi tanah untuk mushala itu wakaf dari pak Kosot.

Pak Kosot tinggal bersama isterinya, namanya mak Lilin, di gubuk kecil berdinding bambu yang dibilah bilah. Mak Lilin sudah beberapa tahun tak bisa lagi berjalan, lumpuh, karena penyakit tua.
Telaten sekali pak Kosot merawat isterinya itu, semua keperluan, sampai buang air besar mak Lilin, di gubuk yang hanya berukuran 2 x 3 meter itu, dilayani pak Kosot.

“Tok perempuan sudah meninggal 30 hari yang lalu” kata Kumalasari perempuan beranak dua, yang datang menyambut kami, setiba digubuk pak Kosot. Kumalasari adalah cucu pak Kosot.

Itulah rasa penyesalan bagiku, mengapa tak sempat mampir. Waktu itu, memang keburu hari sudah beranjak petang, pulang ziarah dari kampung Teluk Nipah Galang Baru, perkampungan suku laut di jembatan enam. Ternyata pada hari aku ingin singgah itu, isteri pak Kosot, mak Lilin, meninggal dunia.

Tiga bulan sebelumnya pula, anak pak Kosot yang rumahnya berdampingan dengan mushala meninggal dunia, sementara anak dan isteri dari almarhum pula pindah ke kampung lain, bertambah sepilah kampung itu.

Pak Kosot kini tak larat lagi berjalan, sewaktu kami ajak duduk keluar dari gubuknya, dengan bertongkatkan sebatang kayu, pak Kosot tertatih tatih, badannya bertambah kurus, kakinya kurus mengecil tinggal kulit pembalut tulang, susah nak diluruskan, persis kondisi isterinya waktu dulu.

Banyak yang kami ceritakan, nyaris persis apa yang diderita mak Lilin tempohari, itulah pula yang dialami dan diderita oleh pak Kosot sekarang, cucunya Kumalasari gantian mengantarkan lauk apa ada nya, kalau nasi, pak Kosot masih bisa memasak, dia melaksanakan itu dengan merangkak.

Hingga Juhur kami disana, shalat juhur di mushala, semak terlihat merayap di dinding mushala, bagian dalam pula lantainya berdebu, dipenuhi kotoran burung dan serangga, atap sebelah imam, sengnya terlepas, bekas bocoran hujan merusak plafond yang sudah lapuk. Battrey solar cell, tak ada ditempatnya, hilang raib entah kemana. Tandon air kapasitas 1000 liter warna orange, pecah nyaris terbelah dua. Tak ada lagi yang mengurus mushala.

Tengah hari itu, kami tinggalkan kampung Sadap, menuju kampung Rempang, kami berjumpa dengan pak Lurah, Pak Lurah Kelurahan Rempang Cate, di petang menjelang ashar pak Lurah masih berada di kantornya, kami titipkan mushala itu kepadanya, kepada pak Lurah yang baru tiga bulan menjabat, jadi belum bisa berbuat.

Data akurat jumlah penduduk Kelurahan yang diminta M Nur agak sulit di dapat. Begitulah, “saya baru 3 bulan jadi Lurah disini” ujar pak Lurah asal Natuna ini.

Jadi terpikir alangkah baiknya di kampung – kampung seperti Sadap, Terung, Panjang, Galang, Karas, kampung kampung tua lainnya di sekitar Batam ini, tidak dijadikan Kelurahaan, kembalikan ke Desa, ada kepala Kampung atau kepala Desa yang benar-benar tahu kondisi daerahnya, kehidupan masyarakatnya.

Kisah pak Kosot dan keluarganya yang hampir punah, bahkan kampungnya pun kini tinggal “sejengkal” saja, insyaallah tak akan terjadi.

Banyak lagi yang seperti pak Kosot dan mak Lilin, Suku Asli Batam yang berganti aqidah, karena kebijakan Desa menjadi Lurah.

Bagaimana mungkin mereka bisa faham, para Lurah – Lurah itu, mereka jauh tinggal puluhan kilometer dari orang kampung yang diurusnya.

Kembalikan kelurahan itu ke desa seperti semua, dipimpin tok Batin yang memang tahu dan faham seluk beluk, adat istiadat warganya. Dan kembalikan status tanah ulayat mereka. (*)

Mak Dayang, Perempuan Suku Laut Yang Tegar


Enam kali sudah lebaran sejak kenal Mak Dayang, barulah tahun 2013 ini Mak Dayang datang berkunjung ke rumah kami di Batam. Mak Dayang tidak sendiri puluhan kerabatnya ikut bersama.

SONY DSC
Mak Dayang adalah perempuan Suku Laut, kini menetap di pinggir pantai dapur arang Selat Desa. Sebelumnya keluarga Mak Dayang hidup diatas sampan berpindah pindah (nomaden).

Selat Desa, pemukiman Suku Laut itu hanya sekitar 30 menit dengan pompong dari pelabuhan Telaga Punggur. kecamatan Nongsa
Pertengahan tahun 2008 lalu, Mak Dayang dan Pak Din datang ke Pusat Dakwah Muhammadiyah (PDM) di Tembesi. Pak Din adalah ketua Suku Laut, Mak Dayang pula kakak dari Pak Din. Pak Din tinggal di Air Mas.

Mereka sengaja datang ke PDM untuk mengadukan nasib 8 kepala keluarga Suku Laut yang masih setia dalam Islam, lainnya telah berpindah agama, termasuk putra putri Pak Din dan Mak Dayang sendiri.”Sudi apalah kiranya, saudara Islam datang menjenguk dan membantu kami” itulah keluhan kedua kakak beradik ini.

Di Air Mas dan Selat Desa, dipemukiman Suku Laut tempat bermukim kakak beradik yang sudah bercucu ini, hampir semua mereka bersaudara.

Sebenarnya bukan hal perpindahan agama itu saja yang merunsingkan hati Mak Dayang, tangkapan ikan sudah sangat jauh berkurang sebagai sumber penghidupan mereka, laut tercemar, perairan tempat menangkap ikan mereka dilalui hilir mudik ferry cepat dari ke Tanjung Pinang – Batam.

Alih Profesi?

Mak Dayang pun sudah semakin tua dan lemah, “Dah tak larat lagi nak kelaut.” ujar Mak Dayang suatu ketika. Kini, sesekali Mak Dayang bersama teman-temannya datang ke Telaga Punggur, mengumpuli barang bekas, dari tempat pembuangan sampah. Barang yang masih berguna dijual kembali, setelah dicuci bersih.

Akhir tahun 2009, tak jauh dari pondok Mak Dayang kami dirikan sebuah mushala kecil, atas permintaan Mak Dayang. Disitu pula menetap seorang Dai, ustadz Masri namanya. Sehingga bisalah mereka belajar agama, terutama anak-anak mereka dapat juga belajar mengaji.

Style Mak Dayang dengan Jilbabnya....... tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek.... satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya......... banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama.....

Style Mak Dayang dengan Jilbabnya……. tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek…. satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya……… banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama…..


Kini telah belasan kepala keluarga Suku Laut yang beragama Islam. Shalat jumat pun telah dilaksanakan di kampung itu.

Ada bantuan Generator Set dari LAZ Masjid Raya Batam. Sepan-jang usia Mak Dayang, hampir sama dengan usia Indonesia Merdeka, barulah itu Mak Dayang menikmati terangnyanya lampu listrik walaupun itu hanyadari pukul 6 petang ke pukul 10 malam.

Baru-baru ini sudah dibangun pula pelantar di pemukiman Suku Laut itu, pelantar bantuan dari Pemko Batam.

Menjelang Idul Fitri 1434H yang baru lalu kampung Selat Desa dikunjungi sahabat dari Singapura, Alhamdulillah, lumayan jumlah infaq yang diterima mereka.
“Bisalah untuk tambang ke Batam naik keri, berhari raya” kata Mak Dayang sambil tersenyum menjeling.

Sebenarnya teringin sekali nak membawa Mak Dayang sekeluarga orang Selat Desa, keliling Batam yang jarang dikunjungi mereka, tetapi hari itu juga aku harus segera ke Teluk Nipah Galang Baru, karena Pak Dul teman lama meninggal dunia. (Imbalo)

Innalillahi wainnailaihi rajiun : Pak Dul Meninggal Dunia


jenazah pak Dul dimakamkan994592_686226998058041_1587959773_n

NAMANYA Dul Pitun bin Fulan, tinggal di Pulau Teluk Nipah Kampung Galang Baru Batam, disebut bin Fulan karena tak tahu siapa nama orang tuanya. Lima tahun yang lalu kami dirikan sebuah mushala kecil disitu. Di Pulau itu pula bermukim puluhan kepala keluarga Suku Laut.

Hanya enam kepala keluarga yang Islam termasuk pak Dul. Pak Dul, pria 70 an itu, berasal dari Flores, matanya tak dapat melihat lagi karena buta akibat Katarak dan jalannya pun meraba-raba. Tetapi pak Dul masih ingat betul dimana batas lokasi tanah kebun-kebun nya.

Ceriah sekali kelihatan wajah tua pak Dul saat itu, ketika kupimpin tangannya, berjalan disela-sela pohon kelapa, nangka dan rambutan, Pak Dul menunjukkan tanah lokasi mushala yang akan diwakafkannya.

Dia terus bercerita tentang masa mudanya, mata butanya menerawang jauh ke kampung halamannya. Pak Dul tinggal seorang diri tak punya anak, sementara isterinya telah lama meninggal dunia. Mata butanya berkaca kaca. Rindu sekali kelihatan pak Dul untuk pulang.

Tiga hari lebaran yang baru lalu, pak Dul meninggal dunia. “Subuh tadi beliau masih shalat” ujar ustadz Holil, Dai dari LAZ Masjid Raya Batam yang tinggal disana juga.

Aku bergegas berangkat kesana, selepas Juhur jenazah pak Dul kami makamkan, Alhamduliilah seluruh fardu kifayah dapat terlaksana, sejawat muslim dari pulau Nanga, Pulau Sembur datang ziarah.

1004838_687162077964533_895239095_n

Bagi orang lain mungkin, Pak Dul bukanlah siapa siapa, tetapi bagiku, pak Dul sangat berarti dan bermakna. Bagaimana tidak, bukanlah hal yang mudah, saat itu untuk kami mendirikan mushala disana.

Di Perkampungan Suku Laut itu, kini telah ada 16 kepala keluarga yang muslim, anak-anak merekapun telah dapat belajar Alquran di mushala.
Selamat jalan pak Dul bin Fulan, semoga amal ibadahmu diterima disisi Allah SWT. (imbalo)

Mengunjungi Camp Army MNLF Laguitan


laguitan2Catatan Perjalanan

Imbalo Iman Sakti  – Filipina –

Perjalanan kami lanjutkan ke Cotabatu. Cotabatu adalah salah satu kota di Filipina yang terletak di Mindanao. Dari Manila dengan Cebu Pasifik penerbangan di tempuh lebih dari dua jam.

Cotabatu disebut juga Kuta Watu atau Kota Batu, memang dikelilingi bukit berbatu. Kota ini eksklave dari Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM). Dulu adalah ibukota provinsi, sekarang provinsi Maguindanao. Sejarah panjang Cotabatu di abad ke 15, adalah pusat kerajaan dibawah ke-Sultan-an Dipatuan Kudarat. Islam adalah Agama resmi kerajaan itu.

Spanyol menjajah Filipina, mendirikan sebuah pos militer di tempat yang sekarang bernama Baranggay Tamontaka, salah satu pemukiman Kristen awal didirikan di Selatan Filipina sekitar tahun 1870.
laguitan1

Tiba di Lapangan Terbang Cotabatu, kami langsung dijeput minibus, tidak melalui pemeriksaan. Dan diantar menuju Hotel Al-Nor. Sepanjang jalan, dari mulai keluar lapangan terbang hingga memasuki kota beberapa sekatan jalan raya dengan kawat berduri dan tentara berjaga, kami lalui. Suasana ini terasa persis seperti di Selatan Thailand, dan Aceh Indonesia.

Keesokan harinya, dengan Toyota setengah kabin, kami meninggalkan Cotabatu, menuju satu tempat yang bernama Laguitan. Begitu juga sekatan jalan raya, seperti di Cotabatu, sepanjang jalan memasuki kot-kota kecil yang kami lalui, sekatan ini pun masih terlihat.

Tujuan kami adalah Camp Army Moro National Liberation Front (MNLF) Dari Cotabatu ke Camp MNLF Laguitan, kami harus berhenti di Lebak, setelah lebih tiga jam perjalanan dengan jalan yang berliku menyusuri jalan berbukitan.

Mungkin melihat kondisi rekan kami yang tak sanggup dengan medan jalanan seperti itu, dan mabuk muntah lagi. Kami pindah kenderaan.
Dari Lebak, perjalanan dilanjutkan melalui laut, dengan boat. Naik boat hampir dua jam, kami tiba di camp yang cukup terkenal itu.

Datu Randy dan penulis

Datu Randy dan penulis

Bot tidak bisa langsung kedarat, tidak ada dermaga di teluk Laguitan yang indah itu. Bibir pantai landai, berpasir lembut kami jejaki. Dari jauh terlihat Datu Randy orang nomor satu di camp army MNLF Laguitan, menyongsong kedatangan kami. Rupanya Dia sudah sampai sejam yang lalu melalui jalan darat.

Camp army dikelilingi bebukitan cukup tinggi dan terjal, agak sulit kenderaan roda empat masuk ke camp itu, karena belum ada akses dari jalan raya. Kini pemerin tah otonomi Islam Mindanao, mulai membangun jalan raya, masuk ke camp itu, tetapi belum selesai lagi.

Di areal camp, pemandangan nya yang cukup indah, sampai ke puncak bukit terlihat tanaman jagung subur menghijau. Kami disuguhi makanan yang terbuat dari ubi kayu diparut dan dipanggang, ada rasa garam sedi kit, lumayan lezat.

Datu Randy membawa kami mengelilingi areal camp, menunjukkan bangunan camp yang sedang dalam renovasi. Di perairan teluk itupun ada budi daya ikan dalam kerambah.

Teluk yang mengahadap langsung ke laut Sulu ini, berair jernih, pohon kelapa sepanjang garis pantainya. Pantaslah Mindanao sulit ditaklukkan. Masyarakatnya tidak harus hidup tergantung dari ekonomi luar sebagaimana tutur Datu Randy.

“Ini kuda kesayangan saya”.ujar Datu yang cekatan membawa kenderaan dijalanan berliku, Datu yang semua orang kenal dan hormat ini, Dialah yang menyetir kenderaan membawa kami sampai di Lebak tadi. Beliaupun ahli menung gang Kuda. Dan kuda adalah kenderaan utama untuk mengangkut hasil tanaman di pebukitan, nyaris diseluruh Mindanao.

Otonomi khusus, Mindanao Flipina Selatan, mereka mengejar ketinggalan. “Silahkan datang berkunjung, InsyaAllah Aman”. jamin Datu Randy kepada kami.
Anugerah Ilahi di bumi Fi Amanillah. (***)

Pemukiman Islam di Quiapo Manila


Catatan Perjalanan

Imbalo Iman Sakti
– Filipina –

SONY DSC
Pagi itu selepas sarapan, kami menuju satu pemuki man Islam di Quiapo. Dengan taxi dari Hotel di Makati ke Quiapo sebesar 160.00 peso.

Kontras sekali suasa di Makati dengan di Quiapo meskipun masih di kawasan Manila city. Makati adalah daerah elit di Metro Manila, gedung pencakar langit hampir berada semua disitu, sementara Quiapo adalah kota lama, pasarnya penuh dengan gelandangan, pengemis, jalanan macet.

Dibagian lain kota Quiapo, ba nyak bangunan lama peningga lan Spanyol masih berdiri kukuh, sebagian tua dimakan usia dan ti dak terawat. Sebuah Gereja Kato lik paling pertama di Manila ada di Quiapo. Gereja ratusan tahun itu masih terawat dengan baik. Gereja itu dibangun oleh Spanyol, saat negeri Fi Amanillah – kini Manila- di taklukkan oleh Spanyol. Saat Spanyol menjajah Manila, populasi muslim 98 persen, Dulu sebelum dijajah Manila adalah kerajaan Islam dibawah Sultan Sulaiman.

Spanyol menghancurkan selu ruh bangunan yang berbau Islam, bayangkan dari 98 persen dulu nya, kini agama Islam diseluruh Filipina hanya sekitar 5 persen saja lagi, itupun mayo ritas berada di Selatan. Umat Islam yang dari Selatan inilah bermi grasi ke Utara, setelah Amerika mengam bil alih kekuasaan di Filipina.

Geliat Islam mulai terlihat sejak tahun 1964, Pemukiman Islam di Quiapo ini termasuk yang perta ma ada, pemukiman ini, bersebe lahan dengan lokasi gereja katolik yang pertama kali dibangun oleh Spanyol tadi. Tidak sulit untuk menemukan pemukiman Islam ini, nyaris semua taxi tahu. sebut saja masjid kubah emas.

Memasuki pemukiman muslim di Quiapo, kita akan melalui pintu gerbang besar, ada pelang nama nya tertulis Muslim Town. Yang menarik, semua perempuan saat masuk melewati pintu gerbang menuju pemukiman itu, bersegara memakai kerudung, meskipun mengenakannya sekedarnya saja. Demikian pula bila hendak masuk ke areal masjid.

Masjid Kubah Emas dibangun oleh pemerintah Filipina, sesaat Presiden Muammar Kadafi hendak berkunjung ke Manila. Halamannya menjadi akses jalan keluar masuk ke pemukiman penduduk yang ada di samping dan belakang masjid. Jadi ada pintu gerbang besar menu tup jalan itu, pintu itu bisa dilalui kenderaan roda empat dan selalu tertutup. Membludaknya jamaah masjid terutama saat shalat jumat, jalan itu pun terkadang terpakai untuk jamaah.

Ada pintu kecil semuat orang untuk lalu lalang, disitu ada kotak sumbangan, ada security berjaga, dan dipintu itupun akan terlihat kalau ada perempuan yang tidak memakai tutup kepala berlalu.

Tak ada data pasti berapa popu lasi umat Islam sekarang yang bera da di Quiapo, puluhan ribu banyaknya. Urbanisasi, terutama dari selatan ke utara menjadi penduduk tak terdata. Ramai diantara penduduk urban itu menjadi pekerja disektor pernia gaan. Ada pemilik hotel, resto ran, Super maket.

Hebatnya lagi, bahkan diselu ruh Mall yang ada di Metro Manila, yang dikunjungi Buletin Jumat, terdapat masjid dan mushalah. Karena disektor retil ini pun banyak pekerja muslim nya, terlihat dari cara berpakaian nya, wanitanya berkerudung.

Beberapa masjid itu sengaja kami kunjungi, disamping bersila turahmi, kami juga memberitahu kan kepada pengurus jamaah disitu, bahwa di Batam ada Ma had yang dapat menerima pelajar dari Filipina untuk belajar bahasa Arab dan study Islam, selama dua tahun dan tidak berbayar.

Tengah hari selepas shalat jamak dan qashar kami kembali ke hotel di Makati city. Karena harus mengikuti acara lainnya. Kalau tadi dari Makati ke Quiapo hanya sebesar 160.00 peso, sampai di depan Hotel di Makati tempat kami menginap, argo meter menunjukkan 330.000 peso. Itulah kalau naik taxi di Manila. Padahal dengan jarak yang nyaris sama. (bersambung)

Rumah Makan Padang Terkenal Pun Gunakan “Anciu”


Bukan berarti kalau disebut Restoran Masakan Padang, makanan yang disajikan Rumah Makan itu sudah pasti di jamin Halal.

Hal itulah yang ditemukan oleh Halal Watch di Jakarta, ada tiga Resto Masakan Padang yang cukup terkenal di Jakarta dan Indonesia, menggunakan Anciu [sejenis arak] dalam masakannya. Karena keserakahannya dan gelap mata menggunakan barang haram tersebut, dengan maksud ayam yang disajikan tetap empuk dan cepat dalam penyajian.

Tidak di Jakarta, di Batam pun banyak Resto Masakan Padang, yang tidak jelas kehalalannya, ada sebuah Reto Masakan Padang terletak di daerah Nagoya, bernama Pagi Sore, awalnya mulai jualan, pemotong ayamnya ber agama Islam dan telah dilatih oleh LP POM MUI, namun belakangan sang petugas berhenti. Dan jadi
lah sang pengelola bertindak merangkap jagal, pada hal Dia non muslim.

Sebuah Resto lagi yang bernama Sanur, Resto ini terletak di Batam center, mengembalikan sertifkat halalnya karena tidak dibenarkan memakai dan menjual barang yang beralkohol.

Sebenarnya tanpa penamba han zat perasa pada masakannya, masakan Padang sudah pasti lezat. Jika mengikuti pola masakan Padang yang sebenarnya, daging ayam itu akan empuk jika dimasak dalam waktu yang lama. Yaitu tadi, dengan alasan ekonomis, mereka mencari jalan pintas, dengan harapan menghemat. Namun mengorbankan umat Islam, karena mengabaikan kehalalannya.

Di Bandara Hang Nadim tidak semua Resto Masakan Padang mempunyai sertifikat Halal. Sebagai konsumen muslim, kita tidak usah segan dan takut menanyakan kehalalan masakan di Resto yang belum pernah kita singgahi apalagi jelas jelas tidak mempunya sertifikat halal.

Di depan pintu masuk Mall Nagoya Hill ada Resto Masakan Padang, sang pengelola bukan orang Minang. Beberapa waktu yang lalu di Resto itu ada tulisan halal tidak standar MUI, alasan sang Kasir yang juga merangkap sebagai pengelola semua karyawan dan tukang masaknya adalah orang Muslim. Dan memang menurut pengakuan juru masak, mereka tidak menjual dan memasak babi. Mempromosikan halal tapi tidak berproduksi secara halal, dan tidak mempunyai sertifikat halal yang berlaku, adalah salah disisi Undang-Undang. Bisa dikenai hukuman Pidana dan Perdata.

Masih di Batam, dari penga matan Buletin Jumat, Resto atau Rumah Makan Masakan Padang ini, bila dikelola oleh orang Minang (Islam) , selalunya memakai nama agak khas, seperti Salero Basamo, Salero Bandaro, Salero Bagindo. Memang kita akui tidak semua yang memakai nama, seperti Pagi Sore, Siang Malam, Sempurna misalnya dikelola dan pemiliknya bukan orang Minang (Islam).

Untuk itulah kita sebagai konsumen harus hati hati dan teliti, dan berani bertanya, dan sebisa mungkin tidak makan di Resto yang tidak jelas kehalalannya. Resto itu akan tutup sendiri nantinya, kalau kita sepakat tidak mau makan disitu. Contoh rumah makan yang terletak di Nagoya (Pagi Sore) .

Pulau Boyan Rumah Pak Panjang


Dari Perjalanan Mengunjungi Pemukiman Sulu Laut

Dari Pelabuhan Sagulung, kami naik spead boat 40 PK. Hanya beberapa menit saja, persis disebalik sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sampailah kami di Pulau Boyan.  Pulau Boyan di dalam peta tertulis Pulau Bayan. Entah sejak bila, pulau kecil berpenghuni belasan kepala keluarga suku laut ini, berubah nama menjadi Pulau Boyan.

Pak Panjang Orang yang paling tua di pulau itu pun tak tahu persisnya. Sekitar tiga tahun yang lalu, kami dirikan sebuah mushala kecil disitu. Dai yang dikirim oleh AMCF, hanya bertahan setahun. “Sejak Ustadz Tasman tak ada, tak ada lagi yang mengajari kami me ngaji” ujar Ibu Ani.  “Di mushala jarang ada kegiatan”.lanjutnya Kami shalat Juhur dan Asyar di jamak dan diqasar berjamaah.

Di dalam mushala terlihat bersih, tetapi hampir seluruh dinding plaster semen terkelupas. Mung kin dulu pasir yang digunakan bercampur dengan air asin, jadi mudah terkelupas. Dibagian luar dinding mushala pun demikian juga. Plasteran terlihat mengelem bung, seakan ingin berpisah deng an pasangan batunya.

Pulau kecil masuk dalam kelu rahan Pulau Buluh dan kecamatan Bulang ini, tidak ada sumber air tawarnya , tetapi Alhamdulillah saat wuduk tadi, tandon 1000 liter sumbangan dari seseorang yang tak mau disebut namanya, berisi air, walaupun tidak penuh. Beberapa kali ada lembaga sosial survei kesitu, ingin membantu membuat sumur bor, tapi hingga kini belum terwujud.

Beberapa tahun yang lalu pu lau kecil yang eksotik ini, ramai di kunjungi kapal kapal kecil yang lalu lalang, untuk mengisi minyak. Disitu dulu, ada pangkalan pengisi an bahan bakar minyak (BBM). Masih terlihat beberapa buah tangki dari baja yang sudah mulai berkarat. Perpipaannya pun masih rapi terpasang. Diantara pipa – pipa dan tangki BBM itulah ada jalan setapak menu ju ke pantai, kerumah ibu Ani. Bu Ani mengharapkan ada seorang Dai lagi datang ke situ, agar dapat mengajari mereka tentang Islam.

Pak Panjang Dari jauh , melihat kami datang, ter gopoh gopoh pak Panjang datang, Pria tua 70 tahunan ini tersenyum, terlihat giginya rapi, rupanya baru dipasang gigi palsunya. Pak Panjang punya beberapa orang anak perempuan , seorang anak perempuannya bernama Fatimah menikah dengan warga keturunan dan hingga kini meme luk agama suaminya. Begitu juga cucu lelaki bu Ani, menikah dan mengikut agama isterinya.

Tak banyak yang dapat kami lakukan, hanya mendengar cura han hati dari penduduk kampung pulau Boyan itu. Pulau Boyan, mau dikatakan pulau terpencil, tidak juga. Hanya beberapa menit saja dari Batam, kota Metropolitan yang sibuk dengan segala kegiatan.

Tak jauh dari pulau itu ratusan kapal – kapal besar bersandar dan berlabuh menunggu perbaikan. Tentunya itu semua adalah devisa, yang tak menyentuh kehidupan mereka. “Umur saya paling juga 3 tahun lagi” ujar pak Panjang kali ini dia tidak tersenyum, tetapi tertawa, tampak semua gigi palsu nya. “Kapan kampung kami ada listriknya”. rungutnya.

Pantas pak Panjang merungut, tak jauh dari pulau itu pipa Gas diameter besar mengalir ke Singapura, puluhan kilo meter panjangnya. Aku tersenyum, lalu mengajak nya photo bersama. Kumasukkan lembaran berwarna biru ke dalam sakunya, itulah yang dapat kula kukan. Dan Aku tak mau berjanji, tapi isnyaAllah, akan kukabar kepada Datuk Bandar, mudah mudahan beliau mendengar.

Kami tinggalkan pulau Bayan, bersama Adi Sadikin dari Malaysia, Ita Hasan Si Pulau Terluar, Aisya dari Pekanbaru, Jogie dari Hang Tuah, Sabri anak jati pulau Bulang dengan lincahnya menjadi tekong kami menuju destinasi yang lain.

Hari pun beranjak petang. (*)

%d blogger menyukai ini: