Mushala Kecil Di Pulau Semakau


P Semakau Indonesia dan P Semakau Singapura berhadapan lngsung arah barat daya

P Semakau Indonesia dan P Semakau Singapura berhadapan lngsung arah barat daya

Ia, kami telah membangun sebuah mushala kecil di Pulau Semakau. Pulau Semakau terletak sekitar 1.06.06′.01″ Lintang Utara dan 103.49.27′.41″ Bujur Timur, posisi pulau kecil ini bisa terbaca dari google Eart. Pulau Semakau masuk di kelurahan Kasu kecamatan Belakang Padang Kota Batam.

Pulau ini tidak masuk dalam daftar pulau terluar, mungkin agaknya karena sebelah barat dari pulau Semakau ini terletak pulau Nipah, p Nipah dengan p Semakau agak sejajar, namun p Nipah agak menjorok sedikit ke laut Singapura.

Dari Pulau yang hanya di huni sekitar 8 keluarga ini terlihat langsung Pulau Sekeng atau Pulau  Semakau Singapura. Menurut pak Pon yang telah menghuni pulau itu sejak puluhan tahun yang lalu, pulau itu memang bernama Semakau. Jadi sama persis namanya dengan Pulau Sekeng atau Semakau yang berada di perairan negara  Singapura.

Kalau pulau Semakau di Singapura di timbus  dengan bekas debu bakaran sampah puluhan ribu ton, agar tidak tenggelam, pulau Semakau yang di huni pak Pon anak beranak ini pula, hanya di pagari batu miring dan di timbus dengan pasir yang ada disekitar pulau itu. “Kalau air pasang besar semua daratan ini tenggelam, kecuali tapak mushala itu pak” ujar pak Pon kepada kami saat mengunjungi mereka pekan lalu.

Indah sekali pemandangan dari pulau Semakau pak Pon ini, demikian kami menyebutnya karena ada dua pulau namanya sama tetapi berlainan negara yang hanya dibatasi selat. Kalau Semakau Singapura kini setelah di timbus dengan debu hasil pembakaran sampah menjadi salah satu tujuan wisata yang menjanjikan. Tak demikian dengan Semakau pak Pon.

mushala di p semakau hampir rampung, hanya tapak bangunan ini saja yang tak di genangi pasang

mushala di p semakau hampir rampung, hanya tapak bangunan ini saja yang tak di genangi pasang

Mereka pindah ke pulau itu puluhan tahun yang lalu dimulai geliat pembangunan di Batam yang berimbas terhadap pulau pulau disekitarnya.  “Tempat kami tinggal dulu di dekat pulau Mecan” ujar isteri pak Pon. Pulau Mecan pula terletak arah ke timur laut dari pulau Semakau berseberangan dengan pulau Sarang .

Jadilah sekeluarga pak Pon disuruh pindah oleh pengusaha yang telah membeli pulau tempat tinggal mereka dan mereka disuruh mencari tempat tinggal sendiri.  Dan ke Semakau lah jatuh pilihan karena tidak terlalu jauh dari Pulau Mecan. “Tetapi sampai sekarang tempat wisata itu tak jadi jadi juga ”  tambah isteri pak Pon.

“Tetapi kami sudah betah disini”,  ujar nya lagi sembari menambahkan meskipun untuk air minum dan memasak harus mengandalkan air hujan  atau mengambil air dari pulau lain.

Ada tiga tandon (tangki air) kapasitas 1000 liter berderet terpasang, terlihat masih baru. Yang satu aku masih ingat adalah kiriman dari Batam  sumbangan dari bang Hendri anak Ramhan ketua KPUD Batam melalui kami.

Banyak cerita pak Pon yang sudah tua renta ini, sudah bertahun tahun dia tak pergi kemana mana, karena mata pak Pon sudah tak dapat melihat lagi. “Terakhir saya ke Batam pada saat nak operasi katarak”   kata pak Pon dengan logat melayu yang kental. Dia pun  lupa entah sudah berapa tahun yang lepas pergi ke Batam itu. “Karena syaraf matanya sudah rusak , kata dokter,  tak dapat dioperasi lagi” ujar pak Ramli menantu pak Pon menimpali.

berbincang dengan pak pon (berkaos putih), dan kedua menantu nya ramli dan jamal.

berbincang dengan pak pon (berkaos putih), dan kedua menantu nya ramli dan jamal.

Jadi lah sejak itu pak Pon hanya duduk duduk saja di rumah di temani isterinya yang setia yang dinikahinya sejak 50 tahunan yaang lalu.

Tak terasa hampir 3 jam kami di pulau terluar ini, hari telah menjelang petang, air laut terlihat surut ke tengah , gundukan pasir dan karang terlihat di sekitar pulau Semakau padahal sewaktu kami merapat ke pulau itu tadi dataran pasir itu belum terlihat. Untunglah speed boat kami sudah di bawa ke tengah laut agar tak kandas oleh pak Pinci dari Tia Wangkang .

Kami pamitan pulang pak Pon terlihat berusaha berdiri hendak mengantar kami ke luar dari beranda rumahnya. Wajah nya terlihat sumringah. Meskipun dia tak dapat menatap wajah kami  satu persatu rombongan kami menyalaminya. Sampai jumpa lagi pak Pon. “Ilal Liqo ” kata yahya dalam bahasa arab

Butuh 3 mushala lagi

Pak Sam  tersenyum senyum saja, melihat tingkah laku beberapa orang  pelajar dari Thailand yang memang ikut bersama kami mengunjungi mushala di pulau Semakau itu.  Karena memang pemandangan dari pulau itu sungguh menawan. View Singapura saat air surut terlihat jelas.

Dengan menggulung kaki celana kami menuju speed boat jauh ke tengah. Pak Sam yang jadi penunjuk jalan . Pak Sam ini tinggal di pulau Lingka,  sekitar 30 menit dari pulau Semakau ini. Dari beliau lah kami mendapat informasi untuk pendirian mushala di sana. Pak Sam beragama nasrani, tetapi sudah 3 buah mushala yang dibangunnya. Beberapa anak menantu pak Sam beragama Islam.  “Ada tiga lagi tempat yang membutuhkan mushala” ujar pak Sam. Kami pun di tunjukkan oleh pak Sam tempat yang dimaksud.

Pak Sam adalah Nelayan suku laut, terkadang mereka menamkaan dirinya orang sampan, kalau di Malaysia di sebut orang selat,   dia adalah salah seorang pemuka suku laut, jadi dia tahu banyak tentang pulau-pulau mana yang berpenghuni dan tak berpenghuni.  Dimana banyak suku laut yang muslim dan yang tidak muslim. Pak Sam selalu membawa kami sebagai penunjuk jalan.

Mudah mudahan saja 3 buah tempat untuk bangunan mushala yang di maksud pak Sam tadi dapat terealisir .

Iklan

Suara Azan Mengantar Lee Shin Kuang Menjadi Muslim


Rudi sedang berbincang dengan Dedy Azhar ketua KTMB

Rudi sedang berbincang dengan Dedy Azhar ketua KTMB

Setahun setelah tinggal di daerah Pademangan Jakarta, Lee Shin Kuang tergerak hatinya mengenal Islam. Lee Shin Kuang atau yang akrab di panggil A kuang ini hampir setiap hari mendengar suara azan yang berkumandang tak jauh dari tempat kost nya.

Setammat dari SLTA tahun 2005 di Pekan Baru A kuang berangkat ke Jakarta, rencana hendak melanjutkan studi dan sembari bekerja. “Di dekat tempat kost saya ada masjid pak” ujar A kuang, ” Dan tak asing bagi saya suara itu” lanjut Akuang lagi.  Lagian Akuang  saat di Pekan Baru bersekolah di SMA Nurul Falah sebuah Yayasan Islam. Tahun 2006  A kuang mengucapkan dua kalimat syahadat di depan imam masjid Istiqlal Jakarta.

Sejak tahun 2008 A kuang menetap di Batam.  Akuang atau Rudi Gunawan alias Lee Shin Kuang ini sehari – hari bekerja di sebuah perusahaan penyuplai minuman. PT Marsenta Mitra namanya. Dia sering datang ke tempat kami di Bengkong Polisi. Malah boleh dikatakan rutin, karena kami pun menjual produk yang dipasarkan nya. Itulah sebabnya aku sering bertemu dengan A kuang.

Siapa sangka kalau dia seorang muslim, karena wajah dan tampang seperti A kuang ini banyak yang datang ke mini market kami. Maklum hampir semua distributor makanan dan minuman serta bahan sembako lainnya yang ada di Batam semua di kelola oleh warga keturunan Tiong Hoa.

Rudi alias Lee Shin Kuang dan Dedi Azhar alias Leim Kok Seng..

Rudi alias Lee Shin Kuang dan Dedi Azhar alias Liem Kok Seng..

Tengah hari itu sengaja kusapa A kuang karena dia sedang duduk sendirian menunggu pembayaran tagihan.  Ternyata A kuang mengenal ku dan sering membaca tulisan yang ada di Buletin Jumat yang diterbitkan Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam yang memang kami kelola. Aku terkesima saaat A kuang menyebut Buletin Jumat, dalam hatiku bertanya  “koq orang China baca Buletin Jumat ya”?..  Melihat aku agak tertegun sejenak Akuang menjelaskan kalau dianya muslim  dan sering shalat Jumat di Masjid Pelita. “Iya pak terkadang aku enggak dapat baca (buletin jumat) karena sudah habis” kata A kuang. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Pengajian KTBM

Sama dengan Tiong Hoa muslim lainnya yang baru memeluk Islam, agak sulit bagi mereka di Batam ini untuk belajar  memperdalam agama, karena belum begitu banyak tempat pilihan lain.   Di Masjid Raya Batam misalnya, adanya bimbingan muallaf hanya ada di siang hari. Sementara di siang hari hampir semua kaum lelaki seperti Rudi demikian A kuang dipanggil oleh teman-temannya adalah saat bekerja. ” Sebagai pekerja , makan gaji tak mungkin kami meninggalkan kerjaan pak” ujar Rudi.

Itulah sebabnya adanya pengajian Komunitas Tiong Hoa Muslim Batam (KTMB) yang diadakan setiap Rabu malam setiap pekannya yang di mulai selepas shalat Isya di Komplek Sekolah Islam Hang Tuah Jalan Ranai no 11 menjadi alternatif.

Rudi masih bujangan, dengan tersenyum malu malu Rudi mengatakan kalau kini dia sudah ada dekat dengan seorang wanita.   “Baru kenalan pak, insyaaallah kalau ada jodoh” kata Rudi.

Rudi pun tidak pulang ke Pekan Baru saat imlek kemarin. “Biasa saja pak karena sudah beberapa kali imlek, aku tak ikut lagi, ya sejak muslim.” jelas Rudi lagi. Kedua orang tua Rudi masih menganut Budha, dan keluarga besar nya  maklum atas pilihan Rudi menganut Islam.

Mushala Kecil di Kampung Tua Setengar


Adalah pak Pinci dari kampung Tia Wangkang yang memberitahukan kepada kami bahwa ada kampung yang nama nya Setengar. Dan di Setengar itu ada tinggal kerabat pak Pinci masih dari Suku Laut yang muslim, namanya pak Abu. Hanya pak Abu keluarga muslim yang masih bertahan di kampung itu. Seorang putri pak Abu menikah dengan Sunoto asal Rembang Jawa Tengah dan tinggal di kampung itu juga tetapi agak ke darat, tidak di pinggir pantai, seorang lagi putri pak Abu menikah dengan orang Air Raja.

Keluarga pak Abu mewakafkan sebidang tanah untuk didirikan mushala, persis diatas bukit yang berada di tanjung kampung itu kini berdiri mushala kecil. Sunoto dan 2 orang temannya yang menjadi tukang nya. Bukan main senang nya hati Sunoto dengan keberadaan mushala itu. Karena sudah ratusan tahun keberadaan kampung tua Setengar, baru lah kini ada mushala di situ.

mushala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

ala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

“Datanglah pak kalau bisa, besok kami akan menaikkan kubah” pinta Sunoto kepadaku melalui HP nya. “Kami pun mengundang juga yang non muslim, karena memang masih saudara” tambah Sunoto lagi.   Terenyuh hatiku mendengar nya karena saat itu aku tak bisa memenuhi undangan mas Sunoto begitu aku memanggilnya,  karena  pada saat yang sama aku ada urusan dengan  Polsek Bengkong. Mudah mudahan mas Sunoto dapat memaaklumiku.

Selama ini bila ke Setengar aku selalu melalui kampung Tia Wangkang diantar oleh pak Pinci dengan speed boat. Membelah Selat antara Pulau Batam dengan Pulau Tonton lalu persis dibawah jembatan I Barelang (Raja Haji Fisabillah), terasa tinggi sekali jembatan ini saat kita dibawahnya, kagum kepada pembuaat nya. Terus speed boat melaju  menuju arah ke Tanjung Piayu Laut, terlihat kecil pula jembatan II (Nara Singa) dari jauh, berkelok ke kiri memasuki selat yang berputar putar arusnya disitulah terletak kampung Tua Setengar.

Dan memanglah secara administrasi kampung Tua yang hanya dihuni beberapa kepala keluarga ini RT nya di jabat oleh pak Anton orang kampung Tia Wangkang. Kampung Tia Wangkang pula  masuk keluarahan Tembesi kecamatan Sagulung. “Itu sudah sejak dahulu pak” jelas Sunoto.

Sekali pernah kucoba jalan melalui darat, karena menurut informasi dari Sunoto untuk ke kampung tua itu bisa melalui darat. Berdua dengan Aries Kurniawan kami jelajahi jalan-jalan tak beraspal mulai dari Kantor Kelurahan Pancur Tanjung Piayu.

Sepanjang hutan yang kami lalui ternyata adalah hutan tempat latihan Militer Tuah Sakti. Puluhan kilometer tanah berbauksit dan berlubang lubang terkadang becek dan harus extra hati hati. Di kiri kanan jalan itu banyak  kebun sayur, ada yang sedang panen semangka. Dan juga puluhan kandang ayam (peternakan) yang menyebarkan aroma  spesial.

RUSH  kami terhenti di puncak bukit terjal, tak dapat melanjutkan perjalanan lagi karena memang tak ada fasilitas jalan untuk roda empat.  Kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Menyusuri pinggiran hutan mangrove naik turun beberapa gundukan bukit yang cukup menguras tenaga. Kami memotong jalan agar lebih dekat  di pandu oleh Sunoto.

“Kalau jalan dari sana , lebih jauh lagi pak” kata Sunoto sembari menunjukkan bangunan tugu tanda bahwa kampung Setengar adalah kampung tua. Bangunan tugu tanda kampung tua itu adalah proyek pemko Batam sedang dibangun oleh beberapa orang pekerja.

Jarang berjalan jauh nafas ngos-ngosan juga, sampai di pinggir pantai, sebuah sampan kecil yang hanya dapat dimuat empat orang  menunggu kami. Dengan sampan itulah kami berkayuh  menuju ujung tanjung tempat mushala itu berdiri.

Sebenarnya merentas hutan perdu untuk mencapai lokasi mushala yang saat itu sedang dibangun, dapat juga di lalui dengan jalan setapak, tidak harus bersampan.  Tetapi sebelum kelokasi ada puluhan kuburan terdapat disitu. Mungkin Sunoto segan membawa kami melalui kuburan itu.

Tetapi pada kesempatan lain nya saat aku mengunjungi kampung Setengar sengaja kulalui kuburan di Kampung itu. terlihat beberapa puluh batu nisan tua yang menandakan kalau itu adalah kuburan muslim.

“Itulah pak kalau mushala ini sudah siap, diharapkan orang kampung kembali ke mari” harap Sunoto.  Di samping mushala itu pun kini  sedang kami bangun sebuah rumah kecil untuk Dai yang nantinya akan tinggal disana.

“Dan kami pun mengharapkan disini ada RT sendiri. Warga tidak harus ke Tia Wangkang lagi”. Harap Sunoto

Kalau kita simak secara kedekataan kampung Setengar sebaiknya memang masuk kedalam wilayah Kelurahan Pancur. “Hal ini sudah pernah kami sampaikan kepada pak Rinaldy” kata Sunoto lagi.   Pak Rinaldy yang dimaksud Sunoto itu adalah pak Lurah Pancur.

Sunoto bercerita terus tak terasa kami sudah sampai di rumah pak Daniel, Pak Daniel ini adalah Orang Tua pak Pinci tetapi berlainan agama, usia nya sekitar 70 an tahun, pak Pinci beragama Islam.  Untuk menaiki speed boat harus melalui rumah pak Daniel karena air sudah surut.

Anjing penjaga kerambah toke dari Batam menyalak beramai-ramai melihat kami melalui kerambah kerambah apung yang banyak terpasang di alur laut Selat Setengar itu. Kerambah itu harus di lalui karena persis di depan rumah pak Daniel.

Sambil melambaikan tangan. Aku berharap mudah-mudahan harapan Sunoto terkabul.

Balada Anak Pulau : Nelayan di Angin Utara


naik bot mengantar ustadz.....

naik bot mengantar ustadz.....

Selat Desa

“Sekarang ni pun  dah tak ada lagi persedian” kata Nadi kepada kami saat berkunjung ke Selat Desa. Selat Desa adalah sebuah perkampungan Nelayan yang tak jauh dari Pulau Batam. Ombak di perairan Selat Desa, Pulau Kubung, Pulau Todak , Pulau Seribu  dan pulau pulau sekitarannya cukup besar, mencapai   3 meter.

Tak banyak Nelayan Suku laut yang tinggal di Selat Desa hanya beberapa keluarga saja, salah seorang nya adalah Nadi, Nadi adalah menantu Mak Dayang. Di Selat Desa kami bangun sebuah mushala kecil,  mushala itu  terletak persis di pinggir pantai, di mushala itu lah kami berbincang sembari terlihat air laut mulai pasang naik.

“Kalau sudah seperti sekarang ini (angin utara) susah nak melaut” timpal Nadi lagi.   Tak tahu apa yang akan di kerjakan, kemarin petang (25/01) dua orang wanita anak beranak meninggal dunia akibat amukan ombak. Sudahlah ombak besar di timpali pula gelombang dari ferry Tanjung Pinang – Batam yang melintas  di perairan itu.

Di mushala itu kini bermukim ustadz Hadi dari Medan, jadi salah satu tujuan kami datang ke Selat Desa itu adalah mengantar ustadz Hadi, ustadz Hadi akan mengajar agama Islam kepada Suku Laut Muslim disitu.

Kami tinggalkan ustadz Hadi dan Nadi karena hari sudah mulai petang, dengan bot pancung pak Awang Belanda mesinnya  Yahama 40 PK  kami tempuh ombak yang cukup tinggi.

Mendekati perairan pulau Kubung terlihat Pulau Todak , terbayang bagaimana Una (55) dan Mina (19) meregang nyawa di hantam ombak  tinggi dan hujan deras. Dan terbayang pula bagaimana perjuangan  anak perempuannya yang seorang lagi tetap mempertahan kan jasad ibu dan adik nya agar tidak hanyut dan tenggelam ke dalam laut. Hemmmm. aku menarik napas panjang, “mereka masih saudara kami” kata Poni dari Pulau Air Mas.

Pulau Lingka

Di Pulau Lingka Sagulung Batam,  ada ustadz Masri asal Nias Gunung Sitoli kini bermukim. Ustadz Masri ini pun adalah Dai yang di tempatkan oleh AMCF.  Di Pulau Lingka yang terletak bagian Barat Batam ini tak banyak keluarga Suku Laut yang muslim, disana  hanya ada sekitar 5 keluarga saja.  Di Pulau Lingka kami bangun sebuah mushala kecil seperti di  Selat Desa Ngenang. Di seberang pulau Lingka terdapat pulau Bertam, terdapat sebuah masjid di pulau Bertam, penduduknya terdiri dari Suku Laut , lebih 50 % beragama Islam.

Tak jauh dari mushala yang kami namakan mushala TAQWA itu  ada sebuah  gubuk kecil ukuran 3 x 4 meter , disitulah ustadz Masri tinggal. Persis di depan Pulau Lingka terletak Pulau Gara, di Pulau Gara pula  seluruh Suku Laut yang menetap disana adalah muslim.

Kehidupan nelayan disitu pun tak jauh berbeda dengan di Selat Desa, malah boleh dikatakan lebih parah lagi. Akibat ratusan galangan kapal yang memanjang sepanjang garis pantai  Pulau Batam dan Pulau Pulau disekitarnya, air laut tak memungkin lagi menjadi tempat ikan berkembang biak. Kapal ribuan ton dibina,  berlabuh dan diperbaiki tak terhitung berapa banyak jumlahnya.

Kalau dulu pemuda nelayan disitu menyelam menangkap ketam dan unduk unduk (kuda laut), kini mereka beralih profesi menjadi penyelam besi bekas potongan pembuatan kapal. Celakanya besi scrap itu ternyata menjadi masaalah. Terkadang mereka berhadapan dengan moncong senjata dari aparat yang menjaga area.

Kemarin pula  saat kami mengantar  ustadz Masri, 4 orang pemuda Pulau Gara tertuduh mengambil potongan  besi yang sudah “tercampak”  ke dalam laut. Kini mereka di dalam “pengawasan” kepolisian.

pelantar pulau kubung depan, di depan terlihat pulau todak.....

pelantar pulau kubung , di depan terlihat pulau todak...

Pulau Teluk Nipah

Paulau Teluk Nipah terletak sekitar 4 mil dari Kampung Baru Pulau Galang Baru, untuk mencapai Pulau Galang Baru harus melalui jembatan 6 (enam) terlebih dahulu, tak jauh dari Pulau Teluk Nipah itu terletak Pulau Nanga, Pulau Sembur dan arah ke Timur adalah Pulau Karas.

Di Pulau Teluk Nipah ini pun banyak orang  Suku Laut bermukim, sekitar 20 tahunan yang lalu mereka di mukimkan disitu, saat itu penguasa Batam adalah alm. Mayjen Soedarsono. Dari puluhan kepala keluarga yang tinggal disitu  hanya sekitar 7 kepala keluarga saja yang beragama Islam.

Di pulau itu kini ada ustadz Dari, ustadz asal Medan ini sementara tinggal bersama pak Abdullah, pak Abdullah pria tua usianya sekitar 70 tahun asal Flores yang sudah berpuluh tahun menetap disana , matanya telah buta tak dapat melihat lagi, berjalan pun Ia dituntun.  Pak Abdullah ini lah yang mewakafkan sebidang  tanahnya untuk kami bangun sebuah mushala kecil.

Kini anak anak Suku Laut yang muslim telah dapat belajar mengaji dengan ustadz  Hadi, mereka tidak lagi harus pergi ke pulau Nanga berciau. Kalau hari hujan dan gelombang seperti saat ini, jangan kan menyeberang laut, nak berangkat ke mushala di dekat rumah saja  berat rasanya.

Sejak sepekan ini hujan turun tiada henti, hampir seluruh wilayah Batam hujan turun terus menerus. “jadi pak RT dari Melagan tak dapat datang” kata ustadz Dari via ponselnya. Pak RT Pulau Melagan ini adalah yang membangun mushala dan rumah untuk ustazd Dari. Pulau Melagan pula terletak antara Pulau Karas dengan Pulau Teluk Nipah.

Pulau Boyan

Memang dalam  pekan terakhir ini kami rada sibuk, maklum kami kedatangan tamu, yaitu ustadz kiriman AMCF dari Jakarta. yang akan di tempat kan di pulau pulau terpencil di kepulauan Riau.   Ada yang akan ke Natuna, Lingga, Tanjung Balai Karimun dan di kepulauan Batam sendiri.

Salah satunya adalah ustadz Tasman. Ustadz yang masih belum berkeluarga ini di tempatkan di Pulau Boyan. Pulau Boyan tak berapa jauh dari Senggulung atau Pulau Buluh. Di Pulau Boyan itu kami dirikan juga sebuah mushala, sama bentuk dan ukurannya dengan yang di Pulau Lingka.

Di Pulau Boyan ada Pak Panjang, pak Panjang ini adalah orang Suku Laut lelaki yang paling tua agaknya.  Dia lah yang menganjurkan kan kepada kami untuk mendirikan mushala disitu.

Tidak semua suku laut di Pulau Boyan yang kecil itu beragama Islam. Ada keluarga yang ibunya Islam tetapi anak anaknya sudah menganut agama lain. Mereka semua adalah masih kerabat pak Panjang, orang pulau itu memanggil pak Panjang  atok.

Pak Panjang telinga nya rada pekak, maklum sudah tua, itulah sebabnya dia mengharapkan ada sound system atau load speaker terpasang di mushala, agar laungan azan terdengar. Memang belum ada pengeras suara di mushala – mushala yang kami dirikan.

Ustadz Tasman sementara ini tinggal  di rumah  pak RT. Kemarin ada sumbangan beberapa helai sajadah dari pak Yahya untuk mushala di Pulau Boyan ini. Pak Yahya adalah orang Dinas Pendidikan Kota Batam.

Di Pulau Pulau sekitaran Batam ada 19 buah mushala yang sudah selesai dan sedang dibangun, sebagian besar mushala itu sangat membutuhkan sajadah.   Maklum lah karena keberadaan mushala itu memang di tempat minoritas muslim terutama suku laut yang memang sangat membutuhkan bantuan.

Kemarin kami juga mendapat bantuan beberapa buah tangki air kapasitas 1.000 ton yang terbuat dari fiber glass dari seorang anggota KPU Batam,  tangki-tangki air tersebut telah kami distribusikan ke mushala yang membutuhkan.

Siapa lagi agaknya menyusul ya..?????

%d blogger menyukai ini: