Merentasi Hutan Belantara Bumi Burma, Qurban 1433 H


Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H

Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H


Pagi itu Jumat (26/10), dicheck point keberangkatan Imigrasi di Ra Nong Thailand penuh sesak, antrian mengular panjang sampai ketempat penjualan ikan. Buletin Jumat salah seorang yang ikut antri dalam barisan itu.

Di Thailand pelaksanaan Idul Adha 1433 H, adalah sama dengan di Arab Saudi, yaitu hari Jumat 26 Oktober 2012, sementara di Myanmar , sebagaimana kita maklumi, pemerintahnya melarang kegiatan yang berbau pemotongan hewan sapi/lembu itu. Kita juga tahu sebagian besar pemeluk agama di negeri para biksu itu menganggap suci sapi/lembu. Tragedi pembantaian Muslim minoritas Rohingya di Arakan, berdampak juga sampai ke Rangon, bahkan hampir seluruh wilayah Myanmar (Burma).

Menurut KBRI di Rangon, mereka tetap shalat idul adha dan pemotongan hewan qurban hari Jumat. Namun di tempat lain terutama di kota-kota, umat Islam melaksanakan shalat hari Sabtu (27/10). Staff KBRI ini juga menyarankan kepadaku kalau hendak ke Myanmar, harus applay izin dulu ke Jakarta. “Kalau langsung datang (VOA), nanti bikin repot, kami harus datang ke Imigrasi” ujar staff perempuan yang kuhubungi melalu telpon selular, apakah sudah bisa masuk ke Rakhine.

Selat Andaman

Selat Andaman

Selesai saja pasport dicop, aku bekejar ke boat yang telah menunggu di dermaga.Sengaja kami charter boat seharga 200 baht. Boat melaju ke ke pos pertama 50 bath lagi harus dibayar ke petugas imigrasi dan bea cukai yang ada di satu pulau yang masih wilayah Ra Nong Thailand.

Dari pos pertama tadi ada satu pulau lagi yang harus disinggahi, pulau paling ujung, setelah itu kita akan kelaut bebas,Laut Andaman. Di pos ini hanya dari jauh kita tunjukkan buku paspor masing-masing penumpang. Di pos itu beberapa petugas yang memakai baju loreng hijau seragam lengkap dengan senjata laras panjang yang tersandang di bahu.

Hampir 30an menit melalui selat Andaman, kita akan tiba di satu pulau pula, pulau ini sudah masuk wilayah Burma, semua barang bawaan diperiksa oleh petugas. Barulah kita akan merapat ke dermaga khusus boat yang tidak jauh dari kantor imigrasi di kota Kok Song Myanmar.

Sama dengan di Ra Nong Thailand, di check pont imigrasi Kok Song Myanmar ini pun penuh sesak. Tiba giliranku bertatap dengan petugas imigrasi, petugas itu membolak balik buku paspor milikku, seakan tak percaya ada paspor hijau milik orang Indonesia , mau datang ke Kok Song. Agak tersenyum petugas itu, melihat stempel imigrasi Myanmar yang sudah beberapa kali tertera di pasporku. “Ten Dollar” ujarnya. Tak tok tak, tertera masuk tanggal 26 keluar tanggal 8 Nopember 2012.

Di Kota Kok Song atau dalam bahasa melayu berarti Pulau Dua, tidak terlihat suasana Idul Adha, kalau pun ada, banyaknya orang lalu lalang di pintu masuk tadi, dari cara berpakaian menunjukkan kalau mereka Islam. Di Kok Song ada beberapa masjid, pun tak terlihat suasana pemotongan hewan.

Nun jauh di pelosok hutan, di teluk – teluk sepanjang pantai laut Andaman, banyak bermukim komunitas muslim yang sudah ratusan tahun menetap disana. Jauh sebelum negara Myanmar terbentuk. Komunitas ini sebagian berasal dari Langkawi, seorang dari mereka bernama Tengku Yusuf.
“Sejak tok – tok kami sudah tinggal disini” ujar nya menerangkan tentang keberadaan mereka disalah satu teluk indah, daerah penghasil emas dulunya.

Tidak ada akses jalan darat ke pemukiman – pemukiman itu, semua ditempuh melalui perjalanan laut. Kalau tetap ingin memaksanakan jalan darat harus ditempuh dengan masuk hutan keluar hutan, dan berjalan diatas aliran sungai yang kering berbatu-batu kiloan meter jauhnya. Dari satu teluk ke teluk lainya bisa empat jam perjalanan dengan sepeda motor, bukan hanya hutan saja dilalui, tetapi naik bukit dan turun bukit yang berbatu-batu cadas.

Di pemukiman itu banyak penduduk usia diatas 60 tahun yang dapat dan menulis huruf jawi (arab melayu),dan tentunya berbahasa melayu.”Sejak 20 tahun terakhir ini, banyak pula orang macam Ali ini kat sini” kata Tengku Yusuf menerangkan sembari memperkenalkan Ali. Ali pemuda 30 an itu ikut membantu memotong hewan Qurban, kulit Ali rada hitam hidungnya mancung, giginya terlihat agak kemerah merahan, karena mereka disana suka makan sirih.

“Kami Shalatnya (maksudnya Idul Adha) tadi” ujar Tengku Yusuf lagi. “Karena kemarin (Kamis) wukuf di Arafah” ujarnya lagi. Tengku Yusuf terus bercerita tentang masa lalu sambil rebahan di lantai masjid kecil yang baru saja selesai dibangun mereka. Badannya terlihat lemah, senang sekali kelihatan dia dengan kedatanganku. Banyak yang diceritakannya kepadaku, yang tak mungkin kutulis satu persatu di media ini. Banyak yang diharapkannya dan penduduk kampung itu,tak terkecuali tragedi Arakan yang menyayat hati. Tengku Yusuf pun sama tak berharap terus membayar upeti dari hasil jerih payah mereka, kepada pemerintah yang tak pernah memperhatikan kehidupan sosial mereka.

Bukan kehendak mereka seperti itu, jauh sebelum perang dunia meletus mereka adalah bangsa yang berdaulat. Tidak disekat-sekat batas negara nisbi, dan ambisi segelintir manusia. Jauh sebelum pemerintah Junta memerintah mereka adalah manusia yang bertamadun. Jauh sebelum traktat London diterapkan.

Hari menjelang petang, aku masih terpikir dan teringat perjalanan masih jauh, akan 4 jam lagi melalui hutan semak belukar dan bebatuan air sungai yang mengering sebatas mata kaki, untuk pulang. Tiga kali terguling-guling dan terjerembab dari boncengan sepeda motor saat menuruni bukit bebatuan,sewaktu datang ke kampung itu tadi, bukanlah hal yang pernah kubayangkan sebelumnya. Seakan Tengku Yusuf membaca pikiranku, mengajakku untuk bermalam di kampung itu saja, kahawatir hari telah gelap.

Masih banyak yang akan di kerjakan esok harinya,ditempat lain pula, kami putuskan berangkat pulang, petang hari itu juga, nun jauh disana terlihat indah ciptaan Allah, di ujung pepohonan puncak bebukitan laut Andaman, hari ke 12 bulan Zulhijjah 1433 H, bulan purnama mulai mengambang, menerangi perjalanan kami, merentasi hutan belantara, bumi Burma.

Sampai jumpa lagi, ilal liqok. Semoga Allah membebaskan penderitaan saudara kami yang ada disana.

Sop Ikan Gabus Jantung Pisang


salah satu perbatasan Vietnam dengan Kamboja

salah satu perbatasan Vietnam dengan Kamboja

Dari Perjalanan 3 pekan ke Beberapa Negara Asean

Raja Norodom Sihanok agaknya tak sempat melihat bangunan tinggi yang kini sedang tumbuh pesat di negaranya, dua tahun yang lalu nyaris tak terlihat gedung tinggi lebih dari 6 tingkat. Bertahun menderita sakit dan dirawat di negeri orang, Raja yang sudah menyerahkan tahta kepada anak lelakinya itu wafat awal Oktober 2012 yang lalu.

Phnom Phen kini sedang berbenah, dua tahun yang lalu saat Buletin Jumat (BJ) mengunjungi negara Kamboja itu, tak berlaku bagi warga negara Indonesia bebas visa, meskipun sesama negara Asean, namun sejak awal 2012, bagi WNI perlakuan sama yaitu bebas visa sama seperti kita masuk ke Malaysia.

Berpikir dua kali kalau kita dari Phnom Phen jalan darat ke Vietnam terus kembali lagi ke Phnom Phen , akan dikenakan duakali pembayaran visa. Lumayan mencapai 30 – 50 US dollar

September 2012 yang lalu BJ, kembali mengunjungi Phnom Phen, kali ini berangkat dari Thin Yinh kota yang terletak di Barat Vietnam, kota ini berbatasan langsung dengan Provinsi Kampong Cham di Kamboja, Border (perbatasan) ini baru saja dibuka dan diresmikan, oleh kedua negara yang bertetangga itu.

Jalanan menuju imigrasi Kamboja masih berlumpur, karena musim hujan dan belum selesai diaspal lagi, BJ, bersama ustadz Abdullah asal dari Kampong Champa yang datang menjemput BJ di Thin Yinh, berjalan kaki melalui kedua border itu.

Ada sembilan Border banyaknya pintu masuk dan ke kedua negara itu, sama dengan Border Thin Yinh Vietnam – Kampong Champa Kamboja ini, ditemukan tempat perjudian. Border yang hanya dibatasi kebun ubi yang cukup subur itu, terasa kontras melihat bangunan yang ada disebelah Vietnam dengan yang ada disebelah Kamboja.

Memasuki Kamboja , kita akan melihat sebuah masjid kecil yang sudah usang, sementara tadi saat meninggalkan Vietnam kita melihat bangunan Casino yang cukup lumayan besar.

Di Thin Yinh Vietnam banyak bermukim warga Vietnam yang muslim, di kota itu terdapat tidak kurang 7 masjid besar dan kecil. Sementara di Kampong Champa, adalah penduduk muslim yang terbanyak di Kamboja , konon kemarilah sebagian besar muslim champa dari kerajaan Islam Champa dulu hijrah saat kerajaan yang salah seorang putrinya itu menikah dengan Raja Mojopahit dianeksasi oleh Vietnam yang dibantu oleh China.

Pagi itu setiba di kampung Champa, BJ disuguhin makanan khas Kamboja , berupa sop ikan. Sop ikan ini dicampur dengan irisan jantung pisang, sementara ikannya sejenis ikan rawa, ada yang menyebutnya ikan gabus atau badau. Irisan jeruk nipis menambah segar rasa sop ikan jantung pisang ini.

Dua tahun yang lalu saat BJ berkunjung ke Kampong orang-orang Champa yang masih tetap dapat berbahasa melayu ini, keadaannya masih tetap sama nyaris pula tak ada perubahan yang berarti, jalan masih tetap becek dan tak beraspal, genangan air dibawah rumah panggung berlumut dan berwarna hijau masih dominan. Tidak seperti tempat lain dan daerah lain yang pesat perkembangannya. Ustadz Abdullah hanya tersenyum menanggapinya.

Esok harinya kami dari Kampong Champa menuju Phnom Phen, Istana Raja masih seperti dulu namun kini, kenderaan tidak dibenarkan lagi melalui jalan yang ada didepan Istana. Bunga Kamboja masih dominan menghiasai batas jalan raya. Tidak jauh dari Istana Raja berbelok arah ke Timur akan di temui satu bangunan Masjid yang kini sedang di renovasi total. Itulah masjid Besar Phnom Phen, terkadang orang menyebutnya masjid Dubai, karena semua biaya pembangunannya di tanggung oleh pihak Dubai.

Imam Achmad yang biasanya tinggal di rumah samping masjid kini tinggal di ruko yang tak jauh dari masjid itu, di ruko itu pun tersedia makanan halal. Entah kebetulan menu yang ada ternyata adalah sop ikan, dan bercampur dengan jantung pisang pula.

Agak terkaget kaget sedikit keesokan harinya saat buang air besar , tinja berwarna hitam legam.
Kalau anda dalam waktu dekat ini berkunjung ke Phnom Phen, anda masih sempat melihat Jenazah Raja Norodom Sihanok yang masih disemayamkan di Istanyanya , selanjutnya dibalsem?.
Dan jangan lupa menyantap sop Ikan Gabus Jantung Pisang, pasti ketagihan dan tak usah kaget kalau yang dikeluarkan keesokan harinya berwarna hitam……

Sholat di Masjid Pengungsi Rohingya


bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar

bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar


Rak Nong adalah salah satu provinsi di Thailand yang berbatasan langsung dengan Kok Song Myanmar. Kedua wilayah ini dipisah oleh Laut Andaman. Dari Bangkok ke Rak Nong di tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan Bus. September 2012 yang lalu saya berkesempatan kembali mengunjungi Rak Nong.

Di Provinsi yang dikelilingi dengan perbukitan hijau ini banyak dijumpai warga Myanmar keturunan Rohingya. Tidak diketahui jumlah pasti. “Bisa ribuan banyaknya “ Ujar pak Sobirin sambil menyetir kenderaannya . Pak Sobirin adalah penduduk Rak Nong , pria paro baya ini, senang sekali dengan kedatanganku dan menginap pula di rumahnya. Pak Sobirin dapat berbahasa melayu dengan lancar. Bahasa Myanmar pun dikuasainya dengan fasih. “Sayapun pandai bahasa Bangladeh” ujarnya lagi.

Tengah hari itu Jumat (14/9), aku dibawa oleh pak Sobirin ke suatu masjid yang khusus jamaahnya warga Rohingya. Masjid yang terletak dipinggiran kota ini bentuknya memanjang, karena memang bekas ruko, dan benar dipenuhi jamaah, hampir semua warga Rohingya. Tetapi kalau ditanya , mereka tak menjawab betulkah mereka warga Myanmar.

Dari jamaah yang hadir nyaris kami berdua saja yang lain warna kulitnya. Pada saat masuk kedalam masjid , kulihat khatib sudah memberikan khotbahnya , aku bergegas shalat dua rakaat dan duduk dengan tertib di barisan kedua . Tetapi anehnya pak Sobirin menggamitku dan mengajakku pindah duduk, agak ke ujung barisaan.

Aku mengikutinya, karena enggak enak hati sebagai tamunya. Sama seperti saat di mobil sewaktu menuju masjid, pak Sobirin pun terus bercerita. Padahalkan khatib sedang khotbah pikirku dalam hati, mengapalah pak Sobirin ini terus bercerita. Memang terus terang sedikitpun aku tak tahu apa yang diutarakan khatib didepan mimbar itu.

Hampir 30 menit khotbah itu berlangsung. Setelah itu kulihat hampir semua jaamaah shalat dua rakat. Dan sang khatib tadi turun , kulihat juga melaksankan shalat , tak lama kemudian azan dikumandangkan , dan seorang khatib yang lain naik keatas mimbar.

Khatib yang baru ini khotbah bercampur bahasa arab sebagaimana layaknya khotbah di tempat kita (Indonesia) tetap dua khotbah berhenti sejenak dan hanya beberapa menit saja sudah selesai , dan dilanjutkan dengan shalat dua rakaat. Selesai lah sudah pelaksanaan shalat jumat hari itu.

Setelah itu barulah kutahu ternyata khotbah yang pertama dengan khatib yang lain tadi yang kukira adalah khotbah jumat bukanlah khotbah , itu hanyalah semacam ceramah sebelum khotbah. Menurut Ustadz Zenal Satiawan Lc , tuntunan shalat Jumat itu , ya seperti itu , lamanya bacaan khotbah, tidak lebih lama waktunya dari pada shalat itu sendiri.

Hem panteslah pak Sobirin tadi masih terus bercerita dengan ku . Dia tahu bahwa itu bukan khotbah , hanya ceramah biasa.
Jadi sangat beda sekali misalnya dengan di beberapa masjid di Batam. Jumat yang lalu khatib khotbah lebih 30 menit, sementara shalatnya tak sampai 5 menit. Banyak masjid di Malaysia pun berbuat hal yang sama dengan di Indonesia, khotbah berlama-lama dan shalatnya sendiri hanya sebentar.

Masjid Vietnam yang Dibangun 2 Negara


Masjid itu kini sudah dipugar, terlihat megah. Saat datang kesana dua tahun yang lalu tahun 2010, bangunan masjid yang sudah berdiri ratusan tahun itu di bongkar total. Kini, Masjidil Rahim demikian namanya dibangun kembali oleh dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia.

Masjid Rahim terletak di 45 Nam Ky Khoi Ngia Q1 Provinsi Ho Chi Min Saigon, Vietnam. Ada delapan masjid seperti masjid Rahim ini di kota Saigon. Yang menarik Imam masjid Rahim adalah orang Boyan (Bawean) , tetapi beliau tidak lahir di Indonesia. “Umur 10 tahun saya dibawa orang tua kesini dari Singapura” jelas tok Imam dengan suara agak bergetar. Usia tok Imam yang masih sehat ini sudah berkisar 70 an.

Disekitar masjid itu, ada beberapa keluarga kerabat tok Imam sesama warga Boyan yang dulu bersama orang tuanya datang ke Saigon mengadu nasib dari Singapura. Itulah mungkin, masjid ini pun disebut masjid Boyan.

Agak tersenyum kecut tok Imam saat kuajak bahasa ibundanya (Bawean), “Sudah tak faham lagi “ ujarnya kepadaku. Sambil berbincang, aku diajak tok Imam menemui isterinya, rumah tok Imam hanya berjarak pagar dengan masjid , Aku tak tahu apa yang dibicarakannya dalam bahasa Vietnam, mungkin agaknya tok Imam yakin betul kalau aku benar orang Boyan, jadi seakan mengingatkan beliau dengan leluhurnya.
Menikah dengan gadis Vietnam , sekitar 50 tahun yang lalu, tok Imam ini dikarunia 4 orang anak, tetapi tak seorang pun dari anak-anak beliau yang dapat berbahasa melayu. Tok Imam , suami isteri telah menunaikan ibadah haji .

Mana tahu ada waktu dan rezeki kalau anda berkunjung ke Ho Chi Min atau Saigon Vietnam, tanyalah masjid Boyan insyaAllah orang akan tunjuki tempatnya.

Di Vietnam Islam bukan lah agama yang asing , abad ke 11 hijrah berdiri kerajaan Islam yang termashur disana , yaitu kerajaan Melayu Champa. Champa termasuk kerjaan Islam awal di Nusantara , Champa yang terletak pertengahan Vietnam dan arah k e Selatan , ternyata banyak ditemui masjid tua , apalagi daerah yang berbatasan dengan Kamboja.

Aneksasi Vietnam terhadap kerajaan Islam Champa, dan perang saudara terus menerus , serta kuatnya pengaruh asing (Amerika dan Negara Timur sosialis lainnya) membuat umat Islam disana bertempiaran ke merata penjuru Indo china .
Jadi tak heran , seperti di Provinsi An Giang   baca : Masjid Kecil di An Giang Vietnam , kota kedua terbesar dan terbanyak penduduknya setelah Ho Chi Min ada masjid kecil yang sudah ratusan tahun usianya.

Dan diperbatasan antara Vietnam dan Kamboja , terutama di daerah Border , akan kita temui masjid – masjid tua, dan juga orang tua renta yang masih dapat bertutur bahasa melayu. Senang sekali mereka, melayani kita berkomunikasi dengan bahasa melayu , seperti halnya tok Imam Safei , yang menerima kami rombongan dari Malaysia dan Indonesia.

Kami pun senang dapat berkomunikasi dengan bahasa ibunda.

Masjid Kecil di An Giang Vietnam


Tok Imam Soles, bersama kedua putra dan dua orang cucu lelakinya, penerus generasi Champa di Vietnam

Tok Imam Soles, bersama kedua putra dan dua orang cucu lelakinya, penerus generasi Champa di Vietnam

Hari ke empat perjalan bersama Yayasan Amal Malaysia menelusuri komunitas Muslim di Vietnam terutama di Saigon (Ho Chi Min). Meskipun bukan sebagai ibukota Vietnam , Kota Ho Chi Min yang terletak di Selatan Vietnam ini adalah kota yang terbesar dan yang paling banyak penduduknya dari pada Ha Noi sebagai ibukota negara komunis itu.
Petang itu Ahad (9/9), kami keluar dari kota Chau Doc, dua jembatan penyeberangan menggunakan ferry kami lalui kemudian sebuah lagi jembatan yang cukup panjang yang membelah anak sungai Mekong itupun kami lewati. Barulah rombongan kami memasuki Thanh pho (kota) Long Xuyen. Kota Long Xuyen ini berada di provinsi An Giang.

Dua tiga kali pula kenderaan yang kami tumpangi berputar-putar mencari alamat dimana masjid Salamat yang kami cari itu berada. Ternyata, Masjid Salamat atau surau Salamat ini terletak diantara dua bangunan ruko 4 lantai yang ramai, hanya lokasi masjid itu saja yang ada tanah kosong di depannya. Tetapi persis jalan masuk di tanah kosong  ke masjid itu dipenuhi dagangan orang berjualan buah-buahan. Bangunan masjid itu tidak mencerminkan masjid pada umumnya. Masjid yang hanya berukuran 3 x 4 meter ini memang benar-benar  terletak di tengah tengah jantung kota Thin (Provinsi) An Giang Vietnam itu. Yang menjadi imam dan Hakem di masjid dan komunitas Islam yang hanya 5 keluarga itu adalah Hakem Chau Mach ( dipanggil Muhammad Soles) .

Masjid itu terlihat kumuh,  terhimpit dan terjepit ditengah gedung  megah dan riuhnya pembangunan kota.  Luas tanah tapak surau sekitar 12 x 20 meter , membuat lokasi surau itu menjadi inceran investor . Itu juga membuat pemikiran tersendiri bagi tok Imam Soles. Tetapi sejak setahun yang lalu tok Imam Soles telah mendapatkan semacam sertifikat tanah kepemilikan dari pemerintah Vietnam, sertifikat itu  ditunjukkan oleh tok Imam yang dapat juga sedikit berbahasa melayu Champa ini kepada kami.

Masjid Salamat di Nguyen Trai , Phuong (distric) My Long, Thanh pho (Town) Long Xuyen, Thinh (provinsi) An Giang Vietnam

Masjid Salamat di Nguyen Trai , Phuong (distric) My Long, Thanh pho (Town) Long Xuyen, Thinh (provinsi) An Giang Vietnam

Dinding surau Salamat tersebut terbuat dari papan dan potongan – potongan triplek yang sudah lapuk dan tidak bercat. Ada lembaran seng selebar 60 cm, tinggi 2 meter,
ujungnya berbentuk kubah di cat hijau, dibedirikan diatas bumbung bangunan itu, potongan seng (kaleng)  itulah yang menandakan bahwa bangunan itu masjid . Sebagian atap bangunan surau itu dilapisi dengan terpal dan plastik, karena atapnya sudah bocor disana sini.  Iba hati melihatnya.

Senang sekali rasanya menemukan ada masjid di Provinsi An Giang ini, An Giang salah satu provinsi terbesar setelah Ho Chi Min, dan hanya itulah masjid yang ada di kota yang berpenduduk jutaan orang ini. Bagaimana tidak senang, perut bakalan terisi dengan makanan segar dan halal. Meskipun sebelumnya rombogan kami sudah sepakat makan malam dengan roti dan apa adanya.

Menunggu hidangan selesai di masak, tok Imam atau tok Hakim yang ramah ini terus tertawa, senang sekali hatinya dengan kedatangan kami. Cerita lancar mengalir melalui dua orang penterjemah kami, Hasan dan Sani. Di kota Long Xuyen hanya keluarga tok Imam Soles itu sajalah yang muslim. Ada 3 petak rumah disekitar masjid Selamat. Semuanya masih kerabat tok Imam Soles.

Baju rompi peninggalan leluhur keluarga Champa

Baju rompi peninggalan leluhur keluarga Champa

Yang menarik, Tok Imam yang masih keturunan kesekian dari panglima Kerajaan Islam Champa ini masih menyimpan satu bukti yang diwariskan turun temurun, bahwa mereka adalah keturunan bangsawan Champa.Warisan itu berupa baju rompi yang sudah sangat lusu, ada beberapa koyakan disebelahnya menunjukkan kain itu sudah sangat tua dan mulai lapuk. Hampir semua bagian depan dan belakang baju rompi itu bertuliskan huruf arab yang berisikan sislisah (tarombo).

Tok Hakim Soles, tetap menjaga warisan itu, dan tetap menjaga keberadaan masjid kecil yang jendelanya pun hanya berjarak 30 cm dari lantai, terpaksa lantai masjid di
tinggikan,  karena kalau tidak ditimbun dan ditinggikan akan tergenang air, jalan raya sudah jauh lebih tinggi dari lantai bangunan masjid, air kotor dari saluran parit  baik dari jalanan maupun roku sekitarnya akan menggenangi masjid.

Menurut tok Imam Soles sewaktu dia kecil dulu dan ayahnya masih hidup, Surau itu berpanggung. Sebagaimana layaknya surau di kampung-kampung melayu. Pesan datuk dan bapaknya kepada tok Imam Soles untuk terus menganut Islam dan terus menjaga warisan surau kecil itu, kini diteruskannya kepada dua orang anak lelakinya. Seorang anak lelakinya sudah menikah dan telah mempunyai anak pula.

Tetapi Tok Hakim Soles yang selalu senyum dan tertawa lebar itu, agak terkesima sedikit. Fasalnya saat kutanya soal pembelajaran Islam di komunitas itu. Aku mendengar saat tok Imam melaksanakan shalat magrib. Bang Zul dari Amal Malaysia yang kuberitahu soal lafaz bacaan ayat2 maupun Fatihah tok Imam yang agak janggal sedikit dari biasanya. Aku tak tahu apa yang ada dalam fikiran bang Zul mendengar pengakuan tok Hakim , darimana tok Hakim itu belajar bacaan shalat dan lainnya. Kami pun sepakat berbagi tugas, bang Zul kusarankan masuk kedalam rumah membimbing tok Hakim meluruskan bacaan shalatnya, sementara semua anak dan menantu tok Hakim berkumpul di dalam surau ,belajar huruf hijaiyah bersamaku.

Banyak yang kami bincangkan dalam pertemuan itu, bagaimana Tok Hakim dan keluarganya belajar Islam dari kaset. Menurut tok Hakim Soles ini beberapa waktu yang lalu ada juga orang datang mengajarkan mengaji kepada keluarga tok Hakim, tetapi tak lama bertahan disitu. Kini anak tok Hakim Soles ini belajar Islam melalui internet, seorang putranya yang baru tamat dari High School, dapat menggunakan internet.

Muslim nama putra tok Imam itu, saat kuajak untuk sekolah ke Batam, belajar Islam dan bahasa Arab matanya berbinar binar. Hasan (Thap Dai Truong Tho)  yang dulu pernah belajar di Mahad di Batam , menyemangati dalam bahasa Vietnam yang tak kumengerti . Tetapi aku faham apa yang dikatakan Hasan, karena hal itu selalu diulang – ulangnya. “ Ibu dan Bapaku, serta keluargaku masih belum dapat shalat dan belum mengenal Islam sebagaimana Islam yang sebenarnya, karena mereka masih Bani” .

Islam Bani adalah Islam yang banyak pengikutnya di Selatan Vietnam terutama di provinsi dimana Hasan tinggal, mereka tidak sembahyang, tidak puasa, semua urusan tentang ibadah diserahkan kepada Tok Hakim dan tok Imam mereka . Bahkan berkahtan (sunat) pun mereka tidak laksanakan. Hasan pun selalu mengulang – ulang perkataan yang sama, bagaimana dia dulu belajar membaca quran, shalat di Batam dan Jakarta. Kini Hasan dapat lancar berbahasa Indonesia dan sedikit Arabia, berkat belajar di Mahad.

Menjelang tengah malam kami tinggalkan masjid Salamat dengan penuh keharuan dan kenangan, keluarga tok Imam Soles mengantarkan kami sampai ke bus yang telah menunggu kami , pelukan persahabatan membuat terharu , Insyaallah bertemu lagi.

Dan ada lembaran kartu nama yang menempel di tanganku yang isinya antara lain : DONGA BANK SWIT CODE : EACBVNVX BO : 0107 584 710 ATAS NAMA CHAU MACH , Tok Imam ini tidak pernah ingin menyampaikan keluhan kondisi surau peninggalan leluhurnya sejak ratusan tahun yang lalu itu. Pantang baginya, tetapi kali ini luluh juga hatinya memberikan akun bank Donga itu kepada kami.
Mudah mudahan urusan imigrasi Muslim lekas selesai , dan segera dapat berangkat belajar Islam yang benar. Mudah mudahan juga ada insan yang tergerak hatinya membantu membangun ulang masjid yang tak layak disebut masjid itu.

Amin ya Allah ya Robbal alamin…..

%d blogger menyukai ini: