Kasus Dana Bantuan Sosial Batam : Tatang Sutarna Dilepas Anak Yatim di Bandara


sebagian pengurus asosiasi panti asuhan (aspan) kota Batam

sebagian pengurus asosiasi panti asuhan (aspan) kota Batam

Dana Bantuan Sosial (Bansos) Batam, belum ada kemajuan. Sejak “kepergian” Tatang Sutarna kamis (20/05) yang lalu, hingga ke hari ini belum juga ada panggilan ulang kepada tersangka, padahal sebelum nya salah seorang pegawai pemko Batam bagian keuangan telah di panggil sebanyak 3 (tiga) kali. Tak diindahkan, mungkin karena Tatang Sutarna yang saat itu masih menjabat Kajari Batam tak lama lagi akan di mutasikan ke Jakarta.

Bermacam komentar tentang Tatang yang hanya beberapa bulan saja menjabat sebagai Kajari Batam. “Tak pantas rasanya kita tak melepas beliau” tulis  Marthin Langi dalam sms nya kepadaku.

Sehingga jadilah pada pagi hari kamis sekitar pukul 7.30 wibb kami bergegas ke Bandara. “Yang mana yang sempat sajalah” ujarku , karena tak semua anak panti yang dapat melepas kepergian Tatang , maklum sebagian anak anak asuh masih ujian dan bersekolah.

Dengan dua Suzuki Carry kapasitas masing-masing 16 orang kami berangkat ke Bandara Hang Nadim. Dua anak lagi masih tertinggal karena tak muat di Carry, kunaikkan di mobil Toyota Rush. “Sudah sampai dimana” tanya bu Marthin Langi dalam handphone nya, karena memang saat itu hari telah pukul 8 pagi.

Setiba di affron terlihat mantan Kajari itu berdiri dekat pintu masuk, sebagian anak anak asuh binaan ibu Marthin Langi mengelilingi beliau, anak anak dari mobil carry  berhamburan menyalami beliau. Kertas karton bertuliskan “SELAMAT JALAN PAK TATANG” dibentang mereka. Terlihat mantan Kajari Batam itu tertegun, mungkin dia tak menyangka kami akan datang, sebenarnya jauh sebelum nya kami juga akan datang ke Kejaksaan , mensuport beliau dalam mengusut dana bansos yang diselewengkan itu. Tetapi atas permintaan petinggi Batam “Doa bersama Anak Yatim” di depan Kejaksaan Negeri Batam tanggal 19 Arpil 2010 batal kami laksanakan.

Tak berapa lama terlihat Kajari Batam yang baru datang bersama  dengan staff kejaksaan lainnya, belasan orang banyaknya. “Pak Ade juga punya panti asuhan lho di Bandung” ujar pak Tatang kepada kami.  Pak Ade Kajari yang baru ini terus menyalami dan disalami anak anak asuh yang ada disitu. Pesan untuk pak Ade agar meneruskan pengusutan Dana Bansos ini kami utarakan disitu disaksikan pak Tatang dan jaksa-jaksa lain nya serta beberapa orang pengurus panti yang hadir saat mengantarkan pak Tatang ke Jakarta.

Dibawah ini kutipan dari koran Batam Pos.

Sedih Dilepas Anak Yatim

Di tengah upaya untuk membongkar kasus korupsi dana bantuan sosial (bansos) tahun 2009 senilai lebih dari Rp3 miliar, Tatang Sutarna dicopot dari jabatannya sebagai Kajari Batam. Ia digantikan Ade Eddy Adhyaksa. Tatang pun meninggalkan Batam dengan penuh haru. Kenapa?

Sejak pagi, sekitar 70 anak yatim dari beberapa Panti Asuhan di Batam telah menunggu mantan Kepala Kejaksaan Negeri Batam Tatang Sutarna, yang akan meninggalkan Batam karena masa tugasnya di Batam berakhir.

Anak-anak tersebut menunggu dengan sabar untuk melihat Tatang sebelum benar- benar meninggalkan mereka. Bagi pengurus dan anak-anak panti asuhan di Batam, Tatang dinilai sosok yang berani mengungkap dugaan kasus korupsi jatah bantuan untuk mereka.

”Dari sekian banyak pejabat hanya Pak Tatang saja yang berani mengungkap korupsi, terlepas kelemahan dan kekurangannya. Dia tetap manusia biasa, tapi kami tetap menghargai upayanya selama ini,” ujar Reni Elfira, pengasuh Panti Asuhan Hang Tuah Batam, Bengkong di Bandara Hang Nadim, Kamis (20/5).

Saat Tatang sampai di bandara, anak-anak tersebut langsung menyalami dengan penuh rasa haru. Tatang tampak terkejut. Ia tak menyangka dilepas oleh anak-anak yatim. Ia pun mengatakan pada anak-anak tersebut agar bersabar dan tabah.

”Mudah-mudahan hak kalian akan tetap kalian nikmati, saya juga berpesan agar Pak Ade melanjutkan kasus ini,” ujar Tatang coba menenangkan anak-anak itu.

Tak berapa lama, Tatang masuk ke bandara karena segera akan terbang ke Jakarta. Sambil melambai-lambaikan tangan pada anak-anak, mata Tatang tampak berkaca-kaca. Bahkan bulir air matanya sempat jatuh, namun langsung ia usap dengan tangan.

”Doakan saya,” kata Tatang dengan raut muka sedih, menahan tangis, karena belum sempat ia menyelesaikan kasus bansos.

Para pengurus panti asuhan berharap, pengganti Tatang akan benar-benar mengusut tuntas kasus bansos. Sehingga harapan anak-anak tidak akan sirna.

Mereka juga mengatakan akan menggelar zikir dan doa di halaman Kejaksaan bila kasus tersebut tidak ditangani serius oleh pengganti Tatang. ”Kami hanya berharap agar hak kami bisa kami nikmati,” tambah Reni.

Saat ini, anak-anak panti asuhan hanya bisa berharap-harap cemas menunggu tindakan nyata dari Ade. Tindakan yang akan membuat para koruptor tidak bisa tidur nyenyak di istananya.

Sementara anak yatim harus menahan lapar dan dingin di gubuk yang menjadi tempat berteduh mereka. Karena harus diakui masih banyak Panti asuhan yang belum mempunyai tempat yang layak sebagai tempat tinggal bagi anak-anak yatim.

Upayanya untuk mengungkap korupsi yang melibatkan pejabat di Pemerintahan Kota Batam bisa jadi  mandek di tengah jalan. ”Gimana lagi, pimpinan telah mengeluarkan SK agar saya bertugas ditempat lain, walau berat harus saya jalani,” ujarnya. ***

Hasil quick count pilkada kepulauan riau 2010 (sementara) 2 HMS Menang


Kalau melihat hasil pilkada kepri hingga pukul 21.00 wibb 1.Duo HMS (No.urut 2) = 37 %
2.NKRI (No.Urut 1) = 31.52 %   sementara no 3. Aida berjaya (No. urut 3) = 31.48%

Agak susah angka angka ini berubah, dan kemungkinan untuk satu putaran sebagai mana yang di gemborkan oleh masing masing pasangan.

Sekolah Negeri vs Swasta


Tulisan ini di posting dari Harian Batam Pos.

Wawancara Wartawan Batam Pos M. Nur.

TIAP tahun berita itu jadi headline di media massa terbitan Batam: sekian ribu orang terancam tak sekolah karena daya tampung terbatas. Debat kusir selalu mengiringi persoalan ini, dan sebabnya hanya satu: para orang tua berlomba-lomba, jika tak ingin disebut memaksakan diri, memasukkan anak mereka ke sekolah negeri.

Keinginan para wali murid ini memang jadi masalah tiap tahun. Tiap tahun pula Pemko Batam membangun sekolah baru atau ruang kelas untuk memenuhi situasi itu, sementara di sisi lain sekolah-sekolah swasta banyak yang tak kebagian murid lalu tutup pelan-pelan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Muslim Bidin tak mau disalahkan jika ada sekolah swasta yang tak mendapatkan murid baru. “Masyarakat yang minta sekolah baru,” katanya.

Tahun ini, misalnya, Pemko Batam membangun tiga SD baru, empat SMP baru dan satu SMK. Meski gedung sekolah-sekolah itu belum berdiri, tapi sudah menerima siswa baru. Siswa baru itu nantinya akan belajar menumpang di sekolah lain pada sore hari.

SD 016 Sagulung yang membuka empat kelas, misalnya, siswanya akan menumpang di SD 006 Batuaji. SMP 41 di Lubukbaja yang menerima tiga kelas siswa baru akan menumpang di SMAN 12 Batam. SMP 43 di Batam Kota akan menumpang di SMP 12.

“Saat ini pembangunan sekolah-sekolah baru itu masih dalam proses lelang,” tutur Muslim.

Mengapa banyak wali murid memburu sekolah negeri? Muslim Bidin dan Ketua Harian Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Imbalo Iman Sakti mengatakan, faktor ekonomilah penyebabnya. Kondisi penduduk Batam 70 persen berpenghasilan menengah ke bawah sehingga mereka memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri yang lebih murah biayanya dibandingkan sekolah swasta.

Ambil contoh SMAN 3 Batam, yang termasuk sekolah favorit. Sejak pendaftaran penerimaan siswa dibuka 19 April lalu, sekolah ini diminati 356 calon siswa. Padahal, kapasitasnya hanya tujuh kelas atau 252 siswa.

Untuk masuk SMAN 3, menurut Tapi Winanti, Kepala SMAN 3, calon siswa harus mengikuti sejumlah tes. Ada tes teori, kemampuan bahasa Inggris, psikotes, dan hasil Ujian Nasional. “Dari situ kami ambil 252 anak berdasarkan sistem ranking,” katanya.

Rabu (12/5) lalu, SMAN 3 sudah mengumumkan nama-nama 252 calon siswa yang lulus. Ada 104 anak yang masuk daftar tunggu. “Mereka bisa masuk kalau anak yang sudah lulus tes tak mendaftar ulang. Urutannya dimulai dari ranking 253,” ujarnya.

SMAN 3, kata Tapi, bisa saja membuka delapan kelas baru. “Tapi siapkan gurunya. Kalau orang tua siswa yang minta, ya mereka yang harus siapkan gurunya. Kalau Dinas Pendidikan yang minta, ya Dinas yang harus menyiapkan guru,” katanya menjelaskan.

Kesempatan orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri, kata Imbalo, memang makin terbuka kala Dinas Pendidikan terus menambah daya tampung tiap tahun. Sementara di sisi lain, sekolah swasta tak berpacu meningkatkan kualitas. ‘’Tentu saja orang tua yang berpenghasilan menengah ke bawah itu memilih negeri,’’ paparnya.

Imbalo mengklasifikasikan sekolah dan siswanya dalam beberapa kategori. Ada sekolah negeri bagus yang siswanya pintar atau anak orang kaya seperti SMAN I Batam. Ada sekolah swasta bagus dan sedikit mahal seperti Yos Sudarso dan Kartini. Ada sekolah swasta dan negeri menengah yang siswanya umumnya beraal dari keluarga menengah ke bawah, dan ada sekolah swasta yang kualitasnya jelek sehingga tak mendapatkan siswa.

Toh, tak semua sekolah swasta kekurangan murid. Sekolah seperti Kartini, Yos Sudarso, dan Juwita, kata Imbalo, malah selalu penuh dan sering menolak siswa baru. Selain berkualitas rata-rata, sekolah swasta yang dipenuhi murid tersebut sudah punya segmentasi tersendiri. ‘’Karena kualitas mereka bagus dan mereka yang sekolah di sana orang tuanya berpenghasilan Rp10 juta ke atas,’’ tuturnya.

Beberapa yayasan perguruan swasta yang bernaung di bawah BMPS, kata Imbalo, ada yang mengeluh tak kebagian siswa karena Pemko Batam selalu membangun sekolah baru setiap tahun. Namun BMPS juga tak bisa menyalahkan pemerintah karena pemerintah juga berkewajiban menyediakan fasilitas pendidikan buat warganya.

“Saya tak akan melarang pemerintah buat sekolah baru. Kalau mau bikin, silakan bikin. Swasta harus mengimbanginya dengan meningkatkan kualitas,” kata Ketua Yayasan Pendidikan Islam Terpadu Hang Tuah itu.

Di Sekolah Hang Tuah sendiri, kata Imbalo, ia tak terlalu memikirkan jumlah siswa di sekolahnya itu. Yang penting, katanya, kualitas proses belajar dan mengajar membaik dan fasilitas bertambah. Bahkan, Hang Tuah membebaskan siswa baru dari uang pembangunan.

‘’Yang sekolah di sini siswa yang orang tuanya menengah ke bawah itu. Kami membebaskan siswa dari uang pembangunan, seragam silahkan beli sendiri,’’ katanya.

Muslim Bidin meminta sekolah swasta tak menarik biaya tinggi pada siswa-siswanya jika ingin bertahan dan mendapatkan siswa baru. Karena swasta juga mendapatkan dana BOS, insentif guru, dan block grand dari pemerintah pusat. “Swasta harus menyesuaikan. Kalau mahal-mahal, mereka pasti menyerbu negeri,” ujar Muslim. Sebagai perbandingan, jika rata-rata sekolah negeri mengenakan biaya SPP sebesar Rp30 ribu hingga Rp70 ribu per bulan, sekolah swasta mengenakan biaya Rp100 ribu hingga di atas Rp1 juta per bulan. Ini yang membuat orang tua berpenghasilan kecil menyandarkan sekolah anaknya pada sekolah negeri.

Yang tak kalah penting, kata Muslim, mempertahankan kualitas. Sekolah-sekolah swasta di Batam harus berkualitas baik jika ingin mendapatkan siswa baru. ‘’Masyarakat melihat kualitas. Kalau tak berkualitas, tentu masyarakat tak mau,’’ ujarnya.

Soal kualitas guru sekolah negeri dan swasta, Imbalo menyayangkan sikap Dinas Pendidikan Batam. Banyak guru bagus, terutama untuk pelajaran eksakta yang mengajar di swasta ditarik ke sekolah negeri sehingga sekolah swasta kekurangan guru berkualitas.

Langit dan Bumi

Kasta di sekolah swasta memang bertingkat-tingkat, seperti yang disampaikan Imbalo. Perbandingannya bisa benar-benar bak langit dan bumi, baik dari sisi kualitas dan biaya. Di sekolah negeri, di luar sekolah unggulan, perbedaan seperti ini tak terlalu kentara. Sebab kualitas mereka hampir merata dan biayanya pun hampir semuanya sama. Inilah yang mendorong para wali murid berdesak-desakkan memasukkan anak mereka ke sekolah negeri.

SMA Kartini, sekolah swasta tertua di Batam misalnya, uang masuknya Rp3,5 juta untuk calon siswa lulusan SMP Kartini. Sedangkan calon siswa dari sekolah lain Rp4 juta. Kemudian uang SPP Rp485 ribu per bulan.

Biaya itu tergolong mahal untuk rata-rata masyarakat Batam. Tapi, menurut Kepala SMA Kartini Retno Winaryanti, uang sebesar itu sebanding dengan fasilitas yang diterima siswa dan kualitas sekolah ini. Di SMA Kartini tersedia ruang komputer yang lengkap, laboratorium biologi, fisika, dan kimia, laboratorium bahasa, perlengkapan dan asesoris marching band, lapangan olahraga lengkap dengan berbagai fasilitas pendukungnya.

Meski biaya di sekolah ini termasuk mahal, SMA Kartini tidak menolak jika ada siswa kurang mampu yang ingin masuk. SMA Kartini memberikan keringanan dengan mengangsur.

Lain lagi Madrasah Aliyah Nahdatul Wathan di Tanjungriau, Sekupang. Raja Husin, sang kepala sekolah mengatakan, saat pendaftaran, sekolahnya tidak banyak memungut biaya. ‘’Hanya biaya formulir Rp5 ribu,’’ katanya. Sementara uang masuk akan dimusyawarakan dengan majelis guru nantinya. ‘’Tak mahallah,’’ tegasnya.

Berbeda dengan SMA Kartini yang masih mengenakan biaya SPP, Nahdatul Wathan tidak membebankan biaya SPP kepada siswanya. Tapi biaya BP3 masih dipungut.

‘’BP3 ini bisa bertahap. Palingan Rp50 ribu,’’ jelas Raja Husin. Biaya ini terbilang murah jika menilik fasilitas yang cukup memadai yang dimiliki sekolah. (med/uma/bal).

Oleh Oleh Coklat Dari Batam


coklat yang semula halaal....... menjadi tidak halal karena di tambah unsur lain seperti lesitin .. teliti sebelum membeli

coklat yang semula halaal....... menjadi tidak halal karena di tambah unsur lain seperti lesitin .. teliti sebelum membeli

Petang kemarin Sabtu (15/5) selepas Seminar Sehari tentang Impassing, Sertifikasi dan Paska Pembubaran Badan Hukum Pendidikan (BPH) yang dilaksanaka oleh Badan Musyawarah Pergurguan Swasta (BMPS) Kota Batam, kami segera bergegas pulang ke Hotel. Karena petang hari itu juga Mas Jona Krisna dari PPMTK (Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan) akan berangkat pulang ke Jakarta.

“Saya pulang hari ini juga, besok sudah di tunggu, ada acara di Jakarta ” ujarnya.   Mas Jona, adalah staf Ditjen PPMTK, PPMTK yang mengurusi nasib guru Kementrian Pendidikan Nasional  ini nasib nya tinggal menunggu hari saja karena Ditjen ini telah di likwudasi oleh Menteri Pendidikan M Nuh.

Selesai urusan dari Hotel Pelita, chek out , masih ada dua jam lagi menunggu waktu keberangkatan ke Bandara, untuk si buah hati,  Mas Jona mengajak mampir membeli oleh oleh , “coklat pak” katanya saat ditanya oleh oleh apa yang hendak dibeli. Jadilah kami ke tempat penjualan coklat, di Mini Market yang terletak di seputaran Nagoya.

Di seputaran Nagoya Batam ini banyak toko yang menjual coklat – coklat aneka warna produksi dari beberapa manca negara. Di Mini Market yang kami masuki itupun penuh sesak pengunjungnya, selain menjual coklat import, Mini Market ini pun menjual parfum dan barangan souvenir lainnya.

Sembari menunggu mas Jona memilih coklat yang akan di beli nya, aku yang berdiri dekat kasir di pintu keluar/ masuk melihat  tiga orang bapak-bapak sedang antri membayar, “lima ratus sembilan puluh emat ribu lima ratus rupiah”  ujar sang kasir kepada Bapak yang paling depan, aku dapat  melihat jumlah nominal di layar cash register. Saat si bapak mengambil uang dari sakunya , mata kami terserempak, si bapak tersenyum kepadaku, “dari Jakarta pak ” sapaku, karena memang sebelumnya aku telah mendengar obrolan mereka.

Mas Jona datang menghampiri hendak membayar di kasir juga, “Boleh lihat beli apa saja mas” tanya ku sengaja nada suaraku agak kukuatkan. Beberapa bungukusan coklat aneka merk terlihat dalam kantong kresek yang dibawa mas Jona, satu persatu kulihat,  masih dengan suara agak kuat agar terdengar sang kasir dan bapak-bapak tadi, kukatakan kepada Mas Jona, agar membeli Coklat yang ada logo Halal nya. “Seperti ini” ucapku menjelaskan sembari menunjukkan logo halal produksi Malaysia. “Nah yang ini tidak ada logo halal nya” jelasku lagi.

Mas Jona memperhatikan bungkus bungkus coklat yang di belinya, dua orang bapak yang sedang antri pun kulihat memeriksa bungkusan coklatnya. Terlihat mereka berbisisk bisik dan memang itulah harapan ku, “Betul memang ada tempelan stiker dari Perusahaan importirnya” jelasku lagi, kuperlihatkan ada stiker kecil tetempel di bungkusan coklat coklat itu yang mencantumkan nama perusahaan peng-import nya dan ingredian (komposisi) dari bahan pembuat coklat. ” Lisetin ini yang jadi masalah” jelasku lagi kepada Mas Jona, “Terbuat dari apa?, apakah dari lemak hewan, hewan nya apa? , apakah terbuat dari lisetin tumbuhan, semisal kacang kedelai,” Jelasku lagi .

Hanya dua bungkus coklat dari yang di beli oleh Mas Jona yang ber logo halal (Malaysia) yang lain nya hanya tertempel stiker yang menandakan itu adalah produksi makalan luar (ML), sementara beberapa bungkus lainnya tak terlihat sama sekali stiker apalagi logo halal.

Bapak Bapak yang tadi yang mengaku dari Departemen Kesehatan dan sering bertandang ke Batam dalam rangka dinas, terlihat terkesima,  saat kukatakan alangkah naif nya kita memberikan oleh oleh makanan kepada putra putri tersayang dari makanan yang diragukan ke halalan nya.

Bapak yang terlihat terpelajar itu , mungkin saja seorang dokter terus memperhatikan tulisan tulisan (etiket) yang ada pada bungkusan bungkusan coklatnya masing masing dan bertanya kepadaku “Bapak dari instansi mana”? . Kujelaskan  “Dari Yayasan Lembaga Konsumen Muslim Batam”   dan sang bapak  berkata “Terimakasih ya pak sudah diingatkan “.

Mas Jona pun kulihat kembali ke rak pajangan coklat menukar coklat yang tak berlogo halal. Sang Kasir terpaksa menunggu menscan barangan yang akan di beli dan melirik ku.

Mungkin baru pertama kali ada orang tak jadi membeli coklat di Mini Market yang cukup lama keberadaan nya di Nagoya Batam itu, dengan alasan tidak memiliki atau mencantumkan logo halal.

Syukur lah pikirku, sembari mengharap tulisan ini banyak di baca orang , lebih banyak lagi orang orang peduli tentang kehalalan produk yang di konsumsi nya. Sebagai sesama muslim kita dianjurkan untuk saling mengingatkan , dan bahwa kita pun di anjurkan untuk mengkonsumsi makanan bukan hanya halal saja tetapi juga baik…. Halalal Toiyibah….

Menculik Miyabi vs Menculik Mulyani


Setelah tulisan  “Sri, Kapan Kowe Bali?” yang ku posting dari Kompas.com petang ini kubaca lagi tulisan tentang Menteri Keuangan yang sangat populer ini di Inilah.com. Beragam komentar tentang diri nya. Wah… semoga mbak Ani tegar ya menghadapinya.

Ada-ada saja. Di dunia maya beredar sebuah poster film Menculik Miyabi yang diplesetin.

Di poster asli, ada aktris porno asal Jepang Maria ‘Miyabi’ Ozawa. Mengenakan pakaian sack dress dengan bagian dada terbuka, Miyabi berpose lumayan menantang.

Tetapi kalau di poster Menculik Miyabi yang sudah direkayasa, gambar bagian kepala Miyabi sudah diganti dengan wajah Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Ada yang berbeda dengan Sri Mulyani di poster yang sudah di-photoshop tersebut. Eks Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan itu berambut panjang sebahu.

Selain muka Miyabi diubah dengan wajah Sri Mulyani, tulisan Menculik Miyabi diganti dengan Menculik Mulyani. Kata “Mulyani” ditulis dengan model kata yang agak kaku.

Selain itu, tidak ada lagi yang berubah dari poster asli Menculik Miyabi. Warna dasar poster tetap sama berwarna biru. Para pemeran film yang berada di samping Miyabi juga tidak ada yang diutak-atik.

Seperti diketahui, keluarnya film Menculik Miyabi begitu heboh. Sebelum diputar di bioskop-bioskop Tanah Air, film yang diproduksi Maxima Picture itu diprotes sejumlah kalangan.

Begitu-pula dengan Sri Mulyani, pengunduran dirinya sebagai Menteri Keuangan juga mengundang pro-kontra. Beberapa pihak tidak menyetujui Sri Mulyani menjadi Managing Director Bank Dunia.

Kalau Miyabi ditentang karena bintang porno yang melekat kepadanya, Sri Mulyani tersangkut kasus pengucuran duit Rp 6,7 triliun untuk penyelamatan Bank Century. Ketika ditunjuk sebagai Ketua KSSK, Sri Mulyani mengambil kebijakan tersebut

Sesuai rekomendasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), terjadi pelanggaran dalam bailout. Sri Mulyani dinilai harus bertanggung jawab. [bar]

“Sri, Kapan Kowe Bali?”


Tulisan ini Jumat pagi (7/5) kubaca di kompas.com , setelah membacanya teragak untuk memposting di blog ku. Jadi teringat dengan BJ Habibie, dan banyak lagi putera Indonesia terbaik yang “harus” bekerja di negeri lain.

Indonesia juga terancam kehilangan generasi cerdas dan brilian, karena sebagian besar anak-anak cerdas peraih penghargaan olimpiade sains internasional memilih menerima tawaran belajar dari berbagai universitas di luar negeri.

Oleh Sindhunata

Sri, kapan kowe bali. Kowe lunga ora pamit aku. Jarene neng pasar pamit tuku trasi. Nganti saiki kowe durung bali (Sri, kapan kau kembali/Kau pergi tanpa pamit kepadaku/Katamu kau pergi ke pasar hendak beli terasi/Ternyata sampai kini kau belum kembali).

Itulah bait pertama lagu ”Sri Minggat” ciptaan Sonny Josz. Lagu ini menceritakan seorang lelaki yang ditinggal minggat kekasihnya. Lelaki itu sedih dan meratap, mengapa Sri, kekasihnya, tega meninggalkannya. Ia tak tahu di mana Sri sekarang. Ia hanya bisa melampiaskan rindunya dengan menyanyi: Sri, kapan kau kembali?

”Sri Minggat”, lagu campur sari yang bernada dangdut itu, sangat populer di kampung-kampung dan desa-desa Jawa sekitar empat tahun lalu. Pernah, di suatu malam menjelang perayaan 17 Agustus, penulis ikut melebur bersama sekelompok sopir dan kenek angkutan kota, kuli, pemulung dan nelayan, yang menyanyikan lagu ”Sri Minggat” di tepi Pantai Kenjeran, Surabaya. Dengan tape recorder sederhana, lagu itu diputar berulang kali. Orang-orang kecil itu berjoget mengikutinya.

Di tengah keadaan demikian, ”Sri Minggat” tak lagi terasa sebagai lagu tentang seorang lelaki yang ditinggal kekasihnya. Di sana, ”Sri Minggat” serasa terdengar sebagai jeritan rakyat kecil yang tak pernah merasakan buah kemerdekaan. Maklum, lagu itu terdengar di tengah orang-orang sedang tirakatan menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus.

Rakyat kecil itu seperti ditinggalkan oleh kemerdekaan dan, ketika mereka menyanyikan bait Sri kapan kowe bali, suara mereka seakan bertanya kapan kemerdekaan akan kembali.

Buat orang Jawa, Sri bukan sekadar nama wanita. Sri adalah kultur. Itulah yang termaktub dalam mitos Dewi Sri, dewi kesuburan, ibu petani Jawa.

Tak seperti dewi lain yang lahir dalam kemuliaan, Sri lahir dari kemiskinan dan kesedihan. Seekor naga dari dunia bawah tanah bernama dewa Anta menitikkan air mata. Air mata itu kemudian berubah menjadi telur-telur. Satu telur itu pecah dan darinya lahir putri jelita, Dewi Sri namanya. Ini semua adalah lambang bahwa Sri adalah anak yang dilahirkan dari keprihatinan dan kemiskinan bumi.

Dikotomi kultur-nonkultur

Dalam etnologi, perempuan sering dianggap sebagai ”unsur kultur”, yang berhadapan secara dikotomis dengan lelaki sebagai ”unsur nonkultur”. Manusia memang mempunyai kecenderungan untuk menjadi barbar dan antikultur. Bila demikian, Bumi yang dilambangkan sebagai perempuan jelita akan menjadi korbannya.

Dalam mitos Jawa, itulah yang terjadi ketika Batara Guru, raja dari segala dewa, hendak menyetubuhi Dewi Sri. Dewi Sri tak dapat menghindar dari paksaan itu. Dewi Sri kemudian mati, tetapi kematiannya memberikan kehidupan dan kesuburan bagi para petani. Karena itu, jika sawah dilanda kekeringan dan tanaman tak menghasilkan buah, petani Jawa meminta agar Dewi Sri datang menyuburkan.

Sekarang kesedihan karena kepergian Sri tiba-tiba muncul kembali ketika pada Rabu (5/5/2010) kita dikejutkan oleh pengunduran diri Sri Mulyani. Tak perlu diulang kembali di sini segala puja-puji karena sederet prestasi Menteri Keuangan Indonesia ini. Tak perlu juga dituturkan kembali pro dan kontra atas keterkaitannya atau ketidakterkaitannya dengan kasus Bank Century. Yang jelas, banyak sekali dari kita yang merasa kehilangan karena kepergiannya.

Memang ada alasannya Sri Mulyani pergi: Ia menerima penunjukan dirinya sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Akan tetapi, mengapa ia justru pergi saat kita amat membutuhkannya dan saat ia sendiri gerah karena kasus Bank Century yang memojokkannya? Inikah sebuah tanda zaman bagi kultur kita?

Sri Mulyani adalah pejabat negara yang dikenal tegas dalam melakukan reformasi birokrasi dan pemberesan bidang pajak dan pabean. Ia juga memperlihatkan komitmen mendalam untuk memberantas korupsi. Toh, akhirnya ia pergi.

Adakah peristiwa ini boleh ditangkap sebagai tanda krisis, yang dalam kebudayaan Jawa disebut dengan datangnya zaman Kalatidha?

Zaman kebaikan tumbang

Memang dalam Serat Kalatidha karya pujangga Ranggawarsita diramalkan akan datang zaman ketika segala kebaikan akan tumbang. Walau negara memiliki pejabat, pemerintah, dan punggawa yang luar biasa pandai dan bijaksana, segala maksud baik yang diinginkan tak bisa terwujud. Sebaliknya, negara akan terjerumus ke dalam gangguan yang tiada habisnya.

Ing zaman keneng musibat, wong ambeg jatmika kontit: di zaman yang penuh kebatilan, orang yang berbudi baik malah terpental. Itulah salah satu ramalan Serat Kalatidha. Tampak bahwa, jika zaman kacau itu datang, keadaan masyarakat tidak lagi afirmatif terhadap kebaikan dan orang-orang yang berbudi baik.

Itulah krisis zaman. Krisis inilah yang membuat orang-orang bijak tertendang keluar. Memang dalam keadaan seperti ini benak orang-orang bijak dilanda keraguan. Ia ingin tinggal di sini, di negerinya sendiri, tetapi sekaligus ia ingin sejauh-jauhnya pergi dari sini. Mungkin perasaan macam itulah yang melanda Sri Mulyani akhir-akhir ini.

Namun, marilah kita kembali pada lagu ”Sri Minggat” tadi. Lagu itu tidak berakhir dengan ratapan dan kerinduan si lelaki yang ditinggalkan oleh Sri. Lagu itu masih disusul oleh jawaban Sri, mengapa ia pergi: Mas, sepurane wae/Aku minggat, ora pamit kowe/Sepuluh tahun urip karo kowe/Ora bisa nyenengke atiku (Mas, maafkan aku/Aku minggat, tanpa pamit kamu/Sepuluh tahun hidup bersamamu/Tak bisa menyenangkan hatiku).

Sri Mulyani pergi. Adakah itu terjadi karena kita tidak bisa menyenangkan hatinya lagi: Sri, kapan kowe bali?

Jumlah Kelulusan UN SMP/MTs/SMPT Tahun 2010


3.254.365 Siswa Lulus UN Utama SMP/MTs/SMPT 2010

Sebagai mana di umumkan oleh Departemen Pendidikan Nasional  sebanyak 3.254.365 siswa atau 90,27 persen peserta lulus Ujian Nasional Utama SMP/MTs/SMPT 2010. Sementara, dari total 3.605.163 peserta UN terdapat 350.798 (9,73%) siswa yang mengulang UN.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan pers tentang hasil UN SMP sederajat di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Kamis (6/5/2010).

Angka kelulusan itu, jika dibandingkan tahun 2009 dengan jumlah peserta UN 3.441.815 siswa mengalami penurunan. “Tingkat kelulusannya tahun lalu 95,09 persen, tetapi masih ada kesempatan untuk ujian ulang. Mudah-mudahan bertambah (kelulusannya) ,” ujarnya.

Mendiknas menyebutkan, dari 9,73 persen siswa yang mengulang UN ada beberapa provinsi yang paling tinggi persentase mengulangnya, yakni Nusa Tenggara Timur (39,87%), Gorontalo (38,80%), dan Bangka Belitung (34,69%). “Paling kecil Provinsi Bali yakni 1,4 persen,” kata Mendiknas.

Adapun persentase siswa yang mengulang menurut jumlah mata pelajaran (MP), yakni ada 21,19 persen atau 74.317 siswa (satu MP), 37,14 persen atau 130.277 siswa (dua MP), 29,41 persen atau 103.185 siswa (3 MP), dan 12,26 persen atau 43.019 siswa (4 MP).

Mendiknas menyebutkan, terdapat 561 (1,31%) sekolah yang kelulusannya nol persen dengan jumlah siswa 9,283 (0,26%). Di sisi lain, lanjut Mendiknas, ada 17.852 sekolah (41,64%) sekolah yang kelulusannya 100 persen dengan jumlah siswa 1.116.761 siswa (31,32%).

Mendiknas menyampaikan daftar 102 sekolah yang masuk dalam 102 besar yang memiliki nilai rata-rata UN tertinggi. Mendiknas menyebutkan, peringkat pertama adalah SMP Negeri 1 Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur dengan jumlah peserta 394 siswa. “Lulus 100 persen dan nilai rata-rata UN 9,38,” ujarnya.

Sementara, Mendiknas menyebutkan, peringkat kedua adalah SMP Negeri 1 Denpasar, Kota Denpasar, Bali dengan jumlah peserta 295 siswa. Sekolah ini siswanya lulus 100 persen dengan nilai rata-rata sama, yakni 9,38. Selain itu, kata Mendiknas, disusun daftar 117 siswa yang nilainya tertinggi.

Mendiknas menyebutkan tiga siswa yang memiliki nilai tertinggi. Mereka adalah Fitriyan Dwi Rahayu, siswi SMPN 1 Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Ni Made Yuli Lestari (siswi SMPN 1 Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali), dan Ni Kadek Indra Puspayant (siswi SMPN 1 Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali).

“Nilainya 9,95 hampir 10 semua. Dan ini bukan di Semarang, DKI Jakarta, atau Jawa Timur, ada di kota kecil. Nanti sore barangkali Bapak Presiden SBY akan telepon ke kepala sekolah dari masing-masing sekolah ini. Kami pun juga akan memberikan penghargaan bagi sekolah-sekolah terbaik ini,” katanya.

Mendiknas mengatakan, para siswa yang memiliki nilai tertinggi ada di daerah menunjukkan bahwa prestasi tidak serta merta didominasi oleh kota-kota besar. “Artinya lokus tidak memberikan jaminan seseorang berprestasi. Buktinya yang juara bukan di ibukota provinsi, tetapidi daerah terpencil,” ujarnya.

Hasil UN akan diumumkan oleh masing-masing sekolah besok (Jumat). Namun, kata Mendiknas, yang terpenting masih ada ujian ulang pada 17-20 Mei 2010. “Masih ada 10 hari untuk persiapkan. Mudah-mudahan dalam jangka 10 hari mereka bisa persiapkan dengan baik. Kepala sekolah, guru, dan orang tua kita semua tetap memberikan dukungan, dorongan, dan motivasi, sehingga Insya Allah bisa sukses,” katanya.***

%d blogger menyukai ini: