Pengalaman Qurban 1433 H di Burma, “Terjebak di Perbatasan”


Kota Kok Song Myanmar

Kota Kok Song Myanmar

Lepas saja dari kawasan hutan dan jalan bebatuan, lega sedikit perasaan. Kampung Teluk Cina kami tinggalkan, menuju Pulau Dua. Hampir 50 kilogram daging qurban yang dibawa, rencana untuk dibagi kepada saudara muslim yang ada dikampung Pulau Dua itu.

Ada perbedaan yang sangat terasa saat mengendarai kenderaan di Burma, kita berjalan di sebelah kanan. Teman dari Thailand yang membawa sepeda motor selalu lupa, kalau kami masih di Burma. Meskipun jalan tak ramai hanya sesekali ada sepeda motor dan sejenis tuk tuk yang lalu, selalu saja arah sepeda motor kami masuk kejalur kiri.

Tidak seperti sewaktu berangkat ke Teluk Cina, pagi harinya. Sepeda motor yang kami sewa , sudah diservise , karburator dan remnya pun sudah diperbaiki. Memang sewaktu keluar hutan kami tidak bersama, aku diantar dengan sepeda motor oleh seorang pemuda Abidin namanya. Tidak ada signal henpon sepanjang jalan yang kami lalui, sehingga tidak bisa mengabarkan kepada kawan yang ada di Pulau Dua, bahwa kami akan tetap pulang juga malam itu.

Seorang lelaki yang dari tadi mengikuti kami dari belakang dengan sepeda motornya , menyapa dengan salam. Tak tahu apa yang diucapkannya dalam bahasa setempat , kami mengikutinya berputar arah ke bukit yang lebih tinggi , ada dua garis signal terkadang satu terlihat di layar henponku . Satu nomor Thailand yang sudah ter-regstrasi dan satu lagi nomor Telkomsel roaming dari Indonesia.

Alhamdulillah dengan berteriak teriak melalui henpon, keberadaan kami diketahui oleh kawan yang ada di dermaga, 30 menit lagi harus sudah sampai disana. Jalanan aspal berlobang lobang , mirip di Batam , ditancap terus karena mengejar waktu. Penat rasanya pinggang menahan sepeda motor agar jangan terus arah ke kiri, kawan orang Thailand tetap saja mengarah jalan kekiri.

Akhirnya sampai juga di dermaga, kami melaju menuju Ra Nong Thailand malam itu juga. Setelah sebagian daging qurban diserahkan di Kok Song, yang kami khawatirkan tadinya bisa busuk, sebagian lagi kami bawa ke Ra Nong Thailand.

Semua perkantoran sudah tutup. Hal ini yang membuatku gelisah, meskipun pasporku sudah di chop keluar di checkpoint imigrasi Kok Song Myanmar, tetapi checkpoint imigrasi Ra Nong Thailand ternyata sudah tutup. Anehnya 3 pos pemantauan di perbatasan yang kami lalui memberikan izin memasuki batas wilayah.

Kantor imigrasi Ra Nong yang kudatangi menyarankan agar aku kembali saja keesokan harinya ke checkpoint di dermaga. Namun setelah keesokan harinya petugas imigrasi di checkpoint Ra Nong Thailand tidak mau terima alasan yang kami buat, tetap saja dia ngotot menyuruhku kembali ke Kok Song Myanmar .

Lemas rasanya, karena aku sudah keluar dari sana dan harus masuk kesana lagi tanpa ada penjelaasan . Seorang pemuda setempat ber tato menghampiriku , dia bersedia membantu menguruskannya . 400 bath untuk bot pulang pergi, dan 100 bath untuk di pos pemantauan perbatasan. Aku bertolak lagi ke Kok Song Myanmar , bersama beberapa warga Negara Asing berambut pirang. Tekong bot orang Burma yang pandai berbahas inggris ini menyarankan kepadaku agar aku mengangguk saja bila ditanya.

Benar saja, petugas imigrasi di checkpoint Kok Song itu memandangi wajahku, aku tersenyum sembari mengangguk kepadanya , dibalasnya senyumanku terlihat gigi-giginya memerah karena banyak makan sirih. Untuk merubah dan membatalkan tanggal keberangkatan , petugas imigrasi itu memintaku uang 500 bath lagi. Aku bernafas lega. Lepas satu masaalah pikirku dalam hati.

Aku kembali lagi ke Ra Nong Thailand , petugas imigrasi di checkpoint tadi masih bertugas. Kesal saja kepadanya, padahal seperti ini (bermalam di checkpoint) adalah hal yang lumrah karena tutup dan petugas sudah pulang. Seperti kalau kita dari Ha Noi Vietnam naik Bus hendak ke Vientiane Laos , kedua Negara itu menutup perbatasannya sebelum magrib. Dan kita harus menunggu sampai pagi pukul 7 keseokan harinya.

Mudah2an hal ini tidak terjadi lagi……

Halo Telkomsel ……….. Aku Tertipu ….


Iya sungguh aku tertipu, kalau itu boleh dikatakan tertipu. Tapi mungkin juga kebodohan ku sehingga aku tertipu. Cerita nya begini :

Belakangan ini sejak 2 tahun yang lalu aku sering bepergian ke pulau pulau sekitaran Batam, mengunjungi rekan rekan di pulau pulau itu, seperti ke Pulau Galang Baru, Pulau Geranting, Pulau Kepala Jeri.

Dari Pulau Galang Baru masih menyeberang lagi ke Pulau Sembur, Teluk Nipah. Sebelum sampai di Pulau Galang Baru, bila dari Pulau Batam dengan mobil kita harus melalui Pulau Rempang, dipertengahan Pulau Rempang belok ke kiri ada perkampungan Sembulang namanya.

Disitu, banyak pemukiman penduduk di pinggiran pantai yang kehidupan nya Nelayan. Meskipun hanya beberapa puluh kilometer dari Batam signal telkomsel nyaris tak “nongol” . Begitu pula di ujung Pulau Galang Baru seperti di Desa Kampung Baru, sulit sekali hubungan dengan ponsel yang menggunakan produk Telkomsel.

Terkadang nyambung terkadang tidak, begitu juga arah ke Barat Pulau Batam di Pulau Pulau sekitaran Kecamatan Belakang Padang , seperti Pulau Geranting tadi.

Pernah aku terkecoh, saat menghubungi teman yang bernama Azman di Pulau Galang Baru, ketika ianya kuhubungi ada nada tunggu, senang sekali rasanya hati karena memang aku sangat perlu membicarakan sesuatu kepadanya. Tetapi Azman tak menjawab, kuulangi beberapa kali , tetap juga tak terjawab. Namun setiap sebelum ada nada tunggu ada jedah sejenak yang berbunyi

Halo Telkomsel…………..


Halo Telkomsel.

“Pelanggan Yang terhormat, event Telkomsel Expo 2010 SUPER SALE di Hotel Planet Holiday, 09 Maret 2010 diperpanjang s/d jam 21.00 WIB. Dapatkan paket Telkomsel & promo menarik lainnya”.  Begitulah bunyi sms yang masuk ke ponsel ku sekitar pukul 15.00 wibb .  Sehari sebelum nya Senin (8/3) dari pengirim yang sama “TELKOMSEL” mengabarkan akan ada SUPER SALE ini. Hal -Hal seperti ini sering sekali masuk ke ponsel ku, namun tidak terlalu kutanggapi. Karena ada kata kata diperpanjang hingga pukul 21.00 WIB yang semula berakhir hingga pukul 15.00 wibb saja, aku jadi tertarik ingin kesana, ada apa gerangan pikir ku sehingga acara sales salesan itu diperpanjang.

Jadi lah aku selepas magrib ke tempat acara, “D ilantai tiga pak ” ujar pelayan hotel saat kutanyakan acara Telkomsel dimana. Tak banyak pengunjung yang datang, hanya beberapa orang saja, terlihat meja counter penjualan produk ada disebelah kanan dan di sebelah kiri terdapat meja penerimaan tamu, seorang Ibu mengisi buku tamu, seseorang menghampiriku  “ada undangan nya pak” sapa nya kepadaku. Ternyata untuk masuk keruangan khusus untuk Lounching itu harus membawa undangan.

Rada kecewa juga sedikit, rupanya si Telkomsel ini sedang meluncurkan produknya berupa Telkomsel Community Card (TCC) , katanya kartu diskon ini bisa bisa bertransaksi di lebih 10.000 merchant. Aku pun tak tahu apa manfaat nya bagi ku.

Seseorang mengikuti ku saat duduk di kursi yang disediakan, dia mengenalkan dirinya sebagai Account Comunication Manager. Dia pun menjelaskan sms yang dikirimkan itu ditujukan kepada pelanggan yang tagihan nya diatas 250 ribu rupiah. Sudah tak terhitung ratusan kali sms dari telkomsel yang masuk ke polsel ku sejak berlangganan kartu paskabayar ini, kartu halo nomor 0811698xxx ini sudah kupakai belasan tahun yang lalu.

Keluhan Konsumen

Sebenarnya tujuan utamaku ke tempat lounching itu tadi adalah ingin bertemu dengan orang yang berkompeten di perusahaan GSM yang kini saham nya 35 % ini dikuasi oleh Singtel. Keluhan ku itu sampai lah ke hari ini belum terjawab, yaitu kiriman sms yang dikirim kembali ke ponsel ku saat aku mengirim sms dari Thailand ke Indonesia. Sehingga tagihan menjadi dua kali.

Hal itu telah ku laporkan kepada Telkomsel di Batam center saat itu aku diterima oleh sdr Zulfikar. “Bukan untuk roaming” jelasku kepada account comunication manager yang bernama Richar Tamba, karena sesaat  menjadi pelanggan telkomsel belasan tahun yang lalu aku telah mendaftarkannya.

Itu juga program telkomsel baru yang harus di daftarkan dulu di graha telkom dan di catat oleh petugas , karena aku sering bepergian ke luar negeri, itulah alasan nya. “Bukan duit tagihan yang memang pun tak diganti oleh telkomsel” jawab ku saat Richard menanyakan jumlah tagihan yang kutanggung akibat dua kali setiap aku mengirimkan sms dari luar negeri. Tetapi hingga kini belum ada jawaban resmi atau tak resmi dari telkomsel. Aku pun tak tahu program apa itu namanya, ya tak jauh beda juga dengan TCC yang kini memakai paskabayar Black Berry Telkomsel, kalau dulu kan Nokia Comunicator Telkomsel agaknya namanya.

Perhatian Terhadap Pelanggan

Tak terasa hampir juga satu jam duduk disitu di temani oleh account comunication manager asal Medan yang baru bekerja di Batam ini, pantes juga dia jadi acm. Rupanya di membaca kekecewaanku, mengajakku masuk ke ruang louncing, mana lah aku mau.

“Jadi apa dong saran bapak” tanya Richard. “Perhatian sedikit sama pelanggan” ujarku . Apalagi pelanggan setia yang sudah belasan tahun memakai nomor yang tak pernah putus putus , apalagi tak pernah nunggak tambahku lag. Bukan lah hal yang sulit untuk melacaknya, seperti misalnya pelanggan yang sudah 5 tahun, 10 tahun, mungkin yang 15 tahun belum ada yang terus menerus, karena kita ketahui  awal Telkomsel dengan GSM nya yaitu Geser Sedikit Mati (istilah era awal keberadaanya)  tanggal 26 Mei 1995 agak sulit yang masih bertahan.

Dan kayak nya aku juga kurang yakin dengan pelayanan telkomsel seperti sekarang ini pelanggan nya mencapai 51 juta orang lebih. Bagaimana pak Sarwoto Atmosutarno?

%d blogger menyukai ini: