Halte Bus Damri


Halte Bus Damri di Soekarno Hatta boleh menjadi contoh untuk penempatan halte di bandara Hang Nadim Batam, penumpang yang akan turun naik tidak di persulit.

Halte BUs Damri di Soekarno Hatta, dilengkapi pengatur ruangan

Halte Bus Damri di Soekarno Hatta, dilengkapi pengatur ruangan

Hampir dua bulan Bus Damri di Hang Nadim beroperasi, belum ada manfaat nya langsung kepada masyarakat pengguna, padahal keberadaan bus itu di gagas untuk adanya alternatif  lain angkutan dari dan ke Bandara.

Dalam satu kesempatan talk shaow di Batam TV dengan Kepala Bandara Hang Nadim Razali Abubakar,   Razali mengungkapkan tidak ada sama sekali kontribusi apa pun dari pengelola taxi bandara terhadap Bandara.

Tetapi kepanikan dan ketakutan pihak pengelola taxi dengan ada nya bus Damri sebagai pesaing, harus nya disikapi  dinas perhubungan dan pihak Bandara.

Konter penjualan tiket bus damri di Soekarno Hatta

Konter penjualan tiket bus damri di Soekarno Hatta

Tidak semua penumpang ingin naik bus dan tidak pula semua penumpang harus naik taxi, ada pilihan, yang selama ini di monopoli oleh taxi bandara semata.

Iklan

Jalan Jaksa Jakarta


photo bersama rombongan young muslim association of thailand (YMAT) di depan wisma haji jalan jaksa menteng jakarta pusat

photo bersama rombongan young muslim association of thailand (YMAT) di depan wisma haji jalan jaksa menteng jakarta pusat

Ketika Sholat Subuh di Jalan Jaksa

Menjelang dini hari  Ahad 25 Januari 2009  jalan Jaksa masih hingar bingar, ekspatriat atau pun turis asing masih  berseliweran, jalan sempit yang tak seberapa panjang yang terletak di Kelurahan Kebun Sirih Menteng Jakarta Pusat itu menjadi bertambah sempit dengan mobil yang terparkir di kiri kanan jalan nya.

“Assalamualaikum pak Haji” sapa Sinaga yang berdiri di depan pintu dorong Wisma Haji yang terdapat di jalan Jaksa juga, persis di samping pintu di tempat Sinaga ada dua kereta dorong berjualan goreng gorengan, di depan nya ada cafe yang sedang memutar lagu-lagu Barat,  dari dalam cafe  keluar perempuan berpakaian seronok, di depan pintu cafe duduk tiga orang berbadan tegap berkulit hitam, melihat tampang nya seperti orang dari Afrika.

Subuh itu kami bergegas hendak menuju masjid yang terletak di samping wisma Haji yang terdapat di Jalan Jaksa,  rombongan Young Muslim Association of Thailand menginap di wisma Haji, pilihan menginap di situ mungkin karena murah dan dekat ke Pusat Muhammadiyah yang terletak di Menteng Raya, apalagi rencana minggu pagi  rombongan akan ke Tanah Abang dan melihat Monas juga.

Azan Subuh tengah berkumandang dari masjid, tak banyak jamaah sholat subuh, saf – saf  masjid kecil itu dipenuhi rombongan kami.

Selepas sholat kami kembali berjalan ke wisma di depan gang kecil keluar dari masjid, jamaah berpapasan dengan seorang wanita yang sedang mabuk mengangkat ke dua tangan nya meminta maaf, ” maaf pak haji, aku mabuk, aku mabuk, aduh aku jadi malu dengan pak haji” ulang nya berkali kali, dia melihat rombongan puluhan ustaz – ustaz berpakaian gamis, mungkin didalam pikiran nya ada yang mau demo memberantas maksiat.

“Mabuk koq bisa ngomong, ya sudah sana sholat dulu” ujar ustaz Wahab, si wanita itu terus saja ngeloyor pergi, terus meracau racau.

Di jalan Jaksa bukan ekspatriat dan turis saja yang berseliweran, orang kita pun terutama beberapa wanita berpakaian seronok masih terlihat hilir mudik disitu ada yang berpasangan.

Seperti Sinaga tadi yang menunjukkan lokasi masjid kepada kami misal nya, ada beberapa orang seperti dia  berdiri di pinggir – pinggir jalan apakah dia penjaga parkir atau apa, ada yang di lengan nya tertera tatto.

Di depan gang masjid ada cafe yang menjual masakan halal, tak ada bir dan alkohol di jual disitu, Cafe Malaysia namanya, disitu lah rombongan kami sarapan pagi , makan nasi lemak mirip di Malysia rasanya, ada roti canai.

Hampir semua tampang yang berada di cafe itu tampang melayu tak ada tampang bule, ada tv layar besar sedang menyiarkan pertandingan bola Liga Spanyol, saat azan tadi pun mereka tetap asyik menonton.

Tepat pukul delapan pagi kami meninggalkan wisma haji, sangat kontras keberadaan wisma itu terlihat di komunitas hotel dan wisma serta cafe-cafe  lainnya, di lokasi kawasan wisata malam  di jalan jaksa.

tulisan lainnya tentang jalan jaksa dikutip dari antara

Jalan Jaksa Jadi Tempat Transaksi Prostitusi

Jakarta-RoL– Sekitar 20 wanita penghibur setiap malam mangkal di sejumlah tempat hiburan dan hotel di Kawasan Wisata Malam Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, kata Ketua Ikatan Usaha Kepariwisataan Jalan Jaksa dan Sekitarnya (IUKS) Boy Lawalata di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, para wanita penghibur itu pada umumnya mengenakan pakaian seronok, duduk-duduk di kafe mendengarkan musik sambil merokok, mencari turis untuk dijadikan teman kencan. Apalagi restoran atau kafe di Jalan Jaksa terkenal murah.

Bahkan, katanya, selain wanita penghibur yang datang dari berbagai daerah, terdapat juga laki-laki gay yang mangkal mencari turis yang senang terhadap sesama jenis. “Tak terkecuali, wanita lesbian pun ada di Jalan Jaksa,”  ujarnya.  Meski demikian, kata sesepuh Jalan Jaksa itu, tidak diketahui pasti apakah wanita penghibur, gay dan lesbian yang telah mendapat mangsa itu menggunakan tempat penginapan di Jalan Jaksa (lima hotel dan delapan hostel/wisma) atau tidak.

Ia mengatakan, pada prinsipnya IUKS telah menyebarkan surat edaran yang melarang tempat hiburan dan penginapan di Jalan Jaksa digunakan kegiatan prostitusi.  Helmy Zain, pemilik wisma Ariny, juga membenarkan bahwa banyaknya turis di Jalan Jaksa dimanfaatkan wanita penghibur dan gay mencari uang dan kesenangan.  “Ibarat pepatah, di mana ada gula di situ ada semut, tak terkecuali wanita penghibur juga melihat peluang mendapatkan uang dari para turis,” katanya.

Sementara Kepala Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Aris Husaini,  menegaskan pihaknya selalu melakukan razia terhadap wanita penghibur agar Jalan Jaksa bebas dari prostitusi. “Kalaupun masih ada, itu bagian kecil yang segera ditertibkan kembali,” katanya.

Shalat Jumat di Geger Kalong


Suasa selesai shalat jumat di Geger kalong Bandung

Suasa selesai shalat jumat di Geger kalong Bandung

Jumat 23 Januari 2009 lalu bersama  rombongan Young Muslim Association of Thailand (YMAT) kami berkesempatan shalat jumat di Geger Kalong Bandung.  Dulu Geger Kalong sangat terkenal di Indonesia bahkan sampai ke manca negara, kharisma AA Gym saat itu lagi di puncak nya,  masa ke emesan Darut Tauhid (DT)

Rombongan dari YMAT ini berjumlah 34 orang, dua orang diantara nya wanita, menikmati benar suasana komplek DT, apa lagi saat shalat jumat berlangsung, seluruh badan jalan di penuhi jamaah shalat jumat,  hal yang demikian seperti nya tidak pernah di ketemukan di tempat mereka, mungkin juga di Indonesia.

Agak unik memang lokasi pondok pesanteren DT ini terletak di tengah pemukiman penduduk, dan tersebar di beberapa tempat, masjid nya pun di pinggir jalan tak berhalaman, masjid ini dulu nya adalah tempat tinggal, di renovasi menjadi tempat shalat, terdiri dua tingkat , itu lah sebabnya shalat jumat terutama,  jamaah menempati emperan toko, kios  badan jalan sampai sampai ke sebarang jalan dari lokasi masjid.

Sebagian peserta rombongan dari YMAT didepan cottage DT di Bandung

Sebagian peserta rombongan dari YMAT didepan cottage DT di Bandung

Selama pelaksanaan shalat berlangsung kenderaan lalu lalang, anak anak pulang sekolah dengan sepeda motor nya hilir mudik, tetapi sebagian besar toko yang berhampiran dengan DT tertutup,  beranda nya di pakai membentangkan sajadah atau alas shalat sekadarnya oleh para jamaah yg tak dapat tertampung di dalam masjid.

Di sebelah selatan masjid di seberang jalan jamaah pun penuh sesak, disitu terlihat  monitor TV terpasang sehingga terlihat khatib yang sedang khotbah.

Shalat di tempat seperti itu menjadi satu penomena tersendiri dan menjadi terbiasa tidak merasa terganggu lagi dengan keberadaan kenderaan dan orang yang lalu lalang.

Sekarang pun Geger Kalong masih ramai di kunjungi orang meskipun tak seramai sebelum AA Gym menikahi isteri kedua nya.

Sistem peran serta masyarakat sekitar yang di terapkan  di DT itu yang juga menerapkan Manajemen Qalbu ini mungkin menyebabkan tidak menyurutkan dan orang tetap datang ke Geger kalong dan kegiatan ekonomi tetap berlangsung disitu.

Jadi tidak harus tergantung kepada  kharismatik seseorang, meskipun hal itu cukup berpengaruh juga terhadap sentra – sentra ekonomi yang lain, tetapi ber angsur angsur mulai pulih kembali.

Mengapa Kapolda Kepri di Copot ?


Kapolda BaruIngat kasus Monas bukan Monumen Nasional, tetapi nama gembong ekstasi pemilik 1 juta butir pil haram itu bebas hanya di kenakan hukuman pemakaian sabu  sementara isteri nya di hukum mati, dari sumber yang layak di percaya di sinyalir hal itu lah yang membuat gerah jajaran petinggi polri karena sang Kapolda Kepri ini yang menangani kasus Monas tersebut.

Pengadilan Negeri Jakarta Barat menjatuhkan vonis kepada Liem Piek Kiong alias Monas 1 tahun penjara bukan atas kasus kepemilikan 1 juta ekstasi. Dalam berkas perkara kasus bandar 1 juta ekstasi tahun 2007 silam, status Monas hanya sebagai saksi bukan tersangka.

“Monas kasusnya berbeda, vonisnya jatuh pada 5 Juni 2008 dan sudah selesai,” kata Jaksa Agung Muda Pidana Umum A H Ritonga di ruangannya, Kejagung, Jakarta, Selasa (9/12).

Ritonga mengatakan bahwa kasus Monas berbeda dengan terpidana kepemilikan 1 juta ekstasi, yakni istri Monas, Jat Lie Chandra alias Cece. Dia mengatakan bahwa Monas ditangkap di Mal Taman Anggrek atas kasus penggunaan sabu-sabu.

“Barang buktinya 1,5 gram sabu-sabu dan terhadap perkara ini Monas dijadikan terdakwa, kasusnya sudah selesai, dan bebas dari rutan Salemba,” terang dia.

Ritonga mengaku telah memanggil Jaksa dari Kejaksaan Negeri Jakarta Barat untuk meluruskan 2 kasus berbeda tersebut. Sebab informasi yang beredar saat ini menyebutkan bahwa Monas ditahan hanya 5 tahun penjara sebagai terpidana kasus bandar 1 juta ekstasi.

Ritonga menyatakan bahwa di dalam berkas yang ia terima dari tim penyidik polri tidak ada nama tersangka Monas tapi yang ada hanya istri Monas yaitu Jat Lie Chandra alias Cece. Di dalam berkas perkara itu, Monas statusnya hanya sebagai saksi dari kasus kepemilikan 1 juta ekstasi tiga terpidana mati yakni istri Monas Jat Lie Chandra alias Cece, Liem Jit Wee dan Chua Lik Chang alias Asok.

“Tiga terdakwa kasus kepemilikan 1 juta ekstasi itu semua dihukum mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat tapi tidak ada nama Monas,” imbuh Ritonga.

Mengenai apa alasan Monas tidak di tetapkan sebagai tersangka, padahal informasi yang beredar Monas lah bandar 1 juta ekstasi itu, Ritonga mengaku tidak tahu. Pasalnya Kejaksaan Agung hanya menerima berkas perkara, namun tidak melakukan penyidikan.

“Itu sebaiknya ditanyakan kepada penyidik polisi untuk lebih jelasnya,” pungkas dia.

Informasi yang beredar sebelumnya, Lim Piek Kiong alias Monas, bandar 1 juta ekstasi, hanya dihukum lima tahun penjara. Sementara Jat Lie Chandra alias Cece, istri monas yang hanya bertugas sebagai orang lapangan, justru dihukum mati di pengadilan yang sama.

Monas tertangkap bersama delapan rekanannya 11 November 2007 di Mal Taman Anggrek dengan barang bukti 490.802 butir ekstasi atau senilai Rp 49,08 miliar. Sementara Cece ditangkap di rumah rocker Achmad Albar di Depok tanpa barang bukti.

Jaringan Monas terbongkar 10 November 2007 berawal dari penangkapan Abdurohim, anak buah Monas di Hotel Peninsula dengan barang bukti 9.802 butir ekstasi. Dari kesaksian Abdurohim ditangkaplah Liem Jit Wee dan Chua Lik Chang alias Asok di apartemen Mediterania dengan bukti 1.000 butir ekstasi.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri resmi melantik Kapolda Kepulauan Riau (Kepri) Brigjen Pol Dikdik Mulyana Arif Mansyur. Mulyana menggantikan Brigjen Indradi Thanos yang ditarik sebagai perwira tinggi Mabes Polri tanpa jabatan definitif.

Upacara berlangsung di Ruang Rupatama Mabes Polri. Acara hanya berlangsung 10 menit. Mulai pukul 08.00 pagi berakhir pukul 08.10 WIB. Bahkan, Kapolri tidak memberikan sambutan apapun.

Sertijab hanya ditandai dengan pelepasan tanda jabatan dan penyerahan tongkat komando serta Pataka Seligi Sakti Marwah Negeri milik Polda Kepri. Indradi yang hanya menjabat sebagai Kapolda Kepri selama lima bulan ( Agustus 2008 – Januari 2009) itu, tampak tegas dan tetap tenang saat melapor untuk menyerahkan jabatan.

Lazimnya, sertijab dilengkapi dengan kata sambutan atau amanat untuk pejabat baru. Biasanya juga disertai ucapan terima kasih atas pengabdian pejabat lama. Namun, kemarin tak ada sama sekali. ”Bapak tergesa, mau ada acara,” ujar salah seorang ajudan Kapolri.

Tapi, tampaknya Kapolri tidak begitu terburu-buru. Bahkan, Bambang sempat berlatih menyanyikan lagu Kemesraan bersama Wakapolri Komjen Makbul Padmanegara dan sejumlah perwira tinggi. Tadi malam, Polri memang menghelat acara wisuda purna bagi para purnawirawan yang sudah pensiun.

Ditemui usai menyanyi, Bambang menegaskan mutasi itu merupakan pergantian biasa. ”Hanya perputaran roda organisasi yang sudah lazim di Mabes Polri,” kata mantan Kabareskrim itu.

Bambang juga membantah spekulasi mutasi itu berkaitan dengan jabatan Thanos sebelum menjadi Kapolda Kepri. Yakni, saat dia menjabat sebagai Direktur Narkoba Mabes Polri. ”Tidak ada. Sekali lagi, ini pergantian yang wajar dan biasa,” tegasnya.

Mutasi kali didasarkan surat Keputusan Kapolri no SKEP/ 19/I/ 2009 tertanggal 21 Januari 2009 tentang pemberhentian dan pengangkatan di lingkungan Polri. Brigjen Pol Dikdik Mulyana Arif Mansyur sebelumnya menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan Administrasi Badan Pembinaan Keamanan Polri.

Jabatan Dikdik sebelumnya diberikan pada Brigjen Djoko Sutrisno Santoso yang sebelumnya menjabat Wakapolda Sumut. Kepala Biro Program Anggaran Polri, yakni Brigjen Edward Raymond Takasi bakal menjadi Wakapolda Sumut menggantikan Djoko.

Sumber dari :

http://www.inilah.com/berita/politik/2008/12/09/67604/monas-bebas-istrinya-dihukum-mati/

http://batampos.co.id/Utama/Utama/Sertijab_10_Menit_Tanpa_Sambutan___.html

Berkunjung ke Kanwil Depag Kepulauan Riau


Ka Kanwil Depag Kepulauan Riau Drs H Razali Jaya

Ka Kanwil Depag Kepulauan Riau Drs H Razali Jaya

Kantor Wilayah Departemen Agama (Kanwil Depag) Kepulauan Riau, berlokasi di Senggarang Tanjung Pinang sekitar 14 kilo meter dari pelabuhan Sri Baintan.

Gedung bercat krem dan beratap warna hijau ini baru ditempati akhir  tahun 2008, dari luar terlihat mewah,  menuju ke Bangunan yang baru beberapa bulan di tempati ini dari jalan raya  jalan agak  menanjak karena lebih tinggi sehingga menambah kesan megah terlihat.

Selasa (27/1) kemarin kami berkunjung ke sana, menemui Kepala Kanwil Depag Drs Razali Jaya. Naik ke lantai 2 di terima oleh sekretaris Ka Kanwil, sembari menunggu tamu yang sedang berada di dalam ruangan, kami berlima hanya berdiri saja, karena memang di ruangan itu tak ada kursi khusus untuk tamu yang menunggu.

Ya sudah sekalian melihat ruangan-ruangan yang ada di gedung baru tersebut , dari ruangan tunggu terlihat di luar bagian belakang  Mushalla cukup bagus telah berdiri, ada tandon air untuk wuduk , mungkin air pam belum sampai ke Senggarang.

Di ruangan urusan haji & umroh yang cukup luas, terlihat papan pengumuman daftar tunggu calon jamaah haji sampai ke tahun 2012,  di tahun 2012 saja dari Batam telah mencapai 400 orang lebih.

Jadi teringat daftar tunggu di seluruh Indonesia, dan teringat pula DAU yang tersimpan di rekening bank bank yang sedang diperebutkan antara bank syariah dan bank konvensional, 2009, 2010 sudah tercatat 500 ribu jamaah yang paling tidak sudah menyetor uang ongkos naik haji (onh) paling tidak berkisar antara 5 juta sampai 20 juta rupiah, begitu pun untuk tahun 2011 dan 2012 , karena untuk setoran pertama adalah sebesar rp. 5 juta.

Berapa triliun ONH yang ada DAU itu?  puluhan triliun.

Sekretaris Ka Kanwil memanggil kami untuk masuk ke ruang Ka Kanwil, Razali Jaya menerima kami berlima, kami berlima dari Yayasan Islam Hang Tuah, hendak berencana membuan satu event tentang manasik haji untuk anak-anak sekolah tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA se Provinsi Kepri,   itu lah keperluan kami menghadap sang Kanwil.

Di ruangan Ka Kanwil udara cukup sejuk karena di lengkapi dengan pengatur udara, di plafond gedung baru itu pun terlihat bercak – bercak hitam, bekas bocoran air dari atap sama dengan di ruangan urusan haji & umroh. Diruangan kamar mandi pun plafond dari gypsum itu menjadi hitam karena bocoran air hujan.

Tidak lama hanya sekitar 15 menit kami di ruangan Ka Kanwil, karena kami pun akan pulang ke Batam dan Ka Kanwil pun akan ke Batam juga , pukul 20.oo wibb seperti terlihat di white board beliau akan mengahdiri evaluasi pelaksanaan haji tahun 2008 embarkasi Batam.

Hang Tuah di Bumi Sangkuriang


"Hang Tuah di puncak Tangkuban Parahu Bandung"

"Hang Tuah di puncak Tangkuban Parahu Bandung"

Seorang lelaki dengan pakaian melayu lengkap, tergesa turun dari Toyota Inova, tiga orang pria terus mengapit nya, tentu agaknya dia  seorang pejabat karena harus di kawal bodyguard. Terlihat mencolok pakaian pria ini karena dari ribuan orang yang berada di puncak Tangkuban Parahu hanya dia lah yang berpakaian melayu seperti itu.

Isterinya pun tak kalah cantik dengan baju kebaya warna pink di kombinasi dengan kain  bermotif  coklat serasi terlihat dengan kerudung yang dipakainya.  Bila dilihat dari  belakang, postur  pria ini terlihat seperti Akhmad Dahlan Walikota Batam, senyum nya pun mirip tetapi kumis nya tak setebal Akhmad Dahlan.

Pagi itu Puncak Tangkuban Parahu di selaputi  awan, dari kawah gunung terlihat asap belerang  mengepul,  hari masih pukul sembilan  Sabtu 24 Januari 2009 , “Hang Tuah dah datang bertandang ada apa gerangan” sapa ku, sengaja datang menghampiri  pria yang mirip walikota Batam ini. “Apakah nak menyerang Sangkuriang” goda ku lagi berbasa basi.

“Iya ya kami dari Riau” jawab nya tersipu karena di panggil dengan Hang Tuah Laksamana yang terkenal dari Bumi Segantang Lada itu.

Puncak Gunung Tangkuban Parahu, tak membuat nya sungkan berbaju melayu.

Puncak Gunung Tangkuban Parahu, tak membuat nya sungkan berbaju melayu.

Tak berlama lama menikmati panorama kawah Tangkuban Parahu yang masih terus mengepul “Laksamana Hang Tuah” bergegas meninggal kan Parahu Sangkuriang yang tertelungkup karena di tendang oleh Sangkuriang, Sangkuriang  gagal menyelesaikan tugas nya membuat perahu sebelum fajar menjelang untuk di persembahkan kepada Dayang Sumbi sebagai syarat Dayang Sumbi bersedia di peristeri, padahal Dayang Sumbi adalah Ibu kandung Sangkuriang.

Dayang Sumbi membuat hela, mengetuk lesung  membangun kan ayam terus berkokok dikira hari sudah  pagi, tak jadi lah Sangkuriang memperisterikan Ibunda sejati.

Kisah Hang Tuah pun tak kalah seru nya dengan kelima teman sejawat nya dapat mengaman kan selat Malaka sehingga kisah itu menjadi legenda. Disamping itu aku pun jadi bangga dengan pejabat dari Riau ini tak segan dan sungkan memakai baju melayu menunjukkan jati diri.

Masjid Pertama di Parapat Didirikan oleh Bung Karno


Menurut Neta S Pane tulisan ini telah di muat di Kompas edisi minggu (18/1), (baca juga Neta S Pane)

Menarik untuk di posting ulang, karena mungkin tidak semua bisa membaca tulisan di harian Kompas, terutama untuk informasi masjid pertama di Parapat yang di dirikan oleh Bung Karno semasa pembuangan, di kota sejuk di pinggiran Danau Toba yang terkenal itu. Bila kita dari Sipirok lewat Pahae, betul seperti yang di tulis Neta “Sementara sajian di kedai-kedai pinggir jalan saya agak meragukan kehalalannya.”

Berjalan kaki menyusuri Parapat banyak hal menarik didapat. Di balik jalannya yang berliku dan turun-naik, Parapat menyimpan begitu banyak bangunan tua berarsitektur menggoda.

Parapat adalah kelurahan di tepi teluk di Danau Toba, masuk Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Lebih dari 90 persen penduduknya beretnis Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Selebihnya, etnis Jawa, Sunda, Padang, dan China. Tak heran jika di kota kecil ini terdapat gereja Protestan dan Katolik, masjid, dan wihara.

Berjalan kaki menyusuri Parapat mengingatkan kita pada dahsyatnya letusan gunung api di sana ribuan tahun lalu. Letusan itu membentuk danau berukuran 100 km x 30 km dan berada 1.000 meter dari permukaan laut, dengan Pulau Samosir di tengahnya. Menakjubkan.

Rasa takjub sebenarnya sudah muncul jauh sebelum memasuki Parapat. Lepas dari Pematang Siantar, dari atas ketinggian tebing curam, kita sudah disuguhi keindahan Danau Toba yang menghampar biru di kejauhan. Hingga setengah jam kendaraan menuruni bukit terjal dan berkelok-kelok di bibir kawah Danau Toba, dapat disaksikan sisa muntahan bebatuan dan abu vulkanik yang menurut peneliti Universitas Teknologi Michigan, Amerika Serikat, sebagai bekas letusan maha dahsyat pada 75.500 tahun lalu. Letusan itu memuntahkan bebatuan dan abu vulkanik hingga radius 2.000 km² serta menimbulkan kegelapan selama dua minggu.

Petualangan jalan kaki saya mulai dari tengah kota, di perempatan jalan depan Inna Parapat. Hotel ini dibangun tahun 1911 dan menjadi hotel pertama di kota itu.

Dari sini saya menyusuri Jalan Marihat menuju kawasan Tanjung Sipora-pora hingga ke ujung barat. Jalan kecil berliku dan turun-naik cukup menguras tenaga. Di sepanjang jalan terdapat beberapa bangunan tua dengan arsitektur bergaya kolonial Belanda, sebagian besar kurang terawat.

Wisata arsitektur

Di kawasan paling ujung kembali saya menemukan hal menakjubkan. Sebuah bangunan kuno berdiri kokoh di ujung tanjung bertebing sangat curam. Di kejauhan, di depannya terlihat fatamorgana Pulau Samosir bertemu dengan daratan Sumatera. Jika cuaca cerah, pada sore hari dari gedung ini terlihat jelas proses matahari terbenam di fatamorgana Samosir.

Di tempat ini, pada 1 Januari 1949, Presiden Soekarno diasingkan Belanda. Bung Karno bersama Agus Salim dan Sutan Syahrir dipindahkan ke sana setelah sebelumnya diasingkan di Brastagi, Kabupaten Karo.

Pesanggrahan buatan tahun 1820 itu berukuran 10 meter x 20 meter, dikelilingi halaman seluas dua hektar. Bangunannya bergaya arsitektur neoklasik atau dikenal sebagai Indische Architectuur.

Dari pesanggrahan ini saya jalan memutar menuju timur. Di sisi kanan ada beberapa bangunan tua dan di sisi kiri Danau Toba menghampar. Sementara jauh di seberangnya terlihat mobil kecil-kecil melaju mengisi kesibukan lalu lintas Trans-Sumatera.

Dari sini saya kembali ke tempat awal dan langsung menuju kawasan timur Parapat melalui Jalan Bukit Barisan. Jalanan menanjak curam. Di sisi kiri-kanan jalan sangat banyak terdapat bangunan bergaya arsitektur kolonial. Beberapa di antara bangunan tua itu dijadikan kantor instansi pemerintah.

Kawasan ini tampaknya menjadi pusat kota tua Parapat. Soalnya dari seluruh tempat di Parapat hanya di kawasan ini cukup banyak terdapat bangunan bergaya arsitektur kolonial.

Gaya arsitektur bangunan di kawasan ini merupakan perpaduan selaras antara tiga unsur: tradisional, modern, dan tropis. Karya arsitektur yang ada umumnya menunjukkan perhatian besar pada iklim tropis Parapat terlihat pada jendela dan kisi-kisi ventilasi yang menjulang tinggi dari lantai ke langit-langit.

Meski Parapat kota sejuk, jendela dan kisi-kisi itu difungsikan juga sebagai corong pergantian udara dan juga agar penghuni dapat leluasa memanfaatkan cahaya matahari.

Di tempat ini terdapat beberapa bangunan dengan gaya arsitektur dipengaruhi aliran Delf. Hal ini terlihat dari upaya menggabungkan bangunan kotak dengan sistem kisi (grid) rasional, yang kemudian diperkaya dengan unsur pracetak untuk dinding luar.

Di bagian tengah kawasan timur ini terdapat bangunan gereja HKBP, mewakili arsitektur transisi klasik Eropa, terlihat modern tetapi tetap berciri tropis.

Di Parapat, bangunan tempat peristirahatan umumnya terinspirasi arsitektur vernakular Nusantara dengan adaptasi pada iklim. Ciri khasnya, halaman rumah adalah rerumputan yang menghampar luas.

Bagi orang Batak, rumah memang lebih dari sekadar tempat tinggal, tapi juga bangunan yang ditata secara perlambang, berkonteks dengan sosial budaya dan status kedudukan di dalam masyarakat.

Potensi besar

Meski Bung Karno sangat singkat bermukim di Parapat, tetapi dia menorehkan sejarah baru dengan memprakarsai berdirinya masjid di kota ini.

Pada tahun 1949, saat hendak melaksanakan shalat Jumat, Bung Karno tidak menemukan masjid di kota ini. “Di sini belum ada masjid. Dirikanlah masjid untuk shalat orang-orang Islam yang singgah,” ujar Bung Karno.

Mendengar ucapan sang Proklamator, Abdul Halim Pardede mewakafkan sebidang tanahnya untuk pembangunan Masjid Taqwa.

Parapat tentunya tak hanya bersejarah bagi umat Muslim, tetapi juga sangat bersejarah bagi umat Nasrani Batak Toba. Pada tahun 1909 dilakukan proses permandian suci oleh Pendeta Theis terhadap 38 orang Batak di kota ini setelah pada 12 Februari 1900 Pendeta Samuel Panggabean dan Friederich Hutagalung diutus ke daerah sekitar Danau Toba untuk menyebarkan agama Kristen.

Dari sini terlihat Parapat memiliki wisata alam, wisata arsitektur, dan potensi wisata rohani, wisata sejarah, bahkan wisata kuliner.

Parapat memiliki kuliner yang menarik, seperti lomok-lomok (lemak), ikan naniura (ikan mas yang dimasak pakai asam), ikan naniarsik (ikan mas yang diarsik), lapet, dali (susu sapi), sop ikan danau toba (nila) asam pedas, ikan bakar hopar, dan ikan pora-pora goreng. Memang kuliner khas Batak ini baru bisa dinikmati di hotel-hotel berbintang dengan harga relatif mahal. Sementara sajian di kedai-kedai pinggir jalan saya agak meragukan kehalalannya.

Sayangnya Parapat dengan segala potensinya tak kunjung mampu menarik wisatawan. Parapat terlalu sepi jika dibandingkan dengan Bali. Sepanjang hari hanya saya seorang diri yang menyusuri kota wisata ini.

%d blogger menyukai ini: