Syarat -Syarat Lain Menjadi Calon Gubernur Kepulauan Riau


Pernahkah Gubernur kemari?.....Jangan kan Gubernur walikota pun tak pernah...jangankan walikota camat pun enggan menyapa.... mengapa ya?

Pernahkah Gubernur kemari?.....Jangan kan Gubernur walikota pun tak pernah...jangankan walikota camat pun enggan menyapa.... mengapa ya?

Lagi ramai dimana mana perbincangan soal calon gubernur Kepri, sebelum kasus Damkar mencuat yang menjadikan calon incumbent terseok seok karena oleh KPK dijadikan tersangka, dulunya nyaris tak ada tandingan. Siapapun yang dipasangkan dengan nya pastilah menang.

Tetapi kini banyak calon bermunculan, agak agak berani lah konon.

Koran Koran pun ramai mengusung nama nama cagub, di pangkalan ojek tak kurang serunya, maklum tak berapa bulan lagi masa jabatan orang nomor satu di Kepulauan Riau ini akan berakhir jadi wajar lah.

Syarat Jadi Cagub Kepri

Tak susah syarat menjadi cagub di Kepri ujar ku saat ditanya teman kemarin …..

Calon itu cukup disuruh test Jalan diatas pelantar kayu dikala air sedang pasang surut jauh ke tengah, naik dari pancung melalui tangga kayu bulat berlumut.

Pelantar seperti itu ribuan jumlah nya di kepulauan riau yang selama ini tak pernah dilalui oleh mereka yang sekarang menjabat  baik walikota maupun Gubernur .

Nah kalau lulus baru lah dia boleh mencalonkan diri………… kalau sudah tak larat lagi nak berjalan di atas pelantar yang bergoyang – goyang  itu,  tak usah lah Dia nak mencalonkan diri .

Mengapa demikian karena selama ini jarang mereka mengunjungi rakyat nya yang harus pulang kerumah melalui pelantar macam tu….jangan kan mengunjungi menjeling pun tidak.

Sanggup di test…………wahai calon calon Gubernur , ??????????????

Iklan

Pulau Pulau Di Batam Yang Telah Menjadi Milik Pribadi


Pulau Pulau ini telah dimiliki orang semua

Pulau Pulau ini telah dimiliki orang semua

Jadi pengen nulis lagi, hampir sebulan tak ada postingan baru. Dibilang sibuk sih enggak juga tetapi ya memang sibuk , yang jelas menyibukkan diri, iya, menyibukkan diri sejak awal Januari 2010 puluhan pulau pulau disekitaran Batam aku kunjungi, puluhan pula yang hanya di lewati.

Gugusan  pulau SEGANTANG LADA di Kepulauan Riau terutama di seputaran Batam saja banyak yang telah berpenghuni, “kalau ada penghuni nya disitu biasanya ada air tawar ” ujar Dormat . Dormat adalah warga suku laut yang menemani kami mengunjungi beberapa pulau di sekitaran Kecamatan Nongsa Batam

Tetapi lebih banyak lagi yang belum berpenghuni, misalnya saja Pulau Nipah, bukan Pulau Nipah yang hampir tenggelam karena pasirnya “terkuras”  karena berbatasan dengan negara Singapura itu, tetapi Pulau Nipah yang ini adalah masuk dalam Kecamatan Galang Batam.  Hampir 30 menit dengan pompong  kami melalui pulau di depan Pulau Nipah itu terlihat hanya rimbunan pepohonan, tak terlihat satupun ada bangunan di pinggir pantainya. Hutan mangrove nya pun tak terlihat ada bekas di potong. ” Pulau ini milik seorang pengusaha besar dari Tanjung Pinang” ujar Azman sembari menyebutkan nama pengusaha itu. Azman juga adalah warga suku laut yang sejak lahir tinggal di dekat Pulau itu.

“Yang sebelah kiri kita ini punya seorang anggota dewan” jelas Azman lagi, iyapun menyebutkan nama anggota dewan tersebut.

Lain lagi saat perjalanan ke pulau pulau sekitaran barat nya Batam. Dari pelabuhan Pandan Bahari naik pancung ke pulau Gara, Pulau Bertam, sebelah kanan ada pulau Lingka . Ketiga pulau berpenghuni ini dihuni oleh masyarakat suku laut. Menuju utara ke Pulau Kasu sampai ke Pulau Terung , di dekat pulau itu terbentang luas sebuah pulau bernama Kepalajeri , pulau ini pula sedang disengketakan siapa yang paling berhak mengelolanya.

Kondisi cuaca seperti saat ini di musim angin Utara tak banyak orang yang berani mengunjungi pulau pulau yang masih dalam wilayah Kota Batam. “Tak usah lah pulang , bermalan disini saja , hari gelap, angin kencang ” saran dari Azman dan pak Thalib penduduk kampung Teluk Sunti Kelurahan Pulau Terung Kecamatan Belakang Padang menahan kami agar tidak melanjutkan perjalanan pulang.

Pelantar yang kami lalui bergoyang goyang karena memang air sedang pasang surut jauh ke tengah, kami putuskan tetap pulang ke Batam karena perjalanan malam itu akan di lanjutkan ke Pulau Kubung. Di Pulau Kubung telah menunggu Ainur Rafiq dan malam itu kami akan bermalam bersama warga suku laut, karena telah direncanakan jauh jauh hari.

Hari telah menunjukkan pukul 10 malam saat kami tiba di pelabuhan Telaga Punggur, air laut pasang naik “ini pasang perdana” celetuk Santo ketika melihat air sudah mencapai pelantar. Angin masih kencang, ombak terlihat memutih dikejauhan.

Pakaian yang basa oleh air laut karena terjangan ombak sejak dari Teluk Sunti tetap masih kami kenakan sampai di Pulau Kubung baru diganti, karena sepanjang jalan pun ombak air laut masih menerpa kami.

Lepas tengah malam tak terdengar suara angin, air laut terlihat tenang sekali, rembulan jauh menuju barat. Pemandangn dari pantai pulau tempat kemah kami tidur indah terlihat. “Pulau Pulau itu banyak yang dimiliki oleh orang dari Singapura” ujar Santo. “Tetapi atas nama orang sini” ujar nya lagi.

“Untuk apa mereka membeli pulau pulau ini” tanyaku pada Santo, Santo senyum “enggak tau lah” jawabnya.

Untuk apa ya mereka membeli pulau pulau itu?…………….

Apa benar memang pulau pulau itu sudah menjadi milik pribadi…..??????

Apa ada kaitannya dengan akan dibangun nya Jembatan Babin .??????

“Katanya tanah nya bagus , sejenis tanah bouksit, mau dibawa ke singapura” celetuk Santo lagi……….. aku meliriknya.

Lowongan Kerja Di Klinik Hang Tuah Batam


Klinik dan Rumah Bersalin Hang Tuah

Membutuhkan :

Dokter

Apoteker

Bidan

Perawat

melayani pasien anak sekolah dan juga umum, praktek pagi, sore dan malam.

hubungi lebih lanjut ariesaja@yahoo.com atau imbalobatam@yahoo.co.id atau kirim lamaran ke alamat jalan Ranai no 11 Bengkong Polisi Batam 29432 telpon 0778 413607, 0778411068, 0778414042 Fax : 0778413606

Mengejar Mimpi


Aku punya mimpi, sejak dulu, sejak kecil lagi, sebagian mimpi ku itu menjadi kenyataan.

Hehehe…… mimpi nya enggak muluk muluk koq, cuma pengen ngunjungi makam wali songo, dulu sewaktu di Sekolah Dasar ( d/h Sekolah Rakyat ) aku baca buku tentang penyebaran Islam di Indonesia yang di bawa wali songo. Kapan ya bisa ke Jawa gumam ku dalam hati.

Sekolah Rakyat waktu itu di kampung ku hanya sampai kelas 4 (empat ) saja, kelas 5 dan kelas 6 nya harus ke kecamatan.   Kampung ku itu bernama Kuala Besilam sekitar 4 kilometer dari Tanjung Pura Langkat. Kuala Besilam itu masuk Kecamatan Padang Tualang .

Meskipun kampung itu tak bisa di lalui mobil (emang mobil belum ada dulu ya)  karena memang jalan nya minta ampun, tetapi saat itu ada kereta api yang rutin setiap hari dari Kota Raja sekarang Banda Aceh ke Medan. Pukul 7 pagi biasa nya kereta api pertama yang dari Pangkalan Berandan sudah sampai di stasiun kereta api Kuala Besilam.

Kereta api itu membawa seorang guru kami yang paling cantik se Kuala Besilam, namanya Ibu Habibah. Ibu Habibah ini tinggal nya di Tanjung Pura orang tempat kami menyebut nya Langkat .

Beliau lah yang mengajarkan Agama Islam kepada kami, karena seorang guru yang satu lagi lelaki agamanya Kristen pak Siagian namanya.  Jadi di sekolah itu hanya ada dua orang guru yang mengajar di 4 kelas.  Empat rombongan belajar ini tak banyak murid nya hanya belasan orang, murid murid disitu adalah anak karyawan dari perkebunan Karet PT Bachruni, bekas nasionalisasi dari perkebunan Belanda.

Meskipun begitu Kuala Besilam adalah desa yang terkenal di manca negara, wai…….kenapa bisa , karena terkenal nya lah sehingga stasiun kereta api ada disitu, karena setiap tahun ada perayaan (Houl orang disana menyebut) dari tuan guru Besilam namanya, seorang yang ilmu ke Islaman nya sangat mumpuni di Nusantara, ahli Tareqat Naqasabandiya.

Murid murid nya banyak di Malaysia, Singapura, Brunai sampai ke Thailand sana, tak tahu apa kaitan nya dengan Kerajaan Islam di Nusantara yaitu kerajaan Champa. Tetapi kalau kita lihat dalam buku yang ada disitu, di perpustakaan pesantren , hampir semua Raja – Raja yang berada di Sumatera jauh sebelum kemerdekan belajar agama Islam  di Besilam.

Tanjung Pura sekitar 60 kilometer dari Medan, seorang satrawan terkemuka Indonesia Amir Hamzah dikebumikan disana, persis disamping Masjid Azizi.

SMP kulalui di Tanjung Pura, keadaan ekonomi yang sangat berpengaruh dengan keadaan politik dengan meletus nya G30S PKI, kami pindah ke Medan. Banyak teman sebanyaku waktu itu , orang tuanya tak tentu rimbanya, karena mereka mendapatkan tanah untuk di garap, di buat sawah atau ladang, dan untuk mendapatkan lahan mereka  harus ikut dalam salah satu organisasi Tani yang rupanya di bawah (onderbow) orpol yang terlarang.

%d blogger menyukai ini: