Ramadhan di Brunei, Berbuka Dengan Kurma Hadiah Dari Sultan


Pusat Dakwa Islam Brunei

Pusat Dakwa Islam Brunei

Sebenarnya masih banyak lagi tempat yang belum kami kunjungi di Sabah Malaysia, terutama ke tempat pemukiman muslim minoritas, tetapi kami harus berangkat petang itu Jumat (20/8) ke Brunei. Kepada pak Abas Basori Konjen RI di Sabah yang telah memfasilitasi kami selama di Kota Kinabalu kami ucapkan terimakasih.

Begitu juga kepada Datuk Harris Mohammad Salleh,  Datuk Harris Salleh adalah mantan Menteri Besar Sabah, aluan nya begitu luar biasa kepada kami,  kami bisa berjumpa dengan Saudara Baru di Kampung Tambunan salah satu kampung dalam binaanya. Juga kepada JAKIM Sabah. Serta Pengurus masjid Bandaraya Kota Kinabalu  yang mengajak kami berbuka puasa di masjid yang megah di Kota Kinabalu masjid Kampung Air yang terkenal itu, dan paling khas lagi untuk seluruh pengerusi United Sabah Islamic Association (USIA) Pertubuhan Islam Seluruh Sabah.

Banyak sekali pihak yang membantu kami dalam perjalanan Safari Ramadhan 1431 H di Sabah itu, begitu juga dari Penubuhan Majlis Ugama Islam Sabah (MUIS), Penubuhan Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sabah (JHEAINS) , sedikit banyak dapatlah  gambaran tentang perkembangan Islam  di Negeri Dibawah Awan ini, sebutan untuk Kota Kinabalu.

Berbuka Dengan Kurma Hadiah Dari Sultan

Pak Hasan dari KJRI telah menunggu di Bandara Kota Kinabalu saat kami datang, karena sejak pagi lagi kami sudah keluar dari hotel, dengan dua orang staff Datuk Harris Salleh kami mengunjungi Desa Tambunan sekitar 80 kilometer dari Kota Kinabalu. Di Desa Tambunan itu kami mengunjungi Saudara Baru (sebutan untuk orang yang baru masuk Islam) , seluruh penduduk disitu dari suku Kadazan Dusun sudah memeluk Islam jumlah mereka sekitar 15 keluarga.

Masjid Kubah Mas Brunei Darussalam

Masjid Kubah Mas Brunei Darussalam

Dengan Air Asia penerbangan low cost ini kami berangkat dari terminal 2 (dua) Lapangan Terbang Kota Kinabalu menuju Brunei, penumpang di ruang tunggu penuh, baik jurusan ke Singapura, Kuala Lumpur dan ke berbagai tempat, Bandara Kota Kinabalu adalah lapangan terbang tersibuk kedua di Malaysia setelah Kuala Lumpur.

Jogie, tak jadi membuka selt belt nya dan dia duduk kembali, karena announcer mengatakan tak berapa lama lagi kita akan mendarat di Lapangan Terbang Bandar Seri Begawan.   Aku tersenyum, karena memang duduk pun belum sempurna lagi kita sudah hampir sampai.

Tiba di affront Bandara aku bergegas ke kounter taxi, karena memang di Brunei tidak ada teman yang di tuju, jadi kami rombongan dari Batam sebanyak tujuh orang berencana menyewa kenderaaan saja yang bisa memuat 9 orang. Dan menginap di Hotel yang memang telah kami ketahui nama dan alamatnya dari internet.

Harga sewa mini bus sudah disepakati, namun perlu di rundingkan terlebih dahulu dengan dua orang teman yang dari Jakarta, Pak Mas’ud dan pak Ikhwan. Kedua teman kami dari Muhammadiyah Jakarta ini adalah dosen.   Kiranya saat di Sabah ada teman pak Mas’ud sesama Dosen yang menelepon dan memberitahukan kedatangan kami, temannya teman pak Mas’ud ini juga seorang Dosen yang mengajar di Institut Teknologie Brunei (ITB), DR Gamal Zakaria namanya, telah belasan tahun bermastautin di sana, tetapi masih tetap warga negara Indonesia , asal dari Bengkalis Kepulauan Riau. “Iya saya pun mengajar di ITB , tapi bukan ITB Bandung” kata Bang Gamal sambil tersenyum

Bersalaman dan berkenalan sejenak dan tahu kami dari Batam, DR Gamal mengajak kami kerumah nya. “Tak payah lah nak sewa taxi dan menginap di Hotel kita kerumah saya saja” Ajak Bang Gamal begitu aku memanggilnya . Pria 40 tahunan ini menelpon seseorang, agaknya soal kenderaan. Menurut Bang Gamal agak susah kalau nak makan sahur di Brunei, apalagi kalau tinggal di Hotel, ” Kalau pun tak nak tidur di rumah saya, tak apalah petang ini kita berbuka di tempat saya, ” ujar Bang Gamal lagi dengan logat Melayu khas Bengkalis nya.

Bang Gama dan Isteri....."lebaran ini kami pulang ke Bengkalis" katanya

Bang Gamal dan Isteri....."lebaran ini kami pulang ke Bengkalis" katanya "Mampir ke Batam ya" ajakku.

Melihat kesungguhan Bang Gamal mengajak ke rumahnya, Kami berangkat meninggalkan lapangan terbang, dengan tiga kenderaan sedan kami meluncur kerumah Dr Gamal, sekitar 30 menit  agak keluar kota, kami tiba di rumah yang cukup besar bertingkat dua. Bang Gamal yang bergelar Datuk ini bersiterikan orang Brunei yang masih kerabat Sultan. “Ini bukan rumah saya, ini rumah kerajaan”  jelas Bang Gamal saat masuk kerumah yang memang diatas bumbung rumah nya itu tertulis R&K. Agaknya singkatan dari Rumah Kerajaan.

Jadi lah petang itu kami berbuka di rumah DR Gamal, di ruang makan diatas meja terletak berbagai macam juadah, yang istimewa ada sekotak kurma pemberian dari Sultan.  “Ini hadiah dari Sultan” ujar Gamal sembari menyodorkan kepada kami untuk di cicipi. Bang Gamal ini sering ke Batam saat Nyat Kadir masih menjabat Walikota, beliau juga teman dekat pak Yusmar. “Salam ya sama pak Yusmar kalau bersua”  pinta Bang Gamal. Dan Bang Gamal pun masih sekampung, sama-2 orang Bengkalis dengan Edy Yatim mantan Pemimpin Redaksi  Harian Batam Pos, yang tentu saja sangat kami kenal.

Jadilah malam itu kami menginap di rumah Bang Gamal, yang telah mempunyai 3 orang anak ini, tiga kamar yang luas yang memang sengaja di persiapkan bagi tamu tamunya, kami tempati.  Sahur hari itu pun kami di tempat Bang Gamal, dengan menu yang berbeda.  Mungkin melihat penasaranku Bang Gamal berkata ” Mertuaku punya restoran, semua makanan ini dari sana”  jelasnya sambil tersenyum.

Iklan

Antara Sabah Dan Sarawak Ada Brunei


shalat di bangku terminal Miri Sarawak. Karena tidak ada fasilytas mushalla di situ

shalat di bangku terminal Miri Sarawak. Karena tidak ada fasilitas mushalla di situ

Ibukota Sabah adalah Kota Kinabalu, rencana tanggal 6 September 2010  akan diadakan pertemuan bilateral antara pemerintah Indonesai dengan Malaysia di Kota itu. Mudah mudahan saja persoalan nya cepat kelar.

Pertengahan Agustus 2010 rombongan kami dari Muhammadiyah Internasional sebanyak sembilan orang mengunjungi  Kota Kinabalu, di sana kami di fasilitasi oleh KJRI Kota Kinabalu, bertemu dengan lembaga keagamaan yang ada disana. Bertemu dengan pengurus Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) Cawangan Sabah. Selain dengan JAKIM yang bersifat Nasional ada juga Penubuhan di Sabah yang bernama Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sabah (JHEAINS), Penubuhan ini bersifat lokal.

Disamping itu ada lagi  Penubuhan Majlis Ugama Islam Sabah (MUIS). Dan NGO yang paling aktif di Sabah dalam kemajuan Agama Islam salah satu nya adalah USIA, USIA adalah singkatan dari United Sabah Islamic Association atau Pertubuhan Islam Seluruh Sabah.

Saudara Baru

Di Sabah, orang menyebut dan menamakan orang -orang yang baru masuk Islam dengan sebutan Saudara Baru. Saudara Baru ini lah yang merubah peta politik di Sabah, sejak September 1975.  Semula diawal bergabungnya Negeri Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Melayu  tahun 1957 penduduk Islam di Sabah hanya sekitar 30 persen saja.  Perkembangan yang begitu signifikan pada tahun 1971 umat Islam di Negeri Sabah telah melebihi 50 persen.

Itulah sebabnya Islam is the religion of the state, namun demikian agama-agama lain boleh diamalkan dengan aman dan harmoni di mana-mana di seluruh negeri.Hal ini tidak lepas dari peranan USIA di Sabah.

Saudara Kita

Kalalu di Sabah penyebutan untuk yang baru memeluk Islam adalah Saudara Baru sementara di Sarawak penyebutan nya adalah Saudara Kita. Luas wilayah Sabah dan Sarawak berbanding sama dengan luas wilayah yang ada di Semenanjung, Mulai dari dari Johor sampai ke Perlis,  kedua negeri ini pula sepajang wilayah nya berbatasan dengan Indonesia. Ribuan kilometer panjangnya.

Menurut Pak Ismail Setia Usaha JAKIM Cawangan Sarawak, orang baru memeluk Islam di Sarawak lebih akrab kalau di panggil Saudara Kita ketimbang Saudara Baru, pak Ismail sang mantan Diplomat yang sudah bekerja menjadi setia usaha di JAKIM ini menjelaskan ada juga NGO di Sarawak yang  serupa dengan USIA Sabah,  yaitu HIKMA Sarawak , yang juga bergerak dalam dakwah Islam.

Mungkin karena luas negeri Sabah hanya setengah luas dari Negari Sarawak begitu pun populasi penduduknya enam kali lebih banyak dari pada negeri Sabah, polulasi penduduk Sabah sekitar 300 ribu jiwa, agama Islam belum menjadi mayoritas di Sarawak.  Sehingga perlembagaan negeri Sarawak belum bisa meluluskan sebagaimana  DUN  Sabah meluluskan dan mensahkan  Islam is the religion of the state.

Selain Kuching sebagai ibukota Negeri , ada lagi beberapa kota lagi di Sarawak, seperti kota Miri, kota ini berbatasan langsung dengan Brunei, sebagai tempat ceck point pemeriksaan Imigrasi.  Di Miri banyak perhikmatan bus yang menuju ke Kuching hampir setiap jam, dan dari Miri pun ada Damri perusahaan Bus Indonesia yang menuju ke Pontianak Kalimanatan.

Boleh dikatakan Miri adalah salah satu kota tersibuk di Sarawak, namun Kota Kinabalu di Sabah adalah negeri kedua tersibuk penerbangan nya setelah Kuala Lumpur.

Fasilitas Umum yang Minim.

 

Photo bersama Katua Pengerusi JAKIM Cawangan Sarawak.

Photo bersama Katua Pengerusi JAKIM Cawangan Sarawak.

Kalau di Sabah Saudara Baru, di Sarawak Saudara Kita di Indonesia apa ya.? Ada yang menyebut orang baru masuk Islam itu adalah  Muallaf tetapi di Batam kami menyebut nya Muhtadin, kata almarhum Haji Adamri Al Husaini mantan Ketua MUI Kota Batam dulu, Muhatadin artinya adalah orang yang diberi petunjuk.

Perjalanan di dalam bulan Ramadan seperti kami memang ada ruksa, yaitu boleh tidak berpuasa, tetapi kami semua nya berpuasa. Pagi selepas Sahur dari rumah kediaman DR Gamal di Brunei, dengan mini bus kami bertolak ke Miri, perjalan sebenarnya  di tempuh sekitar 2 jam, tetapi ada pemeriksaan imigrasi di perbatasan, jadi memakan waktu tiga jam.

Di Miri kami memesan tiket yang langsung ke Kuching, harga per orang nya berkisar dari 70 sampai 90 ringgit Malaysia, wanti wanti ke kounter bus minta yang direct sama seperti bila kita hendak ke Bangkok dari Kuala Lumpur atau dari Singapura Ke Hatyai (Thailand) , ternyata hal itu tak berlaku di Sarawak. Hampir semua stasiun bus yang ada sepanjang perjalanan di singgahi, malahan penumpang di tengah jalan pun bisa menyetop dan diangkut.

Kami memesan bus dengan kursi jejer tiga,  bukan yang empat sit , agar lebih selesah kata orang Malaysia, dan tentunya harganya lebih mahal, berangkat sekitar pukul 2 setengah petang. Menunggu keberangkatan karena masih ada beberapa jam lagi  kami berkeliling dulu di Pasar Miri, suasananya tak begitu jauh dengan pasar Tanjung Pantun dan DC mall di Batam

Tak ada apa yang di beli disitu, masuk waktu Juhur kami sudah berada di terminal Bus, Hari itu Ahad (22/8) , sejak pagi hujan turun , terkadang berhenti sebentar dan lebat kembali. Tak ada fasilitas mushalla di terminal itu. Kami tanyakan kepada petugas yang berseragam dimana kalau mau shalat, dia menunjukan ada bangunan sekolah di sebelah timur terminal. Rupanya hari Ahad semua pagar sekolah itu terkunci.

Seorang ibu mungkin dari suku Kadazan mendengar perbincangan kami, dia mengatakan kalau di Petronas ada tempat shalat, Petronas adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kalau di Indonesia Pertamina. Kesana lah kami pergi di bawah hujan rintik rintik, mendekati lokasi Petronas yang berbatasan dengan Kantin dan lapangan parkir terminal, seorang ibu yang sedang menyingkap celananya menyapa kami ” Tak boleh lalu kesitu, air dalam” sembari menunjukkan betis nya bahwa untuk ke lokasi Petronas jalan pintas memotong harus melalui rawa rawa yang sekarang sedang di genangi air.

Kami pun berputar lagi hari sudah hampir pukul 2 , melalui kantin terminal yang banyak di penuhi orang menjual makanan. Karena kami membawa bekal lauk dari Batam, kami pun membeli nasi putih saja di pojok terminal ada seorang ibu yang memakai kerudung. Untuk ke tempat membeli nasi tadi kami agak menghindar jauh karena sebelum ketempat itu adalah tempat penjualan babi segar.

Kalau harus shalat di Petronas, kita mesti berputar lagi keluar terminal, rasanya sudah letih berputar putar dan bisa jadi ketinggalan bus. Untuk shalat Juhur dan shalat Ashar hari itu kami jamak dan qasar, dan tempat shalat yang kami pilih adalah di bangku terminal Miri. Kayak nya tak ada lagi tempat yang ideal untuk shalat waktu itu, karena hujan dan lapangan becek dan jorok.

Chek Ismail dari JAKIM, di KJRI Kuching Sarawak

Chek Ismail dari JAKIM, di KJRI Kuching Sarawak

Ratusan mata memandang kami berganti ganti shalat di terminal satsiun Bus Miri, hal itu lah yang kami utarakan saat berjumpa dengan Ketua Pengerusi JAKIM di Kuching saat beraudensi.

Shalat dan Sahur di Bus

Shalat Magrib dan Isya, kami jamak dan qasar kembali, dan shalat nya di dalam bus sambil duduk. Bus yang kami tompangi tidak behenti saat waktu berbuka, jadi kami berbuka di dalam bus. Rupanya supir bus sudah tahu kalau kami berpuasa, lampu di dalam bus di terangkan nya, sehingga dapatlah kami berbuka sekadarnya.

Bus kemudian berhenti sekitar pukul sembilan malam, tetapi bukan di terminal bus umum, jauh di luar kota Sibu berhenti di tempat atau kedai nasi yang memang disiapkan oleh pengusaha bus, seperti di Indonesia juga, setiap perusahaan bus masing masing punya kedai nasi langganan.

Niat mau makan sepuasnya disitu tak terlaksana, seorang tukang masak nya dengan bertelanjang  dada, agak berkeringat perut nya gendut , terlihat pusat nya membawa nampan berisi mie di dalam mangkok. Kami hanya numpang buang air kecil dan berwuduk disitu, “tak larat rasanya nak makan dengan aroma yang spesial seperi itu”. sambil tersenyum Aries Kurniawan dan kawan yang  lain sepakat kalau kita kembali ke Bus makan sebisanya di bus.

Semua perihal kami ini kami ceritakan juga dengan dengan pengerusi JAKIM, mereka meminta kami menyampaikan langsung kepada Datuk, Datuk yang dimaksud adalah Menteri Besar Sarawak yang dalam rencana akan berjumpa dengan rombongan kami esok Selasa (24/8)  petang sekitar pukul 4 . “Alangkah baik nya hal ini pak sampaikan langsung ke Datuk, terasa berbeda bila kami yang menyampaikan”  pinta Ketua Pengerusi JAKIM berulang ulang.

Sayang kami tak dapat langsung menyampaikan hal itu kepada Menteri Besar Sarawak sebagai mana yang sudah di jadwal kan oleh JAKIM dan KJRI Sarawak karena  rombongan kami  dari Batam akan bertolak ke Johor Bahru dari Kuching hari itu juga Selasa (24/8)  pada pukul 11 tengah hari.

Ya semoga perjalan berikut nya ada fasilitas mushalla di terminal-terminal Bus , dan lagi, ada perhikmatan Bus seperti Transnasional, yang akan berhenti di terminal yang banyak menjual makanan halal dan berhenti sesuai dengan waktu shalat.

Gunung Sinabung Yang Pernah Kudaki Itu Kini Meletus


Pramuka Saka Bayangkara

Gunung Sinabung Kabanjahe Sumatera Utara, Desa Guruh Kinayan sebelah kiri mulai pendakian dan Desa Lau Kawar tempat Finis kaki gunung sebelah kanan.

Gunung Sinabung Kabanjahe Sumatera Utara, Desa Guruh Kinayan sebelah kiri mulai pendakian dan Desa Lau Kawar tempat Finis kaki gunung sebelah kanan.

Iya Gunung yang sekarang mengeluarkan lava panas nya itu pernah ku daki, itu terjadi pada awal tahun 70 an . Aku adalah salah seorang anggota Pramuka Gugus Depan Medan 3- 6 , yang tergabung dalam Saka Bayangkara di  Komdak II Sumatera Utara, Dulu namanya Komdak  (Komando Daerah Kepolisian) , ya kalau sekarang ini setingkat POLDA. Di awal tahun 70 itu Komdak II beralamat di Jalan H Zainul Arifin, atau orang Medan menyebut nya Kampung Keling.

Tidak seperti sekarang ini satu Gugus Depan (Gudep) Pramuka hanya terkonsentrasi di satu sekolah sekolah saja.  Kami di Gudep Medan 3-6 anggotanya terdiri dari berbagai sekolah, dan penegak nya  bergabung di Saka Bayangkara.

Banyak hal yang yang dapat di buat dengan bergabung di dalam Saka, karena kami di Bayangkara sering dan acap dilibatkan dalam kegiatan Kepolisian seperti KAMTIBMAS misalnya.  Yang sering sekali adalah membantu pak Polisi menjaga kelancaran lalu lintas.

Hiking Ke Kabanjahe

Kami juga tergabung dalam group Hiking Daerah Sumatera Utara, dan itu adalah kegiatan Hiking yang ke dua se-Sumut,  senang sekali rasanya Saka kami pun ikut dalam kegiatan Hiking yang akan di adakan di Kabanjahe. Kabanjahe adalah kota kecil di Tanah Karo, dari Medan dengan 2 bus yang di fasilitasi oleh KOMDAK, rombongan saat itu tidak langsung ke Kabanjahe, tetapi kami satu malam kemping di  Sibolangit. Besoknya di lanjutkan ke Kabanjahe.

Sebelum Kabanjahe ada satu kota di Sumatera Utara (Tanah Karo) yang cukup terkenal dengan Pariwisatanya yaitu Brastagi. Banyak Turis datang kesana, disitu pun ada satu Gunung, Gunung Sibayak namanya, tetapi tidak setinggi Gunung Sinabung di Kabanjahe.

Gunung Sibayak pun tetap mengeluarkan asap belerang, asap ini terlihat dari jauh. Sekarang Pertamina sedang memanfaatkan panas bumi dari situ (geothermal). Udara di Brastagi cukup dingin , tetapi lebih dingin lagi udara di Kabanjahe. Tak tahu saat itu berapa derajat suhunya, hanya saja dapat dirasa dan dilihat dari saat kita bernafas, uap yang keluar dari mulut berwarna seperti awan.

Dan bisa juga di lihat hampir semua hidung anak anak disana yang kami lihat pucuk hidungnya memerah dan terkelupas, mungkin ini akibat uap belerang dan udara dingin disana. Terkadang sesekali tercium seperti bau kentut, rupanya itu bau belerang.

Berjalan di daerah pertanian baik di Brastagi maupun di Kabanjahe, hamparan kebun kol (kubis) , tomat , wortel dan palawija lain menjadi pemandangan tersendiri. Kami di wanti wanti jangan sekali sekali mengambil tomat yang ranum yang banyak dijumpai di sepanjang  jalan  yang di lalui . “Konon kabarnya bisa tumbuh tomat di perut”  itu lah hebat nya patsum yang harus di turut. Lha caranya kalau kita mau beli orang nya tidak ada,  “letakkan saja uang nya nya disekitar pohon yang kita ambil buahnya”  itu lah pesan kakak Pembina.

Guruh Kinayan dan Lau Kawar

Untuk mendaki Gunung Sinabung yang tingginya sekitar 2.400 meter diatas permukaan laut itu, kami diantar oleh bus sampai ke Desa yang bernama Guruh Kinayan, sampai situlah bus yang bisa saat itu. Disitu telah banyak sekali rombongan pendaki. Dari desa itu kita berjalan kaki ke rute pendakian.

Bagi kami yang belum pernah mendaki gunung dan ini adalah yang pertama sekali, semua petunjuk dari kakak Pembina seperti harus tetap dalam satu rombongan, tetap memegang tali. Di Ransel pun telah siap bongkahan kelapa dan gula merah. Bagi pendaki atau orang gunung tahu benar kegunaan kedua makanan ini.

Jadilah kami berangkat memulai pendakian setelah magrib, meninggalkan Desa Guruh Kinayan, rasanya ingin cepat cepat meninggalkan desa itu, maklum banyak sekali babi berkeliaran. Kalau sudah berkeliaran seperti itu, ya tentunya kotoran nya pun berserak di mana-mana.

Bagi pendaki profesional, atau masyarakat sekitar yang mengambil hasil bumi (belerang) di puncak gunung itu, mereka bisa mencapai puncak nya hanya dalam 3 atau 4 jam saja. Sementara rombongan kami (Gudep Medan 3-6) yang terdiri dari 23 orang  sampai ke puncak hari telah menjelang subuh. Malah ada sebahagian peserta lain yang mulai turun.  Tak apa lah yang penting sampai ke puncak dengan selamat, kata kakak Pembina menyemangati.

Kawah Gunung Sinabung saat itupun tetap mengeluarkan asap tak jauh beda dengan uap asap belerang yang ada di kawah Gunung Tangkuban Perahu. Jadi sebenarnya Gunung Sinabung itu adalah salah satu Gunung yang aktif . Meskipun 400 tahun terlihat diam saja.  Kini Gunung yang baru meletus itu dimasukkan Pemerintah dalam kategori A yang semula B , dan harus diawasi selama 24 jam.

Memandang sekeliling puncak-puncak yang ada disekitran Gunung itu, indah sekali, membuat kita kagum akan ciptaan Nya, dari situ terlihat kota Medan tetapi hanya lampu lampunya. Hari mulai terang selepas salat subuh, kami berangkat meninggalkan puncak Gunung Sinabung , menuruni puncak gunung melalui celah dan semak belukar, terkadang bebatuan yang terkena ujung tongkat penyanggah berguling guling kebawah membuat fenomena tersendiri.

Kalau saat naik tidak ada masaalah yang berarti, malah lebih banyak beristirahat , sebentar-sebentar rombongan kami minta berhenti menenangkan nafas yang memburu tersengal-sengal, apalagi hujan rintik terus turun, tetapi badan berkeringat karena terbungkus kantong plastik.    Kami terus diberi semangat dengan menyanyi salah satu kata kata yang masih ku ingat sampai sekarang adalah “Mari kita begabung,   Kita taklukan Gunung Sinabung ”

Sewaktu turun koq rasanya enak saja , itu yang membuat kita jadi lengah terutama aku, lepas pegangan tangan dari tali yang sudah disiapkan , tongkat penyanggah ku terdorong kebawah menekan tanah labil, bongkahan batunya mengelundung kebawah , aku kehilangan keseimbangan dan ikut berguling guling kebawah, aku masih sadar dan masih jelas mendengar orang menjerit jerit  “ada orang jatuh”.

Aku terus terguling guling lagi, kemudian bisa berdiri  sendiri, terus doyong lagi , terguling lagi, semua itu aku sadari. “Jangan berdiri, duduk saja”  satu suara terdengar di telingaku, aku pun berusaha untuk tidak berdiri saat tersangkut di batang pepohonan semak kecil seperti pohon Kerimunting, yang ada di lereng Gunung itu.   Dan hal itu lah yang membuat aku tak terguling guling lagi.

Beberapa orang yang tak ku kenal menghampiri ku, karena memang jalur sepanjang turun itu ada rombongan yang sudah mencapai Lau Kawar , tempat finis. Aku senyum kepadanya  karena memang aku sadar meskipun ratusan meter terguling guling dari atas sana. Dengkul celana ku koyak dan berdarah, tetapi tidak sakit aku masih bisa berdiri. Pinggang ku lecet agak terasa sakit, mungkin karena tersangkut batang pohon kecil yang menahan tubuh ku, lha mungkin kalau tidak ada pohon kecil itu aku masih terus terguling guling lagi.

Rupanya bukan aku saja yang bernasib seperti itu, terguling guling menggelinding kayak tringgiling. Tetapi tak semua yang bernasib seperti aku masih bisa berjalan lagi sampai ke Lau Kawar, Danau kecil yang indah di kaki Gunung bagian selatan Gunung Sinabung. Ada yang di tandu dan ada yang tinggal nama pulang ke rumah.

Istimewa nya lagi aku duluan sampai ke perkemahan yang sudah dipersiapkan oleh teman-teman  yang tak ikut mendaki .  “ya pasti duluan orang gelundung” celetuk Syahrial temanku asal Medan Glugur, aku tak tahu dimana dia sekarang. Mandi di air yang begitu segar dan sejuk di Danau Lau Kawar , menjadi kan badan segar kembali, di kelilingi pemandangan dan hutan yang masih asri .

Sejak itu aku tak pernah lagi ke Gunung Sinabung, kalau sampai  Kabanjahe apalagi Brastagi acap ku singgahi , disitu ada wisma Pertamina tempat ku bekerja. Sesekali ada Pelatihan dari Perusahaan di buat disana. Dan Disana pun banyak saudara-saudara  yang berkebun jeruk , terutama di kampung Barus.

Untuk saudara-saudara ku di Kabanjahe yang sekarang lagi tertimpah musibah, Mejua-jua krina ….. sabar ya….ingat lah mungkin Allah sedang memberi pupuk kepada kita, kepada tanah Karo…….. agar lebih subur lagi.

Surat Terbuka Untuk Pak SBY


Yang terhormat pak SBY.

Aku gak tahu apakah Presiden ku pernah ke sana, atau paling tidak memikirkan hal itu.

Aku gak tahu apakah Presiden ku pernah ke sana, atau paling tidak memikirkan hal itu

Aku adalah rakyat biasa, bukan lah orang yang berpendidikan tinggi seperti mu, aku ingin berkeluh kesah kepadamu, karena sekarang ini Anda adalah presidenku. Orang pertama di Negeri ini, jadi menurutku tak salah kiranya kalau aku menulis surat terbuka ini untuk mu.

Agak sulit rasanya nak berjumpa dengan pembantu – pembantu  Anda. Apalagi dengan Anda sendiri. Sampai mati pun enggak bakalan kayaknya.  Jadi maafkan sebelumnya aku menulis surat terbuka ini untuk mu.  Sedikit yang hendak ku sampaikan kepadamu, menyangkut wilayah perbatasan. Menurutku agak berbeda pandangan orang -orang yang tinggal di perbatasan dengan orang – orang yang tidak diperbatasan.Apalagi seperti di perbatasan Kalimantan sana, satu puak dipisahkan oleh dua negara.

Tahukah anda pak SBY bahwa ribuan kilometer perbatasan yang membela daratan Kalimantan memisahkan puak (suku) yang satu menjadi dua kewarganegaraan?, Konon kabarnya penjajah inggris memisahkan mereka hanya berdasarkan aliran air sungai.

Cobalah sekarang sekali sekali pak SBY terbang rendah di perbatasan itu, kalau Anda terbang dari Barat ke Timur, pandanglah ke kanan ke arah Utara, lihat lah apa yang ada di daratan. Dan pandang pula arah ke Selatan, apa pula yang terlihat.

Anda enggak bakalan bisa jalan di daratan karena tak ada jalan darat yang kita buat meskipun negara ini sudah 65 tahun merdeka, kecuali Anda ingin berjalan kaki. Kayak nya itu tak mungkin bagi seorang Presiden.

Tetapi kalau ingin juga jalan darat, Anda bisa jalan dari Sabah sampai ke Sarawak , jalan itu mulus belaka, tetapi yang buat bukan Kementrian PU kita, jalan ini bisa sampai ke Pontianak. Lihat lah pula berapa banyak pabrik pengelola kayu di sepanjang jalan itu. Aku tak tahu apakah semua kayu yang di olah disitu benar berasal dari Hutan Sabah dan Sarawak saja, atau dari Hutan Borneo.  Lihat lah pula berapa banyak tongkang mengangkut kayu gelondongan di sepanjang sungai itu.

Tak lama koq perjalanan dari ujung negeri Sabah , dimana tak lama dulu dua pulau Sipadan dan Ligitan kini menjadi tujuan wisata, dan banyak ratusan ribu agak nya orang pulang pergi dari negeri itu.  Tak sulit pula menemui mereka hampir seluruhnya dapat berbahasa Jawa sebagaimana bahasa Ibunda Anda.

Kenapa bukan kita saja yang mengelola hutan itu?.  Mengapa bukan kita saja yang mengelola kebun kelapa sawit itu?. Toh hampir semua pekjerja disitu adalah rakyat kita. Tak tahu aku berapa luas kebun kelapa sawit yang membentang mulai dari Sandakan sampai ke Kuching, semua itu di “buat” oleh rakyat kita.

Wahai Presiden ku yang gagah, nyaris tak ada perlindungan terhadap mereka, tenaga kerja legal maupun ilegal yang ada disana, belum lagi masalah pendidikan bagi anak – anak mereka. Bagi mereka yang telah berumah tangga dan bertempat tinggal disana.

Enggak usah cerita tentang pendidikan bagi anak – anak yang terlanjur lahir di sana, apalagi status perkawinan ibu bapa mereka tak sah karena tak tercatat di Departemen Agama.

Sampai kapan hal ini berlangsung, sampai kapan mereka membuang pasport nya setelah tiba disana. Sampai kapan mereka menjadi tenaga kerja murah, yang selalu di kejar – kejar dan benar benar di peras tenaga dan hartanya. Apa memang tak ada yang sanggup untuk mengelola itu wahai pak Presidenku.

Kalau tak ada yang tak perduli dan tak ada yang sanggup untuk mengurusnya,  mungkinkah  biarkan sajalah Borneo bersatu kembali.

Setakat ini dulu surat ku padamu wahai bapak Presiden ku. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ku sampaikan. Maafkan aku sekali lagi kalau ada kata-kata dan susuan abjad yang tak runtut

Puasa Ramadan Pertama Bagi Andre Simanjuntak


Andre menunjukkan sertifikat akta masuk Islam nya

Andre menunjukkan sertifikat akta masuk Islam nya

Sekilas tak kentara tampang Bataknya, logat bicaranya pun tak mencerminkan kalau dia dari suku Batak, tinggi nya lebih dari 170 cm, pria Batak kelahiran Pekanbaru Riau ini bernama Andri Susanto Simanjuntak.

Tengah hari itu selepas Jumat (27/8) Andre, begitu dia disapa bersama Ferry rekannya sesama sales dari PT Enseval Batam,  datang ke Mini market Hang Tuah.  Terlihat bibir nya mengering, anak kedua dari lima bersaudara ini baru memeluk agama Islam terhitung sejak tanggal 20 Juli 2010, jadi ini adalah puasa Ramadan pertama baginya.

“Biasa saja pak, malah lebih sabar dari biasanya” ujar Andre saat kutanya keadaannya. Andre pun menjelaskan kalau dia nya sejak hari pertama Ramadan hingga ke hari ini belum putus puasanya.  ” Kalau shalat 5 kali sehari semalam belum lagi pak”  jelas Andre lagi. Tetapi shalat Jumat dia ikuti terus, begitu penjelasan Ferry teman Andre. Sambil tersenyum Andre mengiyakan, karena dia belum hafal bacaan shalat, kalau shalat Jumat kan tinggal ngikutin orang lain.

Andre yang terlahir dari keluarga Kristen Protestan Jamaat GMII ini sungguh sungguh ingin memeluk Islam, bukan karena perkawinan nya dengan gadis Lahat Palembang yang bernama Sundari Eka Yanti. “Bukan pak, aku benar benar ingin memeluk Islam, sejak di SD hingga Perguruan Tinggi teman teman ku banyak yang muslim” tegas Andre lagi, saat kutanyakan mungkin dianya memeluk Islam karena hendak menikah.

Pria kelahiran 03 Maret 1983 ini, menjelaskan setiap sahur masak sendiri, karena isterinya, setelah mereka menikah  bertugas di Korea. Itulah sebabnya Andre, setelah memeluk Islam, telah menambah namanya, sebagaimana tercatat di Kantor Urusan Agama Islam Jati Agung Lampung menjadi Ahmad Andri Susanto bin Usman Simanjuntak, kami ajak tinggal di Mess Yasayan Pendidikan Islam Hang Tuah  Batam, karena disitu ada ustadz Zenal Satiawan dan juga ustazd Subur yang dapat mengajari nya bacaan shalat dan pelajaran agama Islam lainnya.

Andre tersenyum, mengangguk setuju dan merasa terperhatikan, meskipun telah mempunyai rumah sendiri di Tembesi di perumahan Medio Raya. Dia mau tinggal di mess Yayasan Pendidikan Islam Hang Tuah Batam.

Andre menunjukkan sertifikat dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan

Ahmad Andri Susanto Simanjuntak, anak Batak satu ini pakai nama Jawa pulak dia, padahal ibunya boru Panggabean

Ada satu hal lagi yang membuat Andre tersenyum dan terkesima  saat ku tanya hal yang sangat pribadi sekali,  karena semua surat surat yang diperlukan seperti surat keterangan dari Departemen Agama ada belaka, tetapi surat dari keterangan dokter belum ada.. “Tanggal satu saja ya pak di mulai” pinta Andre kepada ku sambil mengangkat dua jari tangan nya , karena di tanggal itu, di awal bulan September 2010 ada libur tidak kerja  3 hari. Bisa lah melaksanakan hal yang sangat penting bagi seorang lelaki.

Andre meninggal kan kami kembali melanjutkan pekerjaan nya , sekantong plastik Kurma hadiah dari AMCF dibawa nya. Malam ini, Andre yang baru menjadi Muhtadin  tak sendirian lagi makan Sahur.  Insyaallah.

XPDC to Borneo di Bulan Ramadhan


Buka puasa dengan wafer

Iya buka puasa dengan wafer, tetapi hanya sekedar membatalkan puasa, itulah yang terjadi sesaat kami tiba dengan taxi di terminal kedatangan lapangan Terbang Antarabangsa Sultan Ismail  Johor Bahru Malaysia, Negeri Johor adalah destinasi pertama yang kami lalui dalam rangka perjalanan menuju Borneo (Kalimantan). Yaitu ke Sabah , Brunei dan Sarawak.  Perjalanan ini kami namakan  XPDC TO BORNEO MUHAMMADIYAH INTERNATIONAL.

Berangkat dari Terminal Ferry Internasional Batam  Rabu (18/8) sekitar pukul 4 petang, rombongan kami sebanyak 7 orang tiba di terminal Ferry Stulang Laut Johor Malaysia menjelang magrib.  Ongkos Batam-Stulang Laut pulang pergi seharga rp. 370.000,- perorang nya.

Dengan 2 taxi seharga 50 ringgit Malaysia per taxi nya, dari depan terminal menuju lapangan terbang kami melintasi geliat pembangunan pertokoan di sepanjang jalan, cukup pesat kemajuan negeri Johor Darul Takzim ini.

Hampir 30 menit waktu yang di tempuh, sehingga tiba di Afront hari telah gelap. Untuk membatalkan puasa itulah wafer yang kebetulan ada di tas jinjing menjadi santapan pertama dan tentu nya air aqua. Pak Supir taxi pun ikut berbuka dengan wafer yang kami bawa dari Batam, hem nikmat juga rasanya. Pak Supir orang Malaysia kami orang Indonesia tetapi sama-sama Islam nya.

Restoran di Bangunan Lapangan Terbang Baru.

Agak terkesima juga melihat bentuk megah lapangan terbang antarabangsa Sultan Ismail yang sekarang ini, padahal hanya hitungan bulan saja berlalu,  sewaktu perjalanan dari Bangkok (Swarnabumi) ke Senai (Sultan Ismail), bagasi yang kubawa berhamburan  dan saat menunggu bus yang ke Bandar, ruang tunggu nya begitu kusam.

Mungkin karena baru di buka atau karena bulan Ramadhan belum banyak orang berjualan di dalam terminal, tidak banyak pilihan untuk makan berbuka, apalagi makanan Halal.  Ya terpaksa apa adanya, sepiring mie kuah seharga 7 ringgit (kurs rp.2.700) , sepiring mie goreng, dua mangkok sup tulang sapi , dan tumis sayur kubis, satu porsi ayam goreng  kami pesan, dan tentunya 7 piring nasih putih. Di depan konter pembayaran tertera tulisan Bismillahirahmanirahim, belum ada logo halal disitu. Dan menandakan muslim pelayanan wanitanya memakai kerudung.

Ganti Kartu

Hal yang perlu dilakukan adalah mengganti kartu  seluler (sim card), banyak pilihan di Malaysia, di terminal pun konter penjualan untuk DIGI dan CELCOM ada di jual. 8 ringgit satu sim card sudah ada pulsa sebesar 5 ringgit di dalamnya, untuk topup tambahan sebesar 10 riggit, tetap di bayar 10 ringgit. Pesan orang bijak, lebih murah dan lebih irit menukar kartu di negara yang di kunjungi.

Malam itu kami shalat jamak akhir di Bandara yang bangunan nya serupa bentuknya dengan bangunan Bandara KLIA di Sepang dan bangunan Bandara ini mirip dengan Bandara di Kuching Sarawak dan juga bandara di Kota Kinabalu Sabah.

Ramadhan di Sabah


Hari sudah menunjukkan pukul 1 dinihari saat Air Asia yang kami tumpangi dari lapangan terbang Senai Johor Bahru Malaysia Rabu (18/8)  tiba di Lapangan Terbang Kota Kinabalu Sabah .  Tak banyak penumpang yang turun, kami, 7 orang anak beranak bergegas ke konter imigrasi, tak lama setelah barang bawaan naik ke atas 2 troly.

Baru pertama kali ini ke Sabah tepat nya ke Kota Kinabalu  orang menyebut nya KK ( baca ke ke) , 2 orang teman kami dari Muhammadiyah Jakarta sehari sebelum nya yaitu tanggal 17 Agustus 2010  telah duluan tiba dan menginap di Ruby  Hotel. Mereka naik Air Asia juga dari Jakarta Kinabalu.

Hotel Ruby terletak di tengah bandar,  dari lapangan terbang ke hotel itu naik taxi karena sudah tengah malam tarif nya 50 ringgit. Sementara untuk tarif hotel semalam seharga 99 ringgit, banyak hotel sekelas Ruby di Kota Kinabalu. Sebelum nya kami sudah makan (berbuka puasa ) di lapangan terbang Senai atau Lapangan Terbang Antarabangsa Sultan Ismail Johor Bahru.

Kami pun tak terlalu risau untuk makan sahur, karena dari Batam Rendang, sambal bilis dengan kacang ada kami bawa, malah , bukan itu saja, sambal pecal, indomie, kecap, saus chili (cabai) lengkap semuanya. Dan tak lupa indocoffe, coffe mix pun ada. Semua keperluan itu dimasukkan ke dalam satu kontiner biru yang kami beli di Ace Hardware.

Ingat sewaktu kami di Makkah menunaikan ibadah haji, periok travelling yang multi fungsi pun kami bawa, periok ini bisa untuk memasak indomie, juga berfungsi juga menggoreng telor.  Jadi tengah malam itu kami hanya membeli nasi putih yang banyak di jual di depan hotel tempat kami menginap.  Seandainya pun tak ada yang menjual nasi kami telah siapkan periok untuk menanak nasi.

Begitulah persiapan kami untuk ber SAFARI RAMADHAN di bulan puasa 1431 H ini yang kami sebut XPDC to BORNEO

Shalat Subuh di Bekas Gereja Seven Days Adventis

masjid lama kota kinabalu bekas gereja adventis

masjid lama kota kinabalu bekas gereja adventis

Hari pertama makan sahur berjalan lancar, tak terdengan suara azan menandakan masuk waktu subuh. Informasi yang di dapat dari pihak hotel ada masjid yang terletak di kawasan bukit,  arah ke Jalan Gaya. Kesitulah kami berjalan, tak sulit menemukan nya dengan menanyakan kepada orang – orang yang berada di jalan.

Lumayan juga terasa betis manapaki jalan menuju masjid yang berbentuk empat persegi panjang itu. Memang terlihat agak beda dari jamak nya masjid. Masjid Bandra Kota Kinabalu ini dulu nya adalah bekas gereja adventis, orang di Kota Kinabalu menyebut nya SDA , yaitu seven days adventis.

Bahkan tulisan tentang SDA itu pun masih jelas terlihat, kalau dulu nya menara gereja diatas nya salib kini di ganti dengan bulan bintang saja.  Itulah masjid pertama di Kota Kinabalu Sabah Malaysia. Menurut pengurus masjid yang kami temui saat itu, gereja itu berubah menjadi masjid sejak tahun tujuhpuluhan. Di beli oleh seorang dermawan islam disana dan di wakaf kan kepada kaum muslimin.

%d blogger menyukai ini: