Enam Tahun Peristiwa Berdarah Tak Bai Thailand Selatan


Video Kekejaman Tentara Thailand

Photo Kekejaman Tentara Thailand

Enam tahun sudah peristiwa Tak Bai, hingga kini tak ada respon dan perhatian dunia terhadap muslim disana, Oki negara yang diharapkan berperan seakan melupakan peristiwa yang sangat mengiris hati ini.

Serangan Bom Sambut 6 Tahun Peringatan Pembantaian Tak Bai di Thailand

Satu orang telah tewas dan 18 luka-luka dalam serangkaian serangan bom di tiga provinsi selatan yang bergolak Senin (25/10), bersamaan dengan ulang tahun keenam insiden Tak Bai. Antara Narathiwat Thailand dan Kelantan Malaysia. Narathiwat adalah provinsi paling keras dihantam dengan serangan bom dan pembakaran yang pemerintah Thailand tuduh dilakukan oleh kelompok pejuang Islam. Setidaknya 12 lokasi di delapan kabupaten Narathiwat di hantam bom sejak pukul 03:30-10:00 pagi. Serangan itu terjadi di Rangae, Rueso, Yi-ngo, Sukhirin, Si Sakhon, Narathiwat Muang, Sungai Padi dan Cho Airong.

Kolonel Banpot Poolpian, juru bicara Komando Operasi Keamanan Internal Wilayah 4 mengatakan serangan terkoordinasi itu dimaksudkan sebagai pengingat dari insiden pembantaian Tak Bai, Narathiwat, pada 25 Oktober 2004, di mana 85 Muslim-Melayu meninggal (versi pemerintah-red), sebagian besar dari mereka gugur saat dalam tahanan tentara.

Sebagian besar serangan mematikan pada hari Senin (25/10) melibatkan penggunaan bom jebakan (booby trap) dan mengambil tempat di perkebunan karet yang dimiliki orang-orang Buddha Thailand.

Bom-bom gaya ranjau darat terkubur di bawah pohon karet dan menargetkan para penyadap karet yang mulai bekerja pada jam-jam sebelum fajar.

..serangan terkoordinasi itu dimaksudkan sebagai pengingat dari insiden pembantaian Tak Bai, Narathiwat, pada 25 Oktober 2004, di mana 85 Muslim- (Bahasa Melayu Logat Thailand “Ma Cag Indonesia Khun Dio”) Melayu meninggal (versi pemerintah-red), sebagian besar dari mereka gugur saat dalam tahanan tentara..

Satu orang tewas di Narathiwat dan 15 lainnya luka-luka, tiga di antaranya petugas keamanan.

Kebanyakan dari mereka mengalami luka kaki serius, sementara beberapa kehilangan kaki mereka akibat dampak ledakan.

Pihak keamanan dan petugas medis yang pergi untuk membantu mereka yang terluka atau memeriksa berbagai lokasi bom berada dalam keadaan siaga tinggi mengantisipasi adanya penyergapan yang dilakukan oleh kelompok pejuang Islam setelah tiga petugas keamanan cedera oleh bom ketika memeriksa tempat ledakan di Rueso.

Yayasan Keadilan untuk Perdamaian kemarin merilis pernyataan untuk menandai ulang tahun keenam insiden Tak Bai. Dalam pernyataan tersebut, yayasan mengutuk sistem peradilan Thailand karena tidak tulus untuk mengakhiri konflik di wilayah Selatan.

Dikatakan masalah itu tidak bisa diselesaikan sampai otoritas menawarkan keadilan sejati kepada orang-orang Muslim di selatan, terutama para keluarga korban yang yang tewas dalam insiden Tak Bai.

Tidak seorangpun dari pejabat Thailand yang bertanggung jawab atas insiden tersebut dihukum, kata yayasan tersebut.

Pembantaian Tak Bai

Peristiwa Tak Bai adalah salah satu insiden pembantaian umat Muslim di wilayah selatan Thailand yang paling terkenal sejak perjuangan pemisahan diri dimulai lagi pada awal 2004. (Rencana Idhul Adha 1430 H dan Qurban di Thailand Utara Chiang Rai)

Peristiwa ini bermula di desa kecil  (Tak Bai) ketika 6 anggota Pertahanan Sipil diantaranya termasuk empat orang ustaz ditangkap dengan tuduhan menyerahkan senjata kepada kelompok pejuang Patani. Masyarakat yang tahu duduk perkaranya menuntut pembebasan keenam warga itu. Mereka mengatakan senjata anggota pertahanan sipil itu memang benar-benar hilang dicuri orang. Namun aparat keamanan membantah keterangan masyarakat tersebut.

Pada 25 Oktober 2004 bersamaan saat bulan puasa Romadhon, sekitar 2.000-3.000  Muslim di Tak Bai melakukan aksi demonstrasi di depan kantor polisi setempat menuntut pembebasan keenam orang yang ditangkap. Awalnya, petugas keamanan yang terdiri atas polisi dan tentara mencoba membubarkan para demonstran yang terus berteriak-teriak. Namun, bukannya membubarkan diri. Malah, jumlah para  demonstran semakin bertambah banyak.

Para demonstran yang ditangkap dan di siksa oleh tentara dan polisi Thailand

Para demonstran yang ditangkap dan di siksa oleh tentara dan polisi Thailand

Aparat keamanan yang hilang kesabaran mulai menembaki para demonstran dengan gas air mata, senjata api, dan senjata air. Militer Thailand juga menangkapi para demonstran dan memasukkannya ke dalam truk-truk yang sudah disiapkan untuk dibawa ke kamp militer Inkayuth Bariharn, Patani. Pihak militer dan polisi Thailand menghajar  pengunjuk rasa dengan popor senjata, pukulan, dan tendangan. Para pengunjuk rasa dipaksa berkumpul dengan merangkak di jalan aspal tanpa baju dengan hanya bercelana dibawah kawalan ketat tentara. Darah yang mengucur di mana-mana tidak mengurangi kebengisan aparat keamanan. Mereka juga menganiaya ibu-ibu dan anak-anak yang ditangkap dan dikumpulkan di kantor polisi Tak Bai.

Para demonstran ditumpuk di dalam truk militer hingga 5 lapis, mengakibatkan ratusan tewas akibat mati lemas dan patah leher.

Para demonstran ditumpuk di dalam truk militer hingga 5 lapis, mengakibatkan ratusan tewas akibat mati lemas dan patah leher.

Sekitar 1.300 pengunjuk rasa diangkut dengan enam truk dengan tangan terikat ke belakang. Dalam kondisi terikat dan berpuasa, tubuh-tubuh mereka dilemparkan ke atas truk militer Thailand. Para tawanan itu bertumpukan hingga lima lapis. Tidak cukup hanya itu, truk militer tersebut juga ditutup lagi dengan terpal selama perjalanan 5,5 jam menuju Markas Komando Militer IV Wilayah Selatan.

Umat Islam menshalati jenazah para demonstran yang gugur dalam tragedi Tak Bai

Umat Islam menshalati jenazah para demonstran yang gugur dalam tragedi Tak Bai

Pada awalnya, jumlah korban dilaporkan hanya 6 orang, kemudian meningkat dengan mendadak menjadi 84 orang. Menurut penduduk setempat, jumlah korban sebenarnya melebihi daripada 100 orang. Statistik yang diberikan oleh seorang pengamat independen menjelaskan bahwa 6 orang mati serta merta terkena tembakan, 78 orang mati di rumah sakit, 35 mayat ditemui terapung di dalam sungai, kebanyakan para korban mati lemas dan beberapa di antaranya mengalami patah tulang leher dan 1298 orang mengalami luka-luka. (aa/BP,PFO)

Iklan

Suku Asli Batam


Pak Manan di depan gubuk nya

Pak Manan di depan gubuk nya

Kalau di Kalimantan (Borneo) atau di Sumatera (Andalas) ada suku Asli yang tak terjamah pembangunan, kita masih maklum, karena begitu besar dan luasnya kedua pulau itu. Tetapi ini di Batam,  bukan pula di pulau pulau kecil disekitaran nya yang memang banyak bertebaran, seperti di Teluk Paku misalnya,  kampung Teluk Paku ini  masuk kelurahan Pulau Buluh Kecamatan Bulan Lintang. Disitu,  bermukim suku Laut, yang  terkadang mereka di sebut  orang sampan. Dulunya mereka memang nomaden. Kalau tak terjamah tak heran lah, orang bisa bilang mereka kan  nomaden .

Mushalla di Tanjung Gundap

Hari itu Kamis (21/10), adalah  Umar  yang memberitahukan kami kalau ada orang suku Asli di Batam. Umar adalah penduduk kampung Tanjung Gundap Tembesi Batam, pria 37 tahun ini sedang mengerjakan mushalla yang kami buat untuk suku Laut di kampung Gundap Dapur Arang.

Di Tanjung Gundap, di pinggir pantainya itu bermukim suku laut, disitu ada Dapur Arang, dari puluhan kepala keluarga suku laut yang tinggal disitu, hanya tiga keluarga saja yang ber-agama Islam, selain nya sudah menjadi Nasrani. Suku Laut Tanjung Gundap disamping sebagai Nelayan mereka juga mencari kayu bakau (mangrove) untuk di jadikan arang kayu.

“Bukan lah pak suku laut, malah mereka disebut suku darat, suku asli Batam” tegas Umar agar lebih  menyakinkan kalau yang dimaksud itu suku asli yang memang sudah lama sekali bermukim.

Jadilah kami janjian,  keesokan harinya akan mengunjungi kampung tempat tinggal suku asli yang disebutkan oleh Umar tadi. Rencana kesana sebenarnya hendak melihat lokasi tempat untuk mendirikan  mushalla,  sebagaimana mushalla di Tanjung Gundap, karena menurut Umar,  belum ada  mushalla  diperkampungan suku asli Batam itu.

“Boleh lah pak disana dibangun satu buah mushall macam yang di Gundap ini”  kata Umar lagi.

Jumat pagi (22/10) Dari Bengkong sekitar pukul 8  dengan Toyota Rush,  berlima,  kami menuju Tanjung Gundap, hendak menjemput Umar terlebih dahulu karena dia sebagai guiede nya,  saat itu hujan turun dengan lebatnya, di tingkah dengan kabut kiriman dari Daratan Riau, jadi perlu ekstra hati- hati berkendaraan di jalanan yang sama sekali belum beraspal,  apalagi menanjak dan menuruni bebukitan hampir sepanjang 5 kilo meter  menuju ke tempat Umar.

Pak Manan dengan kedua putranya yang masih bertahan hidup di kampung itu

Pak Manan dengan kedua putranya yang masih bertahan hidup di kampung itu

Keluar dari Desa Tanjung Gundap setelah Umar duduk manis, hujan masih turun dengan lebatnya, sampai menjelang  desa Pulau Nipah,  Jembatan 2,  hujan agak mulai mereda sedikit, baru lah selepas Pulau Setokok Jembatan 4 hujan berhenti.

Pulau Rempang kami lalui,  ternyata Umar tak tahu persis dimana lokasi perkampungan orang Asli dimaksud. Harus bertanya dulu ke pak RT di Cate Rempang , pak RT ini masih saudara Umar. Karena memang kami pun berencana hendak ke Pulau Kalo, Pulau Kalo ini sekitar 4 mil dari pinggir kelurahan Cate Rempang.

Karena hari sudah menjelang tengah hari, kami putuskan untuk ke perkampungan suku asli selepas Shalat Jumat. Jadilah hari itu kami Jumatan di Masjid Cate Rempang .  Selepas shalat Jumat dipandu naik speda motor oleh dua orang pemuda kampung Cate, kami berangkat ke perkampungan suku asli Batam.

Tok Batin Cate Rempang

Sedikit tentang Cate,  Cate adalah salah satu kampung tua Batam, disitu dulu ada tok Batin (lurah) yang sangat peduli dengan pendidikan, salah seorang putra dari tok Batin itu kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Drs H Muslim Bidin Mpd.  namanya.

Konon kabarnya keluarga  tok Batin inilah yang mengislamkan orang orang suku asli tadi,  jauh sebelum ada jembatan barelang yang menghubungkan 7 pulau menjadi satu. Jadi waktu itu hubungan ke pulau pulau dimaksud melalui laut. Dan sebelumnya pun Cate dibawah pemerintahan Tanjung Pinang.

Disepanjang jalan yg kami lalui Umar pun bercerita kalau dulu sebelum ada akses jalan seperti ini  kehidupan ekonomi antara orang kampung Cate dengan suku hutan atau asli tadi dengan sistem barter. “Mereka meletakkan barang barang yang akan ditukar di pinggir jalan setapak yang sering dilalui” jelas Umar .

Kampung Cate terletak di pinggir pantai, setelah ada akses jalan trans Barelang, tambah mudah akses kesana. Masuk ke kampung Cate jalanan tanah berboksit  sekitar 7 kilometer, hanya mendekati kampung Cate sekitar 2 kilometer jalan yang beraspal, aspal ini dibangun saat Nyat Kadir menjadi walikota Batam.

Jalan Bumi Melayu

Untuk ke perkampungan atau  tempat tinggal suku asli, kita harus keluar kembali dari kampung Cate ke jalan trans Barelang tadi.

rumah Pak Manan

rumah Pak Manan

Sampai ke jalan besar trans Barelang, masih sekitar 2 kilo meter lagi arah ke Pulau Galang ada jalan kecil belok ke kiri, dipinggir jalan ada plang jalan  masih baru terlihat tertulis Jalan Bumi Melayu berwarna hijau,   jalan ini dapat dilalui kenderaan roda empat, kiri kanan jalan itu hutannya sudah ditebangi dan dibuat kebun. Kalau lah hari hujan jalanan itu tak dapat dilalui kenderaan kecil, karena terlihat lubang lubang bekas roda  kenderaan  dan hamparan kayu yang banyak bertebaran di sepanjang jalan,  agaknya kayu dan balok itu dibuat sebagai pengganjal roda kenderaan.

Kami terus masuk ke dalam hutan mengikuti speda motor yang memandu kami, tetapi ada sebuah jembatan kayu melintasi sungai kecil yang memaksa Toyota Rush kami tak dapat melanjutkan perjalanan. Terpaksalah teman teman yang lain menunggu di situ dipangkal jembatan dan aku di bonceng bertiga speda motor melanjutkan perjalanan masuk ke dalam hutan sekitar 3 kilometer lagi.

Kami terus melaju dijalanan yang berbukit tanah jalanan nya tergerus oleh erosi hujan, masih dengan pola yang sama hutan disitu telah hampir semua dirambah orang dari Batam.

Dari jauh terlihat seorang lelaki tua  memikul batang pokok ubi kayu, mendengar suara speda motor kami,  ianya menepi. Kepadanya lah kami tanyakan dimana letak perkampungan suku asli.  Agak parau suaranya terdengar sembari  menunjukkan kalau jalan ke perkampungan yang kami maksud sudah terlampaui, ternyata bapak tadi juga termasuk orang suku asli. Tak sampai hati melihat nya berlama-lama berdiri memikul ikatan batang pokok ubi kayu hampir sepanjang 3 meter . Kami pun berputar arah menuju jalanan setapak yang ditunjukkan oleh bapak tua tadi.

Rumah Takong , bantuan dari Pemko Batam

Rumah Takong , bantuan dari Pemko Batam

Tak jauh dari simpang itu terlihat sebuah bangunan dari kayu berkolong tetapi  sebagian tak berdinding  dan tak berpenghuni, agak ke kanan sebuah pondok usang pintunya tertutup, disamping nya ada bangunan rumah  permanen agaknya type 36 ber cat kuning. Dua ekor anjing menyalak menyambut kami, pintu rumah bercat kuning itu terbuka seorang perempuan muda sedang menggendong anak nya keluar.

Perempuan itu mengangguk,  setelah kami tanyakan benarkan ini perkampungan suku asli. Tak berapa lama seorang lelaki muda tak berbaju pun keluar dari rumah itu. Salam kami dijawabnya.  Lelaki muda itu bernama Takong, dan perempuan tadi adalah isterinya.

Anak Cucu dan Cicit Pak Manan

Dari jauh datang lagi seorang lelaki tua membawa sebilah parang, tersenyum kepada kami, Lelaki ini bernama pak Bujang , rumahnya agak jauh dari rumah bercat kuning tadi, sekitar 30  meter tetapi masih jelas kelihatan terbuat dari kayu sepertinya baru diperbaiki bagian depannya.  Takong adalah menantu pak Bujang.

Di depan rumah Takong ada gubuk reot berdinding triplek dan sebagian lembaran daun nipah yang dianyam ukuran 3 kali 3 meter pintu masuk nya haruslah kita merunduk baru bisa masuk.  Dari pintu itu keluar seorang  lelaki tua, kelihatan sudah sepuh dan bungkuk, dia terseok seok berjalan menghampiri  kami sembari berusaha mengkancingkan bajunya, ternyata kancing bajunya tak ada lagi bagian atasnya.  Ada gondok benjolan sebesar telur ayam di lehernya, semakin jelas terlihat saat dia berbicara.

Pak Manan nama orang tua tadi, adalah ayah kepada pak Bujang,  rupanya pak Manan baru selesai mebersihkan kotoran isterinya yang sudah bertahun tahun tak bisa lagi membersihkan diri nya sendiri , karena lumpuh dimakan usia tua. Jadi isteri pak Manan terbaring lemah di dalam pondok reot tadi. Ya….. buang air besar dan kecil pun disitu.

isteri pak Manan berusaha keluar menampak kan diri tetapi kaki nya tak dapat di gerakkan nya lagi

isteri pak Manan berusaha keluar ke depan pintu untuk menampak kan diri tetapi kaki nya tak dapat di gerakkan nya lagi

Kami menghampir ingin melihat kondisi isteri pak Manan, tapi tak terlihat langsung tak ada penerangan  karena memang tak ada jendela di pondok kecil itu, pintu tempat keluar pak Manan lah satu satu nya yang terbuka . Di depan pintu itu sebuah bangku yang berfungsi juga sebagai tangga untuk masuk . Disamping nya ada tong plastik bekas cat berisi air yang digunakan untuk istinjak isteri pak Manan.  Bau pesing dan bau kotoran manusia menyerbak disekitaran pondok itu, bagi kita yang sering mengurus orang lumpuh hal – hal seperti itu sudah jamak dirasakan. Mendengar kami mendekat ke pondooknya,   isteri pak Manan berusaha juga hendak keluar, terlihat kaki nya terjulur, hanya kaki nya saja, dia pun tak kuasa lagi bergerak.

Pak Manan pun mempunyai seorang perempuan bernama Yang Adek, dia lah satu satunya perempuan anak pak Manan, mak Yang Adek adalah ibu dari Takong, bapak Takong pula bernama Ko Ko , sejak lagi Takong kecil ayah nya sudah meninggal, ibu Takong mak Yang Adek menikah lagi, Ia di karunia  3 orang anak , tak satu pun  adik beradik Takong lain ayah yang bersekolah. “Dulu saya sempat sekolah di Cate” kata Takong. Takong tak tamat SD.  Takong masih punya makcik yang tinggal di kampung Cate adik ayahnya almarhum namanya mak Yang Mah.  Seorang anak lelaki pak Manan bernama Opo belum menikah lagi, pak nga Opo ini adik pak Bujang.

Adik adik Takong lah sekarang ini belajar mengaji dengan seorang Ustadz yang datang ke kampung itu se jumat sekali. Ustadz Samsul namanya, telah tiga tahun belakangan ini  ianya pulang pergi setiap jumat petang datang ke kampung itu.  Bangunan berdinding separuh tadi dulunya di gunakan untuk tempat mengaji, karena lantai nya agak lapuk sudah tak dipergunakaan lagi. Takut jatuh.

Sambil bercerita dengan Takong cucu pak Manan ini, anak kecil seusia 2 tahun berlari menghampiri seseorang, ternyata pak Lamat. Terlihat akrab dia dengan pak Lamat, meskipun bukan atok kandung nya, nampaknya pak Lamat sayang kepadanya. Anak kecil itu adalah cicit pak Manan.

Pak Lamat orang tua yang kami temui di jalan tadi datang menghampiri kami, senyum nya masih tetap mengembang, matanya terlihat basah agak berair,  pak Lamat adalah anak tertua dari pak Manan, ia  tinggal bersama isterinya, rumahnya  tak jauh dari bangunan yang dindingnya separuh tadi, dari tempat kami berdiri tak terlihat karena  terhalang oleh kebun ubi kayu. Pak Lamat pria 60 tahunan ini selama menikah tak dikaruniai seorang anak pun. Isterinya hanya dirumah saja karena matanya sejak beberapa tahun yang lalu menjadi buta tak dapat melihat lagi, mungkin kena katarak.

“Tolong pak kalau ada yang bisa bantu untuk mengobati istri saya ” pinta pak Lamat masih dengan senyum khas nya.

Pak Lamat pun minta kalau bisa di berikan beras dan juga gula serta kopi. Menurut pak Lamat hasil ubi yang di tanamnya hanya untuk di makan sendiri. “Tanah kami tak luas hanya sekitar 3 hektar saja, ya memang itu sejak dulu” kata pak Lamat

Rumah pak Bujang

Rumah pak Bujang

Pak Bujang pula punya tiga orang anak, seorang anak perempuannya  telah menikah dan mengikuti suaminya ” Tinggal di bawah tower dua telkom itu” ujar Takong menjelaskan kalau ada dua buah tower telpon selular di pinggir jalan masuk ke kampung Sadap, kampung tempat tinggal suku asli Batam. .

Rencana Bangun Mushalla di Kampung Sadap

Rencana lokasi mushalla

Rencana lokasi mushalla

Jadi di kampung Sadap orang asli Batam hanya tinggal anak beranak pak Manan, menurut Pak Manan yang sudah bercicit itu sudah tak larat lagi nak pergi ke kampung Cate untuk menunaikan shalat Jumat, seperti Jumat tanggal 21 Oktober yang lalu.

Rencana kami hendak membangun mushalla di kampung pak Manan itu disambutnya dengan antusias,   lokasinya tak jauh dari  bangunan yang dinding nya separuh tadi.

“iya kita bangun di dekat  tapak bangunan yang dah rosak tu” kata pak Manan.

Itulah sedikit gambaran tentang suku asli Batam dan tak tahulah apakah bisa disebut kebun ubi dan beberapa pondok itu disebut perkampungan.

Masih banyak yang akan kami perbincangkan dengan pak Manan beserta keluarganya, kami pun berjanji akan datang lagi kesitu Insya Allah sekalian merealisasikan pendirian mushalla di sana. Insya Allah.

Hewan Qurban untuk Ibadah Haji


Cost of the coupon in Saudi Ryals

Cost of the coupon in Saudi Ryals

Alhamdulillah tahun 1429 Hijriyah yang lalu bertepatan dengan tahun 2008 Masehi bersama isteri aku pergi Haji.

Haji Tamatuk, berangkat kloter pertama dan gelombang pertama dari embarkasi Batam sebanyak 450 orang, semua menuju Madina. Sejak lagi di asrama haji saat hendak berangkat kami sudah di wanti wanti soal hewan Dam. Yaitu tadi karena sebagian besar jamaah haji Indonesia melaksanakan haji Tamatuk.

Ketua rombongan sudah membisikkan kalau harga hewan Dam atau pun Qurban sekitar 300 riyal per ekor nya. Sampai saja di Hotel di Madina, sudah banyak orang orang mukimin disana menawarkan hewan Dam tadi. Bahkan ada yang berani menawarkan harga dibawah 300 riyal.

Sebagai Jamaah yang baru sekali melaksanakan Haji, tak lah begitu mengerti permainan calo calo hewan Dam dan juga Qurban ini. Jadi sama seperti dengan teman teman yang lain satu kloter aku juga ikut menyetorkan uang sebesar 600 riyal yang terdiri dari 2 ekor hewan (kambing) satu ekor untuk Dam karena haji Tamatuk dan satu ekornya untuk Qurban.

Keesokan harinya  di lobi hotel maupun sambil makan serapan pagi di restoran yang tak jauh dari masjid Nabawi ada saja orang  menawarkan hewan untuk di jadikan Hadyah ini. Hal ini membuat kita agak terganggu sedikit, apalagi ada yang mulai curiga kepada ketua rombongan, bayangkan 30 sampai 50 riyal per ekor selisih nya kalikan sekian ekor sudah berapa?.

Ketua Rombongan pun menjelaskan bahwa nanti di Makkah kita akan dibawa ke tempat pemotongan, jadi tidak usah khawatir lah kalau bohong bohongan, yang ini di jamin. Karena konon kabar nya banyak jamaah haji yang tertipu soal ini.

Hewan di Potong sebelum hari Tasyrik

Setelah selesai Arbain di Madina, jemaah berangkat ke Mekah. Sebagaimana janji semula, rombongan yang telah menyetor kan uang melalui Ketua Rombongan (karena kita juga di ingatkan kan harus taat kepada ketua rombongan)  untuk hewan Hadyah tadi dibawa ke tempat pemotongan hewan agak keluar kota Mekah, disitu, tak begitu ramai mungkin karena belum semua jamaah datang ke tanah Haram ini. Tetapi memang yang banyak terlihat di tempat piaran sementara itu dan pemotongan hewan ini adalah jamaah dari Indonesia.

Ada beberapa orang Jamaah terutama lelaki yang masuk ke tempat penyembelihan melihat hewan  yang akan di potong, dan setelah keluar, terlihat ada yang baju nya terkena percikan dara.  Sebagian jamaah lainnya duduk duduk tak jauh dari pintu masuk sembari berselindung dari panas matahari yang mulai menyengat,  menutup hidung karena memang di sekitar tempat pemotongan itu bau anyir dan amis darah.

Beberapa hewan kebanyakan unta yang di giring masuk ke tempat pemotongan tadi. Jagal yang hilir mudik dengan kulit gelap terkadang tak berbaju  meninting parang panjang mengkilat. Jamaah pun berbisik bisik , karena sebagian dari unta unta yang di giring itu tubuh nya kecil.

Mobil pick up hilir mudik membawa daging yang telah di potong. Sebagian Jamaah pun ada yang meminta di bawakan hati unta. Karena ada pesan dari kerabat di Kampung (Indonesia)

Begitulah caranya memotong hewan di Mekah dan penyembelihan ini dilaksanakan jauh hari sebelum hari Tasyik yang empat hari itu. Ternyata hal ini pun berlaku juga kepada rombongan haji Indonesia Gelombang kedua (langsung dari Indonesia ke Mekah) .  Mengapa hewan Dam dan Qurban di potong belasahan hari sebelum hari Tasyrik, konon katanya untuk menghindari keramaian lagian orang Indonesia kebanyakan ingin menyaksikan hewan Hadyah itu di sembelih.

Bank Rajhi

Ada selisih pendapat tentang hal pemotongan hewan ini, apakah di potong di Mekah atau di Mina. Ulama setempat menjelaskan pada saat ada pengajian dan pertanyaan selepas shalat fardhu di masjid yang banyak disekitar pemondokanMekah,  hewan itu seharusnya di potong selepas shalat ied dan selama hari Tasyrik. Bukan sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan jamaah asal Indonesia katanya.

“Ini sedikit penjelasan tentang itu”

Penyembelihan hewan qurban dalam rangka ibadah haji dilakukan adakalanya sebagai Dam dan bukan sebagai Dam. Membayar Dam penyembelihannya wajib dilaksanakan di Mina, tanggal 10 Zulhijjah, sedangkan menyembelih hewan qurban (bukan Dam) bisa dilaksanakan di mana saja, mulai usai shalat Ied sampai akhir hari Tasyriq. Membayar uang qurban melalui Bank yang biasa dilakukan jamaah haji Indonesia, hanya merupakan jalan pintas agar jamaah haji tidak direpotkan de­ngan mencari/menyembelih hewan qurban. Tentang kesahannya qurban lewat Bank, insya Allah terjamin.

Selanjutnya bahwa menyembelih hewan qurban (Dam) menurut tuntunan Nabi saw dilaksanakan di Mina, sebagaimana hadis riwayat Muslim dari Jabir, sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَحَرْتُ هَاهُنَا وَمِنًى كُلُّهَا مَنْحَرٌ فَانْحَرُوا فِي رِحَالِكُمْ [رواه مسلم عن جابر]

Artinya: “Nabi bersabda: Saya menyembelih hewan ternak di sini (Mina). Mina seluruhnya adalah tempat menyembelih ternak. Maka sembelihlah di rumah kamu masing-masing (Mina).”

Sedangkan berqurban (udhiyah) itu hukumnya sunat dan diutamakan penyembelihannya di tempat shalat masing-masing, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi saw riwayat al-Bukhari dari Ibnu Umar:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِاْلمُصَلَّى [رواه البخاري عن ابن عمر]

Artinya: “Nabi saw menyembelih dan berkurban di tempat shalat.”

Haji hanya sekali seumur hidup dengan biaya begitu besar,  Aku pun berunding dengan isteri menyikapi hal itu, dan segera menyetor uang ke Bank Rajhi sebesar 395 riyal perorang untuk satu ekor hewan kambing dengan perincian 321 riyal untuk hewan nya dan transportasai dan distribusi sebesar 74 riyal. Aku di berikan kupon tanda penyetoran dan kupon itu juga berlaku sebagai bukti pengambilan sebagian daging nantinya di Mina.

Ada beberapa teman yang juga ikut menyetor ke Bank kembali, dan setoran yang telah terlanjur di serahkan ke Ketua Rombongan tak apalah pikirku. Insya Allah living cost yang di berikan kepada kita cukup untuk itu.

Jauh sekali beda suasana tempat pemotongan hewan yang pertama itu tadi  dengan yang ada di Mina, rumah pemotongan tak jauh dari tempat kemah para jamaah haji, bersih dan teratur dan tentunya dilengkapi dengan pendingin , namun aku tak jadi mengambil daging jatahku karena sayang ditukarkan kuponnya, sebagai bukti dan kenang kenangan  untuk aku menuliskan kisah ini.

%d blogger menyukai ini: