Kisah Mustafa Belajar Islam di Indonesia


FotoNamanya Mustafa (22), berasal dari Provinsi Tay Nhin Vietnam, Senin (18/3/2013) yang lalu, Mustafa mengunjungi Buletin Jumat (BJ). Mustafa tidak sendi rian, berdua dengan Umar asal Provinsi Chau Doc.

BJ, pernah berkunjung ke kedua Provinsi yang berbatasan dengan Kamboja itu. Tay Nhin Vietnam, hanya berbatasan ladang ubi singkong dengan Provinsi Kampung Cham di Kamboja. Sementara dari Chau Doc Vietnam, naik ferry menyu suri anak sungai Mekong sekitar 3 jam sampailah di Ibukota Kamboja Phnom Phen.

Di kedua porvinsi itu ramai umat Islam, tidak ada data resmi dari pemerintah Vietnam, berapa jumlah persisnya. Di Tay Nhin ada 7 buah masjid. Ketujuh masjid itu pernah dikunjungi BJ. Ada madrasah, tetapi tidak ada ustad yang mengajar.

Di Chau Doc, puluhan jumlah masjid berdiri, puluhan ribu penduduk muslimnya. Ada beberapa madrasah, kesitulah Mustafa kecil belajar agama Islam. Madrasah, yang dikelolah oleh ustad Umar.

Jauh perjalanan dari Tay Nhin ke Chau Doc naik Bus ditempuh selama satu malam. Kalau dari Saigon (Ho Chi Min) ke Tay Nhin naik Bus 5 jam.
Senang sekali Mustafa saat seseorang yang berasal dari Indonesia mengajaknya ke Indonesia, untuk belajar Islam ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu Mustafa berusia 15 tahun. Untuk memperlancar bahasa Indonesia nya , selama setahun tinggal di Indonesia Mustafa hanya belajar hafalan Alquran saja. Barulah tahun kedua Mustafa belajar lain lain pelajaran.

Dasar Mustafa memang ingin memperdalam ke-Islamannya, dan niatnya setelah pulang nanti ke Tay Nhin akan mengajar di kampungnya.Tentulah Dia ingin belajar ilmu ke-islaman sebanyak banyaknya. Bukan hanay belajar Hadist belaka. Tetapi apa lacur, di pondok tempat dia belajar tidak diperbolehkan belajar dari kitab atau buku yang bukan terbitan atau yang dikeluarkan oleh lembaga tempat dia belajar.Foto

Hal itu pernah ditanyakan Mustafa kepada ustad yang mengajar di ponpesnya. Mustafa dinasihati dan dingatkan bahwa dia tidak boleh was-was. Kalau dia was-was, bisa terkeluar dari Jamaah kalau sudah keluar dari Jamaah, terkeluar pula dari Islam.

Sejak itu, hati Mustafa selalu bertanya-tanya, dan memang was-was, kesempatan ada, saat membu ka internet, Mustafa menemukan jawabannya. Dia ingin pulang segera, tetapi tidak punya uang sebesar 3.000 US Dollar. yang harus dibayarkan sebagai denda?

Enam tahun lamanya dia di pondok dan lembaga yang lebih fokus kepada pembahasan hadist itu, Kini Mustafa sudah bebas, “Saya takut sekali saat disana, kan di negeri orang.” ujar Mustafa lugu, agak terdengar medok bahasa Jawanya. Maklum beberapa lama ada pengabdian jadi dai, Mustafa harus tinggal di beberapa daerah di Jawa Timur.

Siang tadi (20/3) Mustafa mengi rimkan sms kepada BJ, setelah dari Singapura, Mustafa akan ke Tay Nhin dahulu, memberitahu kan kepada kawan-kawannya agar tidak seperti Dia. Terjebak?.

Pabrik Bir di Batam


Restoran disponsori Minuman Beralkohol

Adalah Ilham Eka Hartawan Kasubdit Humas dan Publikasi Badan Penguasahaan (BP) Batam mengatakan, bahwa rencana Investasi yang akan ditanamkan perusahaan asal Swiss, semakin meningkatkan citra Batam sebagai salah satu tujuan investasi utama kawasan Asia-Pasifik.

Investasi yang akan ditanamkan perusahaan asal Swiss itu adalah pabrik Bir, bernilai 250 juta Dolar Amerika (AS).
Selain membangun pabrik Bir, kata Ilham investor juga akan membangun fasilitas untuk menikmati Bir bagi para wisatawan seperti cafe Bir. BP Batam pun diminta menyiapkan lahan seluas lima hektar.

Bandar Dunia Madani?

Selama ini kita mendengar Batam adalah Bandar Dunia Madani. Apa hubungannya dengan Bandar Dunia Madani.? Setahu saya tidak ada perda ataupun perangkat hukum yang mengatur dan menyatakan bahwa Batam Bandar Dunia Madani, jadi sah sah saja kalau di Batam di bangun pabrik Bir, kata seorang teman. Dalam Undang Undang Batam adalah Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ).

Namun Ketua MUI Kepri, Haji Azhari Abbas, yang dihubungi Buletin Jumat, rabu (14/03), tidak sependapat. Beliau tidak setuju adanya pabrik minuman beralkohol itu di Batam. “Kalau betul, kita akan pertanyakan hal ini, kita akan ajak hearing DRPD, Walikota Batam dan juga BP Batam.” ujar nya . “Sudah enggak betul itu” sambung Ketua MUI asal Aceh itu.

Kebutuhan Bir di Batam
Sementara itu, Marganas Nainggolan, wartawan Senior koran harian Lokal Batam, menyebutkan, “Memang semakin enggak jelas arah visi, misi Batam ini”. tulisnya melalui sms
Beberapa Tahun yang lalu Marganas yang kini Direktur Utama dan juga Ketua Dewan Redaksi koran terbesar di Batam, pernah menulis bagaimana melimpahnya Bir masuk ke Batam, seakan tak wajar, tetapi itulah kenyataannya. Minuman beralkohol, haram dikonsumsi umat Islam ini, jumlah liter yang masuk dibagi dengan jumlah penduduk Batam, termasuklah bayi, adalah, seorang mengkunsumsi 3 liter perhari. Mungkin itu membuat investor asal Swiss ini tergiur membangun pabrik Bir di Batam.

Rumah Makan Padang Terkenal Pun Gunakan “Anciu”


Bukan berarti kalau disebut Restoran Masakan Padang, makanan yang disajikan Rumah Makan itu sudah pasti di jamin Halal.

Hal itulah yang ditemukan oleh Halal Watch di Jakarta, ada tiga Resto Masakan Padang yang cukup terkenal di Jakarta dan Indonesia, menggunakan Anciu [sejenis arak] dalam masakannya. Karena keserakahannya dan gelap mata menggunakan barang haram tersebut, dengan maksud ayam yang disajikan tetap empuk dan cepat dalam penyajian.

Tidak di Jakarta, di Batam pun banyak Resto Masakan Padang, yang tidak jelas kehalalannya, ada sebuah Reto Masakan Padang terletak di daerah Nagoya, bernama Pagi Sore, awalnya mulai jualan, pemotong ayamnya ber agama Islam dan telah dilatih oleh LP POM MUI, namun belakangan sang petugas berhenti. Dan jadi
lah sang pengelola bertindak merangkap jagal, pada hal Dia non muslim.

Sebuah Resto lagi yang bernama Sanur, Resto ini terletak di Batam center, mengembalikan sertifkat halalnya karena tidak dibenarkan memakai dan menjual barang yang beralkohol.

Sebenarnya tanpa penamba han zat perasa pada masakannya, masakan Padang sudah pasti lezat. Jika mengikuti pola masakan Padang yang sebenarnya, daging ayam itu akan empuk jika dimasak dalam waktu yang lama. Yaitu tadi, dengan alasan ekonomis, mereka mencari jalan pintas, dengan harapan menghemat. Namun mengorbankan umat Islam, karena mengabaikan kehalalannya.

Di Bandara Hang Nadim tidak semua Resto Masakan Padang mempunyai sertifikat Halal. Sebagai konsumen muslim, kita tidak usah segan dan takut menanyakan kehalalan masakan di Resto yang belum pernah kita singgahi apalagi jelas jelas tidak mempunya sertifikat halal.

Di depan pintu masuk Mall Nagoya Hill ada Resto Masakan Padang, sang pengelola bukan orang Minang. Beberapa waktu yang lalu di Resto itu ada tulisan halal tidak standar MUI, alasan sang Kasir yang juga merangkap sebagai pengelola semua karyawan dan tukang masaknya adalah orang Muslim. Dan memang menurut pengakuan juru masak, mereka tidak menjual dan memasak babi. Mempromosikan halal tapi tidak berproduksi secara halal, dan tidak mempunyai sertifikat halal yang berlaku, adalah salah disisi Undang-Undang. Bisa dikenai hukuman Pidana dan Perdata.

Masih di Batam, dari penga matan Buletin Jumat, Resto atau Rumah Makan Masakan Padang ini, bila dikelola oleh orang Minang (Islam) , selalunya memakai nama agak khas, seperti Salero Basamo, Salero Bandaro, Salero Bagindo. Memang kita akui tidak semua yang memakai nama, seperti Pagi Sore, Siang Malam, Sempurna misalnya dikelola dan pemiliknya bukan orang Minang (Islam).

Untuk itulah kita sebagai konsumen harus hati hati dan teliti, dan berani bertanya, dan sebisa mungkin tidak makan di Resto yang tidak jelas kehalalannya. Resto itu akan tutup sendiri nantinya, kalau kita sepakat tidak mau makan disitu. Contoh rumah makan yang terletak di Nagoya (Pagi Sore) .

Pulau Boyan Rumah Pak Panjang


Dari Perjalanan Mengunjungi Pemukiman Sulu Laut

Dari Pelabuhan Sagulung, kami naik spead boat 40 PK. Hanya beberapa menit saja, persis disebalik sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sampailah kami di Pulau Boyan.  Pulau Boyan di dalam peta tertulis Pulau Bayan. Entah sejak bila, pulau kecil berpenghuni belasan kepala keluarga suku laut ini, berubah nama menjadi Pulau Boyan.

Pak Panjang Orang yang paling tua di pulau itu pun tak tahu persisnya. Sekitar tiga tahun yang lalu, kami dirikan sebuah mushala kecil disitu. Dai yang dikirim oleh AMCF, hanya bertahan setahun. “Sejak Ustadz Tasman tak ada, tak ada lagi yang mengajari kami me ngaji” ujar Ibu Ani.  “Di mushala jarang ada kegiatan”.lanjutnya Kami shalat Juhur dan Asyar di jamak dan diqasar berjamaah.

Di dalam mushala terlihat bersih, tetapi hampir seluruh dinding plaster semen terkelupas. Mung kin dulu pasir yang digunakan bercampur dengan air asin, jadi mudah terkelupas. Dibagian luar dinding mushala pun demikian juga. Plasteran terlihat mengelem bung, seakan ingin berpisah deng an pasangan batunya.

Pulau kecil masuk dalam kelu rahan Pulau Buluh dan kecamatan Bulang ini, tidak ada sumber air tawarnya , tetapi Alhamdulillah saat wuduk tadi, tandon 1000 liter sumbangan dari seseorang yang tak mau disebut namanya, berisi air, walaupun tidak penuh. Beberapa kali ada lembaga sosial survei kesitu, ingin membantu membuat sumur bor, tapi hingga kini belum terwujud.

Beberapa tahun yang lalu pu lau kecil yang eksotik ini, ramai di kunjungi kapal kapal kecil yang lalu lalang, untuk mengisi minyak. Disitu dulu, ada pangkalan pengisi an bahan bakar minyak (BBM). Masih terlihat beberapa buah tangki dari baja yang sudah mulai berkarat. Perpipaannya pun masih rapi terpasang. Diantara pipa – pipa dan tangki BBM itulah ada jalan setapak menu ju ke pantai, kerumah ibu Ani. Bu Ani mengharapkan ada seorang Dai lagi datang ke situ, agar dapat mengajari mereka tentang Islam.

Pak Panjang Dari jauh , melihat kami datang, ter gopoh gopoh pak Panjang datang, Pria tua 70 tahunan ini tersenyum, terlihat giginya rapi, rupanya baru dipasang gigi palsunya. Pak Panjang punya beberapa orang anak perempuan , seorang anak perempuannya bernama Fatimah menikah dengan warga keturunan dan hingga kini meme luk agama suaminya. Begitu juga cucu lelaki bu Ani, menikah dan mengikut agama isterinya.

Tak banyak yang dapat kami lakukan, hanya mendengar cura han hati dari penduduk kampung pulau Boyan itu. Pulau Boyan, mau dikatakan pulau terpencil, tidak juga. Hanya beberapa menit saja dari Batam, kota Metropolitan yang sibuk dengan segala kegiatan.

Tak jauh dari pulau itu ratusan kapal – kapal besar bersandar dan berlabuh menunggu perbaikan. Tentunya itu semua adalah devisa, yang tak menyentuh kehidupan mereka. “Umur saya paling juga 3 tahun lagi” ujar pak Panjang kali ini dia tidak tersenyum, tetapi tertawa, tampak semua gigi palsu nya. “Kapan kampung kami ada listriknya”. rungutnya.

Pantas pak Panjang merungut, tak jauh dari pulau itu pipa Gas diameter besar mengalir ke Singapura, puluhan kilo meter panjangnya. Aku tersenyum, lalu mengajak nya photo bersama. Kumasukkan lembaran berwarna biru ke dalam sakunya, itulah yang dapat kula kukan. Dan Aku tak mau berjanji, tapi isnyaAllah, akan kukabar kepada Datuk Bandar, mudah mudahan beliau mendengar.

Kami tinggalkan pulau Bayan, bersama Adi Sadikin dari Malaysia, Ita Hasan Si Pulau Terluar, Aisya dari Pekanbaru, Jogie dari Hang Tuah, Sabri anak jati pulau Bulang dengan lincahnya menjadi tekong kami menuju destinasi yang lain.

Hari pun beranjak petang. (*)

%d blogger menyukai ini: