Mak Dayang, Perempuan Suku Laut Yang Tegar


Enam kali sudah lebaran sejak kenal Mak Dayang, barulah tahun 2013 ini Mak Dayang datang berkunjung ke rumah kami di Batam. Mak Dayang tidak sendiri puluhan kerabatnya ikut bersama.

SONY DSC
Mak Dayang adalah perempuan Suku Laut, kini menetap di pinggir pantai dapur arang Selat Desa. Sebelumnya keluarga Mak Dayang hidup diatas sampan berpindah pindah (nomaden).

Selat Desa, pemukiman Suku Laut itu hanya sekitar 30 menit dengan pompong dari pelabuhan Telaga Punggur. kecamatan Nongsa
Pertengahan tahun 2008 lalu, Mak Dayang dan Pak Din datang ke Pusat Dakwah Muhammadiyah (PDM) di Tembesi. Pak Din adalah ketua Suku Laut, Mak Dayang pula kakak dari Pak Din. Pak Din tinggal di Air Mas.

Mereka sengaja datang ke PDM untuk mengadukan nasib 8 kepala keluarga Suku Laut yang masih setia dalam Islam, lainnya telah berpindah agama, termasuk putra putri Pak Din dan Mak Dayang sendiri.”Sudi apalah kiranya, saudara Islam datang menjenguk dan membantu kami” itulah keluhan kedua kakak beradik ini.

Di Air Mas dan Selat Desa, dipemukiman Suku Laut tempat bermukim kakak beradik yang sudah bercucu ini, hampir semua mereka bersaudara.

Sebenarnya bukan hal perpindahan agama itu saja yang merunsingkan hati Mak Dayang, tangkapan ikan sudah sangat jauh berkurang sebagai sumber penghidupan mereka, laut tercemar, perairan tempat menangkap ikan mereka dilalui hilir mudik ferry cepat dari ke Tanjung Pinang – Batam.

Alih Profesi?

Mak Dayang pun sudah semakin tua dan lemah, “Dah tak larat lagi nak kelaut.” ujar Mak Dayang suatu ketika. Kini, sesekali Mak Dayang bersama teman-temannya datang ke Telaga Punggur, mengumpuli barang bekas, dari tempat pembuangan sampah. Barang yang masih berguna dijual kembali, setelah dicuci bersih.

Akhir tahun 2009, tak jauh dari pondok Mak Dayang kami dirikan sebuah mushala kecil, atas permintaan Mak Dayang. Disitu pula menetap seorang Dai, ustadz Masri namanya. Sehingga bisalah mereka belajar agama, terutama anak-anak mereka dapat juga belajar mengaji.

Style Mak Dayang dengan Jilbabnya....... tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek.... satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya......... banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama.....

Style Mak Dayang dengan Jilbabnya……. tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek…. satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya……… banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama…..


Kini telah belasan kepala keluarga Suku Laut yang beragama Islam. Shalat jumat pun telah dilaksanakan di kampung itu.

Ada bantuan Generator Set dari LAZ Masjid Raya Batam. Sepan-jang usia Mak Dayang, hampir sama dengan usia Indonesia Merdeka, barulah itu Mak Dayang menikmati terangnyanya lampu listrik walaupun itu hanyadari pukul 6 petang ke pukul 10 malam.

Baru-baru ini sudah dibangun pula pelantar di pemukiman Suku Laut itu, pelantar bantuan dari Pemko Batam.

Menjelang Idul Fitri 1434H yang baru lalu kampung Selat Desa dikunjungi sahabat dari Singapura, Alhamdulillah, lumayan jumlah infaq yang diterima mereka.
“Bisalah untuk tambang ke Batam naik keri, berhari raya” kata Mak Dayang sambil tersenyum menjeling.

Sebenarnya teringin sekali nak membawa Mak Dayang sekeluarga orang Selat Desa, keliling Batam yang jarang dikunjungi mereka, tetapi hari itu juga aku harus segera ke Teluk Nipah Galang Baru, karena Pak Dul teman lama meninggal dunia. (Imbalo)

Iklan

2 Tanggapan

  1. Kasus pindah agama bagi pribumi asli muslim sangat sering terjadi. Saya pernah berkunjung ke pulau galang dan lihat sendiri beberapa buah gereja yang giat dibina. Amat aneh dengan pemandangan desa-desa di Johor. Alhamdulillah di Malaysia ia suatu yang langka. Suku Laut beragama Islam di Johor (Orang Kuala dan Orang Kanaq) alhamdulillah kekal Islam sampai saat ini malah sudah berbaur sebati dengan suku Melayu yang memang Islam.

    Suka

    • Sultan Mahmud, dengan dua Laksamananya yaitu Lingga dan Bintan, Johor Riau Lingga kerajaan mereka, perang saudara setelah Sultan Mahmud mangkat dijulang, membuat rakyat terpecah belah, dan turunan yang ke 14 itulah yang mendiami perairan Batam sekarang. Mereka Suku Laut yang ada di perairan Batam tetap Islam , meskipun nyaris tak dapat mengucapkan syahadat apalagi mengaji, karena memang tak belajar dan tak ada yang mengajarkannya…. kecuali mereka yang sudah berbaur dengan masyarakat yang di darat. Sekitar 20 an tahun yang lalu Batam terbuka, mereka para misionaris lebih giat menjambangi mereka , apalagi setelah kebijakan yang berkuasa saat itu, “mendaratkan” orang sampan atau suku laut ini…. dan pemukiman pemukiman tempat para suku laut ini terus dikunjungi para misionaris tadi, sementara saudara muslim agak segan bergaul dengan mereka…..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: