Apakah Syah Lebaran Besok?


Apakah Syah Lebaran Besok?

Berikut penjelasan Ketua Majelis Tarjih dan Tabligh PP Muhammadiyah  Persyarikatan Muhammadiyah  Dari Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A.:

Ada pertanyaan di kalangan beberapa orang anggota masyarakat tentang lebaran besok Selasa di mana? puasanya dengan demikian hanya 29 hari, apakah itu sah? Jawabannya adalah bahwa Nabi saw dalam beberapa hadisnya menyatakan bahwa umur bulan itu 29 hari atau terkadang 30 hari. Jadi orang yang berpuasa 29 hari dan berlebaran besok adalah sah karena sudah berpuasa selama satu bulan. Secara astronomis, pada hari ini, Senin 29 Agustus 2011, Bulan di langit telah berkonjungsi (ijtimak), yaitu telah mengitari bumi satu putaran penuh, pada pukul 10:05 tadi pagi. Dengan demikian bulan Ramadan telah berusia satu bulan. Dalam hadis-hadis Nabi saw, antara lain bersumber dari Abu Hurairah dan Aisyah,  dinyatakan bahwa Nabi saw lebih banyak puasa Ramadan 29 hari daripada puasa 30 hari. Menurut penyelidikan Ibnu Hajar, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.

Mengenai dasar penetapan Idulfitri jatuh Selasa 30 Agustus 2011 adalah hisab hakiki wujudul hilal dengan kriteria (1) Bulan di langit untuk bulan Ramadan telah genap memutari Bumi satu putaran pada jam 10:05 Senin hari ini, (2) genapnya satu putaran itu tercapai sebelum Matahari hari ini terbenam, dan (3) saat Matahari hari ini nanti sore terbenam, Bulan positif di atas ufuk.  Jadi dengan demikian, kriteria memasuki bulan baru telah terpenuhi. Kriteria ini tidak berdasarkan konsep penampakan. Kriteria ini adalah kriteria memasuki bulan baru tanpa dikaitkan dengan terlihatnya hilal, melainkan berdasarkan hisab terhadap posisi geometris benda langit tertentu. Kriteria ini menetapkan masuknya bulan baru dengan terpenuhinya parameter astronomis tertentu, yaitu tiga parameter yang disebutkan tadi.

Mengapa menggunakan hisab, alasannya adalah:

  1. Hisab lebih memberikan kepastian dan bisa menghitung tanggal jauh hari ke depan,
  2. Hisab mempunyai peluang dapat menyatukan penanggalan, yang tidak mungkin dilakukan dengan rukyat. Dalam Konferensi Pakar II yang diselenggarakan oleh ISESCO tahun 2008 telah ditegaskan bahwa mustahil menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecuali dengan menggunakan hisab.

Di pihak lain, rukyat mempunyai beberapa problem:

  1. Tidak dapat memastikan tanggal ke depan karena tanggal baru bisa diketahui melalui rukyat pada h-1 (sehari sebelum bulan baru),
  2. Rukyat tidak dapat menyatukan tanggal termasuk menyatukan hari puasa Arafah, dan justeru sebaliknya rukyat mengharuskan tanggal di muka bumi ini berbeda karena garis kurve rukyat di atas muka bumi akan selalu membelah muka bumi antara yang dapat merukyat dan yang tidak dapat merukyat,
  3. Faktor yang mempengaruhi rukyat terlalu banyak, yaitu (1) faktor geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi), (2) faktor atmosferik, yaitu keadaan cuaca dan atmosfir, (3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan, (4) faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat.

Memang perlu dilakukan upaya untuk menyatukan sistem penanggalan umat Islam agar tidak lagi terjadi perbedaan-perbedaan yang memilukan ini. Untuk itu kita harus berani beralih dari rukyat (termasuk rukyat yang dihisab) kepada hisab. Di zaman Nabi saw rukyat memang tidak menimbulkan masalah karena umat Islam hanya menghuni Jazirah Arab saja dan belum ada orang Islam di luar jazirah Arab tersebut. Sehingga bila bulan terlihat atau tidak terlihat di jazirah Arab itu, tidak ada masalah dengan umat Islam di daerah lain lantaran di daerah itu belum ada umat Islam. Berbeda halnya dengan zaman sekarang, di mana umat Islam telah menghuni seluruh penjuru bumi yang bulat ini. Apabila di suatu tempat hilal terlihat, maka mungkin sekali tidak terlihat di daerah lain. Karena tampakan hilal di atas muka bumi terbatas dan tidak meliputi seluruh muka bumi. Rukyat akan menimbulkan problem bila terjadi pada bulan Zulhijah tahun tertentu. Di Mekah terlihat, di Indonesia tidak terlihat, sehingga timbul masalah puasa Arafah.

Jadi oleh karena itu penyatuan itu perlu, dan penyatuan itu harus bersifat lintas negara karena adanya problem puasa Arafah. Artinya siapapun yang mencoba mengusulkan suatu sistem kalender pemersatu, maka kalender itu harus mampu menyatukan jatuhnya hari Arafah antara Mekah dan kawasan lain dunia agar puasa Arafah dapat dijatuhkan pada hari yang sama. Ini adalah tantangan para astronom Indonesia. Kita menyayangkan belum banyak yang mencoba memberikan perhatian terhadap penyatuan secara lintas negara ini. Perdebatan yang terjadi baru hanya soal kriteria awal bulan, yang itu hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan masalah penyatuan kalender.

Sementara kita masih belum mampu menyatuakan penanggalan hijriah, maka bilamana terjadi perbedaan kita hendaknya mempunyai toleransi yang besar satu terhadap yang lain dan saling menghormati. Sembari kita terus berusaha mengupayakan penyatuan itu.

Iklan

Mukenah Untuk Mirna


Setibanya kami di pulau Caros air sudah pasang, sehingga pompong yang kami naiki bisa langsung merapat ke bibir pantai. Kalau air laut surut untuk ke darat kita harus melalui rumah panggung pak Awang. Tak ada pelantar disitu.

Pulau Caros adalah perkampungan Suku Laut, dulu Caros masuk wilayah Tanjung Pinang, kini telah masuk wilayah Batam. Bila hendak ke Caros dari Batam setelah Jembatan empat Pulau Rempang berbelok ke kiri ke Desa Sembulang. Dari dermaga Sembulang naik pompong ke Caros sekitar 20 menit lagi.

Perkampungan ini hanya di huni oleh 10 keluarga, dan keluarga itu semuanya masih sanak beranak dan kerabat pak Awang Sabtu, Pak Awang Sabtu mempunyai 8 orang anak, 6 orang anaknya sudah berkeluarga, dan tinggal di kampung itu.

Seluruh  rumah panggung yang terbuat dari kayu dan beratap daun nipah/getah dan sebagian seng itu berdiri diatas laut, hanya sebuah bangunan mushala kecil ukuran 5 x 5 yang berada di darat.

Seorang dari anak pak Awang yang sudah berkeluarga tadi bernama Merna, hanya dia seoranglah dari delapan bersaudara anak pak Awang yang perempuan.

Tengah hari itu senin (22/08) kami melaksanakan shalat Juhur berjamaah di mushala kecil yang baru selesai didirikan, terlihat dua orang anak lelaki pak Awang ikut shalat. Di saf belakang ada tiga orang wanita yang ikut shalat, tetapi hanya seorang dari mereka yang memakai mukena (telekung).

Perempuan yang bermukenah bernama Halimah, suaminya bernama Den. Sementara seorang lagi yang tak ber-mukena namanya Ita, suami Ita bernama Jamil, kedua  perempuan itu adalah menantu pak Awang dan perempuan satu nya lagi yang tak ber-Mukena adalah isteri pak Awang.

Merna,anak perempuan pak Awang tak ikut shalat karena sejak menikah setahun yang lalu, Merna telah berpindah agama mengikuti agama suaminya.

Kedatangan kami kepulau Caros, kononnya  dalam rangka meresmikan pemakaian mushala kecil itu. Sudah beberapa hari yang lalu pak Awang memberitahukan “Datanglah mushala dah siap bile nak dipakai” ujar pak Awang melalui henponnya.

Penghidupan penduduk disitu adalah nelayan tradisional, selain itu mereka menyambi menjadi kuli dapur arang. Agaknya dengan adanya dapur arang dibuat disitu pak Awang yang masih muda, mulai bermukim disitu, puluhan tahun yang lalu, di tengah tengah hutan mangrove (bahan baku arang) yang subur.

Tak ada sesiapa pun lelaki di kampung itu yang dapat shalat, pak Awang sendiri tak begitu lancar mengucapkan duakalimat syahadat.

Jadi hanya Halimah seorang yang bisa shalat dan sedikit dapat membaca Quran, tentu, karena Halimah bukan penduduk asli pulau Caros. Itulah yang sedang kami bincangkan siapa agaknya yang berkenan dan siap datang ke pulau itu untuk mengajarkan Islam kepada mereka.

Mukena & Syahadat Bersama

Mushala kecil seperti di Caros, ada belasan buah telah selesai di bangun di merata tempat di sekitaran Batam. Hampir semua dibangun di perkampungan Suku Laut. Beberapa tempat telah ada Dai nya. Tetapi lebih banyak lagi seperti di Caros tak ada sesiapa yang rutin datang untuk membina dan mengajari mereka tentang Islam.

Siang itu ada hadiah Mukena untuk isteri pak Awang , sumbangan dermawan dari Batam, senang sekali kelihatan dia mendapat Mukena baru, tak tahu lah apakah itu Mukena pertama baginya, begitu pun dengan Ita anak menantunya mendapatkan sehelai Mukena juga.

Meskipun Halimah telah mempunyai Mukena, dia pun mendapat sehelai yang baru.
Ada dua orang anak perempuan remaja tanggung, yaitu anak pak Jamil dan anak pak Bogol, mereka berduapun mendapatkan masing – masing seorang sehelai.

Merna, yang sedang duduk di samping kiri ibunya, melirik kearahku. : “Merna mau” tanyaku kepadanya, Merna mengangguk. Pak Awang yang juga duduk di samping kanan Merna tersenyum kecut sembari berkata “Boleh kah”? pak Awang tahu anaknya sudah tak Islam lagi. Pak Awang dan isterinya terlihat sayang betul kepada Merna, duduk pun diapit kedua orang tua itu, maklumlah hanya seorang Merna anak perempuan mereka.

“Kalau suaminya izinkan” jawabku. Sambil melirik ke sekeliling ruangan melihat dimana suami Merna duduk. “ Suamiku ada di rumah “ ujar Merna. Dan Merna bergegas memanggil suaminya dirumah yang tak berapa jauh dari Mushala .

“Tak apa kalau dia mau, aku izinkan “ ujar Julius suami Merna setibanya di Mushala. “Kalau begitu alangkah baiknya yang memakaikannya awak” saranku.

Jadilah siang itu Julius memasangkan Mukena kepada isterinya. Disaksikan ayah dan ibunya serta keluarga yang lain yang hadir di mushala itu. Terlihat berlinang air mata Merna, Merna yang pernah duduk di kelas 4 sekolah dasar ini, berjanji akan ikut shalat berjamah bersama Halimah.

Seorang lagi menantu perempuan pak Awang dari anak lelaki pak Awang yang bernama Minggu, mendapat Mukena. Minggu ini, sejak 3 tahun yang lalu setelah menikah dengan isterinya, telah berpindah agama,jadi non muslim. Minggu pun dengan rela hati memasangkan mukena kepada isterinya, mungkin seumur – umur baru itulah agaknya Minggu memegang Mukena, sehingga dia agak canggung dan tak pandai memasangkannya.

“Sudah lah biar aku saja” kata isteri Minggu sembari berkata, bahwa waktu kecil dulu dia pun pernah memakai Mukena.

Pak Awang terlihat tertegun dan bergumam, “Bagaimana ini mereka kan dah tak Islam”
“Tak apa kalau mereka rela” ujar ku “Beragama tak di paksa dan tak di pujuk pujuk” ujarku lagi. Sembari menjelaskan tentang ke-Tauhidan yang kufahami, kuajak mereka semua bersyahadat.

Mungkin ini hikmah kepada keluarga pak Awang. Di Siang itupun disiang bulan suci Ramadhan 1432 H dihari yang ke dua puluhdua kami bersama – sama mengucapkan dua kalimat syahadat , dibaca berulang ulang, orang – perorang termasuk Arman seorang wartawan dari koran harian Batam Pos yang kebetulan ikut bersama ke pulau Caros, Koran harian yang baru mendapat penghargaan internasional ini menyumbangkan mushaf Quran.

Wajah tua pak Awang terlihat berseri seri, dia berharap anak dan menantunya kembali kejalan yang benar. Pak Awang pun sangat – sangat berharap ada orang yang dapat mengajarkan Islam kepada mereka…..Semoga.

Surau – Surau Kecil Ditempat Kami


MUSHALA TAQWA AIR LINGKA TANJUNG.

merentas semak ke lokasi mushala

merentas semak ke lokasi mushala

Adalah Azman penduduk Kampung Baru Galang Baru yang memberitahukan kepada kami bahwa di kampung  Air Lingka Tanjung itu ada penduduk yang masih beragama Islam.  “Sekitar 5 kepala keluarga” sebut Azman ketika itu.

Tak mudah mendapatkan setapak tanah untuk mendirikan mushala disitu. Kami perlu bersabar, karena sang empunya lahan yang telah meninggal belum membagikan kepada waris nya. Salah seorang waris dari pemilik lahan,  kebetulan baru masuk Islam , pak Ali namanya. Dia lah yang menghibahkan lahan untuk mushala itu.

anak - anak kampung air lingka tanjung

anak - anak kampung air lingka tanjung

Air Lingka Tanjung masuk kelurahan Galang Baru kecamatan Galang. Dari Batam setelah jembatan enam (6), belok ke kiri sekitar 2 kilometer jalanan beraspal mulus. Tetapi untuk ke lokasi mushala belum ada jalan dan harus meretas semak belukar. Mayoritas penduduknya adalah nelayan dan sebagian besar dari suku laut.

Sukul Laut ini dulu Nomaden (hidup berpindah pindah diatas sampan) , sekitar 20 tahun yang lalu mereka mulai bermukim di kampung Air Lingka Tanjung itu.

Lahan Mushala

belajar wuduk

belajar wuduk

Tak mudah pula untuk membawa material ke lokasi tapak Mushala Kecil di Air Lingka Galang ini, apalagi tak ada pula tukang yang bersedia mengerjakan pembangunan mushala itu dengan harga yang standar. Karena memang anggaran yang ada tak terlalu besar. Jadilah hampir setahun lamanya mushala yang berukuran 5 x 5 meter  itu baru bisa di tempati.

hampir setahun pembangunannya baru selesai

hampir setahun pembangunannya baru selesai

Tepat tanggal 17 Ramadhan 1432 H yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 2011 hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 66 yang baru lalu,  Mushala yang kami beri nama Taqwa itu, kami tempati untuk shalat Ashar berjamaah dengan masyarakat kampung Air Lingka yang Islam.

Mushala sudah siap dan telah dapat dipergunakan, tetapi tak seorang pun dari penduduk muslim dewasa disitu yang dapat memimpin shalat, menjadi imam.  Pak RT Air Lingka Tanjung, pak  Husein – ke RT annya belum disahkan oleh Lurah Galang Baru,  Lurah Iskandar – hanya tersenyum saat didaulat menjadi imam shalat.

dulu namanya Aweng kini Samsudin salah seorang mualaf di kampung itu, mengharapkan ustadz yang dapat mengajari mereka tentang Islam

dulu namanya Aweng (berbaju putih) kini Samsudin salah seorang mualaf di kampung itu, mengharapkan ustadz yang dapat mengajari mereka tentang Islam

Sementara ibu-ibu yang hadir pada saat itu mengharapkan adanya sumbangan buku Iqra untuk anak anak mereka. “Kalau boleh sekalian dengan ustadz nya” ujar mereka. Bolehlah mengajari mereka tentang Islam.

Mudah mudahkan harapan suku laut muslim yang mendiami pinggir laut kampung Air Lingka Tanjung itu dapat terpenuhi.

Al – Fatihah Untuk Almarhum Si Singamangaraja XII


Al – Fatihah, bacakan lah untuk almarhum pinta Aba Ari padaku melalui henpon nya. Aba Ari yang telah berumur 74 tahun ini tinggal di Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu beliau “bertemu”  dengan seseorang yang mengaku bernama Si Singamangaraja XII .

Setelah ia membaca tulisan yang ada di blog ku yaitu Si Singamangaraja XII; Gugur Sebagai Pahlawan Islam  dan menuliskan komentar  sbb :

” Sebelumnya, abah minta maaf kepada penulis artikel ini, abah lancang ikut menulis komentar yang hanya sekedar himbauan bagi yang seiman, marilah kita mendoakan bagi roh para pahlawan kita yaitu ( Opung panggilan hormat pada beliau) Si Singamangaraja, XII beserta anak2nya Patuan Anggi, Patuan Nagari dan Putri Lopian, yang semua gugur dalam pertempuran melawan penjajahan belanda thn 1907.

Doa Secara Islami, Inalillahi wa ina illaihi rojiun. Semoga Roh Mereka berempat diterima oleh ALLAH SWT, diampuni segala dosanya selama hidupnya dan diterima amal ibadahnya.

Himbauan ini berdasarkan keyakinan abah,  bahwa keyakinan Opung semasa hidupnya adalah muslim sejati, ini semua adalah pengakuan almarhum OPUNG kepada abah, secara pribadi (bathiniah).

Semua karena berdasarkan keyakinan abah kehadirat ALLAH SWT, dan semua adalah berkat RahmatNYA, serta Qodrat dan Irodat serta ilmunya ALLAH, semua bisa terjadi dalam pengalaman perjalanan spiritual abah, dalam thn 2011 ini.

Maafkan abah harus menyampaikan semua ini, karena merupakan Amanah. Dosa bagi abah kalau amanah ini gak disampaikan pada saudara2 yang seiman.

Terima kasih atas perhatian dan mohon maaf kalau tidak berkenan di hati anda. Wasalam . Dan salam kenal abah ar4chie ato abah ari.- aki2.”

Selanjutnya Aba Ari menulis lagi :

“Asalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Bung Imbalo, mudah2an anda tetap sehat dan fit, dalam menjalankan ibadah puasa ini. Kalau anda tidak berkeberatan,  bisa kontak langsung dengan anda gak via HP?.

Maksud Abah ingin berkenalan/ silaturahim.  Ini no HP Abah Flexi 021 33043224. Abah Ari;

Terima kasih atas perhatiannya..wasalam”

Bagi rekan dan pembaca yang ingin berhubungan dengan Aba Ari silahkan kontak langsung dengan beliau.

%d blogger menyukai ini: