Si Singamangaraja XII; Gugur Sebagai Pahlawan Islam


Tulisan ini di kutip dari

Opini publik dewasa ini kurang menyadari bahwa Si Singamangaraja XII adalah seorang Muslim, yang di angkat sebagai Maharaja di negri Toba di kota Bakara pada 1304 Hijria. Sebagai seorang pejuang yang bertempur terus hingga akhir hayatnya ketika ditangkap dan di tembak oleh Belanda pada 17 Juni 1907.

Untuk menghargai dan menghormati jasa yang telah di korbankan bedasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 217 tahun 1957, pemerintah telah mengangkat Si Singamangaraja XII sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Adapun yang di maksud dengan batasan Pahlawan Kemerdekaan Nasional adalah seorang yang masa hidupnya terdorong oleh rasa cinta tanah airnya dan sangat berjasa dalam memimpin suatu kegiatan yang teratur menentang penjajah di Indonesia melawan musuh dari luar negri, ataupun sangat berjasa baik dalam lapangan politik, ketatanegaraan, sosial ekonomi, kebudayaan maupun dalam lapangan ilmu pengetahuan yang erat hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan dan perkembangan Indonesia.

Mungkin dasar kriteria semacam di atas, di tambah dengan adanya sistem penyusunan cerita Sejarah Nasional yang tidak menonjolkan tentang agama yang di peluknya, menyebabkan kita tidak menyadari bahwa Si Singamangaraja adalah pejuang Islam yang gugur sebagai syuhada pada tanggal 17 juni 1907.

Silsilah
Perlu pula kita ketahui bahwa nama Si Singamangaraja adalah nama dinasti dari keluarga “Sinambela”. Yang kita bicarakan di sini adalah keturunan yang ke-12. Adapun silsilahnya sebagai berikut:


1.  Raja Munghuntal     -Si Singamangaraja I
2.  Ompu Raja Tianaruan       -Si Singamangaraja II
3.  Raja Itubungna                          -Si Singamangaraja III
4.  Sori Mangaraja                          -Si Singamangaraja IV
5.  Pallongos                                  -Si Singamangaraja V
6.  Pangulbuk                                  -Si Singamangaraja VI
7.  Ompu Tuan Lumbut                   -Si Singamangaraja VII
8.  Ompu Sotaronggal                     -Si Singamangaraja VIII
9.  Ompu Sohalompoan                   -Si Singamangaraja IX
10. Ompu Tuan Nabolon                   -Si Singamangaraja X
11. Ompu Sohahunon                        -Si Singamangaraja XI
12. Patuan Besar Ompu Pulo Baru     -Si Singamangaraja XII

Kristenisasi

Perlu saya jelaskan telebih dahulu tentang kristenisasi disini tidak bertujuan menggoyahkan kerukunan beragama, tetapi sekedar mengisahkan kembali tentang cara Belanda menguasai daerah Tapanuli melalui Kristenisasi. Jadi sebagai fakta sejarah yang benar-benar telah terjadi dan memang masalah Kristenisasi inilah yang nantinya menjadi sumber pangkal permasalahan mengapa Si Singamangaraja XII mengadakan perlawanan bersenjata terhadap Belanda. Tampaknya penyebaran agama Kristen di Tapanuli saat itu mempunyai tujuan politik untuk menguasai wilayah tersebut. Dan tujuan politis inilah yang mengubah sikap rakyat Tapanuli terhadap agama Kristen.

Penyebaran agama itu sendiri tidaklah mendapat perlawanan. Tetapi tujuan politik penjajah membangkitkan rakyat untuk mengangkat senjata.
Adapun tujuan politik yang menyertai penyebaran agama Kristen saat itu adalah seperti yang diyatakan oleh J.P.G Westhoff: “menurut pendapat kami untuk tetap memiliki jajahan-jajahan kita untuk sebagian besar adalah tergantung dari pengkristenan rakyat yang sebagian besar belum beragama atau yang telah beragama Islam”.

Gerakan agresi agama ini besar kemungkinan mulai di lancarkan ke daerah Tapanuli pada 1824. Hal ini terbukti dengan adanya pembunuhan terhadap Baptis Amerika yakni Munson dan Lyman di Sinaksak. Kemudian gerakan ini di perhebat pada 1861 yang di lakukan oleh Rijnsche Zending yang memusatkan gerakannya di Padang Sindempuan.

Dari sini gerakan akan diarahkan memasuki daerah Toba. Untuk keperluan ini pemerintah kolonial Belanda menunjuk misionaris Nommensen dan Simoniet. Daerah-daerah serta rakyatnya yang telah di pengaruhi oleh penyebaran agama ini kemudian secara administratif di serahkan kepada kolonial Belanda. Atas jasa yang demikian besar ini pemerintah Belanda merasa berhutang budi terhadap Nommensen, dan pada 1911 Nommensen di beri bintang Officer van Oranje-Nassau.

Penyebaran agama semacam di atas mempunyai efek politik dan ekonomi sosial yang sangat merugikan rakyat Tapanuli. Penyerahan daerah kepada pemerintah kolonial Belanda, membawa akibat timbulnya sistem monopoli di bidang perdagangan. Termasud ke dalam masalah pertanian, penjualan hasil bumi di monopoli oleh Belanda. Di bidang politik tindakan tersebut berarti mempersempit daerah kekuasaan Si singamangaraja, di bawah kondisi yang demikian mendorong pandangan politik dan ekonomi rakyat Tapanuli untuk lebih bersahabat dengan Aceh dan Sumatra Barat.

Si Singamangaraja XII
Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama Islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakannya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu.

Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser

Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalau kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304.

Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.

Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain;
Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)

Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia menekan supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya.
Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.

Sebaliknya tindakan penyebaran agama yang dilakukan Rijnsche Zending di Toba di sertai dengan serbuan militer Belanda. Serangan yang semacam ini baik yang di lancarkan pada 1861 ataupun 1877 pada masa pemerintahan Si Singamangaraja XII, mempunyai motif penguasaan daerah Toba yang subur.

Tidaklah mengherankan kalau Si Singamangaraja XII memimpin rakyatnya membendung usaha perluasan wilayah tersebut. Dalam pelawanan bersenjata ini beliau di bantu oleh Panglima Nali yang berasal dari Minangkabau dan Panglima Teuku Muhammad yang berasal dari Aceh.
Letak geografis Tapanuli yang berada di tengah-tengah antara Aceh dan Sumatra Barat memungkinkan kedua daerah atau kesultanan tersebut saling kerjasama. Selain adanya kesamaan keyakinan agama, ditunjang oleh kondisi politik yang sama menghadapi ekspedisi wilayah dari Belanda. Itulah sebabnya memungkinkan kedua panglimanya berasal dari kedua kesultanan di atas.

Belanda sendiri ketika melihat situasi geografis yang demikian itu, mempunyai kepentingan lain. Dengan di lancarkanya operasi militer ke Toba, mempunyai motif melaksanakan tujuan wig pilitic (politik bayinya) “O. Hashem, 1968, hlm. 31″ yang untuk memisahkan daerah Tapanili dati pengaruh Aceh dan Sumatra Barat.

Sekalipun Belanda memiliki persenjataan yang lebih unggul, namun usaha penguasaan wilayah Tapanuli tidaklah semudah yangdiperkirakan semula. Secara fisik memang sepintas dapat menguasai Bahal Batu, Butar, dan Lobu Siregar. Tetapi apa artinya kalau penguasaan wilayah ini tidak mampu menundukan kemauan rakyat. Faktor terkhir inilah yang menjadi problem dalam setiap peperangan. Karena tidak ada rumus bagaimana caranya menguasai kemauan dari bangsa yang telah di kuasai negaranya. Dan tampaknya sedah menjadi kodrat alam tidak ada suatu bangsa pun yang mau di jajah. Apalagi bangsa tersebut memiliki daya tempur yang tinggi. Dan hal ini kebanyakan hanya di miliki oleh bangsa yang telah mempunyai ajaran agama yang di dalamnya mengajarkan pembelaan diri apabila di serang.

Di sini Si Singamangaraja XII telah memeluk agama yang demikian itu, yaitu Islam. Keyakinanya telah menunjangnya untuk mampu bertahan dan berjuang selama tiga puluh tahun lamanya. Suatu kenyataan sejarah yang tidak dapat di sangkal lagi bahwa ajaran agama Islam mempunyai pengaruh besar tehadap perkembangan dan sikap jiwa bangsa Indonesia.

Seseorang yang memeluk agama akan merasa dirinya kuat dan lagi peperangan tidak dapat di kerjakan oleh seorang pemimpin, melainkan merupakan hasil dari kerjasama. Hasil ini akan mudah dicapai apabila masyarakatnya tersebut terbina dalam ajaran agama. Karena dasar ajaran agama tidak mengajarkan hidup secara individual sifatnya, melainkan lebih menekankan kepada kegotongroyongan. Apabila masyarakat tersebut telah meletakan kepercayaan sepenuhnya kepada kepemimpinan di atasnya. Ini adalah sebagai faktor yang memudahkan untuk menumbuhkan kesatuan gerak perjuangan.

Persyaratan yang demikian itu telah tumbuh dalam masyarakat Tapanuli. Si Singamangaraja XII tidak hanya di anggap sebagai seorang Maharaja tapi juga sebagai Imam di bidang agama. Faktor kepercayaan yang telah di berikan rakyatnya ketangan Si Singamangaraja XII merupakan factor yang dominan yang memungkinkan dirinya di angkat sebagai seorang keramat, sehingga Si Singamangaraja XII menjadi seorang pemimpin yang kharisma nya besar.
Sekalipun demikian besar kekuasaan Si Singamangaraja XII, tidak menjadikan dirinya sebagai seoarang sultan absolut. Malahan rakyatnya memberikan gelar sebagai juru damai, yang selalu berpihak kepada kepentingan rakyat.

Menghadapi seorang pemimpin rakyat yang demikian besar pengaruhnya, Belanda harus menggunakan cara lain. Ibu, permaisuri, dan kedua putranya di tangkap. Dengan cara ini belanda berharap dapat membawa Si Singamangaraja XII kemeja perundingan.

Kompromi ini tidak mungkin tercapai. Karena kebencian Si Singamangaraja XII terhadap Belanda telah ditanamkan sejak lama oleh ayahnya. Juga di lakukan oleh bukti sejarah Si Singamangaraja X (Ompu Tuan Nabolon) dan Raja Lambung putranya, dibunuh oleh Belanda.

Sejalan dengan situasi di Tapanuli tersebut, Belanda melancarkan yang membabi buta pula terhadap ulama di Aceh. Vetter melanjutkan operasi militer seperti yang pernah di kerjakan oleh Van der Heijden. Tindakan mereka ini merupakan realisasi nasehat Snouck Hurgroje yang mengadakan pengejaran tanpa henti terhadap para ulama yang memimpin gerilya. Operasi  yang demikian kejam dengan mengadakan pembunuhan semena-mena terhadap pemuka-pemuka Islam mendapat restu pula dari mentri Bergsman.

Gerakan operasi militer yang demikian ini terdorong oleh usaha ingin mematahkan saingan Inggris yang menjadikan Pulau Penang sebagai pelabuhan yang mengekspor rempah-rempah dari Aceh. Saingan ini ingin dipatahkan dengan menguasai daratan Aceh dan Tapanuli. Pulau Sabang dijadikan pelabuhan batu bara yang mensuplai kapal-kapal yang memblokade Aceh. Tentu saja untuk mendapatkan batu bara ini di perlukan penguasa Ombilin dan Sawah Lunto di Sumatra Barat. Kedua daerah terakhir ini telah berhasil di kuasainya. Hanya Tapanuli sebagai daerah subur yang terletak di kedua wilayah tersebut yang masih belum mau menandatangani “Korte Verklring”.
Dengan latar belakang berbagai kepentingan di atas, Belanda berusaha keras melancarkan operasi mematahkan kekuasaan Si Singamangaraja  hal ini akan menjadi mungkin karena gerilya ulama Aceh mulai satu persatu terpatahkan.

Selain sekutu Si Singamangaraja XII mulai lemah, juga di sebabkan persenjataan yang di milikinya tidak seimbang dengan yang dimiliki Belanda. Politik Pintu Terbuka dengan adanya tuntunan pengamanan modal asing, melibatkan negara-negara imprealis lainya menunjang usaha Belanda untuk mengakhiri perlawanan bersenjata Umat Islam Indonesia. Termaksud Si Singamangaraja XII. pada 17 juni 1907 di bawah pimpinan Kapten Christoffel, Belanda  menggempur pusat pertahanan Si Singamangaraja XII. Sampai saat pertempuran terakhir ini, Si Singamangaraja XII bersama putrinya, Lopian, memilih jalan gugur sebagai syuhada dari pada menyerahkan Tapanuli di atas Korte Verklaring kepada Belanda.

Seluruh bangsa Indonesia merasa kehilangan jasad seorang pahlawan Si Singamangaraja XII, tetapi tidak kehilangan jiwa dan cita-citanya. Si Singamangaraja XII gugur sebagai syuhada, tetapi tidak mati melainkan hidup abadi di hati bangsa di sisi Allah SWT.
Catatan:

Artikel ini disadur oleh teman seapartemen saya sendiri ( Aulia Rahman Nursyahid )dari sebuah buku usang diantara tumpukan buku asing dengan kondisi yang menghawatirkan denga judul “MENEMUKAN SEJARAH WACANA PERGERAKAN ISLAM INDONESIA” Oleh: Prof. Drs. Ahmad Mansur Surya Negara dan di Pubilkasikan oleh Penerbit Mizan, Cetakan I: Muharram 1416/Juni 1995.

Dikarenakan buku ini termasuk langka, maka kami menyarankan kepada siapapun yang memilkinya untuk menjaganya sebaik mungkin sehingga nantinya bisa dinikmati oleh generasi setelah kita. Dan jika saudara/i mempunyai versi PDF nya tolong dikirim ke mj.institute@ yahoo.com

Iklan

30 Tanggapan

  1. kalo kamu dah dapat versi pdf nya kirimi aq juga ya?????…

    he….3x

    Suka

  2. Sepemahaman saya, Sisingamangaraja adalah raja dalm konteks adat dan agama. Bukan raja yang dalam deskripsi saudara “sultan yang absolut”. karena pada prinsip umum adat batak setiap orang adalah raja berkaitan dengan kondisi-kondisi kekerabatan.
    Sisingamangaraja islam, ya bisa saja…menghindari perang padri untuk menyebarkan agama islam…orang batak kalah perang…sisingamangaraja xii diungsikan ke aceh…belajar disana (nb. dari 12 sisingamangaraja…sisingamangaraja 12 berpoligami dengan 4 atau 5 istri)…tapi islam atau parmalim (penganut ugamo malim – agama asli batak)
    Tapanuli daerah yang subur…mulai kapan yah suburnya…kalau subur saya yakin orang tapanuli nggak ada yang sekolah ke jawa atau jadi kenek mending nyangkul dikampung. Tapanuli itu daerah termiskin di Indonesia…
    Ini cuma komen-satu sisi mengakui sisi lain mungkin mampu membenarkan

    Suka

    • mau Islam atau apapun orang Batak tidak akan mau ribut2, semua Tuhan yang tau, yang pasti dia berasal dari TOBA. Kalau sampean mengira tapanuli tidak subur, sono pergi dan buat penelitian, orang tapanuli itu gigih dan tdk mau jadi budak, jadi lebih baik merantau, menaklukkan daerah yang tdk pernah dikenalnya, sampean hanya melihat segelintir yang kenek, tapi sampean gak lihat yang hebatnya ya….. jelas jawa yang kuasai karena penduduk terbesar dan banyak lagi yang jadi budak ke timur tenganh, bagi bangsa batak, pantang jadi BUDAKKKKK

      Suka

  3. Daerah bekas “muntahan” gunung berapi …………….subur enggak ya?…..

    Kabur Barus (kemper) dari Tapian Nauli itu sudah terkenal di manca negara sejak jaman bahuelak ( menurut catatan sejarah sejak jaman Nabi Sulaiman) .

    Baca buku Tuanku Rao – Mangaraja Ongan Parlindungan Siregar

    Suka

  4. 1. masih banyak yang harus diteliti,
    terlalu dini untuk menyimpulkan dari carik-carik yang kecil-kecil

    2. sistem kerajaan di Bangso Batak jelas berbeda dengan sistem kerajaan dimanapun di dunia ini, itu hanya ada di Tanah Batak.

    3. Kesimpulan yang ditarik dari keadaan samar-samar hanya menunjukkan tendensi yang membabi buta.

    Suka

  5. Bisa saja memang SSM XII adalah Islam ditilik dari:
    1. Pengkultusan orang di dalam Islam yang terkadang berlebihan (lihat imam bonjol, diponegoro, d.l.l.)
    2. Karena di Batak tidak ada istilah “satu raja”, sistem kerajaannya jelas sangat berbeda dengan sistem kerajaan dimanapun, jikalau dia disanjung kemungkinan memang dia disanjung karena status keagamaannya.
    3. Dari stempel yang berbaur dengan script arab (kenapa bukan batak murni) bisa menjelaskan dia bukan otentik batak asli, tetapi telah terpengaruh oleh theologi yang dia anut, mengingat sistem penanggalan di batak itu lengkap dan rumit.
    4. Jika SSM XII adalah islam, kenapa orang TAPSEL tidak “bangga” menjadi bagian dari batak itu sendiri yang konon dimaharajai oleh raja batak SISINGAMANGARAJA.

    jadi kembali ke awal, semua hanya hipotesa yang perlu digali, kesimpulan belum ada.

    point bisa ditarik

    Sisingamangaraja “mungkin” beragama Islam

    Suka

    • @Pargabus : wah bagus itu ….. tapi aku yakin dia memang seorang muslim……… kalau membaca buku TUANKU RAO…….bayangkan 26 tahun dia melawan penjajah Belanda dengan sebagian pengikutnya yang masih setia sehingga putri tersayang nya di tembak Belanda dengan cara licik dan tertembak pula la Dia……sementara sebagian rakyat nya tak mendukung perlawanan nya…….. malah bersenang – senang dan berkawan dengan penjajah dengan alasan macam – macam…. (begitu tulis Buku TUANKU RAO)……..

      Suka

  6. agama singamangaraja samar2
    sulit menentukan agama seseorang bila hanya ditentukan oleh identitas stempel.
    Tulisan di atas kayaknya ga bener2 ilmiah karena memojokan kekristenan dengan menulis :

    “Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya.”

    ditambahkan dengan catatan:

    “Sebaliknya tindakan penyebaran agama yang dilakukan Rijnsche Zending di Toba di sertai dengan serbuan militer Belanda.”

    kalo bener2 membaca sejarah, Zending lebih dulu masuk ke Tanah Batak ketimbang pasukan Belanda, bahkan sebelum pasukan Belanda masuk , sudah banyak orang yang memeluk agama Kristen seperti daerah Tarutung, dan Sipoholon. sepertinya penulis diatas lupa Pasukan Paderi mekmaskan ajaran ISLAM versi padri dengan kekerasan, tapi kenapa tidak ia tuli disana?

    kalo memang Sang raja memeluk agama islam, ada yang bisa memberitahu nama MUSLIM dari Sisingamangaraja XII? bukankah seseorang yang pindah menjadi muslim sebagian besar memiliki nama yang bernapaskan islami? lalu kenapa SM XII tidak memiliki nama muslim?

    namun pertanyaan diatas pasti langsung ada yang menjawab dengan bilang nama tidak mencerminkan seseorang itu beragama Islam apa tidak, tentu saya akan merespon , kenapa hanya dengan bukti stempel yang memakai tulisan Hijrah Nabi SM XII langsung bisa dibilang ia adalah seorang muslim?

    Buat saya penulisan Hijrah Nabi 1304 di stempel dengan huruf arab menunjukan bahwa huruf Arab pada saat itu merupakan bahasa internasional seperti bahasa inggris pada saat ini. stempel itu perlu untuk korespondesi dengan kerajaan2 tetangga yang muslim semua. saya rasa terbunuhnya SM X (kakek SM XII) oleh pasukan paderi cukup membuat keluarga SM XII (termasuk keluarga besarnya) untuk tidak menerima agama Islam. mereka tetap pada kepercayaan kuno mereka yaitu sipellebegu.

    Namun yang pasti apapun agama SM XII ia tetap seorang Pahlawan

    HORAS

    Suka

    • @BATAK BONJER : coba baca buku TUANKU RAO (Pongkinangolngolan) karangan Mangaraja Onggan Parlindungan paling tidak sedikit untuk menjawab keraguan keraguan anda….tetapi bagus lah itu nanti waktu yang akan membuktikan …… kebenaran sejarah….

      Suka

  7. Sisingamangaraja beragama Parmalim (Ugamo Malim) ataupun sebutan lain Parbaringin. Memang sama-sama tidak makan daging babi, tapi jelas : bukan seorang muslim. Susah masuk di akal karena Sisingamangaraja bermusuhan dengan Tuanku Rao yang muslim. Belanda sebagai penjajah tidak sama dengan para Missionaris yang notabene orang-orang Jerman. Missionaris tunduk kepada pemerintahan Sisingamangaraja, mereka melakukan pengobatan kepada rakyat yang sakit, mengajari rakyat bercocok-tanam, dan mengajar ilmu pengetahuan atas ijin dari Raja Sisingamangaraja XII. Missionaris bukan Penjajah. Mari kita bedakan Belanda – Jerman. Jauh perbedaannya. Masih lebih identik Toba -Tapsel. Taringotna marga aha do hamu amang Imbalo?

    Suka

  8. salam pembebasan!!!
    Horas!! salam utkmu penulis,tapi dirimu pande pandean,sisingamangaraja12 itu bukan islam’tapi beliau itu parmalim, dan sisingamangarajapun tidak mati kena tembak, kalian jangan pande pandean, itu pantang!! sesuatu yang tidak kita ketahui secara pasti jangan kita buat jadi steatment yang menyesatkan,karena bisa berakibat negatif bgi pemahaman generasi muda bangsa kita, khususnya generasi bangso BATAK! kalau dirimu penasaran’ hub aku, kita bisa buktikan..thanks GBU

    Suka

    • Ass.
      Horas! Saya pikir pak Oloan perlu membaca buku Perjuangan Sisingamangaraja XII yang ditulis Augustin Sibarani tentang kematian Raja yang kita hormati ini. Penulis buku itu adalah seseorang yang diperintahkan Presiden Soekarno untuk melukis wajah Sisingamangaraja XII. Gambar yang dapat kita saksikan saat ini merupakan hasil kerja kerasnya melalui kemiripan wajah keturunan dan keterangan saksi hidup seperti Raja Ompu Babiat Situmorang yang notabene adalah mantan panglima perang Raja Sisingamangaraja XII. Saya pikir Raja Besar ini bisa jadi seorang muslim disebabkan berbagai pengetahuan seperti politik, ekonomi dan militer yang dimilikinya berasal dari Aceh. Bahkan hampir semua rakyat Batak pada masa itu tidak mengetahui seperti apa sosok sisingamangaraja XII yang kelak akan menggantikan ayahnya. Saking lamanya ia menetap di Aceh.
      Jadi, wajarlah kiranya jika ajaran Islam mengalir dalam darahnya disebabkan guru-gurunya yang memang beragama Islam dan selalu mengajarkan jihad untuk melawan setiap kezaliman yang akan menghancurkan negeri ini.
      Biarlah ketidaksepakatan ini dijawab oleh waktu. Jika didunia ini kita tak menemukan jawabannya maka yakinlah bahwa jawaban itu akan kita terima diakhirat.
      Hormat saya pada penulis.
      Wassalam.

      Suka

      • mantab………… banyak lho orang asal bunyi……… gak punya data yang otentik….. beberapa hasil peninggalan yang ada menunjukkan Si Singamangaraja XII adalah Muslim.

        Banyak juga yang bilang Parmalim… Malim itu arti nya orang yang berilmu… dari bahasa arab…….. bukan ilmu dunia .. kalau ilmu dunia saja enggak disebut orang yang malim…..

        hayo …. bukti kan bukan … menurut anda saja….

        Suka

  9. TAK MUNGKIN SISINGAMANGARAJA MELAWAN BELANDA KALO DIA BUKAN ISLAM… APALAGI KITA TAHU MISI PENJAJAH DATANG KE NUSANTARA ADALAH 3G, GOLD, GLORY AND GOSPEL.. JADI GAK ADA ALASAN LAGI SISINGAMANGARAJA BUKAN ISLAM..

    Suka

  10. 1. SSM XII pernah belajar militer dan politik di Aceh dan sempat hampir membuat sekutu militer dengan Aceh.
    2. plakat stempel SSM XII bertulis huruf Batak dan huruf arab gundul yg menjelaskan teritorial kekuasaan SSM XII dan raja2 Batak lain. BUKAN menjelaskan agama islam yang sampai wafat pun beliau tidak pernah menyebutkan satu kata pun kalimat2 islam/arab.
    3. sampai wafat pun SSM XII adalah seorang batak parmalim yg tidak menganut agama islam atau kristen.

    buat mansur GOBLOK, kalau mau memanipulasi sejarah Batak sebaiknya kau muncul di forum terbuka.

    MANSUR INI BANGSA ORANG JAWA TERKUTUK….

    AHMAD MANSUR SURYA NEGARA INI ORANG SINTING ATAU MAU DIHUKUM MATI TENTARA GAJA DOMPAK ??

    Suka

  11. HIPOTESA MURAHAN!

    Suka

  12. agama sisingamangaraja adalah AGAMA DI ATAS SEGALA AGAMA. maka jalankanlah agamamu dengan baik dan lurus.yang berhuruf besar pernah diucapkan sisingamangarahja 12 (patuan bosar ompu pulo batu). kalau dia seperti raja islam, dia sudah mau ja…di sultan. tapi mungkin raja bakra itu tahu, legitimasi sultan itu hanya dari raja rum (sultan turki). kita tahu hanya dua sultan yang sah secara turkis di indonesia, yakni sultan aceh dan sultan banten. yang lain adalah sultan yang takluk kepada kolonialisme dan tipuan legitimasi waktu itu.

    Suka

  13. […] Si Singamangaraja XII; Gugur Sebagai Pahlawan Islam  kutipan dari Posted on Februari 20, 2009 by imbalo Tulisan ini di kutip dari MJ Institute | Education is Struggle Opini publik dewasa ini kurang menyadari bahwa Si Singamangaraja XII adalah seorang Muslim, yang di angkat sebagai Maharaja di negri Toba di kota Bakara pada 1304 Hijria. Sebagai seorang pejuang yang bertempur terus hingga akhir hayatnya ketika ditangkap dan di tembak oleh Belanda pada 17 Juni 1907. Untuk menghargai dan menghormati jasa yang telah di korbankan bedasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 217 tahun 1957, pemerintah telah mengangkat Si Singamangaraja XII sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Adapun yang di maksud dengan batasan Pahlawan Kemerdekaan Nasional adalah seorang yang masa hidupnya terdorong oleh rasa cinta tanah airnya dan sangat berjasa dalam memimpin suatu kegiatan yang teratur menentang penjajah di Indonesia melawan musuh dari luar negri, ataupun sangat berjasa baik dalam lapangan politik, ketatanegaraan, sosial ekonomi, kebudayaan maupun dalam lapangan ilmu pengetahuan yang erat hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan dan perkembangan Indonesia. Mungkin dasar kriteria semacam di atas, di tambah dengan adanya sistem penyusunan cerita Sejarah Nasional yang tidak menonjolkan tentang agama yang di peluknya, menyebabkan kita tidak menyadari bahwa Si Singamangaraja adalah pejuang Islam yang gugur sebagai syuhada pada tanggal 17 juni 1907. Silsilah Perlu pula kita ketahui bahwa nama Si Singamangaraja adalah nama dinasti dari keluarga “Sinambela”. Yang kita bicarakan di sini adalah keturunan yang ke-12. Adapun silsilahnya sebagai berikut: 1.  Raja Munghuntal     -Si Singamangaraja I 2.  Ompu Raja Tianaruan       -Si Singamangaraja II 3.  Raja Itubungna                          -Si Singamangaraja III 4.  Sori Mangaraja                          -Si Singamangaraja IV 5.  Pallongos                                  -Si Singamangaraja V 6.  Pangulbuk                                  -Si Singamangaraja VI 7.  Ompu Tuan Lumbut                   -Si Singamangaraja VII 8.  Ompu Sotaronggal                     -Si Singamangaraja VIII 9.  Ompu Sohalompoan                   -Si Singamangaraja IX 10. Ompu Tuan Nabolon                   -Si Singamangaraja X 11. Ompu Sohahunon                        -Si Singamangaraja XI 12. Patuan Besar Ompu Pulo Baru     -Si Singamangaraja XII […]

    Suka

  14. Sebelumnya, abah minta maaf kepada penulis artikel ini,abah lancang ikut menulis komentar yang hanya sekedar himbauan bagi yang seiman, marilah kita mendoakan bagi roh para pahlawan kita yaitu ( Opung panggilan hormat pada beliau) Si Singamangaraja, XII beserta anak2nya :Patuan Anggi,Patuan Nagari dan putri Lopian,yang semua gugur dalam pertempuran melawan penjajahan belanda thn 1907.Doa Secara Islami, Inalillahi wa ina illaihi rojiun. Semoga Roh Mereka berempat diterima oleh ALLAH SWT, diampuni segala dosanya selama hidupnya dan diterima amal ibadahnya.Himbauan ini berdasarkan keyakinan abah. bahwa keyakinan Opung semasa hidupnya adalah muslim sejati,ini semua adalah pengakuan almarhum OPUNG kepada abah,secara pribadi(bathiniah).Semua karena berdasarkan keyakinan abah kehadirat ALLAH SWT,dan semua adalh berkat RahmatNYA,serta Qodrat dan Irodat serta ilmunya ALLAH,semua bisa terjadi dalam pengalaman perjalanan spiritual abah, dalam thn 2011 ini.Naafkan abah harus menyampaikan semua ini,karena merupakan Amanah. Dosa bagi abah kalau amanah ini gak disampaikan pada saudara2 yang seiman.Terima kasih atas perhatian dan mohon maaf kalau tidak berkenan di hati anda. Wasalam .dan salam kenal abah ar4chie ato abah ari.- aki2.

    Suka

    • amien ya rabbal alamin…………..

      Suka

      • Asalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh. Bung Imbalo,,mudah2an anda tetap sehat dan fit, dalam menjalankan ibadah puasa ini.Kalau anda tidak berkeberatan ,bisa kontak langsung dengan anda gak via HP.? maksud abah ingin berkenalan/ silaturahim. ini no HP abah Flexi 021 33043224.abah Ari;Terima kasih atas perhatiannya..wasalam

        Suka

  15. Hehheh, bersaksi tentang agama masing-masing sih wajar saja. Tetapi jika membabi-buta menyatakan SS-XII beragama Islam hanya karena ciri-ciri bendera yang nampaknya islami, waah, kebablasan tuh!
    Sampai-sampai memfitnah, menyatakan bahwa ke-kristen-an (dengan ajaran KASIH, yang tiada duanya), dituding disebarkan melalui peperangan (padahal Tuanku Rao-lah yang mengislamkan Tapanuli Selatan dengan peperangan dan genocide!)
    Sampai sekarang tidak pernah orang Kristen melakukan peperangan “demi nama Yesus”, berbeda dari muslim yang melancarkan peperangan “Demi Allah,” juga memenggal kepada TKW, demi Alloh, seraya membakari gereja Kristen, juga demi Alloh!

    Sampai-sampai lupa kehadiran ‘paguyuban orang-orang sakti’ yang bebas dari agama, dan punya ikatan-batin kelompok yang kuat, melebihi ikatan-batin keagamaan!

    SS-XII adalah orang sakti. Tradisi kesaktian Wangsa SS, dari SS-I s.d. XIi adalah mereka harus kelahiran boru Situmorang, barulah anak mereka layak meneruskan ke-raja-an (Wangsa) SS.
    Kakek-kandung saya, Ompu Somba Debata Situmorang, juga sangat sakti (Contoh: dia mampu memasuki rumah orang lain tanpa membuka pintu/jendela; lolos udara, lolos pula tubuhnya!) Wajarlah SS-XII ‘naksir’ namboru-kandung saya, yang kemudian dilamar, lalu menjadi isteri SS-XII. (Paguyuban kesaktian!) Sayangnya. namboru saya itu tidak punya anak, sehingga berakhirlah Wangsa SS pada yang XII.
    Jadi, maaf, maaf, menganggap SS-XII sudah islam, agak terlalu islami. Halalkan saya segala macam spekulasi demi mengangkat kejayaan Islam.

    Kenyataan berbeda: orang Batak awalnya memeluk Hinduisme, pemakan babi. Sesudah menjadi Parmalim, sebagian kecil orang Batak (termasuk Wangsa SS) menjadi Parmalim, pantang babi.
    Maka jika SS-XII benar-benar muslim, tentu sebagian besar bangsa Batak -rakyatnya SS-XII pasti mengharamkan babi pula, di samping mereka yang Parmalim. Fakta: sampai sekarang, dari orang Batak-yang-mengharamkan babi, mayoritasnya adalah Parmalim, bukan muslim! Kecil sekali pengaruh ke-islam-an SS-XII (jika benar dia muslim) terhadap kelompok pemakan babi orang Batak.

    Kembalilah kepada pendekatan paguyuban kesaktian…
    Karena SS-IX (sakti dia) mati dibunuh oleh Tuanku Rao (Pongki Naingolngolan), karena kalah sakti, maka SS-X, XI dan XII mencari kesaktian yang dianggap lebih ampuh, mengejar kesaktian sampai ke ACEH, yang sudah Islam. Dari pewarisan kesaktian itulah ciri islami muncul pada bendera SS-XII, bukan dari iman islami, melainkan dari pendekatan perguruan-kesaktian belaka!

    Salam damai.

    Suka

  16. Menyingkap “Tabir Misteri” Sisingamangaraja XII

    KabarIndonesia – Profesor Uli Kozok mengatakan, Sisingamangaraja XII memiliki tiga jenis stempel berbeda yang diketahui dari cap yang dibubuhkan pada surat-suratnya yang ditujukan kepada pemerintah Belanda maupun zending Kristen I.L. Nomensen.
    Menurut Profesor dari University of Hawaii, Minoa, USA itu; stempel yang digunakan itu sama-sama berasal dari abad XIX dengan rentang waktu 10 sampai 20 tahun antara satu stempel dengan stempel lainnya.

    “Ini sekaligus membuktikan bahwa Sisingamangaraja XII telah melakukan tiga kali percobaan dalam pembuatan stempel untuk berhubungan dengan pihak lain. Stempel yang ketiga bentuknya lebih baik dan sempurna dari dua stempel sebelumnya,” katanya dalam ceramah ilmiah di Universitas Negeri Medan mengupas tentang misteri surat-surat Sisingamangaraja XII.
    Dikatakan lebih jauh, ada empat surat Sisingamangaraja XII yang saat ini sedang ditelitinya. Tiga surat ditujukan kepada zending Kristen I.L. Nomensen dan satu surat ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda.

    I.L. Nomensen sendiri sebenarnya sangat tidak suka terhadap Sisingamangaraja XII karena sangat menentang kehadirannya di Tanah Batak. Bahkan, I.L. Nomensen pernah mengatakan bahwa musuh abadi pemerintah Belanda dan zending Kristen adalah Sisingamngaraja XII. Nomensen pula yang memanggil tentara Belanda agar masuk ketanah Batak dengan menggunakan pasukan yang terdiri dari orang-orang Jawa, Manado dan Maluku.

    “Saat ini keempat surat-surat asli Sisingamangaraja XII tersebut masih tersimpan dengan cukup baik di Wuppertal Jerman,” katanya. Namun uniknya, kata dia, stempel dan surat-surat Sisingamangaraja XII tersebut bukan menggunakan aksara Batak asli. Melainkan sudah menggunakan campuran aksara Batak Mandailing Angkola, Arab Melayu dan huruf Kawi.

    Lebih lanjut ia mengatakan, Sisingamangaraja XII sendiri sebenarnya tidak mengenal huruf. Untuk itulah ia mempekerjakan dua juru tulis dalam persoalan surat-menyurat yakni Heman Silaban dan Manse Simorangkir.

    Kedua juru tulisnya tersebut merupakan alumni zending I.L. Nomensen yang kemudian berbelok arah memihak Sisingamangaraja karena tidak lulus dalam ujian untuk menjadi guru.
    Sementara sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed) DR Phill Ichwan Azhari, mengatakan; sedikitnya ada lima misteri yang masih perlu diteliti lebih jauh tentang Sisingamangraja XII. Yakni tentang hidupnya, surat-suratnya maupun agamanya.

    Bahkan tentang kematiannya juga masih menjadi misteri. Kalau benar Sisingamangaraja XII ditembak mati oleh serdadu Belanda yang bernama Christopel, kenapa dia tidak naik pangkat seperti layaknya pasukan-pasukan Belanda lainnya yang berhasil mematahkan perlawanan-perlawanan para pahlawan lain dari daerah lain.

    “Begitu juga dengan surat-suratnya yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Tetapi kita tidak mengetahui apa sebenarnya isinya, ” katanya. Beragama Batak Asli
    Profesor Uli Kozok menambahkan, Raja Sisingamangaraja XII bukan beragama Islam, Kristen maupun Parmalin. Melainkan beragama Batak asli.

    “Selama ini banyak kontroversi yang terjadi di tengah masyarakat tentang agama yang dianut Sisingamangaraja XII. Ada yang mengatakan dia beragama Kristen, Islam. Bahkan tidak sedikit yang menyebut beragama Parmalin yang menurut sebagian orang merupakan agama aslinya orang Batak,” katanya.

    Ahli sejarah berkebangsaan Jerman itu, menyebutkan, Parmalin bukanlah agama asli orang Batak. Parmalin merupakan agama kombinasi atau perpaduan dari agama Islam dan Kristen.
    Ketika agama Parmalin berkembang di Tanah Batak, Sisingamangaraja XII sendiri sudah berada di Dairi dalam pengungsian menghindari serbuan-serbuan dari tentara Belanda. “Jadi agama Sisingamangaraja XII adalah Batak asli yang usianya jauh lebih tua dari agama Parmalin,” katanya.

    Mengenai bukti-bukti otentik yang ditunjukkan dalam stempel Sisingamangaraja XII yang menggunakan aksara campuran Batak Mandailing Angkola, Arab Melayu dan Kawi juga tidak membuktikan bahwa ia telah memeluk agama Islam.

    Sebagai seorang yang mengklaim dirinya penguasa di Tanah Batak, sudah selayaknya Sisingamangaraja XII memiliki sebuah stempel sebagai lambang kebesarannya dan wajar saja jika dia menggunakan aksara Arab Melayu dalam stempelnya kerena saat itu Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa pengantar di Sumatera.

    Kisah Sisingamangaraja juga lebih banyak diketahui oleh cucunya dan keturunan sendiri, mereka tidak mengatakan bahwa Sisisngamangaraja itu agama muslim.. Kenapa anda berani?

    Suka

    • Jangan kan Sisingamangaraja XII. lha keaslian agama kristen saja sekarang sudah di gugat dengan ditemukannya injil Barnabas???? ………….. yang jelas Sisingamangaraja XII paling benci dengan penjajah Belanda… tentu beliau juga paling benci dengan semua yang berbau Belanda.. “termasuk agamanya”… anehnya sebagian rakyat nya malah ikut dengan Belanda ..mengapa ya?????mereka tega menghianati dan meninggalkan Rajanya..???? Berperang sendiri masuk keluar hutan ….ada apa????

      Suka

      • Itu pengaruh dari gemar mengkonsumsi daging babi, sehingga tidak peduli dgn Rajanya yg berjuang berperang melawan Kafir Belanda penjajah bangsa ini, penjajah tanah Batak.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: