SURAT TERBUKA UNTUK PM MALAYSIA TUN NAJIB.


 

ASAP MENJADI BERKAH BAGI PEKEBUN SAWIT DI SEMENANJUNG?.

asap1Asap….tahukah Tuan bahwa asap sangat berguna bagi kesuburan buah sawit?…sejak asap “melanda” sebagian wilayah semenanjung melaya.

Malaysia menjadi pengekspor minyak sawit terbesar dunia, asap sumatera tak sampai ke utara semenanjung, bunga sawit, tak sebanyak menjadi buah sawit yang di selatan, misal nya negeri johor . Di utara malaysia, seperti di Kelantan dan Perlis yang berbatasan dengan Thailand (Narathiwat, Setun) buah sawit tidak sebanyak di negeri yang diasapi. Apalagi di daerah Burma, misal Kaw Thaung perkebunan sawit luas di selatan Myanmar yang berbatasan dengan Thailand Ranong dan laut andaman.

Oleh sebab itu selayaknya pemerintah Malaysia memberikan konpensasi kepada korban asap, karena asap ini telah menaikkan hasil buah sawit perkebunan di seluruh semenanjung.
Saya pernah lalu dari mulai Sabah hingga ke Serawak, buah sawit tidak sama hasilnya dengan di semenanjung.

Saya baru dari Myanmar, lalu dari Thailand selatan, terus ke Rantau Panjang dan berakhir di Johor “Benihnya sama, ini yang bagi malaysia, tetapi hasilnya tak sama” ujar penduduk Myanmar saat kami lalu di perkebunan sawit , hanya terlihat beberapa tandan bunga yang tak berbuah.
Pak Najib, “mengasapi” pohon palm termasuk menghilangkan hama.

Pekebun sawit di malaysia sangat beruntung mendapatkan asap kiriman dari sumatera, angin yang meniup asap itu membuat berkah kepada negeri anda, terutama pekebun sawit itu.

Dalam udara normal oksigen (O2) sekitar 16 % , asap asap “kiriman” ini tidak sampai membunuh manusia, karena masih dalam batas toleransi.

Tetapi cukup untuk “membunuh” kutu hama yang ada di tandan sawit perkebunan pekebun di semenanjung.

Saya tidak hendak berandai andai, apakah memang ada kesengajaan pembakaran, untuk menghasilkan asap percuma….??
Saya melihat berhektar hektar pohon sawit tidak produktif di utara yang tidak kena asap.

Ini hasil dari pengamatan saya, bahwa kebun kelapa sawit yang terkena asap akan berbuah lebih banyak dari yang tidak terkena asap.

Data itu sangat mudah di dapat oleh anda, bandingkan satu hektar sawit di daerah negeri Johor, dengan di Kelantan sana.

Pengalaman Dalam Ramadhan dengan Makanan Berbuka Puasa


resto halalCatatan Kecil: Imbalo Iman Sakti

Alangkah sayangnya puasa kita sejak fajar menyingsing, tiba petang saat berbuka, ternyata kita mengkonsumsi makanan yang tidak halal.

BATAM– Jamak terlihat jauh hari sebelum Ramadhan tiba, spanduk menyambut bulan suci ini terbentang disepanjang jalan terutama di persimpangan. Ada dari tokoh politik yang sedang “kampanye” ada pula yang dari hotel dan restoran. Penawaran berbuka bersama, dengan special harga dan berbagai menu.
Demikian juga di media elektronik dan media cetak, menu berbuka ini jor joran ditawarkan.
Dibeberapa media cetak yang terbit di Batam, ada iklan yang memuat menu makanan di restoran, dengan menyediakan ta’jil free dengan syarat berbuka untuk minimal 10 orang perpaket menca pai jutaan ribu rupiah.
Buletin Jumat (BJ) melihat iklan Restoran hotel itu, tidak semua mempunyai sertifikat halal. Mala ada yang beraksara China, hanya mencantumkan tulisan NO PORK NO LARD.
Dalam Islam makanan itu men jadi tidak halal yang tadinya halal, bukan hanya tercampur unsur babi saja. Khamar yang dicampur kan dalam memasak membuat makanan itu menjadi haram.
Acap para koki di restoran itu yang nota bene orang Islam terkadang kurang menyadarinya. “Ini makanan laut ya pasti halallah” demikian ucap mereka .
Mereka dalam menghilangkan amis, membersihkan dan mengem pukkan makanan itu dengan sejenis khamar. Beberapa restoran di Jakarta, memasak daging untuk dijadikan rendang misalnya yang tadinya delapan jam dengan di rendam terlebih dahulu dengan khamar sudah empuk dan hanya dimasak 4 jam saja. Demikian pula makanan laut, menghilangkan amis di rendam khamar.
Pastikan bahwa makanan anda yang menyala-nyala apinya diatas wajan tempat memasak bukan dicampur dengan Ang Ciu sejenis khamar yang acap di tambahkan saat memasak sehingga menimbul kan aroma khas yang mengun dang selera. Ang Ciu itu haram. Makanan yang dibubuhi Ang Ciau menjadi haram. Walaupun itu kepeiting , ikan dan sebagainya.
Adalagi yang membuat maka nan itu menjadi haram, tempat masak pantry yang menjadi satu memasak makanan haram dengan makanan yang halal. Tempat penyimpanan antara daging sapi, ayam dan daging babi. Hal ini acap terjadi dicampur didalam kulkas yang sama. Disebuah swalayan di Batam BJ pernah menemukan ketiga daging terse but dipajang berbarengan, dengan pelayan yang sama, alat potong pisau yang sama.
Demikian pula dengan minuman, tidak semua sari minuman yang di jajakan mereka mempunyai sertifi kat halal, alasannya syrup – syrup itu tidak dijual dan diproduksi dalam negeri. Bistro-Bistro acap menjual minuman berkhas aroma buah buahan luar negeri tidak di label halal. Dalam temuan BJ di mall di Nagoya sebuah Bistro yang telah mendapatkan sertifikat halal pun masih menyediakan syrup buatan luar negeri ini yang tidak berlabel halal.
Hal ini terjadi mungkin ketidak tahuan sang pelayan Bistro, karena kebanyakan pemilik Bistro itu bukan orang Muslim. Dan bisa jadi pengawasan dari lembaga yang berwenang mengeluarkan sertifi kat halal itu tidak optimal.
Jadi kita sebagai konsumen harus peduli, tanyakan kepada pelayan nya atau pengelolanya.
Konsumen muslim pun diharap kan jangan mau memebeli, meng konsumsi makanan ataupun minuman di tempat yang tidak bersertifikat halal. Hindari semak simal mungkin, hal ini acap BJ alami saat para pejabat membuat acara di hotel rekan bisnis dan kerbata mengajak berbuka di resto hotel yang tidak jelas kehalalannya. katakan tidak, atau anjurkan ketempat yang jelas haram halalnya.
Untuk diketahu bahwa beberapa toko roti besar dan terkenal di Batam hingga kehari ini belum memiliki sertifikat halal. Mereka dengan enteng saja menjawab tanpa sertifikat itupun dagangan nya laris manis. So pasti pengkon sumsinya adalah orang Islam.
Selama kita masih tak peduli dengan hal hal yang haram dan halal ini dalam kehidupan kita sehari-hari selama itulah pula para pedagang tidak memperdulian bahwa dagangan yang mereka jual bercampur dengan yang haram.
Jadi kembali lagi kepada kita sebagai umat Islam momentum dalam bulan Ramadhan ini kita mulai dan diri kita dan keluarga kita sendiri peduli dengan makanan dan minuman yang kita konsumsi.
Alangkah sayangnya puasa kita sejak fajar menyingsing tiba petang saat berbuka, ternyata kita mengkonsumsi makanan yang tidak halal.
Wallahu a’lam (***)

Melayu Sri Lanka


melayu srl2SRI LANKA- City Motel di jalan Old Moor tempat kami menginap, tidak jauh dari Masjid Merah. Dari selatan masjid jalan satu arah ke barat, jadi berjalan dulu ke belakang masjid, baru naik bajaj seharga 80 rsl. Lurus saja jalannya sekitar satu kilometer jaraknya.
Moor, adalah sebutan penjajah portugis, menyebut muslim keturunan Arab di Sri Lanka, hal ini juga mereka sebut di Piliphina, Moor atau Moro, pejuang Islam yang hingga kini minta kemerdekaan di Mindanao sana.
25 $ US semalam untuk dua orang tanpa ac, tanpa sarapan pagi, kamar mandi pun bersama, tarip penginapan yang cukup mahal bila dibandingkan dengan Singapura.
Kota Colombo yang terletak di tepi pantai dan pelabuhannya sangat sibuk, bangunan rukonya model lama, hampir semuanya pedagang muslim. Ekspor impor teh dan hasil bumi lainnya. Buruh berkain sarung mendominasi. Bekas ludah pemakan sirih berserakan dimana-mana. Agak kotor, maklum pasar
Orang sana menyebut Colombo, terdengar seperti bunyi Kalambu. Dan agaknya karena banyak sekali nyamuk, rumah yang tak berpendingin dan tidak tertutup rapat, semuanya dilengkapi dengan kelambu, termasuklah di tempat kami menginap.
Sailan, Ceylon dan kini Kalambu (Colombo), mung kin agaknya me mang melayu orang-orang Sri Lan ka yang mempo pulerkannya. Dan hal ini bisa saja ka rena lebih 80 per sen orang melayu Sri Lanka ada di Colombo.
Dekat tempat kami menginap ja rak 100 meter ada sebuah Masjid besar Grand Mas jid namanya, agak keatas bukit dari situ terlihat jelas Masjid Merah, sepanjang jalan Old Moor itupun terdapat beberapa buah masjid kecil kecil.
Sri Lanka pernah diperintah seorang raja muslim. Sekitar 2 jam perjalanan ke selatan dari Colombo ada satu pro vinsi penghasil teh terbesar di Sri Lanka namanya Kandy, nah lagi lagi orang sana menyebutnya Kendi, tentulah orang melayu tahu apa itu kendi, tempayan tempat air.
Kota berhawa sejuk di pegunungan ini menjadi tujuan para turis, kami me nginap semalam tarip hotelnya lebih mahal lagi 8000 rsl semalam. Hotel tua mungkin sudah ratusan tahun terlihat dari lift nya, lift hotel ini mengingatkan lift yang ada di sebuah pertokoan tua di Manila. Banyak bangunan tua di Kandy, sebuah hotel tua Hotel Islam namanya terletak persisi di tengah kota Kandy.
Kota Kandy mirip Bandung, dikelilingi pegunungan. Danaunya yang indah berair jernih, danau itu dikelilingi bangunan bersejarah masa penjajahan dulu.
Sri Lanka luasnya sekitar 11 kali pulau Bali, sungai berdinding terjal dan curam mengalir dari perbukitan membelah dua Sri Lanka sampai ke Jaffna diutara. Rencana akan dibuat jembatan dari jaffna ke India. Wah… kalau ini terlaksana akses ke Sri Lanka lebih mudah lagi.
Di Kandy sama dengan kota lain di Sri Lanka banyak burung gagak berterbangan, kotoran burung gagak berwarna putih mengotori, patung-patung hitam yang terdapat di ta man, patung budha pun tak terkecu ali, burung-burung itu bertengger dia tas kepala patung dan buang kotoran nya disitu. Untuk menghindari koto ran burung itu banyak patung budha yang berdiri di sepanjang jalan dibuat kan dan dipasangi rumah dan kotak kaca. Kalau kita berjalan jalan diba wah pepohonan yang ada di pinggir jalan, siaplah sesekali diberaki burung yang bertengger didahannya.
Tak cukup rasanya sehari di Kan dy, tengah hari kami tinggalkan Kan dy berangkat menuju Tissama harama, kota di tenggara yang terle tak di pinggir laut berbatasan dengan Maladewa dan Aceh Indonesia.
Berjam-jam melewati kebun teh Sri Lanka, berkelok kelok diudara yang sejuk diketinggian 2000 an meter, terbentang luas tanaman palawija seperti di Brastagi, kubis, wortel, buncis kentang tanaman khas pegunungan. Banyak sayuran tetapi hampir semua rumah makan yang kami singgahi tidak menyajikan maka nan yang mengandung sayuran. Semua makanan menu India, kucoba sekali memesan sop sayuran, sebagai mana yang tertera dalam menu, sop sayuran itu kuanya kental mungkin di campur susu.
Ada menu kangkung, dan mereka menamakan sayuran itu kangkung tumis, meskipun tidak mirip dengan tumis kangkung di tempat kita luma yanlah. Agak kangkung ini dikenal, karena tidak dipungkiri dari puluhan ribu melayu Sri Lanka itu, sebagian berasal dari Jawa. Sewaktu Belanda menjajah Indonesia dan Sri Lanka, dulu, ribuan tentara dari Jawa dibawa kesana. Termasuklah asam jawa turut serta dibawa? Kalau kita mengunjungi museum Sri Lanka, terlihat tahun kedatangan VOC di negeri itu.
Hukum DM dan MD
Bahasa melayu Sri Lanka, pun bermacam-macam, terkadang ada kata-kata dari Kelantan Utara Malaysia (Patani Thailand), ada dari Jawa, dan terkadang terdengar seperti dari Bugis, seperti menyebut hutan, jadi hutang, ikan jadi ikang.
“Saya Kakek mari datang Sawa ngan” ujar Azzor pemuda yang berte mu di kantor Coslam. Coslam adalah Konfrensi Melayu Sri Lanka. Persa tuan ini setiap tahun memperingati Hari Berbahasa Melayu di Sri Lanka.
Ahmed Azzor, putra presiden per satuan Coslam yang kuliah di Malaysi itu menulis dalam watsapku : “Saya bagi tahu informasi dari dapat hari itu kepada semua Coslam. Kalau ada apa2 kami contact engkau ok”
Ini sudah lumayan bagus karena tiga tahun kuliah di Malaysia, semen tara tak banyak mereka yang bisa berbahasa melayu itu dapat menulis kan apa yang diucapkannya.
Bahasa dan tulisan mereka sangat dipengaruhi Inggris yang terakhir menjajah lebih dari seratus lima puluh tahun hingga Sri Lanka merdeka, jadi hukum Diterangkan Menerangkan (DM) dan Menerangkan Diterangkan (MD), terasa bedanya disana kalau diterapkan dengan bahasa melayu Indonesia, contoh Daun Teh, disana namanya Teh Daun, begitu juga dengan Daun Pisang menjadi Pisang Daun. Itu sebab Azoor menulis kepada saya “Saya Kakek mari datang”, yang maksudnya Kakek Saya datang kemari.
Ada beberapa kota yang kami lalui setelah Kandy, jalanan mulai menurun, supir minibus yang kami sewa, menerang kan nama-nama tempat dan kami mampir dibeberapa outlet penjualan teh.
Memang lebih bagus kalau kita berpergian 8-10 orang sewa minibus saja, lebih murah dan bisa singgah dimana saja.
Malam itupun kami menginap di motel yang terletak di pinggir laut, belum lagi sampai di Tissamaharama. motel ini semalam sewanya 2500 srl, ada kelambu juga. Ciri khasnya Sri Lanka ya kelambu.
Sri Lanka dikelilingi laut, laut le pas, sepanjang pantai pulau itu men jadi tempat wisata yang menarik. Deburan ombak samudera Hindia membuat peminat oleh raga selancar ramai datang kesana.
Kami susuri bibir pantai menuju ke kampung Tissamaharama, bersama kami ada seorang anggota dari Coslam Colombo yang menema ni sepanjang perjalanan. Kampung Tissamaharama ini saat stunami dulu melanda, puluhan ribu umat islam terkorban. Sebagian yang selamat di pindahkan oleh pemerintah Sri Lanka ke kampung lain. Sebagian yang terselamat masih tinggal disana.
Di Tissamaharam ini ada sebuah sekolah yang mengajarkan bahasa melayu, guru-gurunya dapat berba hasa melayu, bahasa melayu ala Sri Lanka, banyak juga kosakata yang tak dapat kumengerti.
Banyak yang kami perbincang kan, dalam pertemuan itu, antara lain soal kamus bahasa melayu. Bahasa melayu yang mana?, Indonesia, Malaysia, apakah Brunei yang baru saja membuat Kamus Besar Bahasa Brunei?.
Hal itulah yang kukemukan pada saat pertemuan di kantor Coslam di Colombo, diminta memberikan sambutan tentang melayu di Asia Tenggara, kebetulan negara – negara Asean semua sudah kukunjungi, tidak kurang 300 juta orang bisa bertutur bahasa melayu ala tempat tinggal mereka dan sangat dipengaruhi dialek setempat.
Di Thailand, tidak di selatan saja, sam pai ke utara orang dapat bertutur bahasa melayu, demikian pula di Laos, di Burma, di Vietnam, Kamboja, meski tak banyak di Piliphina pun orang bertutur bahasa melayu. Apalagi Singapura dan Malaysia.
Bisa saja seperti di Brunei, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menja di rujukan hampir seratus persent kosa kata yang ada dalam buku itu diadop oleh Kamus Bahasa Brunei. Tak salah bila Bahasa Melayu Sri lanka, tetap bahasa melayu sri lanka, dan KBBI bisa jadi rujukan mereka untuk menyusun Kamus Bahasa Melayu SriLanka. Rencana mereka akan menyusun kamus bahasa melayu sri lanka. (***)

Islam di Colombo Sri Lanka


Catatan Perjalanan dari Sri Lanka

melayu sri lanka

Konfrensi Melayu Sri Lanka Coslam, bersama TB Haji Azoor dan Prof Seeni

melayu srl1

Keluarga Melayu Sri Lanka, dari nenek dan cucu….

Sri Lanka-Setelah shalat di masjid merah, kami menuju hotel yang terletak di jalan Old Moor. Kubaca tentang Negara Srilangka yang terletak di selat India, tepatnya di bagian tenggara anak benua India. Luas negara ini 65 km2 dengan 9 propinsi, Colombo sebagai ibu kotanya.
Penduduk negara ini berjumlah sekitar 20an juta jiwa dari berbagai etnis. Pemeluk agama Budha mencapai 69 % dari penduduk, suku Tamil 18 % dan kaum Muslimin 3 %. Data ini sebenarnya versi pemerintah, dari pengamatan penulis, umat Islam disanah lebih dari itu.
Negara ini terkenal akan perkebunan teh dengan mutu tinggi yang membuat beberapa perusahaan perdagangan kaya. Di samping itu, negara ini juga terlenal dengan krajinan batu mulia. Perkebunan teh ini berada di provinsi Kandy orang disana terdengar mengucapkannya “Kendi”  wadah tempat air bahasa jawa juga kendi.  Nama lain Srilangka adalah Sailan, Ceylon orang Inggris menyebutnya.
Keindahan dan kesuburan tanah Srilangka membuat negara-negara penjajah tertarik ingin menguasainya. Selama tahun 1505-1658 negara ini dijajah oleh Portugal, 1658-1796 oleh Belanda, dan pada tahun 1796 Inggris menjajah negara ini kurang lebih selama 150 tahun sampai akhirnya negara ini merdeka pada tahun 1948. Penguasan penjajah ini terlihat dalam musium Nasional Sri Lanka. Sedikit batu bertulis yang menyatakan negeri yang dikeliling laut itu pernah didatangi Kafilah Islam.
Penyebaran Agama Islam
Padahal Islam telah masuk ke negara ini pada masa kekhalifahan Umar ibn Khattab abad ke-8 masehi. Ketika itu penduduk Sailan, nama lain Srilangka, mendengar tentang adanya agama Islam, lalu mereka mengirim utusan ke khalifah Umar dan akhirnya mereka masuk Islam. Jadi jauh sebelum penja jah itu datang. Mes kipun Islam di Sri Lanka merupakan agama Islam yang dipraktikkan oleh sekelompok minori tas dari populasi penduduk Sri Lanka.
Di Colombo saja berdiri ratusan mas jid, yang setiap jumatnya ramai dihadiri umat Islam. Termasuklah masjid merah yang terkenal itu. Kalau kita tanya, jamaah menyatakan di Colombo lebih 70 persen umat Islamnya. Satu dari masjid itu bernama masjid Java. dulu disitu terdapat perkampungan asal Jawa. Perkampungan ini sudah tidak ada lagi, hanya tinggal sebuah masjid tanpa penghuni. Keliling bangunan masjid yang masih terawat itu dipagari seng untuk pembangunan pusat perbelanjaan mewah.
sri lanka 4Komunitas muslim dibagi menjadi tiga kelompok etnis utama yaitu: Sri Lanka Moors, muslim India, dan Melayu yang masing-masing dengan sejarah dan tradisi berbeda. Sikap di antara mayoritas orang di Sri Lanka adalah dengan menggunakan istilah “muslim” sebagai suatu kesatuan kelompok etnis tanpa membedakan daerah asalnya.
Warna hijau pada salah bagian bende ra Sri Lanka mengartikan negara tersebut terdiri dari muslim Sri Lanka
Etnis Moor Sri Lanka merupakan etnis muslim terbesar sekitar 92% dari keseluruhan muslim di sana, disusul oleh etnis Melayu sekitar 5% dan etnis India. Masyarakat dan pemerintah, menyebut semua etnis muslim tersebut dalam satu kesatuan sebagai “etnis muslim” secara khusus ditujukan kepa da muslim Moor Sri Lanka. Yang lebih menarik adalah etnis Shinhala yang beragam Islam pun turut disebut sebagai “Etnis Muslim”.
Tahun 1980 pemerintah Sri Lanka membentuk Departemen Urusan Agama dan Budaya Islam, khusus menangani kepentingan muslim Sri Lanka, juga merupakan sikap tegas pemerintah Sri Lanka terhadap usaha Etnis Tamil yang berupaya menjadi kan muslim Sri Lanka sebagai bagian dari Etnis Tamil. Pemerintah Sri Lan ka yang dikuasai oleh Etnis Shinhala menentang usaha tersebut dan tetap menjadikan umat Islam di sana seba gai ‘etnis muslim’ dengan identitas nya sendiri. Selain muslim Suni (mazhaf Syafi’I dan Hanafi) serta komunitas kecil Shiah, Komunitas Ahmadiyah di Sri Lanka sudah berdiri sejak tahun 1915, namun muslim Sri Lanka menganggap Ahmadiyah bukan bagian dari Islam.
Saat ini ada sekitar 5000 masjid di Sri Lanka yang senantiasa berkoordi nasi dengan Departemen urusan agama dan Budaya Islam Sri Lanka. Selain masjid, ada sekitar 749 sekolah Islam dan 205 madrasah di Sri Lanka yang mengajarkan pendidikan Islam, salah satu sekolah Islam ternama di Sri Lanka adalah Zahira College di Colombo. Zahira College merupakan sekolah Islam pertama di Sri Lanka, dibangun pada tahun 1892 oleh tokoh muslim Sri Lanka I. L. M. Abdul Aziz dan Arasi Marikar Wapchie Marikar dengan bantuan dana dari Ahmed Orabi Pasha. Awalnya sekolah ini merupakan Madrasah bernama Al Madrasathul Zahira dan kini menjadi sekolah Islam terbesar dengan siswanya mencapai 4000 orang dan merupakan salah satu sekolah paling bergengsi di Sri Lanka. Di dalam kompleks sekolah ini terdapat mas jid tertua di Sri Lanka, yang masih eksis hingga kini. muslim Sri Lanka juga memiliki universitas Islam di Beruwala (Jamiya Naleemiya).
Para pedagang muslim dari jajirah Arab terus berdatangan dan menyebar, sehingga perdagangan mereka bersa ma-sama dengan penduduk Sailan mencapai kejayaan dan posisi penting di negara tersebut sampai akhir abad ke 15.
Kemudian kaum muslimin dilanda musibah besar dengan berdatangannya kaum penjajah. Keadaan mereka berba lik 180 derajat dan mereka mengalami berbagai macam penderitaan. Penjajah Portugal melakukan peindasan dan pe ngusiran terhadap mereka, bahkan beri bu-ribu orang telah dibunuh, karena mereka mengadakan perlawanan dalam rangka mempertahankan Sailan. Hal ini persis dialamai muslim di Manila.
Orang-orang Portugal mengusir kaum muslimin dari ibu kota, meng hambat gerak-gerik mereka dan me mecat mereka dari pekerjaan, bahkan sebagian dari mereka ada yang dibakar hidup-hidup. Orang-orang Portugal menutup sekolah-sekolah kaum muslimin dan mulai melancar kan gerakan kristenisasi di berbagai pelosok negeri.
Lalu datang masa penjajahan belanda yang memerintah negri ini dengan kekerasan, membuat undang-undang yang melarang kaum mus limin melakukan kegiatan ibadah, menindas serta memaksa mereka membayar pajak kematian; yaitu bahwa setiap orang harus membayar pajak sebagai jaminan perlindungan kehidupan mereka, merampas harta benda mereka, dan melarang mereka melakukan aktifitas perdangan atau berhubungan dengan para pedagang muslim lainnya.
Dan terakhir datang penjajah inggris yang melakukan siasat adu domba dan selalu kaum muslimin menjadi korban pembodohan dan penindasan.
Penulis berkesempatan bertemu dengan komunitas muslim yang tergabung dalam Coslam, mereka baru saja mengadakan konfrensi yang ke-9. Kami diajak mengunjungi komunitas melayu lainnya, sampai ke Tissamaharam. (bersambung)

Shalat Jumat di Masjid Merah Colombo Sri Lanka


SONY DSCCatatan Perjalanan dari Sri Lanka

Colombo-Kesempatan mengunjungi Colombo Sri Lanka, Buletin Jumat (BJ) sengaja shalat Jumat di Masjid Merah, berangkat dari Batam melalui Kuala Lumpur dengan penerbangan murah Air Asia. Sri Lanka bertetangga dengan India dan di kelilingi oleh Lautan Hindia, sampai ke Aceh Indonesia.
Kamis (9/4), dari pelabuhan ferry Batam Center tiba di Stulang Laut Johor Bahru (JB), hari sudah menjelang magrib, kami bersama Azhari dijemput dan langsung diantar Sabil ke stasiun Bus di Batu Pahat.
Sekarang ada Shutle Bus langsung ke KLIA Kuala Lumpur dengan harga RM 50 perorang. Selain Batu Pahat, Bus ini juga menyinggahi Muar. Lumayan mu rah, bila selama ini kita hendak ke KLIA, harus melalui KL Central baik itu dengan Bus atau pun naik kereta api, dengan Bus ini lebih hemat sekitar RM. 30
Sengaja naik Bus malam dari JB, agar tiba di KLIA menjelang pagi, sementara penerbangan kami ke Colombo sekitar pukul 09.30 waktu setempat.
Punyalah waktu istirahat sebentar dan tidak tergesa-gesa, soalnya lumayan jauh antara tempat pemeriksaan imigrasi dengan terminal keberangkatan penum pang berharga murah yang baru di operasikan oleh Air Asia di Sepang Kuala Lumpur ini.
Mudahnya lagi semua tiket pesawat dan Bus kami beli melalui online. Karena memang tidak punya bagasi, chek in, dan semuanya berjalan lancar hingga tiba di lapangan terbang Bandaranaike di Colombo.
WNI ke Sri Lanka dapat kemudahan dengan Visa on Arraival (VOA) sebesar 35 $ US untuk sekali masuk selama sebulan, dibayar langsung di konter imigrasi. Dan dapat sebuah kartu perdana gratis dari petugas imigrasi Colombo.
Suhu udara 31 derajat celsius terasa menyengat dan membuat berkeringat. Hari sudah pukul 11.00 ws (Sri Lanka), saat kami keluar menunggu taksi. Berangkat pukul 09.30 dari Malasysia tiba di Sri Lanka pukul 10.40 ws. kalau hitungan jam hanya satu jam saja, padahal penerbangan dari KL ke Colombo lebih dari 3 jam. Iya, selisih waktu antara kedua kota itu sekitar 3 jam. Itulah sebab kami berangkat dari KL hari Jumat (10/4) karena ingin shalat jumat di Colombo di Masjid Merah yang terkenal itu masih bisa terkejar.
Masjid Jamik Ul-Alfar.
Naik taksi dari Bandara ke kota Colombo, lokasi masjid merah atau masjid jamik Ul-Alfar sebenarnya tidak jauh, sekitar 23 kilometer, tarif resmi taksi bandara 3.870 rupe sri lanka (RSL), kalau mau di konversi dengan mata uang rupiah Indonesia tinggal nambah angka nol dua buah dibelakang.
Keluar lokasi bandara yang tidak seberapa besar itu, jalan kenderaan mulai merayap, macet, supir taksi yang membawa kami menyarankan agar melalui tol saja, minta tambahan 600 RSL lagi-lagi setara dengan 60.000 ribu rupiah. Semula kami keberatan karena tadinya teman yang memesan mengata kan sudah termasuk biaya lainnya.
Kenderaan serasa tak beranjak karena macet hari pula sudah menjelang pukul 12.00 terpaksalah kami meng-iyakan masuk tol. Dan ternyata 600 RSL itu hanya dari pintu tol kedua menuju pintu ketiga sekitar 10 kilometer saja. Dan keluar tol macet lagi. “Alamak alamat tak sempat shalat jumat.” pikirku
Dalam keadaan macet itu terlihat dari jauh puncak menara masjid merah khas batu bata seperti kue lapis yang disusun. BJ berpikir kalau masih menunggu di dalam taksi, dan macet, enggak bakalan 30 menit lagi sampai disana.
Kami turun disekitar patung budha yang besar, persis ditengah pusat pasar yang sangat ramai sekali. Keluar taksi udara panas langsung menyengat, ditimpali bau khas pasar dan bau pesing . Jalanan yang kami lalui menuju lokasi masjid itu dipenuhi kuli panggul barang dari truk yang mengunggah dan menurun kan muatannya.
Sampai jua kami di masjid bersejarah yang selesai dibangun tahun 1909 terletak di jalan palang kedua di Pettah, memang dekat dengan pelabuhan.
Akh senang sekali rasanya hati, khatib sudah membacakan khotbah nya, orang-orng masih antri mengam bil wuduk. Masjid yang menjadi tujuan populer para wisatawan ini, memuat lebih 5000 orang, kini ditingkatkan lagi menjadi tujuh lantai penuh sesak jamaahnya saat kami tiba, pintu utara ditutup sedang di renovasi dari pintu barat pun sedang direnovasi .
Masjid salah satu yang tertua di Colombo ini dibangun komunitas Muslim Pettah untuk melakukan shalat lima waktu dan juga Jumat dan atas inisiatif para pedagang Muslim India .
Keberadaan bangunan masjid ini dirancang oleh HL Saibo Lebbe. Seluruh dana pembangunan masjid ini ditanggung oleh komunitas muslim Pettah saat itu. Pengaruh arsitektur India cukup kentara pada masjid ini. Sentuhan kebesaran masjid masjid dinasti Mughal dan bangunan bangunan kastil Inggris cukup terasa meski balutan warna merah dan putih nya yang khas itu menjadikan masjid ini begitu istimewa dan tampil beda.
Daerah Pettah tempat masjid ini berdiri merupakan cikal bakal kota Colombo bermula, dan daerah ini merupakan daerah berpenduduk mayoritas kaum muslimin.

masjid srl1
Masjid ini begitu terkenal di kota Colombo hingga ke mancanegara sampai sampai disebut sebagai landmark nya kota Colombo sejak selesai dibangun tahun 1909 hingga kini. Masjid tersebut terkenal juga dengan nama masjid Pettah karena berada di daerah Pettah. Etnis Shinhala yang merupakan etnis terbesar di Sri Lanka menyebutnya Rathu Palliya, Etnis Tamil etnis terbesar kedua di Sri Lanka menyebutnya dengan nama Samman Jottu Palli, dalam bahasa Inggris disebut dengan nama Red Masjid, Nama resmi nya adalah Masjid “Jamiul Adhfar” tertulis dengan jelas dalam hurup Arab di fasad depan masjid (mungkin karena dialek setempat yang menjadikanya berbunyi Masjid Jamiul Alfar atau Jami Ul-Alfar), semua nama itu bermakna “Masjid Merah”
Bentuk Masjid ini sangat unik dalam bentuknya yang sangat imp resif dengan rancangan unik mirip sebuah bangunan istana gula gula dengan warnanya yang berlapis lapis merah dan putih seperti kue lapis. Warna merah lebih mendominasi warna ekterior masjid ini. Warna khas itulah yang menuntun orang kelokasi masjid itu karena terlihat dari jauh puncaknya.
Detil struktur bagian luar masjid yang didominasi warna merah dan putih namun tidak menghilangkan nilai spiritual yang terdapat pada bangunan megah ini. Sedang kan dinding bagian dalam didominasi oleh warna hijau toska. Tidak hanya menampil kan efek kue lapis berwarna merah-putih, arsitek masjid ini juga berupaya mengede pankan pola lengkungan pada bagian atap din ding. Pola lengku ngan ini digunakan hampir pada setiap pintu masuk yang menghu bungkan bagian halaman dalam masjid dengan ruang tempat shalat di lantai dasar. Bagian lantai dalam dan anak tangga sedang di perbaiki. Material masih terlihat berantakan, lantai satu penuh jamaah, lantai dua penuh, kelantai tiga demikian sampai ke lantai tujuh pun semua penuh padahal masih banyak sekali jamaah di luar.
Rasanya sudah tak sanggup lagi mau berjalan, kaki ini berat sekali mau melangkah, baju basah kuyup, tak ada ruang tempat untuk meletakkan punggung, jadi teringat di masjidil haram Makkah, tangga bisa dijadikan tempat shalat. Kuhempaskan tas punggung ke anak tangga diatasnya, masih ada ruang untuk dua orang, anak tangga yang lain pun penuh semua dengan jamaah. Bisalah sedikit bernapas lega, sembari mendengarkan khot bah sang khatib, yang sudah hampir selesai.
Di lantai empat dianak tangga, aku beringsut berpindah ketempat yang sudah mulai ditinggali jamaah. Kupan dangi seluruh ruangan yang mulai kosong itu. Dari jendela kanan terlihat teluk Colombo, sebelah jendela arah mihrab depan, berdiri dengan kokohnya dua buah menara besar dan kecil. Seperti lazimnya bangunan sebuah masjid, Masjid Jami Ul-Alfar juga dilengkapi dengan menara. keseluruhan nya ada empat belas menara pada bangunan masjid ini, terdiri dari dua menara berukuran sedang dan sisanya berukuran kecil. Lokasinya yang berada tepat di tengah pusat keramaian komunitas Muslim, membuat di setiap sudut pada bagian atap masjid dilengka pi sebuah pengeras suara untuk mengu mandangkan suara azan.
Haus dan lapar mulai terasa, rasa penat pun sudah berkurang. Disekita ran masjid yang memang terletak persis di tengah tengah kota itu banyak dijual makanan Muslim. Semua makanan khas masakan India. Nasi Briyani dengan potongan besar ayam seharga 450 RSL.
Kembali terulang pertanyaan yang sama saat ke Nepal dan China, Assalamualaikum..Malayisa, Malaysia, Malaysia?…. No… I am Indonesia. oooo Indonesia demikian gumam mereka yang bertanya.
Memang sangat terlihat lain penam pilan kami hidung pesek kulit agak cerah, selama di Colombo, topi putih haji tak pernah lepas dari kepalaku. Suprais sekali mereka melihat kami Muslim dari Indonesia. “Saya melayu sri lanka, nenek kakek dari Jawa” ujar yang lain sebari kami bersalaman. Menjelang Ashar kami beranjak ke Hotel yang tak jauh dari masjid itu sekitar satu kilometer naik bajaj seharga 80 RSL. (***)

Terkecoh Diskon di Matahari Departement Store Mega Mall Batam.


AHAD (7/9) Buletin Jumat (BJ), sengaja berkunjung ke Matahari Departemen Store, terlihat hampir sepanjang Koridor lantai 2 Mega Mall Batam 14218_926271390720266_591767290444090978_ncenter itu dipenuhi pengunjung, banyak bergantungan tulisan sales 50 % , tulisan puti dengan dasar merah mencolok. Bermacam barang diskon ditawarkan.
Dan benar salah satunya ada sepatu merk Fladeo dibadrol rp. 520.000,- hem, kalau dipotong 50% berarti rp. 260.000,- lumayan murah pikir BJ. Karena memang ingin membeli sepatu.10665998_926281177385954_6963323324438869949_n
Beberapa orang disamping BJ tengah sibuk memilih-milih dan membawanya ke kasir, BJ pun tengah memilih juga nomor dan warna yang pas. Tiba-tiba sepasang suami isteri yang sedang berlalu disamping BJ datanh menghampiri dan membisikkan bahwa di lantai bawah di toko FLADEO, jenis dan merk sepatu yang sama dijual rp. 99.000,-10361994_926281340719271_1976874129189193504_n
BJ bergegas kebawah memastikan dan ternyata benar. sepasang sepatu yang didiskon 50% di Matahari Departemen Store itu, hanya dijual rp. 99.000,-
Teliti sebelum membeli jangan terlalu percaya Diskon.. (imbalo)

Shalat Jumat di Tempat Kami


15 Tahun Buletin Jumat (3)

SONY DSC

Dulu ada satu kementerian yang mengatar aparatur negara, waktu itu terbitlah satu peraturan yang mengatur para aparatur negara dengan cukup satu pekan 5 hari kerja saja, yaitu dari senin hingga hari jumat sementara pada hari sabtu libur.

Hari Jumat pagi, sebelum masuk kerja, olahraga (senam) dulu, kamipun berangkat dari rumah pakai pakaian olah raga. Terkadang baju olahraga itu ada yang memakainya sampai pulang kerja, ada yang di tukar dengan baju yang lain, yaitu baju kerja. Baju kerja ini bermacam-macam bentuknya. Tegantung perusahaan tempat kita bekerja.

Nah, kalau lelaki muslim sekitar pukul 11.30 wibb sesaathendak memasuki waktu shalat jumat, ada yang menukar lagi pakaiannya itu, jadi ada yang sampai tiga kali bertukar pakaian lho. Tetapi bila rumahnya tidak jauh dari tempat kerja, tak masaalah bisa pulang kerumah, dan berganti baju dirumah, dan shalat di masjid dekat rumah.

Kalau tak bertukar baju dan jauh dari tempat kerja ya pakai baju kerja, dan sebagian sampai sekarangpun instansi yang berolahraga dipagi jumat pegawainya masih memakai pakaian olahraga itu ke masjid melaksanakan shalat jumat.

Ternyata peraturan itu berubah, dirubah lagi jadi tetap enam hari kerja selama sepekan, agaknya tak efesien dan setelah kementerian yang menterinya enggak pernah shalat jumat itu tidak menjabat lagi.SONY DSC

Di Batam tidak terkecuali apalagi daerah melayu hampir diseluruh negeri, terutama di sekolah sekolah, hari jumat kami berbusana muslim kembali, baju muslim biasanya warnanya polos.

Tetapi ada juga beberapa instansi yang menyuruh karyawannya berbaju batik (berwarna-warni, namanya juga batik), dihari jumat sebagaimana ditempat penulis bekerja, katanya untuk cinta budaya. Dan kamipun olahraga kembali dihari sabtu.

Di Jakarta kini, orang nomor satu pemimpinnya lagi kompetisi, jadi capres. Jadi wakilnya yang berkuasa, katanya sih enggak tahu kalau kepala dinas pendidikannya, membuat peraturan baru mengganti model baju muslim tadi dengan model yang lain disekolah-sekolah.

Kalau bagi siswa mungkin tidak terlalu berpengaruh, tetapi bagi siswi? Konon kabarnya kepala dinasnya mau mengundurkan diri karena stress, tetapi dibantah.

Di tempat kami di Batam terkenal daerah industri, banyak perusahaan asing maupun lokal mempekerjakan karyawan setempat, dikasih baju seragam, seperti werpak, yaitu baju dan celananya jadi satu, penulispun setiap tahun pernah dapat dua stell baju seperti itu, waktu jadi pegawai.

Baju seragam ini kalau di pakai shalat, agak menjepit sedikit diselangkangan, ketika kita posisi sujud, tetapi ada baiknya pinggang dan belahan punggung kita tidak terbuka (tertutup aurat).

Karena ada juga baju seragam yang terdiri dua potong, yaitu celana dan baju terpisah, terkadang warnanya sama ada juga yang berbeda, entah mengapa hampir semua pekerja yang dapat baju seragam seperti ini, bajunya agak pendek dan memakai lipatan tebal dibawahnya.SONY DSC

Nah ini yang jadi masaalah sewaktu rukuk apalagi posisi sujud, saat shalat sang baju bagian belakang tertarik keatas tersingkat di belakang belahan punggung dan tentunya aurat terlihat. Enggak tahu mengapa disainnya seperti itu, padahal tidak semua pekerja itu bekerja berkaitan dengan mesin.

Seperti dalam gambar pekerja hotel terkemuka inipun dapat baju seragam, setiap sujud belahan punggungnya kelihatan, dan tangannya tak pernah berhenti kebelakang menutupinya.

Tapi syukurlah mereka para pekerja itu masih dibenarkan dan bisa melaksanakan ibadah shalat jumat, karena dari hasil temuan penulis di beberapa mall, pekerja restoran, maupun pekerja di pompa bensin tidak bisa melaksanakan shalat jumat walaupun dengan memakai baju seragam kerja. Ya jadi sepanjang tahun selama pekerja lelaki itu tak pernah shalat jumat.

Tetapi walaupun tidak setiap jumat melaksanakan ibadah shalat ini, kita tidak pungkiri masih banyak para majikan yang mengatur para pekerja lelaki itu bergantian libur pada hari jumat, seperti security misalnya.

Mungkin di daerah industri, perdagangan, ali kapal di tempat lain seperti itu jugakah?, yaitu memakai pakaian yang tersingkap dibelakang terlihat aurat seperti ditempat kami? … entahlah. Sebagaimana terlihat disuatu jumat, nyaris dari 4.000 orang jamaah Masjid Raya Batam Center tak terlihat yang pakai kain sarung lagi, pada hari itu.

Semoga Batam tidak seperti Jakarta, cukuplah memadailah para pelajar lelakinya pakai baju melayu (dua potong baju dan celana), dari pagi masuk sekolah, sekalian bisa untuk shalat jumat, dan kamipun berharap kepada yang berwenang nantinya tidak membuat kebijakan meniru Kepala Dinas L Marbun di Jakarta sana. (imbalo)

UU RI NO 40 TENTANG PERS (1)


10547456_892209664126439_2787480722696643427_nHampir lima belas tahun yang lalu, Undang – Undang Pers diundangkan, tepatnya 23 September 1999 oleh Presiden waktu itu BJ Habibie.
Kebebasan pers di jamin di Indonesia, tidak ada bredel- bredelan lagi itu intinya, tidak ada izin-izin lagi untuk menerbitkan media cetak , cukup berbadan hukum Indonesia, ada alamat lengkap ada dewan redaksi , semua itu tertuang dalam UU NO 40 tahun 1999 tentang PERS.

Lima belas tahun yang lalu Buletin Jumat (BJ) terbit untuk perdana kalinya, bertepatan dengan bulan ramadhan seperti ini, Gus Dur jadi presiden menggantikan BJ Habibie, datang ke Batam, membuka Forum Organisasi Zakat (FOZ) II.

BJ, hanya selembar kertas HVS ukuran F4 dicetak timbal balik, tulisannya berwarna biru, isinya memuat tentang kegiatan ke-Islaman antara lain masjid-masjid yang ada di Batam. Karena memang lembaga yang menaungi BJ adalah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Batam.

Masih ingat benar tulisan pertama tentang Masjid di Komplek perumahan Sukajadi Batam Center dengan Judul “Masjid Sukajadi Tak Jadi-Jadi” , pengembang nya cukup respon setelah membaca tulisan itu, dan berjanji untuk membangun struktur hingga 30% sebagaimana ketentuan bagi pengembang di Indonesia. Masjid yang terletak di perumahan elit di Batam itu kini terus bertambah luas, banyak jamaahnya terutama pada shalat magrib, tak henti henti, mungkin karena terletak di jalur sebelah kiri jalan arah ke Batu Ampar dari Tanjung Uncang, memudahkan terutama para pekerja galangan.

Di perumahan Legenda Malaka, pengembangnya belum menyiapkan lokasi untuk tempat Ibadah, ratusan kepala keluarga muslim telah bermukim disana, solusi atas kesepakatan warga dibuat masjid di luar lokasi tanah pengembang, hingga sekarang masjid itu kokoh berdiri dan telah berdiri pula lembaga pendidikan . Ternyata tempat masjid itu berdiri adalah jalur alternative sebelah kiri jalan menuju Bandara.

Kawasan Industri Muka Kuning punya masjid namanya Nurul Islam, dibangun oleh pengelola, tak mampu menampung jumlah jamaah lelaki, terutama pada shalat jumat, sudah dipasang tenda sampai keluar hanya bisa menampung ribuan orang saja, beberapa tenan yang karyawannya ratusan bahkan ribuan orang, melaksanakan shalat jumat di ruang serbaguna, ribuan hektar luasnya, puluhan tenan besar menempati kawasan, puluhan ribu karyawan di kawasan industri itu, delapan puluh present Islam, masjid hanya satu, Alhamdulillah atas usulan DMI Batam, berdiri masjid Nurul Iman lokasinya diluar lokasi kawasan industry Muka Kuning, tak apalah.

Hampir semua pengembang di Batam sejak awal lagi, tidak menyiapkan sarana tempat ibadah untuk umat Islam ini, perumahan Anggrek Mas, hanya memberikan secuil lokasi tanah dibelakang sekolah Juwita, sekarang masjid itu di perbesar, karena tidak mampu lagi menampung jamaah dari tiga lokasi Anggrek yang lain.

Hingga ke hari ini Lapangan Terbang Internasional Hang Nadim, belum memiliki masjid tersendiri, rencana perluasan tahap III, konon kabarnya akan di bangun sesuai rencana lokasi didekat areal parkir, karyawan dan pekerja muslim , shalat jumat di komplek perumahan bandara, dulu ada bekas mushala direksi kit dijadikan masjid untuk pelaksanaan shalat jumat.

Di pelabuhan sekupang pun belum memilik masjid, pekerja disana shalat jumat ke masjid terdekat di komplek Telkom .
Yang ironis, belasan tahun umat islam, di daerah Batam center, terutama karyawan Otorita Batam, Pemko Batam, dulu, shalat jumat di lantai tiga ruang serba guna kantor Otorita itu. Namanya ruang serbaguna, terkadang dibuat untuk acara kebaktian umat lain (non islam), kadang acara music, kesenian, pelantikan pejabat dan lain-lain. Alhamdulillah berdiri masjid raya Batam, digesa cepat semula 4 tahap menjadi satu tahap saja.

Iya , Buletin Jumat identic dengan masjid, karena dibawah naungan lembaga DMI tadi, termasuklah tempat shalat bagi karyawan muslim yang ada di mall-mall, hanya seadanya saja.

BJ sempat tidak terbit beberapa saat, karena kami tidak menjadi pengurus DMI lagi, setelah itu tebit lagi tetapi di kelola oleh Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam.

Marak pula makanan yang tidak halal, masuk dan membanjiri Indonesia, termasuk paha ayam dari Amerika masuk ke Batam, kasus ini mencuat hingga Nasional, Buletin Jumat sampai ke pengadilan, pejabat yang berwenang di Batam, tidak bisa secara langsung menutup media yang hanya selembar itu, terganjal UU NO 40 tentang PERS diatas, menurut Parni Hardi kepala kantor berita ANTARA saat itu, walau hanya selembar, memuat dan menyajikan berita tulisan rutin dan terus menerus adalah pers. Merasa tertolong oleh ketentuan itu, kami pun beli mesin cetak sendiri agar BJ tetap terbit.

Urumqi Daerah Otonomi di Cina


Catatan Perjalanan ke Cina

“Yindhinixya” ucapku, setelah menjawab salam dari Al Murad, awal pertemuan, Murad, demikian nama pemuda berbadan kekar itu, mengiraku orang Malaysia.

Soal pertanyaan dan tak dikenalnya orang Indonesia di benua Cina itu, membuat geram Ashari, yang bersamaku dalam program “Bekpeker Dakwah” ke negeri Tirai Bambu itu.

Kami termasuk bekpeker yang nekat, hanya berbekal bahasa alakadarnya dan buku kamus bahasa Indonesia – Mandarin, kami mulai perjalanan dari Batam – Kuala Lumpur dan dari Kuala Lumpur dengan penerbangan murah Air Asia, kami jejak Kunming ibukota provinsi Yunnan, kota paling Selatan di Cina.

Di Kunming tiga hari dengan kereta api seharga 260 yuan selama 18 jam, kami tinggalkan kota terbesar di Selatan Cina itu dengan kereta api, menuju Chengdu. Meskipun Chengdu tidak seramai Kunming, banyak hal yang menarik kami temui di Chengdu, terutama mengenai umat Islam nya. Mereka peduli dengan makanan halal.

3hari dua malam di Chengdu, perjalanan kami lanjutkan ke Utara, meskipun dalam map Cina tempat yang kami tuju terletak di Barat Laut Cina, yaitu provinsi Xinjiang otonomi Urumqi.

Masjid di Urumqi, disela sela gedung pencakar langit.....

Masjid di Urumqi, disela sela gedung pencakar langit…..

Dari Chengdu dengan kereta api selama 48 jam melalui gurun jalur sutera, dua hari kemudian tiba di Urumqi tengah hari, sekitar pukul 12.00 waktu setempat.

Walaupun waktu Kuala Lumpur dengan dengan Urumqi sama, tetapi waktu shalat subuh di Urumqi adalah pukul 03.20 dini hari, nah lho sementara shalat juhurnya pukul 13.20.
SONY DSC
Jadi di Urumqi waktu siangnya, saat ini, lebih panjang dari malamnya. Hari pertama di kota mayoritas muslim Uyghur itu rombongan kami berjalan mengelilingi kota, hampir semua rasanya ceruk kota dah di jalanai, photo sana photo sini, banyak sekali momen momen yang sayang dilewati, kaki ini sudah tak larat nak berjalan di usiaku yang ke 61, dan memang akulah orang tertua dirombongan kami.

Aku menyerah pulang sendiri ke hotel, teman yang lain melanjutkan “tawaf” nya ke tempat tempat lain. Berjalan perlahan, menyusuri jalan semula, sembari mengingat ingat gedung yang sudah dilewat, takut tersesat, kalaupun tersesat, paling juga naik taksi ke hotel yang sudah dicatat alamatnya, dalam perjalan pulang itu terkadang aku berhenti berehat, di bangku – bangku yang banyak tersedia di kota wisata itu, hari sudah pukul 18.30 petang, tetapi sinar matahari masih terang tak terlihat warna merahnya.

Sapaan salam menyentakkanku dari lamunan melihat gedung tinggi berbentuk kubah, “Alaikumsalam” jawabku itulah awal perkenalan dengan Al Murad “Malaysia” tanyanya lagi.

Tahu kalau aku dari Indonesia, orang cina dan dalam kamus yang kubaca, Indonesia dilafalkan Yindhinixya.
Murad bertanya “Apa yang boleh saya bantu untuk pakcik” kata Murad, menjelaskan kalau dia pernah ke Jakarta dan lima tahun di Kuala Lumpur.
“jadi saya boleh sikit bahasa melayu” ujarnya lagi.

Pucuk dicinta ulam tiba, senang sekali hatiku berkenalan dengan Murad, pertemuan tak terduga duga ini, sering kualami di negeri minoritas Islam yang tak mengenal Indonesia dan dapat berbahasa Melayu.

Dengan bahasa alakadarnya, kuutarakan keinginanku hendak mengunjungi pemukiman suku Uyghur, yang kebetulan juga adalah bangsa dan sukunya Murad.
Dan alangkah bahagianya hatiku kalau dapat shalat jumat juga disitu ujarku pada Murad.

Bertukar nomor telpon berpoto bersama, aku mengatakan kalau datang ke Urumqi tidak sendiri, tetapi bersma rekan enam lagi yang sedang keliling melihat lihat kota. Murad berjanji akan datang dan membawa kami ke tempat-tempat khas kehidupan bangsa Uyghur.

Murad meskipun baru berusia 30 tahun, adalah pebisnis yang termasuk sukses. Di Uyghur umat muslimnya puluhan juta jumlahnya, tetapi masih kala persentasi dengan suku Han yang terus menerus memasuki daerah otonomi Cina itu.
Kami agak hati hati membicarakan hal ini.

Kebijakan pemerintah Komunis Cina, seperti tak dibenarkannya kaum Uyghur yang bentuk phisik dan bahasa nya jauh sekali dari suku Han itu memakai jenggot, adalah hal sensitif yang dibicarakan.

Tetapi satu dua orang tua lanjut usia masih terlihat memakai jenggot yang sudah memutih, “Iya dilarang memakai dan memelihara  jenggot dibawah usia 45 tahun” ujar Murad menjelaskan.

Disinggung soal hilangnya pesawat terbang milik Malaysia MAS MH370, dan awal sebelum dinyatakan “berakhir di lautan “ Uyghur, adalah tersangka, satu orang penumpang pesawat itu yang memakai paspor palsu adalah berkebangsaan cina dari suku Uyghur.

Kulihat Murad sering dan acap memperhatikanku, entah apa yang ada didalam pikirannya tentang aku, mungkin kopiah yang selalu kugunakan selama di negeri para Shaolin ini, membuat iya terkesan akupun tak tahu.

Dihari Jumat seperti yang dijanjikan, Sungguh Allah Pencipta Yang Sempurna,  Murad membawa kami, seorang yang menyupiri kami temannya Murad adalah seorang Polisi. Tak menyulitkan kami melalui beberapa kali pemeriksaan sampai keperkampungan suku Uyghur. Barikade tentara dan polisi layaknya daerah bergolak seperti di Aceh jaman DOM dan di Patani Selatan Thailand, begitu juga di Mindanao Filiphina, hal yang sama berlaku juga di seluruh wilayah Urumqi.

Alhamdulillah, aku yakin dan percaya perjalanan kami selama di Urumqi dan pertemuan dengan Al Murad pria beranak dua ini, semua diatur Allah SWT. (Imbalo)

Islam di Yunnan Kunming Cina


Catatan Perjalanan ke Cina

Imam masjid Kunming

bersama Imam masjid Kunming

Buletin Jumat berkesempatan mengunjungi Cina, lawatan, kami mulai dari Kunming ibukota provinsi Yunnan. Hampir empat jam perjalanan dengan pesawat Air Asia, dari Kuala Lumpur Malaysia, tiba di lapangan terbang antara bangsa Kunming, hari menjelang petang, meskipun tidak ada perbedaan waktu antara Kuala Lumpur dengan Kunming, tetapi waktu shalat berbeda.

Dengan taksi menuju pusat kota, tarifnya 100 yuan, 1 yuan sekitar 1.900 rupiah. Bandara Yunnan ini terlihat lengang, masih gersang dari pepohonan, karena sedang dalam tahaf pembangunan. Sepanjang perjalanan ke pusat kota, terlihat pembangunan kondominium dan pabrik tempat industri disana sini.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 tetapi matahari masih bersinar terang, udara terasa dingin sekitar 12 derajat selsius.
Kedatangan kami di Kunming (Cina) sedang libur, hari buruh, hotel penuh, 01 Mei benar benar dinikmati pekerja di negeri tirai bambu tersebut.

Hidung terasa sesak dan kering, cuaca dingin dan bau menyengat khas kota Kunming, awalnya kami tak itu bau apa, ternyata bau tahu busuk dari parit pembuangan, persis di dekat pembuangan limbah ada kamar hotel dekat masjid seharga 240 yuan semalam, dengan dua tempat tidur.

Di Kunming, warga negara asing harus tidur di hotel, sebenarnya ada penginapan murah di sekitar masjid. Tapi pemerintah komunis itu tak membenarkannya.

Karena tak tahan bau yang menyengat entah bau apa, seperti aroma bawang dan busuknya hembusan angin dari parit tertutup pembuangan limbah dari pabrik tahu, malam itu kami menginap di We Long Hotel. Tarif paling murah 450 yuan, satu malam.

Masjid di Kunming

Ada enam masjid, terletak di pusat kota Kunming, satu masjid provinsi yang kami kunjungi, ribuan jumlah jamaahnya pada shalat jumat. Di ruang utamanya dapat memuat sekitar 700 orang jamaah, masjid tanpa kubah ini, adalah masjid paling tua di Kunming. Masjid ini terletak persis di depan jaringan Mall terkenal di Cina yaitu Wang fun jing.

Jamaah shalat jumat penuh sampai ke halaman masjid, diperkirakan ratusan ribu umat islam di Kunming , sebagian besar dari suku Han

Jamaah shalat jumat penuh sampai ke halaman masjid, diperkirakan ratusan ribu umat islam di Kunming , sebagian besar dari suku Han

Diseputaran masjid ini banyak dijual makanan halal. Tidak waktu shalat jumat saja apalagi waktu shalat jumat, jauh waktu sebelum shalat tiba jamaah sudah berdatangan. Kebanyakan warga tua. Masing masing dengan tongkatnya. Mereka duduk berdua dua , duduk di bangku – bangku yang disediakan di halaman masjid, di bawah pohon-pohon pelindung.

Akrab terdengar perbincangan mereka kelihatannya, sebagian jamaah itu datang sengaja untuk shalat jumat, jauh dari kampung kampung kiloanmeter jaraknya dari masjid. Hujan yang turun tiba tiba selama pergantian musim nyaris semua membawa payung, dan bungkusan persegi empat, rupanya bungkusan itu untuk tempat alas duduk, dan sehelai handuk kecil.

Cuaca dingin, sesekali hujan turun, wuduk memakai air panas yang disediakan masjid, handuk kecil tadi digunakan untuk melap bekas wuduk terutama bagian kaki. Setelah dilap langsung memakai kaos kaki.

Kamar kecil untuk tempat buang air besar dan kecil ada yang terpisah, bila tidak biasa istinjak dengan kertas, kita terpaksa harus membawa gayung (ceret) yang ada tersedia disitu yang berisi air panas. Semua jamaah di Kunming shalat pakai kaos kaki, mungkin karena dingin udaranya.

Hari kedua kami menginap di hotel peris bersebelahan dengan masjid, tarifnya lebih murah satu malam 180 yuan. Subuh itu kami datang awal untuk shalat, ada rombongan dari Jakarta ikut turnamen golf disana, sebagian mereka ikut shalat di subuh yang dingin itu. Kebetulan kami satu hotel saat di We Long hotel, ada Ade Chandra mantan pemain Bulu Tangkis.

Di Kunming, sama dengan di Thailand Utara, bacaan basmalah pada Alfatiha tidak di zaharkan, begitu juga sebutan Amin, tidak terdengar, kalau di Indonesia dam Malaysia, sebutan Amin setelah Fatiha terdengar kuat dan panjang.

Bentangan sajadah pun sebagian besar masjid di Cina letaknya tidak memanjang ke depan tetapi kesamping, sajadah hanya untuk tempat duduk dan berdiri, sementara untuk sujud, kening menepel di papan di lantai tidak beralas.

Saat azan dikumandangkan, jamaah yang duduk langsung semuanya berdiri. Hal ini bukan untuk shalat subuh saja, setiap shalat fardu lain pun begitu. Bacaan Fatihah dan ayat yang dibaca intonasinya terdengar agak lain dari biasa yang kita dengar di Tanah air. Muazzin pula mengumandangkan azan di luar bangunan masjid, tidak menggunakan pengeras suara.

Jamaah wanita shalat di bangunan tersendiri, sementara tak terlihat anak-anak maupun remaja.
Esok kami ke Cheng Du……..

%d blogger menyukai ini: