Suatu Jumat Bersama Wakil Bupati dan Wakil Walikota


Saptono Mustakim

Wakil Bupati dari Kabupaten Lingga, namanya Saptono Mustakim, dapat dipastikan dia adalah orang China pertama yang mempunyai kedudukan tertinggi di pemerintahan di kepulauan riau ini.

dscf1409

Pria paro baya ini sebelum menjabat sebagai wakil bupati (wabup) Lingga adalah anggota DPRD Batam. Dan rumah beliau pun ada di Batam begitu juga dengan sanak saudara nya banyak di Batam, itu lah sebabnya tidak harus ada kunjungan kerja wabup ini sering terlihat di Batam.

Jauh sebelum ada DPRD Batam, kami sudah saling kenal, Imlek di Batam kemarin hari jumat 20/2 kami bertemu di masjid raya Batam center, memang sudah agak lama tak berjumpa, jadi banyak cerita yang terlontar diungkapkan menjelang khatib naik ke mimbar.

Melihatku duduk di depan pintu masuk, Saptono langsung menyalami dan cipika cipiki, kulihat agak sulit dia duduk diantara dua sujud saat shalat tahyatul masjid. “Bulan Maret 2009 ini kami menjadi tuan rumah STQ” ujar Saptono, terlihat sumringah wajah nya “datang ya” kata nya lagi kepadaku.

“Wah gelombang kan sekarang tinggi” jawabku menggoda….. Saptono senyum dan menjelaskan sekarang ke Lingga telah ada penerbangan rutin. Saptono senang sekali kelihatan dengan diadakan nya STQ di Lingga dan telah terbuka nya jalur penerbangan ke daerah yang di pimpinnya itu.

Ria Saptarika

dscf1412

Wakil Walikota Batam atau anak buah nya selalu menyebut wawako, pria yang satu ini pun sama dengan wabup Saptono Mustakim sedikit dari pejabat pemerintahan yang aku salut terhadap mereka.

Kalau dengan wabup Saptono bertemu dan berbincang sebelum jumatan tetapi dengan sang wawako ini kami berbincang setelah jumatan usai, ada saja topik yang hendak di bincangkan, maklum wawako yang satu ini segudang aktifitasnya, baik itu karena jabatannya sebagai wawako, maupun karena pribadinya sebagai kader salah satu partai.

Dari mulai soal pramuka sampai ke televisi pendidikan ( TV Komunitas di Sekolah Hang Tuah Batam ) , ya memang tak jauh jauh dari soal generasi muda generasi penerus.

Bila Wabup Saptono mengundangku agar datang ke Lingga menghadiri STQ tingkat Provinsi tetapi kepada Wawako Ria Saptarika aku yang mengundang beliau agar datang ke Hang Tuah untuk melihat tv yang sedang kami buat.

“Iya saya akan datang nanti”  jawab wawako dengan senyum khas nya, dan senyum khas  ini rencana nya akan di “pasarkan”   dalam menyambut visit Batam 2010.

Iklan

TV Komunitas di Sekolah Hang Tuah Batam


Tower antene tv hang tuah

Sekolah Islam Hang Tuah Batam punya TV? , iya……Insyaallah  sekolah yang terletak di Bengkong Polisi tepat nya di Jalan Ranai no 11 Batam ini, akan punya studio televisi,  wah sepertinya untuk di Kepulauan Riau ada TV pendidikan yang mempergunakan Frequency TV Komunitas di 400 an adalah Sekolah Islam Hang Tuah.

Itulah selama 4 hari ini kami sibuk berbenah – benah membuat ruang studio, ruang kontrol, ruang produksi, dan ruang ruang lain nya.

Tidak ada tempat untuk studi banding, ya karena memang belum ada yang memiliki tv komunitas, yang ada studio tv lokal (komersial) sehingga untuk badan hukum pengelola nya pun tak satu Notaris di Batam yang dapat membuat nya karena belum ada contoh nya.

Dari mulai ke Balai Monitar (Balmon) dan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Batam sejak dua bulan yang lalu untuk menjajagi tentang per-izi-nan dan persyaratan, Aulia dari KPID Batam cukup banyak memberikan masukan dengan memberikan segeprok surat dan form yang harus diisi, di Balmon pun  kami mendapat penjelasan bahwa frequency untuk tv komersial sudah “habis” tetapi untuk tv komunitas belum satu pun yang terpakai.

Pergi ke Notaris untuk membuat badan hukum “perkumpulan”, hingga kini draft untuk badan hukum perkumpulan belum ada contoh nya, malah kami dikirimin contoh draft sama persis dengan bentuk badan hukum KADIN.

Semula ide membuat tv komunitas ini adalah dari bang Bachtiar dari Batam TV dan kang Tedy dari STV , kedua mereka ini adalah orang pertama di Batam tv dan di Semenanjung tv (stv), karena pada saat tahun pelajaran 2008/2009 Sekolah Islam Hang Tuah membuka jurusan Multi Media, salah satu mata pelajaran untuk anak didik yang bersekolah di Sekolah Islam Hang Tuah adalah Broadcasting, sehingga memerlukan alat peraga transmiter dan recifer.

Searching di internet dimana harus membeli pemancar tv rakitan untuk alat peraga SMK Multi Media Sekolah Islam Hang Tuah? pilihan jatuh ke Syam Broadcasting yang berada di Semarang.

Tak terlalu mahal untuk frequency UHF sebesar 30 watt dengan radius jangkauan 2,5 KM sebagaimana yang dipersyaratkan oleh KPI adalah sebesar 30 juta.

Tower yang semula direncanakan terbuat dari pipa galvanis  setinggi 24 meter, di ganti dengan model tower triangle dari besi beton 12mm di las setinggi 30 meter.

Jadi sejak dua bulan ini kami pun sibuk membuat tower sendiri, mendisain ruang-ruang untuk studio, sampai untuk pesan busa lapisan ruang kedap suara pun harus di pesan khusus karena tidak ada yang menjual di Batam.

Jadinya  banyak belajar dan bertanya bagaimana cara ada siaran tampil di layar televisi. Bagaimana membuat penangkal petir dan harus berapa ohm, bagaimana casting dan audisi, bagaimana 3 buah  kamera harus dipakai bergantian,  dan apa nama alatnya.

Tiga malam ini betul-betul semalaman tidur di studio yang belum rampung dilapisi karpet warna hitam, karena Mas Syam teknisi dan pembuat pemancar yang kami pesan sedang berada di Batam untuk memasang dan merangkai jaringan dari ruang pemancar yang harus bebas radiasi sampai ke ruang studio untuk produksi.

Semalaman tak tidur karena ada masaalah di booster, sehingga power tak mau keluar, padahal besok mas Syam harus pulang ke Semarang.

Sementara tv komunitas kami dapat di tangkap di frequency 471,25 atau channel 21, tetapi hanya di sekitaran sekolah, “wah saya hanya pakai microwave 5 watt saja dari sei harapan bisa sampai baloi pak” ujar Tedy dari STV mengomentari saat ku beritahukan karena ada gangguan di boster jadi jangkuan belum maximal sebagaimana yang diharapkan.

Ya nama nya juga tv rakitan …………………………

Ibu Muslimah Laskar Pelangi Kunjungi Batam


image006“Baru pertama kali ini” ujar ibu Muslimah saat di tanya sudah berapa kali ke Batam.

“Saya ibu Muslimah yang asli” ujar nya lagi sembari tersenyum, mungkin orang lebih mengenal wajah Cut Mini pemeran ibu Muslimah di dalam film Laskar Pelangi yang “melambungkan” kota Belitung ketimbang wajah ibu Muslimah yang asli, itulah agak nya sebelum orang berkomentar lebih lanjut ibu Muslimah ini langsung menyebutkan kata-kata itu.

Di undang dalam rangka seminar pendidikan di Batam, malam sebelum pulang ke esokan hari nya Ahad (22/2) ibu Muslimah menyempatkan diri ke Mega Mall Batam Center.

Di depan toko roti BreadTalk ibu Muslimah berdiri, karena berkerudung aku menghampirinya, selalu demikian bila memang ada perempuan berkerudung  di depan gerai roti yang belum memperpanjang sertifikat halal nya itu, selalu ku ingatkan untuk tidak mengkonsumsi apalagi membeli nya.

image005

Ternyata ibu Muslimah bukan hendak membeli roti BreadTalk, ia nya hanya menunggu kawan yang sedang melihat pameran per-Bank- an Syariah yang sedang di gelar di Mega Mall Batam Center.

Tak terasa lebih  se jam kami berbual, sampai acara per-bank-an itu selesai dan kursi-kursi pun telah di susun hanya tinggal kursi kami bertiga yang belum.

Padahal aku hanya menanyakan tentang apa kabar Aisyiah di Belitung, ibu Muslimah panjang lebar menceritakan keberadaan Muhammadiyah disana.

Iya ….. sampai jumpa lagi ibu Muslimah ……….salam untuk warga Muhammadiyah di Belitung.

Si Singamangaraja XII; Gugur Sebagai Pahlawan Islam


Tulisan ini di kutip dari

Opini publik dewasa ini kurang menyadari bahwa Si Singamangaraja XII adalah seorang Muslim, yang di angkat sebagai Maharaja di negri Toba di kota Bakara pada 1304 Hijria. Sebagai seorang pejuang yang bertempur terus hingga akhir hayatnya ketika ditangkap dan di tembak oleh Belanda pada 17 Juni 1907.

Untuk menghargai dan menghormati jasa yang telah di korbankan bedasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 217 tahun 1957, pemerintah telah mengangkat Si Singamangaraja XII sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Adapun yang di maksud dengan batasan Pahlawan Kemerdekaan Nasional adalah seorang yang masa hidupnya terdorong oleh rasa cinta tanah airnya dan sangat berjasa dalam memimpin suatu kegiatan yang teratur menentang penjajah di Indonesia melawan musuh dari luar negri, ataupun sangat berjasa baik dalam lapangan politik, ketatanegaraan, sosial ekonomi, kebudayaan maupun dalam lapangan ilmu pengetahuan yang erat hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan dan perkembangan Indonesia.

Mungkin dasar kriteria semacam di atas, di tambah dengan adanya sistem penyusunan cerita Sejarah Nasional yang tidak menonjolkan tentang agama yang di peluknya, menyebabkan kita tidak menyadari bahwa Si Singamangaraja adalah pejuang Islam yang gugur sebagai syuhada pada tanggal 17 juni 1907.

Silsilah
Perlu pula kita ketahui bahwa nama Si Singamangaraja adalah nama dinasti dari keluarga “Sinambela”. Yang kita bicarakan di sini adalah keturunan yang ke-12. Adapun silsilahnya sebagai berikut:


1.  Raja Munghuntal     -Si Singamangaraja I
2.  Ompu Raja Tianaruan       -Si Singamangaraja II
3.  Raja Itubungna                          -Si Singamangaraja III
4.  Sori Mangaraja                          -Si Singamangaraja IV
5.  Pallongos                                  -Si Singamangaraja V
6.  Pangulbuk                                  -Si Singamangaraja VI
7.  Ompu Tuan Lumbut                   -Si Singamangaraja VII
8.  Ompu Sotaronggal                     -Si Singamangaraja VIII
9.  Ompu Sohalompoan                   -Si Singamangaraja IX
10. Ompu Tuan Nabolon                   -Si Singamangaraja X
11. Ompu Sohahunon                        -Si Singamangaraja XI
12. Patuan Besar Ompu Pulo Baru     -Si Singamangaraja XII

Kristenisasi

Perlu saya jelaskan telebih dahulu tentang kristenisasi disini tidak bertujuan menggoyahkan kerukunan beragama, tetapi sekedar mengisahkan kembali tentang cara Belanda menguasai daerah Tapanuli melalui Kristenisasi. Jadi sebagai fakta sejarah yang benar-benar telah terjadi dan memang masalah Kristenisasi inilah yang nantinya menjadi sumber pangkal permasalahan mengapa Si Singamangaraja XII mengadakan perlawanan bersenjata terhadap Belanda. Tampaknya penyebaran agama Kristen di Tapanuli saat itu mempunyai tujuan politik untuk menguasai wilayah tersebut. Dan tujuan politis inilah yang mengubah sikap rakyat Tapanuli terhadap agama Kristen.

Penyebaran agama itu sendiri tidaklah mendapat perlawanan. Tetapi tujuan politik penjajah membangkitkan rakyat untuk mengangkat senjata.
Adapun tujuan politik yang menyertai penyebaran agama Kristen saat itu adalah seperti yang diyatakan oleh J.P.G Westhoff: “menurut pendapat kami untuk tetap memiliki jajahan-jajahan kita untuk sebagian besar adalah tergantung dari pengkristenan rakyat yang sebagian besar belum beragama atau yang telah beragama Islam”.

Gerakan agresi agama ini besar kemungkinan mulai di lancarkan ke daerah Tapanuli pada 1824. Hal ini terbukti dengan adanya pembunuhan terhadap Baptis Amerika yakni Munson dan Lyman di Sinaksak. Kemudian gerakan ini di perhebat pada 1861 yang di lakukan oleh Rijnsche Zending yang memusatkan gerakannya di Padang Sindempuan.

Dari sini gerakan akan diarahkan memasuki daerah Toba. Untuk keperluan ini pemerintah kolonial Belanda menunjuk misionaris Nommensen dan Simoniet. Daerah-daerah serta rakyatnya yang telah di pengaruhi oleh penyebaran agama ini kemudian secara administratif di serahkan kepada kolonial Belanda. Atas jasa yang demikian besar ini pemerintah Belanda merasa berhutang budi terhadap Nommensen, dan pada 1911 Nommensen di beri bintang Officer van Oranje-Nassau.

Penyebaran agama semacam di atas mempunyai efek politik dan ekonomi sosial yang sangat merugikan rakyat Tapanuli. Penyerahan daerah kepada pemerintah kolonial Belanda, membawa akibat timbulnya sistem monopoli di bidang perdagangan. Termasud ke dalam masalah pertanian, penjualan hasil bumi di monopoli oleh Belanda. Di bidang politik tindakan tersebut berarti mempersempit daerah kekuasaan Si singamangaraja, di bawah kondisi yang demikian mendorong pandangan politik dan ekonomi rakyat Tapanuli untuk lebih bersahabat dengan Aceh dan Sumatra Barat.

Si Singamangaraja XII
Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.

Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama Islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakannya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu.

Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser

Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalau kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304.

Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.

Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain;
Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)

Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia menekan supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya.
Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.

Sebaliknya tindakan penyebaran agama yang dilakukan Rijnsche Zending di Toba di sertai dengan serbuan militer Belanda. Serangan yang semacam ini baik yang di lancarkan pada 1861 ataupun 1877 pada masa pemerintahan Si Singamangaraja XII, mempunyai motif penguasaan daerah Toba yang subur.

Tidaklah mengherankan kalau Si Singamangaraja XII memimpin rakyatnya membendung usaha perluasan wilayah tersebut. Dalam pelawanan bersenjata ini beliau di bantu oleh Panglima Nali yang berasal dari Minangkabau dan Panglima Teuku Muhammad yang berasal dari Aceh.
Letak geografis Tapanuli yang berada di tengah-tengah antara Aceh dan Sumatra Barat memungkinkan kedua daerah atau kesultanan tersebut saling kerjasama. Selain adanya kesamaan keyakinan agama, ditunjang oleh kondisi politik yang sama menghadapi ekspedisi wilayah dari Belanda. Itulah sebabnya memungkinkan kedua panglimanya berasal dari kedua kesultanan di atas.

Belanda sendiri ketika melihat situasi geografis yang demikian itu, mempunyai kepentingan lain. Dengan di lancarkanya operasi militer ke Toba, mempunyai motif melaksanakan tujuan wig pilitic (politik bayinya) “O. Hashem, 1968, hlm. 31″ yang untuk memisahkan daerah Tapanili dati pengaruh Aceh dan Sumatra Barat.

Sekalipun Belanda memiliki persenjataan yang lebih unggul, namun usaha penguasaan wilayah Tapanuli tidaklah semudah yangdiperkirakan semula. Secara fisik memang sepintas dapat menguasai Bahal Batu, Butar, dan Lobu Siregar. Tetapi apa artinya kalau penguasaan wilayah ini tidak mampu menundukan kemauan rakyat. Faktor terkhir inilah yang menjadi problem dalam setiap peperangan. Karena tidak ada rumus bagaimana caranya menguasai kemauan dari bangsa yang telah di kuasai negaranya. Dan tampaknya sedah menjadi kodrat alam tidak ada suatu bangsa pun yang mau di jajah. Apalagi bangsa tersebut memiliki daya tempur yang tinggi. Dan hal ini kebanyakan hanya di miliki oleh bangsa yang telah mempunyai ajaran agama yang di dalamnya mengajarkan pembelaan diri apabila di serang.

Di sini Si Singamangaraja XII telah memeluk agama yang demikian itu, yaitu Islam. Keyakinanya telah menunjangnya untuk mampu bertahan dan berjuang selama tiga puluh tahun lamanya. Suatu kenyataan sejarah yang tidak dapat di sangkal lagi bahwa ajaran agama Islam mempunyai pengaruh besar tehadap perkembangan dan sikap jiwa bangsa Indonesia.

Seseorang yang memeluk agama akan merasa dirinya kuat dan lagi peperangan tidak dapat di kerjakan oleh seorang pemimpin, melainkan merupakan hasil dari kerjasama. Hasil ini akan mudah dicapai apabila masyarakatnya tersebut terbina dalam ajaran agama. Karena dasar ajaran agama tidak mengajarkan hidup secara individual sifatnya, melainkan lebih menekankan kepada kegotongroyongan. Apabila masyarakat tersebut telah meletakan kepercayaan sepenuhnya kepada kepemimpinan di atasnya. Ini adalah sebagai faktor yang memudahkan untuk menumbuhkan kesatuan gerak perjuangan.

Persyaratan yang demikian itu telah tumbuh dalam masyarakat Tapanuli. Si Singamangaraja XII tidak hanya di anggap sebagai seorang Maharaja tapi juga sebagai Imam di bidang agama. Faktor kepercayaan yang telah di berikan rakyatnya ketangan Si Singamangaraja XII merupakan factor yang dominan yang memungkinkan dirinya di angkat sebagai seorang keramat, sehingga Si Singamangaraja XII menjadi seorang pemimpin yang kharisma nya besar.
Sekalipun demikian besar kekuasaan Si Singamangaraja XII, tidak menjadikan dirinya sebagai seoarang sultan absolut. Malahan rakyatnya memberikan gelar sebagai juru damai, yang selalu berpihak kepada kepentingan rakyat.

Menghadapi seorang pemimpin rakyat yang demikian besar pengaruhnya, Belanda harus menggunakan cara lain. Ibu, permaisuri, dan kedua putranya di tangkap. Dengan cara ini belanda berharap dapat membawa Si Singamangaraja XII kemeja perundingan.

Kompromi ini tidak mungkin tercapai. Karena kebencian Si Singamangaraja XII terhadap Belanda telah ditanamkan sejak lama oleh ayahnya. Juga di lakukan oleh bukti sejarah Si Singamangaraja X (Ompu Tuan Nabolon) dan Raja Lambung putranya, dibunuh oleh Belanda.

Sejalan dengan situasi di Tapanuli tersebut, Belanda melancarkan yang membabi buta pula terhadap ulama di Aceh. Vetter melanjutkan operasi militer seperti yang pernah di kerjakan oleh Van der Heijden. Tindakan mereka ini merupakan realisasi nasehat Snouck Hurgroje yang mengadakan pengejaran tanpa henti terhadap para ulama yang memimpin gerilya. Operasi  yang demikian kejam dengan mengadakan pembunuhan semena-mena terhadap pemuka-pemuka Islam mendapat restu pula dari mentri Bergsman.

Gerakan operasi militer yang demikian ini terdorong oleh usaha ingin mematahkan saingan Inggris yang menjadikan Pulau Penang sebagai pelabuhan yang mengekspor rempah-rempah dari Aceh. Saingan ini ingin dipatahkan dengan menguasai daratan Aceh dan Tapanuli. Pulau Sabang dijadikan pelabuhan batu bara yang mensuplai kapal-kapal yang memblokade Aceh. Tentu saja untuk mendapatkan batu bara ini di perlukan penguasa Ombilin dan Sawah Lunto di Sumatra Barat. Kedua daerah terakhir ini telah berhasil di kuasainya. Hanya Tapanuli sebagai daerah subur yang terletak di kedua wilayah tersebut yang masih belum mau menandatangani “Korte Verklring”.
Dengan latar belakang berbagai kepentingan di atas, Belanda berusaha keras melancarkan operasi mematahkan kekuasaan Si Singamangaraja  hal ini akan menjadi mungkin karena gerilya ulama Aceh mulai satu persatu terpatahkan.

Selain sekutu Si Singamangaraja XII mulai lemah, juga di sebabkan persenjataan yang di milikinya tidak seimbang dengan yang dimiliki Belanda. Politik Pintu Terbuka dengan adanya tuntunan pengamanan modal asing, melibatkan negara-negara imprealis lainya menunjang usaha Belanda untuk mengakhiri perlawanan bersenjata Umat Islam Indonesia. Termaksud Si Singamangaraja XII. pada 17 juni 1907 di bawah pimpinan Kapten Christoffel, Belanda  menggempur pusat pertahanan Si Singamangaraja XII. Sampai saat pertempuran terakhir ini, Si Singamangaraja XII bersama putrinya, Lopian, memilih jalan gugur sebagai syuhada dari pada menyerahkan Tapanuli di atas Korte Verklaring kepada Belanda.

Seluruh bangsa Indonesia merasa kehilangan jasad seorang pahlawan Si Singamangaraja XII, tetapi tidak kehilangan jiwa dan cita-citanya. Si Singamangaraja XII gugur sebagai syuhada, tetapi tidak mati melainkan hidup abadi di hati bangsa di sisi Allah SWT.
Catatan:

Artikel ini disadur oleh teman seapartemen saya sendiri ( Aulia Rahman Nursyahid )dari sebuah buku usang diantara tumpukan buku asing dengan kondisi yang menghawatirkan denga judul “MENEMUKAN SEJARAH WACANA PERGERAKAN ISLAM INDONESIA” Oleh: Prof. Drs. Ahmad Mansur Surya Negara dan di Pubilkasikan oleh Penerbit Mizan, Cetakan I: Muharram 1416/Juni 1995.

Dikarenakan buku ini termasuk langka, maka kami menyarankan kepada siapapun yang memilkinya untuk menjaganya sebaik mungkin sehingga nantinya bisa dinikmati oleh generasi setelah kita. Dan jika saudara/i mempunyai versi PDF nya tolong dikirim ke mj.institute@ yahoo.com

Insiden di DPRD Sumut – Bibit Konflik Warisan Belanda


Kota Sibolga Ibukota Tapanuli Tengah

Kota Sibolga Ibukota Tapanuli Tengah

Tulisan ini 100 % di kutip dari  http://www.republika.co.id/koran/14/29514/Bibit_Konflik_Warisan_Belanda Kamis, 05 Februari 2009 pukul 06:26:00

Tulisan ini juga menjawab banyak nya komentar dari bloger-bloger yang tak berani mencantumkan alamat nya tetapi memberikan komentar yang kami masukkan saja menjadi spam karena tak pantas rasanya di tampilkan di blog ini . Misionaris, Dibalik Rusuh Provinsi Tapanuli

Oleh Nian Poloan

Awalnya, wilayah Tapanuli hanyalah terdiri atas Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, dan Kota Padang Sidempuan. Inilah yang pada zaman Belanda dahulu disebut sebagai Karesidenan Batak, yang kemudian diganti menjadi Karesidenan Tapanuli.

Distrik Mandailing yang terdiri atas Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, dan sebagian Tapanuli Tengah, enggan bergabung di Karesidenan Batak. Keengganan Distrik Mandailing itu bisa dipahami.Selain karena mereka mayoritas Islam, etnis Mandailing memang sejak lama tidak sudi dimasukkan ke dalam subetnis Batak, meski dalam antropologi memang pembawaannya (traits) demikian. Bahkan, mereka menyatakan keberatan dan mengancam akan masuk ke dalam Karesidenan Padang.

Pemerintah Belanda akhirnya mengambil jalan tengah, menghilangkan Karesidenan Batak dan menggantinya menjadi Karesidenan Tapanuli, yang berasal dari kata Tapian Na Uli–nama sebuah teluk di Sibolga.Meski tidak lagi mengakui sistem karesidenan bentukan pemerintahan kolonial, Pemerintah Indonesia secara de jure terkesan masih mengakui eks karesidenan yang berada di pantai barat Sumatra Utara (Sumut) itu.

Terbukti, meskipun sama-sama dalam satu provinsi, eks karesidenan Tapanuli itu memakai nomor polisi kendaraan yang berbeda dengan Sumut. Jika Sumut menggunakan nomor polisi BK xxxx, eks karesidenan Tapanuli menggunakan nomor polisi BB xxxx.Kendati hidup di tengah daerah yang pluralis dalam sebuah provinsi, sesungguhnya ada ketimpangan mencolok dari segi agama di daerah yang sebagian besar wilayahnya berada di kawasan Pegunungan Bukit Barisan seluas 71.680 kilometer persegi ini.

Mereka yang beragam Islam, mayoritas tinggal di bagian selatan (Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, dan sebagian Tapanuli Tengah serta Sibolga). Adapun yang mayoritas Kristen atau Protestan tinggal di utara (Tapanuli Utara dan sebagian Tapanuli Tengah atau Sibolga). Kepentingannya pun menjadi berbeda.Itu mulai terlihat saat pemekaran wilayah terjadi, yang dimulai dari Tapanuli Utara pada 2001. Dari kabupaten ini muncullah Kabupaten Humbang Hasundutan.

Dua tahun kemudian, dari kabupaten baru ini lahir lagi Kabupaten Samosir, yang dimekarkan lagi menjadi Kabupaten Toba Samosir. Dengan kata lain, Kabupaten Tapanuli Utara telah melahirkan tiga kabupaten baru hanya dalam kurun waktu empat tahun. Beruntunnya kelahiran kabupaten baru di kawasan Tapanuli bagian utara itu, mencengangkan dan menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah pemekaran wilayah itu murni untuk pemerataan pembangunan, meningkatkan kemakmuran masyarakat, memperpendek jalur birokrasi–begitu biasanya alasan penggagasnya–atau ada misi lain?

Misi lain memang tampaknya lebih menguat, mengingat dari segi potensi wilayah, penduduk, dan faktor-faktor sosiologis lainnya, daerah pemekaran baru ini sesungguhnya tidak begitu kuat.’Misi’ tersembunyi itu baru terbuka ketika muncul gagasan untuk membentuk Provinsi Tapanuli (Protap), yang daerahnya didukung dari wilayah pemekaran itu. Sesuai ketentuan, dengan lima wilayah kabupaten atau kota, cukup sudah bisa menjadi modal untuk membentuk provinsi baru.

Maka, digandenglah Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Nias Selatan. Ketujuh kabupaten kota (Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Samosir, Toba Samosir, Tapanuli Tengah, Sibolga, Nias Selatan) inilah yang kemudian mengikrarkan diri membentuk Protap, yang tahapannya sudah sampai mendapat persetujuan DPRD Sumut, gubernur, DPR, dan pemerintah pusat.Tapi belakangan, Tapanuli Tengah menarik diri, karena tidak cocok dengan penetapan ibu kota Protap. Panitia menetapkan ibu kotanya adalah Siborongborong di Toba Samosir. Sedangkan Tapanuli Tengah menginginkan Sibolga.

Gara-gara ini pula, DPRD Sumut sebagai pihak yang harus mengeluarkan rekomendasi, meminta kembali kepada gubernur untuk melakukan pengkajian ulang. ”Kita meminta agar gubernur mengkaji ulang kelayakan pembentukan Provinsi Tapanuli,” kata Ketua DPR Sumut, Abdul Azis Angkat, dalam wawancara dengan Republika, sehari sebelum meninggal akibat aksi demo anarki pendukung Protap.

Dia sempat mengisyaratkan, pembentukan Protap tak lagi didukung pusat, setelah keluarnya Tapanuli Tengah. Ini untuk menghindari pemekaran wilayah yang berdasarkan etnisitas–sebagaimana terkesan dalam pembentukan Protap.Azis membantah tudingan yang menyatakan dewan sengaja menghambat pembentukan Protap, dan sebaliknya mengedepankan wacana pembentukan Provinsi Sumatra Tenggara (Prosumteng), yang mulai bergulir akhir 2008 lalu. ”Semuanya kami sikapi sesuai peraturan dan ketentuan,” katanya.

Dia menilai wacana pembentukan Prosumteng patut ditanggapi oleh DPRD, sebagai salah satu institusi penting dalam proses pembentukan wilayah baru. Bahkan, beberapa pihak menilai Prosumteng–Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, dan Mandailing Natal–dinilai lebih kuat dari sisi potensi wilayah.”Luas wilayah itu sampai 26,37 persen dari luas Provinsi Sumut dan memiliki sumber daya alam yang tinggi, seperti pertanian, perkebunan, dan pertambangan,” kata Hamdani Harahap, salah satu panitia pembentukan Prosumteng.

Panitia pun tampaknya sangat matang untuk mengegolkan provinsi baru yang menjadi ‘saingan’ Protap ini. Terbukti, dari segi nama, mereka tidak menggunakan istilah Tapanuli, meski lebih dikenal sebagai wilayah Tapanuli bagian selatan (Tabagsel). ”Kami pilih Prosumteng untuk menghilangkan kesan etnis (Batak) dan agama (Kristen atau Protestan) yang melekat pada Protap,” papar Hamdani.

Landasan berpikir itu pula yang membuat Prosumteng didukung banyak pihak. Belakangan, Kabupaten Tapanuli Tengah–yang keluar dari Protap–malah menyatakan ingin bergabung.Meskipun masih diperlukan pengkajian dari segi sosiologis, politis, dan demografis, Prosumteng terus berusaha mencari dukungan. Antara lain, melakukan aksi massa ke DPRD Sumut secara santun, sehari sebelum aksi anarki dari pendukung Protap.

Aksi anarki yang berujung jatuhnya korban Ketua DPRD Azis Angkat, Selasa (3/2) lalu, boleh jadi merupakan embrio dari bibit konflik yang sudah tersemai sejak penyatuan distrik Mandailing dengan Karesidenan Tapanuli oleh Belanda. Itu terjadi di tengah kehidupan sentimen agama dan etnis yang begitu kuat mengental.Dan seperti yang ditakutkan, semangat memekarkan wilayah itu kelak menjadi bibit konflik, di saat kehidupan yang pluralis dan harmonis terjaga di Sumut. Kasus Poso di Sulawesi membuktikan itu.

Sebagian kalangan mendesak dilakukannya moratorium pemekaran wilayah. Sebab, pemekaran tak lagi menganut asas-asas ideal, tapi lebih kepada kepentingan pribadi atau kelompok.Apa pun, insiden di DPRD Sumut yang menewaskan Azis Angkat, telah menorehkan sejarah buruk bagi kehidupan masyarakat di daerah ini. Citra Sumut yang belakangan ini dikenal sebagai wilayah paling kondusif di lingkungan masyarakat yang pluralis, tercoreng sudah.Motto ‘Sumut Luar Biasa’ yang ingin diangkat Gubernur Syamsul Arifin, pun tak cukup kuat menggantikan karakter ‘Ini Medan, Bung!’

Suatu Ketika Saat Shalat Magrib di Masjid Istiqlal Jakarta


dscf1038Dua pekan lalu (24/1) bersama rombongan Young Muslim Association of Thailand (YMAT) berjumlah 38 orang berkunjung ke Masjid Istiqlal di Jakarta. Dari Bandung pukul 8 pagi setelah ke Tangkuban Parahu, melalui Subang mengelilingi Jawa Barat tiba di Jakarta hari menjelang magrib.

Bergegas naik ke lantai dua ruang utama masjid Istiqlal, azan magrib sedang berkumandang, belum banyak jamaah di baris pertama, terlihat hampir semua rombongan kami memenuhi saf terdepan.

Imam menyuruh rapatkan saf , sebelum nya sang imam memberitahukan bahwa di rakaat ke tiga nanti ada doa qunut nazila untuk kaum muslimin di Gaza Palestina. Doa ini sungguh sangat mengetar kan hati, ditingkah oleh suara imam yang mengalun membuat air mata menitik tak terasa.

Termasuk masbuk , ada empat baris jamaah shalat magrib hari itu, setelah selesai shalat magrib, rombongan kami mundur ke belakang di belakang dekat tiang peyanggah sebelah kiri masjid yang terbesar di Asia Tenggara itu kami melanjutkan shalat Isya jamak takdim.

Ustaz Hasyim sebagai Imam diikuti 35 orang makmum di belakang nya, berbanjar ke belakang membentuk barisan menjadi 3 saf, ternyata ada juga beberapa jamaah yang bergabung bersama kami.

Beberapa kali shalat di masjid Negara ini bila kebetulan ada kesempatan ke Jakarta dan mampir untuk shalat disitu, dan sering juga shalat jamak takdim maupun takhir disitu selama ini tak terasa ada gangguan dan tak merasa terganggu, mungkin kami hanya berdua terkadang bertiga yang shalat nya di jamak.

Tetapi dikala shalat dengan rombongan yang banyak, sungguh merupakan suatu gangguan bagiku doa dan zikir dari suara  Imam yang terus terdengar selama kami shalat, suara loadspeaker yang bergema diseluruh ruangan utama masjid itu, membuat suara imam shalat jamak takdim kami tak terdengar sama sekali.

Padahal aku berdiri di saf paling depan tetapi agak ke kanan berjarak 6 orang dari sang Imam, terpaksalah aku melihat dan melirik sewaktu sujud apakah orang yg berada disebelahku sudah duduk diantara dua sujud, untung nya lagi dia pun agak bersuara keras sedikit sewaktu mengucapkan Allahu Akbar, kalau tak begitu suara imam tak terdengar langsung, termasuk bacaan Fatihah dan surat lain nya yang di baca oleh Imam sama sekali tak terdengar, tertutup oleh suara Loudspeaker masjid yang terus mengumandangkan zikir dan doa setelah shalat magrib tadi.

Selesai kami shalat Isya berjamaah, selesaai pula lah bacaan doa dan zikir sang Imam, masih ada beberapa kelompok jamaah yang masih shalat berjamaah terlihat di belakang kami. Tetapi memang kelompok jamaah kami yang paling banyak lebih 40 orang.

Aku tak tahu, ada rasa gunda dihatiku karena ternyata hal yang kurasakan dirasakan juga oleh rekan dari Thailand tadi, karena tidak mendengar langsung suara imam saat shalat tertutup bunyi loadspeaker yang begitu kuat.

Ustaz Hasyim hanya tersenyum ketika hal itu ku utarakan kepadanya, senyum khas seorang ustaz, alangkah sebaiknya suara loadspeaaker itu agak di perlahankan, mungkin kalau di masjid yang tidak banyak di kunjungi musafir boleh lah di kuatkan bacaan doa dan zikir tadi, tetapi kalau misal nya di masjid seperti Istiqlal dan masjid lain yang memang sering hilir mudik para safar bacaan zikir dan doa yang sunat itu sungguh cukup menggangu bagi  orang yang shalat wajib .

Wallahualam bisawab

Suatu Hari Saat Shalat Jumat di Masjid Raya Batam


Shamin dan Saufi pemuda asal Singapura di Masjid Raya Batam mereka pun suka pakai Jeans dan kaos saat shalat kaos dimasukkan ke dalam Jeans sehingga sewaktu rukuk dan sujud belahan punggung tidak terlihat.

Shamin dan Saufi pemuda asal Singapura di Masjid Raya Batam mereka pun suka pakai Jeans dan kaos saat shalat kaos dimasukkan ke dalam Jeans sehingga sewaktu rukuk dan sujud belahan punggung tidak terlihat.

Dering Hand phone

Jumat 13 Februari 2009 di Masjid Raya Batam, Khatib Effendi Aswami sedang ber khotbah, di barisan belakang dekat pintu masuk sebelah Timur seorang bapak sibuk memencet mencet  hand phone nya yang sedang berdering, mungkin tadi tak sempat di off kan sehingga terdengar lah nada panggil yang cukup kencang.

Di tengah ke khusukan orang sedang mendengarkan khotbah bapak yang memakai sarung dan berbaju koko itu tak dapat dengan cepat memutuskan suara yang masih terus berdering – dering dari hand phone nya, setelah berhenti sejenak, hand phone si bapak tadi berdering kembali.

Aku pun sempat menoleh ke si bapak, karena hanya berjarak sebaris di belakang ku arah ke kiri, di mimbar Khatib Effendi Asmawi menjelaskan tentang Valentine karena besok nya sabtu tanggal 14 Februari adalah hari valentine.

Suara dering hand phone si bapak tadi adalah musik yang tak asing lagi di kala umat nasrani menyambut natal dan tahun baru, I Wish You a Merry Christmas and a Happy New Year ( Selamat hari natal selamat hari natal dan tahun baru).

Itulah musik yang mengalun dari hand phone si bapak saat khotbah sedang berlangsung di masjid raya Batam. Hal seperti ini bukan hanya di masjid Raya Batam saja, di Masjidil Haram pun suara dering hand phone sering terdengar dari jamaah haji asal Indonesia yang mengalunkan nada musik nasrani seperti silent night, jingle bells. Dering musik ini adalah memang terdapat di nada dering hand phone Nokia.

Aku yakin si bapak tak tahu nada apa yang ada di hand phone nya, begitu juga saat di Makkah tempohari si ibu yang sedang menerima telpon pun tak tahu kalau nada dering yang ada di hand phone nya itu adalah musik lagu rohani kaum nasrani.

Setelah selesai khotbah kedua saat berdiri untuk shalat si bapak merapat ke depan berdiri di sebelah ku, aku bisikkan kepada nya bahwa dering hand phone agar di ganti saja karena nada dering yang tadi  adalah lagu nasrani.

Masjid di Aceh saat Tsunami utuh , sementara bangunan di sekliling nya rata dengan tanah.

Salah Satu Masjid di Aceh saat Tsunami terlihat masih utuh , sementara bangunan di sekeliling nya rata dengan tanah.

Baju Kaos dan Celana Jeans.

Dua orang pemuda duduk di depan ku yang satu agak gondrong rambutnya, berbaju kaos warna hijau lumut yang seorang lagi berbaju kaos warna putih perawakan nya agak gemuk. Kedua pemuda itu memakai celana jeans.

Saat shalat tahyatul masjid si baju hijau sewaktu sujud  tangan nya kebelakang menarik kaos nya yang tersingkap kelihatannya dia berusaha menutupi punggung nya yang terbuka.

Bukan punggung nya saja yang kelihatan tetapi belahan pantatnya pun terlihat saat dia rukuk apalagi sewaktu sujud. Si kaos putih tak lebih kurang malah lebih parah karena perutnya lebih besar dari si baju hijau.

Celana jeans yang dipakai kedua orang pemuda yang masih mau shalat jumat ini adalah model terbaru agaknya karena pinggang celana kedua nya agak jauh dibawah pusat, memang ketika berdiri belahan pantat tertutup.

Mereka berdua persis duduk di depan ku setelah selesai shalat tahyatul masjid, kotak sumbangan yg kedua kebetulan  lewat di depan ku tutupkan ke pantat  si baju putih , karena terlihat terus oleh ku belahan pantatnya walaupun sesekali dia berusaha menutupi dengan menarik kaos nya.

Di barisan depan pun yang masih terlihat oleh ku ada beberapa orang yang duduk belahan pantat nya terbuka.

Saat berdiri hendak shalat ku bisikkan lagi ke kedua pemuda tadi batas aurat lelaki, bagaimana menurut mu kalau sedang shalat belahan pantat nya kelihatan. Mereka tersenyum , mereka sebenar nya pun tahu, kalau tak tahu tak lah tangannya merengkuh kebelakang berusaha menarik kaos yang memang pendek itu untuk menutupi punggung dan pantatnya yang terlihat.

Seperti kata Saufi dari Singapura:

imbalo iman sakti: menurut fi bagaimana?
Muhammad Saufi: rame skali
imbalo iman sakti: maksudnya?
Muhammad Saufi: kalo berpakaian itu sperti nya asal tutup aurat udah
Muhammad Saufi: gitu aja
imbalo iman sakti: batal tak shalat nya?
Muhammad Saufi: maksod bpk??

Muhammad Saufi: kalao ikot hukum g batal
imbalo iman sakti: kalau dia sujud belahan pantatnya tertampak?
Muhammad Saufi: kebykkan g nampak
imbalo iman sakti: kalau nampak?
Muhammad Saufi: kalo kelmarin sperti saya bisa nmpk kalo g di masokkan ke dlm jeannya
imbalo iman sakti: terus
Muhammad Saufi: terusnya gmana??
Muhammad Saufi: iya kan kaos nya di msk kan dlm jeans nya
Muhammad Saufi: kalo rukuk ato sujud g kelihatan
imbalo iman sakti: kaos nya tersibak saat sujud
Muhammad Saufi: sibak apa pak?? ngak ngerti
imbalo iman sakti: terbuka karena tersingkap
imbalo iman sakti: tertarik ke atas
Muhammad Saufi: g terbuka
Muhammad Saufi: kalao di masok ke dlm jeans dia terikat
imbalo iman sakti: di singapura banyak pemuda yg shalat jumat pakai macam tu
Muhammad Saufi: iya
Muhammad Saufi: baru2 ini g rame yg berpakaian gitu
Muhammad Saufi: kerna mereka dari skola
imbalo iman sakti: saufi pernah tengok yang dia orang tak masukkan ke dalam jeans ?
Muhammad Saufi: dari skola langsung ke masjid dgn ragam skola
Muhammad Saufi: g pernah biasanya mereka masok kan
Muhammad Saufi: sperti kelmarin saya masokkan ke dlm jeans sblom solat
imbalo iman sakti: tapi pak sering tengok yang mereka tak masukkan dan tersibak sehingga belahan pantat dia orang ternampak
Muhammad Saufi: ana g sadar
Muhammad Saufi: kerna ana g sperti bpk yg sering melihat
Muhammad Saufi sedang mengetik pesan.
Muhammad Saufi: bahasa english nya observant
imbalo iman sakti: macam mana pak tak tengok dia orang duduk depan bapak

%d blogger menyukai ini: