Catatan Perjalanan dari Makassar: Mengunjungi Masjid Amirul Mukminin Masjid Terapung di Makassar


SONY DSC

SONY DSC

MAKASSAR — Mengunjungi Makassar dari Batam, naik pesawat terbang lebih mahal ketimbang melalui Kuala Lumpur.
Kesempatan mengikuti Muktamar Muhammadiyah ke 47, Buletin Jumat (BJ) berangkat dari Kuala Lumpur bersama delegasi dari Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam. Tiba di bandara Hasanuddin kota Anging Mamiri itu, kami dibawa langsung ke Hotel Aryaduta. Lokasi Hotel ini persis didepan Pantai Losari.
Cukup letih juga bagi BJ, perjalanan dari Batam naik ferry terakhir, ke Stulang Laut ke JB central, darisitu BJ naik kereta api malam ke KL central dengan tiket seharga 39 RM. Kemudian berangkat pukul 23.00 tiba pukul 07.00 pagi. Turun dari tingkat tiga terminal, kelantai dasar bus jurusan ke KLIA2 tiket bus 11 RM.
Shalat subuh di dalam kereta api, sambil duduk di tempat tidur, karena tidak dapat berdiri. Mandi setelah tiba di KLIA2, di terminal keberangka tan, pengelola menyediakan tempat mandi bagi para penumpang Air Asia.
Penerbangan dari KL ke Makassar sekitar tiga jam, pulau pulau kecil, dengan air yang jernih terlihat indah dari udara sesaat hendak mendarat di lapangan Hasanuddin.
Pantai Losari, salah satu pantai tujuan wisata di teluk Makassar, mulai petang hingga larut malam, pantai ini tak henti hentinya di datangi para pengunjung, sepanjang lebih dua kilometer pinggiran pantai ini dipadati penjual pisang bakar.
Masjid Asmal Husna
Makassar tidak hanya terkenal dengan wisata kulinernya saja jelas Walikota Makassar. “Di Makassar ba nyak makanan khas dan memakannya disesuaikan berdasarkan waktu. Jam 7 pagi di Makassa kita bisa menikmati songkolo, jam 8 hingga jam 10 pagi Nasi Kuning, dan jam 13.00 hingga 15.00 waktunya menikmati coto Makassar” Ujar Danny nama akrab walikota Makassar ini di tempat kediaman pribadinya, rumah cukup luas bisa menampung ratusan orang memiliki lapangan oleh raga sendiri. Para tamu juga disuguhi makanan khas Makassar seperti Bikangdoang, Sanggara Unti dan Lame Kayu, dan minuman khas dari jahe Sarabba.

SONY DSC

SONY DSC

Banyak landmark menarik yang bisa dilihat di kota ini. Salah satunya adalah Masjid Terapung di Pantai Losari.
Kalau Jedah memiliki masjid Ar-Rahmah yang dikenal oleh jemaah haji Indonesia sebagai masjid terapung. Di Makasar pun kita bisa menemukan mesjid terapung yang indah dan unik. Sebetulnya mesjid terapung di Makassar itu bernama Masjid Amirul Mukminin. Tetapi sang walikota penerus pembanguan ide walikota sebelumnya menjelaskan bahwa kubah diameter sekitar 9 meter dua buah berdampingan dan tangga menuju ke lantai tiganya membentuk angka 99 melambangkan asmaul husna. “Bila dilihat dari atas dua buah kubah dan tangga membentuk angka 99, melambangkan asmaul khusna” ujar walikota Makassar yang ber-ibu Aisyiah dan ber-bapa dari ormas NU.
Hal yang belum pernah diungkapkan oleh walikota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto ke publik, saat menjamu rom bongan Muktamar Muhammadiyah dikediaman beliau
Mesjid ini terletak di teluk Makassar atau di pantai Losari. Karena Mesjid dengan arsitektur modern ini memang dibuat di bibir pantai dengan pondasi cukup tinggi, maka dalam keadaan air pasang terlihat seperti terapung di laut.
Mesjid indah di pinggir pantai losari itu dibalut warna putih yang dominan dan abu-abu serta juga dilengkapi menara yang tinggi menjulang sekitar 16 meter, menambah keanggunan mesjid tersebut. Kala itu Mesjid ini diresmikan oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla pada 21 Desember 2012 silam.
Meskipun kelihatannya mesjid ini tidak terlalu luas, namun ternyata, mampu menampung sekitar 400 sampai 500 jamaah. Suasana di dalam Masjid ini terasa nyaman walaupun lokasinya berada di daerah terik. Didisain terbuka sehingga angin laut bisa masuk dengan bebas, dari jendela jendela yang terbuka.
Di bawah kubah itu, pengunjung da pat menggunakannya untuk beribadah sambil menikmati keindahan pantai Losari dan daerah sekitarnya . Apalagi sambil menunggu matahari terbenam kita bisa naik ke bagian atas, menikmati suara deburan ombak. Angin yang bertiup cukup kencang dan menunggu matahari terbenam. Indah sekali. Dan yang paling penting shalat magrib tidak sampai tertinggal. Banyak tepi pantai tidak memiliki sarana tempat beribadah. Konsep pantai memiliki masjid, ide walikota Makassar ini perlu di tiru.
Pelataran dan jembatan yang luas bisa menjadi tempat untuk berfoto ria mengabadikan keindahan mesjid terapung di pantai Losari ini sambil menikmati hidangan khas Makassar, pisang epek.
Sepanjang jalan kiloan meter tidak di pungut parkir untuk semua jenis kenderaan, orang berjualan angkringan pun tidak ditarik retribusi. Pantes kota Makassar acap menerima penghargaan, dan tertata baik dikelola oleh Walikota berlatar arsitek ini. (imbalo)

Sekelumit Kisah Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Johor Malaysia di Singapura


Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Johor Malaysia di Singapur

Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Johor Malaysia di Singapur

Semula Buletin Jumat (BJ) hendak shalat Jumat (27/12/2013) di Masjid Sul tan Singapura, karena ferry Wave Master berangkat terlambat dari Batam, tiba di Harbourfront Singapura waktu shalat jumat sudah masuk.

Antrian cukup panjang di counter Imigrasi, nyaris semua penumpang bermata sipit. Selesai saja papsort di chop,BJ bergegas ke Jalan Te luk Belanga. Ada sebuah masjid disitu Te menggung Daeng Ibrahim namanya, jalan Teluk Belanga tidak jauh dari terminal ferry, berjalan kaki sekitar 10 menit, sudah termasuk menungu lampu penyeberangan, jadi cukup dekat.

Saat itu cuaca mendung, gerimis terkadang turun. Jamaah membludak, pantas, karena memang itulah masjid yang ada disekitar pelabuhan, ironisnya lagi masjid itu bukan milik Singapura.  Jamaah terus berdatangan, Khatib membacakan khotbahnya, di khotbah kedua ada terdengar bacaan doa untuk keluarga Sultan. Dan sebagaimana kata Imam Hanafi, Masjid yang terletak di jalan Teluk Belanga ini lokasi tanah dan bangunan masjidnya itu memang milik Kerajaan Negeri Johor Darul Takzim Malaysia, dan hal itu ditandai dengan adanya bendera Negeri Johor didepan halaman masjid.

JKR nomor plat Johor

JKR nomor plat Johor

Bersama  Imam Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Teluk Belanga

Bersama Imam Masjid Temenggong Daeng Ibrahim Teluk Belanga

Khatib, Imam dan pengurus masjid semuanya berasal dari Johor Malaysia. Ada yang pulang hari, ada yang bermukim. Dua tahun lepas, kalau naik kereta api dari Johor, kita bisa turun persis di dekat masjid, karena disitu terminal terakhir Kereta Api Tanah Melayu (KTM), tetapi sejak lokasi tanah KTM milik Malaysia ini “diambil alih” oleh Singapura, KTM tak berfungsi lagi di Singapura, hanya sampai Woodland saja, perlakuan khusus terhadap passport pun berbeda. Kalau naik bis, turun di Bugis street. Tetapi jumat ketika BJ shalat disana, ada mobil (kereta) warna hitam yg membawa khatib dan imam keluar dari lokasi masjid.

Komplek Makam di Areal Masjid

Komplek Makam di Areal Masjid

Bangunan station KT M, masih di biarkan seperti dulu belum di bong kar, ada beberapa kelompok pekerja sedang memperbaiki sisi bangunan. Cat bangunan terlihat kusam, tetapi lapangannya bersih terawat. Bangunan ini mungkin akan dijadikan Museum saja, bukan karena di perlukan tanahnya, lha bayangkan saja, Malaysia bisa begitu jauh masuk mengintervensi sampai ke Teluk Belanga dari Woodland sana, berapa luas pula lokasi tanah yang terpakai, yang dilalui KTM, mulai dari Woodland ke station terakhir di Teluk Belanga.

Bekas stasiun kereta api tanah melayu (KTM) tak jauh dari Masjid

Bekas stasiun kereta api tanah melayu (KTM) tak jauh dari Masjid

Demikian juga dengan bangunan masjid, selama pelaksaan shalat jumat berlangsung, terdengar terus bunyi mesin alat-alat kerja, pekerja sedang merenovasi kamar mandi/wc. Tetapi bangunan induk masjid yang sudah tak muat lagi menampung jamaahnya ini, tak kunjung jua direnovasi. Menurut Imam masjid, sudah lama terdengar rencana akan diper luas, tetapi tekendala izin dari peme rintah Singapura. Sang Imam hanya tersenyum saat BJ menanyakan barangkali saja pemerintah Singapura pun ingin menguasai lokasi tanah masjid. Dan membangun yang lebih besar dan bagus?

tak ada lapangan parkir

tak ada lapangan parkir

Singapura dulu bernama Temasik, sejak dulu pula Negara Pulau ini bagian dari Negeri Johor, itulah sebabnya hingga kini banyak tempat di Singapura lokasi tanahnya masih milik Negeri Johor. Perlahan, lokasi tanah-tanah itu beralih kepemilikan, seperti lokasi pemakaman luas yang ada di Singapura.

Tetapi semua lokasi itu tidak terlalu memiliki nilai stategis dan politis seperti lokasi jalur KTM. Apa iya?, seorang jamaah tersenyum penuh arti. (***)

Mengunjungi Masjid Masjid Bersejarah di Medan


Catatan Perjalanan Mengunjungi Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau

SELEPAS shalat Jumat (22/11) di Masjid Raya Batam Center , Buletin Jumat (BJ) berangkat ke Medan dengan Lion Air pukul 14.45 wibb, tiba di Bandara Kuala Namu hari telah menjelang petang. Bandara baru ini sedang berbenah, terlihat disana sini pekerja .

Damri dari Kuala Namu - Medan

Damri dari Kuala Namu – Medan

Dari Bandara Kuala Namu ke kota sekitar 39 kilometer, cukup jauh bila dibandingkan lapangan terbang yang lama Polonia. Keluar saja dari ruang kedatangan Bandara ini, disebelah kanan tertulis Bus dan Taxi. Naik Bus Damri ke Simpang Amplas tarifnya 20 ribu rupiah, ada dua tempat tujuan hendak ke Medan satu lagi turun di Careefour.
Naik Taxi, masih seperti biasa hampir diseluruh bandara yang punya taxi, bisa nego maupun dengan argo. Banyak taxi liar menawarkan harga miring dari tariff taxi resmi. Mobil sejenis avanza misalnya, cukup 80 ribu rupiah diantar ketempat.

Ada juga Bus ALS , Bus ini langsung ke kota Binjai Kabupaten Langkat. Naik Kereta Api , dari Bandara kedua terbesar di Indonesia ini, ongkosnya 80 ribu rupiah, Kereta Api hanya tiga kali sehari. Untuk menghindari macet, satu lagi moda transportasi dari Bandara yang baru diresmikan 25 Juli 2013 yang lalu itu adalah speda motor “ojek” .

Masjid – Masjid Bersejarah
BJ, berkesempatan mengunjungi Masjid bersejarah, yaitu satu tempat tujuan orang datang ke Medan, namanya Masjid Raya Medan, masjid ini mulai dibangun pada tahun 1906 semasa Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli . Masjid yang terletak di Jalan Sisingamangaraja XII ini, Sultan memang sengaja membangun mesjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun.

Masjid Raya Medan

Masjid Raya Medan

Persis di depan Masjid yang juga bernama Al Mashun ini, berdiri sebuah Hotel Madani. Hotel ini pun menjadi tempat tujuan wisatawan terutama dari Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Hotel Madani Medan

Hotel Madani Medan

Masjid Raya Stabat Kabupaten Langkat

Masjid Raya Stabat Kabupaten Langkat

Sekitar 60 kilometer dari Medan arah ke Timur, terdapat sebuah masjid bersejarah juga. Yaitu Masjid Azizi. Dengan bersepada motor dari Medan sekitar 1, – 2 jam saja lamanya. Sebelum sampai ke Lankat, Tanjung Pura, BJ mampir sejenak di dekat Jembatan Sungai Wampu, Persis di pinggir Jembatan itu ada sebuah masjid , namanya masjid Stabat.

Masjid Azizi Langkat Tanjung Pura

Masjid Azizi Langkat Tanjung Pura

Stabat kini menjadi ibukota Kabupaten Langkat.
Belum lagi masuk waktu Juhur, BJ lanjutkan perjalanan setelah menghilangkan rasa dahaga dengan segelas cendol yang dijual dihalaman masjid Stabat itu.
BJ, Masih sempat shalat Juhur berjamaah di Masjid Azizi, Masjid  ini adalah masjid peninggalan Kesultanan Langkat yang berada di kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang merupakan ibukota kesultanan Langkat di masa lalu.

Masjid ini terletak di tepi jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Medan dengan Banda Aceh. Mulai dibangun oleh Sultan Langkat Haji Musa pada tahun 1899, selesai dan diresmikan oleh putra beliau, Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah pada tahun 1902.
Keindahan Masjid Azizi ini kemudian dijadikan rujukan pembangunan Masjid Zahir di Kedah Malaysia  hingga kedua masjid tersebut memiliki kemiripan satu dengan yang lain.
Kubah masjid dua Kesultanan Deli dan Kesultanan langkat ini pun mirip.

Pusara Tengku Amir Hamzah Putra Langkat , Pahlawan Nasional

Pusara Tengku Amir Hamzah Putra Langkat , Pahlawan Nasional

BJ, berkesempatan ziarah ke pusara yang ada di halaman depan masjid Azizi. Di komplek makam itu terbaring jasad seorang Pahlawan Nasional yang bernama Tengku Amir Hamzah. Beliau dikenal dengan Sastrawan Pujangga Baru. (***)

Pemukiman Islam di Quiapo Manila


Catatan Perjalanan

Imbalo Iman Sakti
– Filipina –

SONY DSC
Pagi itu selepas sarapan, kami menuju satu pemuki man Islam di Quiapo. Dengan taxi dari Hotel di Makati ke Quiapo sebesar 160.00 peso.

Kontras sekali suasa di Makati dengan di Quiapo meskipun masih di kawasan Manila city. Makati adalah daerah elit di Metro Manila, gedung pencakar langit hampir berada semua disitu, sementara Quiapo adalah kota lama, pasarnya penuh dengan gelandangan, pengemis, jalanan macet.

Dibagian lain kota Quiapo, ba nyak bangunan lama peningga lan Spanyol masih berdiri kukuh, sebagian tua dimakan usia dan ti dak terawat. Sebuah Gereja Kato lik paling pertama di Manila ada di Quiapo. Gereja ratusan tahun itu masih terawat dengan baik. Gereja itu dibangun oleh Spanyol, saat negeri Fi Amanillah – kini Manila- di taklukkan oleh Spanyol. Saat Spanyol menjajah Manila, populasi muslim 98 persen, Dulu sebelum dijajah Manila adalah kerajaan Islam dibawah Sultan Sulaiman.

Spanyol menghancurkan selu ruh bangunan yang berbau Islam, bayangkan dari 98 persen dulu nya, kini agama Islam diseluruh Filipina hanya sekitar 5 persen saja lagi, itupun mayo ritas berada di Selatan. Umat Islam yang dari Selatan inilah bermi grasi ke Utara, setelah Amerika mengam bil alih kekuasaan di Filipina.

Geliat Islam mulai terlihat sejak tahun 1964, Pemukiman Islam di Quiapo ini termasuk yang perta ma ada, pemukiman ini, bersebe lahan dengan lokasi gereja katolik yang pertama kali dibangun oleh Spanyol tadi. Tidak sulit untuk menemukan pemukiman Islam ini, nyaris semua taxi tahu. sebut saja masjid kubah emas.

Memasuki pemukiman muslim di Quiapo, kita akan melalui pintu gerbang besar, ada pelang nama nya tertulis Muslim Town. Yang menarik, semua perempuan saat masuk melewati pintu gerbang menuju pemukiman itu, bersegara memakai kerudung, meskipun mengenakannya sekedarnya saja. Demikian pula bila hendak masuk ke areal masjid.

Masjid Kubah Emas dibangun oleh pemerintah Filipina, sesaat Presiden Muammar Kadafi hendak berkunjung ke Manila. Halamannya menjadi akses jalan keluar masuk ke pemukiman penduduk yang ada di samping dan belakang masjid. Jadi ada pintu gerbang besar menu tup jalan itu, pintu itu bisa dilalui kenderaan roda empat dan selalu tertutup. Membludaknya jamaah masjid terutama saat shalat jumat, jalan itu pun terkadang terpakai untuk jamaah.

Ada pintu kecil semuat orang untuk lalu lalang, disitu ada kotak sumbangan, ada security berjaga, dan dipintu itupun akan terlihat kalau ada perempuan yang tidak memakai tutup kepala berlalu.

Tak ada data pasti berapa popu lasi umat Islam sekarang yang bera da di Quiapo, puluhan ribu banyaknya. Urbanisasi, terutama dari selatan ke utara menjadi penduduk tak terdata. Ramai diantara penduduk urban itu menjadi pekerja disektor pernia gaan. Ada pemilik hotel, resto ran, Super maket.

Hebatnya lagi, bahkan diselu ruh Mall yang ada di Metro Manila, yang dikunjungi Buletin Jumat, terdapat masjid dan mushalah. Karena disektor retil ini pun banyak pekerja muslim nya, terlihat dari cara berpakaian nya, wanitanya berkerudung.

Beberapa masjid itu sengaja kami kunjungi, disamping bersila turahmi, kami juga memberitahu kan kepada pengurus jamaah disitu, bahwa di Batam ada Ma had yang dapat menerima pelajar dari Filipina untuk belajar bahasa Arab dan study Islam, selama dua tahun dan tidak berbayar.

Tengah hari selepas shalat jamak dan qashar kami kembali ke hotel di Makati city. Karena harus mengikuti acara lainnya. Kalau tadi dari Makati ke Quiapo hanya sebesar 160.00 peso, sampai di depan Hotel di Makati tempat kami menginap, argo meter menunjukkan 330.000 peso. Itulah kalau naik taxi di Manila. Padahal dengan jarak yang nyaris sama. (bersambung)

Kisah Mustafa Belajar Islam di Indonesia


FotoNamanya Mustafa (22), berasal dari Provinsi Tay Nhin Vietnam, Senin (18/3/2013) yang lalu, Mustafa mengunjungi Buletin Jumat (BJ). Mustafa tidak sendi rian, berdua dengan Umar asal Provinsi Chau Doc.

BJ, pernah berkunjung ke kedua Provinsi yang berbatasan dengan Kamboja itu. Tay Nhin Vietnam, hanya berbatasan ladang ubi singkong dengan Provinsi Kampung Cham di Kamboja. Sementara dari Chau Doc Vietnam, naik ferry menyu suri anak sungai Mekong sekitar 3 jam sampailah di Ibukota Kamboja Phnom Phen.

Di kedua porvinsi itu ramai umat Islam, tidak ada data resmi dari pemerintah Vietnam, berapa jumlah persisnya. Di Tay Nhin ada 7 buah masjid. Ketujuh masjid itu pernah dikunjungi BJ. Ada madrasah, tetapi tidak ada ustad yang mengajar.

Di Chau Doc, puluhan jumlah masjid berdiri, puluhan ribu penduduk muslimnya. Ada beberapa madrasah, kesitulah Mustafa kecil belajar agama Islam. Madrasah, yang dikelolah oleh ustad Umar.

Jauh perjalanan dari Tay Nhin ke Chau Doc naik Bus ditempuh selama satu malam. Kalau dari Saigon (Ho Chi Min) ke Tay Nhin naik Bus 5 jam.
Senang sekali Mustafa saat seseorang yang berasal dari Indonesia mengajaknya ke Indonesia, untuk belajar Islam ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu Mustafa berusia 15 tahun. Untuk memperlancar bahasa Indonesia nya , selama setahun tinggal di Indonesia Mustafa hanya belajar hafalan Alquran saja. Barulah tahun kedua Mustafa belajar lain lain pelajaran.

Dasar Mustafa memang ingin memperdalam ke-Islamannya, dan niatnya setelah pulang nanti ke Tay Nhin akan mengajar di kampungnya.Tentulah Dia ingin belajar ilmu ke-islaman sebanyak banyaknya. Bukan hanay belajar Hadist belaka. Tetapi apa lacur, di pondok tempat dia belajar tidak diperbolehkan belajar dari kitab atau buku yang bukan terbitan atau yang dikeluarkan oleh lembaga tempat dia belajar.Foto

Hal itu pernah ditanyakan Mustafa kepada ustad yang mengajar di ponpesnya. Mustafa dinasihati dan dingatkan bahwa dia tidak boleh was-was. Kalau dia was-was, bisa terkeluar dari Jamaah kalau sudah keluar dari Jamaah, terkeluar pula dari Islam.

Sejak itu, hati Mustafa selalu bertanya-tanya, dan memang was-was, kesempatan ada, saat membu ka internet, Mustafa menemukan jawabannya. Dia ingin pulang segera, tetapi tidak punya uang sebesar 3.000 US Dollar. yang harus dibayarkan sebagai denda?

Enam tahun lamanya dia di pondok dan lembaga yang lebih fokus kepada pembahasan hadist itu, Kini Mustafa sudah bebas, “Saya takut sekali saat disana, kan di negeri orang.” ujar Mustafa lugu, agak terdengar medok bahasa Jawanya. Maklum beberapa lama ada pengabdian jadi dai, Mustafa harus tinggal di beberapa daerah di Jawa Timur.

Siang tadi (20/3) Mustafa mengi rimkan sms kepada BJ, setelah dari Singapura, Mustafa akan ke Tay Nhin dahulu, memberitahu kan kepada kawan-kawannya agar tidak seperti Dia. Terjebak?.

Info Halal : Selanjutnya Terserah Anda


Makanan halal menjadi tidak halal, ada beberapa faktor penyebabnya. Seperti masakan laut (seafood) misalnya, makanan yang sangat banyak penggemarnya ini, menjadi tidak halal apabila bumbu masak nya terbuat dari yang tidak halal.

Hampir semua masakan laut menggunakan saus, tidak afdol masakan itu tanpa saus. Apa lacur kalau saus digunakan dari barang yang tidak mempunyai sertifikat Halal?.
Seperti penuturan Herman (65) : “Kalau kami ganti sausnya dengan yang lain, langganan kami sudah terbiasa dengan saus yang itu” Ujar Herman pengelola Restoran Dju Dju Baru, sembari mengangkat sebuah botol tanpa label, berisi cairan bening dan kental.
Restoran Dju Dju Baru berada di seputaran Nagoya, Buletin Jumat (BJ) berkunjung ke Restoran itu kemarin, selasa (26/02). Adalah Ibu Yanti dari Telaga Punggur bertanya kepa da BJ tentang ke-halalan masa kan di Restoran itu.
“Restoran ini sudah 18 tahun, sejak kami dibelakang Hotel Harmoni” ujar Herman. “Tidak ada masaalah, tanpa sertifikat halal, langganan kami tetap ramai” Tambahnya lagi.
“Kalau ada sertifikat Halal, nanti kami tak boleh jual Beer, tak boleh ini tak boleh itu, banyak aturan” Jelasnya lagi. Herman pun menjelaskan kalau Restorannya tidak menjual Daging Babi. “Yang Jual Babi di Restoran Dju Dju satu lagi.” Ujar Herman.
Tidak berapa jauh dari Restoran Dju Dju Baru, persis disamping Hotel Dju Dju ada sebuah Restoran bernama Dju Dju, tanpa kata Baru, pengelola nya masih kerabat Herman.

Haram bukan karena unsur babi saja

Jadi, menurut sebagian orang, Halal itu cukup tidak ada babi. Sebagaimana pernyataan Herman. Menurut Herman tetamunya yang dari luar negeri selalu minta Beer, itulah sebab nya Restoran menyediakan minuman beralkohol itu.
Kalau tetamu dari dalam, jarang yang minta Beer. “Banyak juga tamu dari orang pemerintahan.” Ujar Herman lagi sambil terse nyum. Bahkan mantan orang nomor satu di Kepri ini pun acap makan di Restoran itu.
Semua mereka Muslim. “Kalau mereka datang lantai dua itu penuh, muat 50 orang” ujar Herman , matanya menga rah ke lantai dua Restoran itu.

Tidak Melanggar UU Perlindungan Konsumen

Kita tidak bisa memaksa Herman harus mengurus serti fikat Halal untuk Restorannya, tanpa itu pun pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Herman pun tak henti-henti nya menerima pembayaran uang dari pembeli selama kami berbincang.
“Sabar ya pak, Sabar ya pak, jangan tulis seperti itu. Nanti terdengar kasar, agak lembut sedikit.” ujar Herman kepada BJ. Sesaat BJ hendak meninggalkan Restoran itu.
Apa yang dikatakan Herman adalah benar, disisi Undang Un dang Perlindungan Konsumen, karena Restoran Dju Dju Baru tidak melanggar Undang-Undang. Herman tidak menyata kan Halal Restorannya :”Terse rah mau makan disini atau tidak, karena saya akan tetap menjual Beer dan menggunakan saus dan bumbu yang sama”.
Jadi terpulanglah kepada kita sebagai Muslim, peminat makanan laut yang masih peduli dengan halal dan haram. Kami anjurkan belilah dan konsumsilah makanan di tempat yang sudah berser tifikat Halal.

Info Halal Disekitar Kita : Resto Kediri Batam


Terhitung awal Januari 2013, Sertifikatnya tidak berlaku lagi.    (poto:viky)

Terhitung awal Januari 2013, Sertifikatnya tidak berlaku lagi. (poto:viky)


Dalam situs resmi LP POM MUI Kepri, Resto Kediri, yang terletak di Batam Center, dekat Masjid Raya Batam ini, tidak lagi memperpanjang Sertifikat Halalnya.

“Kami tidak lagi bertanggung jawab atas kehalalan Resto Kediri” Ujar Tengku Azhari Abbas. Menurut Ketua MUI Kepri ini, pernah saat sidak, ditemukan daging yang tidak mempunyai sertifikat halal.

Salah satu restoran di termina ferry Batam Center yang  memiliki sertifikat halal (poto:imbalo)

Salah satu restoran di termina ferry Batam Center yang
memiliki sertifikat halal (poto:imbalo)


Banyak masayarakat bertanya-tanya,seperti ibu Yanti dari Telaga Punggur misalnya. Kepala Sekolah Islam berbasis pesanteren ini sering mengajak tamunya makan disitu. “Saya sering mengajak tamu saya makan disitu, dan juga makan di Dju Dju serta di Yong Kee” ujar Ibu paro baya ini dalam kesempatan bertemu di masjid Jabal Arafah saat acara Maulid nabi pekan lalu.

Pekan lalu, Buletin Jumat (BJ) berkesampatan mengunjungi Restoran yang juga dijadikan tempat Ibadah jamaah GEMINDO itu. Terlihat tanda halal yang tidak standar masih tercantum di papan nama Resto, yang terdiri dari tiga lantai itu. Dan tercantum juga tahun mendapatkan sertifikat Halal, yaitu sejak tahun 2003, ditu tup dengan lakban.

Kasir yang kami temui tidak dapat menjelaskan mengapa mereka tidak memperpanjang sertifikat Halalnya. “Bukan wewenang saya, saya hanya pekerja” ujar kasir Resto itu sembari memberi nomor telepon yang harus dihubungi.

Restoran ini belum mendapat sertifikat Halal, karena bumbu masaknya, diragukan kehalalannya. (poto:viky)

Restoran ini belum mendapat sertifikat Halal, karena bumbu masaknya, diragukan kehalalannya. (poto:viky)


Cukup lama juga Resto itu beroperasi, “Dulu lumayan ramai pengunjungnya, belakangan ini terasa berat untuk biaya operasi” Ujar M Munip, Munip katanya mewakili perusahaan, saat menghubungi BJ.

Munip pun menjelaskan sepinya pengunjung Resto itu, sangat berpengaruh dengan akses jalan.
“Kami bukan tidak mau memperpanjang sertifikat halal, tetapi sedang konsentrasi dan fokus mengurus kepindahan Resto ke Winsor, sebelah Lachosta. Tulis M Munip lagi dalam sms kepada BJ. “Tiga bulan lagi selesai” tambahnya.

Sementara Restoran Yong Kee, belum mendapatkan Halal, karena bumbu masaknya ada yang tidak halal. Informasi ini kami dapatkan dari LPPOM MUI juga, dan Rdiwan bekas koki yang sudah lima tahun bekerja di Restoran makanan laut itu juga membenarkan.

Di terminal Ferry Pelabuhan Batam Center, kamai sarankan makan minumlah di tempat yang ada logo halalnya. Logo Halal yang dikeluarkan oleh LP POM MUI itu jelas terpampang di sebelah Depan. Kalau belum dan tidak ada logo Halalnya hindari lah.

%d blogger menyukai ini: