Muslim Burma Yang Tertindas


Chek Point Kaw Thoung (baca Kok Song) Burma.

Chek Point Kaw Thoung (baca Kok Song) Burma.

Mengharapkan adanya perubahan, setelah pemilihan umum yang diadakan oleh Junta Militer di Myanmar (Burma) Nopember 2010 lalu,  masih jauh dari kenyataan. Pemerintaan Junta itu masih tetap berkuasa, protes dari dewan PBB nyaris tak di gubris.

Puluhan ribu umat muslim Rohingya masih hidup di dalam kamp pengungsian yang sudah tidak layak huni. Mereka tinggal di gubuk yang hanya dibangun dari bambu  dan lembaran plastik . Sekarang beberapa gubuk itu telah hancur sepenuhnya dan para pengungsi khawatir dengan kehidupan mereka, mereka tidak lagi bisa tidur di malam hari . Salah satu kamp itu bernama Kamp Lada.

Beberapa kali kami mengunjungi Burma atau kini Myanmar , Negara Junta militer ini meskipun termasuk ke dalam Negara Asean, WNI yang mengunjungi Negara itu dikenakan biaya masuk.

Dari kota Mae Sai di Provinsi Chiang Rai Thailand misalnya, hanya berbatasan anak sungai Mekong, kita menyeberangi jembatan berjalan kaki beberapa meter, telah sampai di di kota Ta Chi lek  Burma. Untuk  masuk ke kota yang banyak di huni oleh muslim itu, kita sebagai WNI dikenakan biaya sebesar 25 US dollar.  Hanya boleh berada di dalam kota saja, karena paspor di tahan dan sebagai penggantinya, pihak imigarasi setempat memberikan selembar kertas photo copi-an, sebagai dokumen yang harus dibawa dan ditukar  nantinya setelah kita kembali ke Thailand.

Di Mae Sai  Thailand, banyak terdapat orang Myanmar keturunan Rohingya,  mereka dapat bertutur bahasa yang sama yaitu bahasa Siam.

Di Malaysia, puluhan ribu pengungsi muslim Rohingya, tak jelas status kewarganegaraannya. Karena  pemerintah Junta Militer ini tak mengakui mereka sebagai rakyat Burma. Di Indonesai, selain di Aceh , di Batam pun sering “terdampar”  pengungsi dari Negara yang sudah 20 tahunan ini dikuasai militer. Sebagian dari mereka hendak mencari suaka ke Australia.

Thailand  dan Myanmar,  mulai dari Laut Andaman berbatasan dengan semenanjung Malaysia, hingga ke Utara (Laos), kedua Negara ini berbatasan. Jadi tak heran ratusan ribu rakyat Myanmar terutama Muslim , yang memang hidupnya tertekan sejak Junta memerintah banyak yang hengkang ke Negara Gajah Putih itu. Tidak ada data pasti, bisa jadi jutaan mereka yang mempertahan kan hidupnya , mencari makan di Thailand. Mereka menetap  disepanjang perbatasan.

Selain Mae Sai Thailand – Ta Chi Lek Burma, pintu masuk  resmi antara Thailand dan Myanmar adalah Ra Nong – Kaw Thoung  (baca Kok Song). Untuk ke Kok Song kita harus naik perahu motor mengharungi selat Andaman dengan pen jagaan yang sangat ketat.

Di pintu masuk, pihak imigrasi Burma yang hanya berbaju singlet itu, membubuhkan stempel di paspor berlambang burung Garuda milikku, tertulis selama 7 hari,  dan harus membayar 25 US Dollar. Di tambah catatan aku tidak boleh pergi lebih jauh dari 3 kilometer. Hem … berani keluar kota resiko tanggung sendiri bila di tangkap polisi. Susah membedakan yang mana petugas dan yang mana mata-mata di sana.

Di Kok Song , banyak terdapat masjid, tak terdata berapa jumlah muslim disana yang masih berthan. Sama nasibnya dengan kamp pengungsian , masjid-masjid yang ada di Kok Song pun nyaris rubuh, karena untuk memperbaiki masjid masjid itu harus terlebih dahulu mendapat izin dari pemerintah Junta. Dan izin itu hingga kini tak pernah diberikan. Saat kami shalat di masjid, hari sedang hujan, puluhan ember plastik, ikut “berjamaah “ bersama kami, menampung air hujan.

xpdc Muhammadiyah International ke Kaw Thoung Myanmar

xpdc Muhammadiyah International ke Kaw Thoung Myanmar

Kami terus di awasi, meskipun sudah harus menginap di Hotel sebagaimana di persyaratkan.  Padahal sebelumnya rencana kami akan menginap di sebuah madrasah  di Desa,  yang jarak nya sekitar 5 kilometer ke luar kota. Hanya itu sajalah lagi madrasah  yang agak masih utuh yang ada di Kok Song. Itupun setelah pengelola , mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mendapatkan izin merenovasi bangunannya.

Di Arakan Utara, Muslim Rohingya juga menghadapi masalah dalam mata pencaharian mereka karena berbagai batasan yang diberlakukan otoritas, menurut salah seorang politisi lokal dari Maung Daw.

“Baru-baru ini pasukan keamanan perbatasan Burma, atau Nasaka, membuat sebuah dugaan yang menghubungkan penduduk desa dengan Taliban dan menangkap beberapa penduduk desa bulan lalu.  Kebanyakan penduduk desa tidak bisa tinggal di rumah mereka.  Sebagian besar para pemimpin agama merubah pakaian mereka karena takut ditangkap.  20 orang ditangkap oleh otoritas dengan tuduhan berhubungan dengan organisasi ilegal.  Mereka akan diadili di pengadilan Maung Daw.”

Cerita tentang penderitaan para pengungsi tiada habis-habis nya.  Aung  San Suu Kyi yang tadinya diharapkan menjadi sekutu, menjadikan junta militer bertambah marah terhadap muslim.  Tak mudah bagi kaum muslim mendapatkan pekerjaan di negaranya sendiri.

Petang itu kami tinggal kan kota Kok Song menuju Phuket  Thailand , di sepanjang  jalan dengan mini bus sitter 10 orang , terlihat matahari mulai redup ke peraduan di laut Andaman. Sungguh indah dan menakjubkan. Tetapi sayang , dibawah pemandangan yang indah itu , tersimpan penderitaan rakyat Burma yang Islam.

Iklan

Mushala Kecil di Kampung Kalok Ujung Rempang Galang


Pak Amin (Budha) Yang Membangun Mushalla

lokasi mushalla yang sedang dibangun, pak Amin bercelana pendek merah.

lokasi mushalla yang sedang dibangun, pak Amin bercelana pendek merah.

 Satu lagi Pulau di sekitaran Batam kami kujungi, awal Maret 2011 yang lalu. Pulau itu bernama kampung Kalok Ujung. Luasnya sekitar 300 hektar.  Masuk wilayah kecamatan Galang, kelurahan Subang Mas. Untuk ke  Kalok Ujung ,  kita harus melalui kampung Cate Rempang, dan naik perahu motor pula, sekitar 10 menit . Waktu itu kami harus membayar tambang, sebesar 200 ribu rupiah. Lumayan mahal untuk jarak sejauh itu.

Kalok Ujung  ini termasuk kampung tua, terdiri dari dua RT dan satu RW. Di kedua – dua RT yang hanya dihuni sekitar 70 an Kepala Keluarga ini, kini kami sedang membangun dua mushala kecil. Satu mushalla di Kalok Tengah dan satu lagi di Kalok Ujung.  Pak RW saat itu masih di jabat pak Amin. “Kini RW sudah berganti” kata pak Amin

Pak Amin adalah orang Tiong Hoa. Dia adalah pak RW lama, dan Dia pula lah yang menyediakan lahan dan sekaligus membangun mushala itu. “Insyaallah akhir bulan ini mushalla itu sudah dapat di pakai” kata pak Amin kepadaku tadi pagi, kamis (21/4) melalui HP nya. “Pak Imbalo datang ya , meresmikan nya” lanjut pak Amin. Terharu aku mendengar nya.

“Di kalok Ujung ini hanya ada 10 KK yang Muslim dari 30 KK yang ada, lainnya Budha” jelas pak Amin waktu kami awal bertemu. Mulanya aku tak menyangka kalau pak Amin ini bukanlah Muslim karena begitu fasihnya dia menyebutkan Alhamdulillah, Insyaallah dan tak lupa setiap memulai pembicaraan melalui HP menyebutkan Assalamualaikum,  apalagi namanya Amin. Tampangnya pun tak mencerminkan orang Tiong Hoa.

anak - anak kampung Kalok Ujung menunggu Dai datang kesana.......

anak - anak kampung Kalok Ujung menunggu Dai datang kesana.......

Sambil tersenyum di lokasi mushala yang akan dibangun itu, aku mengatakan kepada pak Amin, setelah mushala ini selesai nantinya,  pak Amin pun bisa ikut shalat di dalam nya. “Amin “ kata Aries yang juga ikut bersama rombongan kami, menimpali. Pak Amin terlihat tersipu, “iya” kataku melanjutkan “orang Islam itu, sembahyang  paling tidak menyebut kata Amin, sebanyak 17 kali” menjelaskan kepada pak Amin.

Kampung yang sudah ada sejak jaman baheula (Belanda, Jepang) ini, jarang sekali di kunjungi, baik itu dari kalangan Budha maupun dari Islam. Itulah sebabnya , meskipun pak Amin – sejak lahirnya sudah bernama Amin – orang Budha , Dia mengharapkan selesai nya mushalla ini kelak dapat lah anak – anak kampung Kalok Ujung itu belajar mengaji dan Dia pun mengharapkan ada Dai yang akan datang kesana untuk mengajar.

Dalam kesempatan lain, pak Amin pernah mengutarakan, Ada satu kampung lagi , yang juga setua kampung Kalok ujung ini, belum ada mushalla, yaitu kampung Penurun namanya, masih dalam wilayah Kelurahan Subang Mas. “Kalau boleh, di kampung itu pun di bangun juga mushalla” kata pak Amin berharap.

“Insyallah pak Amin” kataku  . Mudah-mudahan saja ada yang membaca tulisaan ini dan tergerak hatinya untuk membangun mushalla kecil di kampung Penurun Subang Emas sebagaimana harapan pak Amin.

Kaya dan Miskin


tak apa lah banyak pertanyaan, tetapi mendapatkan fasilitas berbintan, daripada .....

tak apa lah banyak pertanyaan, tetapi mendapatkan fasilitas berbintang, daripada .....

“Kalau kita kaya, nanti banyak pertanyan di akhirat, dari mana asal harta kita, kemana saja dipergunakan, kalau miskin tak ada pertanyaan itu. Betul itu Ayah.” Tanya Azhari padaku tengah hari kemarin saat berada di Terminal Ferry Batam Center. Azhari yang satu ini acap memanggilku Ayah.

Saat itu kami sedang duduk di kedai kopi miliknya menunggu teman yang akan berangkat ke Singapura. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Karena aku bukan lah ahli agama yang dapat menjelaskan hal itu kepadanya. Melihat aku hanya tersenyum kecut, Azhari menimpali lagi sembari mencontohkan, bagaimana ribetnya urusan harta ini. “Contoh, kalau kita mau ke Singapura , bawa tas satu dengan membawa tas lima, mana yang lebih dulu selesai pemeriksan di imigrasi, maupun di bea cukai di Harbour front sana”. Kata Azhari ditujukan kepada temannya yang sedang duduk di depannya. Teman Azhari yang sedang duduk bersama kami itu menjawab ,”tentulah yang membawa tas satu.” Begitulah contoh yang diberikan teman Azhari menganalogkan banyak harta – kaya- dengan sedikit harta alias miskin tadi. “Bagaimana Ayah “ Tanya Azhari lagi mendesakku menanggapi pertanyannya itu.

Hal ini, memang sering kita dengar. Sebagai orang awam , analog yang diberikan teman Azhari tadi masuk di akal. Apalagi konon ada dasar hukum nya, soal harta yang di dapat di dunia ini, pertangungjawabannya di akhirat kelak. Mata Azhari masih tertuju kepadaku menunggu jawaban. Apa yang hendak kukatakan kepadanya, aku yakin sebenarnya dia pun telah tahu apa jawabannya. Sebagaimana sering di dengar nya ceramah para ustadz.

Tetapi karena Azhari mencontohkan membawa tas ke Singapura, dan adanya pemeriksaan yang cepat dan lama, karena tas, jumlahnya beda. Lalu kujawab saja. “Bagaimana misalnya, teman mu yang mau ke Singapura tadi, membawa harta satu tas, katakanlah nilainya 100 juta rupiah. Kemudian teman yang satu lagi bawa tas lima buah, yang isinya, masing-masing, berisi harta senilai 100 juta rupiah, sama dengan nilai hartanya dengan teman yang satu tadi. Kemudian membawa senilai 100 juta dollar Singapura, Ringgit Malaysia 100 juta, dollar Amerika 100 juta dan uero 100 juta. Bagaimana pula pendapat mu soal fasilitas dan kenyamanan hidup yang di dapat di Kota Singapura setelah selesai pemeriksaan di imigrasi dan bea cukai” ujar ku kepada Azhari.

Azhari terlihat terkesima, dia tak menduga aku mencotohkan seperti itu, kembali ke tas .  Agaknya Azhari mengerti maksudku. Tak apalah, lama sedikit pemeriksaan, tetapi manfaat setelah itu bisa tinggal lama dengan fasilitas hotel berbintang. Bukankah Surga juga “bertingkat-tingkat” sebagaimana yang kita fahami. Bagaimana kita hendak pergi menunaikan Haji bila tak punya harta. Begitu juga berwakaf, berzakat dan bersedeqah. Yang penting harta itu memang kita dapat dari yang halal dan kita gunakan kejalan yang di ridhoi Allah SWT.

“Kita anggap saja pemeriksaan itu seperti di padang mashar, dari alam dunia ke alam akhirat, kita sebagai muslim harus kaya” kata Azhari kepadaku bersemangat. Aku tersenyum melihat Azhari yang bertekad besok akan memberitahukan kepada teman nya yang takut kaya, karena alasan banyak pertanyaan di akhirat tentang asal usul harta yang didapatkannya selama di dunia. Wallahu’alam.

Shalat Tetapi Nampak Aurat, Batalkah ?


Suatu waktu terlihat dua orang lelaki muda masuk ke dalam masjid, saat itu hari Jumat. Sudah dapat dipastikan bahwa mereka mestilah hendak shalat Jumat. Keduanya memakai celana jin dan berbaju kaos . Kedua pemuda itu berjanggut dan berjambang, seperti nya dari keturunan India, dan memang mereka adalah warga Singapura. Pemandangan seperti itu – bercelana jin dan berbaju kaos – adalah hal yang biasa terlihat kini di dalam masjid .

Ribuan orang yang memadati ruangan utama Masjid Raya Batam, kalau kita perhatikan hanya beberapa orang saja yang hendak shalat Jumat di Masjid kebanggaan masyarakat Batam ini yang menggunakan sarung/plekat. Tak sampai agaknya sepuluh orang.

Jamaah lelaki itu ada yang memang berbaju Gamis, banyak juga berbaju melayu lengkap dengan kainnya. Yang berbaju batik pun tak terkira jumlahnya. Para pekerja dan karyawan industri pun banyak terlihat memakai seragam kerja, terlihat dari atribut yang dipakainya .

Pak Polisi, pak Jaksa, pegawai Bea Cukai pun ada yang memakai seragam dinas nya. Ada pula sebahagain dari anggota polri itu memakai celana coklat dan berbaju kaos saja. Semua pakaian yang dipakai jamaah lelaki shalat Jumat itu terlihat menutup aurat. Karena batas aurat lelaki adalah antara lutut dengan pinggang/pusat.

Tetapi cobalah perhatikan saat mereka yang hanya memakai celana jin dan berbaju kaos itu shalat tahyatul masjid misalnya. Sewaktu rukuk dan sujud , kaos/baju yang dipakainya tersingkap, karena pendek agaknya, nyaris belahan punggungnya terlihat.

Tak tahu lah apakah mereka sadar atau tidak, bagian yang terlihat itu bukan kah sudah termasuk aurat ? . Nah apa jadinya bila kita shalat terdedah aurat?.

Entah mengapa pula, disain baju yang dipakai para pekerja industri, yang ada di Batam ini pula, panjangnya hanya sebatas pinggang saja.

 

Shamin dan Saufi pemuda asal Singapura di Masjid Raya Batam mereka pun suka pakai Jeans dan kaos saat shalat kaos dimasukkan ke dalam Jeans sehingga sewaktu rukuk dan sujud belahan punggung tidak terlihat.

Shamin dan Saufi pemuda asal Singapura di Masjid Raya Batam mereka pun suka pakai Jeans dan kaos saat shalat kaos dimasukkan ke dalam Jeans sehingga sewaktu rukuk dan sujud belahan punggung tidak terlihat.

Selesai shalat kedua pemuda Singapura tadi aku temui, menanyakan hal pakaian yang di pakainya. Mereka menyadari hal itu. Tetapi sebelum shalat baju kaos yang dipakainya telah dimasukkan terlebih dahulu ke dalam celana.  “ Di tempat kami banyak yang pakai macam gini, tetapi sebelum shalat dah dimasukkan kedalam macam ni” ujar mereka sembari menunjukan pinggang seluarnya, dan memperagakan rukuk, ternyata kaos yang dipakai nya tidak tertarik keatas.

Sayang nya yang kita lihat, tidak semua melakukan hal yang dibuat kedua pemuda itu, mereka cenderung membiarkan pinggang celana tertarik kebawah dan ujung baju kaos tertarik keatas, sehingga tampak lah belahan pantat, apalagi postur tubuh agak gemuk .

 

%d blogger menyukai ini: