Shalat Jumat di Tempat Kami


15 Tahun Buletin Jumat (3)

SONY DSC

Dulu ada satu kementerian yang mengatar aparatur negara, waktu itu terbitlah satu peraturan yang mengatur para aparatur negara dengan cukup satu pekan 5 hari kerja saja, yaitu dari senin hingga hari jumat sementara pada hari sabtu libur.

Hari Jumat pagi, sebelum masuk kerja, olahraga (senam) dulu, kamipun berangkat dari rumah pakai pakaian olah raga. Terkadang baju olahraga itu ada yang memakainya sampai pulang kerja, ada yang di tukar dengan baju yang lain, yaitu baju kerja. Baju kerja ini bermacam-macam bentuknya. Tegantung perusahaan tempat kita bekerja.

Nah, kalau lelaki muslim sekitar pukul 11.30 wibb sesaathendak memasuki waktu shalat jumat, ada yang menukar lagi pakaiannya itu, jadi ada yang sampai tiga kali bertukar pakaian lho. Tetapi bila rumahnya tidak jauh dari tempat kerja, tak masaalah bisa pulang kerumah, dan berganti baju dirumah, dan shalat di masjid dekat rumah.

Kalau tak bertukar baju dan jauh dari tempat kerja ya pakai baju kerja, dan sebagian sampai sekarangpun instansi yang berolahraga dipagi jumat pegawainya masih memakai pakaian olahraga itu ke masjid melaksanakan shalat jumat.

Ternyata peraturan itu berubah, dirubah lagi jadi tetap enam hari kerja selama sepekan, agaknya tak efesien dan setelah kementerian yang menterinya enggak pernah shalat jumat itu tidak menjabat lagi.SONY DSC

Di Batam tidak terkecuali apalagi daerah melayu hampir diseluruh negeri, terutama di sekolah sekolah, hari jumat kami berbusana muslim kembali, baju muslim biasanya warnanya polos.

Tetapi ada juga beberapa instansi yang menyuruh karyawannya berbaju batik (berwarna-warni, namanya juga batik), dihari jumat sebagaimana ditempat penulis bekerja, katanya untuk cinta budaya. Dan kamipun olahraga kembali dihari sabtu.

Di Jakarta kini, orang nomor satu pemimpinnya lagi kompetisi, jadi capres. Jadi wakilnya yang berkuasa, katanya sih enggak tahu kalau kepala dinas pendidikannya, membuat peraturan baru mengganti model baju muslim tadi dengan model yang lain disekolah-sekolah.

Kalau bagi siswa mungkin tidak terlalu berpengaruh, tetapi bagi siswi? Konon kabarnya kepala dinasnya mau mengundurkan diri karena stress, tetapi dibantah.

Di tempat kami di Batam terkenal daerah industri, banyak perusahaan asing maupun lokal mempekerjakan karyawan setempat, dikasih baju seragam, seperti werpak, yaitu baju dan celananya jadi satu, penulispun setiap tahun pernah dapat dua stell baju seperti itu, waktu jadi pegawai.

Baju seragam ini kalau di pakai shalat, agak menjepit sedikit diselangkangan, ketika kita posisi sujud, tetapi ada baiknya pinggang dan belahan punggung kita tidak terbuka (tertutup aurat).

Karena ada juga baju seragam yang terdiri dua potong, yaitu celana dan baju terpisah, terkadang warnanya sama ada juga yang berbeda, entah mengapa hampir semua pekerja yang dapat baju seragam seperti ini, bajunya agak pendek dan memakai lipatan tebal dibawahnya.SONY DSC

Nah ini yang jadi masaalah sewaktu rukuk apalagi posisi sujud, saat shalat sang baju bagian belakang tertarik keatas tersingkat di belakang belahan punggung dan tentunya aurat terlihat. Enggak tahu mengapa disainnya seperti itu, padahal tidak semua pekerja itu bekerja berkaitan dengan mesin.

Seperti dalam gambar pekerja hotel terkemuka inipun dapat baju seragam, setiap sujud belahan punggungnya kelihatan, dan tangannya tak pernah berhenti kebelakang menutupinya.

Tapi syukurlah mereka para pekerja itu masih dibenarkan dan bisa melaksanakan ibadah shalat jumat, karena dari hasil temuan penulis di beberapa mall, pekerja restoran, maupun pekerja di pompa bensin tidak bisa melaksanakan shalat jumat walaupun dengan memakai baju seragam kerja. Ya jadi sepanjang tahun selama pekerja lelaki itu tak pernah shalat jumat.

Tetapi walaupun tidak setiap jumat melaksanakan ibadah shalat ini, kita tidak pungkiri masih banyak para majikan yang mengatur para pekerja lelaki itu bergantian libur pada hari jumat, seperti security misalnya.

Mungkin di daerah industri, perdagangan, ali kapal di tempat lain seperti itu jugakah?, yaitu memakai pakaian yang tersingkap dibelakang terlihat aurat seperti ditempat kami? … entahlah. Sebagaimana terlihat disuatu jumat, nyaris dari 4.000 orang jamaah Masjid Raya Batam Center tak terlihat yang pakai kain sarung lagi, pada hari itu.

Semoga Batam tidak seperti Jakarta, cukuplah memadailah para pelajar lelakinya pakai baju melayu (dua potong baju dan celana), dari pagi masuk sekolah, sekalian bisa untuk shalat jumat, dan kamipun berharap kepada yang berwenang nantinya tidak membuat kebijakan meniru Kepala Dinas L Marbun di Jakarta sana. (imbalo)

Iklan

UU RI NO 40 TENTANG PERS (1)


10547456_892209664126439_2787480722696643427_nHampir lima belas tahun yang lalu, Undang – Undang Pers diundangkan, tepatnya 23 September 1999 oleh Presiden waktu itu BJ Habibie.
Kebebasan pers di jamin di Indonesia, tidak ada bredel- bredelan lagi itu intinya, tidak ada izin-izin lagi untuk menerbitkan media cetak , cukup berbadan hukum Indonesia, ada alamat lengkap ada dewan redaksi , semua itu tertuang dalam UU NO 40 tahun 1999 tentang PERS.

Lima belas tahun yang lalu Buletin Jumat (BJ) terbit untuk perdana kalinya, bertepatan dengan bulan ramadhan seperti ini, Gus Dur jadi presiden menggantikan BJ Habibie, datang ke Batam, membuka Forum Organisasi Zakat (FOZ) II.

BJ, hanya selembar kertas HVS ukuran F4 dicetak timbal balik, tulisannya berwarna biru, isinya memuat tentang kegiatan ke-Islaman antara lain masjid-masjid yang ada di Batam. Karena memang lembaga yang menaungi BJ adalah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Batam.

Masih ingat benar tulisan pertama tentang Masjid di Komplek perumahan Sukajadi Batam Center dengan Judul “Masjid Sukajadi Tak Jadi-Jadi” , pengembang nya cukup respon setelah membaca tulisan itu, dan berjanji untuk membangun struktur hingga 30% sebagaimana ketentuan bagi pengembang di Indonesia. Masjid yang terletak di perumahan elit di Batam itu kini terus bertambah luas, banyak jamaahnya terutama pada shalat magrib, tak henti henti, mungkin karena terletak di jalur sebelah kiri jalan arah ke Batu Ampar dari Tanjung Uncang, memudahkan terutama para pekerja galangan.

Di perumahan Legenda Malaka, pengembangnya belum menyiapkan lokasi untuk tempat Ibadah, ratusan kepala keluarga muslim telah bermukim disana, solusi atas kesepakatan warga dibuat masjid di luar lokasi tanah pengembang, hingga sekarang masjid itu kokoh berdiri dan telah berdiri pula lembaga pendidikan . Ternyata tempat masjid itu berdiri adalah jalur alternative sebelah kiri jalan menuju Bandara.

Kawasan Industri Muka Kuning punya masjid namanya Nurul Islam, dibangun oleh pengelola, tak mampu menampung jumlah jamaah lelaki, terutama pada shalat jumat, sudah dipasang tenda sampai keluar hanya bisa menampung ribuan orang saja, beberapa tenan yang karyawannya ratusan bahkan ribuan orang, melaksanakan shalat jumat di ruang serbaguna, ribuan hektar luasnya, puluhan tenan besar menempati kawasan, puluhan ribu karyawan di kawasan industri itu, delapan puluh present Islam, masjid hanya satu, Alhamdulillah atas usulan DMI Batam, berdiri masjid Nurul Iman lokasinya diluar lokasi kawasan industry Muka Kuning, tak apalah.

Hampir semua pengembang di Batam sejak awal lagi, tidak menyiapkan sarana tempat ibadah untuk umat Islam ini, perumahan Anggrek Mas, hanya memberikan secuil lokasi tanah dibelakang sekolah Juwita, sekarang masjid itu di perbesar, karena tidak mampu lagi menampung jamaah dari tiga lokasi Anggrek yang lain.

Hingga ke hari ini Lapangan Terbang Internasional Hang Nadim, belum memiliki masjid tersendiri, rencana perluasan tahap III, konon kabarnya akan di bangun sesuai rencana lokasi didekat areal parkir, karyawan dan pekerja muslim , shalat jumat di komplek perumahan bandara, dulu ada bekas mushala direksi kit dijadikan masjid untuk pelaksanaan shalat jumat.

Di pelabuhan sekupang pun belum memilik masjid, pekerja disana shalat jumat ke masjid terdekat di komplek Telkom .
Yang ironis, belasan tahun umat islam, di daerah Batam center, terutama karyawan Otorita Batam, Pemko Batam, dulu, shalat jumat di lantai tiga ruang serba guna kantor Otorita itu. Namanya ruang serbaguna, terkadang dibuat untuk acara kebaktian umat lain (non islam), kadang acara music, kesenian, pelantikan pejabat dan lain-lain. Alhamdulillah berdiri masjid raya Batam, digesa cepat semula 4 tahap menjadi satu tahap saja.

Iya , Buletin Jumat identic dengan masjid, karena dibawah naungan lembaga DMI tadi, termasuklah tempat shalat bagi karyawan muslim yang ada di mall-mall, hanya seadanya saja.

BJ sempat tidak terbit beberapa saat, karena kami tidak menjadi pengurus DMI lagi, setelah itu tebit lagi tetapi di kelola oleh Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam.

Marak pula makanan yang tidak halal, masuk dan membanjiri Indonesia, termasuk paha ayam dari Amerika masuk ke Batam, kasus ini mencuat hingga Nasional, Buletin Jumat sampai ke pengadilan, pejabat yang berwenang di Batam, tidak bisa secara langsung menutup media yang hanya selembar itu, terganjal UU NO 40 tentang PERS diatas, menurut Parni Hardi kepala kantor berita ANTARA saat itu, walau hanya selembar, memuat dan menyajikan berita tulisan rutin dan terus menerus adalah pers. Merasa tertolong oleh ketentuan itu, kami pun beli mesin cetak sendiri agar BJ tetap terbit.

Masjid Raya Batam


1394086_746436505370423_17293193_nMasjid ini tidak ada tiang ditengah ruangan, di desain oleh Ir Achmad Noe’man membuat kagum tamu – tamu dari luar negara. Masjid ini dapat menampung 3.500 orang didalam dan diluarnya sekitar 15.000 orang.

Masjid Raya Batam (MRB) mulai dibangun tahun 1999 dan mulai dipergunakan pada tahun 2001 yang lalu. Sejak awal dilaksanakan shalat Taraweh di bulan Ramadhan, masjid ini mengkhatamkan 30 juz Al-Quran, karena imam-imamnya banyak yang hafiz. “Macam di Makkah saja” kata jamaah.

Sebelum masjid ini ada, pegawai, karyawan OB maupun Pemko dan masyarakat di sekitaran Batam center, shalat di lantai tiga, Gedung Otorita Batam.

Ruang serba guna namanya, ya kalau hari Jumat jadi tempat shalat, hari-hari lain untuk acara lain.Terkadang dipakai acara Natalan, hiburan, pelantikan pejabat pun diadakan ditempat yang sama. Namanya juga ruang serba guna. Alhamdulillah MRB cepat terbangun.

Dihari Jumat satu tahun belakangan ini masjid kebanggaan masyarakat Batam ini, shalatnya pun seperti di Makkah dan Madinah, setelah Imam membaca Takbir, ada makmum yang mengulang membaca takbir dengan keras. Begitu juga bacaan bangkit dari rukuk dan salam.

Sedang Shalat Mic Putus

Pernah Buletin Jumat (BJ) shalat Jumat di Masjid kawasan industri Batamindo Muka Kuning, beberapa waktu yang lalu, di ruang utama tak banyak jamaah yang dapat di tampung, sehingga jamaah membludak sampai keluar. Saat itu shalat sudah dimulai, di sujud rakaat pertama, sewaktu hendak berdiri, lama, tidak terdengar suara imam mengucapkan takbir. BJ, yang kebetulan dalam shaf antara dinding dan ruang istirahat imam, sebelah selatan, sekitar 5 orang satu barisnya, tetap saja sujud, sementara jamaah lain sudah hampir rukuk.

Kiranya mic kecil yang tergantung di dekat leher sang Imam putus. Apa jadinya, Sampai selesai prosesi shalat satu rakaat lagi, terpaksalah mak mum, celingak celinguk memperhatikan kiri kanan dan kedepan.

Maling

Jamaah shalat Jumat di MRB belakangan ini kurang begitu ramai, ruang utama yang biasa penuh, terkadang 3/4 saja terisi, mungkin salah satu penyebabnya tak jauh dari MRB ada pelaksanaan shalat jumat, oleh masjid lain. “Disana Lebih cepat shalatnya” kata seorang karyawan yang bekerja di Graha Pena.

Belakangan ini pun MRB kurang aman, maling bebas berkeliaran, Bahkan jamaah sedang shalat tasnya bisa hilang. Ironisnya lagi Brankas Lembaga Amil Zakat (LAZ) pun di gondol maling tanpa bekas. Sepertinya perlu dipasangi cctv. Untuk membantu tugas security.

Masyarakat tidak tahu siapa pengelola MRB ini, apakah masih Otorita Batam atau Pemko Batam. Minimnya pengawasan, nyaris tanpa pintu, seperti lapangan parkir Utara, dulu dirancang dapat menampung puluhan kenderaan roda empat, kini lapangan itu dijadikan badan jalan. Pengganti lapangan parkir itu tidak ada. sepertinya pintu Utara itu, kini, kurang berfungsi.

Mungkin masjid besar yg ramai jamaah bisa mencontoh MRB dalam hal pemakaian mic, bila mic putus jamaah tak kalang kabut. (imbalo)

Kampung Sadap Perkampungan Suku Asli Batam Yang Perlu Perhatian


1654059_10202139474780821_884013112_nKAMPUNG Sadap, tempat pak Kosot, warga Asli Batam ini terletak di pulau Rempang, kelurahan Rempang Cate.

Melewati jembatan empat dari Pulau Batam, setelah pintu gerbang masuk ke kelurahan Rempang Cate, terus saja arah ke Pulau Galang sebelah kiri, ada tulisan Jalan Bumi Melayu, masuk sekitar 4 kilometer, disitulah pak Kosot bermastautin..

Sabtu pekan lalu rombongan dari Batam Pos dikabarkan mengunjungi perkampungan yang nyaris punah itu. Alhamdulillah, terimakasih pembaca Batam Pos, atas perhatiaannya.

Kampung Orang Asli ini sama nasibnya dengan beberapa kampung tua yang sudah sirna dari Bumi Batam tinggal nama saja seperti Mentarau, Tanjung Pinggir.

Di Kampung Sadap, nyaris tidak ada lagi pohon sebesar pelukan manusia, sejak mulai masuk simpang Jalan Bumi Melayu tadi, sampai ke ujung kampung, yang terlihat adalah semak belukar, dan padang ilalang, bekas panen buah semangga, dan palawija.

Puluhan ribu anak kayu sebesar pergelangan tangan pun punah, sebagian besar dibuat bahan kandang peternakan ayam, ratusan mungkin sudah ribuan kandang ini di Barelang.

Disekitar gubuk pak Kosot hanya terlihat beberapa pohon Kelapa, Nangka, rambutan mangga, yang enggan berbuah, Ladang ubi pak Kosot seperti hidup segan mati tak mau, lembah di batas lahan, sudah tak berair lagi, Sungai Sadap yang berair payau bertambah dangkal, karena perambahan hutan-hutan diatasnya, erosi tanah yang dibuat ladang oleh peladang berdasi dari Batam salah satu penyebabnya.

Pak Kosot memandangi terus traktor dan lori lalu lalang di depan kebunnya, di lahan yang hanya tinggal sekitar 6 hektar itu sudah jadi padang jarak padang tekukur, disana sini pohon perdu meranggas, hitam bekas terbakar.

Saudaraku, masih inginkah melihat pak Kosot atau pak Manan sebagaimana nama tertera di KTPnya?, datanglah kesana, penduduk disitu sangat memerlukan perhatian kita, pak Kosot adalah lelaki terakhir Suku Asli Batam yang masih bermukim dan bertahan disana.1888702_10202171126652098_678776280_n

Hendak ke sumur pun terasa susah bagi pak Kosot kini, jarak 150 meter, lumayan jauh baginya, konon pula hendak menanam ubi untuk menyarah hidupnya.

Hampir sebulan tak turun hujan, air sumur hanya sedikit saja, timba plastik sudah tak tenggelam karena sakin dangkalnya, padahal dulu ikan gabus, dan sepat masih banyak di sekitar sumur itu.

Apalah daya hendak menyiram tumbuhan, kering kerontanglah ubi kayu dan tanaman lainnya. Alangkah senang hati pak Kosot kalaulah ada orang menyum bang seperangkat mesin pompa air, dan mengganti tandon (tangki) air yang sudah pecah.

Apalagi ada Dai yang hendak dan bersedia datang, mengajarkan Islam kepadanya, dan kepada cucu-cucunya yang masih usia sekola, tetapi tidak bersekolah, dapatlah dia membaca syahadat dengan lancar dan belajar shalat di akhir akhir hayatnya.

Kalau hal ini terbiarkan dan tak ada perhatian mungkin setelah kepergiannya kelak kepangkuan ilahi rabbi, kampung Sadap tempat tinggalnya dibagi-bagi orang menjadi ladang semangka dan buah naga.

Apakah kita tega?

Wallahu’alam (imbalo)

Kisah Tok Lambertus Laba Masuk Islam


tok laba dan tok Nur melaksanakan shalat pertama kali setelah masuk Islam

tok laba dan tok Nur melaksanakan shalat pertama kali setelah masuk Islam

NAMANYA Lambertus Laba, lahir di Lembata Flores, sejak muda lagi telah meninggalkan kampung halamannya. Tok Laba demikian dia disapa oleh cucu-cucunya, bahkan orang tua ini telah punya beberapa orang cicit. Laba, nama marga suku di Nusa Tenggara Timur sana.

Kamis 31 Oktober 2013 di rumah nya yang sederhana, rumah diatas laut, perkampungan SUKU LAUT, Pulau Lingka Batam, tok Laba yang sepanjang usianya adalah penganut Katolik, mengucapkan Dua Kalimat Syahadat meskipun dengan terbatah-batah. “Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah” ucap tok Laba, maklum tok Laba dua kali diserang strok. Sejak mengucapkan Syahadat, nama tok Laba berubah, diganti menjadi Muhammad Laba.

Rumah tok Laba di Pulau Lingka Bersama anak , menantu dan cucu cucu tok Laba

Rumah tok Laba di Pulau Lingka Bersama anak , menantu dan cucu cucu tok Laba

Apa gerangan yang mempengaruhi tok Laba berubah keyakinan? Ternyata cucu-cucunya yang telah terlebih dahulu ber-agama Islam.
Setiap hari, berangkat dan pulang mengaji di surau kecil di belakang rumah panggung mereka, cucu-cucu tok Laba acap dan mesti menyalami kedua orang tua itu.

Demikan pula ketika sang cucu hendak pergi shalat, sang Atok pun diajak dan ditanya. Rupanya sapaan dan ajakan untuk pergi shalat bersama oleh sang cucu yang comel itu dapat mengugah hati tua tok Laba.

tok Laba , tok Nur

tok Laba , tok Nur

Tengah hari itupun bersama tok Laba, tok Nur isteri yang telah dinikahi oleh tok Laba hampir 50 tahun lalu, ikut bersama berikrar, bahwa, Tuhan mereka kini Allah, Satu, tidak Tiga, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sekutu baginya. Tok Nur, meskipun dilahirkan di sampan diberi nama Nur Mardiah, sehingga saat mengulang ucapan Dua Kalimat Syahadat, tak harus berganti nama.

Tok Nur adalah perempuan suku Laut yang lugu, terlahir dan besar hinggakan tua bersama dengan sukunya. Suku Laut seperti tok Nur ini, banyak mendiami perairan Batam, mereka memakai adat istiadat Melayu, seperti panggilan tok.

Ratusan bahkan mungkin ribuan keluarga seperti tok Nur ini, mereka tak terjamah dakwah, yang mereka terima malah info dan cerita salah, bahwa suku Laut tak beragama, sehingga bebaslah para misionaris menggarap mereka.

Hal yang perlu diluruskan bahwa Suku Laut yang ada di perairan Batam bukan tidak beragama, kita bisa merujuk perang saudara antara Laksamana Lingga dgn Laksamana Bintan, kisah mangkatnya Sultan Mahmud II dan tidak adanya yang mengajari mereka tentang agama Islam itu yang membuat mereka demikian.

Buktinya, Ustadz Beny yang kini menetap disitu dengan tekun membimbing dan menuntun mereka, keluarga suku laut yang ada di Pulau Lingka itu.
Meskipun tak jauh dari kediaman tok Laba ada gereja besar dan megah, hati tok tok berdua, luluh dan lebih memilih Islam, melihat akhlak cucu-cucu mereka, san cucu tetap hormat dan sayang, walau berlainan agama. (Imbalo)

Pabrik Bir di Batam


Restoran disponsori Minuman Beralkohol

Adalah Ilham Eka Hartawan Kasubdit Humas dan Publikasi Badan Penguasahaan (BP) Batam mengatakan, bahwa rencana Investasi yang akan ditanamkan perusahaan asal Swiss, semakin meningkatkan citra Batam sebagai salah satu tujuan investasi utama kawasan Asia-Pasifik.

Investasi yang akan ditanamkan perusahaan asal Swiss itu adalah pabrik Bir, bernilai 250 juta Dolar Amerika (AS).
Selain membangun pabrik Bir, kata Ilham investor juga akan membangun fasilitas untuk menikmati Bir bagi para wisatawan seperti cafe Bir. BP Batam pun diminta menyiapkan lahan seluas lima hektar.

Bandar Dunia Madani?

Selama ini kita mendengar Batam adalah Bandar Dunia Madani. Apa hubungannya dengan Bandar Dunia Madani.? Setahu saya tidak ada perda ataupun perangkat hukum yang mengatur dan menyatakan bahwa Batam Bandar Dunia Madani, jadi sah sah saja kalau di Batam di bangun pabrik Bir, kata seorang teman. Dalam Undang Undang Batam adalah Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ).

Namun Ketua MUI Kepri, Haji Azhari Abbas, yang dihubungi Buletin Jumat, rabu (14/03), tidak sependapat. Beliau tidak setuju adanya pabrik minuman beralkohol itu di Batam. “Kalau betul, kita akan pertanyakan hal ini, kita akan ajak hearing DRPD, Walikota Batam dan juga BP Batam.” ujar nya . “Sudah enggak betul itu” sambung Ketua MUI asal Aceh itu.

Kebutuhan Bir di Batam
Sementara itu, Marganas Nainggolan, wartawan Senior koran harian Lokal Batam, menyebutkan, “Memang semakin enggak jelas arah visi, misi Batam ini”. tulisnya melalui sms
Beberapa Tahun yang lalu Marganas yang kini Direktur Utama dan juga Ketua Dewan Redaksi koran terbesar di Batam, pernah menulis bagaimana melimpahnya Bir masuk ke Batam, seakan tak wajar, tetapi itulah kenyataannya. Minuman beralkohol, haram dikonsumsi umat Islam ini, jumlah liter yang masuk dibagi dengan jumlah penduduk Batam, termasuklah bayi, adalah, seorang mengkunsumsi 3 liter perhari. Mungkin itu membuat investor asal Swiss ini tergiur membangun pabrik Bir di Batam.

Berkunjung ke Pemukiman Suku Laut di Batam


Style Mak Dayang dengan Jilbabnya....... tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek.... satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya......... banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama.....

Mak Dayang , Pak Tamam, Adi Sadikin dan ustadz Masri ,

“Saya mau ke tempat pak Din, boleh antar dan temanin saya pak?” tulis Adi di pesan facebookku. Adi Sadikin adalah seorang warga Negara Malaysia. Aku menyanggupinya.

Sebelumnya Adi  telah beberapa kali mengomentari tulisanku. Adi tertarik mengunjungi Batam setelah membaca tulisan tentang pak Din yang tinggal di Pulau Air Mas. https://imbalo.wordpress.com/2008/04/17/suku-laut-di-batam/

Jadilah hari itu jumat 25 Januari 2013, Adi datang ke Batam. Ku jeput dia di Bandar Udara Hang Nadim. Fireplay dari Subang Malaysia mendarat sekitar pukul 11.00 wibb. Kami masih sempat shalat Jumat di Masjid Raya Batam.

Setelah istirahat sejenak dan menyiapkan segala sesuatunya, dari Bengkong, kami berangkat ke Telaga Punggur, sekitar pukul 5 petang kami tiba di pelabuhan Telaga Punggur, dengan pompong kami menuju pulau Air Mas, cuaca agak gelap, awan terlihat menggumpal, angin utara bertiup kencang, nun jauh di selat Johor terlihat gulungan ombak putih, menandakan gelombang cukup tinggi.

Sampai di Selat Desa Dapur Arang, ustadz Masri yang kami temui telah selesai melaksanakan shalat magrib, berdua dengan Adi, kami shalat qasar dan jamak takdim, di mushala Taqwa. Mushala kecil yang terletak di pemukiman suku laut itu dibangun oleh AMCF dan Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam.
Tak lama kemudian Mak Dayang dan Pak Tamam datang ke mushala, pasangan suami isteri ini, termasuk penduduk tertua di pemukiman itu.

Seperti biasa mak Dayang bila menemui kami di mushala tak lupa memakai kerudungnya. Kulihat Adi memperhatikan Mak Dayang, tak tahulah apa yang ada dipikiran Adi terhadap Mak Dayang, setelah melihatnya langsung. Mak Dayang terbiasa bercelana pendek (sedengkul) dan berbaju lengan pendek, tetapi memakai kerudung.

Pak Din dan Adi di

Pak Din dan Adi

Adi yang jauh bekerja di Qatar itu, memang sengaja menyempatkan diri datang ke Batam dalam masa liburnya di darat. “Saya bekerja di Qatar selama 40 hari di laut dan libur 40 hari pula di darat, tetapi saya pulang ke Malaysia “ ujar Adi menjelaskan. “ Saya mau bantu perbaiki pelantar rumah pak Din” tambahnya lagi.

Adi yang tinggal di Serdang Kuala Lumpur ini , masih muda, umurnya sekitar 35 tahun, punya seorang isteri dan empat orang anak. Adi sudah lama berniat ingin membantu memperbaiki pelantar di pemukiman suku laut itu.
Tersentuh hatinya setelah membaca tulisan tentang bagaimana, suku laut yang minoritas muslim di Pulau Air Mas itu, selalu disindir oleh saudara mereka sendiri, karena terpaksa harus memakai pelantar yang juga sudah mulai rusak itu.

Ada dua pelantar di kampung laut itu, satu pelantar umum, pelantar dekat rumah pak Din dan juga pelantar yang menuju ke masjid, tetapi sudah rusak parah saat itu. Satu lagi pelantar, konon dibangun oleh orang Korea.

Meskipun mereka terbilang masih bersaudara, bahkan ada yang seibu dan sebapa, tetapi dalam soal keyakinan, mereka berbeda agama. Sindiran dari balik dinding kamar/rumah itulah, apabila saat melaui pelantar, terasa menyakitkan hati. Ujar isteri pak Din suatu hari. Pelantar di situ pula, sebagaimana jamaknya pelantar, di perkampungan nelayan memang berada diantara rumah-rumah.

Di pulau Air Mas , hampir semua suku laut yang bermukim di pulau itu adalah keluarga mak dayang , termasuk lah Pak Din. Pak Din dan Mak Dayang adalah adik beradik, sebagian anak-anak Pak Din dan Mak Dayang, terutama yang telah berkeluarga, beralih ke agama bukan Islam. Ada yang menikah karena pasangannya beragama lain.

Ternyata Adi tak tahu kalau pelantar rumah mak Dayang dan pak Din sudah diperbaiki oleh pemko Batam. Adi pun tidak mengatakan, kalau kedatangannya ingin membantu biaya perbaikan pelantar.

Sewaktu kami mampir dan bertemu dengan pak Din di Air Mas. Di masjid, tidak ada seorang pun yang shalat pada saat itu. Karena memang tidak ada orang yang mampu dan bisa menjadi Imam. Melihat kenyataan itu terdengar Adi bergumam : “Di Selat Desa Dapur Arang, ada ustadz Masri, tetapi di Air Mas tak ada ustadz” ujar Adi seakan bertanya. “Saya akan alihkan saja bantuan saya ini, untuk ustadz yang mau tinggal di Air Mas” kata Adi. “Ya seperti ustadz Masri, kalau dapat,  insyaAllah, saya akan kirim setiap bulan biayanya” kata Adi lagi, bersungguh sungguh.

Kulihat Adi mengeluarkan dompetnya, Aku tak tahu berapa lembaran rupiah yang diberikan Adi kepada Mak Dayang, dan berapa pula yang diberikannya kepada ustadz Masri. Yang jelas, Adi memberikan beberapa lembaran dollar US nominal 100 an kepadaku, “ Ini untuk sekian bulan kedepan, tolong carikan ustadz pak” harap Adi kepadaku. Malam itu kami tinggalkan pulau Air Mas, pompong 40 pk yang membawa kami pulang, terombang ambing mengikuti alunan gelombang.

Dari jauh Batam terlihat indah, kelap kelip lampu, dari ratusan kapal yang bersandar dan berlabuh di perairan.
Keberadaan kapal – kapal itu adalah salah satu sumber Devisa bagi Batam, cukup besar. Tetapi nyaris tidak menyentuh kehidupan para Nelayan, yang hanya berjarak beberapa mil saja, dari pusat pemerintahan itu.

Mereka tetap terpinggirkan, bahkan peraian yang biasa tempat mereka mencari ikan, kian tercemar oleh limbah. Mungkin itulah salah satu pemicu, para hinterland, demikian mereka disebut, berencana memisahkan diri dari pemerintahan kota Batam. Wallahu’alam.

%d blogger menyukai ini: