Dibutuhkan Guru Taman Kanak-Kanak


Kami Sekolah Islam Terpadu Hang Tuah Batam membutuhkan Kepala Sekolah Taman Kanak-Kanak

Syarat – syarat :

Sarjana (S1), Perempuan, Muslim dapat membaca Alquran, berdomisili di Batam.

Bagi yang berminat dan memenuhi persyaratan lamaran ditujukan ke Yayasan Pendidikan Islam Hang Tuah Jalan Ranai no 11 Bengkong Polisi 29432 Batam, atau ke email ariesaja@yahoo.com

Iklan

Jadi Askar Wataniyah, Kenapa Tidak?


Aku tinggal di Batam , mengelola sebuah mini market, rumah ku tak berapa jauh dari pelabuhan Batu Ampar, mungkin karena berdekatan dengan pelabuhan sehingga diseputaran rumahku menjadi tempat tinggal/singgah sementara bagi orang yang akan ke dan dari luar negeri, terutama Singapura dan Malaysia. kebanyakan mereka itu adalah Tenaga Kerja baik yang legal maupun ilegal

Tenaga Kerja itu banyak berasal dari Nusa Tenggara Barat, meskipun sebagian dari mereka dah lama bermukim di Malaysia dan menggunakan dialek melayu tetapi masih “medok” logat NTB nya. Disana mereka ada yang bekerja sebagai pelayan restoran atau di Pujasera dan di Hotel, biasanya mereka ini agak trendy cara berpakaiannya dan masih muda, ada yang bekerja di proyek pembangunan (kuli kontrek) jadi tukang dan banyak pula yang bekerja di perkebunan kepala sawit.

Di mini market ku, aku menjual pulsa, selalu, setelah mereka sampai di Batam mereka membeli kartu HP perdana, dan untuk isi ulang mereka agak boros, satu hari bisa 5 kali membeli pulsa di tempatku, katanya untuk menghubungi sanak saudara di kampung dan menghubungi tauke atau temannya di seberang dan untuk dikirim kepada saudaranya di kampung, mungkin karena gajinya besar di negeri Jiran itu atau nilai tukar rupiah yang rendah mereka tak terlalu mempersoalkan rupiah yang dibelanjakannya.

Saya tak pernah memeriksa isi dompet mereka, tapi saat registrsi memerlukan KTP, terlihat isi dompetnya, beberapa diantara mereka yang mempunyai KTP ganda, biasanya yang mempunyai KTP Malaysia, mereka-mereka ini bahasa melayu nya lumayan bagus dan telah lama bermukim di sana, malahan sudah ada yang beristeri disana.

Mereka bangga bisa punya IC Malaysia, terlihat dari roman mukanya saat menunjukkan kartunya itu….. katanya kalau sudah punya IC seperti ini tak susah nak cari kerja di Malaysia, kita dapat fasilitas perobatan dan boleh kerja di kerajaan dan boleh menabung.

MENJADI ASKAR WATANIYAH

Menjadi kuli kontrek saja mereka mau, dah la dikejar-kejar polis dan RELA , belum lagi tauke penipu yang tak nak membayar gaji di kebun kelapa sawit, dah dekat gajian ada “hantu” yan memberitahu ke polis atau petugas imigresen, “hantu” yang memang bekerja sama dengan tauke-tauke tu, ini pulak nak direkrut menjadi askar, siapa yang tak berkenan.

Hai dah nak jadi askar di negeri sendiri begitu susah, ini ada “tawaran” nak menjadi warga Malaysia dan dapat kerja pulak menjadi askar berebut lah orang. Kalau petinggi-petinggi di Jakarta sana tak percaya pegi sajalah awak tu ke perbatasan tanya ke mereka, nak jadi Indonesia kah atau Malaysia, Sipadan dan Ligitan contohnya. Kayak Timor Leste ada refrendum. Menteri Pertahanan Indonesia, seumur dia menjadi menteri bila nak mengunjungi daerah-daerah perbatasan?. Betambah yakin lah kita sebagaimana diprediksi tahun 2050 Indonesia akan “leyap” macam Uni Soviet.

Kalau ditanya, betul belaka, tak ada warga negara Indonesia yang menjadi askar Wataniyah tu, karena sebelumnya mereka dah pun jadi warga Malaysia… he he he kasian deh lu….

Tahun 2006 yang lalu ribuan warga Indonesia yang sudah bermukim puluhan tahun di semenanjung, diusir dari sana, Batam adalah salah satu daerah tempat transit mereka, pada saat itu Pemko Batam kewalahan menerima limpahan itu, sampai – sampai minta tambahan dana ke Pusat. Hingga kehari ini pun masih banyak anak-anak muda yang berusia 20 tahunan keatas yang terlahir dan besar di Malaysia diseputaran pulau-pulau di Batam yang berusaha tetap kembali ke semenanjung, karena orang tua mereka telah mendapat IC sana dan menetap disana tetapi anak-anak nya sebagian belum, macam-macam kes yang terjadi dengan dua kewarganegaraan ini. Pada dasarnya mereka lebih memilih tinggal di semenanjung kalau diperbolehkan.

Jadi kalau ada yang merekrut mereka menjadi Askar , kenapa tidak?….. soal perang dengan saudara sendiri itu urusan belakang, Horta dengan Reinado pun bersaudara koq.

Saya kutip pernyataan Yusron Ihza Mahendra sbb :

Politisi Fraksi Partai Bulan Bintang (FPBB) Yusron Ihza Mahendra membenarkan adanya warga Indonesia yang menjadi anggota tentara di Malaysia. WNI yang anggota militer itu biasanya yang mempunyai dua KTP atau dua kewarganegaraan.


Data tersebut didapatkkanya saat dirinya bersama anggota Komisi I melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.


Memang betul ada warga negara Indonesia menjadi anggota militer. Sejumlah informasi yang saya miliki, mereka mempunyai 2 KTP, KTP Indonesia sama Malaysia, ujar Yusron kepada okezone, Kamis (14/2/2008).


Yusron mensinyalir Malaysia berupaya memprofokasi kemarahan warga negara Indonesia. Wataniah atau Malaysian Ranger diduga sebagai cadangan militer yang disiapkan Malaysia untuk menghapi Indonesia jika terjadi peranga antar kedua negara.


Kemungkinan itu ada. Wataniah atau organisasi militer Malaysian Ranger, dimana orang Indonesia yang direkrut. Kemungkinan dipersiapkan menghapi Indonesia, biar perang melawan saudaranya sendiri, katanya.


Dirinya juga menyayangkan kelambanan BIN memperoleh informasi dalam kasus ini. Tapi informasi adanya warga yang menjadi anggota militer ditemukan anggota dewan.


BIN seharusnya lebih tahu dulu, malah Komisi I tahu duluan. Apa bedanya ada atau tidak adanya BIN. Ngapain kerjaan mereka?” pungkasnya. Itu lah isi kutipannya.

Hanya saja saya kurang sependapat dengan Yusron tentang istilah “Malaysia memprofokasi”, menurut saya yang ada masalah ekonomi di Indonesia, kesempatan serta lapangan kerja, biar diprofokasi bagaimana kalau rakyat sejahtera gak bakalan mau jadi askar, lah wong Singapura sekarang sibuk merekut pemuda Indonesia yang tinggal di sana untuk wajib militer, rata-rata pemudanya gak mau jadi askar, ngapain jadi umpan peluru. 

Korupsi teruslah kau pejabat-pejabat, di Jakarta sana, agar tambah cepat Indonesia bubar, agaknya tak sampai 2050.

Hari ini Kosovo sudah merdeka…………………….

Bingung Nak Tentukan Jati Diri?


Dalam tulisan Jamal Tukimin dan Imran AZ, yang mana kedua mereka itu adalah karibku dan keduanya BAPAK daripada  mereka adalah orang Jawa, kedua BAPAK daripada mereka itu lahir di Jawa, dah besar merantau mencari rezeki di bumi melayu, dibumi melayu lahir zuriat-zuriat daripada mereka, zuriat – zuriatnya menjadi tokoh melayu yang satu Ketua Lembaga Adat Melayu, nak jadi Lembaga Alat Melayu pun boleh juga ketapa tidak, sebagaimana karikatur Batam Pos, yang satu pulak sastrawan Melayu dari negara Singapura.

Tak beza dengan Huzrin Hood, Kakek dia orang Jawa, berarti dah turunan ketige di bumi melayu, kalau Imran AZ dan Jamal Tukimin baru generasi kedua, jadi kalau ditolak oleh LAM pantas belaka sebagai mana ditulis oleh Candra Ibrahim yang aku kutip sebagai berikut : 

13 Februari 2008

Huzrin vs LAM, Tak Lucu!

.fullpost{display:inline;}Ah, ada-ada saja. Huzrin Hood ditabalkan sebagai pemangku adat Bintan, tapi ditolak oleh kelompok zuriat Yang Dipertuan Muda Penyengat, Johor-Riau, Pahang. Maka akibatnya, ketika dilantik sebagai Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) yang sedianya akan dilakukan di Penyengat, dipindahlah ke sebuah hotel di Batam. Ini atas permintaan Wako Tanjungpinang Suryatati A Manan. Tentu dengan berbagai pertimbangan. Hmm, pelantikan forum keraton kok di hotel, bukan di tempat yang dianggap sangat berbau keraton, seperti Pulau Penyengat.

Tilik punya tilik, rupanya Huzrin dianggap “tak jelas” alias tak memiliki komitmen yang jelas. Buktinya, sebelumnya dia dilantik sebagai Ketua Among Mitro Kepri, sebuah perkumpulan orang-orang keturunan Jawa. Huzrin memang berdarah Jawa dari pihak kakek. Lho, kalau kini dilantik sebagai Ketua FSKN setelah ditabalkan sebagai pemangku adat Melayu, tentu unik, bukan?Rupanya, di sinilah letak pemicu itu. Kalau Jawa, ya Jawalah, kalau Melayu, ya Melayulah. Begitu kira-kira kata Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri H Abdul Razak (Batam Pos, 13/2/2008).Hmmm… Mari kita ikuti eposode demi eposode yang tak lucu ini. Entah apa yang ada di benak orang-orang itu ketika mereka dengan sadar memulai pertikaian tersebut. Huzrin bukanlah anak kemarin sore. Tentu dia sadar konsekwensi yang akan dihadapinya dengan langkah yang sudah dia ambil. Jadi Ketua Among Mitro, lalu pemangku adat Bintan, dan dilantik pula jadi Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara.Kalau ini berlanjut, apa bukan mengantuk-antuk antara Melayu dengan Jawa? Padahal dulu Huzrin dikenal sebagai pejuang provinsi dan mengaku pembela marwah Melayu? Apakah mereka, para pihak yang bertikai itu, sadar? Hm….tak lucu!***

Saya jadi teringat dengan teman saya dulu, seorang PENDEKAR silat dan ketua Ikatan Pencak Silat se- Indonesia (IPSI) Batam,  tapi tak punya padepokan (aku pakai istilah jawa) sama dengan FSKN (Forum Silaturrahmi Keraton se-Nusantara)  pun memakai istilah jawa yaitu keraton, keraton adalah  istana raja di Jawa, teman saya itu sekarang jadi salah satu dari Wakil Ketua DPRD.

Adalagi teman saya senang sekali dipanggil KIYAI atau USTADZ tapi tak punya murid (mengajar)  apalagi pesantern, teman saya itu tersangkut kasus ijaza palsu, tak tahu apakah betul ijazahnya palsu atau tidak belum dibuktikan di pengadilan, tapi kabarnya dia drop out dari salah satu pesantern terkenal di jawa sana. Tahu kalau ijazanya bermasaalah karena dia sekarang dah jadi orang politik dan anggota dewan yang terhormat pula. Jadi adalah maksud dan tujuan mereka, bak kata pepatah “KALAU TIDAK ADA BERADA TAKKAN TEMPUA BERSARANG RENDAH” 

Saya pun salah seorang yang tak percaya tak ada maksud tertentu, dah banyak contoh pak Lung…..  memang tak lucu…..

Pernyataan Sikap Soal Forum Keraton


Malam kemarin rencana aku nak menghadiri undangan makan malam dari Forum Silaturrahmi Keraton se-Nusantara (FSKN), petangnya aku menghubungi bang Imran AZ ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam, dalam benakku pastilah dia diundang, sedangkan aku yang tak ada sangkut apa-apa dan sebagai rakyat jelata diundang pikirku. Lagian aku ada perlu dengan beliau soal pembangunan sekolah SD di Batu Aji, alangkah baik bila sambil makan malam hal itu aku utarakan kepadanya.

Dalam HP nya bang Imran tertawa kecil, tawa seperti itu dah sering aku lihat karena aku kenal beliau dah berpuluh tahun, ada apa gerangan, kenapa dia tertawa seperti itu saat kukatakan undangan makan malam dari FSKN. “Imbalo kan lebih tahu” katanya kepadaku “Saya tak dapat datang karena sesuatu hal” dia tak menjelaskan hal apa yang menyebabkan dia tak dapat memenuhi undangan makan malam dari FSKN itu.

Kalau bang Imran tak datang, padahal dia sehat segar bugar dan ada pulak di Batam tentulah ada apa- apa nya pikirku, aku tercenung sejenak, apa karena adanya penolakan dari zuriat /erabat Raja-Raja Keturunan Riau -Lingga-Johor-Pahang se Kepri pikirku. Dan kata-kata Imbalo kan lebih tahu mengiang kembali, aku pun tak jadi menghadiri makan malam itu.

Pagi ini aku baca ada pernyataan sikap Masyarakat Melayu riau-Lingga-Johor dan Pahang di Provinsi Keplauan Riau antara lain sbb :

Zuriat/Kerabat Kerajaan Riaua-Lingga-Johor-Pahang Provinsi Kepri, MENOLAK dengan tegas. Huzrin Hood menjadi Ketua Forum FSKN Kepri. LEMBAGA ADAT MELAYU (LAM) Menolak upacara adat Melayu dalam pelantikan Huzrin Hood menjadi Ketua Forum FSKN Kepri, Masyarakat Provinsi Kepri menolak pelantikan Huzrin Hood di Pulau Penyengat. LAM merupakan perwakilan adat masyarakat Melayu Kepri yang sah, dan tidak perlu adanya perwakilan adat lainnya. Pihak keamanan dan hal ini Polresta Tanjung Pinang dan Polda Kepri untuk tidak menghiraukan pelantikan Huzrin Hood, sebagai Ketua FSKN dengan alasan keamanan. Jika pihak keamanan tidak dapat mengantisipasi, atau mengatasi masalah ini, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka Lembaga Adat Melayu Kepri tidak bertanggung jawab.  

Tertanda :

LEMBAGA ADAT MELAYU (LAM) KEPRI Ketua Umum H Abdul Razak Ab

KEKERABATAN/ZURIAT KERJAAN RIAU-LINGGA-JOHOR DAN PAHANG PROVINSI KEPRI.

RUMPUN MELAYU BERSATU (RMB) KEPRI Said Robert

TOKOH MELAYU BATAM

LASKAR MELAYU BATAM (LMB)

MAJELIS BELIA KEPRI

LAM BATAM

TOKOH MELAYU KARIMUN Dt Timbalan Panglime Lautan (RMH-HMS)

PENGGIAT BUDAYA Abdul Malik Mpd

PUSAT MAKLUMAT KEBUDAYAANMELAYU RIAU PENYENGAT Raja Malik Alfarizi

YAYASAN CINDAI WANGI

YAYASAN INDRA SAKTI Pulau Penyengat

KEKERABATAN KELUARGA BESAR MELAYU Tanjung Pinang

Ditolak, FSKN Jalan Terus      
Selasa, 12 Pebruari 2008
TANJUNGPINANG (BP) – Walau pelaksanaan pelantikan dan pertemuan Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) di Balai Adat Pulau Penyengat hari ini, Selasa (12/2) mendapat penolakan dari zuriat raja-raja Riau-Lingga dan Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri, tapi hajatan tersebut tetap dilaksanakan. ”Gubernur Kepri H Ismeth Abdullah telah menyetujui pelaksanaan FSKN itu. Persiapan pun telah dilakukan. Semua anggaran pelaksanaan pelantikan dan pertemuan FSKN itu dari Pemprov Kepri,” kata Hadi Suroso di Sekretariat Among Mitro Provinsi Kepri di Sungaijang.
Tidak saja izin pelaksanaan dari Gubernur Kepri H Ismeth Abdullah, izin dari Polresta Tanjungpinang pun, kata Fahmi sudah diperoleh. ”Kita sudah jelaskan pada Kapolresta Tanjungpinang AKBP Imam Widodo,” kata Fahmi, yang mengaku mengurus persoalan izin tersebut ke Polresta Tanjungpinang.
”Kalau menolak itu mengatas namakan zuriat, maka zuriat yang mana. Zuriat itu ada dua, pertama zuriat dari yang dipertuan besar dan zuriat yang dipertuan muda. Jadi yang nolak itu mereka yang zuriat dipertuan muda. Kita kan masih bersaudara, kalau keluarkan statemen harus hati-hati kita kan berpendidikan,” ucap Fahmi, yang mengaku berasal dari zuriat yang dipertuan besar.
Sementara itu, rencana pelantikan Huzrin Hood sebagai Ketua Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) Provinsi Kepri rupanya mendapat penolakan dari komponen peduli adat-istiadat melayu Kepri.
Penolakan itu meluncur di antaranya berasal dari Kekerabatan Zuriat dan Kekerabatan Riau-Lingga, Rumpun Melayu Bersatu (RMB) Kepri, Perwakilan Organisasi Melayu Batam, Karimun, dan Lingga. Kemarin dengan kompak mereka mendatangi kantor Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri.
Kedatangan mereka, menyuarakan aspirasi menolak Huzrin Hood sebagai Ketua Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) karena pengangkatan Huzrin Hood dilakukan secara adat melayu dengan membawa-bawa nama zuriat-zuriat melayu Kepri. Mereka mendesak LAM mengambil tindakan tegas.
”Kita tak mempermasalahkan kehadiran FSKN. Yang dipermasalahkan mengapa Huzrin Hood yang diangkat, mengapa tak figur lain,’’ ujar Raja Malik, salah seorang Zuriat/Kerabat Kerajaan Riau-Lingga, di kantor LAM Provinsi Kepri, kemarin.
Ketua RMB Kepri, Said Robert mengatakan, masyarakat Melayu Kepri sangat terusik rencana pengangkatan Huzrin Hood sebagai Ketua FSKN Kepri. RMB minta LAM mengambil tindakan tegas.
Ketua LAM Kepri, Abdul Razak mengatakan, LAM telah menerima aspirasi. Inti permasalahan katanya komponen Melayu keberatan Huzrin Hood diangkat sebagai ketua FSKN. Karena pengangkatan dilaksanakan secara adat istiadat melayu.
Langkah yang diambil LAM Kepri sebutnya LAM, segera mengutus utusan menemui utusan raja-raja se-Nusantara untuk memberikan surat pernyataan secara tertulis menolak pengangkatan Huzrin Hood.
Ketua RMB Kepri, Said Robert mengatakan, masyarakat Melayu Kepri sangat terusik rencana pengangkatan Huzrin Hood sebagai Ketua FSKN Kepri. RMB minta LAM mengambil tindakan tegas.
Zuriat yang mengatas namakan turunan raja-raja Riau-Lingga di Provinsi Kepri dan Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri, Senin (11/2) mengeluarkan lima sikap dan penolakan soal rencana pelantikan dan pertemuan Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) di Pulau Penyengat hari ini.
Sikap pertama, zuriat menolak Huzrin Hood menjadi pemangku raja-raja masyarakat Melayu Kepri. Kedua, LAM menolak pelantikan mengunakan adat Melayu. Ketiga menolak pelantikan dan pertemuan FSKN di Pulau Penyengat. Keempat, LAM merupakan perwakilan adat Melayu yang sah. Terakhir, minta Polda tak kegiatan itu di Penyengat.

Cinta Bersemi Di Seberang Tembok


tembok cinaUntuk Satya Sembiring.

“imlek di Batam memang selalu seperti itu, saya memang batak tapi sudah jadi keluarga china di Batam. eh semua tradisi imlek juga saya jadi ikut…
kebetulan saya tinggal di komplek cina juga, eh walau saya jadi anak di keluarga itu malah orang pikir saya pekerja    hehehehe”  kata Satya Sembiring dalam emailnya kepadaku.

Karena tak jadi nak jeput dan mengantar pak Jamal,  hari kamis (7/2), tepat saat imlek aku ke perpustakaan sekolah, ada ratusan judul buku cerita terbitan balai pustaka koleksi perpustakaan sekolah kami, salah satunya CINTA BERSEMI DI SEBERANG TEMBOK karangan BAGIN , buku itulah yang kubaca.

Bagin, dilahirkan pada tanggal 7 September 1927 di Binjai, Sumatera Utara. Banyak menulis di majalah INDONESIA berupa cerpen dan artikel kebudayaan; aktif  pula sebagai wartawan di Medan. Sekarang menetap di Jakarta, menjadi penulis tetap Suratkabar Mingguan “Simponi”, dan mencurahkan pehatiannya pada artikel kebudayaan. Aktif juga menulis repertoir untuk grup teater yang dipimpinnya sendiri. “DERAP KAKI DENDAM HATI”. merupakan pengungkapanpartisipasi kaum remaja pada priode revolusi fisik, yang sangat berkesan ke dalam jiwanya di mana ia sendiri turut sebagai Barisan Bersenjata Republik waktu itu. Begitu riwayat singkat tentang Bagin.

Ringkasan dari cerita Cinta Bersemi Di Seberang Tembok, mengisahkan seorang Yusuf yang merasa dendam dan benci terhadap orang Cina, karena pasukan Poh An Tui yang bergabung dengan pasukan Belanda pernah menyiksa ayahnya. Tetapi rupanya sejarah dan nasib telah menentukan lain. Setelah perang selesai, Yusuf mempunyai hubungan batin dengan Ko Lian Mien, seorang gadis Cina. Kesulitan datang dari berbagai pihak, terutama dari ibunya sendiri. Namun cinta mereka sudah mendalam, dan dengan berbagai jalan mereka berusaha untuk membangun keluarga. Tekad mereka terwujud dengan perjuangan yang penuh keuletan dan keyakinan.

Cerita ini setingnya di Medan pada pertengahan tahun 1966 saat bergolak demontrasi sekelompok pemuda ektrim anti Cina, sejarah mencatatnya, bukanlah menjadi lembaran emas bagi arsip nasional, melainkan sebaliknya. Radio dan pres luar negeri mengecam keras adanya aksi kelompok ekstrim yang berbau rasial itu, tidak terkecuali pres dari negara-negara sahabat. Dan tentu saja Pemerintah juga tidak menyetujui aksi yang berbau rasialis sebagai cara penyelesaian masaalah Tionghoa perantauan. Tulis Bagin di hal 107 saat Yusuf di culik.

Buku ini bagus kau baca Satya Sembiring……………….   walaupun saat itu kau belum lahir…..cerita di Medan itu bisa kau tanyakan kepada orang tua mu ……. Saat itu aku berusia 13 tahun dan aku menyaksikan sendiri peristiwa itu, rumah kami di jalan Negara di simpang ujung jalan Wahidin, tetangga kami si Acen, Alai, Akiong adalah teman sepermainanku,  hampir semuanya warga keturunan, kayaknya hanya kami yang muslim diseputaran itu, saat itu ……….  Ada api ada asap……..pepatah melayu mengatakan demikian.

Aku takut hal seperti tahun 1966 itu terulang kembali, bisa lebih dahsyat lagi efeknya….  kesenjangan-kesenjangan seperti  tahun-tahun diawal Orde Baru mulai terasa, lihatlah apa-apa semua serba mahal. Guru, Paramedis pun sudah pada demo, indikasi negara kurang aman katanya kalau guru dan paramedis sudah turun ke jalan.

Mudah-mudahan pemerintah kita arif menyikapinya….

Pak Jamal Tak Dapat Ticket ke Batam


Aku sudah siap-siap nak jeput pak Jamal di Pelabuhan Ferry Sekupang Batam, karena katanya mereka dah pun di WTC Singapura…. menurut perhitunganku sekitar 1 jam lagi mereka dah sampai di Batam. Pak Jamal janji kalau dah diatas Ferry akan menghubungiku lagi, begitulah biasanya kalau beliau ke Batam selalu memberitahukan dimana posisinya.

Satu jam kemudian masuk sms ke hp ku dari pak Jamal “Maaf Imbalo kami tak dapat ticket, rencana ke Batam tak jadi.” itulah isi sms pak Jamal.  Untuk memastikan ketidakdatangan pak Jamal aku hubungi langsung, apa pasal sampai tak dapat ticket pikirku. Ternyata bukan pak Jamal yang melayu saja yang tak dapat ticket ratusan mungkin ribuan yang tak dapat berangkat hari itu ke Batam.

Apa agaknya antusias dari warga negara jiran tu nak ke Batam pikirku, kalau analisa dari pengamat lokal Batam dengan adanya judi di Singapura yang kini sedang di bangun disana, nantinya Batam akan mendapat luapan orang yang nak berjudi disana tetapi tinggalnya di Batam. Pagi ni pun kubaca di koran lokal Batam, orang-orang menyemut di pelabuhan, baik yang nak ke Singapura dan sebaliknya.

Promosi wisata Batam melempam, demikian analisa salah seorang pengamat pariwisata  Batam di harian lokal Batam, pada koran yang sama di hari yang sama pula menyatakan pelabuhan2 menyemut dan penumpang tak terangkut.

Pak Jamal bilang mereka disana libur empat hari, tak kesah melayu, india atau pun cina. Sebagian warga Singapura mengisi liburannya ada yang ke Malaysia, dan Indonesia yang paling terdekat adalah Batam. Seperti keluarga pak Jamal, tak lah mungkin mereka ke Batam nak berjudi. Kemudian berapa hari pulak mereka nak di Batam, mana-mana saja tempat mereka nak kunjungi. 

Bukan warga negara Singapura saja yang nak ke Batam,  dari Johor Bahru, Malaka, Kuala Lumpur pun ingin ke Batam tidak untuk berjudi dan tidak untuk nge- sex, itu aku tahu persis, karena aku sering kesana.

Bagaimana Pemko Batam………………………………………apa benar melempam

           

Jamal Tukimin dan Imran AZ


Sedang asyik melihat tukang yang sedang memotong dan membengkokkan besi beton bangunan perpustakaan yang akan kami bangun, tiba-tiba hp ku berdering, “Assalamualaikum Imbalo” suara dari seberang, ternyata pak Jamal Tukimin, pak Jamal demikian aku menyapanya sering datang ke Batam, beliau bermastautin di Singapura. “Besok saya ke Batam, pagi, dari Sekupang, berdua saja dengan isteri” jelas pak Jamal. “Jadi pak Jamal pun nak ber Imlek juga” candaku. “Gong xi fai cai” jawabnya dengan logat cina.  “OK lah besok saya jeput di Sekupang” jawabku

Kami sering bercanda dengan pak Jamal, aku kenal beliau sudah cukup lama. Pria 60 an ini sering sekali mengunjungi Indonesia, apalagi Batam, dia dulunya aktif di Muhammadiyah Singapura dan  menjadi salah seorang pengurus Muhammadiyah Asean.

Pak Jamal Tukimin adalah salah seorang sastrawan Singapura, nama belakangnya Tukimin, itu adalah nama orang tuanya yang berasal dari Jawa, tapi jauh sebelum Singapura merdeka sudah menetap disana. Kalau datang ke Batam waktunya hanya dihabiskan di toko-toko buku. Terkadang akupun dapat hadiah buku yang dibelikan beliau. Pak Jamal, pernah mengingatkan penulisan namanya, kalau salah tulis “J” nya bisa artinya menjadi lain, bermakna Onta katanya.

Banyak obsesi yang pernah diutarakan pak Jamal kepadaku, sepertinya dia kekurangan waktu, beberapa kali aku bersamanya mengunjungi Malaysia dan Thailand. Ke Indonesia, dia pun sering di Undang menjadi pembicara, banyak sudah kota di Indonesia yang dikunjunginya dalam kapasitasnya sebagai orang sastra.

Pak Jamal tetap mengakui asalnya dari Jawa, di Singapura suku Jawa tak seperti suku Boyan, suku  jawa, ya  melayu tetapi Boyan mendapat “hak istimewa” adalah suku tersendiri yang diakui oleh pemerintah Singapura.

Di Batam pun ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) yang sekarang, Datuk Imran AZ adalah generasi kedua orang Jawa yang bermastautin di Batam ( lahir di Belakang Padang), samalah dengan pak Jamal Tukimin di Singapura, generasi kedua di Singapura yang menjadi Sastrawan yang mewakili Singapura.   Orang tua mereka keduanya berasal dari Jawa sana.  

Kedua karib ku Datuk Imran AZ dan pak Jamal Tukimin, keduanya generasi kedua di bumi melayu, keduanya asal Jawa. Yang satu menjadi ketua LAM Batam yang satunya lagi Sastrawan kesohor di Singapura.

  

%d blogger menyukai ini: