Tahun Baru Hijrah, Tahun Baru Masehi di Batam


Hari ini tanggal 31 Desember 2007 di harian Lokal Batam tampak photo Ka Humas Pemko Batam, malam ini Maya KDI akan menggoyang Lapangan Engku Putri sampai capek……………….. dalam rangka pelepasan tahun 2007 menjelang tahun baru 2008.

(Kutipan tulisan dari Batam Pos)

Di Dataran Engku Putri, Pemerintah Kota Batam menyiapkan serangkaian acara menarik yang dikemas dalam acara bertajuk Pesta Rakyat. Selain dihibur suara merdu Maya KDI, warga Batam juga bisa menyaksikan pesta kembang api.
Kabag Humas Pemko Batam Yusfa Hendri menuturkan, akan ada 1.150 semburan kembang api di alun-alun Batam itu dengan durasi kurang lebih 15-20 menit. ”Kami mengundang warga Batam untuk menghadiri Pesta Rakyat tersebut,” kata Yusfa, Ahad (30/12

Hari Jumat (28/12) selepas sholat aku bertemu dan bertanya kepada Ka Humas Pemko Batam apa acara dalam rangka tahun baru Hijrah yang jatuh pada tanggal 09 Januari 2008….. dia hanya senyum tak dapat menjawab …. karena mungkin tak terpikirkan oleh Pemko Batam bahwa ada tahun baru Islam kali…………………. di masa Nyat Kadir walikota Batam jauh hari sebelum tahun baru Islam PHBI kota Batam telah mengadakan pertemuan.  Kami dari Sekolah – Sekolah swasta Islam dan organisasi Islam lainya diajak berpartisipasi.

Sampai hari ini belum ada pertemuan kata Basyir dari Masjid Raya….. saat aku hubungi pertelephon…..begitu juga Kakandepag Kota Batam Drs H Kudri Syam….. pun tak tahu…..Aneh …….nanti aku kabari pak Imbalo katanya dan sampaihari ini pun tak ada kabar darinya… 

Pada saat Sholat Jumat (21/12) aku diminta oleh pengurus masjid Raya Batam untuk berpartisipasi dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam…………. katanya akan diadakan tablig akbar di Tumenggung Abdul Jamal….. Jadi pantas lah kalau aku tanyakan apa kegiatannya.

Katanya tak ada dana……. dan dana yang dianggarkan oleh Panitia terlalu besar kata Ketua LAM Batam H Imran AZ….. kami dari LAM akan mengadakan acara kecil-kecilan saja datanglah undangnya……….  Jadi mungkin akan ditunda bulan Februari 2008 kata Basyir lagi….. Basyir katanya adalah panitia Hari Besar tersebut………Begitu lah Bandar dunia Madani.  

Iklan

Kalau Hidayah Datang


aku-berikan-nama-umar.jpg

Mai mi prakchao undai nok chak Allah Muhammad pin sasanaktuk kong Allah, Asyhadu Allah ilahaillallah Muhammadarasulullah …………………………………………Arti syahadat dalam bahasa Siam…… 

Pergi namanya Tom Sang, pulang berganti Musa, begitulah yang terjadi saat kami diantar oleh supir yang bernama Tom Sang dari desa Ban Sui menuju desa San Tu Sik, kedua desa ini berjarak kurang lebih 12 KM

Pria berperawakan kecil dari suku Mong usia sekitar 37 tahun ini, adalah pemilik dan sekaligus supir kenderaan lory (truk bak terbuka) pengangkut ternak yang di sewa membawa kami sekitar 20 an orang mengunjungi saudara muslim yang mendiami perbukitan Doi Chang di Propinsi Pha Yao Thailan Utara.

Sepanjang perjalanan dari desa Ban Sui menuju desa San Tu Sik dipinggir jalan perbukitan terjal itu pohon Sakura mulai bersemi, pohon terkenal di negara Matahari terbit Jepang itu pun dapat tumbuh subur di perbukitan Doi Chang, saat itu Desember 2007  suhu bisa mencapai 10 derjat celsius.

Kami bermalam di desa San Tu Sik, esok pagi harinya kami menyaksikan dan mendengar lafaz duakalimasyahadat dari bibir Tom Sang yang terpatah-patah. Ustadz Yusuf dari Pattani yang menuntun pengucapan syahadat Tom Sang, mempersilahkan Tom Sang memilih sendiri nama Islam yang diinginkannya… Musa …. ucap Tom Sang….

Tidak banyak keluarga muslim yang mendiami kedua desa itu… tetapi keberadaan keluarga muslim  dan adanya para Dai yang menetap tinggal disitu adalah bentuk dakwah nyata kepada para penduduk suku Mong yang memang mayoritas di desa-desa seputaran bukit Doi Chang. Mereka menyaksikan dan melihat sendiri, mereka memilih menjadi muslim tidak ada paksaan tidak ada iming-iming…….. telah puluhan keluarga suku bukit yang memeluk Islam………………..dengan kesadaran sendiri….    

Musa ……….  saudara muallaf……  tiba-tiba menghentikan kenderaannya  di tengah jalan ………..  rupanya dia mengambil beberapa batang bambu yang memang tumbuh subur di perbukitan itu….. untuk apa…… itulah katanya yang dapat dihadiahkannya kepada kami….. saat itu kami sedang berpuasa …… besok Idul Adha  1427 H… bambu tadi untuk membuat lemang …………………….. lemang di sana tidak pakai santan dan tidak pakai daun pisang sebagaimana lazimnya di Indonesia…. tetapi ada selaput dalam batang bambu muda tadi yang berfungsi membungkus beras ketan pulut, saat bambu dibelah.

Masih banyak Tom Sang-Tom Sang lain yang akan menjadi Musa-Musa…. di desa-desa di perbukitan sana….. bukan hanya di Thailand di Laos, Burma, Kamboja Vietnam pun mereka menunggu kita datang bersilaturahmi memberikan “kunci” pintu Hidayah sebagaimana kata ustadz Yusuf….. mengakhiri Tausiahnya saat menerima Musa sebagai saudara baru…… semoga kita dilapangkan rezeki, waktu dan kesempatan dapat mengunjungi saudara – saudara kita itu….. amien.    

         

Sosok Imam Bachroni Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah


Pemangku gelar adat Putra Kelana Jaya itu tak boleh berbuat demikian ujar Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam H. Imran AZ kepadaku lewat hp nya….. saat itu kami sedang menuju Masjid Raya Batam untuk melaksanakan sholat Jumat tanggal 28 Desember 2007….

Ada apa dengannya? ? ?  ternyata ada masalah soal lahan di Kabil  dengan Otorita Batam…. karena aku baru pulang Idul Adha dari Thailand dan Burma taklah mengikuti perkembangan di Batam…. kebetulan yang menangani lahan itu di OB adalah Imam Bahcroni …. H Imam Bachroni adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batam, Insinyur kelahiran Ponorogo ini orangnya kalem…. aku kenal dia belasan tahun yang lalu….  aktif di organisasi Muhammadiyah bukan hanya di Batam Indonesia saja malah untuk Asean…. saat aku ke Singapura, Malaysia dan Thailand pun banyak rekan sejawat yang menanyakan beliau… dan berkirim salam…. karena beliau acap menghadiri pertemuan Muhammadiyah Asean    

Kiprahnya untuk masyarakat Batam tidaklah sedikit…..pendirian  sekolah SMP, SMA Muhammadiyah di Batu Aji Batam, adalah bukti nyata hasil karyanya untuk anak bangsa…   dia tidak terpengaruh dengan hingar bingar perpolitikan di Batam…… dia bukan kutu loncat dan tidak memanfaatkan organisasi yang di pimpinnya untuk kepentingan pribadi dan sesaat , padahal kesempatan untuk itu terbuka lebar baginya. Banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah di Batam yang terjun ke dunia perpolitikan sebut saja DPRD Batam priode pertama dari 30 orang anggota Dewan yang terhormat itu 18 orang adalah tokoh-tokoh Muhyammadiyah Batam….

Bukan hanya pendirian sekolah …. panti-panti asuhan sebagai amal usaha Muhammadiyah pun diurusnya…. sejak terbentuknya Pimpinan Muhammadiyah di Batam belasan tahun yang lalu beliau ikut menerajuinya…..

Itulah mungkin ….  yang membuat gerah Ketua LAM Batam H Imran AZ….. meskipun itu urusan pribadi katanya kepadaku …. tapi sosok Imam Bachroni sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah tak dapat dilepaskan begitu saja….  ujar Bang Imran demikian kami memanggilnya…

Sudah lah itu resiko pekerjaan ujar Imam Bachroni saat bertemu di Masjid Raya Batam selepas Sholat Jumat….. sudah di laporkan ke polisi…. biarlah polisi yang memprosesnya tambahnya……

Itulah sosok Imam Bachroni tokoh Muhammadiyah …………………….  

Bank Islam dan Makanan Halal


 imgp1905.jpg

Kalau di Indonesia tak heranlah banyak berdiri Bank Islam……. lebih 80 % penduduknya beragama Islam…….. di Chiang Rai Thailand Utara dengan penduduk 200 ribuan dan kaum muslim hanya 2.000 an disana ada berdiri Bank Islam…………… Di Provinsi paling Utara Thailand itu kegiatan kaum muslim sangat terasa…… tidak hanya Bank Islam yang ada banyak restoran yang di kelola oleh kaum muslimin maupun non muslim yang mencantumkan label Halal.

Di Bandara Chiang Rai misalnya terlihat beberapa gerai yang mencantumkan label halal, disana pun ada beberapa hotel yang di kelola oleh orang muslim. 

Sepanjang perjalanan dari Sadao kota paling Selatan hinggalah ke Mae Sai kota paling Utara di Thailand tidaklah sulit menemukan makanan berlabel halal. Ratusan Mini Market sepanjang perjalanan itu yang bermerek 7 Eleven barangan yang dijual seperti makanan ringan maupun minuman ringan keluaran produk Thailand telah berlabel halal.

September 2007 yang lalu kami  mengunjungi pusat halal center di Chulalongkorn University di Bangkok yang diketua oleh DR Winai Dahlan.. kepedulian pengusaha Thailand  mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikat halal perlu ditiru oleh pengusaha di Indonesia …….. meskipun disana mayoritas non muslim, karena  produk yang dihasilkannya tidak hanya untuk masyarakat Thailand sendiri.

Ratusan sample makanan dan minuman yang masih menunggu uji halal di laboratorium yang paling terlengkap di dunia itu ditunjukkan oleh DR Winai Dahlan kepada kami, dan telah ribuan jenis pula makanan dan minuman yang telah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Agama Islam Thailand, dan telah beredar di seluruh pasar di Thailand bahkan sampai ke Indonesia, Malaysi, Singapura bahkan ke manca Negara.                    

Bebas Visa Tidak Berlaku di Myanmar


imgp1850.jpg

Tanggal 20 Desember 2007 yang baru lalu kami 6 orang  berada di Thailand Utara dalam rangka Idul Adha 1427 H di Kota Mae Sai Provinsi Chiang Rai, Mae Sai berbatasan langsung dengan Myanmar (Burma).

Keluar dari Thailand di kantor imigrasi Mae Sai kami dimintai uang 100 bath perorang, pasport di tahan, kami di photo setengah badan dan kepada kami hanya diberikan photo copy an paspost  yang sebelumnya sudah di photo copy sndiri  berikut selembar kertas tertera nama2 kami berenam dan di kertas itu pula ada tertera stemple dan paraf petugas yang menerima uang kami tadi.

Kertas berikut photo copyan pasport dari petugas imigrasi Mae sai Thailand itu tadilah yang kami bawa ke kantor imigrasi Tachilek Myanmar.  Photo copyan pasport dari imigrasi Thailand tadi tinggal di kantor imigrasi Tachilek dan hanya selembar kertas bertuliskan nama-nama kami ber-enam yang diberikan. Dikantor imigrasi Tachilek kami diminta uang pula sebesar 500 bath perorang.

Banyak komentar yang diberikan tentang pungutan uang itu……salah seorang teman kami dari Malaysia mengatakan uang yang dikutip itu adalah untuk pribadi petugas disitu….lihatlah uang yang diterima hanya dimasukkan kekaleng bulat bekas biskuit…..seperti di warung-warung saja celetuknya…. seorang lagi mengatakan pemerintah junta militer tak peduli dengan bebas visa negara asean…… peraturan yang berlaku di Myanmar adalah sekehendak mereka yang berkuasa….. buktinya kalau pemegang pasport guru misalnya tak dikutip mereka……  kutipan sebesar 500 bath di Myanmar mungkin masuk akal karena sekarang yang berkuasa adalah junta militer, nah loh bagaimana kutipan 100 bath di imigrasi Mae Sai Thailand?………………..

Karena imigrasi Sadao Thailand yang berbatasan dengan Batu Hitam Malaysia kita tidak dipungut bayaran, demikian pula melalui bandara Suvarnabumi Bangkok.

Begitu pula saat kami pulang dari Tachilek kembali ke Thailand ……. ada beberapa orang teman yang membeli dan membawa barang yang memang banyak dijual di pasar Tachilek dan memang harganya rada murah…….. siap-siap pula dipunguti uang oleh petugas Bea Cukai di Tachilek……

Muslim Cina di Chiang Rai


keluarga muslim cina di perbukitan doi pha chang provinsi pha yao thailand utara

muslim cina di perbukitan doi pha chang provinsi pha yao thailand utara

Banyak artikel tentang Muslim Cina sudah di tulis, ini hanyalah sekedar pengalaman selama dalam perjalanan ke perbatasan Cina dengan Thailand.

Di Mae Sai salah satu kota di provinsi Chiang Rai Thailand Utara misalnya, Muslim Cina disana dipanggil Cin Ho… enggak tahu apa ada hubungannya dengan laksamana Cheng Ho,  kalau dari segi ekonomi mereka cukup berhasil,  banyak toko, restoran milik mereka,  disana pun ada beberapa Hotel yang dimiliki dan dikelola oleh Muslim Cina.

Baru-baru ini saya ke Chiang Rai.

Menurut buku Tuanko Rao oleh Mangaraja Onggan Parlindungan tidak sedikit peran Muslim Cina untuk Islam di Nusantara (Indonesia) terlepas dari kontroversi buku itu soal orang Mianang.

Kalau kita lihat di peta, Chiang Rai adalah bekas kerajaan Lana tempo dulu, letak kerajaan Lana itu tidak berapa jauh dari Yunan Cina Selatan. Sekarang pun dengan berkenderaan Bus dari Mae Sai ke Yunan bisa ditempuh selama 4 jam, tentunya melalui kota Ta Chi Lek di Provinsi Shan Burma (Myanmar sekarang).

Di bukit-bukit di sekitaran provinsi Chiang Rai, begitu pun di  provinsi Pha Yao masih banyak dijumpai muslim Cina. Mereka eksodus ke Thailand  karena alasan faham komunis yang dianut negara itu, disamping aqidah, juga dari segi keamanan dan ekonomi sebagai mana yang diceritakan oleh Ibrahim penduduk kampung Santisuk masuk Provinsi Pha Yao, saat kami bertemu dan berbincang bincang dengan nya.

anak - anak muslim suku hmong di thailan...........

anak - anak muslim suku hmong di thailan...........

San Ti Suk yang berarti kampung  yang sentosa atau kampung yang aman damai.  Banyak diantara mereka yang berkahwin dengan penduduk asli atau orang disana menyebutnya suku bukit yang berasal dari Hmong (mongolia?). Di bukit -bukit yang berhawa sejuk itu, mereka tetap teguh dalam Islam .

Sementara, kalau kita arah ke bukit-bukit sebelah Barat Chiang Rai, disana  banyak dihuni suku Aka,  disini pun terjadi perkawinan campur suku pendatang dengan suku asli. Seperti Bilal masjid An Noor di Mae Sai,  Haji Musa namanya , adalah Cin Ho dari Yunan berkawin dengan suku setempat dan memeluk Islam.

Demikian juga dengan Dai-Dai dari Thailand Selatan yang ditempatkan di perkampungan-perkampungan di perbukitan-perbukitan itu beristrikan perempuan-perempuan suku setempat.

Ustad Hasan (35) pria beranak empat ini mempunyai isteri dari suku Hmong,  adik beradiknya semua masuk Islam, malah telah ada yang kuliah di University Yala mengambil jurusan Bahasa Inggris, meskipun saat ini  orangtua mereka masih pagan diperbukitan sana.

Tentang bahasa, bahasa Melayu logat Thailand terutama dari Selatan (Patani, Yala, Narathiwat) agak aneh terdengar di kuping orang Indonesia, menyebutkan sore atau petang menjadi pete, malah kata Islam menjadi Isle, jadi kalau menyebut orang Islam menjadi ore Isle. Mungkin itu menyebabkan kata Cin Ho menjadi Cheng Ho wallauhu’alam.

Muslim Nusantara

Dari perbukitan di Tahiland yang memanjang sampai ke Cina sana, menyimpan banyak peristiwa, seperti Hun Sa si raja ovium dunia itu misalnya (sudah meninggal). Di  bukit Doi Pho  Chang  (dua gajah) tempat sarang komunis yang sangat sulit ditumpas pemerinta setempat,  pun bermaskas disana.

Chiang Rai provinsi paling utara di Thailand ini adalah tempat laluan orang yang berkepentingan ke Nusantara. Kalau ada waktu dan rezeki kaum Cina Indonesia pergilah ke sana.

Kaum Cina disana, mereka pandai berbahasa Arab, pasih melantunkan azan dan bacaan sholat,  menjadi pengurus masjid dan mereka memotong hewan qurban untuk yang duafa, bukan untuk roh jahat.

Yang lebih penting lagi mereka tidak marah dan malah bangga di sebut orang Cina  atau Cin Hoi. Tidak seperti di tempat saya di Batam dan umum nya di Indonesia , mereka lebih suka di panggil Tiong Hoa.

Muhammadiyah Internasional (Ustadz Abdul Wahab)


Ustadz Abdul Wahab dari Kulim Kedah Malaysia. Azamnya, Sungai Mekong nak tempat mandi junub dan berwuduk. InsyaAllah.

Ustadz Abdul Wahab dari Kulim Kedah Malaysia. Azamnya, Sungai Mekong nak tempat mandi junub dan berwuduk. InsyaAllah.

Sangat berbangga sekali terlihat pria 67 tahun ini menyebutkan, bahwa Surat Keputusaan pengangkatan nya menjadi pengurus Muhammadiyah International ditanda tangani oleh Din Syamsudin. sebagai mana diketahui Prof. Din Syamsudin adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pada 24 September 2007 yang lalu, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1427 H,  kami berkesempatan mengunjungi rumah ustadz Abdul Wahab di Kulim Kedah Malaysia. Ustadz Wahab mempunyai lima orang anak, empat sudah berkeluarga yang seorang lagi bekerja di Kuala Lumpur

Di Rumah yang terbilang cukup besar itu pak Wahab tinggal berdua dengan sang isteri . Kami berlima,  anak beranak,  bermalam semalam dirumahnya.

Saat itu ustadz Wahab dalam keadaan sakit, Ia nya terkena stroke, untuk mengangkatkan kakinya saja, sungguh sulit, sholat pun ustazd Wahab hanya duduk diatas kursi, se-sekali dia melangkah dibantu dua tongkat yang diapit  diketiaknya. Iba hati melihatnya. Isteri ustadz Wahab Ummi Maemunah sungguh telaten merawatnya.

Program Kerja Muhammadiyah Internasional. 

Meskipun dalam keadaan sakit, dengan semangat  ustadz Wahab menjelaskan rencana kerja Muhammadiyah International yang dipercayakan kepadanya, dalam waktu dekat ini, yaitu tebar hewan Qurban bagi suku anak pedalaman  di Tahiland Utara sana. Ribuan kilo meter jauhnya yang harus ditempuh untuk mencapai wilayah itu. Ustadz Wahab mengajak kami untuk ikut berpartisipasi dalam acara Idul Qurban dimaksud.

Pagi, keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan safari Ramadhan, Ustadz Wahab ikut mengantarkan kami ke Pulau Penang Malaysia, dari Kulim Kedah ke pulau Penang sekitar 40 menit dengan kereta (mobil). Di Pulau Penang kami bertemu dengan DR Halim dosen di UTM, yang juga sobat kami di Muhammadiyah.

Bus jemputan yang akan membawa kami ke Hatyai Thailand telah tiba, ustadz Wahab serasa tak hendak melepaskan kami pergi. “Sampai jumpa di bulan Desember InsyaAllah”  ucap ustadz Wahab terbata-bata, tak henti-henti ia menangis air mata mengalir di pipinya yang sudah mulai keriput itu. Dengan dipapah tongkat dia masuk kembali kedalam kereta (mobil) yang dikendarai isterinya Ummi Maemunah.

Hatyai salah satu kota di Provinsi Yala, terletak di selatan Thailand,  empat provinsi di selatan itu mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Patani, Narathiwat, maupun di Songklah. Banyak pelajar dari sana menimbah ilmu di Indonesia, beberapa dari mereka menjadi pengurus Muhammadiyah di Thailand. Dan tergabung dalam Muhammadiyah Internasional.

Dari Hatyai dengan penerbangan murah perjalan safari kami lanjutkan ke Bangkok, di Bangkok kami  berjumpa dengan DR Winai Dahlan, pakar pangan yang terkemuka di Chulalongkorn University. DR Winai Dahlan adalah cucu dari pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dhalan.  DR Winai juga adalah Direktur Halal Center Thailand.

Empat bulan kemudian…………

Alhamdulillah,   15 Desember 2007 kami berjumpa lagi, saat melihat ku turun dari Bus, Ustadz Wahab sumringah. Dia rupanya sangat khawatir terhadapku, mungkin karena akulah satu-satunya orang Indonesia dalam rombongan itu, apalagi daerah Selatan Thai terus bergolak, Bom dimana mana.

Ustadz Wahab sengaja menungguku di stasiun Bus Hatyai Thailand, kali ini aku seorang diri  yang berangkat. Dari Batam Indonesia dengan Ferry ke Stulang Laut Johor Malaysia di tempuh sekitar 1 jam lebih. Sementara dari terminal Bus Larkin di Johor Bahru langsung ke Hatyai Thailand sekitar 15 jam perjalanan. berangkat selepas magrib tiba menjelang zuhur. Itu di hari biasa, kalau hari libur, sama seperti di Indonesia juga,  semua Bus penuh.

Dengan senyum khasnya ustadz Wahab memelukku. Tidak ada tongkat sama sekali, jalannya gagah dengan sepatu boat  dan celana jean serta baju kotak-kotaknya  persis seperti ranges, itu adalah seragam kesukaan ustadz Wahab. Bukan main semangat hidupnya.

Ciri ustadz Wahab lain adalah Jenggot panjang yang sudah memutih, mirip HO Chi Min.  Rangsel selalu dipunggungnya, ustazd Wahab perawakannya tinggi 175 cm.  Dia selalu mengatakan kalau orang tuanya berasal dari Kunmin provinsi Yunan China dan memang terlihat dari raut wajahnya,  matanya sipit, kulitnya putih,

“Tapi saya tak boleh bercakap cina, kholil” jelas ustadz Wahab dalam bahasa Arab yang memang dia fasih mengucapkkannya. Sembari senyum, ini dijawabnya bila ada orang yang akan bercakap cina dengannya.

Dari Hatyai kami naik bus menuju Bangkok, disana telah menunggu rombongan yang telah terlebih dahulu berangkat dari Pulau Penang Malaysia, maupun yang dari Thailand. Aku terlambat datang ke Pulau Penang. Dari Batam tanggal 14 Desember 2007 langsung ke Stulang Laut pelabuhan ferry Johor Bahru.  Dari Larkin terminal Bus di Johor Bahru ternyata sulit mendapatkan seat Bus yang akan menuju langsung ke Pulau Penang, apalagi langsung ke Hatyai. Sehingga aku mengambil jurusaan Bus “omprengan” ke Kuala Lumpur. Dari Kuala Lumpur tadinya diperkirakan masih bisa sempat naik Bus yang ke Pulau Pinang. Dalam keadaan normal JB – KL sekitar 4 jam saja,  tetapi sebelum sampai Kuala Lumpur di HaigWay Bandar Nila Bus yang aku tumpangi mogok.

Bandar Nila adalah tempat pelatih Karate Indonesia dibabak belurkan petugas Polsisi Diraja Malaysia beberapa waktu yang lalu itu,  aku menunggu Bus dari Johor sebagai pengganti Bus yang mogok, 5 jam lamanya,  sehingga sampai di Kuala Lumpur hari sudah menjelang subuh, sehingga aku tidak ke Pulau Penang lagi karena rombongan dari Malaysia sudah berangkat ke Thailand paginya. Terpaksa aku  langsung naik Bus dari Kuala Lumpur ke Hatyai Thailand.

Dakwah Ustazd Wahab……

Ustazd Wahab, telah berbelas tahun melaksanakan dakwah di pedalaman Thailand, sejak ianya  muda lagi. Hampir seluruh provinsi dan kota di Thailand telah dilaluinya dan banyak pula negara selain Thailand yang telah dikunjunginya. Hanya empat bulan sejak September hingga Desember 2007, karena sakit strok yang dideritanya membuat rungsing hatinya.

Hampir semua masjid, sepanjang perjalanan yang kami lalui untuk berhenti bersholat dari Selatan ke Utara tak ada jamaah dan imam masjid yang tak mengenal sosok ustazd Wahab, mereka semua kenal belaka. Itu yang membuat kagun terhadap sosok pedakwa yang satu ini.


Angan Ustd Wahab……Sungai Mekong tempat berwuduk dan Junub..

Penyembelihan hewan qurban dipusatkan di Pha Yao dan berjalan lancar,  perjalanan kami pun berjalan lancar, kepulangan rekan warga Thailand dipercepat 2 hari dari rencana semula 10 hari. Karena tanggal 23 Desember 2007 bertepatan dengan hari  pemilihan raya di Thailand. Rombongan dari Patani, Yala dan Naratiwhat pulang terlebih dahulu,  sementara sebagian rombongan  Malaysia pulang melalui udara.

Rombongan dari Malaysia yang pulang dengan Bus, sehari sebelum pulang ke Malaysia  mengunjungi beberapa masjid di Chiang Rai, ada beberapa masjid yang kami kunjungi,  termasuklah masjid yang dibangun dan dibina oleh Muhammadiyah Internasional, di masjid itu ditempatkan Dai untuk membina para muallaf.

Di masjid dimana ditempatkan ustazd Ahmad Siddiq misalnya, pemerintah setempat dalam hal ini pemerintah Thailand bagian Utara khususnya cukup akomodatif,  “Asal kita laporkan saja kegiatan kita kepada kerajaan” ujar ustazd Siddiq yang menjadi ketua di Madrasah yang ada disitu. Dia pun selalu diundang oleh kerajaan dalam hal-hal yang berkenaan dengan agama.

“Kita berdakwah haruslah santun dan bijak” ujar ustazd Wahab menimpali. “Banyak suku bukit yang mendiami perbukitan sejuk di Thailand Utara itu  belum tersentuh dakwah” lanjut ustazd Wahab pula.  “Kita memerlukan banyak Dai dan dana untuk itu” lanjutnya lagi

Tak terasa kami telah memasuki kawasan Golden Triangle (segi tiga emas) yang terkenal itu, disepanjang tepian sungai Mekong terlihat banyak bangunan resot, cafe dan restoran. Disitu pun banyak tempat perjudian. Sungai Mekong  adalah sungai yang menjadi perbatasan tiga negara, Thailand, Burma dan Laos. Sungai ini  panjang berkelok-kelok dari mulai China. Wilayah salah satu tempat transaksi ovium terbesar di dunia itu nampak terlihat jelas dari tempat kami berdiri terbuat dari kayu jati dengan tiang besar dan kayu  pilihan lainnya.

Sembari  menatap air yang agak keruh mengalir di Sungai Mekong yang membatasi ketiga negara itu, yang kini banyak berdiri tempat maksiat, ustadz Wahab meluahkan azamnya yaitu nak menjadi kan sungai Mekong tempat berwuduk dan tempat mandi junub, nantinya dikemudian hari ? Itulah azam dan mimpi ustazd Wahab.  “Bukankah Hunsa bisa juga mati” ?.kata ustadz Wahab menimpali.

Insayallah…….


%d blogger menyukai ini: