• kunjungan

    free counters
  • RSS hang tuah batam

  • Album Foto

  • fans page

  • <script type="text/javascript">var cstrpuid = 234893;var cstrpwidth = "200";var cstrpheight = "130";</script><script type="text/javascript" src="http://cdn.caster.fm/0070B7/widgets/player.js"></script><!-- DO NOT REMOVE THE LINKS BELOW, THEY WILL BE HIDDEN (AND WILL HELP US A LOT) --><a id="cstrplb" href="http://www.caster.fm/">Free Shoutcast Hosting</a><a id="cstrplb2" href="http://www.caster.fm/">Radio Stream Hosting</a><div id="cstrpdiv"></div>

DR Basirun : Putra Champa Dari Phan Rang Vietnam


vietnam 1

KUALA LUMPUR –Phan Rang dulu, adalah suatu daerah dari Kerajaan Islam Champa, kini jadi provinsi paling selatan, bagian dari Vietnam. Dan Phan Rang adalah kota terakhir dari kerjaan Islam Champa, yang seorang putrinya menikah dengan Raja Hayamwuruk. Dianeksasi oleh Vietnam hampir 600 tahun dulu. Phan Rang terletak sekitar 600 kilometer dari Ho Chi Min.

10579980_946942035319868_5804526228236232606_n

Umat Islam disana “terseok seok”, tidaklah mudah bagi anak-anak Islam untuk belajar agama, apalagi untuk belajar keluar negeri.
Untunglah Raja Kamboja agak berbaik hati, masih melindungi umat Islam yang lari dari negera tetangga tersebut. Hingga kini masih ribuan umat Islam menduduki daerah perbatasan antara Kamboja dengan Vietnam.
Dan baru dua tahun terakhir ini umat Islam dari Vietnam yang hendak menunaikan ibadah haji langsung dari Vietnam. Selama ini bila hendak ke Makkah harus melalui Thailand, Malaysia, ataupun Kamboja.

Termasuk Basiron, putra Champa kelahiran Phan Rang ini harus menukar kewarga negaraannya untuk mendapatkan pasport belajar di luar negeranya.
Di Negara Komunis itu , tak ada data pasti berapa jumlah umat Islamnya, selama ini mufti yang mengatur tentang Islam dibawah Ulama Kamboja.10351673_946944735319598_774071998511684597_n
Dibeberapa tempat yang dikunjungi Buletin Jumat (BJ), ribuan umat Islam tidak melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, tetapi tetap mengaku Islam, bahkan ribuan dari mereka sampai sekarang tidak di khitan.

“Mereka disebut Islam Bani, atau Islam asli, shalat cukup diwakilkan imam saja, sekali sejumat saja terkadang” ujar Basiron.

Populasi Islam Bani ini banyak di Phan Rang, mereka mempunyai Imam tersendiri dan dilindungi oleh Negara. “Sebenarnya sangat kurang pengetahuan agama mereka selama ini” tambah Basiron lagi.

Kembali ke Kampung

“Basrion bin Abdullah” demikian namanya dipanggil annouser pada saat Wisuda di Universitas Islam Antara Bangsa Malaysia (UIAM) , 11 Oktober 2014 yang lalu. Basiron berhak menyandang gelar Doctor Of Philosophy Arabic Lingustic. Pria 30 tahunan ini menyelesaikan S1 dan S2 nya di Madina.
BJ sengaja datang ke Gombak Kuala Lumpur, menyaksikan acara wisuda.

“Iya saya akan menetap di Vietnam” ujar Basiron. “Banyak hal yang akan diperbuat terhadap umat di tempat kelahiran saya”, tambah Doktor pertama dari Phan Rang, dan dialah satu satunya jurusan bahasa Arab di Vietnam saat ini.

Lembaga MUI dan Lembaga Halal

Belum ada lembaga seperti MUI di Vietnam, selama ini dibawah kendali oleh negeri Kamboja, membuat tekad Basiron semakin bulat bersama teman-teman sesama alumni Timur Tengah, akan membentuk Majelis Ulama Vietnam.
Terutama yang m10712786_946943041986434_8691932409019962405_nenyangkut dengan halal. Di Vietnam ada perusahaan mencantumkan sendiri logo halal, padahal makanan itu mengandung babi. Hal ini menjadi temuan BJ suatu ketika.

Pemerintah Vietnam, mulai membuka diri, baru dua tahun terakhir ini juga umat Islam diberikan izin mendapatkan pasport untuk belajar Islam di luar negeri, beberapa pelajar dari sana belajar di Batam. Perekonomian umat Islam mulai nampak menggeliat, BJ, beberapa kali mengunjungi daerah seperti Phan Rang, Tay Ninh, Cou Doc, pertanian disana bisa panen sampai tiga kali, anugra Ilahi melalui Sungai Mekong.
Rumah-rumah penduduk Islam pun mulai nampak di bangun yang baru. Begitu juga masjid, ada masjid yang dibangun oleh dua negara Indonesia dan Malaysia. (imbalo)

Sekelumit Kisah Yusuf Pelaut Muslim Asal Indonesia di Vietnam


SONY DSC
Hampir setahun bekerja di kapal cargo bendera Malaysia, Yusuf namanya, pria 24 tahun asal Bogor Indonesia ini menjabat sebagai 2nd Chief Enginer di kapal kapasitas 2.000 ton yang mengangkut beras dari Vietnam ke Malaysia. ( https://www.facebook.com/silobakj )

“Selama ini saya kalau Jum’atan ke Cou Doc, sekitar 2 jam naik speda motor sewa dari tempat kapal bersandar ” ujar Yusuf . “Khotbahnya pakai tiga bahasa, melayu, kamboja dan vietnam”.tambah Yusuf lagi.

Cou Doc adalah satu kota terbanyak populasi muslimnya di seluruh Vietnam negeri Komunis yang beribukota di utara Ha Noi, tetapi kota terbesar dan terbanyak jumlah penduduk ada di selatan yaitu Ho Chi Min (dulu Saigon).
SONY DSC
Cou Doc masuk dalam provinsi An Giang, provinsi kedua terbesar setelah Ho Chi Min. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Phom Penh Kamboja, bahasa di kedua negeri itu nyaris sama, mereka menggunakan bahasa Champa.

Petang kemarin Jumat (26/4) Yusuf kembali mengunjungi Masjid Salamad di An Giang, menjelang magrib Yusuf baru bisa turun dari kapalnya. “Jadi tidak jum’atan Ki” kata Yusuf. ” saat kutanya pakai bahasa apa dan siapa khatib shalat jum’at di Masjid Salamad itu.

Yusuf yang memanggilku Aki ini baru tahu kalau dari tempat kapalnya bersandar, ada sebuah masjid melalui blog pribadiku https://imbalo.wordpress.com/2012/10/02/masjid-kecil-di-an-giang-vietnam/ Jutaan penduduk kota itu, tak sampai sepuluh keluarga orang muslimnya, dan hanya Masjid Salamad yang mau rubuh itu saja ada rumah ibadah bagi orang Islam disana.
SONY DSC
Tiga tahun belakangan ini pemerintah komunis Vietnam telah membuka diri, terutama terhadap kegiatan islam, seperti jamaah haji misalnya, mereka sudah bisa mengirimkan sendiri langsung dari vietnam , selama ini melalui Thailand atau Malaysia.

Pelajar yang mau belajar Islam dulu tidak diizinkan, kalau mau juga dengan diam diam dan harus menukarkan kewarganegaraannya dengan warga negara Kamboja, kini mahasiswanya telah direstui dan diizinkan menggunakan pasport Vietnam.

Imam masjid Salamad bernama Sholeh, saat kami kunjungi tahun 2012 lalu bersama rekan dari Yayasan Amal Malaysia ( https://www.facebook.com/yayasanamal.malaysia?fref=ts ), mereka sekeluarga belajar Islam melalui internet, menitik air mata saat beliau membaca surat Fatiha, dalam shalat magrib berjamaah yang diimaminya, terdengar tidak sebagaimana lazimnya kita membaca.
Lokasi tanah bangunan masjid itupun kini diincar oleh investor.

” Kaca sebelah selatan masjid sudah pecah Ki” ucap Yusuf kepadaku melalui whatsapp.

Dan Yusuf pun mengirimkan gambar masjid yang sudah tambah reot itu, ibah hati melihatnya.
Kukatakan kepada Yusuf disela sela kesibukannya , agar bisa meluangkan waktunya mengunjungi keluarga Imam Sholeh untuk mengajarkan Quran kepada mereka.

Dua anak pak Sholeh dari 4 bersaudara sudah menikah, nyaris tak bisa membaca al-Quran. Cucu-cucu nya pun sudah mulai masuk usia sekolah.

“Insyaallah Ki” kata Yusuf terkadang kami ngobrol dengan bahasa sunda, rupanya Yusufpun sudah rindu pulang ke kampung halamannya………..

Moga-moga ada pelaut pelaut lain seperti Yusuf yang membaca postingan ini mampir ke sana ke masjid Salamad.Dan ada pula para aghniya yang berkenan membantu untuk merenovasi masjid yang sudah reot itu….????
Kang Arief Darmawan (https://www.facebook.com/arief.darmawan.693?fref=ts) ,tadinya kami sangat berharap satu dari putra Imam Sholeh ini dapat belajar di Mahad Said bin Zaid Batam tapi bagaimana lagi kondisinya seperti itu.

Sriotide Marbun, (https://www.facebook.com/sriotide.marbun?fref=ts) bantu bang melalui Konjen RI di Saigon, kalau dari Ha Noi kejauan…

Kisah Mustafa Belajar Islam di Indonesia


FotoNamanya Mustafa (22), berasal dari Provinsi Tay Nhin Vietnam, Senin (18/3/2013) yang lalu, Mustafa mengunjungi Buletin Jumat (BJ). Mustafa tidak sendi rian, berdua dengan Umar asal Provinsi Chau Doc.

BJ, pernah berkunjung ke kedua Provinsi yang berbatasan dengan Kamboja itu. Tay Nhin Vietnam, hanya berbatasan ladang ubi singkong dengan Provinsi Kampung Cham di Kamboja. Sementara dari Chau Doc Vietnam, naik ferry menyu suri anak sungai Mekong sekitar 3 jam sampailah di Ibukota Kamboja Phnom Phen.

Di kedua porvinsi itu ramai umat Islam, tidak ada data resmi dari pemerintah Vietnam, berapa jumlah persisnya. Di Tay Nhin ada 7 buah masjid. Ketujuh masjid itu pernah dikunjungi BJ. Ada madrasah, tetapi tidak ada ustad yang mengajar.

Di Chau Doc, puluhan jumlah masjid berdiri, puluhan ribu penduduk muslimnya. Ada beberapa madrasah, kesitulah Mustafa kecil belajar agama Islam. Madrasah, yang dikelolah oleh ustad Umar.

Jauh perjalanan dari Tay Nhin ke Chau Doc naik Bus ditempuh selama satu malam. Kalau dari Saigon (Ho Chi Min) ke Tay Nhin naik Bus 5 jam.
Senang sekali Mustafa saat seseorang yang berasal dari Indonesia mengajaknya ke Indonesia, untuk belajar Islam ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu Mustafa berusia 15 tahun. Untuk memperlancar bahasa Indonesia nya , selama setahun tinggal di Indonesia Mustafa hanya belajar hafalan Alquran saja. Barulah tahun kedua Mustafa belajar lain lain pelajaran.

Dasar Mustafa memang ingin memperdalam ke-Islamannya, dan niatnya setelah pulang nanti ke Tay Nhin akan mengajar di kampungnya.Tentulah Dia ingin belajar ilmu ke-islaman sebanyak banyaknya. Bukan hanay belajar Hadist belaka. Tetapi apa lacur, di pondok tempat dia belajar tidak diperbolehkan belajar dari kitab atau buku yang bukan terbitan atau yang dikeluarkan oleh lembaga tempat dia belajar.Foto

Hal itu pernah ditanyakan Mustafa kepada ustad yang mengajar di ponpesnya. Mustafa dinasihati dan dingatkan bahwa dia tidak boleh was-was. Kalau dia was-was, bisa terkeluar dari Jamaah kalau sudah keluar dari Jamaah, terkeluar pula dari Islam.

Sejak itu, hati Mustafa selalu bertanya-tanya, dan memang was-was, kesempatan ada, saat membu ka internet, Mustafa menemukan jawabannya. Dia ingin pulang segera, tetapi tidak punya uang sebesar 3.000 US Dollar. yang harus dibayarkan sebagai denda?

Enam tahun lamanya dia di pondok dan lembaga yang lebih fokus kepada pembahasan hadist itu, Kini Mustafa sudah bebas, “Saya takut sekali saat disana, kan di negeri orang.” ujar Mustafa lugu, agak terdengar medok bahasa Jawanya. Maklum beberapa lama ada pengabdian jadi dai, Mustafa harus tinggal di beberapa daerah di Jawa Timur.

Siang tadi (20/3) Mustafa mengi rimkan sms kepada BJ, setelah dari Singapura, Mustafa akan ke Tay Nhin dahulu, memberitahu kan kepada kawan-kawannya agar tidak seperti Dia. Terjebak?.

Jabal Arafah : Masjid Kebanggaan Warga Batam



Jabal Arafah adalah nama sebuah masjid di Batam. Masjid ini belum selesai dibangun “Ruangan yang sekarang dipakai untuk shalat itu, nantinya digunakan untuk ruang pertemuan semacam aula” ujar Fuardi Djarius. Mantan Kepala Dinas Kesehatam Kota Batam ini, menjelaskan kepada Buletin Jumat (BJ) biaya yang dikeluarkan sudah mencapai 10 miliar rupiah lebih. “Sekarang pembangunan difokuskan membuat menara dulu, agar kelihatan ikonya” tambah Fuardi lagi. Kalau dilihat sepintas dan tidak membaca tulisan, bangunan baru itu memang belum mencerminkan bentuk sebuah masjid.

Bangunannya bertingkat-tingkat, mengikuti struktur tanah, dari mulai tempat parkir, ruangan kantor masjid dan keatas tempat wuduk, setingkat lagi bangunan aula yang sekarang dibuat untuk tempat shalat. Tersedia juga mini market, menjual aneka ragam makanan ringan, tentu minuman juga tersedia. “Sementara ini hanya dihari Jumat ada jual nasi dan kari kambing” lanjut Fuardi lagi. Rencana kantin masjid itu belum selesai lagi.

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah


Disitulah Fuardi menghabiskan waktunya mulai masuk waktu shalat Juhur hingga selesai shalat asyar. Fuardi tidak sendiri, teman sejawat sesama pensiunan acap datang berjamaah dan bercengkerama. layaknya masjid ini semacam taman orang tua, dan tempat bertemu lansia . Mereka berbincang dibawah tenda yang disediakan oleh pengelola masjid.
mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga

mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga


Masjid Jabal Arafah, terletak persis di samping timur Mall Nagoya Hill, bisa jadi Mall ter-besar dan ter-ramai di Batam ini, membuat orang jadi ramai pula berkunjung ke masjid. “Yang jelas kami sekeluarga memang sengaja datang kesini” ujar Hanafi, bersama isteri dan ketiga anaknya, dihari hari libur dan senggang, meraka menyempatkan datang. Banyak keluarga muda seperti Hanafi datang mengunjungi masjid Jabal Arafah ini.

Lumayan menguras tenaga dari jalan raya naik ke bukit, dengan berjalan kaki. Tetapi tidak bagi ke-enam anak lelaki usia sekolah dasar (SD), tengah hari itu, mereka memang sudah berencana selepas sekolah hendak shalat di masjid yang ambalnya tebal, enak sujudnya kata mereka. Masih terlihat segar, apalagi selepas wuduk, mereka berlari dan bercanda, masuk ke ruang shalat.

"Maha Suci Engkau Ya Allah" jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka.."Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya....

“Maha Suci Engkau Ya Allah” jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka..”Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya….


Halaman masjid ini dilengkapi taman yang sedap dipandang mata, ada kolam ikan dengan air mancurnya. ” Kami diantar travel kemari” ujar Tati ketua rombongan studi banding dari Pemkab Bekasi, mereka menyempatkan berpoto disela-sela pohon kurma yang sengaja ditanam, dan tertata rapi.

Petang itu pula Novi pekerja dari Muka Kuning, sengaja datang bersama sang kekasih. Lepas magrib, melepaskan lelah, duduk di bangku yang memang tersedia di taman, pemandangan indah dari ketinggian bukit masjid Jabal Arafah, membuat mereka sering datang ke masjid itu.

Ustadz Amiruddin Dahad , sering menjelaskan dalam kesempatan ceramah diberbagai tempat tentang konsep pengelolaan masjid. Masjid Jabal Arafah ini acap pula sebagai contoh beliau. Imam yang fasih bacaannya, dan hafis pula. Sound System yang tidak menggangu telinga. Bukan karena tempat yang stategis saja.

Hal itu dibenarkan oleh DR Amirsyah Tambunan, wasekjen MUI Pusat, saat datang ke Batam dalam rangka Rakorda MUI I se-Sumatera, isteri wasekjen ini terkagum kagum dengan kebersihan dan design tempat wuduk dan kamar mandinya “Bak hotel berbintang saja” ujarnya.

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid


Masjid Jabal Arafah, bukan pengganti masjid Arafah yang ada di pintu Selataan Mall Nagoya Hill, masjid Arafah yang berada di lantai tiga pertokoan yang berhampiran dengan Hotel Nagoya Plaza, tetap digunakan.

Meskipun baru ruang aula saja yang selesai dan sudah digunakan utuk shalat, masjid Jabal Arafah ini ramai dikunjungi, tak kira anak-anak, remaja, keluarga. Rombongan tamu yang berkunjung ke Batam pun tak lepas datang mengunjungi masjid ini. Dari Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand misalnya, tamu yang datang selalu kami bawa ke masjid itu.

“Pemandangannya bagus, bersih” ujar ustadz Zenal Satiawan , menirukan ucapan tamunya dari Singapura yang dibawanya, saat shalat ke masjid itu. “Sebagai warga Batam kita jadi bangga dan tidak malu” ujar ustadz itu lagi.

Masjid yang punya panorama indah ini memang perlu diacungi jempol kepada penggagas dan pengelolanya. Masjid ini bisa dijadikan contoh bagaimana layaknya mengelola manajemen masjid. Semoga rezeki tetap tercurah kepada penyandang dana pembangunan masjid itu.

Peristiwa Berdarah Tak Bai Thailand Delapan Tahun Lalu


Peristiwa Berdarah Tak Bai


Tak Bai adalah nama salah satu tempat di Provinsi Narathiwat Thailand Selatan. Sama dengan Provinsi Yala, Patani dan juga Songkla, daerah ini dulu adalah kerajaan Islam Patani, sebelum di obok-obok oleh Inggris.

Patani termasuk kerajaan Islam terkemuka di Nusantara, sebagian daerah takluknya dibagi pula oleh Inggris kepada Malaysia. Hinggalah kerajaan Islam yang cukup termasyhur itu hilang dari muka bumi. Hingga sekarang rakyat Patani, tetap menuntut kemerdekaan, lebih seratus tahun mereka menuntut haknya kembali, sudah puluhan ribu nyawa terkorban untuk hal itu.

Sekatan kawat berduri seperti ini, mewarnai sepajang jalan di empat Wilayah kompli selatan Thailand

Sekatan kawat berduri seperti ini, mewarnai sepajang jalan di empat Wilayah kompli selatan Thailand

Empat daerah yang dianeksasi oleh Kerajaan Siam yang mayoritas Budha, hingga kehari ini terus bergolak. Empat daerah konflik ini pula mayoritas penduduknya beragama Islam dan berbahasa melayu. Dari segi agama, bahasa, tulisan dan adat istiadat, sungguh sangat jauh berbeda. Pemaksaan tidak secara langsung itulah yang kerap dan acap terjadi.

Tak Bai Narathiwat Thailand, daerah ini berbatasan langsung dengan Kelantan Malaysia, budaya dan bahasanya sama, karena mereka memang dulunya bersaudara, hanya sungai golok yang tak seberapa lebar itu saja yang memisahkan kedua Daerah dan Negara ini.

Delapan tahun yang lalu tepat nya 24 Oktober 2004 terjadi suatu peristiwa yang sangat menyayat hati. Umat Islam yang saat itu sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, dibantai dengan bengis dan sadis oleh tentara Siam Thailand. Tak Bai yang terletak di pinggir salah satu pantai itu dipenuhi genangan darah dan tumpukan mayat.

Tentara Siam siaga 24 jam sepanjang tahun di jalan - jalan

Tentara Siam siaga 24 jam sepanjang tahun di jalan – jalan

Mayat yang mati lemas karena ditumpuk bertindih tindih , dan dilemparkan begitu saja ke dalam truck, menurut laporan resmi pemerintah Thailand sekitar 85 orang yang mati saat itu. Tetapi orang kampong bilang jauh lebih banyak dari pada itu.

Tak Bai delapan tahun yang lalu disaat itu bulan Ramadhan, ditengah panas terik mereka dijejerkan dan dibaringkan di pinggir pantai di jalan dan pasir yang panas, diseret dan dilemparkan kedalam truck untuk dijebloskan ke tahanan. Hampir ribuan jumlahnya.

Oktober 2012 yang lalu Buletin Jumat (BJ) berkesempatan mengunjungi Tak Bai, dari Hadyai menuju Narathiwat , mampir beberapa jam di Patani. Sekatan jalan raya dari tumpukan pasir dan gulungan kawat berduri, nyaris terlihat disemua persimpangan. Disamping dipersimpangan jalan, jarak-jarak beberapa kilometer tentara Siam dengan senjata laras panjang terhunus, memeriksa semua kenderaan yang lalu llang dan memeriksa seluruh penumpangnya tanpa terkecuali.

Apalagi menjelang tanggal 24 Oktober 2012 itu, penjagaan semakin diperketat. Memasuki daerah Tak Bai, sepeda motor yang masuk keluar daerah itupun di periksa. Minibus yang ditumpangi BJ, hampir semuanya adalah penduduk Tak Bai yang sedang merayakan Idul Adha 1433 H di sana. Terlihat setiap ada pemeriksaan tentara yang berlebihan, contohnya pasangan yang duduk disamping BJ menarik nafas panjang.

Begitulah kondisi Tak Bai saat BJ kesana, setelah delapan tahun kasus berdarah yang tak pernah dapat perhatian Dunia ini, seakan terlupakan begitu saja, tetapi terlihat pemerintah Siam malah semakin takut dan meningkatkan pengamanan dengan menambah tentara dan sekatan jalan raya dimana-mana, dan tetap juga bom-bom meletup dimana-mana di daerah 4 komplik itu.

Entah sampai bila hal ini berakhir, sudah seratus tahun lamanya. Tak Bai masih seperti dulu, tak ada bangunan yang berubah, Jalan raya yang menghubungkan Patani – Narathiwat , kini dapat di tempu hamper 3 jam itu memang terlihat mulus, dua jalur. Dibangun oleh Kerajaan Siam, tetapi puluhan pos keamanan dengan bentangan kawat berduri dan tumpukan pasir dengan tentara yang terus 24 jam berjaga dengan senapang terhunus, masih juga menjadi pandangan yang dominan bagi para pendatang.

Sekatan di tengah pekan (bandar) empat wilayah komplik , biasanya tentara ini siaga di tempat-tampat fasiltas kerajaan dan toko warga non muslim

Sekatan di tengah pekan (bandar) empat wilayah komplik , biasanya tentara ini siaga di tempat-tampat fasiltas kerajaan dan toko warga non muslim

Peristiwa Tak Bai di Narathiwat Thailand, pembunuhan terhadap umat Islam oleh tentara Siam Budha yang kita tahu untuk merengut nyawa serangga saja mereka tidak lakukan, Tetapi mengapa begitu sadisnya mereka menembaki dan membunuh dan mencabut nyawa manusia.

Tak jauh beda umat Budha di Thailand dan umat Budha di Myanmar Burma sana, mengapa mereka begitu bencinya terhadap sesame manusia, yang kebetulan beragama Islam.

Ya Allah tolonglah Saudara kami yang terzolimi di sana……………

Merentasi Hutan Belantara Bumi Burma, Qurban 1433 H


Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H

Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H


Pagi itu Jumat (26/10), dicheck point keberangkatan Imigrasi di Ra Nong Thailand penuh sesak, antrian mengular panjang sampai ketempat penjualan ikan. Buletin Jumat salah seorang yang ikut antri dalam barisan itu.

Di Thailand pelaksanaan Idul Adha 1433 H, adalah sama dengan di Arab Saudi, yaitu hari Jumat 26 Oktober 2012, sementara di Myanmar , sebagaimana kita maklumi, pemerintahnya melarang kegiatan yang berbau pemotongan hewan sapi/lembu itu. Kita juga tahu sebagian besar pemeluk agama di negeri para biksu itu menganggap suci sapi/lembu. Tragedi pembantaian Muslim minoritas Rohingya di Arakan, berdampak juga sampai ke Rangon, bahkan hampir seluruh wilayah Myanmar (Burma).

Menurut KBRI di Rangon, mereka tetap shalat idul adha dan pemotongan hewan qurban hari Jumat. Namun di tempat lain terutama di kota-kota, umat Islam melaksanakan shalat hari Sabtu (27/10). Staff KBRI ini juga menyarankan kepadaku kalau hendak ke Myanmar, harus applay izin dulu ke Jakarta. “Kalau langsung datang (VOA), nanti bikin repot, kami harus datang ke Imigrasi” ujar staff perempuan yang kuhubungi melalu telpon selular, apakah sudah bisa masuk ke Rakhine.

Selat Andaman

Selat Andaman

Selesai saja pasport dicop, aku bekejar ke boat yang telah menunggu di dermaga.Sengaja kami charter boat seharga 200 baht. Boat melaju ke ke pos pertama 50 bath lagi harus dibayar ke petugas imigrasi dan bea cukai yang ada di satu pulau yang masih wilayah Ra Nong Thailand.

Dari pos pertama tadi ada satu pulau lagi yang harus disinggahi, pulau paling ujung, setelah itu kita akan kelaut bebas,Laut Andaman. Di pos ini hanya dari jauh kita tunjukkan buku paspor masing-masing penumpang. Di pos itu beberapa petugas yang memakai baju loreng hijau seragam lengkap dengan senjata laras panjang yang tersandang di bahu.

Hampir 30an menit melalui selat Andaman, kita akan tiba di satu pulau pula, pulau ini sudah masuk wilayah Burma, semua barang bawaan diperiksa oleh petugas. Barulah kita akan merapat ke dermaga khusus boat yang tidak jauh dari kantor imigrasi di kota Kok Song Myanmar.

Sama dengan di Ra Nong Thailand, di check pont imigrasi Kok Song Myanmar ini pun penuh sesak. Tiba giliranku bertatap dengan petugas imigrasi, petugas itu membolak balik buku paspor milikku, seakan tak percaya ada paspor hijau milik orang Indonesia , mau datang ke Kok Song. Agak tersenyum petugas itu, melihat stempel imigrasi Myanmar yang sudah beberapa kali tertera di pasporku. “Ten Dollar” ujarnya. Tak tok tak, tertera masuk tanggal 26 keluar tanggal 8 Nopember 2012.

Di Kota Kok Song atau dalam bahasa melayu berarti Pulau Dua, tidak terlihat suasana Idul Adha, kalau pun ada, banyaknya orang lalu lalang di pintu masuk tadi, dari cara berpakaian menunjukkan kalau mereka Islam. Di Kok Song ada beberapa masjid, pun tak terlihat suasana pemotongan hewan.

Nun jauh di pelosok hutan, di teluk – teluk sepanjang pantai laut Andaman, banyak bermukim komunitas muslim yang sudah ratusan tahun menetap disana. Jauh sebelum negara Myanmar terbentuk. Komunitas ini sebagian berasal dari Langkawi, seorang dari mereka bernama Tengku Yusuf.
“Sejak tok – tok kami sudah tinggal disini” ujar nya menerangkan tentang keberadaan mereka disalah satu teluk indah, daerah penghasil emas dulunya.

Tidak ada akses jalan darat ke pemukiman – pemukiman itu, semua ditempuh melalui perjalanan laut. Kalau tetap ingin memaksanakan jalan darat harus ditempuh dengan masuk hutan keluar hutan, dan berjalan diatas aliran sungai yang kering berbatu-batu kiloan meter jauhnya. Dari satu teluk ke teluk lainya bisa empat jam perjalanan dengan sepeda motor, bukan hanya hutan saja dilalui, tetapi naik bukit dan turun bukit yang berbatu-batu cadas.

Di pemukiman itu banyak penduduk usia diatas 60 tahun yang dapat dan menulis huruf jawi (arab melayu),dan tentunya berbahasa melayu.”Sejak 20 tahun terakhir ini, banyak pula orang macam Ali ini kat sini” kata Tengku Yusuf menerangkan sembari memperkenalkan Ali. Ali pemuda 30 an itu ikut membantu memotong hewan Qurban, kulit Ali rada hitam hidungnya mancung, giginya terlihat agak kemerah merahan, karena mereka disana suka makan sirih.

“Kami Shalatnya (maksudnya Idul Adha) tadi” ujar Tengku Yusuf lagi. “Karena kemarin (Kamis) wukuf di Arafah” ujarnya lagi. Tengku Yusuf terus bercerita tentang masa lalu sambil rebahan di lantai masjid kecil yang baru saja selesai dibangun mereka. Badannya terlihat lemah, senang sekali kelihatan dia dengan kedatanganku. Banyak yang diceritakannya kepadaku, yang tak mungkin kutulis satu persatu di media ini. Banyak yang diharapkannya dan penduduk kampung itu,tak terkecuali tragedi Arakan yang menyayat hati. Tengku Yusuf pun sama tak berharap terus membayar upeti dari hasil jerih payah mereka, kepada pemerintah yang tak pernah memperhatikan kehidupan sosial mereka.

Bukan kehendak mereka seperti itu, jauh sebelum perang dunia meletus mereka adalah bangsa yang berdaulat. Tidak disekat-sekat batas negara nisbi, dan ambisi segelintir manusia. Jauh sebelum pemerintah Junta memerintah mereka adalah manusia yang bertamadun. Jauh sebelum traktat London diterapkan.

Hari menjelang petang, aku masih terpikir dan teringat perjalanan masih jauh, akan 4 jam lagi melalui hutan semak belukar dan bebatuan air sungai yang mengering sebatas mata kaki, untuk pulang. Tiga kali terguling-guling dan terjerembab dari boncengan sepeda motor saat menuruni bukit bebatuan,sewaktu datang ke kampung itu tadi, bukanlah hal yang pernah kubayangkan sebelumnya. Seakan Tengku Yusuf membaca pikiranku, mengajakku untuk bermalam di kampung itu saja, kahawatir hari telah gelap.

Masih banyak yang akan di kerjakan esok harinya,ditempat lain pula, kami putuskan berangkat pulang, petang hari itu juga, nun jauh disana terlihat indah ciptaan Allah, di ujung pepohonan puncak bebukitan laut Andaman, hari ke 12 bulan Zulhijjah 1433 H, bulan purnama mulai mengambang, menerangi perjalanan kami, merentasi hutan belantara, bumi Burma.

Sampai jumpa lagi, ilal liqok. Semoga Allah membebaskan penderitaan saudara kami yang ada disana.

Sholat di Masjid Pengungsi Rohingya


bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar

bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar


Rak Nong adalah salah satu provinsi di Thailand yang berbatasan langsung dengan Kok Song Myanmar. Kedua wilayah ini dipisah oleh Laut Andaman. Dari Bangkok ke Rak Nong di tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan Bus. September 2012 yang lalu saya berkesempatan kembali mengunjungi Rak Nong.

Di Provinsi yang dikelilingi dengan perbukitan hijau ini banyak dijumpai warga Myanmar keturunan Rohingya. Tidak diketahui jumlah pasti. “Bisa ribuan banyaknya “ Ujar pak Sobirin sambil menyetir kenderaannya . Pak Sobirin adalah penduduk Rak Nong , pria paro baya ini, senang sekali dengan kedatanganku dan menginap pula di rumahnya. Pak Sobirin dapat berbahasa melayu dengan lancar. Bahasa Myanmar pun dikuasainya dengan fasih. “Sayapun pandai bahasa Bangladeh” ujarnya lagi.

Tengah hari itu Jumat (14/9), aku dibawa oleh pak Sobirin ke suatu masjid yang khusus jamaahnya warga Rohingya. Masjid yang terletak dipinggiran kota ini bentuknya memanjang, karena memang bekas ruko, dan benar dipenuhi jamaah, hampir semua warga Rohingya. Tetapi kalau ditanya , mereka tak menjawab betulkah mereka warga Myanmar.

Dari jamaah yang hadir nyaris kami berdua saja yang lain warna kulitnya. Pada saat masuk kedalam masjid , kulihat khatib sudah memberikan khotbahnya , aku bergegas shalat dua rakaat dan duduk dengan tertib di barisan kedua . Tetapi anehnya pak Sobirin menggamitku dan mengajakku pindah duduk, agak ke ujung barisaan.

Aku mengikutinya, karena enggak enak hati sebagai tamunya. Sama seperti saat di mobil sewaktu menuju masjid, pak Sobirin pun terus bercerita. Padahalkan khatib sedang khotbah pikirku dalam hati, mengapalah pak Sobirin ini terus bercerita. Memang terus terang sedikitpun aku tak tahu apa yang diutarakan khatib didepan mimbar itu.

Hampir 30 menit khotbah itu berlangsung. Setelah itu kulihat hampir semua jaamaah shalat dua rakat. Dan sang khatib tadi turun , kulihat juga melaksankan shalat , tak lama kemudian azan dikumandangkan , dan seorang khatib yang lain naik keatas mimbar.

Khatib yang baru ini khotbah bercampur bahasa arab sebagaimana layaknya khotbah di tempat kita (Indonesia) tetap dua khotbah berhenti sejenak dan hanya beberapa menit saja sudah selesai , dan dilanjutkan dengan shalat dua rakaat. Selesai lah sudah pelaksanaan shalat jumat hari itu.

Setelah itu barulah kutahu ternyata khotbah yang pertama dengan khatib yang lain tadi yang kukira adalah khotbah jumat bukanlah khotbah , itu hanyalah semacam ceramah sebelum khotbah. Menurut Ustadz Zenal Satiawan Lc , tuntunan shalat Jumat itu , ya seperti itu , lamanya bacaan khotbah, tidak lebih lama waktunya dari pada shalat itu sendiri.

Hem panteslah pak Sobirin tadi masih terus bercerita dengan ku . Dia tahu bahwa itu bukan khotbah , hanya ceramah biasa.
Jadi sangat beda sekali misalnya dengan di beberapa masjid di Batam. Jumat yang lalu khatib khotbah lebih 30 menit, sementara shalatnya tak sampai 5 menit. Banyak masjid di Malaysia pun berbuat hal yang sama dengan di Indonesia, khotbah berlama-lama dan shalatnya sendiri hanya sebentar.

Masjid Vietnam yang Dibangun 2 Negara


Masjid itu kini sudah dipugar, terlihat megah. Saat datang kesana dua tahun yang lalu tahun 2010, bangunan masjid yang sudah berdiri ratusan tahun itu di bongkar total. Kini, Masjidil Rahim demikian namanya dibangun kembali oleh dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia.

Masjid Rahim terletak di 45 Nam Ky Khoi Ngia Q1 Provinsi Ho Chi Min Saigon, Vietnam. Ada delapan masjid seperti masjid Rahim ini di kota Saigon. Yang menarik Imam masjid Rahim adalah orang Boyan (Bawean) , tetapi beliau tidak lahir di Indonesia. “Umur 10 tahun saya dibawa orang tua kesini dari Singapura” jelas tok Imam dengan suara agak bergetar. Usia tok Imam yang masih sehat ini sudah berkisar 70 an.

Disekitar masjid itu, ada beberapa keluarga kerabat tok Imam sesama warga Boyan yang dulu bersama orang tuanya datang ke Saigon mengadu nasib dari Singapura. Itulah mungkin, masjid ini pun disebut masjid Boyan.

Agak tersenyum kecut tok Imam saat kuajak bahasa ibundanya (Bawean), “Sudah tak faham lagi “ ujarnya kepadaku. Sambil berbincang, aku diajak tok Imam menemui isterinya, rumah tok Imam hanya berjarak pagar dengan masjid , Aku tak tahu apa yang dibicarakannya dalam bahasa Vietnam, mungkin agaknya tok Imam yakin betul kalau aku benar orang Boyan, jadi seakan mengingatkan beliau dengan leluhurnya.
Menikah dengan gadis Vietnam , sekitar 50 tahun yang lalu, tok Imam ini dikarunia 4 orang anak, tetapi tak seorang pun dari anak-anak beliau yang dapat berbahasa melayu. Tok Imam , suami isteri telah menunaikan ibadah haji .

Mana tahu ada waktu dan rezeki kalau anda berkunjung ke Ho Chi Min atau Saigon Vietnam, tanyalah masjid Boyan insyaAllah orang akan tunjuki tempatnya.

Di Vietnam Islam bukan lah agama yang asing , abad ke 11 hijrah berdiri kerajaan Islam yang termashur disana , yaitu kerajaan Melayu Champa. Champa termasuk kerjaan Islam awal di Nusantara , Champa yang terletak pertengahan Vietnam dan arah k e Selatan , ternyata banyak ditemui masjid tua , apalagi daerah yang berbatasan dengan Kamboja.

Aneksasi Vietnam terhadap kerajaan Islam Champa, dan perang saudara terus menerus , serta kuatnya pengaruh asing (Amerika dan Negara Timur sosialis lainnya) membuat umat Islam disana bertempiaran ke merata penjuru Indo china .
Jadi tak heran , seperti di Provinsi An Giang   baca : Masjid Kecil di An Giang Vietnam , kota kedua terbesar dan terbanyak penduduknya setelah Ho Chi Min ada masjid kecil yang sudah ratusan tahun usianya.

Dan diperbatasan antara Vietnam dan Kamboja , terutama di daerah Border , akan kita temui masjid – masjid tua, dan juga orang tua renta yang masih dapat bertutur bahasa melayu. Senang sekali mereka, melayani kita berkomunikasi dengan bahasa melayu , seperti halnya tok Imam Safei , yang menerima kami rombongan dari Malaysia dan Indonesia.

Kami pun senang dapat berkomunikasi dengan bahasa ibunda.

Rencana Khitan di Phan Rang Vietnam


masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi

masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi


Bersama Yayasan Amal Malaysia di Saigon

Rasa tak muat lagi perut hendak menyantap hidangan pagi dirumah Tok Hakim Ysa. Menu yang telah tersedia tak jauh beda dengan di rumah Hasan, ada roti, telur ceplok, sayuran berbagai macam dan yang lain adalah bubur dari gandum, dan sup.

Tak satupun kawan yang hendak makan, kami minta selepas shalat Jumat saja makan kembali. Ibu Basirun yang memasak semua masakan itu dapat memahaminya. Untuk menghilangkan rasa kecewanya berdua orang satu piring bubur itu kami makan juga.

Tok Hakim Ysa menyarankan kepada kami pakai mini bus saja, kapasitas 12 tempat duduk, hari itu Jumat (7/9) masih sekitar pukul 11 waktu setempat, disepakati harga sewa 4.5 juta Dong hingga ke hari senin (10/9) sampai pukul 8 malam berakhir dibandara Ho Chi Min, rombongan diantar pulang.

Betul saran Tok Ysa, dengan mini bus ini kami lebih mudah mengunjungi berbagai tempat, di kampong Ban Lam ada dua masjid selain masjid Islam Bani. Keluhan yang sama kami dengarkan dari penduduk sekitar masjid itu. Perlunya tenaga pendidik untuk agama Islam disana.

Tidak terasa singkat sekali rasanya waktu, waktu shalat hamper tiba. Kami segera bergegas ke Masjid yang satu lagi masjid dekat rumah Tok Hakim. Persis di depan Masjid rumah Tok Hakim Ysa berdiri sebuah masjid Islam Bani, masjid aitu cukup besar, tidak terlihat aktifitas orang melaksanakan shalat jumat disana.

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa


Selepas makan di rumah Tok Hakim Ysa, kami pamitan, Sani, telah menunggu kami untuk bertemu Tok Hakim Islam Bani. Namun sebelum ke rumah Tok Hakim Bani kami mampir dulu kesebuah masjid yang juga berdampingan dengan masjid Bani. Dua tahun lalu saya pernah ke masjid ini, sehingga ada beberapa jamaah yang masih ingat kepadaku.

Banyak cerita tentang Islam Bani meluncur lancer dari bibir Tok Hakim Bani, Hasan dan Sani yang menjadi penterjemah. Koleksi Alquran terbitan Iran ada disana, begitu juga kitab panduan tulisan tangan diperlihatkan oleh Tok Hakim.

Rumah Tok Hakim Bani tak seberapa jauh dari masjid Bani, berjalan kaki kami kesana, menurut Tok Hakim Bani ini, jamaah Bani tidak shalat dan tidak puasa diwakilkan kepada Imam, ada 20 Imam sebagai perwalian seluruh umat Islam Bani di daerah Phan Rang itu. Para Imam ini pun tak perlu shalat sebagaimana layaknya umat Islam lima kali sehari semalam. Hanya sesekali saja. Begitu juga dengan puasa ramadhan, cukup sekali saja. Tok Hakim adalah yang mengetuai seluruh Imam Bani, termasuk menikah kan pasangan umat Bani.

Tok Hakim ini sepanjang umurnya tetap bebaju putih dengan desain khusus, lengan panjang seperti jubah. Dan menurut Tok Hakim ini, diseluruh kain jubah itulah amalan dan syariat umat Bani melakat. Dan beliau yang mempertanggungjawabkannya kelak dihadapan Allah SWT.

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran


Ada selempang kain berwarna-warni melilit di leher Tok Hakim Bani yang katanya pernah Umrah ke Makkah itu, dan konon katanya lagi Tok Hakim inilah satu satunya Tok Hakim yang pernah menginjak Makkah. Selempang berwarna warni itu menandakan surga , sementara ada pula seperti 3 buah kantong bertali menjuntai dari depan ke belakang di pundak Tok Hakim. Kantong macam uncang itu berwarna warni juga, ada manik manik melekat menhiasi pinggirannya, ketiga uncang itu mengandung pengertian yang berbeda, yaitu tentang alam, alam sebelum lahir , alam dunia dan alam akhirat.

Tok Hakim yang satu ini baru diangkat menjadi Tok Hakim Baru, Tok Hakim yang lama adalah masih pakcik Sani. Kondisi ruang tamu Tak Hakim lama dengan yang baru mirip, di sudut raung ada bale bale dari kayu tanpa alas, papan bale bale ini mengkilap. Biasanya Tok Hakim duduk menerima tamu disitu terkadang menjuntai kaki. Tetapi mungkin karena rombongan kami banyak kami duduk dengan menggelar tikar di lantai.

Hari beranjak petang saat kami meninggalkan rumah Tok Hakim, ada satu lagi masjid yang hendak kami kunjungi. Masjid ini masih baru , terletak persis di pinggir jalan raya kampong Ban Lam Phan Rang. Masjid ini dibangun oleh orang Dubai. Berpagar rapi lengkap dengan sanitasi yang memadai, dua tahun yang lalu saat aku mengunjungi Phan Rang , masjid ini baru selesai diresmikan .

Masjid itu hanya kami lalui saja, karena hendak mencari makanan, untuk makan malam. Tidak ada restoran atau kedai makanan di kampong itu, di Bandar Phan Rang pun belum pasti ada yang halal. Sani lah yang mengajak kami makan malam dirumah kerabatnya.

Rumah itu cukup besar berlantai dua, halamannya cukup luas , dari jalan raya sekitar 3 kilometer, jalanan ke rumah itu kiri kanannya sawah, tidak beraspal. Pemilik rumah itu seorang perempuan tua, anak perempuannya menikah dengan orang Islam dan bekerja di Luar Negeri. Agaknya yang membangunkan rumah itu adalah anak menantunya tadi. Dan sang Ibu tua itu, baru sekitar setahun mengucapkan syahadat, mengikuti agama putrinya.

Senang sekali ibu tua itu menerima kami, kami disuguhi satu jenis makanan seperti kulit lumpia kering tetapi ditaburi dengan sejenis wijen yang di sangria dengan minyak , dengan lembaran itu dimasukkan berbagai jenis sayuran , ikan , daging ataupun telur dadar digulung dan dicelupkan ke dalam bumbu sebelum di makan.

Seorang lagi putri ibu itu menikah, dan masuk Islam, sekitar dua tahun yang lalu. Namun hingga kini belum lagi di khitan. Dan masih seorang lagi kerabat sang ibu yang bersama kami makan malam itu juga telah masuk Islam umurnya sekitar 40an tahun dan juga berlum ber khitan.

Hal seperti kedua lelaki tadi banyak terdapat di Phan Rang, belum lagi mereka yang dari Islam Bani, nyaris semua tidak di khitan, termasuk Tok Imam. Itulah salah satu misi kunjungan kami bersama Yayasan Amal Malaysia (Amal Kedah) ke sana.

Insyaallah bulan juni 2013 saat libur anak sekolah Amal Kedah akan mengadakan sunat massal disana. (bersambung)

Tok Hakim Ysa Dari Phan Rang Vietnam


sarapan pagi khas vietnam

sarapan pagi khas vietnam

Bersama Yayasan Amal Kedah Malaysia Mengunjungi Saigon. (2)

Pada hari itu juga kamis (6/9), kami putuskan berangkat ke Phan Rang, perjalanan ke daerah terakhir dari kerajaan Islam Champa yang dapat ditaklukkan oleh Vietnam pada tahun 1451 ini kami tempuh dengan perjalanan lebih 8 jam. Bus yang kami tumpangi berjalan perlahan, Spedometer hanya menunjukan angka antara 40 – 60 KM / jam saja. Dan berhenti di beberapa tempat.

Malam itu sebelum berangkat ke Phan Rang, kami shalat jamak takdim di lantai tiga Restoran Shamsudin. Selesai shalat, makanan telah terhidang di meja bulat yang dapat menampung 10 orang itu, bermacam hidangan khas Vietnam telah terhidang, salah satunya  adalah Sop Vietnam, sop ini makanan khas Restoran Shamsudin.
“Tidak pak untuk kali ini tidak usah di bayar” kata Arifin putra pemilik Restoran itu. Saat dr Mahyuddin hendak mebayar harga makanan. Enggak tahu apa yang ada dalam pikiran teman-teman dari Malaysia atas keramahan dan sambutan keluarga Arifin ini terhadap kami. Arifin pernah berkunjung ke Batam bersama keluarganya, beberap saat dulu.

Hari mulai terang, saat kami tiba di stasiun bus di Phan Rang, adalah masih kerabat Arifin juga rumah yang kami datangi dan tempati untuk shalat subuh. Rumah berlantai tiga milik pegawai kesehatan itu, tak jauh dari stasiun bus. Hanya 3 keluarga di tempat itu yang beragama Islam.

Sementara rumah Hasan terletak agak jauh dan diluar Bandar, dari stasiun, kami naik taxi, persawahan luas terbentang di sepanjang kiri dan kanan jalan raya Phang Rang dan jalan ini  juga menuju ke Ha Noi ibukota Vietnam.

Dua tahun  lalu, tak begitu banyak rumah berdiri dipinggir sepanjang jalan ini. Pesat betul pertumbuhan ekonomi Vietnam kalau itulah salah satu indikator tolok ukurnya.

Hampir semua rumah rumah penduduk disitu terbuat dari batu (permanen), itu yang membuat pak Mukhtar berkomentar. Orang Vietnam kaya-kaya belaka. Tak ada rumah terbuat dari gubuk kayu reot yang terlihat. Bahkan hal itu pun tak terlihat di perkampungan Islam suku Bani yang kami kunjungi.

Thap Dai Truong Tho artinya anak lelaki pertama Thap itu lah nama asli Hasan sambil senyum menjelaskan bahwa harga kayu lebih mahal dari pada batu bata, tiang kayu lebih mahal dari pada tiang broti. Bata disana di buat dan di cetak sendiri, sementara tiang untuk bangunan itu di buat dan dicor terlebih dahulu dengan ukuran kayu broti sesuai ukuran standar, seperti 4 x 4. “Tapi cobalah dilihat ke dalam pak, apa isinya “ jelas Hasan lagi. Dan ada sedikit kekhasan rumah rumah penduduk di Vietnam nyaris tak memakai rabung, jadi memanjang saja kebelakang dan dinding depan lebih tinggi dari belakang, dan struktur atap mengikuti pasangan bata nyaris tanpa kayu.

Tok Hakim Ysa kanan, Hasan tengah sebagai penterjemah

Tok Hakim Ysa kanan, Hasan tengah sebagai penterjemah

Selepas sarapan pagi, di rumah Hasan, kami berangkat ke rumah pak Isa. Meskipun Vietnam penghasil beras terbesar di Asia Tenggara tetapi masyarakat disana tidak sarapan pagi dengan nasi seperti kebanyakan dan umumnya masyarakat petani di Indonesia, mereka disana makan roti. Roti kering tawar ini banyak di jual-jual di pinggir jalan, dan juga dijajahkan. Roti itu dimakan dengan berjenis sayuran segar, ditaburi semacam bumbu khas Vietnam dan kecap serta telur mata sapi.

Dua tahun lalu saat berkunjung ke Saigon, pukul 9 malam waktu setempat, tuan rumah tempat yang sedang  kita kunjungi sudah wanti-wanti agar kita segera balik ke bilik Hotel. Jangan harap rombongan seperti kami yang keberadaannya sudah diketahui oleh penduduk lain, dapat menginap di rumah penduduk sabagai tamu apalagi mau tidur di Masjid sebagaimana yang acap kami lakukan di seluruh wilayah Thailand.

Di Vietnam sulit sekali kita mendapatkan keleluasaan untuk menginap di rumah kenalan, harus mendapat izin terlebih dahulu dari aparat yang berwenang dan itu harus jauh – jauh hari. Namun kini meskipun tidak semudah kalau kita berada dan bermalam dirumah kenalan di Kamboja dan Thailand, maupun di Laos. Kami dengan mudah dapat bermalam kapan  saja, agaknya itu berkat adanya Islamic Community Of Ninh Thuan Province (RIC-NT) yang menjadi Representative Board dari RIC-NT ini adalah pensiunan pegawai lumayan tinggi dan berpengaruh dari Vietnam bernama Haji Ysa Thanh Thanh Tam .

Haji Ysa ini tinggal di daerah kampong Van Lam (Bang Lam), kampong Bang Lam ini hampir seluruh penduduk nya beragama Islam, yaitu tadi Islam Baru dan Islam Bani. Ada empat masjid besar di kampong Bang Lam ini semua Imam masjid ke empat masjid itu berada dibawah koordinasi pak Ysa.
Malah bahkan bukan keempat masjid itu saja sampai ke seluruh masjid yang ada di Ho Chi Min suara pak Haji yang tak bisa berbahasa melayu ini di dengar oleh Imam-Imam masjid. Di  seluruh provinsi Thian Yinh daerah perbatasan Vietnam dengan Kamboja itu misalnya, disitu ada 7 buah masjid. di Long Khan ada 2 masjid, bahkan satu masjidnya cukup besar dibangun oleh UEA seharga 95.000 US $. Sementara di Chaou Doc daerah yang dekat perbatasan Phom Phen Kamboja, daerah Chou Doc ini tempat paling banyak masjid dan penduduk Vietnam yang muslim, belasan masjid disitu, semua Imam Masjid itu mendengarkan kata pak Haji Ysa lelaki yang berusia menjelang 60 tahun ini.

Tok Hakim demikian Haji Ysa biasa di panggil, “pak Imbalo hubungi saja beliau “ tulis Basirun dari Kajang Malaysia, Basirun candidat Phd dari Universitas Islam Malaysia jurusan Bahasa Arab ini adalah penduduk kampong Bang Lam Provinsi Phang Rang. Agaknya Basirun lah satu satunya penduduk kampong itu yang mengenyam pendidikan setinggi itu, namun ada sedikit kemasygulan bagi Basirun, hingga kini Basirun masih mengantongi passport Kamboja. Tak mudah baginya mendapatkan izin dari pemerintah Sosialis yang rada-rada komunis seperti Vietnam ketika itu untuk belajar Islam di luar Negeri. Orang-Orang seperti Basirun tidak sendiri, ada beberapa orang terpelajar asal Vietnam yang terpaksa mengantongi passport Kamboja.

Agaknya Basirun telah menghubungi pakciknya itu, dirumah pak Ysa  itu pun sudah tersedia hidangan sarapan pagi yang lebih spesipik dan khas Vietnam. (bersambung)

%d blogger menyukai ini: