Menurut Media Myanmar : Sudah 50 Orang Tewas Dalam Bentrokan Budha – Muslim



Lima puluh orang tewas dan sejumlah lainnya cedera dalam bentrokan sektarian di barat Myanmar, kata media pemerintah hari Sabtu ini (16/6), ketika PBB memperingatkan adanya “kesulitan besar” yang dihadapi oleh ribuan orang yang mengungsi akibat kerusuhan.

Media pemerintah negara New Light of Myanmar mengatakan 50 orang telah tewas, dengan 54 terluka dari 28 Mei hingga 14 Juni di negara bagian Rakhine, yang telah memanas dengan kekerasan antara umat Buddha lokal dan Muslim Rohingya.

Laporan itu tidak mengatakan apakah jumlah korban diperbarui mencakup 10 Muslim yang dipukuli sampai mati pada tanggal 3 Juni lalu oleh massa Buddha sebagai balas dendam atas tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita Budha Rakhine, yang akhirnya memicu aksi kekerasan.

Seorang pejabat tinggi negara pada hari Kamis lalu mengatakan 29 orang – 16 Muslim dan 13 Buddhis – telah tewas, tapi kelompok HAM dan sumber-sumber lokal lainnya percaya angka korban sesungguhnya di desa terpencil Rakhine bisa jadi jauh lebih tinggi.

Polisi memberlakukan jam malam di kota Sittwe semalam, di mana media mengatakan pasukan keamanan berusaha memulihkan perdamaian, stabilitas dan keamanan setelah kerusuhan, yang menimbulkan tantangan serius bagi pemerintah reformis Myanmar.

Hampir 31.900 orang dari kedua belah pihak saat ini ditampung di 37 kamp di seluruh Rakhine, pejabat di Sittwe Kamis lalu menyatakan, sementara ribuan rumah telah dibakar.

Iklan

Ribuan Warga Rohingya Demo Kedutaan Myanmar Di Kuala Lumpur



MAPIM tuntut akan halau duta besar Mynamar dari Malaysia.

Hampir 2,000 warga Rohingya yang berada di Malaysia, berarak menuju ke kedutaan Myanmar di Kuala Lumpur hari ini jumat (15/06) memprotes pembunuhan saudara – saudara mereka oleh penguasa negara itu. Para demonstran mula berarak dari Masjid Tabung Haji selepas selesai solat Jumat menuju gedung Kedutaan yang berjarak kira-kira 1 kilometer dari masjid. Demikian tulis harakahdaily

Lebih lanjut harakahdaily menulis. Mereka membawa sepanduk mengecam kekejaman penguasa, dan juga gambar-gambar korban yang dibunuh dengan kejam oleh penyokong penguasa. Ada diantara mereka yang berarak sambil berteriak-teriak menyatakan rasa kecewa dan sedih dengan nasib yang menimpa saudara-saudara mereka itu.

Berbagai slogan diteriakkan dalam bahasa ibunda mereka sebagai mungutuk pemerintah negara itu. Mereka mengecam atas tindakan pembunuhan hampir 1.500 orang muslim Rohingya dan 3.000 lagi terluka dalam perselisihan antar etnik di negara itu beberapa hari lalu.

Pertemuan hari jumat ini adalah atas anjuran NGO Majlis Perundingan Pertubuhan Islam (MAPIM) dan turut disokong Dewan Pemuda PAS. PAS adalah Partai oposisi di Malaysia. Sementara demonstrasi itu tadi dalam koordinasi Sekretaris (Setiausaha) MAPIM, Mohd Azmi Abdul Hamid, Ketua Pemuda PAS Wilayah Kamaruzzaman Mohamad dan Ketua Penerangan Dewan Muslimat PAS Pusat, Aiman Athirah Al Jundi.

Para demontrasi tidak bisa sampai ke depan bangunan gedung kedutaan karena pihak polisi membuat sekatan di persimpangan Jalan Madge kira-kira 200 meter dari pintu pagar kedutaan. Polisi Malaysia hanya membenarkan tiga perwakilan para demontrasi iaitu Azmi, Kamaruzzaman dan Athirah melewati sekatan untuk menyerahkan surat pernyataan, namun wakil kedutaan Myanmar enggan membukakan pintu pagar.

Hampir setengah jam memanggil dan menunggu, memorandum atau surat pernyataan tersebut kemudian diserahkan melalui celah pagar kepada salah seorang penjaga kedutaan yang bertugas saat itu. Azmi ketika bercakap kepada media turut mengecam sikap duta Myanmar itu yang enggan bertemu dan menerima memorandum tersebut.

“Dia datang ke Malaysia, kita bagi tanah dan tempat tinggal, tiba-tiba dia layan kita macam ini. Jadi hari ini kita menuntut kerajaan kita menghalau mereka keluar dari bumi Malaysia ini, kita tidak boleh tolak ansur lagi.Mereka bunuh saudara Islam kita, orang perempuan, anak-anak kecil.

“Respek la sikit, (memorandum) ini kertas sahaja, bukan bom. Kita akan gerakkan kempen besar-besaran kali ini,” katanya.

Bagaimana di Indonesia?

Belum ada terdengar apapun yang telah di buat oleh Pemerintah Indonesia, liputan tentang keganasan antar etnis yang terjadi di Myanmar tadi pagi hanya beberapa saat diliput dalam Metro TV.
Belum juga terdengar LSM maupun Ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, DDII terhadap saudara sesama Islam yang sudah tertindas lebih dari 60 tahun
itu, terusir dari tanah tumpah darah yang sudah didiaminya berabad-abad lamnya.

Aung San Suu Kiy, belum banyak berbuat , terutama pada etnis Rohingya yang muslim yang banyak tinggal berbatasan dengan Bangladesh. Sementara Yang terdengar awal pelantikannya setelah menang pemilu beliau mengunjungi ribuan etnis Karen yang kini banyak mengungsi di perbatasan Thailand.

Muslim Rohingya: Suu Kyi Masih Diam


Sejumlah warga muslim Rohingya naik perahu menyeberangi sungai Naf, untuk melintasi perbatasan dari wilayah Myanmar ke Bangladesh, di kota Teknaf sebelah Selatan Bangladesh . (Reuters)

Sejumlah warga muslim Rohingya naik perahu menyeberangi sungai Naf, untuk melintasi perbatasan dari wilayah Myanmar ke Bangladesh, di kota Teknaf sebelah Selatan Bangladesh . (Reuters)


TEKNAF — Muslim Rohingya Myanmar yang tinggal di kamp pengungsi di Bangladesh meminta bantuan pada Aung San Suu Kyi. Mereka meminta Suu Kyi membantu mengakhiri penindasan yang mereka derita selama ini.

Wilayah Bangladesh yang berbatasan 200 kilometer dengan Myanmar adalah rumah bagi sekitar 300 ribu pengungsi Muslim Rohingya. Sepersepuluh dari mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan di kamp bantuan PBB.

Seorang pejabat Myanmar mengatakan, kerusuhan antara umat Buddha lokal dan Muslim Rohingya di Rakhine menimbulkan banyak korban. Sekitar 49 orang tewas dan 41 lainnya terluka dalam lima hari kerusuhan antarkelompok tersebut.

“Kami memohon pada PBB, negara-negara asing, pemerintah Myanmar dan terutama Suu Kyi,” ujar Mohammad Islam, pemimpin pengungsi Rohingya di Kamp Nayapara, Teknaf, Bangladesh.

Ia menambahkan, hingga saat ini Suu Kyi tak melakukan atau mengatakan apa-apa untuk kami. Padahal orangtua kami termasuk yang melakukan kampanye untuknya pada pemilu 1990.

“Seperti kebanyakan orang Burma lain, ia juga diam tentang hak-hak Rohingya,” tambah dia.

Dalam kunjungan pertama Suu Kyi ke luar Myanmar, ia menemui ribuan pengungsi Myanmar di perbatasan Thailand. Ia berjanji membantu mereka kembali.

Islam mengatakan, Suu Kyi menyoroti nasib pengungsi Myanmar di Thailand yang kebanyakan orang Karen. Tapi Suu Kyi tak berbicara apa pun yang dapat menimbulkan harapan bagi Rohingya.

“Kami dengar hubungan pemerintah dan Suu Kyi telah diperbaiki. Akan ada reformasi di negara ini, tapi kami tak merasakan perubahan berarti untuk Rohingya,” kata Islam.

Muslim Rohingya telah lama diperlakukan buruk dan dianggap sebagai ‘orang asing’ oleh pemerintah Myanama. Para aktivis mengatakan, hal tersebut memupuk perpecahan dengan umat Buddha di negara bagian Rakhine.

Rohingya, Potret Buram Muslim Myanmar


Seorang warga etnis Rohingya tengah menunggu bantuan diluar sebuah masjid di Sittwe, Myanmar. (Damir Sagolj/Reuters)

Seorang warga etnis Rohingya tengah menunggu bantuan diluar sebuah masjid di Sittwe, Myanmar. (Damir Sagolj/Reuters)


“Kami meninggalkan Myanmar karena kami diperlakukan dengan kejam oleh militer. Umat Muslim di sana kalau tidak dibunuh, mereka disiksa,” ujar seorang pengungsi, Nur Alam, seperti dikutip BBC, beberapa waktu lalu.

Nur bersama 129 Muslim Rohingya begitu umat Islam yang tinggal di utara Arakan, Myanmar, biasa disebut terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya.

Ia bersama kawan-kawannya nekat melarikan diri dari Myanmar dengan menumpang perahu tradisional sepanjang 14 meter. Mereka berjejalan di atas perahu kayu dengan bekal seadanya. Akibat mesin perahu yang mereka tumpangi rusak, Muslim Rohingya pun harus rela terkatung-katung di lautan yang ganas.

Hingga akhirnya, mereka ditemukan nelayan Aceh dalam kondisi yang mengenaskan. Menurut Nur, mereka terombang-ambing ombak di lautan ganas selama 20 hari. Kami ingin pergi ke Indonesia, Malaysia, atau negara lain yang mau menerima kami, tutur Nur. Demi menyelamatkan diri dan akidah, mereka rela kelaparan dan kehausan di tengah lautan.

Begitulah potret buram kuam Muslim Rohingya yang tinggal di bagian utara Arakan atau negara bagian Rakhine. Kawasan yang dihuni umat Islam itu tercatat sebagai yang termiskin dan terisolasi dari negara Myanmar atau Burma. Daerah itu berbatasan dengan Bangladesh.

Sejak 1982, Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Pemerintah di negara itu hanya menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh atau keturunannya. Terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan seperti itu, kaum Rohingya pun memilih untuk meninggalkan Myanmar.

Tak mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari negara yang dikuasai Junta Militer itu. Tak jarang mereka harus mengalami kekerasan dan penyiksaan oleh pihak keamanan. Setelah mereka keluar dari negara tersebut, mereka tidak diperkenankan untuk kembali.

Selain itu, umat muslim Rohingya seperti terpenjara di tempat kelahirannya sendiri. Mereka tidak bisa bebas bepergian ke mana pun. Meskipun hanya ingin ke kota tetangga saja, pihak militer selalu meminta surat resmi. Saat ini, sekitar 200 ribu Muslim Rohingnya terpaksa tinggal di kamp pengungsi seadanya di Bangladesh.

Sebagian besar dari mereka yang tidak tinggal di tempat pengungsian resmi memilih untuk pergi ke negara lain melalui jalur laut, terutama melalui Laut Andaman. Kemudian, pihak Pemerintah Thailand juga mengabarkan bahwa mereka telah menahan sebanyak 100 orang Rohingya beberapa waktu yang lalu.

Pemerintah negeri Gajah Putih itu menolak menerima mereka sebagai pengungsi. Untuk mengatasi masalah ini, PBB sudah bergerak melalui salah satu organisasinya yang mengurusi pengungsi, UNHCR.

***

Populasi Muslim Rohingya di Myanmar tercatat sekitar 4,0 persen atau hanya sekitar 1,7 juta jiwa dari total jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 42,7 juta jiwa. Jumlah ini menurun drastis dari catatan pada dokumen Images Asia: Report On The Situation For Muslims In Burma pada Mei tahun 1997. Dalam laporan tersebut, jumlah umat Muslim di Burma mendekati angka 7 juta jiwa.

Mereka kebanyakan datang dari India pada masa kolonial Inggris di Myanmar. Sepeninggal Inggris, gerakan antikolonialisasi di Burma berusaha menyingkirkan orang-orang dari etnis India itu, termasuk mereka yang memeluk agama Islam. Bahkan, umat Muslim di Burma sering sekali menjadi korban diskriminasi.

Pada tahun 1978 dan 1991, pihak militer Burma meluncurkan operasi khusus untuk melenyapkan pimpinan umat Islam di Arakan. Operasi tersebut memicu terjadinya eksodus besar-besaran dari kaum Rohingya ke Bangladesh. Dalam operasi khusus itu, militer tak segan-segan menggunakan kekerasan yang cenderung melanggar hak asasi manusia.

Selain itu, State Law and Order Restoration Council (SLORC) yang merupakan rezim baru di Myanmar selalu berusaha untuk memicu adanya konflik rasial dan agama. Tujuannya untuk memecah belah populasi sehingga rezim tersebut tetap bisa menguasai ranah politik dan ekonomi.

Pada 1988, SLORC memprovokasi terjadinya pergolakan anti-Muslim di Taunggyi dan Prome. Lalu, pada Mei 1996, karya tulis bernada anti-Muslim yang diyakini ditulis oleh SLORC tersebar di empat kota di negara bagian Shan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap kaum Muslim.

Kemudian, pada September 1996, SLORC menghancurkan masjid berusia 600 tahun di negara bagian Arakan dan menggunakan reruntuhannnya untuk mengaspal jalan yang menghubungkan markas militer baru daerah tersebut. Sepanjang Februari hingga Maret 1997, SLORC juga memprovokasi terjadinya gerakan anti-Muslim di negara bagian Karen.

Sejumlah masjid dihancurkan, Alquran dirobek dan dibakar. Umat Islam di negara bagian itu terpaksa harus mengungsi. Burma Digest juga mencatat, pada tahun 2005, telah muncul perintah bahwa anak-anak Muslim yang lahir di Sittwe, negara bagian Rakhine (Arakan) tidak boleh mendapatkan akta kelahiran.

Hasilnya, hingga saat ini banyak anak-anak yang tidak mempunyai akta lahir. Selain itu, National Registration Cards (NRC) atau kartu penduduk di negara Myanmar sudah tidak diberikan lagi kepada mereka yang memeluk agama Islam.

***

Mereka yang sangat membutuhkan NRC harus rela mencantumkan agama Buddha pada kolom agama mereka.

Bahkan, Pemerintah Myanmar sengaja membuat kartu penduduk khusus untuk umat Muslim yang tujuannya untuk membedakan dengan kelas masyarakat yang lain. Umat Muslim dijadikan warga negara kelas tiga. Umat Islam di negera itu juga merasakan diskriminasi di bidang pekerjaan dan pendidikan.

Umat Islam yang tidak mengganti agamanya tak akan bisa mendapatkan akses untuk menjadi tentara ataupun pegawai negeri. Tak hanya itu, istri mereka pun harus berpindah agama jika ingin mendapat pekerjaan.

Pada Juni 2005, pemerintah memaksa seorang guru Muslim menutup sekolah swastanya meskipun sekolah itu hanya mengajarkan kurikulum standar, seperti halnya sekolah negeri, pemerintah tetap menutup sekolah itu.

Sekolah swasta itu dituding mengajak murid-muridnya untuk masuk Islam hanya karena sekolah itu menyediakan pendidikan gratis. Selain itu, pemerintah juga pernah menangkap ulama Muslim di Kota Dagon Selatan hanya karena membuka kursus Alquran bagi anak-anak Muslim di rumahnya. Begitulah nasib Muslim Rohingya.

Nasib buruk yang dialami Muslim Rohingya mulai mendapat perhatian dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kantor berita Islam, IINA, pada 1 Juni 2011, melaporkan, Sekretariat Jenderal OKI yang bermarkas di Jeddah telah menggelar sebuah pertemuan dengan para pemimpin senior Rohingya. Tujuannya, agar Muslim Rohingya bisa hidup damai, sejahtera, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Dalam pertemuan itu, para pemimpin senior Rohingya bersepakat untuk bekerja sama dan bersatu di bawah sebuah badan koordinasi. Lewat badan koordiansi itulah, OKI mendukung perjuangan Muslim Rohingya untuk merebut dan mendapatkan hak-haknya.

Pertemuan itu telah melahirkan Arakan Rohingya Union (ARU) atau Persatuan Rohingya Arakan. Lewat organisasi itu, Muslim Rohingya akan menempuh jalur politik untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami Muslim Rohingya. Semoga.

Rumah-Rumah Muslim Myanmar Dibakar Budha


Rumah-rumah Muslim Myanmar di Sittwe, Rakhine dibakar oleh kelompok Budha, buntut dari isu tentang perempuan Budha diperkosa oleh Muslim, dan konflik Muslim-Budha meluas di seluruh Myanmar. Pemerintah memberlakukan darurat, akibat konflik yang terus meluas itu.

Myanmar mengumumkan keadaan darurat di negara bagian barat Rakhine, di tengah kekhawatiran kerusuhan lebih lanjut menyusul letusan kekerasan antara Muslim-Budha yang mengakibatkan sejumlah Muslim gugur, ujar seorang pejabat pemerintah, Minggu.

Serangan balas dendam terhadap Muslim melanda di seluruh wilayah negara, akibat isu perkosaan dan pembunuhan terhadap seorang perempuan Budha Rakhine.

Massa Buddha marah, akibat termakan isu seorang perempuan Budha yang diperkosa Muslim, yang menyebabkan orang-orang Budha mengamuk dan menghadang sebuah bus yag ditumpangi Muslim, dan kemudian membunuh mereka. Sedikitnya 10 Muslim gugur, akibat serangan orang-orang Budha itu.

Kerusuhan berkobar hari Jumat, ketika 4 orang Budha mati di negara bagian Rakhine, selanjutnya kerusuhan bergelombang, konflik diantara kedua belah fihak, dan kekerasan menyebar ke desa-desa terpencil, Sabtu pagi.

Menyusul kerusuhan di dua daerah lain di negara bagian Rakhine itu, Jumat. Menurut media pemerintah, akibat kerusuhan itu menewaskan sedikitnya 7 orang Muslim tewas dan 17 terluka, dan ratusan rumah Muslim terbakar habis.

Negara bagian Rakhine, mayoritas penduduknya Budha. Namun di wilayah itu, terdapat Muslim Rohingya, yang jumlahnya sangat besar. Selama berpuluh tahun, Muslim Rohingya menghadapi kekerasan oleh Budha, dan mereka dianggap sebagai imigran gelap. Kelompok Budha di Myanmar terus berusaha menyingkirkan dari wilayah itu. Konfllik antara Muslim-Budha di Myanmar sudah memiliki akar yang dalam, ratusan tahun.

Sebelumnya, media pemerintah mengumumkan sejumlah langkah – termasuk jam malam di Sittwe ibukota negara bagian Rakhine, dan tiga kota lainnya, serta larangan berkelompok lebih dari lima orang – tetapi tampaknya telah gagal memadamkan ketegangan Muslim-Budha.

Aktivis Rohingya telah lama menuntut pengakuan sebagai warga negara Myanmar, tetapi golongan Budha, bersikeras menolak. Meskipun mereka telah hidup di Rakhine, bergenerasi dan ratusan tahun.

Pemerintah tidak mengindahkan Muslim Rohingya,dan tetap mengganggap mereka pendatang gelap. Kelompok Muslim Rohingya, sangat dibatasi aktifitas mereka oleh pemerintah. Rohingya mendapatkan perlakuan sangat diskriminatif dari pemerintah, yang mayoritas Budha.

Golongan Budha beberapa hari terakhir, mereka melakukan kampanye yang massif, dan mennggambarkan Muslim Rohingya sebagai “penjajah” atau “teroris”.

Dengan adanya kebebasan yang baru, golongan Budha melampiaskan kemarahan mereka, melalui internet dan jejajaring sosial anti Muslim Rohingya. Ini membuat konflik Muslim-Budha di Myanmar meledak.

Aktivis Rohingya dan warga menuduh etnis Budha di Rakhine menteror komunitas Muslim. Saksi di Sittwe mengatakan rumah-rumah Muslim dibakar oleh orang-orang Budha, Minggu.

Begitulah perlakuan orang-orang kafir-musyrik, kalau mereka mayoritas di sebuah negeri, pasti menghancurkan Muslim. Begitu mereka masih bermulut menyerukan toleransi, dan mengkampanyekan hidup toleran. Bullshit. (af)

Empat Orang Kembali Tewas dalam Bentrokan Agama di Myanmar


..Abu Tahay, ketua Partai Demokratik Nasional Pembangunan, sebuah partai politik Rohingya, mengatakan umat Buddha melemparkan batu ke masjid di Muangdaw dan lima Rohingya ditembak mati setelah bertengkar dengan pasukan keamanan..

..Abu Tahay, ketua Partai Demokratik Nasional Pembangunan, sebuah partai politik Rohingya, mengatakan umat Buddha melemparkan batu ke masjid di Muangdaw dan lima Rohingya ditembak mati setelah bertengkar dengan pasukan keamanan..


RAKHINE, MYANMAR (voa-islam.com) – Empat orang tewas ketika ratusan Muslim Rohingya melancarkan protes dalam komunitas Buddha di Myanmar, Jumat, dan polisi melepaskan tembakan, kata seorang pejabat pemerintah, ketika ketegangan komunal meluap di negara bagian Rakhine yang bermasalah.

Jam malam diberlakukan di kota negara bagian Muangdaw setelah warga Rohingya, yang sebagian besar Muslim tanpa kewarganegaraan berasal dari keturunan Asia Selatan dan dikenakan pembatasan sangat ketat oleh penguasa, mulai memprotes setelah shalat Jumat di sebuah masjid.

Seorang politisi dan aktivis Rohingya, mengutip sumber-sumber lokal, mengatakan bentrokan meletus setelah pasukan keamanan menembaki Muslim Rohingya dan beberapa dari mereka tewas.

MRTV milik negara tidak menyebutkan adanya kerusuhan dan korban jiwa dari umat Islam dalam buletin berita malam hari, tetapi melaporkan jam malam telah diberlakukan di Maungdaw dan Buthidaung di negara bagian Rakhine. Keduanya didominasi oleh Muslim Rohingya.

Hmu Zaw, seorang pejabat senior di kantor Presiden Thein Sein, juga mengklaim hal yang berbeda. Pada halaman Facebook-nya ia mengatakan empat warga Buddha, di antaranya seorang dokter dan seorang pria tua, meninggal karena luka pisau ganda. Seorang pejabat rumah sakit Muangdaw mengatakan seorang tewas dan empat luka-luka.

Kerusuhan itu terjadi lima hari setelah 10 umat Islam, yang bukan Rohingya, tewas dibantai oleh massa Buddha yang mencegat bus yang mereka tumpangi di kota Taunggoke Rakhine, sebuah insiden yang membuat marah umat Islam dan menyebabkan protes langka di kota terbesar Myanmar, Yangon.

Pembantaian warga Muslim itu diikuti pembagian selebaran seruan di Rakhine untuk pembalasan bagi geng pemerkosaan dan pembunuh seorang wanita muda Buddha beberapa hari sebelumnya.

Badan pengungsi PBB memperkirakan jumlah anggota kelompok minoritas Muslim di Myanmar sekitar 800.000 jiwa di tiga distrik di negara bagian Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh.

Kebanyakan Muslim Rohingya tanpa kewarganegaraan, mereka tidak diakui oleh Myanmar ataupun Bangladesh, dan ribuan mengungsi setiap tahun dengan perahu kecil, untuk bekerja secara ilegal di Thailand dan Malaysia.

Abu Tahay, ketua Partai Demokratik Nasional Pembangunan, sebuah partai politik Rohingya, mengatakan umat Buddha melemparkan batu ke masjid di Muangdaw dan lima Rohingya ditembak mati setelah bertengkar dengan pasukan keamanan. Rincian tidak dapat secara independen dikonfirmasi.

Dia mengatakan wilayah terdekat Buthidaung bersiap untuk masalah. “Situasi sekarang sangat kritis dan tidak stabil,” katanya melalui telepon dari Yangon. “Kekerasan belum dimulai, tetapi segera mungkin terjadi.”

Pemerintah pada hari Kamis mengumumkan telah menunjuk kepala menteri dan polisi untuk memimpin penyelidikan atas “tindakan tanpa hukum dan anarkis terorganisir” yang dilakukan warga Buddha di negara bagian Rakhine.

Negara itu mengambil langkah yang tidak biasa dengan mengumumkan penyelidikikan di halaman depan surat kabar resmi pada hari Kamis dan secara cepat menghapus dari berita website untuk referensi Muslim sebagai “Kalar”, sebuah istilah menghina bagi umat Islam keturunan Asia Selatan di Myanmar.

“Kita bicara, untuk bekerja sama dengan pemerintah dan saudara-saudara nasional kami untuk mengendalikan situasi,” kata Soe Myint, sesepuh Muslim di Yangon, mengacu pada meningkatnya ketegangan.

“Kami khawatir bahwa apa yang dilakukan orang-orang Bengali akan membuat saudara-saudara kita salah paham.”
Dengan kekhawatiran akan kekerasan lebih lanjut berkembang, pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi pada Rabu mendesak warga Buddha yang menjadi mayoritas di Myanmar untuk menunjukkan “simpati” dengan minoritas setelah pembantaian Muslim Rakhine. (ab/wb)

9 Muslim Tewas Diserang Warga Buddha di Myanmar


9 Muslim Tewas Diserang Warga Buddha di Myanmar

YANGON, MYANMAR (voa-islam.com) – Sembilan warga Muslim tewas saat bus yang mereka tumpangi diserang warga Buddha di negara bagian Rakhine Myanmar Ahad malam (3/6/2012), sebuah kekerasan komunal paling mematikan di wilayah yang tegang tersebut sejak pemerintahan reformis mengambil alih kekuasaan tahun lalu.

Polisi hari Senin (4/6/2012) mengatakan bahwa para Warga Buddha di barat Myanmar menyerang sebuah bus penumpang dan menewaskan sembilan orang Muslim, salah satu korban tewas sedang melakukan perjalanan di dalam mobil terpisah.

Bus itu terkepung dekat kota Taunggoke di negara bagian barat Rakhine Ahad malam oleh sekelompok warga Buddha yang menyalahkan beberapa penumpangnya karena membunuh seorang wanita Buddha sepekan yang lalu, kata penduduk lokal dan politisi.

Rakhine sendiri merupakan rumah bagi konsentrasi Muslim Myanmar terbesar, tapi kehadiran mereka sering dibenci oleh mayoritas Umat Buddha Myanmar. Kebencian ini sangat nyata untuk Rohingya Muslim, yang kedatangannya dimulai pada ke 1820-an ketika mereka dibawa ke negara itu sebagai buruh oleh penguasa kolonial Inggris.

Ko Kyaw Lay, seorang Muslim lokal dan aktivis hak asasi manusia yang merupakan anggota sebuah partai oposisi mengatakan tidak satupun dari mereka yang tewas adalah orang-orang Rohingya lokal.

..Polisi hari Senin (4/6/2012) mengatakan bahwa para Warga Buddha di barat Myanmar menyerang sebuah bus penumpang dan menewaskan sembilan orang Muslim..

..Polisi hari Senin (4/6/2012) mengatakan bahwa para Warga Buddha di barat Myanmar menyerang sebuah bus penumpang dan menewaskan sembilan orang Muslim..

Polisi tidak dapat segera mengkonfirmasikan semua rincian.

“Sebuah penyelidikan sedang berlangsung tetapi saya tidak dapat memberikan rincian lebih lanjut,” kata seorang pejabat polisi, yang meminta anonimitas.

Dalam kasus serangan bus, penduduk Taunggoke Kyaw Min mengatakan umat Buddha “marah karena penanganan pihak berwenang” pada serangan terhadap seorang wanita yang penduduk setempat mengatakan diperkosa oleh beberapa pria dan kemudian dibunuh. Sesaat sebelum serangan hari Ahad itu, leaflet yang berisi foto wanita itu dan menggambarkan perkosaan didistribusikan di daerah tersebut.

Beberapa warga, yang meminta nama mereka tidak diungkapkan, mengatakan umat Islam yang berada di bus bukan warga setempat dan sedang dalam kunjungan ke negara bagian Rakhine. Mereka menyatakan bahwa mereka yang tewas tidak mungkin tersangka geng pelaku pemerkosaan dan pembunuhan wanita Buddha tersebut.

Myanmar adalah salah satu negara Asia Tenggara yang memiliki etnis paling beragam, di mana ketegangan sektarian dan etnis masih bertahan, meskipun iklim politik baru dan reformasi luas oleh pemerintahan pimpinan sipil yang mengatakan mereka telah membuat perdamaian dan persatuan nasional sebagai prioritas ketika menggantikan junta militer 15 bulan lalu. (an/agency)

%d blogger menyukai ini: