Pengumuman Hasil UN 2015 tingkat SMA/SMK sederajat


Besok  Jumat 15 Mei 2015 pebawesdan 3ngumuman kelulusan siswa tahun ajaran 2015 akan disampaikan di sekolah masing-masing, semua sekolah sudah menerima hasil nya dari Kemendikbudnas, siapa saja yang lulus siapa yang tidak lulus sebenarnya sudah diketahui.

Akh tahun ini (2015) sungguh sungguh sangat mengecewakan. banyak sekolah yang tak lulus untuk UN 100 %.

Hem..tarikan nafas panjang.. kebijakan  pemerintah priode lama dan baru, jadi korban anak didik juga…. yang sabar ya yang tidak lulus, bulan depan Juni 2015 yang tidak lulus akan diulang lagi. “Sayang mereka tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi”

Tetapi untuk yang ingin bekerja diberikan surat tanda tamat belajar.

Hal ini pernah kami alami saat PSB dari Juni ke Desember dan dari Desember kembali ke Juni.

Ada kurikulum KTSP belum selesai ganti ke 2013 dari 2013 dipasung entah bagaimana.

Yang korban anak didik juga.

Ganti menteri ganti kurikulum………….sadarkah mereka?

Catatan Perjalanan dari Negeri diperintah Raja.


BRUNEI DARUSSALAM.

1509765_972397249441013_8516179686271610362_n

Melihat dan merasakan selama lima hari empat malam, ke negeri diperintah Raja. 10424350_972405199440218_5389796877289795014_n10309043_972404366106968_6387914769815902260_n
Hari ke dua, berkesempatan mengunjungi sebuah pasar, khusus menjual makanan – jajanan. Disana orang menyebutnya Gerai, puluhan jenis masakan kue-mue untuk serapan pagi tersedia. Pasar tradisional ini tetap terjaga bersih dan nyaman.
Ada lepat silat, ada sambal fuhai, sambal fusu.

Salah satu makanan spesial khas Brunei adalah Gulai Umbut Kelapa…… pohon kelapa itu sengaja di tanam rapat rapat, ditebang, untuk diambil umbutnya saja.10801767_972403142773757_8653563530058414795_n

Dimakan bersama sambal khas Brunei namanya sambal lahai.

Mengunjungi Daerah Konflik


yala

YALA THAILAND– Yala nama sebuah provinsi di Selatan Thailand, ada dua lagi provinsi yang terus bergolak yaitu Patani dan Narathiwat, ke-tiga provinsi ini ingin memisahkan diri dari Thailand.
Pekan lalu (12/10) Buletin Jumat mengunjungi Yala, setelah sebelum nya dari Patani. Yala – Patani ditempuh sekitar 2 jam, dengan mini bus, ongkosnya 100 Bath.Ke-tiga provinsi di Selatan ini dulunya memang sebuah kerajaan Islam Patani. Jadi hingga kini pun di ketiga daerah itu, mayoritas penduduknya Islam, dan berbahasa melayu, logat Patani, seperti bahasa melayu kebanyakan orang di Kelantan Malaysia.1779198_948477485166323_2906521694664920985_n

Di Yala, ada sebuah markas Jamaah Tablig yang cukup besar.

Yala dan ketiga daerah bergolak itu hingga ke hari ini tidak dapat diakses oleh telepon genggam yang belum terdaftar, hp BJ telkomsel roaming pun tidak berlaku di ke-tiga daerah itu.Pagi itupun ada enam buah sekolah yang hangus terbakar.
“Entah siapa yang membakar, penjaga sekolah disuruh keluar oleh orang yang hendak membakar nya” ujar seorang teman menterjemahkan berita tayangan televisi lokal.
Tak lami kami di Yala, hanya ingin mengunjungi dan ziarah ke teman lama. Kota Yala masih seperti dulu, tak banyak yang berubah, jalan-jalan raya yang lebar, bak jalan tol, masih tetap penuh dengan sekatan, kawat berduri, timbunan pasir. Tidak hanya di persimpangan, di pertengahan jalan pun tentara dengan senapan laras panjang terhunus, terus memerik sa setiap kenderaan yang lewat.
Kami menuju Hatyai, Hatyai kota yang terus berkembang, jauh mengalah kan ke tiga daerah yang lain.
Nada sinis terdengar di kota ini terhadap umat Islam di ketiga daerah tetangganya itu. Hampir mirip dengan kota Xinjiang Urumqi di Cina sana, di Hatyai pun banyak pendatang dari utara bekerja dan berniaga, jadi kalau di Hatyai umat Islam menjadi minoritas.
Tak jauh dari Hatyai, sekitar satu jam perjalanan ada sebuah kota berbatasan dengan Malaysia, Padang Besar nama nya. Sama dengan Danok masih bagian Thailand kota ini berbatasan dengan Bukit Kayu Hitam Malaysia.
Banyak border perbatasan antara Malaysia dengan Thailand, mulai dari Perlis, Kedah, Kelantan dan Perak.
Malam itu kami menginap di Padang Besar, kedua daerah ini hanya dibatasi oleh kawat berduri saja. (imbalo)

Catatan Perjalanan Dakwah : Ibadah Kurban di Kem Pengungsi BTAD Assam India


India-Assam-ferry-disaste-001

Assam India— Tanggal 05 Oktober perjalanan di lanjutkan dari Kolkata ke Assam, provinsi yang berbatasan dengan Cina, Buthan, Nepal, Bangla dhes, Myanmar ini terdapat tidak kurang 4.5 juta pengungsi di utara perbatasan dengan Buthan.   Catatan Perjalanan Dakwah: Kuala Lumpur-Kolkata-Assam-Bangalore-Kochi India

10480985_808980409142888_2980856710787681752_n

“Kem Boro Terotery Auto nomi Distrect (BTAD) jumlah keseluruhan 25 Kem, satu kem dihuni lebih daripada 50.000-100.000. Keseluruhan 4.5 Juta orang.” tulis Adynor.
10593036_10203078538706725_8832021097339523911_n

Assam hingga kini bergolak dan paling banyak pengungsi muslim. Tiba Di Guwahati Airport, Assam. Sdr Saiffur Rahman menjemput kami. Di Guwahati tak Ada Restoran Halal. Jadi terpaksa berlapik perut dengan capati Di Restoran Hindu.

Ibadah Kurban akan di adakan di Kokrajhar. Tapi rombongan bermalam di Goalpara dulu. Sepanjang tiga jam perjalanan, banyak kelihatan lembu-lembu yang di ternak.
10154993_10203079032359066_4090938350532400670_n

“Punya Hindu” ujar Saiffur Rahman. “Lembu di anggap Tuhan” Katanya. “Habis, bila tua, lembu tu di buat apa?” tanya Adynor. “Jual ke orang Islam” jawab Saiffur Rahman lagi. “Wah.. Tuhan pun kena jual” ujar Adynor.
10330318_10203079030679024_2753627871854675608_n

Tak kurang 70 ekor sapi dan 20 ekor kambing dipotong di kem BTAD itu.
1381942_10203078537146686_4933710869115314361_n (2)

“Ya, semua dari Yayasan Amal Malaysia negeri Kelantan, Perlis, Selangor, Kedah & MAPIM.” tulis Adynor lagi.

Kem pengungsi ini terdapat juga di perbatasan Assam dengan Myanmar Burma, Assam dengan Bangladhes. (*)

Sosok Imam Bachroni Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah


Pemangku gelar adat Putra Kelana Jaya itu tak boleh berbuat demikian ujar Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam H. Imran AZ kepadaku lewat hp nya….. saat itu kami sedang menuju Masjid Raya Batam untuk melaksanakan sholat Jumat tanggal 28 Desember 2007….

Ada apa dengannya? ? ?  ternyata ada masalah soal lahan di Kabil  dengan Otorita Batam…. karena aku baru pulang Idul Adha dari Thailand dan Burma taklah mengikuti perkembangan di Batam…. kebetulan yang menangani lahan itu di OB adalah Imam Bahcroni …. H Imam Bachroni adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batam, Insinyur kelahiran Ponorogo ini orangnya kalem…. aku kenal dia belasan tahun yang lalu….  aktif di organisasi Muhammadiyah bukan hanya di Batam Indonesia saja malah untuk Asean…. saat aku ke Singapura, Malaysia dan Thailand pun banyak rekan sejawat yang menanyakan beliau… dan berkirim salam…. karena beliau acap menghadiri pertemuan Muhammadiyah Asean    

Kiprahnya untuk masyarakat Batam tidaklah sedikit…..pendirian  sekolah SMP, SMA Muhammadiyah di Batu Aji Batam, adalah bukti nyata hasil karyanya untuk anak bangsa…   dia tidak terpengaruh dengan hingar bingar perpolitikan di Batam…… dia bukan kutu loncat dan tidak memanfaatkan organisasi yang di pimpinnya untuk kepentingan pribadi dan sesaat , padahal kesempatan untuk itu terbuka lebar baginya. Banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah di Batam yang terjun ke dunia perpolitikan sebut saja DPRD Batam priode pertama dari 30 orang anggota Dewan yang terhormat itu 18 orang adalah tokoh-tokoh Muhyammadiyah Batam….

Bukan hanya pendirian sekolah …. panti-panti asuhan sebagai amal usaha Muhammadiyah pun diurusnya…. sejak terbentuknya Pimpinan Muhammadiyah di Batam belasan tahun yang lalu beliau ikut menerajuinya…..

Itulah mungkin ….  yang membuat gerah Ketua LAM Batam H Imran AZ….. meskipun itu urusan pribadi katanya kepadaku …. tapi sosok Imam Bachroni sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah tak dapat dilepaskan begitu saja….  ujar Bang Imran demikian kami memanggilnya…

Sudah lah itu resiko pekerjaan ujar Imam Bachroni saat bertemu di Masjid Raya Batam selepas Sholat Jumat….. sudah di laporkan ke polisi…. biarlah polisi yang memprosesnya tambahnya……

Itulah sosok Imam Bachroni tokoh Muhammadiyah …………………….  

Bank Islam dan Makanan Halal


 imgp1905.jpg

Kalau di Indonesia tak heranlah banyak berdiri Bank Islam……. lebih 80 % penduduknya beragama Islam…….. di Chiang Rai Thailand Utara dengan penduduk 200 ribuan dan kaum muslim hanya 2.000 an disana ada berdiri Bank Islam…………… Di Provinsi paling Utara Thailand itu kegiatan kaum muslim sangat terasa…… tidak hanya Bank Islam yang ada banyak restoran yang di kelola oleh kaum muslimin maupun non muslim yang mencantumkan label Halal.

Di Bandara Chiang Rai misalnya terlihat beberapa gerai yang mencantumkan label halal, disana pun ada beberapa hotel yang di kelola oleh orang muslim. 

Sepanjang perjalanan dari Sadao kota paling Selatan hinggalah ke Mae Sai kota paling Utara di Thailand tidaklah sulit menemukan makanan berlabel halal. Ratusan Mini Market sepanjang perjalanan itu yang bermerek 7 Eleven barangan yang dijual seperti makanan ringan maupun minuman ringan keluaran produk Thailand telah berlabel halal.

September 2007 yang lalu kami  mengunjungi pusat halal center di Chulalongkorn University di Bangkok yang diketua oleh DR Winai Dahlan.. kepedulian pengusaha Thailand  mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikat halal perlu ditiru oleh pengusaha di Indonesia …….. meskipun disana mayoritas non muslim, karena  produk yang dihasilkannya tidak hanya untuk masyarakat Thailand sendiri.

Ratusan sample makanan dan minuman yang masih menunggu uji halal di laboratorium yang paling terlengkap di dunia itu ditunjukkan oleh DR Winai Dahlan kepada kami, dan telah ribuan jenis pula makanan dan minuman yang telah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Agama Islam Thailand, dan telah beredar di seluruh pasar di Thailand bahkan sampai ke Indonesia, Malaysi, Singapura bahkan ke manca Negara.                    

Bebas Visa Tidak Berlaku di Myanmar


imgp1850.jpg

Tanggal 20 Desember 2007 yang baru lalu kami 6 orang  berada di Thailand Utara dalam rangka Idul Adha 1427 H di Kota Mae Sai Provinsi Chiang Rai, Mae Sai berbatasan langsung dengan Myanmar (Burma).

Keluar dari Thailand di kantor imigrasi Mae Sai kami dimintai uang 100 bath perorang, pasport di tahan, kami di photo setengah badan dan kepada kami hanya diberikan photo copy an paspost  yang sebelumnya sudah di photo copy sndiri  berikut selembar kertas tertera nama2 kami berenam dan di kertas itu pula ada tertera stemple dan paraf petugas yang menerima uang kami tadi.

Kertas berikut photo copyan pasport dari petugas imigrasi Mae sai Thailand itu tadilah yang kami bawa ke kantor imigrasi Tachilek Myanmar.  Photo copyan pasport dari imigrasi Thailand tadi tinggal di kantor imigrasi Tachilek dan hanya selembar kertas bertuliskan nama-nama kami ber-enam yang diberikan. Dikantor imigrasi Tachilek kami diminta uang pula sebesar 500 bath perorang.

Banyak komentar yang diberikan tentang pungutan uang itu……salah seorang teman kami dari Malaysia mengatakan uang yang dikutip itu adalah untuk pribadi petugas disitu….lihatlah uang yang diterima hanya dimasukkan kekaleng bulat bekas biskuit…..seperti di warung-warung saja celetuknya…. seorang lagi mengatakan pemerintah junta militer tak peduli dengan bebas visa negara asean…… peraturan yang berlaku di Myanmar adalah sekehendak mereka yang berkuasa….. buktinya kalau pemegang pasport guru misalnya tak dikutip mereka……  kutipan sebesar 500 bath di Myanmar mungkin masuk akal karena sekarang yang berkuasa adalah junta militer, nah loh bagaimana kutipan 100 bath di imigrasi Mae Sai Thailand?………………..

Karena imigrasi Sadao Thailand yang berbatasan dengan Batu Hitam Malaysia kita tidak dipungut bayaran, demikian pula melalui bandara Suvarnabumi Bangkok.

Begitu pula saat kami pulang dari Tachilek kembali ke Thailand ……. ada beberapa orang teman yang membeli dan membawa barang yang memang banyak dijual di pasar Tachilek dan memang harganya rada murah…….. siap-siap pula dipunguti uang oleh petugas Bea Cukai di Tachilek……

%d blogger menyukai ini: