• kunjungan

    free counters
  • RSS hang tuah batam

  • Album Foto

  • fans page

  • <script type="text/javascript">var cstrpuid = 234893;var cstrpwidth = "200";var cstrpheight = "130";</script><script type="text/javascript" src="http://cdn.caster.fm/0070B7/widgets/player.js"></script><!-- DO NOT REMOVE THE LINKS BELOW, THEY WILL BE HIDDEN (AND WILL HELP US A LOT) --><a id="cstrplb" href="http://www.caster.fm/">Free Shoutcast Hosting</a><a id="cstrplb2" href="http://www.caster.fm/">Radio Stream Hosting</a><div id="cstrpdiv"></div>
  • Iklan

Muhammadiyah Internasional (Ustadz Abdul Wahab)


Ustadz Abdul Wahab dari Kulim Kedah Malaysia. Azamnya, Sungai Mekong nak tempat mandi junub dan berwuduk. InsyaAllah.

Ustadz Abdul Wahab dari Kulim Kedah Malaysia. Azamnya, Sungai Mekong nak tempat mandi junub dan berwuduk. InsyaAllah.

Sangat berbangga sekali terlihat pria 67 tahun ini menyebutkan, bahwa Surat Keputusaan pengangkatan nya menjadi pengurus Muhammadiyah International ditanda tangani oleh Din Syamsudin. sebagai mana diketahui Prof. Din Syamsudin adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pada 24 September 2007 yang lalu, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1427 H,  kami berkesempatan mengunjungi rumah ustadz Abdul Wahab di Kulim Kedah Malaysia. Ustadz Wahab mempunyai lima orang anak, empat sudah berkeluarga yang seorang lagi bekerja di Kuala Lumpur

Di Rumah yang terbilang cukup besar itu pak Wahab tinggal berdua dengan sang isteri . Kami berlima,  anak beranak,  bermalam semalam dirumahnya.

Saat itu ustadz Wahab dalam keadaan sakit, Ia nya terkena stroke, untuk mengangkatkan kakinya saja, sungguh sulit, sholat pun ustazd Wahab hanya duduk diatas kursi, se-sekali dia melangkah dibantu dua tongkat yang diapit  diketiaknya. Iba hati melihatnya. Isteri ustadz Wahab Ummi Maemunah sungguh telaten merawatnya.

Program Kerja Muhammadiyah Internasional. 

Meskipun dalam keadaan sakit, dengan semangat  ustadz Wahab menjelaskan rencana kerja Muhammadiyah International yang dipercayakan kepadanya, dalam waktu dekat ini, yaitu tebar hewan Qurban bagi suku anak pedalaman  di Tahiland Utara sana. Ribuan kilo meter jauhnya yang harus ditempuh untuk mencapai wilayah itu. Ustadz Wahab mengajak kami untuk ikut berpartisipasi dalam acara Idul Qurban dimaksud.

Pagi, keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan safari Ramadhan, Ustadz Wahab ikut mengantarkan kami ke Pulau Penang Malaysia, dari Kulim Kedah ke pulau Penang sekitar 40 menit dengan kereta (mobil). Di Pulau Penang kami bertemu dengan DR Halim dosen di UTM, yang juga sobat kami di Muhammadiyah.

Bus jemputan yang akan membawa kami ke Hatyai Thailand telah tiba, ustadz Wahab serasa tak hendak melepaskan kami pergi. “Sampai jumpa di bulan Desember InsyaAllah”  ucap ustadz Wahab terbata-bata, tak henti-henti ia menangis air mata mengalir di pipinya yang sudah mulai keriput itu. Dengan dipapah tongkat dia masuk kembali kedalam kereta (mobil) yang dikendarai isterinya Ummi Maemunah.

Hatyai salah satu kota di Provinsi Yala, terletak di selatan Thailand,  empat provinsi di selatan itu mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Patani, Narathiwat, maupun di Songklah. Banyak pelajar dari sana menimbah ilmu di Indonesia, beberapa dari mereka menjadi pengurus Muhammadiyah di Thailand. Dan tergabung dalam Muhammadiyah Internasional.

Dari Hatyai dengan penerbangan murah perjalan safari kami lanjutkan ke Bangkok, di Bangkok kami  berjumpa dengan DR Winai Dahlan, pakar pangan yang terkemuka di Chulalongkorn University. DR Winai Dahlan adalah cucu dari pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dhalan.  DR Winai juga adalah Direktur Halal Center Thailand.

Empat bulan kemudian…………

Alhamdulillah,   15 Desember 2007 kami berjumpa lagi, saat melihat ku turun dari Bus, Ustadz Wahab sumringah. Dia rupanya sangat khawatir terhadapku, mungkin karena akulah satu-satunya orang Indonesia dalam rombongan itu, apalagi daerah Selatan Thai terus bergolak, Bom dimana mana.

Ustadz Wahab sengaja menungguku di stasiun Bus Hatyai Thailand, kali ini aku seorang diri  yang berangkat. Dari Batam Indonesia dengan Ferry ke Stulang Laut Johor Malaysia di tempuh sekitar 1 jam lebih. Sementara dari terminal Bus Larkin di Johor Bahru langsung ke Hatyai Thailand sekitar 15 jam perjalanan. berangkat selepas magrib tiba menjelang zuhur. Itu di hari biasa, kalau hari libur, sama seperti di Indonesia juga,  semua Bus penuh.

Dengan senyum khasnya ustadz Wahab memelukku. Tidak ada tongkat sama sekali, jalannya gagah dengan sepatu boat  dan celana jean serta baju kotak-kotaknya  persis seperti ranges, itu adalah seragam kesukaan ustadz Wahab. Bukan main semangat hidupnya.

Ciri ustadz Wahab lain adalah Jenggot panjang yang sudah memutih, mirip HO Chi Min.  Rangsel selalu dipunggungnya, ustazd Wahab perawakannya tinggi 175 cm.  Dia selalu mengatakan kalau orang tuanya berasal dari Kunmin provinsi Yunan China dan memang terlihat dari raut wajahnya,  matanya sipit, kulitnya putih,

“Tapi saya tak boleh bercakap cina, kholil” jelas ustadz Wahab dalam bahasa Arab yang memang dia fasih mengucapkkannya. Sembari senyum, ini dijawabnya bila ada orang yang akan bercakap cina dengannya.

Dari Hatyai kami naik bus menuju Bangkok, disana telah menunggu rombongan yang telah terlebih dahulu berangkat dari Pulau Penang Malaysia, maupun yang dari Thailand. Aku terlambat datang ke Pulau Penang. Dari Batam tanggal 14 Desember 2007 langsung ke Stulang Laut pelabuhan ferry Johor Bahru.  Dari Larkin terminal Bus di Johor Bahru ternyata sulit mendapatkan seat Bus yang akan menuju langsung ke Pulau Penang, apalagi langsung ke Hatyai. Sehingga aku mengambil jurusaan Bus “omprengan” ke Kuala Lumpur. Dari Kuala Lumpur tadinya diperkirakan masih bisa sempat naik Bus yang ke Pulau Pinang. Dalam keadaan normal JB – KL sekitar 4 jam saja,  tetapi sebelum sampai Kuala Lumpur di HaigWay Bandar Nila Bus yang aku tumpangi mogok.

Bandar Nila adalah tempat pelatih Karate Indonesia dibabak belurkan petugas Polsisi Diraja Malaysia beberapa waktu yang lalu itu,  aku menunggu Bus dari Johor sebagai pengganti Bus yang mogok, 5 jam lamanya,  sehingga sampai di Kuala Lumpur hari sudah menjelang subuh, sehingga aku tidak ke Pulau Penang lagi karena rombongan dari Malaysia sudah berangkat ke Thailand paginya. Terpaksa aku  langsung naik Bus dari Kuala Lumpur ke Hatyai Thailand.

Dakwah Ustazd Wahab……

Ustazd Wahab, telah berbelas tahun melaksanakan dakwah di pedalaman Thailand, sejak ianya  muda lagi. Hampir seluruh provinsi dan kota di Thailand telah dilaluinya dan banyak pula negara selain Thailand yang telah dikunjunginya. Hanya empat bulan sejak September hingga Desember 2007, karena sakit strok yang dideritanya membuat rungsing hatinya.

Hampir semua masjid, sepanjang perjalanan yang kami lalui untuk berhenti bersholat dari Selatan ke Utara tak ada jamaah dan imam masjid yang tak mengenal sosok ustazd Wahab, mereka semua kenal belaka. Itu yang membuat kagun terhadap sosok pedakwa yang satu ini.


Angan Ustd Wahab……Sungai Mekong tempat berwuduk dan Junub..

Penyembelihan hewan qurban dipusatkan di Pha Yao dan berjalan lancar,  perjalanan kami pun berjalan lancar, kepulangan rekan warga Thailand dipercepat 2 hari dari rencana semula 10 hari. Karena tanggal 23 Desember 2007 bertepatan dengan hari  pemilihan raya di Thailand. Rombongan dari Patani, Yala dan Naratiwhat pulang terlebih dahulu,  sementara sebagian rombongan  Malaysia pulang melalui udara.

Rombongan dari Malaysia yang pulang dengan Bus, sehari sebelum pulang ke Malaysia  mengunjungi beberapa masjid di Chiang Rai, ada beberapa masjid yang kami kunjungi,  termasuklah masjid yang dibangun dan dibina oleh Muhammadiyah Internasional, di masjid itu ditempatkan Dai untuk membina para muallaf.

Di masjid dimana ditempatkan ustazd Ahmad Siddiq misalnya, pemerintah setempat dalam hal ini pemerintah Thailand bagian Utara khususnya cukup akomodatif,  “Asal kita laporkan saja kegiatan kita kepada kerajaan” ujar ustazd Siddiq yang menjadi ketua di Madrasah yang ada disitu. Dia pun selalu diundang oleh kerajaan dalam hal-hal yang berkenaan dengan agama.

“Kita berdakwah haruslah santun dan bijak” ujar ustazd Wahab menimpali. “Banyak suku bukit yang mendiami perbukitan sejuk di Thailand Utara itu  belum tersentuh dakwah” lanjut ustazd Wahab pula.  “Kita memerlukan banyak Dai dan dana untuk itu” lanjutnya lagi

Tak terasa kami telah memasuki kawasan Golden Triangle (segi tiga emas) yang terkenal itu, disepanjang tepian sungai Mekong terlihat banyak bangunan resot, cafe dan restoran. Disitu pun banyak tempat perjudian. Sungai Mekong  adalah sungai yang menjadi perbatasan tiga negara, Thailand, Burma dan Laos. Sungai ini  panjang berkelok-kelok dari mulai China. Wilayah salah satu tempat transaksi ovium terbesar di dunia itu nampak terlihat jelas dari tempat kami berdiri terbuat dari kayu jati dengan tiang besar dan kayu  pilihan lainnya.

Sembari  menatap air yang agak keruh mengalir di Sungai Mekong yang membatasi ketiga negara itu, yang kini banyak berdiri tempat maksiat, ustadz Wahab meluahkan azamnya yaitu nak menjadi kan sungai Mekong tempat berwuduk dan tempat mandi junub, nantinya dikemudian hari ? Itulah azam dan mimpi ustazd Wahab.  “Bukankah Hunsa bisa juga mati” ?.kata ustadz Wahab menimpali.

Insayallah…….


Iklan

Idul Adha di Myanmar tanggal 21 Desember 2007


imgp1683.jpg

Naseer, Myanmar,  ucapnya sembari menerima jabat tanganku, kami bertemu  disebuah restoran di perbatasan antara Chiang Rai Thailand dengan Burma tepatnya di Mae Sai kota paling utara Thailand. 

Naseer (35) tinggal di Tachilek Provinsi Shan Burma,  adalah kota yang berbatasaan langsung dengan Mae Sai tempat kami bertemu, kedua negara dan kedua kota ini hanya dipisahkan oleh aliran sungai yang lebar tidak lebih dari 10 meter, hilir aliran sungai ini mengalir ke sungai Mekong yang terkenal dengan Golden Triangle.

Di Mae Sai banyak restoran yang di kelola oleh muslim cina. Cinho …… demikian orang disana menyebutnya, sehingga keberadaan Naseer yang agak hitam kontras dengan pengunjung restoran tadi, karena memang Naseer adalah orang Myanmar keturunan dari Bengal.

Karena tahu kami akan ke Myanmar dengan senang hati Naseer memandu kami…. dia jugalah yang “menghalau” orang-orang yang menawarkan jasa dan barang, sesaat kami tiba di Tachilek …..

Kalau di Mae Sai (Thailand)….  Idul Adha pada tanggal 20 Desember 2007 ….. sementara di Tachilek (Myanmar) Idul Adha pada tgl  21 Desember 2007 ………………………… “Begitulah keputusan Majelis Ulama Rangon” jelas Naseer kepada kami.    Sementara kami sendiri di Pha Yao, salah satu provinsi di Tahiland yang berbatasan dengan Chiang Rai melaksanakan sholat Idul Adha tanggal 19 Desember 2007 ….. “Sebagaimana di Makkah” ujar Ustdz Yusuf  …. Menurut yang melaksanakan Idul Adha tanggal 19 Desember  2007 , ini berkaitan dengan wukuf di Arafah…. Puasa kami pun tanggal 18 Desember 2007 karena anjurannya demikian, “Puasa berkaitan dengan wukuf dan Idul Adha berkaitan dengan ibadah haji pula” ujar Babaji menambahkan. Di Indonesia (Batam) saya di kabarkan bahwa HTI melaksanakan Idul Adha tgl 19 Desember 2007 …..

Di Tachilek kami sholat zuhur jamak takdim, di masjid yang dibangun oleh muslim Cinho terlihat dari ornamen dan tulisan yang mendominasi di pintu dan dibeberapa tempat, tetapi sebagian besar jamaah di masjid itu adalah orang-orang dari keturunan Pakistan, bahkan imam masjid nya pun keturuan Pakistan.

“Tidak ada masjid Cina tidak ada masjid Pakistan” ujar Naseer membantah adanya anggapan adanya masjid Cina dan adanya masjid Pakistan …………… “Semuanya masjid Allah” tambahnya.

Karena kami tanggal 20 Desember 2007 ke Myanmar sehinggalah tak ada kegiatan qurban disitu…..   yang terlihat ramai adalah di Mae Sai……….. terlihat banyak rombongan orang membawa bungkusan hewan qurban di sepanjang jalan bahkan beberapa keluarga anak beranakmasih antri  menunggu selesainya dipotong dan dibagi-bagikan hewan qurban itu……………….. dan kesemua mereka itu bukanlah orang-orang Cinho..

Di Tachilek… banyak komunitas muslim, baik etnis cina maupun keturunan pakistan, apalagi banglades, bahkan di pasar Tachilek banyak pedagang asongan yang dapat berbahasa melayu dialek pattani….. tidak sedikit pula cinho yang dapat berbahasa melayu dialek pattani tersebut.  Hal-hal yang demikian pun menurut ustadz Wahab ada di Vietnam, Laos,  Kamboja, beberapa kali beliau mengunjungi daerah itu. Guru Daud asal Pulau Pinang menimpali “Saya baru kembali dari Philipina disana pun banyak orang dapat berbahasa melayu” ujarnya 

Begitulah …….. bisa jadi bahasa melayu menjadi bahasa persatuan di asia tenggara ini……… dan diharapkan pula Idul Adha pun bisa sama di rantau ini……………. Amieeen   

         

   

Sekelumit Tentang Banci dari Batam


Tumbuhan Banci daunnya dapat mengatasi sembelit dan kesulitan BAB, gambar-gambar dibawah ini aku copy dari THE SURIP KETHIP WEBLOG. Menurut mas Surip Kethip : “Karena ada permintaan dari beberapa rekan di internet yang ingin mengetahui gambar atau bentuk dari tumbuhan Banci dan juga Jarak, berikut ini saya berikan gambar yang dimaksud. Maaf cukup lama permintaan baru sempat saya penuhi”.

Daun Banci
Tumbuhan Banci

Daun Banci dari dekat
Bentuk Daun Banci

Tumbuhan Banci
Rimbunan Daun Banci

Daun Jarak
Gambar Daun Jarak

Dilanjutkan oleh mas Surip Kethip : “Semoga gambar tersebut dapat menjawab keinginan rekan-rekan untuk melihat seperti apa daun yang dimaksud kan untuk keperluan mengatasi sembelit dan kesulitan BAB”.

Di Batam,  terlontar kata-kata Banci oleh anggota dewan yang terhormat kepada Walikotanya  saat rapat membahas anggaran,,,,,,,,,,,, anggota dewan yang terhormat itu diminta agar menarik ucapannya dan meminta maaf, kalau dalam 2 x 24 jam belum juga, akan diajukan ke mejah hijau…… begitu bunyi sebuah iklan disalah satu harian lokal Batam.

Banci dalam kamus besar bahasa indonesia edisi ketiga halaman 99 bisa berarti tidak berjenis laki-laki dan juga tidak berjenis perempuan, atau laki-laki yang bertingkah laku dan berpakaian sebagai perempuan, wadam; waria; kalau ke.ban.ci.an keadaan penis yang mengecil pada pria atau sebaliknya klitoris yang membesar pada wanita.

Ban.ci di Malaysia adalah cacah jiwa ; perhitungan penduduk; sensus. Di sana ada petugas banci yaitu petugas yang mendata penduduk, petugasnya bisa lelaki bisa perempuan. Mereka tak marah pun dipanggil petugas banci.

Ban.ci juga berarti patil besar untuk menarah kayu dsb. Menarah bukan memotong dan bukan pulah membelah, bekas tarahan berbentuk tatal , kabarnya tiang masjid Demak adalah tatal dari tarahan ribuan kayuuntuk membuat kapal2 oleh tukang kayu dari china di zaman laksamana Cheng Ho di Semarang sana (Tuanku Rao). Patil………. kalau mau coba bagaimana rasa sakitnya coba …. patilkan tanganmu ke patil ikan sembilang… tulang yang ada pada sirip ikan itu. 

Dalam satu sesion yang sering diseminarkan atau apalah namanya oleh Departemen Perdagangan atau Perindustrian, ada besi banci, besi beton di daftarkan ukurannya 10 mm, tapi  kalau diukur,  bisa jadi ukuran hanya 9.7 mm saja. Besi banci seperti ini menyalahi SNI, dan melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 tahun 1999.

Di tanah Karo untuk larangan masuk ketempat tertentu di sebut dengan la Banci kubas. Banci kam kujenda : Bisa kamu kemari ; banci artinya bisa. Orang karo menyebut kata-kata banci adalah lumrah belaka.

Kalau dari hasil penelusuran di google web halaman indonesia tentang banci ada 111.00, sedang untuk gambar ada 595. Buka saja lah sendiri. …….. apa2 artinya, apakah termasuk kata-kata yang terlontar itu?……….

Kembali ke tumbuhan banci yang bisa mengobati sembelit dan kesulitan BAB, bagus juga dikembangbiakkan di Batam, mungkin perlu dibuatkan “perda”nya , atau untuk mendata penduduk di Batam karena selama ini kan banyak ekspatriat yang bermukim di Batam malah buat pabrik sabu-sabu terbesar pun di Batam tak terpantau, baik juga dibentuk petugas banci seperti di Malaysia, di Malaysia pun ada koq petugas yg “Rela”  geprokin orang-orang Indonesia, mereka rela mem-banci pendatang yang kesana, gak peduli isteri diplomat ataupun wasit karate yang sedang bertugas. Bagaimana kan lebih resmi kita “perda”kan saja?  ……………………..

    

Ada Udaku yang tinggal di Batam


pahrian siregar | pahrian@gmail.com | percakburok.blogspot.com | IP: 202.95.130.172 horas uda… (mungkin bisa jadi ompung.. kalo martarombo yah :-)). ada udaku yang juga tinggal di batam, mungkin saling kenal kalian..
wah, terus menulis uda dan berbagi kebijakan pada kami yang muda-muda ini.
horas,   ian   Des 3, 8:00 AM

Ini juga korban tulisan dari  Siregar se Dunia,……………………… kalau si JH Hutasuhut  panggil aku tulang, si Pahrian Siregar ini, panggil aku uda, tak apelah kata orang melayu riau. Udamu dimana ian????…………..banyak kali kalau marga siregar di Batam, lebih banyak dari yang bermarga Hutasuhut,,,, sales-sales yang datang ke tempat kami menawarkan barang ada beberapa orang yang bermarga siregar.

Beberapa orang yang  lama di Batam, lebih dari empat puluh tahun, kalau orang lama di Batam pasti tahu toko Horas, yang punya adalah marga siregar, ada juga Bang Haji Mauli Siregar isterinya boru Pasaribu sudah meninggal kakak itu, Marga Siregar Pardermott ada beberapa orang, sekarang mereka sudah pada bermenantu. Ada lagi pensiunan angkatan laut, dipanggil abang regar  angkatan laut, udah pensiun dia. 

Adiknya toko Horas (regar toko horas udah meninggal) ada di batam tinggal dekat Batu Aji sana, anak adik-beradik mereka ada satu yang jadi pengacara di batam namanya Sutan J Siregar SH, isterinya boru Rangkuti anak mantan kepala desa bandar Selamat di jalan Letda Sojuno Medan.   

Ada juga temanku namanya Tindomora Siregar, tapi udah pindah dari Batam.  Beberapa kali dia datang ke tempatku, aku belajar dan bertanya bagaimana bikin BPR kepadanya, karena dia Kepala Bank Indonesia Batam.  Kenapa dia sering datang ke tempatku dan kami sering bercerita-cerita terutama selepas sholat jumat di masjid Raya Batam, Masjid raya Batam tak jauh dari kantornya, saat dia menjabat kepala BI di Batam, Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing di Batam masuk penjara, ditutupnya cabang BNI di Mauritius, dan melorotnya pengiriman uang dari BNI Singapura ke Indonesia, kalah bersaing dengan remitance2 yang ada di Singapura. Tentang ini nanti akan kutulis tersendiri, dan udah kutulis sebagian di media lokal Batam (Batam Pos, Jawa Pos Group)

Batam kan dekat dengan Singapura, disana pun ada beberapa orang yang bermarga siregar, sering juga mereka datang ke Batam dan kamipun kesana kunjung mengunjungi, beberapa waktu yang lalu ada marga si regar meninggal di terminal keberangkatan kapal laut yang mau ke Belawan, anak-anaknya ada di Batam salah saatunya Ir Syafrial Siregar, isterinya orang Singapura boru Hutasuhut.

Yang doli-doli pun ada, usianya sudah kepala empat, mungkin pun hampir kepala lima, belum menikah, dia pernah jadi ketua Umum Ikatan Keluarga Batak Islam (IKBI) di Batam, marga siregar. Dekat sekali hubungannya ku tengok dengan Ibu Aida Ismeth Nasutian, isteri Gubernur Kepri (Ismeth Abdullah) yang sekarang.  Si mantan ketua umum IKBI ini panggil abang sama aku. Namanya Irvan Siregar. 

He he he he ………………………jadi blog ini sebagai mana kata anakku, yang mengajari aku bikin blog, bisa untuk apa saja termasuk cerita-cerita seperti ini ya ian. Aku tak jauh seperti kau juga, 30 an tahun tinggal di bumi melayu, banyak kisah suka dan duka, kau pun lama tinggal di Kalimantan.

Sekolah yang kami dirikan namanya Hang Tuah nama tokoh melayu, berdiri sejak  tahun 1991, meskipun kami orang Batak , kami berperinsip dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Aku harap engkau pun demikian juga. ……………………………………. semoga…………….         

Horas Tulang Regar kata si JH Hutasuhut


Horas tulang regar.
Semangat kali kulihat tulang bikin blog ini, padahal udah ompung-2pun, aku jadi malu neh yang masih muda ini.
Oh ya tulang, mamakku marganya siregar dari sipirok, aku lahir dan besar di sipirok, mamak ayahku marga siregar, ada juga kakakku(cewek) menikah dengan marga siregar. ada juga namboruku(kakak ayahku) menikah dengan siregar walah.. sebenarnya aku ini setengah siregar, heheh. aku juga jadi pusing aku marmora apa maranakboru sama siregar, aku panggil tulang apa amangboru neh?. tulang ajalah ya..rasanya lebih paten.
Pokoknya selamat lah tulang, semangat teruss..menulisnya.
salam kenal ya tulang.   jeha hutasuhut

Itulah komentar si jeha hutasuhut, bisa jadi singkatannya JH, dibaca JeHa, bisa saja J-nya = Jatengger H-nya = Hutasuhut.  he he he he Hutasuhut itu klan Harahap, di Batam ada yang bermarga Hutasuhut, kerjanya di Pelabuhan, jadi kepala dia disitu. Dan ada beberapa orang lagi, dulu kepala Pertamina Tongkang di Batam pun marganya Hutasuhut jadi banyak yang datang saudara-saudaranya yang bermarga Hutasuhut, dari yang menjadi Direktur Utama, ada juga koq yang jadi Satpam sekarang tinggal di samping rumahku, di Tanjung Balai Karimun (TBK) pun ada yang bermarga Hutasuhut namanya Bangun, tapi dipanggil di sana Fahmi B Hutasuhut kerja di Batu Granit. Sebelumnya di TBK ada Bea Cukai marganya Hutasuhut namanya Marasungguh, isterinya boru regar, dua-duanya sudah alm,  ada adiknya di Belawan namanya Ribu Hutasuhut kerjanya di Kapal, kesemua mereka aku kenal baik.

Aku juga punya teman, waktu di Medan marganya Hutasuhut, kami satu sekolah di Muhammadiyah jalan Pahlawan Medan Timur waktu itu, masih adik kelas,  tapi tak dipakainya marganya itu, sekarang dia anggota DPR dari PPP di Jakarta, Asrul Harahap namanya, tak Asrul Hutasuhut. Bapaknya kami panggil bang Unggoli Hutasuhut sudah alm, tinggal di jalan pukat I medan. Adalah beberapa kali dia ke Batam dan mampir kerumahku, dan ada abangnya di Surabaya namanya Merdi Hutasuhut, katanya isterinya orang Belanda. Aku sering ke Surabaya karena anakku kuliah di ITS, jadi disitu aku jumpa dengan si Merdi, meskipun Merdi lebih tua dikit dari aku, karena Bapaknya aku panggil abang jadi bolehlah aku panggil dia dengan namanya saja, he he he ……….. Dan dia sering juga ke Batam.

Itulah yang kuingat JH, aku tak tau Bapakmu yang mana………………… entah-entah aku kenal ataupun tidak, adik beradik mereka banyak, sehutasuhut yang di sipirok sanalah, oiya….  ada lagi dia dulu pernah tinggal di jalan Purwo Medan, saat itu ada pesawat terbang jatuh disana, marganya juga Hutasuhut namanya Ir. Dahlan, kerja di PU terakhir dia tinggal di Jalan ke Tembung di KM6 tapi sudah pada meninggal, isterinya pun boru regar.

Jadi begitulah ……………………………………bereeeeeeeeeeeeeeeeee.       

Perlu Hati-hati untuk Cari Makanan Halal


imgp1896.jpg 

Ramkhamhaeng   Desember 2007  19:03:00
Perlu Hati-hati untuk Cari Makanan Halal

Bangkok-RoL–Bagi anggota kontingen maupun wartawan Indonesia yang beragama Islam, perlu berhati-hati untuk mencari makanan halal karena dimana-mana banyak makanan mengandung babi yang dalam bahasa Thailand disebut “moo”.Saking hati-hatinya, seorang wartawan Indonesia seperti dilaporkan Antara harus tanya sana sini sebelum mencicipi makanan karena tidak ada keterangan dalam bahasa Inggris yang menerangkan adanya kandungan babi karena tulisan Thailand mirip cacing.Salah satu kiat jitu adalah dengan hanya membeli nasi dan kemudian mengeluarkan bekal rendang yang dibawa dari Tanah Air, maka jadilah makan siang yang ditanggung halal.“Nggak apa-apa repot dikit asal aman,” katanya sambil mecicipi nasi Thailand yang dikenal pulen dengan rendang padang. pur

INI MUNGKIN SALAH SATU SOLUSINYA
Ini tulisan diatas aku copy dari Harian Republika. Karena tak pandai aku mau mengomentarinya, jadi ku copy paste aja.

Tentang makanan halal di Bangkok anda bisa pesan dari Hotel Regent di Ramkhamhaeng, hotel ini adalah salah satu hotel muslim, semua makanan yang disajikan di sana di jamin halal,  atau ke Pusat Halal Center,  di Chulalongkorn University direktur Halal nya adalah cucu H. akhmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, bisa juga koq ke Islamic center di bangkok untuk menanyakan hotel mana saja dan restoran mana saja yang halal.

Mudah-mudahan berguna………………………………. 

Buka saja weblog kami di Yayasan Lembaga Konsumen Muslim Batam (YLKM) Batam

ariesaja.wordpress.com

Dua kali aku ke Balai Pustaka


balai-pustaka.jpg

Bloger yang terhormat, kemarin (30/11)  aku ke Balai Pustaka (BP) di Jalan Gunung Sahari Jakarta.

Itu adalah kali kedua aku kesana selama hidupku, pertama kali aku kesana pada tanggal 02 Nopember 2007  yang lalu.

Disana, dilantai dasar bangunan BP, banyak sekali judul buku yang aku cari2 selama ini. Jadi selama bulan Nopember  2007 ini aku dah dua kali kesana.

Dua kali pula aku membeli buku dengan diskon 30 s/d 40 % , buku-buku yang kubeli sebagian besar adalah buku cerita mulai anak usia sekolah dasar hingga menengah atas, dari yang tipis dan agak tebalan pun ada.

Hampir semua buku2 yang kubeli warna kertasnya sudah menguning karena sudah lama dicetaknya. Malah ada yang tepinya agak rusak seperti di makan rayap, begitulah kondisinya.

Kawan bergelut, Salah Asuhan, Mari Bernyanyi karangan AT Mahmud (alm) dan ratusan judul yang lain kubeli masing2 dua, untuk kujadikan koleksi perpustakaan disekolah Hang Tuah.  Masih ribuan judul lagi ada disana, semuanya bagus-bagus belaka, terutama untuk bacaan anak usia sekolah.

Aku berkahyal seandainya adalah orang-orang kaya punya duit dan punya harta, punya pula kepedulian kepada sesama, membeli buku yang sudah banyak “menguning” di Balai Pustaka sana, menyumbangkannya kepada perpustakaan sekolah yakh………. seperti ke tempat kami misalnya di sekolah Hang Tuah di Batam, oi oi ……..  alangkah bertuahnya.

Dua kali aku ke Balai Pustaka sana, melihat ribuan judul buku yang sudah mulai menguning dan memang sudah pun menguning karena termakan usia.

Dua kali aku ke Balai Pustaka sana, berandai-andai seandainya ada manusia dermawaan yang tergerak hatinya, membelikan buku untuk disumbangkan ke sekolah-sekolah. Yang nantinya akan dibaca oleh generasi penerus bangsa, alangkah bermanfaat jasanya.

Dua kali aku ke Balai Pustaka sana, manalah mungkin aku bertemu dengan  “Bambang Sudibiyo” apalagi membaca asa ku ini.  

Dua kali aku ke Balai Pustaka sana, di kali keduanya, Jumat, tanggal 30 Nopember 2007, crew-crew stasiun TVRI saat itu  sedang shooting di toko buku Balai Pustaka, aku yang sedang memilih – milih buku yang sudah mulai menguning itu tersorot kamera, tapi aku tak tau apakah mereka akan menyiarkannya.

Dua kali aku ke Balai Pustaka sana, sambil melihat dan memilih-milih buku yang lain buku-buku yang bermutu terbitannya, petugas Balai Pustaka mengatakan kepadaku buku yang sudah terkumpul dan akan di pak sudah tiga puluh lima kilogram beratnya, dan jumlah rupiahnya telah sekian juta. Padahal belum lah seberapa jumlah judulnya.

Ya begitulah sudah duakali aku ke Balai Pustaka, dua kali pula kelebihan bagasi ku di Soekarno Hatta. Aku janjian untuk selanjutnya, agar dikirimkan ke batam dengan Pos saja, buku yang tak sempat kubawa.

Di Batam, setelah dua kali aku ke Balai Pustaka, aku buka blog ku dan kutulis “Dicari orang yang mau menyumbangkan buku untuk pustaka”, semoga ada insan yang tergerak hatinya…………………………………….insyaAllah………………………         

   

   

     

%d blogger menyukai ini: