Muhammadiyah Internasional (Ustadz Abdul Wahab)


Ustadz Abdul Wahab dari Kulim Kedah Malaysia. Azamnya, Sungai Mekong nak tempat mandi junub dan berwuduk. InsyaAllah.

Ustadz Abdul Wahab dari Kulim Kedah Malaysia. Azamnya, Sungai Mekong nak tempat mandi junub dan berwuduk. InsyaAllah.

Sangat berbangga sekali terlihat pria 67 tahun ini menyebutkan, bahwa Surat Keputusaan pengangkatan nya menjadi pengurus Muhammadiyah International ditanda tangani oleh Din Syamsudin. sebagai mana diketahui Prof. Din Syamsudin adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pada 24 September 2007 yang lalu, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1427 H,  kami berkesempatan mengunjungi rumah ustadz Abdul Wahab di Kulim Kedah Malaysia. Ustadz Wahab mempunyai lima orang anak, empat sudah berkeluarga yang seorang lagi bekerja di Kuala Lumpur

Di Rumah yang terbilang cukup besar itu pak Wahab tinggal berdua dengan sang isteri . Kami berlima,  anak beranak,  bermalam semalam dirumahnya.

Saat itu ustadz Wahab dalam keadaan sakit, Ia nya terkena stroke, untuk mengangkatkan kakinya saja, sungguh sulit, sholat pun ustazd Wahab hanya duduk diatas kursi, se-sekali dia melangkah dibantu dua tongkat yang diapit  diketiaknya. Iba hati melihatnya. Isteri ustadz Wahab Ummi Maemunah sungguh telaten merawatnya.

Program Kerja Muhammadiyah Internasional. 

Meskipun dalam keadaan sakit, dengan semangat  ustadz Wahab menjelaskan rencana kerja Muhammadiyah International yang dipercayakan kepadanya, dalam waktu dekat ini, yaitu tebar hewan Qurban bagi suku anak pedalaman  di Tahiland Utara sana. Ribuan kilo meter jauhnya yang harus ditempuh untuk mencapai wilayah itu. Ustadz Wahab mengajak kami untuk ikut berpartisipasi dalam acara Idul Qurban dimaksud.

Pagi, keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan safari Ramadhan, Ustadz Wahab ikut mengantarkan kami ke Pulau Penang Malaysia, dari Kulim Kedah ke pulau Penang sekitar 40 menit dengan kereta (mobil). Di Pulau Penang kami bertemu dengan DR Halim dosen di UTM, yang juga sobat kami di Muhammadiyah.

Bus jemputan yang akan membawa kami ke Hatyai Thailand telah tiba, ustadz Wahab serasa tak hendak melepaskan kami pergi. “Sampai jumpa di bulan Desember InsyaAllah”  ucap ustadz Wahab terbata-bata, tak henti-henti ia menangis air mata mengalir di pipinya yang sudah mulai keriput itu. Dengan dipapah tongkat dia masuk kembali kedalam kereta (mobil) yang dikendarai isterinya Ummi Maemunah.

Hatyai salah satu kota di Provinsi Yala, terletak di selatan Thailand,  empat provinsi di selatan itu mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Patani, Narathiwat, maupun di Songklah. Banyak pelajar dari sana menimbah ilmu di Indonesia, beberapa dari mereka menjadi pengurus Muhammadiyah di Thailand. Dan tergabung dalam Muhammadiyah Internasional.

Dari Hatyai dengan penerbangan murah perjalan safari kami lanjutkan ke Bangkok, di Bangkok kami  berjumpa dengan DR Winai Dahlan, pakar pangan yang terkemuka di Chulalongkorn University. DR Winai Dahlan adalah cucu dari pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dhalan.  DR Winai juga adalah Direktur Halal Center Thailand.

Empat bulan kemudian…………

Alhamdulillah,   15 Desember 2007 kami berjumpa lagi, saat melihat ku turun dari Bus, Ustadz Wahab sumringah. Dia rupanya sangat khawatir terhadapku, mungkin karena akulah satu-satunya orang Indonesia dalam rombongan itu, apalagi daerah Selatan Thai terus bergolak, Bom dimana mana.

Ustadz Wahab sengaja menungguku di stasiun Bus Hatyai Thailand, kali ini aku seorang diri  yang berangkat. Dari Batam Indonesia dengan Ferry ke Stulang Laut Johor Malaysia di tempuh sekitar 1 jam lebih. Sementara dari terminal Bus Larkin di Johor Bahru langsung ke Hatyai Thailand sekitar 15 jam perjalanan. berangkat selepas magrib tiba menjelang zuhur. Itu di hari biasa, kalau hari libur, sama seperti di Indonesia juga,  semua Bus penuh.

Dengan senyum khasnya ustadz Wahab memelukku. Tidak ada tongkat sama sekali, jalannya gagah dengan sepatu boat  dan celana jean serta baju kotak-kotaknya  persis seperti ranges, itu adalah seragam kesukaan ustadz Wahab. Bukan main semangat hidupnya.

Ciri ustadz Wahab lain adalah Jenggot panjang yang sudah memutih, mirip HO Chi Min.  Rangsel selalu dipunggungnya, ustazd Wahab perawakannya tinggi 175 cm.  Dia selalu mengatakan kalau orang tuanya berasal dari Kunmin provinsi Yunan China dan memang terlihat dari raut wajahnya,  matanya sipit, kulitnya putih,

“Tapi saya tak boleh bercakap cina, kholil” jelas ustadz Wahab dalam bahasa Arab yang memang dia fasih mengucapkkannya. Sembari senyum, ini dijawabnya bila ada orang yang akan bercakap cina dengannya.

Dari Hatyai kami naik bus menuju Bangkok, disana telah menunggu rombongan yang telah terlebih dahulu berangkat dari Pulau Penang Malaysia, maupun yang dari Thailand. Aku terlambat datang ke Pulau Penang. Dari Batam tanggal 14 Desember 2007 langsung ke Stulang Laut pelabuhan ferry Johor Bahru.  Dari Larkin terminal Bus di Johor Bahru ternyata sulit mendapatkan seat Bus yang akan menuju langsung ke Pulau Penang, apalagi langsung ke Hatyai. Sehingga aku mengambil jurusaan Bus “omprengan” ke Kuala Lumpur. Dari Kuala Lumpur tadinya diperkirakan masih bisa sempat naik Bus yang ke Pulau Pinang. Dalam keadaan normal JB – KL sekitar 4 jam saja,  tetapi sebelum sampai Kuala Lumpur di HaigWay Bandar Nila Bus yang aku tumpangi mogok.

Bandar Nila adalah tempat pelatih Karate Indonesia dibabak belurkan petugas Polsisi Diraja Malaysia beberapa waktu yang lalu itu,  aku menunggu Bus dari Johor sebagai pengganti Bus yang mogok, 5 jam lamanya,  sehingga sampai di Kuala Lumpur hari sudah menjelang subuh, sehingga aku tidak ke Pulau Penang lagi karena rombongan dari Malaysia sudah berangkat ke Thailand paginya. Terpaksa aku  langsung naik Bus dari Kuala Lumpur ke Hatyai Thailand.

Dakwah Ustazd Wahab……

Ustazd Wahab, telah berbelas tahun melaksanakan dakwah di pedalaman Thailand, sejak ianya  muda lagi. Hampir seluruh provinsi dan kota di Thailand telah dilaluinya dan banyak pula negara selain Thailand yang telah dikunjunginya. Hanya empat bulan sejak September hingga Desember 2007, karena sakit strok yang dideritanya membuat rungsing hatinya.

Hampir semua masjid, sepanjang perjalanan yang kami lalui untuk berhenti bersholat dari Selatan ke Utara tak ada jamaah dan imam masjid yang tak mengenal sosok ustazd Wahab, mereka semua kenal belaka. Itu yang membuat kagun terhadap sosok pedakwa yang satu ini.


Angan Ustd Wahab……Sungai Mekong tempat berwuduk dan Junub..

Penyembelihan hewan qurban dipusatkan di Pha Yao dan berjalan lancar,  perjalanan kami pun berjalan lancar, kepulangan rekan warga Thailand dipercepat 2 hari dari rencana semula 10 hari. Karena tanggal 23 Desember 2007 bertepatan dengan hari  pemilihan raya di Thailand. Rombongan dari Patani, Yala dan Naratiwhat pulang terlebih dahulu,  sementara sebagian rombongan  Malaysia pulang melalui udara.

Rombongan dari Malaysia yang pulang dengan Bus, sehari sebelum pulang ke Malaysia  mengunjungi beberapa masjid di Chiang Rai, ada beberapa masjid yang kami kunjungi,  termasuklah masjid yang dibangun dan dibina oleh Muhammadiyah Internasional, di masjid itu ditempatkan Dai untuk membina para muallaf.

Di masjid dimana ditempatkan ustazd Ahmad Siddiq misalnya, pemerintah setempat dalam hal ini pemerintah Thailand bagian Utara khususnya cukup akomodatif,  “Asal kita laporkan saja kegiatan kita kepada kerajaan” ujar ustazd Siddiq yang menjadi ketua di Madrasah yang ada disitu. Dia pun selalu diundang oleh kerajaan dalam hal-hal yang berkenaan dengan agama.

“Kita berdakwah haruslah santun dan bijak” ujar ustazd Wahab menimpali. “Banyak suku bukit yang mendiami perbukitan sejuk di Thailand Utara itu  belum tersentuh dakwah” lanjut ustazd Wahab pula.  “Kita memerlukan banyak Dai dan dana untuk itu” lanjutnya lagi

Tak terasa kami telah memasuki kawasan Golden Triangle (segi tiga emas) yang terkenal itu, disepanjang tepian sungai Mekong terlihat banyak bangunan resot, cafe dan restoran. Disitu pun banyak tempat perjudian. Sungai Mekong  adalah sungai yang menjadi perbatasan tiga negara, Thailand, Burma dan Laos. Sungai ini  panjang berkelok-kelok dari mulai China. Wilayah salah satu tempat transaksi ovium terbesar di dunia itu nampak terlihat jelas dari tempat kami berdiri terbuat dari kayu jati dengan tiang besar dan kayu  pilihan lainnya.

Sembari  menatap air yang agak keruh mengalir di Sungai Mekong yang membatasi ketiga negara itu, yang kini banyak berdiri tempat maksiat, ustadz Wahab meluahkan azamnya yaitu nak menjadi kan sungai Mekong tempat berwuduk dan tempat mandi junub, nantinya dikemudian hari ? Itulah azam dan mimpi ustazd Wahab.  “Bukankah Hunsa bisa juga mati” ?.kata ustadz Wahab menimpali.

Insayallah…….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: