Harga Kursi Wakil Rakyat Republik Indonesia

kerusi anggota banggar dpr yang akan datang...........

kerusi anggota banggar dpr yang akan datang...........

Tahukah anda 1 (satu) unit kursi alias kerusi bahasa di tempat kami, anggota banggar dpr di negara republika indonesia seharga rp. 27.000.000,-?

Sementara sebuah kerusi berikut dengan meja lipat di depannya yang dipakai murid SMK di tempat kami seharga rp. 270.000,-  merk FUTURA lumayan bagus kualitasnya. Satu kerusi anggota dpr yang katanya terhormat itu senilai 100 set kerusi siswa SMK di tempat kami.

Ruang banggar  senilai rp. 20.000.000.000,- terbilang : DUA PULUH MILIAR RUPIAH  itu kalau dijadikan kelas baru di tempat kami bisa dapat 138 ruang belajar dengan ukuran 8×9 m = 72 M2 atau dijadikan sekolah dengan rombongan belajar (rombel) 2 saja dengan 3 kelas bisa jadi 15 sekolah SMK .

8×9 = 72 M2 itu sudah cukup besar lho. Ruang yang kami pakai sekarang hanya 10 x 5 meter saja = 50 M2 . sudah nyaman karena kelas kecil .

1 ruang belajar ukuran 8 x 9 = 72 M2 (standar) Kemendiknas sekarang Kemendikbudnas .

harga per M di tempat kami untuk membangun sekolah = rp. 2.000.000,-

satu ruang 72M2 x rp. 2.000.000,- = rp. 144.000.000,-per ruang

rp. 20.000.000.000,- : rp. 144.000.000,- per ruang : 138.8 ruang

itu sudah lantai keramik anti gores  seharga rp. 65.000,- per meternya.  Pintu dan jendela terbuat dari kaca , kosen pintu dan jendela dari aluminium, rangka atap baja ringan dan atap dari spandek.

Kerusi jadi JEMURAN DI RUANG SIDANG DPRD...Batam

Kerusi jadi JEMURAN DI RUANG SIDANG DPRD..Batam

Ironis memang wakil rakyat republik indonesia ini, banyak sekali sekolah yang rusak, masih banyak siswa yang masih belajar di lantai, menumpang di masjid dan di gereja.

Tetapi mereka seenaknya saja mengeluarkan biaya untuk merenovasi ukuran yang hanya beberapa meter saja ber puluh puluh miliar.

Masih pantas kah mereka disebut terhormat?.

Sea Food dari Siput (Gongong)

Festival Sea Food di Batam

Angciu dalam botol

Angciu dalam botol

Baru baru ini di Batam diadakan perlombaan memasak Gonggong (sejenis siput laut).  Rekor memasak gongong ini masuk rekor MURI karena terbanyak peserta yang memasaknya lebih dari  500 orang. Tidak dinilai jenis bumbunya atau pun cara penyajiannya.

Terlihat dalam salah satu photo yang disajikan koran lokal Batam seorang koki dari salah satu perguruan tinggi di Batam sedang  mendemontrasikan cara memasak gongong dengan api menyala-nyala. Dalam photo itupun terlihat beberapa ibu-ibu yang pakai kerudung dan pejabat teras Kota Batam.

“Berdasarkan statement kokinya langsung pada demo masak kemarin semua bumbu masak alami dan tidak sedikitpun menggunakan alkohol” demikian tulis M Riza Pahlevi dari Batam Pos dalam sms nya menjawab pertanyaan YLKM Batam.  Selanjutnya Riza pun menuliskan bahwa semua hadirin yang menyaksikan kemarin pasti mendengarnya.

Penggunaan Ang Ciu

Mengingatkan saja untuk masyarakat Muslim penggemar sea food atau masakan laut.  Ada beberapa menu masakan sea food yang biasa di pesan dirumah makan sea food, yaitu sop ikan, ikan bakar, tumis kangkung, baby kaylan, udang goreng tepung, cah taoge ikan asin, sotong goreng tepung, cap cay.

Biasanya makanan yang proses masakannya dengan ditumis, tak lepas dari angciu yaitu bumbu masakan cina yang artinya adalah arak merah.

Angciu bukanlah suatu bahan tambahan atau bumbu yang ditambahkan alkohol melainkan angciu sendiri adalah artinya arak merah dalam bahasa cina.

Jelas sekali kalau arak adalah jenis khamar yang kadar alkoholnya sangat tinggi. Jadi seandainya ingin makan di sebuah restaurant yang menghadirkan makanan tersebut diatas, pastikan mereka tidak menggunakan arak tersebut.

Biasanya ciri-ciri rumah makan yang menggunakan angciu adalah pada saat memasak akan timbul nyala api yang cukup besar.

Ada yang mengatakan bahwa bumbu yang hanya ditambahkan sedikit saja tidak mengharamkan makanan tersebut. Padahal jelas dalam Alquran tidak ada ayat yg menyebutkan bahwa boleh ataupun halal mengkonsumsi alkohol sedikit misalnya 1 % .

Penggunaan angciu ini biasanya hanya sekedar sebagai aroma agar makanan tersebut tercium kelezatannya. Oleh karenanya sudah banyak rumah makan dan koki-koki yang sadar akan kehalalan, segera menggantikan angciu dengan air jahe segar atau bisa juga kecap asin yang ditambah dengan perasan air jeruk nipis atau lemon.

Kalau untuk restaurant jepang biasanya mereka menggunakan sejenis mirin atau sake (sejenis arak)untuk bumbu masakannya. Biasanya jarang restaurant jepang yang tidak melepaskan bumbu mirin ini.

Jadi Restaurant Jepang yang belum mendapatkan sertifikat halal biasanya kebanyakan memang masih menggunakan bumbu ini.

Jika Masakan cina yang sudah banyak dihidangkan dirumah makan pinggir jalan/pujasera ataupun food court bisa diakali dengan bumbu-bumbu alami yang lain, untuk masakan jepang agak sulit. Karena masakannya pun jarang dikonsumsi khalayak ramai sebagaimana masakan sea food ala cina (penulis mengatakan demikian karena budaya masakan cina memang sudah mendarah daging di Indonesia) dan kebanyakan di daerah-daerah yang mempunyai menu masakan yang berbeda-beda, masakan sea food ala cina ini pun sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga penyajiannya pun juga berbeda-beda.

Beberapa alternatif pengganti bahan-bahan tambahan yang beralkohol :

Ang Ciu : Alternatifnya adalah campuran kecap asin dan perasan jeruk limau.

Mirin : Alternatifnya adalah jus anggur yang dicampur dengan perasan air jeruk lemon.

Red Wine : Alternatifnya adalah jus anggur, jus cranberry dan jus tomat.

Bourbon : Alternatifnya adalah ekstrak vanilla, jus cranberry atau jus anggur.

Brandy : Alternatifnya adalah sirup buah cerry atau selai cerry.

Muscat : Alternatifnya adalah jus anggur yang ditambah dengan air dan gula putih.

Vodka : Alternatifnya adalah sari buah apel atau jus anggur dicampur dengan perasan jeruk nipis.

White brandy : Alternatifnya adalah anggur, sari buah apel, kaldu sayuran maupun air biasa.

Apple Brandy : Alternatifnya adalah jus apel tanpa pemanis.

(dari berbagai sumber)

Batak Tetapi Mengapa Tidak Bermarga?

Di Batam sejak puluhan tahun yang lalu telah bermukim suku Batak. Ada yang datang dari Medan, dan ada yang melalui Dumai atau Pekanbaru. Nah komunitas Batak Islam yang di Batam ini mendirikian satu perkumpulan yang bernama  Ikatan Keluarga Batak Islam (IKBI) Batam.

Banyak dari mereka yang tergabung dalam perkumpulan ini tidak mencantumkan marga di depan namanya. Salah seorang  yang bernama Imbalo ini hehehehe. Mengapa ?…… ada alasan tersendiri karena menyangkut urusan agama.

Menurut Effan, sebagaimana emailnya perlu ada kajian antara adat dan agama (Islam) : “Tetapi  karena sebagian besar warga sudah menjadi Muslim, maka perlu ada kajian hubungan Islam dengan keberadaan adat itu sendiri. Dan salah satu permasalahan ‘besar’ yang cukup berat ialah masalah penambahan nama ‘suku’ atau marga atau nama ‘nenek moyang’ setelah nama dirinya”.

Dijeaskan Effan dengan panjang lebar argumentasinya sbb :

“Masalah penambahan nama nenek moyang dan bukan nama orang tua langsung pada nama setiap orang lalu dikaitkan pula dengan hubungan adat dan agama, inilah seyogianya dirasa perlu merujuk pada ajaran Islam itu sendiri”.

Effan pun mengutip ayat Quran :

“Sebagai contoh menururt Al Quran ada suatu kewajiban dalam hal penggunaan nama sendiri ditambahi dan menambah nama ‘orang tua’ atau bapak-nya dan bukan nama atau identitas suku atau marga atau nama nenek moyangnya sendiri”.

” Mari kita simak QS. 33:5″   ujar Effan lagi :   “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” .

Menurut Effan tak baik pengkultusan dalam mencantumkan marga :  “Jika penambahan identitas nama atau suku atau marga dilihat dari kaca mata ajaran Islam, maka sudah nampak kecendrungan ke upaya ‘kesakralan’ atau pengkultusan sesuatu yakni nama suku atau marganya atau nama nenek moyang kita”.

Masih menurut Effan lagi dalam Islam tidak ada larangan menikah semarga :  “Akibat yang cukup mendasar dari penampakan identitas marga atau suku tersebut adalah dengan adanya ketentuan atau rumusan adat seperti tidak boleh kawin semarga atau sesuku. Pada hal dalam Islam tidak ada larangannya seseorang lelaki dengan perempuan yang berasal dari satu marga semacam itu”.

Kewajiban memberikan marga :  “Atau akibat lainnya, kalau seseorang itu belum bermarga karena berasal dari suku lain, lalu akan dikawinkan maka ada suatu kewajibkan baginya untuk dipasangkan atau diangkat menjadi warga suku atau marga tertentu pula”.

“Atas dasar sederhana tersebut, maka dirasa sudah perlu untuk kita kaji kembali masalah hubungan adat dengan ajaran agama khususnya Islam. Salah satu contoh penting kita kembali menerapkan identitas nama ‘bapak’ kita secara langsung itu lebih baik dari pada nama ‘nenek moyang’ kita dimana kita tak jelas riwayatnya, Muslim atau bukan”. Tulis Effan dengan panjang lebar

Karena pendapat saya di atas, maka saya mohon maaf jika tidak berkenan untuk dikemukakan”. ujar Effan mengakhiri tulisannya.

Tetapi saya Imbalo tidak tercantum marga di akhir nama bukan karena itu…..

Islam di Nusantara

Catatan Akhir Pekan ke-319

“Bedah Buku Al Attas di IAIN Surabaya”

Oleh: Dr Adian Husaini

PADA hari Selasa (2 November 2011), saya bersama Dr Hamid Fahmy
Zarkasyi diundang untuk membahas buku terbaru Prof. Dr. Muhammad
Naquib al-Attas di Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya. Buku yang
berjudul Historical Fact and Fiction terbitan Universiti Teknologi
Malaysia tersebut, baru saja diluncurkan pada 9 September 2011. Atas
jasa baik dari Prof Wan Mohd Nor, buku itu saya terima pada awal
September. Secara khusus, Jurnal Islamia-Republika edisi 20 Oktober
sudah membahas buku ini.

Acara di IAIN Surabaya itu diselenggarakan oleh Institut Pemikiran dan
Peradaban Islam Surabaya dan Pusat Pengembangan Intelektual Pasca
Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, di Gedung Pasca Sarjana IAIN Sunan
Ampel Surabaya, 2 November 2011. Acara dimoderatori oleh seorang kyai
muda dari Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jatim, yang juga mahasiswa
S-2 di IAIN Sunan Ampel. Memberikan sambutan atas nama Pasca Sarjana
IAIN Sunan Ampel diwakili Masdar Hilmy, Ph.D., salah satu Assisten
Direktur-nya.

Bagi para peminat sejarah, khususnya sejarah Islam di
Melayu-Indonesia, nama Prof. Muhammad Naquib al-Attas sudah kesohor
sebagai salah satu “pendekarnya”. Selama berpuluh tahun, ia berusaha
keras untuk meluruskan pendidikan sejarah yang selama ini didominasi
oleh pemikiran orientalis. Sejak tahun 1980-an, bukunya, Islam and
Secularism, sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa. Buku ini sudah
memuat penjelasan proses Islamisasi di wilayah Nusantara. Bukunya yang
lain, Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu, juga mengklarifikasi dan
mengkritik sejumlah pendapat para orientalis tentang perkembangan
Islam di Nusantara.

Saat ini umur Prof. S.M. Naquib al-Attas sudah menginjak 80 tahun.
Beliau lahir di Bogor, tahun 1931. S.M. Naquib al-Attas adalah cucu
seorang ulama besar di Bogor, Abdullah bin Muhsin al-Attas, yang juga
guru sejumlah ulama terkenal di Jabodetabek, seperti KH Abdullah
Syafii, dan sebagainya. Tapi, di usianya yang sudah sangat lanjut itu,
Prof al-Attas masih berhasil menerbitkan sebuah buku yang luar biasa,
berjudul Historical Fact and Fiction. Hingga kini, buku ini tampaknya
merupakan puncak karya Naquib al-Attas tentang sejarah Melayu selama
ini. Sama dengan buku Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu, seolah
menegaskan pendapatnya selama ini, buku Historical Fact and Fiction
ini pun bergambar sampul kaligrafi “ayam jago”, simbol awal kehidupan
baru.

Buku ini memang fantastis, melihat ketajaman analisis dan kekayaan
referensi yang digunakannya. Melalui buku ini, al-Attas berhasil
membalik berbagai pandangan umum tentang sejarah Islam dan Melayu yang
sudah dianggap mapan, sebagaimana yang selama ini diteorikan oleh
sejarawan lain.

Al-Attas, misalnya, memperjelas kembali gambaran bagaimana
keberhasilan para pendakwah Islam (digunakan istilah “misionaris
Islam”) dalam mengangkat dan mengislamkan bahasa Melayu, sehingga
berhasil menjadi bahasa persatuan di wilayah Nusantara.

Bahasa Melayu yang semula hanya digunakan oleh sebagian kecil
masyarakat Sumatra, kemudian diangkat, di-Islamisasi, dan digunakan
sebagai bahasa pengantar dalam dunia ilmiah di wilayah Nusantara ini.
Karena itulah, simpul al-Attas, bahasa Melayu dan agama
Islam,merupakan dua faktor penting yang berjasa dalam upaya penciptaan
semangat kebangsaan dan persatuan di wilayah Nusantara. (The spread of
the new and vibrant Malay language and literature as a vehicle of
Islam and knowledge presently used by more than two hundred million
people in the Malay Archipelago is one of the most important factors
in the creation of nationhood, the other factor being the religion of
Islam itself. Historians of the Archipelago have never considered
language as an important source material for the study of history.
hal. xvi).

Analisis al-Attas itu menarik. Sebab, selama ini bangsa Indonesia
sudah sangat akrab dengan satu “dogma” pelajaran sejarah, bahwa yang
berjasa besar dalam penyatuan Nusantara adalah Kerajaan Hindu
Majapahit, terutama di era pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Berbagai buku sejarah menulis, bahwa hanya pernah ada dua Kerajaan di
Indonesia yang bersifat Nasional, yaitu Kerajaan Sriwijaya (Budha) dan
Kerajaan Majapahit (Hindu). Islam belum pernah menyatukan Nusantara.
Itulah informasi yang mudah kita jumpai di berbagai buku sejarah.

Tokoh Kristen di Indonesia, TB Simatupang, pernah menulis bahwa
Indonesia tidak pernah mengalami sebuah kerajaan Islam yang mencakup
seluruh Indonesia, seperti di zaman Mogul di India. Menurutnya,
Kerajaan Sriwijaya yang Budha dan Majapahit yang Hindu, pernah
mempersatukan sebagian besar wilayah Nusantara.

“Tetapi tidak pernah ada jaman Islam dalam arti kerajaan yang mencakup
seluruh negeri,” tulis TB Simatupang. Begitulah, lanjutnya, dalam arti
tertentu, yang menggantikan Majapahit adalah pemerintahan kolonial
Belanda dan yang menggantikan yang terakhir tersebut adalah
pemerintahan Republik Indonesia. (Lihat, T.B. Simatupang, Iman Kristen
dan Pancasila, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997). hal. 11).

Pendeta Dr. Eka Darmaputera, balam bukunya, mengakui, dibandingkan
dengan kebudayaan asli dan Hindu, Islam jauh lebih berhasil menanamkan
pengaruhnya pada seluruh lapisan masyarakat. Ia berhasil mencapai
rakyat biasa dan menjadi agama dari mayoritas penduduk Indonesia.
“Namun demikian, ia tidak menciptakan suatu peradaban baru.
Sebaliknya, dalam arti tertentu, ia harus menyesuaikan diri dengan
peradaban yang telah ada,” tulis Eka Darmaputera. (Lihat, Eka
Darmaputera, Pancasila: Identitas dan Modernitas, (Jakarta: Badan
Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1997), hal. 34).

Doktrin tentang “penyatuan Nusantara” oleh Kerajaan Budha dan Hindu
seperti itulah yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah, bahkan
kadangkala juga di berbagai pondok pesantren, melalui pengajaran
Sejarah. Kita pernah mengungkap contoh, sebuah buku Sejarah untuk SMA
Kelas X, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), yang menulis, bahwa saat
pelantikannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit, Gajah Mada
mengucapkan sumpahnya yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa (Tan
Amukti Palapa) yang menyatakan bahwa Gajah Mada tidak akan hidup mewah
sebelum Nusantara berhasil disatukan di bawah Panji Kerajaan
Majapahit.

Ditulis: “Bahkan Kerajaan Majapahit dapat disebut sebagai kerajaan
nasional setelah Kerajaan Sriwijaya. Selama hidupnya, Patih Gajah Mada
menjalankan politik persatuan Nusantara. Cita-citanya dijalankan
dengan begitu tegas, sehingga menimbulkan Peristiwa Sunda yang terjadi
tahun 1351 M.” (hal. 48).

Jadi, disimpulkan, bahwa Indonesia pernah jaya dan hebat di zaman
Hindu. Kemudian, dikatakan, datanglah Islam, yakni Kerajaan Demak di
bawah kepemimpinan Raden Patah, untuk menghancurkan kejayaan Indonesia
itu. Jadi, Islam datang untuk menghancurkan kejayaan Indonesia.
Logikanya, kalau mau mengalami kejayaan, Islam harus disingkirkan dari
simbol-simbol dan lambang kenegaraan. Kembalilah ke Majapahit!
Kembalilah ke Hindu, jika ingin meraih kejayaan! Islam ditempatkan
sebagai “musuh persatuan”.

Raden Patah digambarkan sebagai penghancur prestasi Gajah Mada yang
berhasil menyatukan Nusantara! Itulah yang ditulis oleh Buya Hamka
dalam Tafsir al-Azhar, bahwa bangsa Indonesia selama ini dididik untuk
menjauhkan nasionalisme dengan Islam dan hendaklah bangsa ini lebih
mkencintai Gajah Mada ketimbang Raden Patah. “Diajarkan secara halus
apa yang dinamai Nasionalisme, dan hendaklah Nasionalisme diputuskan
dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai
Gajah Mada daripada Raden Patah.” (Lihat, Hamka, Tafsir al-Azhar –
Juzu’ VI, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hal. 300.)

Cobalah tanyakan kepada siswa atau anak-anak kita, apakah mereka lebih
kenal dan kagum pada Gajah Mada atau Raden Patah? Sekitar 50 tahun
lalu, Buya Hamka sudah menulis dalam Tafsir al-Azhar-nya tentang
fenomena pendidikan sejarah di Indonesia tersebut! Bagaimana agar
anak-anak kita lebih mengenal dan mencintai Gajah Mada ketimbang Raden
Patah, Sultan Agung, dan sebagainya!

Pada 29 Oktober 2011 lalu, kepada sekitar 1.000 mahasiswa peserta
Sarasehan Nasional Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta, saya tanyakan, mengapa kampus besar ini diberi nama
“Universitas Gajah Mada” dan bukan “Universitas Sultan Agung”.
Padahal, Raja Mataram Yogya tersebut memiliki prestasi besar dalam
mengusir Penjajah Portugis dari Batavia! Kita bukan ingin mengecilkan
Gajah Mada. Tetapi, sebagai Muslim, kita diajarkan untuk bersikap adil
dan beradab, mampu memandang dan menempatkan segala sesuatu sesuai
dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah SWT.

Karena opini tentang kehebatan Majapahit tersebut sudah begitu
dominan, bisa dimaklumi, bahwa sebagian kaum Hindu di Indonesia
berpikir, bahwa bangsa ini harus kembali menjadi Hindu, bila ingin
menjadi bangsa besar. Majalah Media Hindu (edisi Oktober 2011),
menurunkan laporan utama berjudul: “KEMBALI KE HINDU, BILA INDONESIA
INGIN BERJAYA KEMBALI SEPERTI MAJAPAHIT”. Menurut majalah ini, agama
Islam dianggap sebagai agama yang menggusur nilai-nilai budaya bangsa,
sehingga menghambat kemajuan Indonesia. “Namun atas dasar pendapat
tersebut di atas, mustahil suatu bangsa menjadi maju apabila meyoritas
rakyatnya masih menganut agama yang faktanya menggusur budaya dan
nilai-nilai luhur bangsa.” Lalu, disimpulkan oleh Media Hindu:
“Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia
apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu
satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri
bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi negara maju.”

Prof. Hamka pernah menulis sebuah artikel berjudul “Islam dan
Majapahit”, yang dimuat dalam buku Dari Perbendaharaan Lama (Jakarta:
Pustaka Panjimas, 1982). Hamka menulis: “Marilah kita jadikan saja
segala kejadian itu, menjadi kekayaan sejarah kita, dan jangan dicoba
memutar balik keadaan, agar kokohkan kesatuan bangsa Indonesia, di
bawah lambaian Merah Putih! Kalau tuan membusungkan dada menyebut
Gajah Mada, maka orang di Sriwijaya akan berkata bahwa yang mendirikan
Candi Borobudur itu ialah seorang Raja Budha dari Sumatra yang pernah
menduduki pulau Jawa… Kalau tuan membanggakan Majapahit, maka orang
Melayu akan membuka Sitambo lamanya pula, menyatakan bahwa Hang Tuah
pernah mengamuk dalam kraton sang Prabu Majapahit dan tidak ada
kstaria Jawa yang berani menangkapnya. Memang, di zaman jahiliyah kita
bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya
adalah sebagai penanam pertama jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda
kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”

Begitulah imbauan Buya Hamka. Penyesalan dan dendam tentang
pengislaman Nusantara seyogyanya tidak perlu dipelihara. Apalagi,
kemudian mengikuti kemauan dan skenario penjajah untuk mengerdilkan
peran Islam dan memposisikan Islam sebagai agama yang “anti-budaya
bangsa”, sebab budaya bangsa sudah dipersepsikan identik dengan
ke-Hindu-an atau ke-Budha-an. Hukum adat dan warisan kolonial dianggap
sebagai pemersatu, sebaliknya syariat Islam diposisikan sebagai
pemecah belah bangsa. Kini, sebagian kalangan, masih saja berpikir,
bahwa Islam bukanlah jatidiri bangsa Indonesia. Islam tidak bersifat
universal. Islam hanya untuk orang Islam. Yang bersifat universal
adalah nilai-nilai sekular di luar agama.

Upaya untuk menjauhkan Islam dari kaum Muslim akan berujung kepada
pengerdilan bangsa Indonesia sendiri. Itulah teori kaum orientalis,
sebagaimana pernah ditulis oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas:
“Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap
ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya
di atas jasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu, yang andaikan
dikorek sedikit akan terkupas menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya,
dan animismenya. (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah
dan Kebudayaan Melayu, (Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), hal. 41.)

Jika nilai-nilai Islam disingkirkan, dan “nilai-nilai di luar Islam”
ditempatkan sebagai jati diri dan simbol-simbol kebangsaan Indonesia,
maka Muslim Indonesia didorong untuk tidak memiliki perasaan memiliki
terhadap negeri ini. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia adalah
Muslim. Itulah yang – misalnya – selama ini terjadi dalam kasus
Pancasila. Banyak kaum Muslim tidak merasa memiliki Pancasila karena
Pancasila diajarkan di sekolah-sekolah dalam perspektif sekular untuk
menggantikan Islam.

Tuhan Yang Maha Esa dalam Pancasila (dan Pembukaan UUD 1945)
jelas-jelas bernama Allah SWT, dikaburkan makna dan nama-Nya, menjadi
“Tuhan apa pun”. Padahal, Allah SWT adalah Tuhan kaum Muslim.
Satu-satu-Nya kitab suci di Indonesia yang sejak awal hingga kini
memuat nama Tuhan bernama Allah, hanya al-Quran. Kaum Kristen di
Indonesia kemudian meminjam kata Allah itu untuk menyebut Tuhan mereka
dengan Allah. Tetapi, Allah yang disebut kaum Kristen memiliki sifat
yang sangat berbeda dengan Allah-nya orang Islam. Sebab, Allah dalam
al-Quran tidak pernah mengangkat manusia menjadi Tuhan. Jadi, Tuhan
yang resmi disebut nama-Nya dalam Kosntitusi UUD 1945 adalah Allah
SWT.
Guru besar Ilmu hukum Universitas Indonesia, Prof. Hazairin (alm.),
dalam bukunya, Demokrasi Pancasila, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990,
cet.ke-6), menulis: “bahwa yang dimaksud dengan Tuhan Yang Maha Esa
itu ialah Allah, dengan konsekuensi (akibat mutlak) bahwa “Ketuhanan
Yang Maha Esa” berarti “Kekuasaan Allah” atau “Kedaulatan Allah”.
(hal. 31). “Negara RI, wajib menjalankan syariat Islam bagi orang
Islam, syariat Nasrani bagi orang Nasrani dan syariat Hindu Bali bagi
orang Bali, sekedar menjalankan syariat tersebut memerlukan
perantaraan kekuasaan Negara.” (hal. 34).

Penafsiran Pancasila seperti Prof. Hazairin tersebut sejalan dengan
uraian Prof. al-Attas dalam kajiannya tentang sejarah Islam di wilayah
Melayu, yang menempatkan Islam sebagai factor penting dalam perjalanan
sejarah bangsa ini. Kedatangan Islam-lah yang telah memberikan makna
yang sangat tinggi bagi Melayu di wilayah Nusantara ini. “Together
with the historical factor, the religious and language factors began
setting in motion the process towards a national consciousness. It is
the logical conclusion of this process that created the evolution of
the greater part of the Archipelago into the modern Indonesian nation
with Malay as its national language… The coming of Islam constituted
the inauguration of a new period in the history of the
Malay-Indonesian Archipelago” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam
and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hal. 178)

Sejarah menunjukkan, penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa Persatuan
sempat ditolak oleh kaum Kristen. J.D. Wolterbeek dalam bukunya, Babad
Zending di Pulau Jawa, mengatakan: “Bahasa Melayu yang erat
hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang
Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.” Senada
dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Melayu
tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di
sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa
harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia
akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel
A. Steenbrink, dalam bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia. Lihat
juga buku Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th
Serikat Jesus di Indonesia (2009).

Salah satu kesimpulan penting dari buku Historical Fact and Fiction
adalah, bahwasanya penyebaran Islam di Nusantara ini utamanya bukan
dilakukan oleh pedagang, tarekat sufi, atau kaum Syiah, secara
sambilan atau asal-asalan. Dengan bukti-bukti yang kuat dari karya
para penulis Muslim klasik, sumber-cumber China dan Eropa, al-Attas
sampai pada kesimpulan bahwa Islamisasi di Nusantara ini dilakukan
dengan cara yang sistematis, terencana, konsisten, dan dilakukan oleh
para misionaris Islam yang hebat. Islamisasi di wilayah seluas ini
bukanlah pekerjaan sambilan dan asal-asalan: “the spread of Islam by
these Arab missionaries in the Malay world was not a haphazard matter,
a disorganized sporadic affair … It was a gradual process, but it was
planned and organized and executed in accordance with timelines and
situation.” (hal. 32).

Buku Historical Fact and Fiction ini diakui oleh Prof. Wan Mohd Nor
Wan Daud sebagai salah satu karya besar dari al-Attas. Dengan karya
ini, menurut Prof Wan Mohd Nor, al-Attas pantas disebut sebagai salah
satu ahli falsafah sejarah di dunia Islam. Tokoh lain adalah Almarhum
Malek Bennabi dari Aljazair (m. 1973). “Buku terbaru SMN al-Attas,
Historical Fact and Fiction (HFF), meneguhkan kembali kepeloporan dan
kependekaran beliau dalam masalah sejarah, khususnya sejarah di alam
Melayu, yang dipeganginya selama lebih 40 tahun secara penuh
istiqamah,” tulis Prof. Wan Mohd Nor (Republika, 20 Oktober 2011).

Melalui buku terbarunya, Prof. Naquib al-Attas kembali menegaskan
bahwa jati diri bangsa Melayu-Indonesia sejatinya adalah Muslim.
Mereka adalah bangsa Muslim. Identitas dan jati diri Melayu-Islam itu
seharusnya dimanfaatkan oleh bangsa Melayu-Indonesia untuk membangun
negeri mereka secara sungguh-sungguh sehingga mampu tampil sebagai
salah satu peradaban yang kuat di muka bumi. Wallahu a’lam
bil-shawab.*/Jakarta, 8 zulhijjah 1432/4 November 2011

Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana
Universitas Ibn Khaldun Bogor

Bikin Pulau Sendiri, demi Anak dan Istri

oleh : Agnes Dhamayanti

inilah pulau Semakau buatan pak Pon dan keluarganya. Tampak rumah pak Pon dan tiga rumah anaknya (dari kiri ke kanan)

inilah pulau Semakau buatan pak Pon dan keluarganya. Tampak rumah pak Pon dan tiga rumah anaknya (dari kiri ke kanan)

Dua Minggu keluarga Apon bergotong-royong membuat Pulau Semakau, Kelurahan Kasu. Meski aman dari gusuran, tapi tiap malam tidurnya tak pernah nyenyak karena sering datang ombak besar.

Boat itu melaju kencang ke arah Pulau Kasu. Buih putih bergumul mengekor panjang di belakang kapal. Di perbatasan Batam-Singapura mata penumpangnya Suhana (29) tak mau berkedip memandangi pulau sekitarnya. Pulau-pulau kecil berwarna hijau diperindah dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit Singapura dari arah barat hingga timur.

Aktivis Muhammadiyah Malaysia ini selalu tak ingin melepaskan pemandangan indah  kala berkunjung ke Palau Semakau. Pulau yang berhadapan langsung dengan Singapura ini dihuni keluarga besar Apon. Merekalah yang membuat pulau Semakau setelah tergusur dari Pulau Nirup.

Suhana akhirnya tiba di pelantar rumah milik Apon (72), pria pemilik pulau itu. Pelukan sukacita mewarnai pertemuan Suhana dan Hasnah (69) istri Pak Apon. ”Lame tak jumpe. Rindu rasanye?,”kata Suhana, di Minggu sore itu (23/10). Anak-anak Hasnah juga ikut berangkulan, mulai dari anak keduanya hingga anak paling bungsu, Zainan (46), Majenah (40), Marinah (38) juga Suzana (34).

kak Suhana ni cari kutu, nak cabut uban mak Hasnah kah?, kalau nak cabut uban pun rambut dah putih semua hehehehe

kak Suhana ni cari kutu, nak cabut uban mak Hasnah kah?, kalau nak cabut uban pun rambut dah putih semua hehehehe

Dari rumah panggungnya itu, Hasnah yang mengenakan baju melayu dan rambutnya sudah memutih semua itupun mengajak kami ke tengah pulau. ”Dulu di sini hanya ada pohon asam saja. Kami timbun pakai pasir laut supaya jadi daratan,”kata wanita yang memiliki 5 anak perempuan ini.

Ingatan Hasnah pun kembali ketika 20 tahun lalu. Kala seorang pengusaha dari Batam datang ke Pulau Nirup. Ia yang sudah tinggal bertahun-tahun di pulau itu harus pergi bersama 14 kepala keluarga lainnya. ”Pulau itu di beli orang Brunei, untuk dibuat resort,”kata Hasnah lagi.

”Saat itu juga, kami berpencar,” Hasnah menambahkan. Ada yang pergi ke pulau Sarang, Pemping, Kasu, Mongkol, Mecan juga ada yang memilih Belakang Padang. ”Mamak tak mau kayak mereka. Kata mamak,kalau kita tinggal di pulau lain, pasti digusur lagi. Lebih baik kita buat tempat tinggal baru saja,” timpal Suzana (34), anak bungsu Hasnah.

Dengan uang ganti rugi Rp1juta dari pengusaha itu, Apon bersama istri juga lima anak gadisnya serta satu orang menantu mulai menimbun sebuah daratan kecil yang letaknya tak jauh dari pulau Nirup. ”Saya angkat pasir juga bawa bibit pohon kelapa dari pulau Nirup,” kata Suzana yang saat itu masih berumur 14 tahun.

Selama dua minggu ditimbun, jadilah pulau baru yang luasnya 2 hektar yang kemudian dinamai Pulau Semakau. ”Saya tak tau ingin saja kasih nama itu,”kata Hasnah. Pemberian nama itu bisa jadi karena tepat di depan pulau itu, terdapat juga pulau Semakau milik Singapura. Hanya saja bedanya pulau Semakau di Singapura ditimbun dengan bekas debu bakaran sampah puluhan ribu ton, agar tidak tenggelam. Sedangkan pulau Semakau yang di huni pak Apon dan anak beranak ini hanya di pagari batu miring dan di timbun dengan pasir yang ada di sekitar pulau itu.

pak Pon sudah tak dapat melihat sejak 7 tahun yang lalu, operasi katarak pun dah tak mempan lagi

pak Pon sudah tak dapat melihat sejak 7 tahun yang lalu, operasi katarak pun dah tak mempan lagi

”Batu miring itupun baru ada sekitar lima tahun ini. Itupun baru mengelilingi setengah dari pulau. Dibantu lurah Kasu. Dia kasih Rp5juta dulu. Nanti kalau sudah habis dibantu lagi. Tapi sampai satu tahun ini belum juga ada bantuan lagi,” kata Somad, menantu dari anak kedua Hasnah yang bernama Zairinah.

”Dulu sering cemas kena ombak besar, kalau sekarang tak terlalu lagi,” kata Majenah, anak ketiga Hasnah. Rumah mamak, kata wanita yang memiliki satu putra ini, sudah sering hanyut. Yang paling terakhir, kejadian tahun tahun 2000, bapak matanya sudah tak bisa lihat lagi karena katarak, tiba-tiba jam 12 malam, ombak besar masuk ke dalam rumah, dinding hanyut, barang-barang juga ikut terbawa air laut, yang tinggal hanya lantai saja. Mamak cepat-cepat bawa bapak ke luar rumah. Dulu rumah mamak besar, sekarang ini tinggal setengahnya saja. Karena terlalu sering rusak kena ombak.

Somad juga mengaku rumahnya pernah terkena ombak sebelum ada batu miring itu. Tiga dinding rumahnya hancur. Untung saja empat anaknya selamat. ”Waktu itu siang hari, kami semua terjaga. tidak ada yang sedang tidur,”kata pria dua anaknya hanya mampu disekolahkan hingga SD dan seorang lagi tamat SMP.

Pulau Semakau yang masuk di kelurahan Kasu kecamatan Belakang Padang Kota Batam ini memang hanya didiami keluarga pak Apon. Empat rumah panggung terbuat dari papan yang mengelilingi pulau itu adalah rumah anak-anak pak Apon. Sedangkan pak Apon juga memiliki rumah sendiri. Hanya satu anak pak Apon yang tidak tinggal di Semakau melainkan di pulau Mongkol.

Dari pulau ini terlihat jelas Pulau Sekeng atau Pulau Semakau Singapura. ”Indah sekali pemandangan dari pulau Semakau pak Apon ini,”kata Imbalo, pemilik Yayasan Hangtuah di Batam yang menjadi pendamping rombongan. Apalagi dua pulau ini bernama sama tetapi berlainan negara dan hanya di batasi selat. Bedanya  Semakau di Singapura menjadi salah satu tujuan wisata yang menjanjikan. Tak demikian dengan Semakau pak Apon.

Di pulau milik pak Apon ini, sudah berdiri sebuah mushola yang diberi nama At Taqwa. Seluruh biaya pendirian mushola berasal dari Muhammadiyah Internasional bekerja sama dengan yayasan AMCF (Asia Muslim Charity Foundation). ”Kami bantu mencarikan tempatnya. Biasanya pulau-pulau terpencil yang didiami oleh warga beragama Islam. Selain di pulau Semakau ada juga di puluhan pulau-pulau lain yang tersebar di Batam. Kira-kira sudah 20 mushola yang terbangun,”kata Imbalo yang rajin berkunjung ke daerah-daerah tersebut.

Bangunan mushola itu sudah dibuat permanen, luasnya 30m2 dan berdiri di atas tanah yang agak tinggi, berbeda dengan lima rumah pak Apon yang dibuat dari papan dan masih berada di atas laut. Namun rumah-rumah yang dibuat pak Apon, pria asal Jawa ini, lebih luas. Rumah-rumah yang ada di pulau Semakau itu memang tak memungkinkan dibuat diatas tanah. Karena luas tanah timbunan itu tak mencukupi. ***

Jauh untuk Sekolah

Melati (16), cucu pak Apon dari Marinah, anak ketiganya ini hanya bisa di rumah membantu mamaknya mengerjakan pekerjaan rumah. Sejak tamat SD tiga tahun lalu, Melati tak melanjutkan sekolah lagi. ”Saya tak sanggup biayai sekolahnya. Karena harus ke pulau Kasu untuk melanjutkan ke SMP. Biaya transportnya Rp40/hari. Saya tak sanggup. Makanya rata-rata cucu pak Apon hanya tamat SD. Hanya satu anak saya yang nomor dua, Siti Zurina (18) yang tamat SMP,”kata Somad yang bisa berpenghasilan Rp400 ribu/hari dari mencari ikan.

”Saya kasihan saja dengan mamak juga bapak. Kalau waktu SD, kami bisa tinggal di rumah Mak Zainan (47), dia kakaknya mamak yang tinggal di Mongkol. Memang kami tinggal di sana, hari Minggu saja baru balek ke Pulau Semakau. Kadang-kadang mamak yang tengok kami,”kata Melati yang ditemani Siti Zurina, kakaknya.

Kalau ke pulau Kasu memang tak lama, kata Melati, hanya 20 menit saja. Bisa bawa boat sendiri. Yang mahal hanya bahan bakarnya.

Beberapa cucu laki-laki pak Apon kini menjadi nelayan membantu mencari ikan orangtuanya. Hanya satu cucu laki-laki pak Apon yang bekerja di Batam. Dia anak satu-satunya Majenah. Anak Majenah sebenarnya dua orang, namun yang pertama meninggal. ”Waktu itu saya harus dibawa ke Batam. Karena bidan yang biasa membantu kelahiran tak sanggup. Karena terlalu lama dijalan, bayi saya tak bisa diselamatkan lagi. Maklum saja, perjalanan dari sini ke Batam bisa satu jam pake boat punya sendiri,”kenang Majenah. (agn)

Banjir Bangkok : Rusaknya Ekosistem


View Larger Map
bangkok, berbulan bulan terendam banjir

bangkok, berbulan bulan terendam banjir

Sudah hampir empat bulan kota Bangkok di landa banjir, sejak Juli 2011 hingga kini telah ratusan ribu orang eksodus dari kota yang menjadi pusat pemerintahan negara Gajah Putih itu. Perdana Menteri (PM) Thailand Yingluck Shinawatra memperkirakan banjir di Bangkok akan surut pada awal November mendatang.

Ratusan orang pula yang meninggal dunia, “Sepertinya kita sedang berjuang melawan kekuatan alam, air banjir yang masif yang menyebabkan kerusakan pada beberapa tanggul kita,” kata Yingluck seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (27/10/2011).

“Sebenarnya, kita perlu membiarkannya mengalir secara natural ke laut, dan yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengatur itu sehingga bisa mengalir perlahan, jika tidak semua orang akan menderita,” tutur adik mantan PM Thaksin Shinawatra itu.

Menyempitnya Sungai di Utara ?

sungai ping dilihat dari vientiane (laos) mengering saat pembuatan dam raksasa di cina, dataran pasir dasar sungai menjorok sampai ke tengah hanya beberapa meter saja yang dapat dilalui kenderaan air, terlihat daratan chiang rai thailand

sungai ping dilihat dari vientiane (laos) mengering saat pembuatan dam raksasa di cina, dataran pasir dasar sungai menjorok sampai ke tengah hanya beberapa meter saja yang dapat dilalui kenderaan air, terlihat daratan chiang rai thailand

Air yang mengalir ini lah biang keroknya karena tidak mengalir secara natural. Apa sebab, Anak sungai Me Kong yang menjadi pembatas antara kedua negara  Laos dengan Thailand. Tepatnya  di provinsi  Chiang Rai (Thailand)  dengan Viantiane (ibukota Laos), ribuan hektar luasnya telah menjadi daratan (diurug) . Chiang Mai, Chiang Rai dilintasi oleh sungai Ping, Sungai Ping ini adalah hulu dari sungai Chao Praya Bangkok.

Sungai Ping ini kalau sedang musim kemarau aliran air nya sebagian besar berada dalam wilayah negara  Thailand, sementara bagian sungai yang masuk wilayah  Vientiane (Laos), terhampar dataran pasir yang luas.

Bagian wilayah Laos inilah yang sekarang diurug dan di tambak, dijadikan taman, resort-resot, restoran dan  pusat keramian lainnya oleh pemerintah Laos.

Kalau sebelum tahun 2008 kita berjalan di kota Vientiane, sebelah jalan yang dipinggir sungai Ping itu langsung bibir sungai dan tempat ferry di tambat untuk menyeberang ke Thailand.

Sungai Ping ini  sewaktu musim penghujan ataupun adanya banjir bandang kiriman dari Cina, masih dapat menampung puluhan juta kubik air, dan tentunya secara natural mengalir ke sungai Chao Praya di Bangkok sana.

Three Gorges Dam, di provinsi Hubei Cina

dam raksasa di cina kampung dan kota ini sudah terbenam

dam raksasa di cina kampung dan kota ini sudah terbenam

Bendungan raksasa ini pun menjadi biang kerok rusaknya ekosistem. Bendungan ini telah   menjadi topik yang kontroversial baik di Cina dan luar negeri, bendungan yang membanjiri situs arkeologi dan budaya dan pengungsi jutaan orang, dan menyebabkan perubahan ekologi yang signifikan.

Sungai Yangtze di Cina adalah sungai ketiga terpanjang di Dunia. Pada tahun 1997, negara itu mulai bekerja menjadikan bendungan terbesar di dunia, dan telah  selesai pada tahun 2009 yang lalu.

Bendungan ini  dibangun di tiga  bagian Ngarai yang ada  di Sungai Yangtze. Luas sekali bendungan ini bahkan bisa terlihat dari bulan, membutuhkan 12 tahun lama pekerjaannya dengan puluhan ribu pekerja, biaya $ 29.000.000.000, dan menjadi sebuah danau yang panjang 370 mil, merendam ribuan desa, ratusan kota, dan menggusur lebih dari satu juta orang .

 Tiga Ngarai reservoir besar Dam benar-benar akan terlihat dari bulan!

Tiga Ngarai reservoir besar Dam benar-benar akan terlihat dari bulan!

Pada saat dam itu sedang diisi air hingga ketinggain 135 sampai 185 meter dari semula, Thailand pun menerima imbasnya, banyak sekali induk ikan sejenis lele yang mati di sungai sungai yang ada di Thailand. Sungai menjadi kering termasuklah sungai Ping, sehingga di tumbuhi semak belukar , itu mungkin yang membuat investor “tertarik” memanfaatkan sungai yang sudah menjadi daratan agaknya.

sungai yangzte

sungai yangzte

Apa lacur sewaktu banjir bandang datang, sungai Ping sudah menyempit, air langsung mengalir ke sungai Chao Praya, air tak dapat langsung mengalir ke teluk Bangkok, ditimpali bangunan beton yang terus tumbuh tak dapat menyerap curah hujan, lengkaplah penderitaan.

Pelajaran buat kita………..

Yayasan Amal Malaysia : Dari Surau ke Surau

Rasanya tak ingin beranjak dari kampung Kalok Ujung itu, kampung yang damai tenang jauh dari kebisingan, masyarakatnya akur, saling tolong menolong tak membedakan suku dan agama, malah pengurus dan yang membangun mushalanya saja orang Budha yaitu pak Amin yang fasih dan lancar mengucapkan Insyaallah , alhamdulillah.  Namun hari telah beranjak petang, surau kecil yang belum lagi berplaster  dinding luarnya itu harus kami tinggalkan. Karena banyak lagi tempat dan surau yang akan kami kunjungi.

Diantar oleh pompong kerabat pak Amin,  dari kampung Kalok Ujung,   hari telah  magrib  setibanya  di kampung Rempang Cate.  Jadi kami putuskan untuk shalat jamak Takhir di Surau Desa Tiang Wang Kang saja. Disana  ada ustadz Subur yang menjadi Dai dari AMCF yang akan kami ziarahi (kunjungi).Tak lama di Tiang Wangkang selesai shalat jamak takhir dan menyerah kan buku-buku iqra dan beberapa helai mukena (telekung). Kami pun bergegas berangkat.

Dari Tiang Wangkang menuju Telaga Punggur. Memang  dari semula rencana  rombongan kami sebanyak 14 orang  hendak bermalam di pulau Selat Desa, pulau kecil tempat kediaman mak Dayang, disitu ada Mushala kecil Taman Dayang namanya.

di gelap gulita itu harus berhati hati betul menjaga keseimbangan .......hem kalau tidak akibat basah kuyublah kecebur laut

di gelap gulita itu harus berhati hati betul menjaga keseimbangan .......hem kalau tidak akibat basah kuyublah kecebur laut

Namun malangnya tak seorang pun yang berani mengantarkan kami ke pulau yang hanya dihuni belasan kepala keluarga dari suku laut itu . ” Tak berani  kami dilarang untuk membawa penumpang malam hari” ujar Bulek Pancung penambang yang selalu membawa kami dengan boat pancung nya bila hendak ke pulau-pulau sekitaran desa Ngenang itu.

inilah mak Dayang dan suaminya pak Tamam......senang hati dapat telekung baru.....

inilah mak Dayang dan suaminya pak Tamam......senang hati dapat telekung baru.....

Nadi,  putra mak Dayang bersedia membawa kami,  namun pompong miliknya hanya dapat memuat tujuh orang saja.  Cuaca cukup  gelap, saat itu telah  pukul sembilan malam, terlihat kilat sesekali di langit, hujan mulai rintik.  Karena kami semua berjumlah tujuhbelas orang, termasuk Nadi dan dua orang yang menemaninya, jadilah pompong kecil itu duakali bolak balik mengantar kami.

Syukurlah ombak tidak terlalu besar , tak ada pula ferry yang melintas, sehingga tidak menimbulkan gelombang besar. Mengapa  tak ada pancung atau speadboat yang berani dan dilarang membawa penumpang malam hari karena lima hari sebelum keberangkatan kami  ada boat pemancing yang tenggelam diperaian Ngenang itu, dua orang dari empat penumpangnya tenggelam hingga kehari kami menyeberang itu belum  ditemukan lagi.

Menjelang tengah malam rombongan kedua baru tiba di pulau Selat Desa, Alhamdulillah bisa bernafas lega, kami selamat semua tiba di kampung mak Dayang yang cukup terkenal bagi rekan rekan dari Malaysia itu,  nasi bungkus yang kami bawa dari Batam, nyaris tak bersisa.  Tidur pun terasa nyenyak di dalam surau ukuran 5 x 5 itu, berbantalkan lengan atau apa saja yang bisa membuat ganjal (alas)  kepala.

surau taqwa di selat desa..........

surau taqwa di selat desa..........

“Saya tak bisa tidur pak ” ujar ustadz Masri Aceh Dai AMCF yang bertugas di Selat Desa itu, sambil tersenyum dia mengatakaan “ngorok semua”, , iya, hampir semua rombongan dari Malaysia yang datang badannya besar dan gemuk pula.

Menjelang pukul 10 pagi, selepas bersilaturahim  mengunjungi beberapa rumah penduduk, perjalanan kami lanjutkan, yaitu ke pulau Air Mas dan pulau Kubung……(bersambung

Tak Bai : Peristiwa Berdarah yang Dianggap Biasa Saja

Ratusan mereka Sahid  tertumpuk tumpuk di Tak Bai

Ratusan mereka Sahid tertumpuk tumpuk di Tak Bai

Hari ini (25/10) genap tujuh tahun tragedi Tak Bai (baca Taba), penyiksaan yang terjadi bertepatan di bulan ramadhan itu seakan terjadi oleh kesalahan umat muslim Patani sendiri. Ratusan orang mati terbunuh itu bukan karena penyiksaan dan ulah para tentara Thailand di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Thaksin  saat itu, tidak lain karena salah umat islam Patani sendiri karena mereka berpuasa. Jadi lemas. Ironis alasan mereka.

Tapi begitu lah, dari tahun ke tahun sejak Enam Tahun Peristiwa Berdarah Tak Bai Thailand Selatan  hingga ke saat ini tak ada langsung perhatian dunia, terutama negara-negara Timur Tengah yang mayoritas Islam itu.

The outrage of Tak Bai

One of the most atrocious single violations of human rights occurred exactly six years ago. It is a poor comment on justice that successive governments have barely even acknowledged the horrific event. Almost 90 Thais died in what now is called the Tak Bai incident in Narathiwat province in the deep South. All but a few of the deaths occurred while the young male victims were already in the care of the army, which had been called in when an anti-government protest got out of hand. From the prime minister to the army unit directly involved, no responsible official ever has been made accountable.

There are still divisive opinions about what happened on Oct 25, 2004, and who if anyone should be held responsible. The facts of the case are not in real dispute. An unruly mob of local people began the incident with a protest at the Tak Bai district police station. The demonstrators, including women and children, were demanding the release of six youths arrested as suspected insurgents. Police would not or could not control the protest, and called for the army to intervene.

Witnesses and other reports occasionally diverge on what happened next. An official report on the Tak Bai incident, however, determined the facts – although with wide disputes on who was responsible. The confrontation between the army and the demonstrators quickly escalated into violence. Videotapes, widely seen but banned by every government since Thaksin Shinawatra’s regime, show battles between groups of youths and soldiers. Several demonstrators died from injuries in that fighting.

Finally in control of the mob, soldiers stripped the shirts off the young male participants and rather brutally put hundreds on the ground, hands tied behind their backs. After a time, all the detained youths were loaded onto army trucks for the long trip to the main army detention facility in the far South, Camp Ingkayuthaborihaan in Pattani province. When they finally arrived at the camp, hours later, about 78 of the men were dead – a few from wounds during the riot, but most from suffocation in what seems to be mishandling by the army.

The members of the Thaksin government and the army have strongly defended the actions against the demonstrators, and have rejected all claims of malfeasance or even errors during the violence or in transporting the prisoners. Under the military junta which ousted Thaksin, then-prime minister Surayud Chulanont travelled to Pattani and issued an apology. “What happened in the past was mostly the fault of the state,” he said. He announced several procedural changes in administration. Reparations were made to some families of the dead, and the government dropped the laughable charges of instigating the riot against 92 people who survived the violence.

Since then, including under the present government, no further steps on the Tak Bai incident have been taken or, apparently, even contemplated. No political party or faction has seriously called for accountability. The military has steadfastly rejected responsibility. No high-powered body such as the Department of Special Investigation has investigated Tak Bai further.

The incident continues to be cited as the worst example of human rights violations in the long and deadly conflict in the deep South. Insurgents still use it as a recruiting tool. Anti-Thailand propagandists outside the country cite it. But most importantly, the deaths of some 90 Thais six years ago is an important barrier to an understanding between the government and the people of the southernmost provinces. For that reason alone, the government should take the correct steps, address both the resentment and the lack of justice, and urgently heal the festering wound of the Tak Bai incident.

Did you know?

Trajedi Taba tahun ke-5 Jihad diteruskan

October 29, 2009

Alfatihah bagi semua para syhuhada

Genap lima tahun sudah trajedi pembunuhan beramai-ramai rakyat Patani di Taba 2004.Kejadian itu berlaku pada bulan ramadhan bersamaan 25 october 2004 di depan balai polis Taba.Beberapa tempat di Malaysia orang-orang Patani telah mengadakan majlis-majlis memperingati trajedi tersebut.Salah satunya majlis ceramah yang diadakan di Alor Star, Kedah

           Hampir seribu orang telah syahid menjadi korban keganasan tentera Thai.Ada yang terkubur di dalam sungai Taba tanpa di temui mayat dan ada yang di bunuh beramai-ramai kemudian  ditanam beramai dikubur-kubur cina di Patani ,Nara dan Jala.Dan yang paling menyayat  hati seramai tujuh puluh lapan orang mati kerana ditindih oleh rakan tahanan di atas lori yang mengangkut mereka ka kem tahanan,dan yang dalam keadaan nyawa-nyawa ikan di tembak di kepala.Ada yang pecah kepala,perut dan muka kerana tertindih.Pendek kata keadaan yang menyayat hati ini tidak akan terjadi seandai nya mereka menganggap orang-orang tahanan ini manusia.Bayangkan kesalahan orang-orang ini hanya kerana berdemonstrasi  untuk mendesak kerajaan memberitahu apakah nasib pengawal-pengawal kampung yang telah ditangkap beberapa hari  sebelumnya.

              Beberapa bulan sebelumnya tentera Thai juga telah mengadakan pembantaian beramai-ramai  anak-anak muda yang berlindung di dalam masjud kerisik tanpa senjata api. 34 orang gugur syahid apabila pihak tentera mengepung masjid dan mengebom serta menyerang dengan pesawat udara kadalam masjid.Ini berlaku betul-betul dihadapan beribu-ribu orang kampung.

             Ketika berlaku tunjuk perasaan dari bangsa mereka di kota Bangkok selama berbulan-bulan dan menyerang rumah Perdana Menteri dan Parlimen penunjuk perasaan hanya disuraikan dengan gas-gas pemedih mata.Ini lah dalil dan bukti bahawa mereka hanya menganggap orang-orang Patani sebagai binatang yang harus di hapuskan dari muka bumi.

            Tapi bagi mujahidin-mujahidin Patani ini suatu hikmah yang tersembunyi supaya umat islam Patani meneruskan kebangkitan membebaskan diri dari  terus di jajah oleh penyembah-penyembah asnam(berhala).Walaupun kita bersendirian tanpa di bantu oleh mana-mana negara islam,badan-badan antarabangsa islam ; Negara-negara melayu,badan-badan antarabangsa melayu, tapi kita tetap yakin dengan janji dan pertolongan allah swt. Setiap ujian yang allah turun kan kapada umat islam Patani adalah kerana hendak mengangkat darjat kita disisi yang mahakuasa. Percaya lah ini antara dalil kemurnian perjuangan umat islam Patani.

            Walaupun begitu dahsyat kita di perlakukan oleh penjajah Thai, tapi masih ramai pemimpin masyarakat umat islam Patani menyebelahi gologan musyrikin Thai. Mereka-mereka ini terdiri dari ulama-ulama  su’ yang mendapat ilmu munkin dari syaitan.Mereka ini dibekalkan dengan segala kemewahan oleh penjajah Thai.Mereka diminta menjadi benteng dan mata telinga kapada pihak penjajah.

          Walaupun kemarahan kita meluap terhadap mereka tapi kita masih berdoa mudah2an allah swt membuka pintu hati mereka sebelum terlambat.

         Lebih lima ribu menjadi mangsa keganasan sejak kebangkitan; Seribu(1000) orang anak-anak yatim dari para syuhada’; dan beratus lagi balu-balu(bekas isteri syuhada’). Walau bagaimana pun allah telah mencampak kan beberapa hamba allah untuk menjaga dan mengambil tahu masaalah anak-anak yatim tersebut. Banyak juga diterima bantuan dari timur untuk urusan anak-anak yatim.

         Di pihak musuh pula mereka, sejak melakukan keganasan terhadap umat islam hampir setiap hari dilanda kesempitan dan perbalahan sesama sendiri. Sudah banyak kali kerajaan mereka bertukar ganti.Lepas satu ,satu masaalah yang baru menimpa mereka.Raja mereka sedang tenat dan menunggu untuk mati bila-bila masa sahaja.Hampir samua pihak meramalkan jika berlaku kematian negara Thai akan dilanda kekacauan yang dahsyat kerana satu perebutan kuasa antara mereka akan berlaku. Munkin membawa kapada peperangan sesama mereka.Inilah berkat  Qunut  Nazilah yang tidak putus-putus kita baca dalam solat-solat  kita.

        Beberapa hari yang lalu Perdana Menteri Thai Abhisit telah menyatakan kesanggupan untuk berjumpa dengan pihak mujahidin.Sebelum itu Perdana Menteri Malaysia juga memberi cadangan supaya diberi Autonomi kapada wilayah Patani. Beliau juaga mengulangi kesanggupan untuk terus membantu rakyat Patani dalam bidang-bidang tertentu.Beliau juga mendesak pihak Thai supaya menyelesaikan secara tuntas,supaya ASEAN boleh terus melaksanakan segala perancangan mereka.

       Sepatutnya sudah sampai masanya negara Thai dan ASEAN melihat masaalah ini secara kulli (keseluruhan).Terima lah hakikat bahawa bangsa Patani juga berhak menentukan nasib  sendiri. Terima lah hakikat bahawa mereka baru seratus(100) tahun merampas Patani dari kedaulatan nya.

       Ingat ! Kami masih dalam perancangan untuk meningkat kepakaran daya tempur kami.Munkin medan perang akan di perluskan lagi di seluruh negeri Thai.Kami juga mampu menggoncang bumi Thailand terutama nya di kota Bangkok.

      Juga harus diingat bahawa segala impian ASEAN tidak akan menjadi kenyataan selagi Patani tidak diberi kemerdekaan !!!!!!.

      Pihak yang menyambut seruan perundingan janganlah terlalu ghairah.Kerana pihak Thai tidak pernah ikhlas dalam tindak tanduk mereka. Apalagi puak-puak tentera sentiasa menentang perdamaian di Patani,kerana akan menjejaskan periok nasi mereka!

      Walaupun ada kesanggupan dari OIC  dan beberapa negara jiran menjadi orang tengah kita harus pasti apakah matlamat mereka sebenar. Mereka TIDAK PERNAH MERESTUI KEMERDEKAAN PATANI SECARA TOTAL

       Bagi kita apa yang diperlukan sekarang penyatuan yang lebih kemas dan kesabaran yang tinggi. Allah swt akan tetap bersama kita seandai kita benar-benar bersabar dan hanya mengharapkan pertolongan dari nya.Penduduk Gaza dan Selatan Lubnan telah diserang oleh Zionist begitu dahsyat. Tetapi mereka tetap mau bersama Hamas dan Hizbollah. Mereka mahu mati bersama pemimpin mereka dalam mempertahankan aqidah Islam ini.

       Kita haruslah dari sekarang sentiasa berwaspada terhadap jarum yang akan dimainkan oleh musuh-musuh kita dan rakan-rakan mereka.Kalau kita tak hati dan ghairah dengan janji-janji manis mereka maka percayalah kita akan mengundang perpecahan yang parah sesama kita.Bersabar dan bersitiqamahlah.Kerana apa yang kita sama-sama perjuangkan selama ini sudah hampir menampak kan hasil.

ps,

      Kapada pelayar-pelayar Patanikini teruslah menyumbang kan pandangan dan cadangan.Selama ini kami benar-benar berasa bangga diatas kesetiaan dan kesungguhan saudara semua bersama kami mengeluar pandangan dan kata –kata galakan.Kesemua pandangan saudara di teliti oleh pejuang-pejuang di barisan hadapan.Jika pihak kami terlambat memperbaharui artikel-artikel tu bukan apa. Kami berasa puas hati dan bangga dengan sumbangan yang telah di beri oleh sebahagian pelayar-pelayar.Memang banyak komen-komen yang cukup bermutu tinggi.Teruskan bersama kami.Pertahan kan hak kita dan marilah sama-sama kita menghambakan diri pada allah swt dan nescaya kita telah dan akan mencipta satu sejarah dan trend baru dalam perjuangan membebaskan tanah air.

Yayasan Amal Malaysia : Berkunjung ke Batam

Amal Foundation Of Malaysia, Cawangan Kedah berkunjung ke Batam

Amal Foundation Of Malaysia, Cawangan Pulau Pinang berkunjung ke Batam

” Dari Yayasan Amal Malaysia, atau Amal Foundation of Malaysia disingkat jadi Amal Malaysia” ujar dokter Muhyidin mengenalkan diri saat kami bertemu di Rawai Phuket Thailand akhir September 2011 lalu.  Kami bertemu (di Phuket) , dalam rangka pertemuan tahunan orang-orang Suku Laut di Thailand disebut Chaulie.

Dokter muda yang energik ini pun menjelaskan bahwa :  “Amal Malaysia adalah satu pertubuhan kebajikan yang tidak berteraskan keuntungan. Berdaftar dibawah akta Pertubuhan Malaysia. Kerja-kerja amal yang paling utama adalah membantu masyarakat dalam segala apa bencana yang menimpa mereka.

Bersama  ustadz Abdul Wahab dari Muhammadiyah Internasional kami mengundang mereka datang ke Batam Indonesia.

Berkeinginan sekali kelihatan dokter ini datang ke Batam, dia pun bercerita kalau sudah ke Banda Aceh saat Tsunami melanda bumi serambi Mekkah itu, ke Padang saat gempa, ke Jogjakarta saat gunung merapi meletus juga sudah dikunjunginya, tentu dalam rangka kemanusian yang melanda daerah itu. “Kami baru pulang dari Somalia” ujar nya lagi. Banyak lagi negeri yang sudah di lawat oleh Amal Malaysia ini, seperti ke Palestina, Sudan.

Berkunjung ke Batam

Perairan Pulau Semakaau kecamatan Belakang Padang, termasuk salah satu pulau terluar di Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Singapura. Disini tinggal sekeluarga pak Pon yang matanya buta tak dapat disembuhkan lagi meskipun dengan operasi katarak

Menuju ke Pulau Semakau kecamatan Belakang Padang, termasuk salah satu pulau terluar di Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Singapura. Disini tinggal sekeluarga pak Pon yang matanya buta tak dapat disembuhkan lagi meskipun dengan operasi katarak

Sebelas orang rombongan mereka datang ke Batam sejak 21 hingga 24 Oktober 2011 , tiga orang dari Muhammadiyah Internasional  Malaysia dan delapan orang dari Amal Malaysia.

Wah……..tidak disangka kedatangan mereka begitu cepat.  Banyak tempat kami kunjungi selama empat hari itu. Dimulai  dari  Shalat Jumat (21/10) di Masjid Raya Batam Center.  Selepas  shalat  di Masjid kebanggan masyarakat Batam ini,  kami bertemu dengan pengurus Lembaga Amil Zakat (LAZ)  Sdr.  Syarifuddin dan Pengurus  Masjid Raya Batam H. Imam Bahcroni, Imam Bachroni adalah juga  pengurus Muhammadiyah Batam  Dari LAZ Masjid Raya,  Alhamdulillah kami dipinjami sebuah Ambulance.

Tengah hari jumat  itupun kami bertemu dengan Drs Nur Arifin, staff Dinas Sosial Batam, maklum kegiatan yang akan kami lakukan berkaitan dengan sosial , sembari makan tengah hari sedikit wejangan dari Nur Arifin tentang kondisi sosial di Batam khususnya masyarakat hinterland kami dapatkan.

Dalam kesempatan itu pun kami memberitahukan kepala Dinas Kesehatan Kota Batam,  Drg  Chandra Rizal, soal kegiatan yang akan kami lakukan,  begitu juga pada malam hari nya kami pun berbincang bincang dengan dr. Rio Tasti dari kesehatan Angkatan Laut Batam.

perkampungan suku laut dia Air Lingka

perkampungan suku laut dia Air Lingka

Keesokan hari nya (22/10) kami mengunjungi kampung Air Lingka kelurahan Galang Baru, di kampung yang dihuni oleh suku laut ini  ada sebuah Mushala Kecil di Air Lingka Galang.  Tak lama berada disitu berbincang dengan Aweng seorang mualaf yang juga pengurus mushala Taqwa  , pompong yang akan membawa kami ke pulau Teluk Nipah telah menunggu di pelantar. “Sebentar lagi agaknya  hujan pak” ujar pak Amat pulau Teluk Nipah sembari tersenyum nongol di depan pintu mushala, maksudnya agar kami cepat berangkat.

” Empat puluh tujuh menit ” ujar pak Fauzie memberitahukan kepadaku bahwa lama waktu perjalan dengan pompong 15 pk itu, dari kampung Air Lingka ke Kampung Teluk Nipah.

Sebelum nya kami sudah pesan kepada ustadz Handadari, Dai dari Asian Muslim Charity Foundation (AMCF) yang bertugas disana,  bahwa kami akan makan dan shalat di mushala Teluk Nipah. Selepas shalat jamak takdim (zuhur dan ashar)  asam pedas ikan belanak, dan tumis sotong telah terhidang. Wai bukan main nikmatnya masakan laut segar ini.

Dari kampung Teluk Nipah kami kembali ke kampung Air Lingka, perjalanan kami lanjutkan menuju  Mushala Kecil di Kampung  Kalok Ujung  Rempang

Tetapi kenderaan darat hanya sampai di kampung Rempang Cate, untuk ke kampung Kalok Ujung,  kami harus naik pompong lagi, pompong yang kami naiki cukup besar .  Pak Amin bersama kami, pak Amin ini adalah pengurus mushala tetapi beliau masih beragama Budha. Puluhan kelapa muda telah tersedia, bukan main segar nya  terasa di tenggorokan.

kelapa muda untuk tamu ........

kelapa muda untuk tamu ........

Dari kampung Kalok Ujung yang masuk kelurahan Subang Emas ini pun kami mendapat sekeranjang gong-gong sejenis siput laut, salah satu jenis seafood yang menjadi santapan pilihan penggemar masakan laut. Adalah Ali yang memberikannya kepada kami.  Ali, masih kerabat pak Amin,  tetapi Ali, pria sekitar 30 tahunan ini  sudah menjadi muallaf. Bukan main gembira nya dia melihat kedatangan kami apalagi ada tetamu dari Malaysia bersama.

Terlihat Mushala nya pun sudah bagus ada tempat wuduk, padahal sejak kampung ini berdiri entah sudah berapa generasi mereka berdiam disitu, jauh sebelum Indonesia merdeka lagi,   barulah kini berdiri mushala, diberanda mushalla itu lah kami menyantap kelapa muda. (bersambung Yayasan Amal Malaysia : Dari Surau ke Surau)……..

Toko Online Fiktif

nirwanaelektronik.blogspot.com

nirwanaelektronik.blogspot.com

Assalammu’alaikum wr.wb

Nama saya windu utari
Saya ingin menceritakan kejadian yg terjadi sama saya,   yaitu di mulai pada tanggal 19 september 2011 pak,   pada waktu itu saya mau memesan HP BLACBERRY dengan tipe 8520 curve gemini dengan harga Rp.1.000.000,yaitu dari alamat situs  www.nirwanaelektronik.co.cc/
Pemerintah Provinsi Batam

Surat Izin Tempat Usaha Palsu mana ada Pemerintah Provinsi Batam

alamat tokonya Kompl. Lucky Plaza Blok G C2 Lt I Batam kepulauan Riau 29432 alamat itu saya melihat semua profilnya, dan tertera juga nomer HP: 085380833335,  di  alamat itu saya lihat untuk surat izin tempat usahanya juga ada,  makanya sedikitpun saya tidak ada curiga kalau perusahaan mereka ada niat untuk menipu ataupun membohongi saya.
Saya tergiur karena harganya murah pak.  Sebelumnya memang saya sama sekali belum pernah memesan barang secara online.
Jadi pada tanggal 19 september 2011,  saya mendapatkan sms dari bapak yang punya nomer 085380833335,  dia sms saya kemudian bertanya : “bagaimana, apakah jadi untuk memesan BLACKBERRY dengan tipe yang sudah anda sebutkan itu?”,  lantas saya balas jadi,  terus sayapun sms kembali, jadi untuk pengiriman uangnya bagaimana? . Dan bapak itupun membalas : ke nomer rekening : 022101022726503 atas nama SRI NIRWANA,  kemudian uangnya hari itu juga saya transfer senilai Rp.1.000.000,-.
Dan pada hari itu juga bapak itu nelpon saya dan dia bilang kalo barangnya yang di kirim itu ada empat buah yang di dalamnya ada BB TORCH 2 buah,  BB ONIX 1 buah dan BB yang saya pesan,  dan katanya harga barang yang dia kirim semuanya itu dengan total 7 juta rupiah, kemudian dia berkata lagi kalo saya harus mentransferkan uang jaminan, untuk barang mereka,  disitu sudah saya katakan kalau  itu bukan kesalahan dari saya, tapi bapak itu minta-minta tolong sama saya, untuk mentransferkan uang jaminan tersebut,  terus saya tanya berapa yng harus saya transfer?.
Terus dia bilang pertama setengahnya,  ya saya bilang lagi saya enggak bisa transfer dengan jumlah yang bapak bilang jadi kesepakatan kami pada hari itu yang saya transfer Rp.1500.000,- dengan alasan katanya nanti saya akan konfirmasikan lagi dengan pimpinan saya katanya dan dia bilang juga nanti sisanya saya yang nanggung untuk uang jaminan itu, pada saat itu sama sekali saya tidak ada menaruh rasa curiga terhadap dia.
bukti rekening yang dikirim ke toko nirwana elektronik fiktif

bukti rekening yang dikirim ke toko nirwana elektronik fiktif

Keesokan harinya (tgl 20 september 2011) dia nelpon saya lagi,  katanya dia sudah konfirmasikan dengan pimpinannya, dan dia bilang kalau uang yang saya kirim itu enggak cukup untuk dijadikan uang jaminan, jadi dia bilang paling tidak harus 50% dari yang 7 juta itu, terus dia bilang barangnya sudah sampai di Medan,  tapi mereka harus menahannya terlebih dahulu dikerenakan uang jaminan saya belum mencukupi, disitu saya uda pusing dan saya cuma mau barang saya nyampe sama saya, jadi saya tanpa curiga dan enggak berfikir panjang lagi terus saya bilang jadi harus berapa lagi yang harus saya transfer, terus dia bilang paling tdk Rp.2.300.000,- terus saya bilang ya sudah lah saya akan tranfer uangnya senilai Rp.2.500.000,- tapi barangnya hari ini  suda bisa nyampe sama saya kan pak?
Terus dia bilang iya hari ini juga akan nyampe barangnya, sore itu juga uang itu saya transfer ke dia. Dan dengan perjanjian dia sebelumnya uang jaminan itu akan kembali lagi sama saya semuanya setelah barang yang dikirimnya itu saya terima kemudian saya paketkan dan saya kembalikan lagi ke dia kecuali barang yang saya pesan,  ya saya percaya aja sama dia jadinya.
Ehhhhh, besoknya (tgl 21 September 2011) dia nelpon lagi,  dia bilang uang itu belum cukup juga katanya setelah dia konfirmasi sama pimpinannya,  malah dia dia bilang uang jaminan itu harus semuanya saya tebus yang senilai 7 juta itu, ya saya enggak mau pertamanya, dengan segala bujuk rayu dia dan saya juga masih belum sadar kalau itu suda modus penipuan,  ya saya transfer lagi uangnya sebesar Rp.1.000.000,-dia bilang kalo bisa transfernya sebelum jam 1 siang karena barangnya nyampenya jam 1 siang,  saya percaya-percaya saja sama dia, terus saya sms sama dia dan saya bilang kalo uangnya sudah saya transfer,lantas bagaimana dengan barang dan uang saya,saya bilang gitu,  dia bilang smskan nomer rekening saya. Terus  sudah saya sms ke dia, kemudian saya tanya lagi.  Lantas bagaimana saya bisa mengetahui kalau uang uang jaminan saya sudah masuk ke rekening saya atau belum?.
Terus diabilang saya di suruh ke mesin ATM, katanya biar di transferkan dia secara online katanya, ya saya ngikut aja dan pergi ke ATM,  nah disitu saya nelpon dia lagi terus saya bilang kalau  saya udah di ATM, terus dia memberikan arahan kepada saya,  dengan kode yang sangat rumit, terus dia nyuruh mencet angka-angkanya dengan nada tinggi sehingga saya jadi panik, terus dia malah nyuru saya untuk mencet pemindahbukuan terlebih dahulu biar uangnya disatukan katanya, ehhhhh malah tabungan saya ludes jadinya,,,,,,,,habis lah uang yang ada di tabungan saya,  jadinya tinggal Rp100.000 perak pak,  kemudian saya marah2 sama dia,  ehhhhhhh dia malah mati’in telfon saya, dan saya nelpon dia gk diangkatnya sampai  sekarang, dari situ saya baru sadar kalau  saya udah di tipu sama dia.
Disini saya mau minta tolong kepada pihak Yayayasaan Lembaga Konsumen Muslim Batam ,  kalaupun uang saya gk balik tapa tolong di peringati orang yang sudah menipu saya itu, biar jangan bertambah korbannya pak…….
Karena dia orangnya selalu mengatasnamakan dan membawa2 nama ALLAH untuk membuat orang percaya sama dia……….
Hanya itu saja yang dapat saya tuliskan, saya juga uda bingung sekarang mau bagaimana lagi pak, lebih dan kurangnya saya minta ma’af dan saya juga minta tolong agar Bapak dapat memberikan bantuan terhadap saya untuk masalah ini
Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih karena Bapak sudah mau mendengarkan dan membaca keluhan saya
Wassalammu’alaikum wr.wb…….
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.