Terminal Cargo di Bandara Hang Nadim (Terjebak)

10006450_823480627666010_2008526118_nPINTU tempat mengambil karcis masuk ke terminal Bandara Hang Nadim Batam, dipindah, semula satu tempat, kini menjadi dua. Yang satu di letakan di jalan masuk tempat pengiriman dan pengambilan barang (cargo).

Rp. 2.500,- / orang sekali masuk, ke terminal pengiriman dan pengambian barang itu, yang dihitung orang nya,” ya… paling yang kami ambil dua orang saja, paling banyak, walaupun dalam mobil ada 4 atau 6 orang, gak sampai hati lebih dari rp. 5.000,-” ujar petugas jaga di gate masuk lapangan parkir termina cargo itu.

Padahal jelas di papan tanda, tertu lis per-orang Rp. 2.500,- kenapa?. Tak tau juga, sambil tersenyum petugas itu pun menjelaskan bahwa sejak tahun lalu, tak jauh dari gate mereka, PT Persero Batam ada juga kutipan uang parkir dari perusahaan lain yaitu “ADHIL PARKING” nama nya yang kini mengelola perparkiran pelataran lapangan terminal Bandara Hang Nadim Batam itu.

1972304_823481550999251_941700310_nJarak gate Adhil Parking dengan gate PT Persero Batam hanya sekitar 25 meter saja.
Kalau parkir Adhil Parking ini pulak enggak penting berapa isi kenderaan anda, pokoknya kenderaan roda empat sekali masuk rp.3.000,-

1966857_823481717665901_1678496540_nEntah karena petunjuk tanda masuk terminal cargo ini tak jelas, sudah kabur tulisannya, agak mungkin sejak ada Bandara Hang Nadim belum pernah di cat ulang, banyak kenderaan terjebak masuk setelah berbelok dan mengambil karcis di gate pertama milik Adhil Parking, terpaksa berpatah balik setelah sampai di gate kedua milik PT Persero itu. Ada apa? Rupanya mereka tak tahu kalau dari terminal 1011039_823481204332619_2126405196_ncargo tidak ada akses jalan ke terminal kedatangan maupun terminal keberangkatan.

Mau keluar? bayar dulu rp.3000,- di gate Adhil Parking, padahal hanya berputar sekitar 25 meter saja.
Berbelok ke kiri ada gate Adhil Parking lagi, masuk lagi bayar lagi. Kalau awalnya dari terminal Cargo dengan tiket yang diambil digate awal bisa masuk kembali dengan jalan lain berputar ke terminal kedatangan atau keberangkatan sekarang tidak lagi. Buatlah tanda lebih jelas.

Sungguh Adhil Parking ini tak adil. Merugikan konsumen (***)

Ustadz Fadlan, Mengangkat Harkat dan Martabat Muslim Nuu War

604068_819605374720202_349000249_nYang tepat sebutan itu Nuu Waar, ujar ustadz Fadlan kelahiran Fak Fak Papua ini, empat hari di Batam sejak kamis hingga Ahad minggu lepas, beberapa masjid dan majelis taklim di kunjungi beliau.

Suaranya mengelegar saat khotbah Jumat di Masjid Raya Batam Center, jamaah terkesimah, menahan nafas dan berlinang air mata, sosok perawakannya, besar, hitam, keriting mengingatkan kita kepada sahabat Rasululah SAW, Bilal bin Rabah ra.

Ratusan tahun sejak 1885 Kristen masuk ke bumi Papua, mereka dibiarkan tak bercelana, koteka adalah budaya alasannya. Minyak babi melumuri seluruh raga, untuk melindungi sejuknya udara, gigitan nyamuk mendera sepanjang usia mereka, padahal itu bukan solusinya.

“Sabun, Shampo, sikat gigi dan odolnya” itulah senjata dakwah ustadz Fadlan, tanpa iming iming, tanpa paksaan ikhlas dengan pendekatan. Dia pun mendapat gelar ustadz Sabun.

Kini telah ratusan ribu mereka saudara baru kita itu, memakai baju walaupun ada yang alakadarnya, dan terlihat masih sebahagian shalat tanpa busana.

Tak apalah. “Kumpulkanlah akan kami kirim ke Papua” ujar ustadz menghimbau jamaah. Baju bekas layak pakai, masih sangat dibutuhkan disana. “Sebagian dari mereka, sementara ini kami kenalkan pakaian dari pelepah pisang” ujar ustadz Fadlan mengatasi bahan menutup aurat ini.

Banyak kisah suka duka dialamai ustadz yang tiga kali masuk penjara tanpa proses, buahnya ratusan masjid sudah berdiri dipelosok tanah Nuu Waar. “Penduduk Muslim Nuu Waar, adalah ummat pertama yang shalat subuh di Nusantara ini” (imbalo)

HIMBAUAN.
Jamaah masjid yang dirahmati Allah. Mari kita sukseskan GERAKAN PEDULI MUSLIM NUU WAAR
- Sepasang Kambing Satu Masjid. Menggantikan babi, sebelum muslim mereka ternak.
Dapat menghubungi Takmir Masjid setempat -

 

Kriteria Aliran Sesat Dan Antisipasinya

Jamaah Ahmadiyah di Batam

Jamaah Ahmadiyah di Batam

Menyimak isi khotbah shalat Jumat (15/2) oleh ustz. Efendy Asmawi di Masjid Raya Batam Center, tentang kriteria Aliran sesat rasanya perlu simak dan dicermati, Buletin Jumat, menurunkan tulisan dimaksud yang kami rangkum dari beberapa tulisan.

Dalam rangka upaya menangkal dan menghentikan aliran sesat serta menyadarkan para pengikutnya agar kembali ke jalan yang benar, MUI Pusat mengeluarkan Pedoman Identifikasi Aliran Sesat pada tanggal 6 November 2007. Dalam pedoman ini ditetapkan sepuluh kriteria sesat, yaitu:
Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam,
Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar‘i,
Meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Qur’an,
Mengingkari autentisitas dan kebenaran isi Al-Qur’an,
Melakukan penafsiran Al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaedah-kaedah tafsir,
Mengingkari kedudukan Hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam,
Menghina, melecehkan dan merendahkan para nabi dan rasul,
Mengingkari Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul terakhir,
Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti haji tidak ke Baitullah, salat fardu tidak lima waktu,
Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar‘i, seperti mengakafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Di antara kriteria sesat yang menonjol sekarang adalah pengakuan menjadi nabi, menerima wahyu, dan kedatangan Malaikat Jibril. Lia Eden di Jakarta, Ahmad Mushaddeq di Bogor, Jawa Barat, dan seorang oknum kepala SD di Kabupaten Bungo, Jambi semuanya mengaku nabi.
Di zaman Nabi Muhammad saw seorang yang mengaku nabi dihukum bunuh. Musailamatul Kazzab dan al-Aswad al-‘Insi dihukum bunuh karena keyakinan sesat mereka, mengaku sebagai nabi. Bahkan, Abu Bakar memerangi orang murtad dan orang yang enggan membayar zakat.
Indikasi Awal Aliran Sesat

Sebagai indikasi awal yang selayaknya menimbulkan kecurigaan terhadap satu paham atau pengajian bisa melalui tanda-tanda berikut:
Pengajian dilaksanakan secara rahasia-rahasia, tertutup kepada selain jamaahnya. Sebagiannya melakukan pengajian tengah malam sampai subuh dan tempatnya pun sangat terisolir. Gurunya tidak dikenal sebagai ahli Agama, tidak pernah menekuni ilmu agama, dan tidak dikenal sebagai orang yang rajin beribadah, tetapi tiba-tiba menjadi pengajar Agama. Adanya bai‘at atau mitsaq untuk taat pada guru atau pimpinan pengajian. Bahkan, ada janji yang harus ditandatangani oleh anggota pengajian tersebut. Cara ibadah yang diajarkan aneh dan tidak lazim. Ada nya tebusan dosa dengan sejumlah uang yang diserahkan kepada guru atau pimpinan jamaah. Kadang-kadang, pengajian sesat ini mengharuskan adanya sedekah lebih dahulu sebelum berkonsukltasi dengannya.

Adanya penyerahan sejumlah uang, seperti Rp 300.000, dan orang yang menyerahkannya pasti masuk sorga. Adanya sumbangan yang tidak lazim sebagaimana layaknya sumbangan sebuah pengajian. Misalnya, 10% atau 5% dari penghasilan harus diserahkan kepada guru atau pimpinan pengajian. Pengajiannya tidak mempunyai rujukan yang jelas, hanya penafsiran-penafsiran gurunya saja.Pengajiannya tidak memakai Hadis Nabi Saw. Sumber ajaran hanya Alquran dengan penafsiran dan pemahaman guru yang ditetapkan oleh pengajian dan tidak boleh belajar kepada ustaz lain. Wallaua’lam.

Masjid Raya Batam

1394086_746436505370423_17293193_nMasjid ini tidak ada tiang ditengah ruangan, di desain oleh Ir Achmad Noe’man membuat kagum tamu – tamu dari luar negara. Masjid ini dapat menampung 3.500 orang didalam dan diluarnya sekitar 15.000 orang.

Masjid Raya Batam (MRB) mulai dibangun tahun 1999 dan mulai dipergunakan pada tahun 2001 yang lalu. Sejak awal dilaksanakan shalat Taraweh di bulan Ramadhan, masjid ini mengkhatamkan 30 juz Al-Quran, karena imam-imamnya banyak yang hafiz. “Macam di Makkah saja” kata jamaah.

Sebelum masjid ini ada, pegawai, karyawan OB maupun Pemko dan masyarakat di sekitaran Batam center, shalat di lantai tiga, Gedung Otorita Batam.

Ruang serba guna namanya, ya kalau hari Jumat jadi tempat shalat, hari-hari lain untuk acara lain.Terkadang dipakai acara Natalan, hiburan, pelantikan pejabat pun diadakan ditempat yang sama. Namanya juga ruang serba guna. Alhamdulillah MRB cepat terbangun.

Dihari Jumat satu tahun belakangan ini masjid kebanggaan masyarakat Batam ini, shalatnya pun seperti di Makkah dan Madinah, setelah Imam membaca Takbir, ada makmum yang mengulang membaca takbir dengan keras. Begitu juga bacaan bangkit dari rukuk dan salam.

Sedang Shalat Mic Putus

Pernah Buletin Jumat (BJ) shalat Jumat di Masjid kawasan industri Batamindo Muka Kuning, beberapa waktu yang lalu, di ruang utama tak banyak jamaah yang dapat di tampung, sehingga jamaah membludak sampai keluar. Saat itu shalat sudah dimulai, di sujud rakaat pertama, sewaktu hendak berdiri, lama, tidak terdengar suara imam mengucapkan takbir. BJ, yang kebetulan dalam shaf antara dinding dan ruang istirahat imam, sebelah selatan, sekitar 5 orang satu barisnya, tetap saja sujud, sementara jamaah lain sudah hampir rukuk.

Kiranya mic kecil yang tergantung di dekat leher sang Imam putus. Apa jadinya, Sampai selesai prosesi shalat satu rakaat lagi, terpaksalah mak mum, celingak celinguk memperhatikan kiri kanan dan kedepan.

Maling

Jamaah shalat Jumat di MRB belakangan ini kurang begitu ramai, ruang utama yang biasa penuh, terkadang 3/4 saja terisi, mungkin salah satu penyebabnya tak jauh dari MRB ada pelaksanaan shalat jumat, oleh masjid lain. “Disana Lebih cepat shalatnya” kata seorang karyawan yang bekerja di Graha Pena.

Belakangan ini pun MRB kurang aman, maling bebas berkeliaran, Bahkan jamaah sedang shalat tasnya bisa hilang. Ironisnya lagi Brankas Lembaga Amil Zakat (LAZ) pun di gondol maling tanpa bekas. Sepertinya perlu dipasangi cctv. Untuk membantu tugas security.

Masyarakat tidak tahu siapa pengelola MRB ini, apakah masih Otorita Batam atau Pemko Batam. Minimnya pengawasan, nyaris tanpa pintu, seperti lapangan parkir Utara, dulu dirancang dapat menampung puluhan kenderaan roda empat, kini lapangan itu dijadikan badan jalan. Pengganti lapangan parkir itu tidak ada. sepertinya pintu Utara itu, kini, kurang berfungsi.

Mungkin masjid besar yg ramai jamaah bisa mencontoh MRB dalam hal pemakaian mic, bila mic putus jamaah tak kalang kabut. (imbalo)

Kampung Sadap Perkampungan Suku Asli Batam Yang Perlu Perhatian

1654059_10202139474780821_884013112_nKAMPUNG Sadap, tempat pak Kosot, warga Asli Batam ini terletak di pulau Rempang, kelurahan Rempang Cate.

Melewati jembatan empat dari Pulau Batam, setelah pintu gerbang masuk ke kelurahan Rempang Cate, terus saja arah ke Pulau Galang sebelah kiri, ada tulisan Jalan Bumi Melayu, masuk sekitar 4 kilometer, disitulah pak Kosot bermastautin..

Sabtu pekan lalu rombongan dari Batam Pos dikabarkan mengunjungi perkampungan yang nyaris punah itu. Alhamdulillah, terimakasih pembaca Batam Pos, atas perhatiaannya.

Kampung Orang Asli ini sama nasibnya dengan beberapa kampung tua yang sudah sirna dari Bumi Batam tinggal nama saja seperti Mentarau, Tanjung Pinggir.

Di Kampung Sadap, nyaris tidak ada lagi pohon sebesar pelukan manusia, sejak mulai masuk simpang Jalan Bumi Melayu tadi, sampai ke ujung kampung, yang terlihat adalah semak belukar, dan padang ilalang, bekas panen buah semangga, dan palawija.

Puluhan ribu anak kayu sebesar pergelangan tangan pun punah, sebagian besar dibuat bahan kandang peternakan ayam, ratusan mungkin sudah ribuan kandang ini di Barelang.

Disekitar gubuk pak Kosot hanya terlihat beberapa pohon Kelapa, Nangka, rambutan mangga, yang enggan berbuah, Ladang ubi pak Kosot seperti hidup segan mati tak mau, lembah di batas lahan, sudah tak berair lagi, Sungai Sadap yang berair payau bertambah dangkal, karena perambahan hutan-hutan diatasnya, erosi tanah yang dibuat ladang oleh peladang berdasi dari Batam salah satu penyebabnya.

Pak Kosot memandangi terus traktor dan lori lalu lalang di depan kebunnya, di lahan yang hanya tinggal sekitar 6 hektar itu sudah jadi padang jarak padang tekukur, disana sini pohon perdu meranggas, hitam bekas terbakar.

Saudaraku, masih inginkah melihat pak Kosot atau pak Manan sebagaimana nama tertera di KTPnya?, datanglah kesana, penduduk disitu sangat memerlukan perhatian kita, pak Kosot adalah lelaki terakhir Suku Asli Batam yang masih bermukim dan bertahan disana.1888702_10202171126652098_678776280_n

Hendak ke sumur pun terasa susah bagi pak Kosot kini, jarak 150 meter, lumayan jauh baginya, konon pula hendak menanam ubi untuk menyarah hidupnya.

Hampir sebulan tak turun hujan, air sumur hanya sedikit saja, timba plastik sudah tak tenggelam karena sakin dangkalnya, padahal dulu ikan gabus, dan sepat masih banyak di sekitar sumur itu.

Apalah daya hendak menyiram tumbuhan, kering kerontanglah ubi kayu dan tanaman lainnya. Alangkah senang hati pak Kosot kalaulah ada orang menyum bang seperangkat mesin pompa air, dan mengganti tandon (tangki) air yang sudah pecah.

Apalagi ada Dai yang hendak dan bersedia datang, mengajarkan Islam kepadanya, dan kepada cucu-cucunya yang masih usia sekola, tetapi tidak bersekolah, dapatlah dia membaca syahadat dengan lancar dan belajar shalat di akhir akhir hayatnya.

Kalau hal ini terbiarkan dan tak ada perhatian mungkin setelah kepergiannya kelak kepangkuan ilahi rabbi, kampung Sadap tempat tinggalnya dibagi-bagi orang menjadi ladang semangka dan buah naga.

Apakah kita tega?

Wallahu’alam (imbalo)

Pak Kosot Suku Asli Batam Terakhir Dari Kampung Sadap ?

1662745_794192770594796_237297810_nLama juga tidak mengunjungi pak Manan, menyesal betul rasanya hati ini. Padahal bulan lalu, aku melewati kampung pak Kosot demikian pak Manan lebih dikenal. Kosot lelaki tua, tinggal di kampung Sadap Kelurahaan Rempang Cate, jembatan empat.

Petang Selasa (4/2), M. Nur dari Batam Pos, mengajakku keperkampungan Suku Asli yang masih tersisa di Batam. Dan suku Asli dimaksud itu adalah pak Kosot. Keesokan harinya, Rabu pagi (5/2) kami berangkat, ke Rempang, jalan Bumi Melayu demikian tertera nama jalan masuk ke kampung Sadap tempat pak Kosot bermastautin.

Jalan tanah, masuk ke kampung Sadap itu kini tengah diperbaiki, bekas gusuran tanah, terlihat sebagian masih menumpuk disebelah kiri kanan jalan, termasuklah menutupi jalan masuk ke rumah pak Kosot.

Sewaktu tahun 2010, aku datang ke tempat pak Kosot dengan speda motor, tidak bisa berkenderaan roda empat, karena ada sungai kecil yang jembatannya rusak tidak bisa dilalui.
Perbaikan jalan masuk itu, rupanya, karena diujung kampung Sadap, puluhan hektar lahan yang melalui tempat tinggal pak Kosot, kini telah menjadi kebun buah Naga dan Semangka.62372_794215403925866_257959204_n

Tahun 2010 kami mendirikan sebuah mushala kecil persis di jalan masuk ke rumah pak Kosot, pernah juga seorang Dai dari AMCF tinggal disitu. Lokasi tanah untuk mushala itu wakaf dari pak Kosot.

Pak Kosot tinggal bersama isterinya, namanya mak Lilin, di gubuk kecil berdinding bambu yang dibilah bilah. Mak Lilin sudah beberapa tahun tak bisa lagi berjalan, lumpuh, karena penyakit tua.
Telaten sekali pak Kosot merawat isterinya itu, semua keperluan, sampai buang air besar mak Lilin, di gubuk yang hanya berukuran 2 x 3 meter itu, dilayani pak Kosot.

“Tok perempuan sudah meninggal 30 hari yang lalu” kata Kumalasari perempuan beranak dua, yang datang menyambut kami, setiba digubuk pak Kosot. Kumalasari adalah cucu pak Kosot.

Itulah rasa penyesalan bagiku, mengapa tak sempat mampir. Waktu itu, memang keburu hari sudah beranjak petang, pulang ziarah dari kampung Teluk Nipah Galang Baru, perkampungan suku laut di jembatan enam. Ternyata pada hari aku ingin singgah itu, isteri pak Kosot, mak Lilin, meninggal dunia.

Tiga bulan sebelumnya pula, anak pak Kosot yang rumahnya berdampingan dengan mushala meninggal dunia, sementara anak dan isteri dari almarhum pula pindah ke kampung lain, bertambah sepilah kampung itu.

Pak Kosot kini tak larat lagi berjalan, sewaktu kami ajak duduk keluar dari gubuknya, dengan bertongkatkan sebatang kayu, pak Kosot tertatih tatih, badannya bertambah kurus, kakinya kurus mengecil tinggal kulit pembalut tulang, susah nak diluruskan, persis kondisi isterinya waktu dulu.

Banyak yang kami ceritakan, nyaris persis apa yang diderita mak Lilin tempohari, itulah pula yang dialami dan diderita oleh pak Kosot sekarang, cucunya Kumalasari gantian mengantarkan lauk apa ada nya, kalau nasi, pak Kosot masih bisa memasak, dia melaksanakan itu dengan merangkak.

Hingga Juhur kami disana, shalat juhur di mushala, semak terlihat merayap di dinding mushala, bagian dalam pula lantainya berdebu, dipenuhi kotoran burung dan serangga, atap sebelah imam, sengnya terlepas, bekas bocoran hujan merusak plafond yang sudah lapuk. Battrey solar cell, tak ada ditempatnya, hilang raib entah kemana. Tandon air kapasitas 1000 liter warna orange, pecah nyaris terbelah dua. Tak ada lagi yang mengurus mushala.

Tengah hari itu, kami tinggalkan kampung Sadap, menuju kampung Rempang, kami berjumpa dengan pak Lurah, Pak Lurah Kelurahan Rempang Cate, di petang menjelang ashar pak Lurah masih berada di kantornya, kami titipkan mushala itu kepadanya, kepada pak Lurah yang baru tiga bulan menjabat, jadi belum bisa berbuat.

Data akurat jumlah penduduk Kelurahan yang diminta M Nur agak sulit di dapat. Begitulah, “saya baru 3 bulan jadi Lurah disini” ujar pak Lurah asal Natuna ini.

Jadi terpikir alangkah baiknya di kampung – kampung seperti Sadap, Terung, Panjang, Galang, Karas, kampung kampung tua lainnya di sekitar Batam ini, tidak dijadikan Kelurahaan, kembalikan ke Desa, ada kepala Kampung atau kepala Desa yang benar-benar tahu kondisi daerahnya, kehidupan masyarakatnya.

Kisah pak Kosot dan keluarganya yang hampir punah, bahkan kampungnya pun kini tinggal “sejengkal” saja, insyaallah tak akan terjadi.

Banyak lagi yang seperti pak Kosot dan mak Lilin, Suku Asli Batam yang berganti aqidah, karena kebijakan Desa menjadi Lurah.

Bagaimana mungkin mereka bisa faham, para Lurah – Lurah itu, mereka jauh tinggal puluhan kilometer dari orang kampung yang diurusnya.

Kembalikan kelurahan itu ke desa seperti semua, dipimpin tok Batin yang memang tahu dan faham seluk beluk, adat istiadat warganya. Dan kembalikan status tanah ulayat mereka. (*)

Shalat Tapi Nampak Aurat

1614953_785270281487045_349149288_nTidak di Batam saja, nyaris diseluruh pelosok Indonesia, kini kaum lelaki shalat di Masjid pada hari Jumat tidak memakai kain sarung lagi.  Fenomena ini pun terjadi di negara tetangga kita, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, terutama kaum muda nya.

Bahkan di Vietnam, Laos pun yang hanya segelintir muslimnya mereka sudah terbiasa memakai celana dan berbaju kaos.
Sebenarnya tidak jadi masaalah lelaki memakai celana dan berbaju kaos, tetapi apa lacur kalau model celana anak muda sekarang, pinggangnya dibawah pusat dan kaosnya pula rada ke atas.1608859_785269001487173_36299787_n
Hal ini acap berlaku, dan para pemuda itu sebenarnya menyadari kalau celana dan bajunya tersingkap, buktinya terlihat terkadang tangan mereka menarik ujung kaos/baju yang dipakainya, pada saat rukuk dan sujud, tetapi toh tetap tersingkap juga karena memang pendek.

Buletin Jumat ber ulang kali telah menulis tentang hal ini, mungkin kita dari pihak pengurus masjid membuat himbauan tertulis dibeberapa tempat, agar para jamaah memperhatikan cara berpakaian ini. Atau himbauan lisan oleh petugas masjid sesaat sebelum pelaksanaan shalat dimulai. Sebagai contoh dahulu, saat awal-awal pemakaian telepon geng gam (hp). 

Demikian pula, tidak ada salahnya, sebagai mana penyediaan mukena atau telekung yang kerap ada di masjid, langkah baiknya ada pula tersedia kain sarung , serta baju yang agak panjang untuk mereka pakai. Agak sulit memaksa mereka anak anak muda itu tidak mengikuti trend, mode pakaian yang memang kita tahu salah satu perusak aqidah Islam.

Gambar ilustrasi ini terekam oleh kamera Buletin Jumat, di beberapa masjid di beberapa negara.
Semoga menjadi perhatian kita bersama, mungkin juga ada solusi lain yang intinya adalah tidak menjadikan ibadah anak-anak muda itu menjadi sia-sia. Wallahu’alam. Imbalo

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.