DR Basirun : Putra Champa Dari Phan Rang Vietnam

10579980_946942035319868_5804526228236232606_n

KUALA LUMPUR –Phan Rang dulu, adalah suatu daerah dari Kerajaan Islam Champa, kini jadi provinsi paling selatan, bagian dari Vietnam. Dan Phan Rang adalah kota terakhir dari kerjaan Islam Champa, yang seorang putrinya menikah dengan Raja Hayamwuruk. Dianeksasi oleh Vietnam hampir 600 tahun dulu. Phan Rang terletak sekitar 600 kilometer dari Ho Chi Min.

10712786_946943041986434_8691932409019962405_nUmat Islam disana “terseok seok”, tidaklah mudah bagi anak-anak Islam untuk belajar agama, apalagi untuk belajar keluar negeri.
Untunglah Raja Kamboja agak berbaik hati, masih melindungi umat Islam yang lari dari negera tetangga tersebut. Hingga kini masih ribuan umat Islam menduduki daerah perbatasan antara Kamboja dengan Vietnam.
Dan baru dua tahun terakhir ini umat Islam dari Vietnam yang hendak menunaikan ibadah haji langsung dari Vietnam. Selama ini bila hendak ke Makkah harus melalui Thailand, Malaysia, ataupun Kamboja.

Termasuk Basiron, putra Champa kelahiran Phan Rang ini harus menukar kewarga negaraannya untuk mendapatkan pasport belajar di luar negeranya.
Di Negara Komunis itu , tak ada data pasti berapa jumlah umat Islamnya, selama ini mufti yang mengatur tentang Islam dibawah Ulama Kamboja.10351673_946944735319598_774071998511684597_n
Dibeberapa tempat yang dikunjungi Buletin Jumat (BJ), ribuan umat Islam tidak melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, tetapi tetap mengaku Islam, bahkan ribuan dari mereka sampai sekarang tidak di khitan.

“Mereka disebut Islam Bani, atau Islam asli, shalat cukup diwakilkan imam saja, sekali sejumat saja terkadang” ujar Basiron.

Populasi Islam Bani ini banyak di Phan Rang, mereka mempunyai Imam tersendiri dan dilindungi oleh Negara. “Sebenarnya sangat kurang pengetahuan agama mereka selama ini” tambah Basiron lagi.

Kembali ke Kampung

“Basrion bin Abdullah” demikian namanya dipanggil annouser pada saat Wisuda di Universitas Islam Antara Bangsa Malaysia (UIAM) , 11 Oktober 2014 yang lalu. Basiron berhak menyandang gelar Doctor Of Philosophy Arabic Lingustic. Pria 30 tahunan ini menyelesaikan S1 dan S2 nya di Madina.
BJ sengaja datang ke Gombak Kuala Lumpur, menyaksikan acara wisuda.

“Iya saya akan menetap di Vietnam” ujar Basiron. “Banyak hal yang akan diperbuat terhadap umat di tempat kelahiran saya”, tambah Doktor pertama dari Phan Rang, dan dialah satu satunya jurusan bahasa Arab di Vietnam saat ini.

Lembaga MUI dan Lembaga Halal

Belum ada lembaga seperti MUI di Vietnam, selama ini dibawah kendali oleh negeri Kamboja, membuat tekad Basiron semakin bulat bersama teman-teman sesama alumni Timur Tengah, akan membentuk Majelis Ulama Vietnam.
Terutama yang menyangkut dengan halal. Di Vietnam ada perusahaan mencantumkan sendiri logo halal, padahal makanan itu mengandung babi. Hal ini menjadi temuan BJ suatu ketika.

Pemerintah Vietnam, mulai membuka diri, baru dua tahun terakhir ini juga umat Islam diberikan izin mendapatkan pasport untuk belajar Islam di luar negeri, beberapa pelajar dari sana belajar di Batam. Perekonomian umat Islam mulai nampak menggeliat, BJ, beberapa kali mengunjungi daerah seperti Phan Rang, Tay Ninh, Cou Doc, pertanian disana bisa panen sampai tiga kali, anugra Ilahi melalui Sungai Mekong.
Rumah-rumah penduduk Islam pun mulai nampak di bangun yang baru. Begitu juga masjid, ada masjid yang dibangun oleh dua negara Indonesia dan Malaysia. (imbalo)

Mengunjungi Daerah Konflik

YALA THAILAND– Yala nama satu provinsi di Selatan Thailand, ada dua lagi provinsi yang terus bergolak yaitu Patani dan Naratiwat, ke-tiga provinsi ini ingin memisahkan diri dari Thailand.
Pekan lalu (12/10) Buletin Jumat mengunjungi Yala, setelah sebelum nya dari Patani. Yala – Patani ditempuh sekitar 2 jam, dengan mini bus, ongkosnya 100 Bath.
Ke-tiga provinsi di Selatan ini dulunya memang sebuah kerajaan Islam Patani. Jadi hingga kini pun di ketiga daerah itu, mayoritas penduduk nya Islam, dan berbahasa melayu, logat Patani, seperti bahasa melayu kebanyakan orang di Kelantan Malaysia. Di Yala, ada sebuah markas Jamaah Tablig yang cukup besar.
Yala dan ketiga daerah bergolak itu hingga ke hari ini tidak dapat diakses oleh telepon genggam yang belum terdaftar, hp BJ telkomsel roaming pun tidak berlaku di ke-tiga daerah itu.
Pagi itupun ada enam buah seko lah yang hangus terbakar.
“Entah siapa yang membakar, penjaga sekolah disuruh keluar oleh orang yang hendak membakar nya” ujar seorang teman menterje mahkan berita tayangan televisi lokal.
Tak lami kami di Yala, hanya ingin mengunjungi dan ziarah ke teman lama. Kota Yala masih seperti dulu, tak banyak yang berubah, jalan-jalan raya yang lebar bak jalan tol, masih tetap penuh dengan sekatan, kawat berduri, timbunan pasir. Tidak hanya di persimpangan, di pertenga han jalan pun tentara dengan senapan laras panjang terhunus, terus memerik sa setiap kenderaan yang lewat.
Kami menuju Hatyai, Hatyai kota yang terus berkembang, jauh mengalah kan ke tiga daerah yang lain.
Nada sinis terdengar di kota ini terhadap umat Islam di ketiga daerah tetangganya itu. Hampir mirip dengan kota Xinjiang Urumqi di Cina sana, di Hatyai pun banyak pendatang dari utara bekerja dan berniaga, jadi kalau di Hatyai umat Islam menjadi minoritas.
Tak jauh dari Hatyai, sekitar satu jam perjalanan ada sebuah kota berbatasan dengan Malaysia, Padang Besar nama nya. Sama dengan Danok masih bagian Thailand kota ini berbatasan dengan Bukit Kayu Hitam Malaysia.
Banyak border perbatasan antara Malaysia dengan Thailand, mulai dari Perlis, Kedah, Kelantan dan Perak.
Malam itu kami menginap di Padang Besar, kedua daerah ini hanya dibatasi oleh kawat berduri saja. (imbalo)

Catatan Perjalanan Dakwah: Kuala Lumpur-Kolkata-Assam-Bangalore-Kochi India

Di India Idul Adha Hari Senin

INDIA– Berangkat dari Kuala Lumpur tanggal 03/10 sekitar pukul 22.30 WSM dengan penerbangan low cost Air Asia AK63 ke Kolkata, hampir lima jam lamanya, hampir lima jam pula perbedaan waktu antara Indonesia dengan India.
Walaupun perbedaan waktu lima jam dengan Indonesia, India, hampir sama dengan waktu di Saudi Arabia, tetapi umat islam disana melaksanakan shalat Idul Adha pada hari senin tanggal 06 Oktober 2014. Sementara kita ketahui di Makkah pelaksanaan shalat idul qurban itu, pada hari sabtu tanggal 04 Oktober 2014.
Kolkata
Penggemar berat film India dahulu sebelum tahun 2001 hafal benar dengan nama Calkutta atau Kalkutta, “Calkutta – Bombay” satu nama judul film termasuk laris, banyak kisah menarik dari kota dipinggir laut ini, sejak tahun 2001 berubah nama menjadi Kolkata, dibangun inggris sejak tahun 1690 hampir empat abad silam, masih meninggalkan tradisi makan sirih yang kental hingga sekarang. Suguhan itu acap kita dapat saat bertamu.
Ibukota provinsi Bengala Barat ini sejak tahun 1833 sampai tahun1912 adalah ibukota negara India. Kolkata didiami lebih 25 juta, warga muslim 50% jauh lebih banyak dari pendu duk muslim di Malaysia, tetapi toh mere ka adalah minoritas disana, penduduk India hampir satu miliar orang banyak nya, negara terbanyak kedua di dunia penduduknya setelah cina.
“Bersama Yayasan Amal Malaysia tunaikan amanah sahabat2 dan adik beradik jalankan ibadah Qurban di Assam, India. 4/10/14 tiba di Kolkata Dari KLIA2 Setelah 4 jam 30 minit penerbangan. Penduduk Islam merang kumi hampir 50% Dari keseluruhan 25 Juta penduduk Kolkata. Walaupun di beritakan pemerintah mau menghalang ibadah Korban terutama lembu di adakan, namun urusan jual beli lembu Dan kambing di adakan di Pasar terbuka terutama di sekitar Masjid Nahkoda”. tulis Zul dan Adynor dari India kepada Buletin Jumat.
Masjid Tipu Sultan
Tipu Sultan, adalah nama Raja Muslim terakhir yang digelar Harimau dari Mysore. Raja ini meninggal diusia muda sekitar 49 tahun, karena mempertahan kan negaranya dari jajahan Inggris, Masjid yang diberi nama gelarnya itu salah satu masjid terbesar di India.
Tak jauh dari masjid Tipu, terdapat sebuah hotel Nakhoda namanya, kata ini pun tak asing bagi telinga orang melayu, dan sememangnyalah kota Kolkata terletak di pinggir pantai kota pelabuhan ternama dan terbesar di jamannya. Kolkata merupakan pusat industri goni dan tekstil, daerah pengekspor goni, teh, dan mika. Di kota ini terdapat Universitas tertua dan juga museum India. (disari Imbalo)

Kurban di Kem Pengungsi BTAD Assam India

Assam India– Tanggal 05 Oktober perjalanan di lanjutkan ke Assam, provinsi yang berbatasan dengan Cina, Buthan, Nepal, Bangla dhes, Myanmar ini terdapat tidak kurang 4.5 juta pengungsi di utara perbatasan dengan Buthan.

“Kem Boro Terotery Auto nomi Distrect (BTAD) jumlah keseluruhan 25 Kem, satu kem dihuni lebih daripada 50.000-100.000. Keseluruhan 4.5 Juta orang.” tulis Adynor. Assam hingga kini bergolak dan paling banyak pengungsi mus limnya.
Tiba Di Guwahati Airport, Assam. Sdr Saiffur Rahman menjemput kami. Di Guwahati tak Ada Resto ran Halal. Jadi terpaksa berla pik perut dengan capati Di Restoran Hindu.
Ibadah Korban Akan di adakan di Kokrajhar. Tapi rombongan bermalam di Goalpara dulu.
Sepanjang tiga jam perjalanan, banyak kelihatan lembu-lembu yang di ternak. “Punya Hindu” ujar Saiffur Rahman. Lembu di anggap Tuhan Katanya. “Habis, bila tua, lembu tu di buat apa?” tanya Ku. “Jual ke orang Islam” jawab Saiffur Rahman.

“Wah.. Tuhan pun kena jual” ujar Adynor.
Tak kurang 70 ekor sapi dan 20 ekor kambing dipotong di kem BTAD itu. “Ya, semua dari Yayasan Amal Malaysia negeri Kelantan, Perlis, Selangor, Kedah & MAPIM.” tulis Adynor lagi.
Kem pengungsi ini terdapat juga di perbatasan Assam dengan Myanmar Burma, Assam dengan Bangladhes. (*)

Masih Ingat Cek Lie, ???

Iya, Cik Lie boleh dikata Muslimah Terakhir di Savannakhet Laos ?

10678663_950286964985375_2259105101265059688_n
Sampai juga kami ke rumah nya, tengah hari Kamis 16 Oktober 2014, setelah empat tahun yang lalu kami mengunjungi Savannakhet satu provinsi di Laos, Savannakhet ini berbatasan dengan Mukdahan provinsi di Thailand.
Dari Batam-ke Stulang Laut di Johor terus ke Kuala Lumpur dan dilanjutkan ke Kulim Kedah, sampai ke perbatasan Changlun , ke Patani, Yala, Hatyai, Padang Besar – Bangkok – Mukdahan di Thaialnd, menyeberang ke Savannakhet Laos. Ribuan kilometer jauhnya……
Empat tahun yang lalu Cik Lie masih sehat diusianya yang ke 74, dia masih bisa membawa sepeda motor, dua tahun yang lalu, dia ditabrak orang sehingga kedua kakinya patah dari tulang betis hingga ke tulang paha.
Masih terlihat jelas bekas jahitan dan sambungan pin di tulangnya.
Dengan menunjukkan gambar gambar empat tahun yang lalu, Cik Lie tersenyum, mendengar kami hendak makan dan belanja dulu ke Talad (pasar) bahasa laos, cik Lie berdiri, dan perlahan lahan pergi ke dapur menjerang nasi.
Cik Lie terlihat kurus dari biasanya….. akh banyak sekali yang ingin di tanya, tetapi kesulitan bahasa, macak Malaysia kata bang Azmarul Azman, dan macak Indonesia ujar ku pula, Cik Lie berbaring lagi, dua orang cucunya berangkat ke sekolah rong rien lao, …. ahk cik Lie…. terus saja bergerak hendak melayan tamu nya, terkadang cik lie memegang dada nya tiduran terbaring menghadap ke jalan raya di depan rumahnya, akh Cik Lie masih sempat kita berjumpa, teman yang di Kulim Kedah pun sudah lama gering ustadz Abdul Wahab Ahmad, namanya

Terkecoh Diskon di Matahari Departement Store Mega Mall Batam.

AHAD (7/9) Buletin Jumat (BJ), sengaja berkunjung ke Matahari Departemen Store, terlihat hampir sepanjang Koridor lantai 2 Mega Mall Batam 14218_926271390720266_591767290444090978_ncenter itu dipenuhi pengunjung, banyak bergantungan tulisan sales 50 % , tulisan puti dengan dasar merah mencolok. Bermacam barang diskon ditawarkan.
Dan benar salah satunya ada sepatu merk Fladeo dibadrol rp. 520.000,- hem, kalau dipotong 50% berarti rp. 260.000,- lumayan murah pikir BJ. Karena memang ingin membeli sepatu.10665998_926281177385954_6963323324438869949_n
Beberapa orang disamping BJ tengah sibuk memilih-milih dan membawanya ke kasir, BJ pun tengah memilih juga nomor dan warna yang pas. Tiba-tiba sepasang suami isteri yang sedang berlalu disamping BJ datanh menghampiri dan membisikkan bahwa di lantai bawah di toko FLADEO, jenis dan merk sepatu yang sama dijual rp. 99.000,-10361994_926281340719271_1976874129189193504_n
BJ bergegas kebawah memastikan dan ternyata benar. sepasang sepatu yang didiskon 50% di Matahari Departemen Store itu, hanya dijual rp. 99.000,-
Teliti sebelum membeli jangan terlalu percaya Diskon.. (imbalo)

Shalat Jumat di Tempat Kami

15 Tahun Buletin Jumat (3)

SONY DSC

Dulu ada satu kementerian yang mengatar aparatur negara, waktu itu terbitlah satu peraturan yang mengatur para aparatur negara dengan cukup satu pekan 5 hari kerja saja, yaitu dari senin hingga hari jumat sementara pada hari sabtu libur.

Hari Jumat pagi, sebelum masuk kerja, olahraga (senam) dulu, kamipun berangkat dari rumah pakai pakaian olah raga. Terkadang baju olahraga itu ada yang memakainya sampai pulang kerja, ada yang di tukar dengan baju yang lain, yaitu baju kerja. Baju kerja ini bermacam-macam bentuknya. Tegantung perusahaan tempat kita bekerja.

Nah, kalau lelaki muslim sekitar pukul 11.30 wibb sesaathendak memasuki waktu shalat jumat, ada yang menukar lagi pakaiannya itu, jadi ada yang sampai tiga kali bertukar pakaian lho. Tetapi bila rumahnya tidak jauh dari tempat kerja, tak masaalah bisa pulang kerumah, dan berganti baju dirumah, dan shalat di masjid dekat rumah.

Kalau tak bertukar baju dan jauh dari tempat kerja ya pakai baju kerja, dan sebagian sampai sekarangpun instansi yang berolahraga dipagi jumat pegawainya masih memakai pakaian olahraga itu ke masjid melaksanakan shalat jumat.

Ternyata peraturan itu berubah, dirubah lagi jadi tetap enam hari kerja selama sepekan, agaknya tak efesien dan setelah kementerian yang menterinya enggak pernah shalat jumat itu tidak menjabat lagi.SONY DSC

Di Batam tidak terkecuali apalagi daerah melayu hampir diseluruh negeri, terutama di sekolah sekolah, hari jumat kami berbusana muslim kembali, baju muslim biasanya warnanya polos.

Tetapi ada juga beberapa instansi yang menyuruh karyawannya berbaju batik (berwarna-warni, namanya juga batik), dihari jumat sebagaimana ditempat penulis bekerja, katanya untuk cinta budaya. Dan kamipun olahraga kembali dihari sabtu.

Di Jakarta kini, orang nomor satu pemimpinnya lagi kompetisi, jadi capres. Jadi wakilnya yang berkuasa, katanya sih enggak tahu kalau kepala dinas pendidikannya, membuat peraturan baru mengganti model baju muslim tadi dengan model yang lain disekolah-sekolah.

Kalau bagi siswa mungkin tidak terlalu berpengaruh, tetapi bagi siswi? Konon kabarnya kepala dinasnya mau mengundurkan diri karena stress, tetapi dibantah.

Di tempat kami di Batam terkenal daerah industri, banyak perusahaan asing maupun lokal mempekerjakan karyawan setempat, dikasih baju seragam, seperti werpak, yaitu baju dan celananya jadi satu, penulispun setiap tahun pernah dapat dua stell baju seperti itu, waktu jadi pegawai.

Baju seragam ini kalau di pakai shalat, agak menjepit sedikit diselangkangan, ketika kita posisi sujud, tetapi ada baiknya pinggang dan belahan punggung kita tidak terbuka (tertutup aurat).

Karena ada juga baju seragam yang terdiri dua potong, yaitu celana dan baju terpisah, terkadang warnanya sama ada juga yang berbeda, entah mengapa hampir semua pekerja yang dapat baju seragam seperti ini, bajunya agak pendek dan memakai lipatan tebal dibawahnya.SONY DSC

Nah ini yang jadi masaalah sewaktu rukuk apalagi posisi sujud, saat shalat sang baju bagian belakang tertarik keatas tersingkat di belakang belahan punggung dan tentunya aurat terlihat. Enggak tahu mengapa disainnya seperti itu, padahal tidak semua pekerja itu bekerja berkaitan dengan mesin.

Seperti dalam gambar pekerja hotel terkemuka inipun dapat baju seragam, setiap sujud belahan punggungnya kelihatan, dan tangannya tak pernah berhenti kebelakang menutupinya.

Tapi syukurlah mereka para pekerja itu masih dibenarkan dan bisa melaksanakan ibadah shalat jumat, karena dari hasil temuan penulis di beberapa mall, pekerja restoran, maupun pekerja di pompa bensin tidak bisa melaksanakan shalat jumat walaupun dengan memakai baju seragam kerja. Ya jadi sepanjang tahun selama pekerja lelaki itu tak pernah shalat jumat.

Tetapi walaupun tidak setiap jumat melaksanakan ibadah shalat ini, kita tidak pungkiri masih banyak para majikan yang mengatur para pekerja lelaki itu bergantian libur pada hari jumat, seperti security misalnya.

Mungkin di daerah industri, perdagangan, ali kapal di tempat lain seperti itu jugakah?, yaitu memakai pakaian yang tersingkap dibelakang terlihat aurat seperti ditempat kami? … entahlah. Sebagaimana terlihat disuatu jumat, nyaris dari 4.000 orang jamaah Masjid Raya Batam Center tak terlihat yang pakai kain sarung lagi, pada hari itu.

Semoga Batam tidak seperti Jakarta, cukuplah memadailah para pelajar lelakinya pakai baju melayu (dua potong baju dan celana), dari pagi masuk sekolah, sekalian bisa untuk shalat jumat, dan kamipun berharap kepada yang berwenang nantinya tidak membuat kebijakan meniru Kepala Dinas L Marbun di Jakarta sana. (imbalo)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.