Catatan Perjalanan dari Makassar: Mengunjungi Masjid Amirul Mukminin Masjid Terapung di Makassar


SONY DSC

SONY DSC

MAKASSAR — Mengunjungi Makassar dari Batam, naik pesawat terbang lebih mahal ketimbang melalui Kuala Lumpur.
Kesempatan mengikuti Muktamar Muhammadiyah ke 47, Buletin Jumat (BJ) berangkat dari Kuala Lumpur bersama delegasi dari Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam. Tiba di bandara Hasanuddin kota Anging Mamiri itu, kami dibawa langsung ke Hotel Aryaduta. Lokasi Hotel ini persis didepan Pantai Losari.
Cukup letih juga bagi BJ, perjalanan dari Batam naik ferry terakhir, ke Stulang Laut ke JB central, darisitu BJ naik kereta api malam ke KL central dengan tiket seharga 39 RM. Kemudian berangkat pukul 23.00 tiba pukul 07.00 pagi. Turun dari tingkat tiga terminal, kelantai dasar bus jurusan ke KLIA2 tiket bus 11 RM.
Shalat subuh di dalam kereta api, sambil duduk di tempat tidur, karena tidak dapat berdiri. Mandi setelah tiba di KLIA2, di terminal keberangka tan, pengelola menyediakan tempat mandi bagi para penumpang Air Asia.
Penerbangan dari KL ke Makassar sekitar tiga jam, pulau pulau kecil, dengan air yang jernih terlihat indah dari udara sesaat hendak mendarat di lapangan Hasanuddin.
Pantai Losari, salah satu pantai tujuan wisata di teluk Makassar, mulai petang hingga larut malam, pantai ini tak henti hentinya di datangi para pengunjung, sepanjang lebih dua kilometer pinggiran pantai ini dipadati penjual pisang bakar.
Masjid Asmal Husna
Makassar tidak hanya terkenal dengan wisata kulinernya saja jelas Walikota Makassar. “Di Makassar ba nyak makanan khas dan memakannya disesuaikan berdasarkan waktu. Jam 7 pagi di Makassa kita bisa menikmati songkolo, jam 8 hingga jam 10 pagi Nasi Kuning, dan jam 13.00 hingga 15.00 waktunya menikmati coto Makassar” Ujar Danny nama akrab walikota Makassar ini di tempat kediaman pribadinya, rumah cukup luas bisa menampung ratusan orang memiliki lapangan oleh raga sendiri. Para tamu juga disuguhi makanan khas Makassar seperti Bikangdoang, Sanggara Unti dan Lame Kayu, dan minuman khas dari jahe Sarabba.

SONY DSC

SONY DSC

Banyak landmark menarik yang bisa dilihat di kota ini. Salah satunya adalah Masjid Terapung di Pantai Losari.
Kalau Jedah memiliki masjid Ar-Rahmah yang dikenal oleh jemaah haji Indonesia sebagai masjid terapung. Di Makasar pun kita bisa menemukan mesjid terapung yang indah dan unik. Sebetulnya mesjid terapung di Makassar itu bernama Masjid Amirul Mukminin. Tetapi sang walikota penerus pembanguan ide walikota sebelumnya menjelaskan bahwa kubah diameter sekitar 9 meter dua buah berdampingan dan tangga menuju ke lantai tiganya membentuk angka 99 melambangkan asmaul husna. “Bila dilihat dari atas dua buah kubah dan tangga membentuk angka 99, melambangkan asmaul khusna” ujar walikota Makassar yang ber-ibu Aisyiah dan ber-bapa dari ormas NU.
Hal yang belum pernah diungkapkan oleh walikota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto ke publik, saat menjamu rom bongan Muktamar Muhammadiyah dikediaman beliau
Mesjid ini terletak di teluk Makassar atau di pantai Losari. Karena Mesjid dengan arsitektur modern ini memang dibuat di bibir pantai dengan pondasi cukup tinggi, maka dalam keadaan air pasang terlihat seperti terapung di laut.
Mesjid indah di pinggir pantai losari itu dibalut warna putih yang dominan dan abu-abu serta juga dilengkapi menara yang tinggi menjulang sekitar 16 meter, menambah keanggunan mesjid tersebut. Kala itu Mesjid ini diresmikan oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla pada 21 Desember 2012 silam.
Meskipun kelihatannya mesjid ini tidak terlalu luas, namun ternyata, mampu menampung sekitar 400 sampai 500 jamaah. Suasana di dalam Masjid ini terasa nyaman walaupun lokasinya berada di daerah terik. Didisain terbuka sehingga angin laut bisa masuk dengan bebas, dari jendela jendela yang terbuka.
Di bawah kubah itu, pengunjung da pat menggunakannya untuk beribadah sambil menikmati keindahan pantai Losari dan daerah sekitarnya . Apalagi sambil menunggu matahari terbenam kita bisa naik ke bagian atas, menikmati suara deburan ombak. Angin yang bertiup cukup kencang dan menunggu matahari terbenam. Indah sekali. Dan yang paling penting shalat magrib tidak sampai tertinggal. Banyak tepi pantai tidak memiliki sarana tempat beribadah. Konsep pantai memiliki masjid, ide walikota Makassar ini perlu di tiru.
Pelataran dan jembatan yang luas bisa menjadi tempat untuk berfoto ria mengabadikan keindahan mesjid terapung di pantai Losari ini sambil menikmati hidangan khas Makassar, pisang epek.
Sepanjang jalan kiloan meter tidak di pungut parkir untuk semua jenis kenderaan, orang berjualan angkringan pun tidak ditarik retribusi. Pantes kota Makassar acap menerima penghargaan, dan tertata baik dikelola oleh Walikota berlatar arsitek ini. (imbalo)

Ularpun Ikut Menggeleng Kepala


Mendadak Pawang Ular: Tahu kalau bukan orang tempatan dengan membayar 300 RSL kitapun bisa melihat ular mengeleng gelang.

Mendadak Pawang Ular: Tahu kalau bukan orang tempatan dengan membayar 300 RSL kitapun bisa melihat ular menggeleng gelang.

Catatan Perjalanan dari Sri Lanka

SRILANKA– Mengunjungi Sri Lanka berangkat dari Batam. Melalui Kuala Lumpur – Colombo dengan Air Asia lebih murah, bila kita kembali dari Colombo – Kuala Lumpur lebih mahal. Selisihnya hampir 2 kali lipat.
Harga barangan lebih mahal di Colombo dari pada Kuala Lumpur. Begitu juga gaji karyawan biasa, di Malaysia dibayar 1.800 RM di Colombo hampir dua kali lipatnya, sebesar 45.000 RSL.
“Saya bekerja di Malaysia hanya satu tahun “ ujar Aleem yang dapat berahasa melayu, sewaktu kami bertemu di Masjid Merah. “Aleem tidak akan ke Malaysia lagi kalau untuk bekerja” tambahnya sambil tersenyum.
Seperti Aleem banyak rakyat Sri Lanka, tak mau mengaut upah Ringgit, karena tak bisa diandalkan di negaranya,beda dengan pekerja asal Indonesia, dengan gaji 1.800 RM sudah termasuk besar, kalau dikurs jadi rp 6 jutaan UMK Batam sekitar 2,5 juta rupiah.
Itu juga agaknya tak banyak pekerja asal Sri Lanka di Malaysia, hal ini berdampak dengan penggunaan bahasa melayu di negara pulau itu. Bahasa melayu yang mereka pergunakan adalah bahasa melayu khas Sri Lanka.
Berbeda dengan Nepal, negeri yang baru ditimpah musibah gempa ini, ratusan ribu tenaga kerjanya di Malaysia. Saat Buletin Jumat mengunjungi negeri tempat kelahiran sang Budha Gautama itu banyak orang dapat berbahasa melayu logat Malaysia disana.
Gelengan kepala tanda setuju
Perbedaan lain Sri Lanka, seluruh daratannya mengakses ke laut sementara Nepal seluruhnya daratan. Dan persamaan spesifik antara keduanya adalah kalau bicara menggeleng gelengkan kepala.
Teman seperjalanan, Ashari, punya pengalaman khusus dalam hal mengeleng-gelengkan kepala ini. Saat hendak memarkirkan kenederaan yang kami rental termasuk supirnya, Ashari yang duduk di depan turun terlebih dahulu melihat disuatu tempat yang sangat ramai dan susah parkirnya ada satu parkiran yang kosong, mungkin karena naluri di pelabuhan Batam Center, Ashari pun berdiri di tempat yang kosong itu, sembari berkata kepada supir parkir disini saja. Sang supir tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya (tanda setuju). Melihat itu Ashari berlalu dari tempat kosong dan langsung saja ada kenderaan lain yang masuk kesitu. Rupanya Ashari mengartikan gelengan kepala tanda tak setuju.
Bukan sekali itu saja salah faham, selama empat hari bersama hal itu terus berulangkali, pesan makanan batal karena gelengan kepala.
Saat dari Lapangan terbang hendak ke kota Colombo “Sudahlah kalau begitu kita masuk jalan tol saja, biar cepat” ajakku. Sang supir pun menggelengkan kepala. Dia terus menembus macet jalanan, semakin macet, ee dah tiba di pintu tol. Lha tadi geleng geleng kepala, batinku dalam hati sekarang koq masuk tol juga.
Jadi bila berkesempatan datang ke Colombo, siaplah dengan gelengan kepala. Banyak gerai menjual batu mulia, kecil-kecil, harganya lumayan mahal, tak seperti di Batam, banyak batu yang besar, harganya murah. Batu yang berwarna warni itu dijual sampai puluhan ribu dolar US. Pemandu wisata selalu mendekati kita dan mengajak ke gerai dan museum batu itu. Dan perlu diingat bisa tawar menawar disitu, saat kita tawar dan si penjual menggeleng gelengkan kepala berarti dia setuju dengan harga yang kita tawar, jangan dinaikkan lagi tawaranya.
Penghasil teh terbesar di Dunia
Disamping terkenal dengan batu, Sri Lanka pun terkenal penghasil teh terbesar di dunia, teh ini di jual di gerai-gerai dan museum teh yang terdapat dihampir semua kebun teh. Merk teh sama dengan kebun dan pabrik tehnya. bermacam-macam kemasan indah, menarik sebagai souvenir dibawa pulang ke tanah air.
Nah ini yang perlu diingat, dengan kemasan sama, merek yang sama, harga jual di museum jauh lebih mahal dengan yang ada di lapangan terbang. Teh-teh kering kiloan ini banyak di jual disepanjang jalan Old Moor dan jalan jalan lain di Colombo.
Restoran warung menjual teh, dalam gelas kecil bisa dinikmati sepanjang hari, terkadang teh dicampur dengan susu kambing, dimakan dengan sejenis kue gorengan bumbu khas Sri Lanka, nongkrong di depan masjid menunggu azan magrib tiba.
Beberapa restoran dan warung itu tutup saat waktu shalat tiba. (***)

Bersama Yayasan Amal Kedah Malaysia mengunjungi Saigon.


Tengah, Tok Hakim Islam Bani, kanan Hasan nama Vietnamnya adalah Thap DaiTruong Tho

Tengah, Tok Hakim Islam Bani, kanan Hasan nama Vietnamnya adalah Thap DaiTruong Tho

Sebenarnya rencana kami hendak ke Saigon sudah dirancang dua bulan yang lalu yaitu awal Juli 2012 , pada saat itu harga tiket Air Asia dari Kuala Lumpur – Ho Chi Min , masih sekitar seratusan ringgit saja .
Kawan dari Malaysia sudah beli tiket “Kami sudah beli tiket untuk 5 orang” tulis Zul Lebai Baron dalam pesannya di Facebookku. “Jadi kan pak Imbalo, ikutlah dengan kami” lanjutnya lagi berharap.
“Insyaallah” jawabku ketika itu. Tetapi sampai menjelang 2 hari sebelum keberangkatan (5/9) belum juga tiket kupesan.

Rencana teman teman dari Amal Kedah Malaysia hendak ke Saigon adalah dalam rangka survey untuk ber- qurban bulan Oktober 2012 mendatang , dan juga kemungkinan untuk melaksankan khitanan masal disana.

Akhirnya kuputuskan juga untuk berangkat menemani mereka, Berangkat dari Batam (5/9) petang naik ferry terakhir, sampai di terminal bus Larkin Johor Bahru , terdengar azan Isya berkumandang .

Sengaja kuambil keberangkatan bus pukul 9 malam dengan harga tiket sebesar 31 RM, rencana semula langsung ke Kuala Lumpur, tetapi aku turun di hentian Nilai. Di hentian Nilai telah menunggu Nadzmi putra pak Yusuf dan Nadzmilah yang mengantarkan ku ke LCCT dan bergabung dengan teman2 yang dari Kedah , saat tiba di LCCT hari telah pukul 2 pagi.

Sepagi itu Kounter Air Asia belum buka , terpaksa menunggu 2 jam lagi. rencana hendak menukar jadwal penerbanganku dari AK 886 ke AK 880 , karena semua teman dari Malaysia yang akan berangkat ke Saigon dengan penerbangan AK 880 pukul 7 pagi , sementara aku sendiri berangkat dengan AK 886 pukul 12 tengah hari.

Awalnya Kami yakin bisa sama-sama berangkat dengan penerbangan AK 880 pagi , dari pengalaman beberapa maskapai penerbangan lain, bila masih ada sit kosong pada penerbangan awal. Ternyata hal ini tidak berlaku bagi Air Asia. “Macam tu boleh dilakukan sebelum 2×24 jam” ujar petugas Air Asia yang berada diterminal itu. Apa boleh buat sudah cepat2 datang ke LCCT, tak dapat nak berangkat bersama. Terpaksalah berangkat tengah hari seorang diri.

Tujuh jam lagi harus berada di LCCT , Apa yang harus kubuat. Pengalaman ber jam jam di Bandara bukanlah hal yang pertama kali kualami. Beberapakali dari Phnom Phen (Kamboja) naik Bus ke Bangkok, tiba di Bangkok hari telah pukul 11 malam , malam pada jam seperti itu sulit mendapatkan bus langsung ke Hadyai (perbatasan Malaysia – Thailand) , Nah , tempat yang aman untuk bermalam (tidur) bagi orang sepertiku ini adalah di Bandara Swarnabumi Bangkok, menunggu siang keesokan harinya.

Di Bandara negeri Gajah Putih itu banyak tersedia kursi yang dapat dipakai untuk meluruskan pinggang, kalau pun mau tiduran di lantai, tempat nya luas dan bersih . LCCT sungguh tidak sama dengan dan tidak mungkin bisa disamakan dengan Swarnabumi Bangkok misalnya, tetapi paling tidak tambahlah kursi di ruang tunggu itu. Belum lagi bau menyengit Toilet persis di depan ruang keberangkatan tidak dibersihkan. Saran untuk Air Asia jangan rajin jual makanan saja diatas pesawat.

Penumpang diLCCT dan Swarnabumi hampir sama membludaknya. Ratusan bahkan ribuan orang yang bernasib sama dengan ku, menunggu penerbangan berikutnya, bahkan ada yang sudah lebih dari 24 jam berada disitu , seperti mahasiswa dari Thailand yang hendak berangkat ke Indonesia misalnya.
Dan jangan harap ada air mineral free diruang tunggu bandara biaya murah itu, sebagaimana Bandara lain, toh bukan kah sama-sama terbang dengan Air Asia ?

“Pak kalau mau tiduran di ruang kedatangan, gak terganggu” ujar seorang lelaki paroh baya yang kukenal saat selonjoran kaki di Bandara yang baru saja di pogging dengan asap berbau melatin anti nyamuk demam berdarah. Bau asap membuat orang – orang yang berada di ruang tunggu pada bertempiaran kemana – mana. Hem beginilah nasib lapangan terbang biaya murah. Tak ada sedikitpun permintaan maaf hendak menyemprot asap yang membuat pusing kepala dipagi buta itu.

Tak sadar aku terlelap juga di bangku ruang kedatangan, terbangun saat sms masuk ke hpku, ternyata kawan- kawan sudah sampai di Ho Chi Min. “Mereka sudah makan dan sekarang sedang tiduran, papak sudah dimana?”. tulis Hasan pemuda asli Champa asal Provinsi Phan Rang Vietnam yang pernah belajar di Indonesia . “Saya sekarang tunggu papak di Lapangan Terbang” tulis nya lagi.

Sekitar Pukul 13.30 aku tiba di bandara Saigon, terlihat Hasan tersenyum menyambutku. Ada rasa haru bertemu lagi dengan Hasan , teringat ketika dia datang ke Batam belajar di Mahad Said bin Zahid beberapa tahun yang lalu, saat itu Hasan, sepatah pun tak dapat mengucapkan bahaya Indonesia, Syahadat pun dia tak bisa melapazkannya , apalagi huruf Hijaiyah.

Hasan adalah orang keturunan Champa yang mengaku beragama Islam. Di daerah Phan Rang Vietnam mereka menamakan Islam Bani, berbeda dengan Islam lainnya. Mereka, pengikut Bani tidak sembahyang dan tidak berpuasa , semua amalan itu diwakilkan kepada orang yang dipanggil tok Imam dan tok Hakim pemuka Agama Islam Bani .

Orang – orang Bani pun tidak di khitan, masjid mereka tersendiri. Jadi rencana kami adalah ke Provinsi Phan Rang , ke rumah dan ke kampong Hasan, Hasan sekarang sudah melaksanakan shalat 5 kali sehari semalam , banyak ayat2 pendek yang sudah dihafalnya , lumayan lancer bahasa Indonesianya.

Sementara kedua orang tua Hasan masih beragama Islam Bani, begitu juga seluruh keluarganya. (bersambung)

Mass Rapid Transit (MRT)


hari dah beranjak petang , tiba di NE 1 Harbour Front, mereka belum shalat Juhur dan Ashar lagi, tak ada lansung fasilitas tempat shalat disitu

hari dah beranjak petang , tiba di NE 1 Harbour Front, mereka belum shalat Juhur dan Ashar lagi, tak ada langsung fasilitas tempat shalat disitu.

Sabtu pagi (8/4) lalu dari Batam Center,  naik  ferry Batam Fast,  sampai di Harbour Front Singapura, hari sudah pukul 10 waktu setempat.  Bukan main berjubelnya orang, antrian di imigrasi. Panas lagi,  ruang kedatangan itu sedang direnovasi.

Dua orang perempuan usia 30-an melirikku, disampingnya seorang pria sedang menggendong bayinya yang terus menangis. Dua baris didepan seorang nenek terseok – seok ikut antrian, agaknya usia sang nenek sekitar  70-an.

Jubelan manusia terus bertambah, kalau tadi ferry yang membawaku datang dari Batam Center, mungkin yang ini dari Sekupang. Dan antrian yang didepan rombongan kami tadi agaknya dari Harbour Bay Batam.

Begitulah, kalau tak salah ada 6 (enam) titik penyeberangan ferry dari Batam ke Singapura. Ribuan orang setiap harinya numpek blek di Harbour Front itu. Begitupun sebaliknya, ribuan orang pula yang datang ke Batam baik dari Singapura, maupun dari Malaysia. Terutama di akhir pekan.

Bayi dan Warga Tua

Anak bayi itu terus menangis, sang nenek terus antri dengan sabarnya, didepan konter hanya ada 4 petugas imigrasi, sedikitpun tak tampak senyumnya. Bagaimana mau senyum, agaknya sakin sibuknya. Mengajukan pertanyaan yang sama, “pernah ditolak masuk Singapura, berapa lama, mau apa”, kemudian melirik memastikan gambar yang ada di pasport, sama belaka, tak  ada tampang yang berbeda dan yang dicekal, maklum banyak teroris berkeliaran, terkadang meminta kartu tanda penduduk bagi yang agak dicurigai, hampir 2 – 3 menit prosesi itu, apalagi scaner nya macet. Itu yang tidak ada masalah bung, lain lagi kalau saspek, teruklah, tunggu masuk opis.

Jadi harap maklum ribuan orang yang ditolak masuk ke Singapura selama tahun 2011. Termasuklah anggota Dewan yang terhormat. Bahkan Watimpres pun pernah di tolak. Bukan main Singapura memperlakukan warga Indonesia sedemikian rupa. Mau protes??

Terlihat seorang lelaki orang melayu, dari 4 orang petugas  imigrasi yang bertugas saat itu. Tak lama kemudian datang dua orang lagi. Tetapi tak juga mempercepat lajunya antrian.  Sementara persis sebelum garis kuning tanda berhenti antri, seorang petugas berbaju gelap mengatur dan menyuruh orang-orang yang antri ke tempat petugas imigrasi yang sudah kosong.  “Cepat, Cepat ” katanya sembari menunjuk ke tempat kounter yang sudah kosong.

Dari Batam, aku bersama pak Yusuf warga Singapura, hampir sejam lamanya dia menungguku di luar, sebenarnya tadi aku bisa bersama pak Yusuf masuk jalur Singaporean. Pak Yusuf mengajakku, “kalau bersama saya, pak Imbalo boleh jalur Singporean” katanya .  Tetapi Ferry Batam Fast yang kutumpangi terlambat sampai, padahal Penguin yang membawa pak Yusuf selisih 20 menit berangkat lebih lama dari Batam Fast, bisa lebih dulu sampai. Akh besok – besok naik Penguin saja lah pikirku.

Sambil terus berjalan perlahan merapat ke depan antrian,  tiba-tiba pagar pembatas antrian kami (jalur orang asing) dibuka oleh seorang petugas, dilihat dari tampangnya warga keturunan India. Ditangannya tergenggam Handy Talky (HT) , tak henti-hentinya dia berbicara melalui HT itu, sambil berjlan hilir mudik.

Rupanya dia memerintahkan agar antrian yang penuh sesak itu berpindah ke sebelah, ketempat antrian warga khusus Singapura.
Agaknya apa yang dikatakannya orang-orang yang didekatnya tak mengerti. Kelihatan dia agak kesal dan dengan kasar ditariknya tangan orang di dekatnya itu dan ditolaknya untuk segera ke antrian khusus Singaporean, karena memang di jalur itu terlihat lengang.  Demikianlah tertibnya orang-orang Indonesia yang ke datang ke Singapura, padahal mereka tamu lho, tidak semua pencari kerja yang datang itu,

Dibeberapa Negara Asia lainnya, bahkan di Bandara Changi, ada jalur khusus untuk warga tua, kalau pun tidak khusus, mereka diutamakan terlebih dahulu untuk masuk , tidak antri berlama-lama seperti di Harbour Front itu. Bahkan di MRT ada bangku khusus untuk orang tua, wanita hamil dan bayi.

Bayi dalam gendongan bapaknya tadi terus menangis tak henti-hentinya. Sengaja agak kukeraskan  suaraku berbicara kepada wanita yang berdiri disebelahku, tentang perlakuan khusus. Mungkin terdengar petugas imigrasi orang melayu tadi, kulihat tangannya melambai ke bapak yang sedang mengendong anak yang sedang nangis itu. Bersama isterinya, mereka lalui orang-orang didepannya,  langsung menuju ke konter pemeriksaan.

Tetapi sang nenek tak sempat mendapat fasilitas, karena memang sudah dalam barisan terdepan. Tak apa ya nek……

Petang Hari.

Menjelang magrib aku tiba kembali di Harbour Front, selepas menghadiri pemakaman  Ustadz Abdus Salam bin M Sultan Mantan Presiden Muhammadiyah Singapura. Dari Kembangan naik MRT turun di Outram Park,  di Outram Park ganti kereta ke NE 1.  Melihat aku sudah tua agaknya, apalagi berkupiah, tak pernah aku berdiri selama di dalam MRT, ada saja yang memberikan tempat duduknya kepadaku. Ternyata orang tua dihormati di dalam MRT.

Sembari menunggu antri masuk ke ruang keberangkatan ferry di Harbour Front yang tak selesai – selesai di renovasi itu, terlihat olehku kedua wanita yang tadi pagi antri bersamaku di ruang kedatangan. Mereka tersenyum kepadaku, sembari bertanya, dimana tempat shalat. Rupanya sejak juhur mereka belum shalat – shalat lagi.  Padahal hari sudah menjelang petang.  Shalat juhur belum, mau shalat ashar tadi maksudnya di Harbour Front, sudah muter kamana-mana katanya tak ada tempat shalat.

“Padahal tadi niatnya mau jamak takhir aja pak” . ujar kedua perempuan itu memelas.

Didepan kami seorang petugas perempuan berbaju batik lengan pendek warna kuning bunga-bunga -kelihatan semua petugas di pelabuhan ferry itu berbaju warna dan motif yang sama- juga  memegang HT sibuk hilir mudik memanggilin orang – orang yang sudah waktunya masuk ke ruang pemeriksaan pasport.

Kutanyakan ke petugas perempuan yang kebetulan orang melayu itu, dimana tempat shalat. “Tak ada disini” jawabnya agak terkesima. Saat kutanya dimana dia shalat, petugas perempuan orang melayu tadi meleos pergi.  “Sudah dengar.” jelasku lagi kepada kedua perempuan asal Jakarta yang hanya jalan-jalan sebentar ke Singapura, pergi pagi pulang petang, sementara datang ke Batam, mereka hendak menghadiri pernikahan kerabatnya.

Ribuan pengunjung ke Singapura, sebahagian besar muslim, bisa dilihat dari pakaian yang dipakainya, seingatku sejak puluhan tahun yang lalu  tak ada fasilitas mushala di Harbour Front Singapura yang cukup luas dan besar itu.

“Kalau mau shalat ya bentang aja kertas di pojok sana” ujarku kepada kedua orang perempuan tadi. ” Saya pun demikian”. tambahku  menjelaskan bila saat masuk waktu shalat . “Ambil wuduk pakai air mineral saja, masuk toilet” tambahku lagi.

“Sungguh kalau tak perlu sangat males nak ke Singapura ini, dulu saya sering shalat dibawah tangga pusat perbelanjaan.” ujarku lagi. Syukurlah barang – barang di Singapura lebih mahal dari Jakarta bahkan Batam. Jadi mengurangi accopancy datang ke negeri yang dulu pusat penjualan barang – barang elektronik itu.

Kedua perempuan itu tadi beranjak dari tempat duduknya, bukan untuk shalat tetapi masuk ke ruang tunggu karena sudah harus naik ke ferry, hari sudah gelap magrib pun sudah tiba.

Sambil bergumam dia pamitan kepadaku, “Mudah-mudahan Allah mengetahui niatku tadi mau shalat koq, setibanya disini (Harbour Front)”.

Kubalas dengan senyum gumamannya, wallahu’alam apakah Allah memaafkannya karena sudah meninggalkan shalat Juhur dan Ashar. “Sampaikan ke teman-teman yang mau datang ke Singapura, tentang keadaan negara sekuler tetangga kita ini.

Ramadhan di Brunei, Berbuka Dengan Kurma Hadiah Dari Sultan


Pusat Dakwa Islam Brunei

Pusat Dakwa Islam Brunei

Sebenarnya masih banyak lagi tempat yang belum kami kunjungi di Sabah Malaysia, terutama ke tempat pemukiman muslim minoritas, tetapi kami harus berangkat petang itu Jumat (20/8) ke Brunei. Kepada pak Abas Basori Konjen RI di Sabah yang telah memfasilitasi kami selama di Kota Kinabalu kami ucapkan terimakasih.

Begitu juga kepada Datuk Harris Mohammad Salleh,  Datuk Harris Salleh adalah mantan Menteri Besar Sabah, aluan nya begitu luar biasa kepada kami,  kami bisa berjumpa dengan Saudara Baru di Kampung Tambunan salah satu kampung dalam binaanya. Juga kepada JAKIM Sabah. Serta Pengurus masjid Bandaraya Kota Kinabalu  yang mengajak kami berbuka puasa di masjid yang megah di Kota Kinabalu masjid Kampung Air yang terkenal itu, dan paling khas lagi untuk seluruh pengerusi United Sabah Islamic Association (USIA) Pertubuhan Islam Seluruh Sabah.

Banyak sekali pihak yang membantu kami dalam perjalanan Safari Ramadhan 1431 H di Sabah itu, begitu juga dari Penubuhan Majlis Ugama Islam Sabah (MUIS), Penubuhan Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sabah (JHEAINS) , sedikit banyak dapatlah  gambaran tentang perkembangan Islam  di Negeri Dibawah Awan ini, sebutan untuk Kota Kinabalu.

Berbuka Dengan Kurma Hadiah Dari Sultan

Pak Hasan dari KJRI telah menunggu di Bandara Kota Kinabalu saat kami datang, karena sejak pagi lagi kami sudah keluar dari hotel, dengan dua orang staff Datuk Harris Salleh kami mengunjungi Desa Tambunan sekitar 80 kilometer dari Kota Kinabalu. Di Desa Tambunan itu kami mengunjungi Saudara Baru (sebutan untuk orang yang baru masuk Islam) , seluruh penduduk disitu dari suku Kadazan Dusun sudah memeluk Islam jumlah mereka sekitar 15 keluarga.

Masjid Kubah Mas Brunei Darussalam

Masjid Kubah Mas Brunei Darussalam

Dengan Air Asia penerbangan low cost ini kami berangkat dari terminal 2 (dua) Lapangan Terbang Kota Kinabalu menuju Brunei, penumpang di ruang tunggu penuh, baik jurusan ke Singapura, Kuala Lumpur dan ke berbagai tempat, Bandara Kota Kinabalu adalah lapangan terbang tersibuk kedua di Malaysia setelah Kuala Lumpur.

Jogie, tak jadi membuka selt belt nya dan dia duduk kembali, karena announcer mengatakan tak berapa lama lagi kita akan mendarat di Lapangan Terbang Bandar Seri Begawan.   Aku tersenyum, karena memang duduk pun belum sempurna lagi kita sudah hampir sampai.

Tiba di affront Bandara aku bergegas ke kounter taxi, karena memang di Brunei tidak ada teman yang di tuju, jadi kami rombongan dari Batam sebanyak tujuh orang berencana menyewa kenderaaan saja yang bisa memuat 9 orang. Dan menginap di Hotel yang memang telah kami ketahui nama dan alamatnya dari internet.

Harga sewa mini bus sudah disepakati, namun perlu di rundingkan terlebih dahulu dengan dua orang teman yang dari Jakarta, Pak Mas’ud dan pak Ikhwan. Kedua teman kami dari Muhammadiyah Jakarta ini adalah dosen.   Kiranya saat di Sabah ada teman pak Mas’ud sesama Dosen yang menelepon dan memberitahukan kedatangan kami, temannya teman pak Mas’ud ini juga seorang Dosen yang mengajar di Institut Teknologie Brunei (ITB), DR Gamal Zakaria namanya, telah belasan tahun bermastautin di sana, tetapi masih tetap warga negara Indonesia , asal dari Bengkalis Kepulauan Riau. “Iya saya pun mengajar di ITB , tapi bukan ITB Bandung” kata Bang Gamal sambil tersenyum

Bersalaman dan berkenalan sejenak dan tahu kami dari Batam, DR Gamal mengajak kami kerumah nya. “Tak payah lah nak sewa taxi dan menginap di Hotel kita kerumah saya saja” Ajak Bang Gamal begitu aku memanggilnya . Pria 40 tahunan ini menelpon seseorang, agaknya soal kenderaan. Menurut Bang Gamal agak susah kalau nak makan sahur di Brunei, apalagi kalau tinggal di Hotel, ” Kalau pun tak nak tidur di rumah saya, tak apalah petang ini kita berbuka di tempat saya, ” ujar Bang Gamal lagi dengan logat Melayu khas Bengkalis nya.

Bang Gama dan Isteri....."lebaran ini kami pulang ke Bengkalis" katanya

Bang Gamal dan Isteri....."lebaran ini kami pulang ke Bengkalis" katanya "Mampir ke Batam ya" ajakku.

Melihat kesungguhan Bang Gamal mengajak ke rumahnya, Kami berangkat meninggalkan lapangan terbang, dengan tiga kenderaan sedan kami meluncur kerumah Dr Gamal, sekitar 30 menit  agak keluar kota, kami tiba di rumah yang cukup besar bertingkat dua. Bang Gamal yang bergelar Datuk ini bersiterikan orang Brunei yang masih kerabat Sultan. “Ini bukan rumah saya, ini rumah kerajaan”  jelas Bang Gamal saat masuk kerumah yang memang diatas bumbung rumah nya itu tertulis R&K. Agaknya singkatan dari Rumah Kerajaan.

Jadi lah petang itu kami berbuka di rumah DR Gamal, di ruang makan diatas meja terletak berbagai macam juadah, yang istimewa ada sekotak kurma pemberian dari Sultan.  “Ini hadiah dari Sultan” ujar Gamal sembari menyodorkan kepada kami untuk di cicipi. Bang Gamal ini sering ke Batam saat Nyat Kadir masih menjabat Walikota, beliau juga teman dekat pak Yusmar. “Salam ya sama pak Yusmar kalau bersua”  pinta Bang Gamal. Dan Bang Gamal pun masih sekampung, sama-2 orang Bengkalis dengan Edy Yatim mantan Pemimpin Redaksi  Harian Batam Pos, yang tentu saja sangat kami kenal.

Jadilah malam itu kami menginap di rumah Bang Gamal, yang telah mempunyai 3 orang anak ini, tiga kamar yang luas yang memang sengaja di persiapkan bagi tamu tamunya, kami tempati.  Sahur hari itu pun kami di tempat Bang Gamal, dengan menu yang berbeda.  Mungkin melihat penasaranku Bang Gamal berkata ” Mertuaku punya restoran, semua makanan ini dari sana”  jelasnya sambil tersenyum.

Surat Terbuka Untuk Pak SBY


Yang terhormat pak SBY.

Aku gak tahu apakah Presiden ku pernah ke sana, atau paling tidak memikirkan hal itu.

Aku gak tahu apakah Presiden ku pernah ke sana, atau paling tidak memikirkan hal itu

Aku adalah rakyat biasa, bukan lah orang yang berpendidikan tinggi seperti mu, aku ingin berkeluh kesah kepadamu, karena sekarang ini Anda adalah presidenku. Orang pertama di Negeri ini, jadi menurutku tak salah kiranya kalau aku menulis surat terbuka ini untuk mu.

Agak sulit rasanya nak berjumpa dengan pembantu – pembantu  Anda. Apalagi dengan Anda sendiri. Sampai mati pun enggak bakalan kayaknya.  Jadi maafkan sebelumnya aku menulis surat terbuka ini untuk mu.  Sedikit yang hendak ku sampaikan kepadamu, menyangkut wilayah perbatasan. Menurutku agak berbeda pandangan orang -orang yang tinggal di perbatasan dengan orang – orang yang tidak diperbatasan.Apalagi seperti di perbatasan Kalimantan sana, satu puak dipisahkan oleh dua negara.

Tahukah anda pak SBY bahwa ribuan kilometer perbatasan yang membela daratan Kalimantan memisahkan puak (suku) yang satu menjadi dua kewarganegaraan?, Konon kabarnya penjajah inggris memisahkan mereka hanya berdasarkan aliran air sungai.

Cobalah sekarang sekali sekali pak SBY terbang rendah di perbatasan itu, kalau Anda terbang dari Barat ke Timur, pandanglah ke kanan ke arah Utara, lihat lah apa yang ada di daratan. Dan pandang pula arah ke Selatan, apa pula yang terlihat.

Anda enggak bakalan bisa jalan di daratan karena tak ada jalan darat yang kita buat meskipun negara ini sudah 65 tahun merdeka, kecuali Anda ingin berjalan kaki. Kayak nya itu tak mungkin bagi seorang Presiden.

Tetapi kalau ingin juga jalan darat, Anda bisa jalan dari Sabah sampai ke Sarawak , jalan itu mulus belaka, tetapi yang buat bukan Kementrian PU kita, jalan ini bisa sampai ke Pontianak. Lihat lah pula berapa banyak pabrik pengelola kayu di sepanjang jalan itu. Aku tak tahu apakah semua kayu yang di olah disitu benar berasal dari Hutan Sabah dan Sarawak saja, atau dari Hutan Borneo.  Lihat lah pula berapa banyak tongkang mengangkut kayu gelondongan di sepanjang sungai itu.

Tak lama koq perjalanan dari ujung negeri Sabah , dimana tak lama dulu dua pulau Sipadan dan Ligitan kini menjadi tujuan wisata, dan banyak ratusan ribu agak nya orang pulang pergi dari negeri itu.  Tak sulit pula menemui mereka hampir seluruhnya dapat berbahasa Jawa sebagaimana bahasa Ibunda Anda.

Kenapa bukan kita saja yang mengelola hutan itu?.  Mengapa bukan kita saja yang mengelola kebun kelapa sawit itu?. Toh hampir semua pekjerja disitu adalah rakyat kita. Tak tahu aku berapa luas kebun kelapa sawit yang membentang mulai dari Sandakan sampai ke Kuching, semua itu di “buat” oleh rakyat kita.

Wahai Presiden ku yang gagah, nyaris tak ada perlindungan terhadap mereka, tenaga kerja legal maupun ilegal yang ada disana, belum lagi masalah pendidikan bagi anak – anak mereka. Bagi mereka yang telah berumah tangga dan bertempat tinggal disana.

Enggak usah cerita tentang pendidikan bagi anak – anak yang terlanjur lahir di sana, apalagi status perkawinan ibu bapa mereka tak sah karena tak tercatat di Departemen Agama.

Sampai kapan hal ini berlangsung, sampai kapan mereka membuang pasport nya setelah tiba disana. Sampai kapan mereka menjadi tenaga kerja murah, yang selalu di kejar – kejar dan benar benar di peras tenaga dan hartanya. Apa memang tak ada yang sanggup untuk mengelola itu wahai pak Presidenku.

Kalau tak ada yang tak perduli dan tak ada yang sanggup untuk mengurusnya,  mungkinkah  biarkan sajalah Borneo bersatu kembali.

Setakat ini dulu surat ku padamu wahai bapak Presiden ku. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ku sampaikan. Maafkan aku sekali lagi kalau ada kata-kata dan susuan abjad yang tak runtut

XPDC to Borneo di Bulan Ramadhan


Buka puasa dengan wafer

Iya buka puasa dengan wafer, tetapi hanya sekedar membatalkan puasa, itulah yang terjadi sesaat kami tiba dengan taxi di terminal kedatangan lapangan Terbang Antarabangsa Sultan Ismail  Johor Bahru Malaysia, Negeri Johor adalah destinasi pertama yang kami lalui dalam rangka perjalanan menuju Borneo (Kalimantan). Yaitu ke Sabah , Brunei dan Sarawak.  Perjalanan ini kami namakan  XPDC TO BORNEO MUHAMMADIYAH INTERNATIONAL.

Berangkat dari Terminal Ferry Internasional Batam  Rabu (18/8) sekitar pukul 4 petang, rombongan kami sebanyak 7 orang tiba di terminal Ferry Stulang Laut Johor Malaysia menjelang magrib.  Ongkos Batam-Stulang Laut pulang pergi seharga rp. 370.000,- perorang nya.

Dengan 2 taxi seharga 50 ringgit Malaysia per taxi nya, dari depan terminal menuju lapangan terbang kami melintasi geliat pembangunan pertokoan di sepanjang jalan, cukup pesat kemajuan negeri Johor Darul Takzim ini.

Hampir 30 menit waktu yang di tempuh, sehingga tiba di Afront hari telah gelap. Untuk membatalkan puasa itulah wafer yang kebetulan ada di tas jinjing menjadi santapan pertama dan tentu nya air aqua. Pak Supir taxi pun ikut berbuka dengan wafer yang kami bawa dari Batam, hem nikmat juga rasanya. Pak Supir orang Malaysia kami orang Indonesia tetapi sama-sama Islam nya.

Restoran di Bangunan Lapangan Terbang Baru.

Agak terkesima juga melihat bentuk megah lapangan terbang antarabangsa Sultan Ismail yang sekarang ini, padahal hanya hitungan bulan saja berlalu,  sewaktu perjalanan dari Bangkok (Swarnabumi) ke Senai (Sultan Ismail), bagasi yang kubawa berhamburan  dan saat menunggu bus yang ke Bandar, ruang tunggu nya begitu kusam.

Mungkin karena baru di buka atau karena bulan Ramadhan belum banyak orang berjualan di dalam terminal, tidak banyak pilihan untuk makan berbuka, apalagi makanan Halal.  Ya terpaksa apa adanya, sepiring mie kuah seharga 7 ringgit (kurs rp.2.700) , sepiring mie goreng, dua mangkok sup tulang sapi , dan tumis sayur kubis, satu porsi ayam goreng  kami pesan, dan tentunya 7 piring nasih putih. Di depan konter pembayaran tertera tulisan Bismillahirahmanirahim, belum ada logo halal disitu. Dan menandakan muslim pelayanan wanitanya memakai kerudung.

Ganti Kartu

Hal yang perlu dilakukan adalah mengganti kartu  seluler (sim card), banyak pilihan di Malaysia, di terminal pun konter penjualan untuk DIGI dan CELCOM ada di jual. 8 ringgit satu sim card sudah ada pulsa sebesar 5 ringgit di dalamnya, untuk topup tambahan sebesar 10 riggit, tetap di bayar 10 ringgit. Pesan orang bijak, lebih murah dan lebih irit menukar kartu di negara yang di kunjungi.

Malam itu kami shalat jamak akhir di Bandara yang bangunan nya serupa bentuknya dengan bangunan Bandara KLIA di Sepang dan bangunan Bandara ini mirip dengan Bandara di Kuching Sarawak dan juga bandara di Kota Kinabalu Sabah.

%d blogger menyukai ini: