• kunjungan

    free counters
  • RSS hang tuah batam

  • Album Foto

  • fans page

  • <script type="text/javascript">var cstrpuid = 234893;var cstrpwidth = "200";var cstrpheight = "130";</script><script type="text/javascript" src="http://cdn.caster.fm/0070B7/widgets/player.js"></script><!-- DO NOT REMOVE THE LINKS BELOW, THEY WILL BE HIDDEN (AND WILL HELP US A LOT) --><a id="cstrplb" href="http://www.caster.fm/">Free Shoutcast Hosting</a><a id="cstrplb2" href="http://www.caster.fm/">Radio Stream Hosting</a><div id="cstrpdiv"></div>

Kamipun Tak Jadi Bermalam di Tuktuk Pulau Samosir Parapat


Tuktuk Pulau Samosir, itulah tempat yang kami susun dan rencanakan untuk bermalam di hari pertama, dalam rangka Program Minal Masjid Ilal Masjid, awal Mei 2018 yang lalu, bersama rekan dari Medan dan dari Malaysia, saya sendiri dari Batam.

Bertemu di Kuala Namu lapangan terbang Medan, berangkat dengan penerbangan pagi dari Batam, sementara rekan dari Malaysia dari KLIA2 juga berangkat pagi, teman yang dari Medan pula bawa Ford. Dari Kuala Namu kami langsung berangkat menuju Pulau Samosir, memang sengaja tidak melalui Tol Tebing Tinggi. Sesampai di Kota Sungai Rampah kami sholat jamak Takdim.

Menikmati perjalanan perkampungan yang dilalui, membeli kerak dan lemang yang dijual di pinggir jalan, merupakan kenangan tersendiri. Beberapa jam kemudian jalanan mulai menanjak. Dari jauh telah terlihat air Danau Toba membiru dengan riak ombak beralun, dan dari jauh terlihat menara masjid, masjid ini terletak di tepi jalan Parapat, acap sholat disitu Masjid Pertama di Parapat Didirikan oleh Bung Karno , bila kebetulan lewat hendak ke Padang Sidempuan.

Kami langsung menuju terminal ferry penyeberangan ke Tomok, hari sudah pukul 17.00 waktu setempat, mentari mulai ke ufuk Barat tiba di Tomok, belok ke kiri, kami lalui Tomok menuju Tuktuk, sebuah kedai makan baru dibuka kami makan disitu, penjualnya malah berbahasa Jawa berasal dari Pematang Siantar, persis disebelah kedai makan itu ada restoran tertulis masakan Muslim, tetapi di plank namanya ada gambar Beer.

Banyak hotel penginapan di Tuktuk, mungkin karena bukan hari libur banyak pula kamar yang kosong, kami bertanya dimana lokasi masjid. Ternyata di Tuktuk Siadong Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara Indonesia ini tidak ada Masjid. Yang ada sebuah surau kecil yang terletak dibelakang Kantor Dinas Pariwisata di Tuktuk. Tidak ada plank nama surau, dipersimpangan tiga satu dijalanan menurun kebawah dan satu mendaki keatas disitulah letak surau yang akan kami tuju.

Sungguh tempat itu sangat tidak layak, kenderaan kami parkir dihalaman Kantor Dinas Pariwisata itu, tak ada orang untuk bertanya, seorang perempuan, yang kebetulan lalu kami tanya dimana suraunya, dia menunjuk kebelakang sekitar seratus lima puluh meter katanya. Kami berjalan diantara bangunan yang sudah kosong tidak terurus dan tidak ditempati, ditumbuhi semak dan sampah berserakan, melalui jemuran baju dari tali plastik berseliweran, kami menunduk nunduk berjalan tak juga bertemu juga bangunan surau.

Kembali lagi ke depan bertanya lagi dengan seorang bapak yang memandangi kami, terus saja ke belakang katanya. Dan kami ulangi lagi menyusuri jalanan itu tadi, ada parit terbuka, di depan bangunan kosong disebelah nya tembok, terpaksa menyingsing kaki celana karena parit itu kotor, terlihat sebuah bangunan sekitar ukuran 5 x 5 meter catnya masih baru, disebelah kanan depan pintu masuk ada tempat wuduk dua kerangan dan toilet, sementara sebelah kiri depan pintu masuk ada bangunan yang dindingnya bersatu dengan dinding surau tempat sang Imam dan keluarganya tinggal.

Azan magrib berkumandang kami sholat magrib berjamaa, hanya empat orang dewasa yang ada bersama kami, dan setelah itu kami sholat Isya. Selepas itu kami berbincang dengan Imam Surau itu, dan Ia mengatakan walaupun namanya surau tetapi ditempat itu dilaksanakan sholat Jumat, “Tidak boleh dinamakan Masjid” akunya.

Lumayan puluhan orang jamaah sholat jumat kata Imam yang juga sebagai penyuluh Agama honorer di Kantor Urusan Agama Kecamatan itu, ia bersama isteri dan anaknya sudah empat tahun tinggal disitu. Surau itu dulu dibangun oleh seorang pengusaha yang juga pejabat yang memiliki hotel, karena banyak tamu tamunya Islam dari luar daerah dia dirikan tempat sholat. Akses jalan dulunya dari lokasi hotel, tetapi sekarang jalan kesitu sudah ditutup dipasang tembok, jadi terpaksa harus melalui jalanan kotor yang tak layak tadi.

Sebenarnya Konsorsium dari Perbankan Syariah sudah menyiapkan dana untuk membangun masjid yang layak di lokasi pariwisata Tuktuk yang terkenal itu, lokasinya pun sudah disipakan, sekitar 300 meter dari lokasi surau yang sekarang, mereka belum mendapatkan izin dari Pemerintah setempat menyangkut ketentuan pendirian rumah ibadah SKB dua Kementrian. Hingga kini sudah dua tahun belum ada kabar beritanya.

Kami tak ada data berapa banyak turis datang dan menginap di Tuktuk, daerah yang menjorok ke tengah Danau Toba ini, terutama turis muslimnya seperti kami, yang tidak hanya untuk berwisata saja tetapi tentu menjalankan ibadahnya.

Begitupun makan,  hendaklah hati hati sebagaimana pesan sang Imam, mereka terkadang mencantumkan saja masakan muslim, harus diteliti betul belum ada lembaga halal disana yang bergerak.

Setelah berunding dengan rekan dari Malaysia, malam itu kami putuskan tidak jadi nginap di Tuktuk, salah satu tempat yang indah untuk berwisata, kami berangkat menuju Pangururan, disana ada sebuah masjid yang bersih terletak persis disamping Rumah Bupati ditepi Danau Toba, ada Penginapan dan Rumah Makan Muslim.

Selamat tinggal Tuktuk, maafkan kami tak jadi bermalam disana, untuk selanjutnya ramahlah sedikit terhadap kami.

 

 

 

 

Ustadz Fadlan, Mengangkat Harkat dan Martabat Muslim Nuu War


604068_819605374720202_349000249_nYang tepat sebutan itu Nuu Waar, ujar ustadz Fadlan kelahiran Fak Fak Papua ini, empat hari di Batam sejak kamis hingga Ahad minggu lepas, beberapa masjid dan majelis taklim di kunjungi beliau.

Suaranya mengelegar saat khotbah Jumat di Masjid Raya Batam Center, jamaah terkesimah, menahan nafas dan berlinang air mata, sosok perawakannya, besar, hitam, keriting mengingatkan kita kepada sahabat Rasululah SAW, Bilal bin Rabah ra.

Ratusan tahun sejak 1885 Kristen masuk ke bumi Papua, mereka dibiarkan tak bercelana, koteka adalah budaya alasannya. Minyak babi melumuri seluruh raga, untuk melindungi sejuknya udara, gigitan nyamuk mendera sepanjang usia mereka, padahal itu bukan solusinya.

“Sabun, Shampo, sikat gigi dan odolnya” itulah senjata dakwah ustadz Fadlan, tanpa iming iming, tanpa paksaan ikhlas dengan pendekatan. Dia pun mendapat gelar ustadz Sabun.

Kini telah ratusan ribu mereka saudara baru kita itu, memakai baju walaupun ada yang alakadarnya, dan terlihat masih sebahagian shalat tanpa busana.

Tak apalah. “Kumpulkanlah akan kami kirim ke Papua” ujar ustadz menghimbau jamaah. Baju bekas layak pakai, masih sangat dibutuhkan disana. “Sebagian dari mereka, sementara ini kami kenalkan pakaian dari pelepah pisang” ujar ustadz Fadlan mengatasi bahan menutup aurat ini.

Banyak kisah suka duka dialamai ustadz yang tiga kali masuk penjara tanpa proses, buahnya ratusan masjid sudah berdiri dipelosok tanah Nuu Waar. “Penduduk Muslim Nuu Waar, adalah ummat pertama yang shalat subuh di Nusantara ini” (imbalo)

HIMBAUAN.
Jamaah masjid yang dirahmati Allah. Mari kita sukseskan GERAKAN PEDULI MUSLIM NUU WAAR
– Sepasang Kambing Satu Masjid. Menggantikan babi, sebelum muslim mereka ternak.
Dapat menghubungi Takmir Masjid setempat –

 

Batak Tetapi Mengapa Tidak Bermarga?


Di Batam sejak puluhan tahun yang lalu telah bermukim suku Batak. Ada yang datang dari Medan, dan ada yang melalui Dumai atau Pekanbaru. Nah komunitas Batak Islam yang di Batam ini mendirikian satu perkumpulan yang bernama  Ikatan Keluarga Batak Islam (IKBI) Batam.

Banyak dari mereka yang tergabung dalam perkumpulan ini tidak mencantumkan marga di depan namanya. Salah seorang  yang bernama Imbalo ini hehehehe. Mengapa ?…… ada alasan tersendiri karena menyangkut urusan agama.

Menurut Effan, sebagaimana emailnya perlu ada kajian antara adat dan agama (Islam) : “Tetapi  karena sebagian besar warga sudah menjadi Muslim, maka perlu ada kajian hubungan Islam dengan keberadaan adat itu sendiri. Dan salah satu permasalahan ‘besar’ yang cukup berat ialah masalah penambahan nama ‘suku’ atau marga atau nama ‘nenek moyang’ setelah nama dirinya”.

Dijeaskan Effan dengan panjang lebar argumentasinya sbb :

“Masalah penambahan nama nenek moyang dan bukan nama orang tua langsung pada nama setiap orang lalu dikaitkan pula dengan hubungan adat dan agama, inilah seyogianya dirasa perlu merujuk pada ajaran Islam itu sendiri”.

Effan pun mengutip ayat Quran :

“Sebagai contoh menururt Al Quran ada suatu kewajiban dalam hal penggunaan nama sendiri ditambahi dan menambah nama ‘orang tua’ atau bapak-nya dan bukan nama atau identitas suku atau marga atau nama nenek moyangnya sendiri”.

” Mari kita simak QS. 33:5″   ujar Effan lagi :   “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” .

Menurut Effan tak baik pengkultusan dalam mencantumkan marga :  “Jika penambahan identitas nama atau suku atau marga dilihat dari kaca mata ajaran Islam, maka sudah nampak kecendrungan ke upaya ‘kesakralan’ atau pengkultusan sesuatu yakni nama suku atau marganya atau nama nenek moyang kita”.

Masih menurut Effan lagi dalam Islam tidak ada larangan menikah semarga :  “Akibat yang cukup mendasar dari penampakan identitas marga atau suku tersebut adalah dengan adanya ketentuan atau rumusan adat seperti tidak boleh kawin semarga atau sesuku. Pada hal dalam Islam tidak ada larangannya seseorang lelaki dengan perempuan yang berasal dari satu marga semacam itu”.

Kewajiban memberikan marga :  “Atau akibat lainnya, kalau seseorang itu belum bermarga karena berasal dari suku lain, lalu akan dikawinkan maka ada suatu kewajibkan baginya untuk dipasangkan atau diangkat menjadi warga suku atau marga tertentu pula”.

“Atas dasar sederhana tersebut, maka dirasa sudah perlu untuk kita kaji kembali masalah hubungan adat dengan ajaran agama khususnya Islam. Salah satu contoh penting kita kembali menerapkan identitas nama ‘bapak’ kita secara langsung itu lebih baik dari pada nama ‘nenek moyang’ kita dimana kita tak jelas riwayatnya, Muslim atau bukan”. Tulis Effan dengan panjang lebar

Karena pendapat saya di atas, maka saya mohon maaf jika tidak berkenan untuk dikemukakan”. ujar Effan mengakhiri tulisannya.

Tetapi saya Imbalo tidak tercantum marga di akhir nama bukan karena itu…..

Angin Bahorok


Bahorok kabupaten langkat sumatera utara, hembusan angin panas dari samudera hindia ke pengungungan bukit barisan di lembah bahorok yang sejuk . terkenal dengan ANGIN BAHOROK nya.

Bahorok kabupaten langkat sumatera utara, hembusan angin panas dari samudera hindia ke pengungungan bukit barisan di lembah bahorok yang sejuk . terkenal dengan ANGIN BAHOROK nya.

Mau tahu bagaimana dahsyatnya Angin Bahorok, agaknya boleh lah ditanyakan kepada El Manik. Karena El Manik lahir dan dibesarkan di Bahorok.

Bahorok adalah sebuah kecamatan  di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Indonesia. Beribukota di kelurahan Bahorok,sebagian wilayah kecamatan ini terletak di dalam Taman Nasional Gunung Lausser termasuk Bukit Lawang. Merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Langkat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. (wikipedia)

Acap pergi ke Turangi dan Bukit Lawang, Bukit Lawang pula adalah nama tempat wisata, yang terletak 68 km sebelah barat laut Kota Binjai dan sekitar 80 km di sebelah barat laut kota Medan. Bukit Lawang termasuk dalam lingkup Taman Nasional Gunung Lausser yang merupakan daerah konservasi terhadap  Oran Utan.

Beberapa tahun lalu tepatnya pada tanggal 2 Nopember 2003, Bukit Lawang dilanda tragedi banjir bandang yang menyebabkan ratusan rumah penduduk serta wisma-wisma penginapan di tepian Sungai Bahorok hancur lebur. (wikipedia) .

Disana ada pakcik kami yang bekerja di perkebunan Karet, tetapi saya belum pernah ke lokasi lembah Bahorok, meskipun jarak nya dari Bukit Lawang tak begitu jauh.

Karena untuk mencapai tempat perputaran angin itu,  yaitu perputaran angin yang bertiup dari Samudra Indonesia ke lembah Bahorok di kaki gunung Lauser itu, memerlukan waktu berjam-jam lamanya dengan berjalan kaki. “Tak ada kenderaan kesana” ujar Iwan.  “Kalau hendak kesana ada penunjuk jalan, orang setempat” jelas Iwan lagi kepada ku.

Melalui jalan setapak , setelah tempat penangkaran orang hutan Bukit Lawang, lereng bukit terjal telah menunggu. Kalau diambil garis lurus jarak ke tempat yang dituju hanya 6 (enam) kilometer saja.

Fenomena Angin Bahorok

Angin Bahorok sebenarnya adalah angin Fohn yang terjadi di Deli Sumatera Utara. Fenomena terjadinya angin Bahorok ini tidak terlepas dengan terjadinya angin Monsun Tenggara, yang di Sumatera Utara berubah menjadi angin monsun Barat Daya.

Angin Bahorok adalah massa udara yang telah kehilangan uap airnya dibagian atas angin dari pegunungan, jatuh dengan kecepatan besar di sebelah bawah angin dari pegunungan itu sebagai angin panas yang kering. Terjadinya angin bahorok oleh karena gerakan massa udara (angin Monsun, Gambar terlampir) ditahan oleh pegunungan bukit barisan sehigga udara itu dipaksa naik ke atmosfir lebih tinggi dan dipaksa melakukan kondensasi, dimana gradien temperatur udara basah lebih kecil dari pada gradien temperatur udara kering. Kondensasi yang terjadi oleh pendakian udara basah akan melepaskan sejumlah panas latent (yaitu panas uap) dan panas ini diterima oleh udara itu sendiri (proses adiabatis). Oleh karena itu disamping terjadi pendinginan selama pendakian udara itu juga mengalami pemanasan dari penyerahan panas latent itu, sehingga gradien temperaturnya berkurang. Gradient temperatur adiabatik kering 0,9 ° C/100 meter dan gradient adiabatik basah 0,6 ° C/100 meter.

Fenomena ini dapat diperjelas sbb;
Udara bertiup (angin monsun barat daya, Gambar terlampir) dari pantai barat Sumatera Utara mendaki pegunungan bukit barisan, dipaksa melakukan kondensasi, sepanjang jalan dan disana sini uap air jatuh menjadi hujan atau tinggal sebagai awan. Jika sebelum udara melewati puncak bukit barisan seluruh uap air tinggal sebagai awan atau jatuh sebagai hujan suhunya akan turun 0,6 ° C/100 meter, sedangkan udara yang tinggal akan terus bergerak dengan kecepatan tinggi melewati bukit barisan dan akan turun ke pantai timur Sumatera Utara, dimana suhunya akan naik 0,9° C/100 meter penurunan . Dengan demikian udara yang sampai di daratan pantai timur (bawah angin) akan menjadi lebih panas dan kering dari asalnya.

Fenomena ini dapat dicontohkan dengan angka-angka sbb(seperti Gambar terlampir);
Pada bulan April-Oktober bertiup angin monsun barat daya di Sumatera Utara mendaki lereng bukit barisan mengandung uap air yang tinggi dari lautan Hindia. Jika tinggi bukit barisan ± 2500 meter dari permukaan laut dan Langkat 100 meter dpl, seandainya suhu awal dipantai barat 28,0 ° C maka selama pendakian temperatur turun menurut adiabatik basah (0,6° C/100 meter), sehingga suhu dipuncak bukit barisan menjadi :

Tp = 28,0 – 2500 x 0,6/100 = 13 ° C.

Penurunan massa udara dari puncak pegunungan menuju Langkat suhu akan naik menurut adiabatik kering (0,9 ° C/100 meter) sehingga suhu di Langkat menjadi

T = 13 + (2500-100) x 0,6/100 = 34,6 ° C.

jadi suhu yang tadinya 28.0° C setelah melewati gunung berobah menjadi 34,6° C di Langkat. Pada gerakan menurun bawah angin dipercepat lagi oleh gaya beratnya sendiri sehingga gerakan jatuhnya menjadi lebih kencang, oleh pemampatan massa udara akan menjadi lebih panas lagi. Akibatnya akan memperbesar laju evaporasi dan transpirasi, sehingga tembakau yang masih muda akan langsung layu. Karena arahnya selalu dari barat daya dari Langkat, dan disana ada desa Bahorok, maka disebut orang Angin Bahorok.

Cassa 212 – 200

“Bila musim hujan seperti ini, cuaca disana cukup ekstrim” kata pak Usman, seorang penduduk yang lama menetap di Bahorok. “Angin berputar-putar macam ular” kata pak Usman lagi. Pak Usman pun bercerita dulu di sekitar lembah Bahorok yang subur itu ada perkebunan Belanda.  Tetapi kini sudah menjadi hutan belantara karena sapuan Angin Bahorok.

Itu lah agaknya membuat tim evakuasi harus berhati – hati, karena angin tak dapat diprediksi, sewaktu – waktu berhembus dengan kencangnya.

Dan karena terlalu berhati – hati tu pula agaknya yang membuat berang keluarga korban, padahal lokasi tempat pesawat itu jatuh telah diketahui dan terlihat. Konon ada panggilan telepon beberapa saat setelah pesawat itu jatuh, yang menandakan ada yang masih hidup.

Namun,  Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya TNI Daryatmo memastikan seluruh penumpang tewas.  Pesawat Cassa 212-200 milik PT Nusantara Buana Air (NBA) diketahui membawa 14 penumpang dan 4 kru. Proses evakuasi pun sempat terhenti jumat,  akibat hujan deras.

Kini seluruh penumpang Cassa 212-200 milik PT Nusantara Buana Air (NBA) yang jatuh di Pegununan Bahorok beberapa waktu lalu dipastikan tewas. Apatah kesal keluarga yang telah menanti-nanti kabar pun histeris.

Keluarga yang sengaja berkumpul untuk mendengarkan kabar ini langsung menangis histeris. Bahkan sejumlah kerabat pingsan tak kuasa mendengar kabar menyedihkan.  Sejumlah ibu-ibu bahkan terpaksa dibopong untuk mendapatkan perawatan. Mereka tidak mampu berkata-kata kecuali meneteskan air mata.

Kalau kita baca di beberapa situs internet  ada juga seorang ibu yang tampak emosi mendengar kabar ini. Perempuan berjilbab itu terus-menerus memprotes soal lambannya pertolongan untuk mencoba menyelamatkan para penumpang.

Ibu ini pun sempat tampil di layar tv Metro pagi, ia minta di ikat dan diterjunkan ke lokasi, karena tim evakuasi tak sanggup untuk lokasi pada hari Jumat.

Kita ucapkan Innalillahi wa innailaihirojiun, semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi.

Al – Fatihah Untuk Almarhum Si Singamangaraja XII


Al – Fatihah, bacakan lah untuk almarhum pinta Aba Ari padaku melalui henpon nya. Aba Ari yang telah berumur 74 tahun ini tinggal di Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu beliau “bertemu”  dengan seseorang yang mengaku bernama Si Singamangaraja XII .

Setelah ia membaca tulisan yang ada di blog ku yaitu Si Singamangaraja XII; Gugur Sebagai Pahlawan Islam  dan menuliskan komentar  sbb :

” Sebelumnya, abah minta maaf kepada penulis artikel ini, abah lancang ikut menulis komentar yang hanya sekedar himbauan bagi yang seiman, marilah kita mendoakan bagi roh para pahlawan kita yaitu ( Opung panggilan hormat pada beliau) Si Singamangaraja, XII beserta anak2nya Patuan Anggi, Patuan Nagari dan Putri Lopian, yang semua gugur dalam pertempuran melawan penjajahan belanda thn 1907.

Doa Secara Islami, Inalillahi wa ina illaihi rojiun. Semoga Roh Mereka berempat diterima oleh ALLAH SWT, diampuni segala dosanya selama hidupnya dan diterima amal ibadahnya.

Himbauan ini berdasarkan keyakinan abah,  bahwa keyakinan Opung semasa hidupnya adalah muslim sejati, ini semua adalah pengakuan almarhum OPUNG kepada abah, secara pribadi (bathiniah).

Semua karena berdasarkan keyakinan abah kehadirat ALLAH SWT, dan semua adalah berkat RahmatNYA, serta Qodrat dan Irodat serta ilmunya ALLAH, semua bisa terjadi dalam pengalaman perjalanan spiritual abah, dalam thn 2011 ini.

Maafkan abah harus menyampaikan semua ini, karena merupakan Amanah. Dosa bagi abah kalau amanah ini gak disampaikan pada saudara2 yang seiman.

Terima kasih atas perhatian dan mohon maaf kalau tidak berkenan di hati anda. Wasalam . Dan salam kenal abah ar4chie ato abah ari.- aki2.”

Selanjutnya Aba Ari menulis lagi :

“Asalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Bung Imbalo, mudah2an anda tetap sehat dan fit, dalam menjalankan ibadah puasa ini. Kalau anda tidak berkeberatan,  bisa kontak langsung dengan anda gak via HP?.

Maksud Abah ingin berkenalan/ silaturahim.  Ini no HP Abah Flexi 021 33043224. Abah Ari;

Terima kasih atas perhatiannya..wasalam”

Bagi rekan dan pembaca yang ingin berhubungan dengan Aba Ari silahkan kontak langsung dengan beliau.

Semalam Di Medan


monumen guru patimpus

monumen guru patimpus

Tiga orang teman dari Malaysia yaitu Prof. Zulkifli, DR. Hasyim dan Ustadz Abdul Wahab sengaja datang ke Medan, akhir Mei kemarin. Agenda bertemu dengan Pak Din Syamsudin yang kebetulan akan menghadiri Ta’aruf pimpinan wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara.

“Kalau boleh datang lah” tulis pak Wahab dalam SMS nya kepadaku. Pak Wahab tahu kalau aku berasal dari Medan meskipun kini tinggal di Batam. “Jadi boleh lah bawa kami” tulis pak Wahab lagi berbasa basi.

Malam itu kami menginap di Madani Hotel Medan, hotel ini terletak jalan Sisingamangaraja / Amaliun. Hotel Muslim pertama bintang empat di Medan dibawah manajemen syariah. Hotel yang terletak persis di depan Masjid Raya Al Ma’sum Medan ini mayoritas tamunya berasal dari Negara tetangga Malaysia.

Agaknya kedekatan antara Medan dengan Pulau Pinang Malaysia, hanya sekitar 25 menit dengan penerbangan low cost. Hotel Madani yang syariah dan terletak di tengah pusat kota ini benar-benar menjadi tempat alternative.

Terasa sekali suasa melayu di hotel itu, dari Sisha Lounge mengalunkan irama melayu. Bahkan tukang parkir semua berbicara dalam dialek melayu.

Guru Patimpus.

Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah orang yang dikenal sebagai pendiri Medan Sumatera Utara. Guru Patimpus lahir di Aji Jahe dataran tinggi Karo sekitar abad ke-16. Menikah dengan seorang putri Raja Pulo Brayan dan mempunyai dua anak lelaki. Guru Patimpus adalah pemeluk Agama Islam yang taat.

Setelah menikah, Guru Patimpus dan istrinya membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dengan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan dan tanggal kejadian itu 1 Juli 1590 adalah sebagai hari jadi kota Medan.

Malam itupun kami nikmati penganan yang seleranya tak jauh beda. Mungkin racikan bumbu yang terasa lebih legit. Di Pujasera terletak samping kiri Hotel Madani. Menyajikan aneka makanan nusantara.

Sembari bercerita tentang Medan Jus Martabe yang dipesan telah datang. Martabe adalah istilah yang di populerkan oleh almarhum Gubernur Raja Inal Siregar. Martabe singkatan dari Marsipature hutana be yang berarti Membenahi Kampungnya Sendiri itu menjadi nama minuman campuran buah Markisa dengan Terong Belanda.

Rasa khas campuran kedua buah yang memang khas Medan ini rupanya menjadi minuman kesukaan teman-teman dari Malaysia.

Perut kenyang kami beranjak ke Hotel, terngiang obrolan tentang masjid yang di bongkar paksa oleh oknum TNI . Begitupun Gubernur SUMUT non aktif yang sedang tersandung kasus korupsi, kini terbaring sakit.
Mungkin dulu, tak terpikir oleh Guru Patimpus kota Medan seperti sekarang ini, sehingga tak lah beliau atau juriatnya menyiapkan tanah untuk pemakamannya.

Hinggalah kehari ini tak jelas dimana kubur Guru Patimpus pendiri kota Medan itu. Ada yang mengatakan, kubur Guru Patimpus di Kecamatan Hamparan Perak Deli Serdang dan kubur itu diketemukan pada bulan Juli 2010 yang lalu , jadi setelah 420 tahun berlalu

Papan Reklame Hari Kiamat di Batam


Kalau yang ini papan reklame hari kiamat tanggal 21 mei 2011 yang bertebaran terpasang di Batam

Kalau yang ini papan reklame hari kiamat tanggal 21 mei 2011 yang bertebaran terpasang di Batam

Wahai orang Batam bersiap-siaplah karena pekan depan,  Sabtu 21 Mei 2011 akan kiamat. Papan Reklame berbunyi seperti itu banyak terpasang  di Sepanjang Jalan di Batam.

Di Dubai dan Yordania, papan reklame jenis ini disingkirkan oleh otoritas setempat.

Di Palestina, papan reklame tersebut terpasang di pintu masuk kota Nablus, Bir Zeit, Tepi Barat dengan isi tulisan dalam bahasa Arab yang menyatakan: “Hari kiamat tanggal 21 Mei … Injil menjamin itu!”, serta tertulis juga alamat situs Familyradio.com sebagai pihak yang bertanggung jawab akan papan reklame tersebut.

Seorang bloger Palestina bernama Munir Al-Jaghub menuntut pihak berwenang untuk mencopot semua papan reklame “hari kiamat” tersebut. Bloger Palestina itu menegaskan bahwa pernyataan dalam papan reklame milik organisasi kristen itu sangat bertentangan dengan keyakinan umat Islam serta merugikan perasaan umat Islam, dan mengatakan bahwa dirinya telah meminta tanggapan dari teman-teman kristennya tentang hal ini, dan teman-temannya dengan tegas menyatakan bahwa papan reklame itu sebagai sebuah “omong kosong”.

Menurut mereka hanya Allah saja lah yang tahu kapan kiamat akan datang.

Familyradio.com sendiri merupakan sebuah situs stasiun radio “misionaris” yang berbasis di Ohio, Amerika Serikat. Di Batam, Familyradio.com dapat di dengar melalui 107 FM . 

Kelompok Gereja

papan reklame kiamat tanggal 21 mei 2011 yang terpasang di Palestina

papan reklame kiamat tanggal 21 mei 2011 yang terpasang di Palestina

Adalah Marie Exley, veteran Angkatan Darat AS yang gencar mengkampanyekan peringatan kiamat ini. Exley adalah anggota gereja independen AS yang berkotbah melalui siaran radio dan Internet. Kelompok gereja ini mengklaim mendasarkan ramalannya pada Alkitab.

Mereka gencar menyebarkan pesan kiamat melalui papan reklame, bangku-bangku di halte bus, karavan, dan mengerahkan sukarelawan menyebarkan pamflet-pamflet di berbagai sudut kota, dari Bridgeport hingga Little Rock, Arkansas. Untuk menyebarkan pesan itu di luar AS, mereka bahkan punya kelompok sukarelawan yang akan berkeliling Afrika dan Amerika Latin.

“Banyak orang mungkin berpikir: kiamat akan datang, ayo berpesta. Tapi kami diperintahkan Tuhan untuk memberi peringatan,” kata Exley. “Aku bisa saja seperti orang lain, tapi akan lebih baik tahu ketika kiamat tiba, Anda tahu, Anda akan selamat.”

Pada bulan Agustus, Exley meninggalkan rumahnya di Colorado Springs, untuk bekerja di sebuah radio komunitas di Oakland, California. Radio tersebut adalah radio pelayanan Kristen yang dipimpin Harold Camping– orang yang paling bertanggung jawab atas ramalan akhir zaman versi ini.

“Jika Anda masih ingin mengatakan kami gila, silakan. Tapi tidak ada salahnya untuk melihat pesan ini,” kata Exley. Harold Camping (89) yakin Alkitab pada dasarnya memiliki fungsi sebagai kalender kosmik yang menjelaskan dengan pasti hal-hal yang bisa diramalkan. Pensiunan insinyur itu mengklaim kalkulasinya didasarkan pada Alkitab.

Berbagai peristiwa eksternal, seperti berdirinya negara Israel pada 1948, menurutnya adalah tanda-tanda yang mengkonfirmasikan akurasi kalkulasinya. “Tanpa keraguan, aku berpendapat 21 Mei adalah hari pengangkatan dan penghakiman,” kata dia. Camping percaya, di bulan Oktober 2011, orang-orang yang beriman akan dibawa ke surga dan para pendosa tetap berada di Bumi untuk menerima siksa.  Bagaimana jika 21 Mei berlalu tanpa ada apapun?  “Kalau 21 Mei berlalu dan aku masih di sini, berarti aku tak diselamatkan. Apakah itu berarti firman Tuhan tak akurat? Tidak sama sekali,” dia berkilah.

Prediksi Camping tak diamini banyak gereja lainnya. Kata mereka, tak seorangpun yang bisa memastikan hari atau jam semesta akan berakhir.Ramalan ala Camping bukan hal baru. Seorang pemimpin kelompok Baptis, William Miller pernah meramalkan dunia berakhir 22 Oktober 1844 silam, namun toh matahari masih bersinar terang sampai hari ini.

Kita tunggu pekan depan, berapa banyak orang yang akan diselamatkan. Sebagaimana pesan pada papan reklame itu yang mengklaim tanggal 21 Mei akan menjadi hari penghakiman sesuai menurut ‘nubuat’ dari Injil. 

Balada Anak Pulau : Nelayan di Angin Utara


naik bot mengantar ustadz.....

naik bot mengantar ustadz.....

Selat Desa

“Sekarang ni pun  dah tak ada lagi persedian” kata Nadi kepada kami saat berkunjung ke Selat Desa. Selat Desa adalah sebuah perkampungan Nelayan yang tak jauh dari Pulau Batam. Ombak di perairan Selat Desa, Pulau Kubung, Pulau Todak , Pulau Seribu  dan pulau pulau sekitarannya cukup besar, mencapai   3 meter.

Tak banyak Nelayan Suku laut yang tinggal di Selat Desa hanya beberapa keluarga saja, salah seorang nya adalah Nadi, Nadi adalah menantu Mak Dayang. Di Selat Desa kami bangun sebuah mushala kecil,  mushala itu  terletak persis di pinggir pantai, di mushala itu lah kami berbincang sembari terlihat air laut mulai pasang naik.

“Kalau sudah seperti sekarang ini (angin utara) susah nak melaut” timpal Nadi lagi.   Tak tahu apa yang akan di kerjakan, kemarin petang (25/01) dua orang wanita anak beranak meninggal dunia akibat amukan ombak. Sudahlah ombak besar di timpali pula gelombang dari ferry Tanjung Pinang – Batam yang melintas  di perairan itu.

Di mushala itu kini bermukim ustadz Hadi dari Medan, jadi salah satu tujuan kami datang ke Selat Desa itu adalah mengantar ustadz Hadi, ustadz Hadi akan mengajar agama Islam kepada Suku Laut Muslim disitu.

Kami tinggalkan ustadz Hadi dan Nadi karena hari sudah mulai petang, dengan bot pancung pak Awang Belanda mesinnya  Yahama 40 PK  kami tempuh ombak yang cukup tinggi.

Mendekati perairan pulau Kubung terlihat Pulau Todak , terbayang bagaimana Una (55) dan Mina (19) meregang nyawa di hantam ombak  tinggi dan hujan deras. Dan terbayang pula bagaimana perjuangan  anak perempuannya yang seorang lagi tetap mempertahan kan jasad ibu dan adik nya agar tidak hanyut dan tenggelam ke dalam laut. Hemmmm. aku menarik napas panjang, “mereka masih saudara kami” kata Poni dari Pulau Air Mas.

Pulau Lingka

Di Pulau Lingka Sagulung Batam,  ada ustadz Masri asal Nias Gunung Sitoli kini bermukim. Ustadz Masri ini pun adalah Dai yang di tempatkan oleh AMCF.  Di Pulau Lingka yang terletak bagian Barat Batam ini tak banyak keluarga Suku Laut yang muslim, disana  hanya ada sekitar 5 keluarga saja.  Di Pulau Lingka kami bangun sebuah mushala kecil seperti di  Selat Desa Ngenang. Di seberang pulau Lingka terdapat pulau Bertam, terdapat sebuah masjid di pulau Bertam, penduduknya terdiri dari Suku Laut , lebih 50 % beragama Islam.

Tak jauh dari mushala yang kami namakan mushala TAQWA itu  ada sebuah  gubuk kecil ukuran 3 x 4 meter , disitulah ustadz Masri tinggal. Persis di depan Pulau Lingka terletak Pulau Gara, di Pulau Gara pula  seluruh Suku Laut yang menetap disana adalah muslim.

Kehidupan nelayan disitu pun tak jauh berbeda dengan di Selat Desa, malah boleh dikatakan lebih parah lagi. Akibat ratusan galangan kapal yang memanjang sepanjang garis pantai  Pulau Batam dan Pulau Pulau disekitarnya, air laut tak memungkin lagi menjadi tempat ikan berkembang biak. Kapal ribuan ton dibina,  berlabuh dan diperbaiki tak terhitung berapa banyak jumlahnya.

Kalau dulu pemuda nelayan disitu menyelam menangkap ketam dan unduk unduk (kuda laut), kini mereka beralih profesi menjadi penyelam besi bekas potongan pembuatan kapal. Celakanya besi scrap itu ternyata menjadi masaalah. Terkadang mereka berhadapan dengan moncong senjata dari aparat yang menjaga area.

Kemarin pula  saat kami mengantar  ustadz Masri, 4 orang pemuda Pulau Gara tertuduh mengambil potongan  besi yang sudah “tercampak”  ke dalam laut. Kini mereka di dalam “pengawasan” kepolisian.

pelantar pulau kubung depan, di depan terlihat pulau todak.....

pelantar pulau kubung , di depan terlihat pulau todak...

Pulau Teluk Nipah

Paulau Teluk Nipah terletak sekitar 4 mil dari Kampung Baru Pulau Galang Baru, untuk mencapai Pulau Galang Baru harus melalui jembatan 6 (enam) terlebih dahulu, tak jauh dari Pulau Teluk Nipah itu terletak Pulau Nanga, Pulau Sembur dan arah ke Timur adalah Pulau Karas.

Di Pulau Teluk Nipah ini pun banyak orang  Suku Laut bermukim, sekitar 20 tahunan yang lalu mereka di mukimkan disitu, saat itu penguasa Batam adalah alm. Mayjen Soedarsono. Dari puluhan kepala keluarga yang tinggal disitu  hanya sekitar 7 kepala keluarga saja yang beragama Islam.

Di pulau itu kini ada ustadz Dari, ustadz asal Medan ini sementara tinggal bersama pak Abdullah, pak Abdullah pria tua usianya sekitar 70 tahun asal Flores yang sudah berpuluh tahun menetap disana , matanya telah buta tak dapat melihat lagi, berjalan pun Ia dituntun.  Pak Abdullah ini lah yang mewakafkan sebidang  tanahnya untuk kami bangun sebuah mushala kecil.

Kini anak anak Suku Laut yang muslim telah dapat belajar mengaji dengan ustadz  Hadi, mereka tidak lagi harus pergi ke pulau Nanga berciau. Kalau hari hujan dan gelombang seperti saat ini, jangan kan menyeberang laut, nak berangkat ke mushala di dekat rumah saja  berat rasanya.

Sejak sepekan ini hujan turun tiada henti, hampir seluruh wilayah Batam hujan turun terus menerus. “jadi pak RT dari Melagan tak dapat datang” kata ustadz Dari via ponselnya. Pak RT Pulau Melagan ini adalah yang membangun mushala dan rumah untuk ustazd Dari. Pulau Melagan pula terletak antara Pulau Karas dengan Pulau Teluk Nipah.

Pulau Boyan

Memang dalam  pekan terakhir ini kami rada sibuk, maklum kami kedatangan tamu, yaitu ustadz kiriman AMCF dari Jakarta. yang akan di tempat kan di pulau pulau terpencil di kepulauan Riau.   Ada yang akan ke Natuna, Lingga, Tanjung Balai Karimun dan di kepulauan Batam sendiri.

Salah satunya adalah ustadz Tasman. Ustadz yang masih belum berkeluarga ini di tempatkan di Pulau Boyan. Pulau Boyan tak berapa jauh dari Senggulung atau Pulau Buluh. Di Pulau Boyan itu kami dirikan juga sebuah mushala, sama bentuk dan ukurannya dengan yang di Pulau Lingka.

Di Pulau Boyan ada Pak Panjang, pak Panjang ini adalah orang Suku Laut lelaki yang paling tua agaknya.  Dia lah yang menganjurkan kan kepada kami untuk mendirikan mushala disitu.

Tidak semua suku laut di Pulau Boyan yang kecil itu beragama Islam. Ada keluarga yang ibunya Islam tetapi anak anaknya sudah menganut agama lain. Mereka semua adalah masih kerabat pak Panjang, orang pulau itu memanggil pak Panjang  atok.

Pak Panjang telinga nya rada pekak, maklum sudah tua, itulah sebabnya dia mengharapkan ada sound system atau load speaker terpasang di mushala, agar laungan azan terdengar. Memang belum ada pengeras suara di mushala – mushala yang kami dirikan.

Ustadz Tasman sementara ini tinggal  di rumah  pak RT. Kemarin ada sumbangan beberapa helai sajadah dari pak Yahya untuk mushala di Pulau Boyan ini. Pak Yahya adalah orang Dinas Pendidikan Kota Batam.

Di Pulau Pulau sekitaran Batam ada 19 buah mushala yang sudah selesai dan sedang dibangun, sebagian besar mushala itu sangat membutuhkan sajadah.   Maklum lah karena keberadaan mushala itu memang di tempat minoritas muslim terutama suku laut yang memang sangat membutuhkan bantuan.

Kemarin kami juga mendapat bantuan beberapa buah tangki air kapasitas 1.000 ton yang terbuat dari fiber glass dari seorang anggota KPU Batam,  tangki-tangki air tersebut telah kami distribusikan ke mushala yang membutuhkan.

Siapa lagi agaknya menyusul ya..?????

Vegetarian Muslim


Kurban di Chiang Rai Thailand Utara

Kurban di Chiang Rai Thailand Utara

Bagaimana rasanya menjadi vegetarian bagi seorang muslim tanyalah kepada Azhari. Sudah beberapa tahun belakangan ini dia tidak mengkonsumsi daging. “sejak Oktober 1996” ujar Azhari suatu ketika. Jadi sudah belasan tahun dia tak menikmati gurih nya rasa hewan Kurban.

Apalagi kalau kita baca status FB Fatma Yulia , karyawan Indosat ini dapat “jatah” daging Kurban “Mmmm… Dapat kupon daging kurban… Akhirnya masak dendeng batokok…”

Bukan karena tidak mampu membeli daging “ daging Kurban ini lain rasanya” ujar Hery yang rela antri membawa kupon untuk ditukarkan dengan bungkusan daging yang telah disiapkan oleh panitia Kurban di Masjid di lingkungan nya.

Salah Sendiri Tidak Mengkonsumsi Daging

Idul Adha, hari raya Kurban, kini sedang dirayakan di seluruh dunia oleh umat Islam, dan perayaan ini merupakan waktu yang menggembirakan setiap tahun bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Namun, bagi muslim yang menganut ajaran vegetarian semangat kegembiraan liburan Idul Adha tidak berlaku bagi mereka. Yah tentu hal ini salah mereka sendiri yang tidak mengkonsumsi daging.

Ternyata bukan Azhari seorang saja yang menganut ajaran vegetarian, “Saya tidak suka melihat orang makan berton-ton daging selama liburan Idul Adha,” kata Arwa Aburawa, seorang vegetarian yang juga seorang blogger Muslim Yordania yang sekarang tinggal di Manchester Inggris mengatakan kepada The Line Media.”Makan daging adalah pilihan pribadi, yang saya hormati, tetapi Anda tidak perlu berlebihan untuk memakannya.”

Aburawa mengatakan bahwa pada awalnya banyak teman-teman Muslimnya mempertanyakan dirinya apakah dia bisa menjadi seorang muslim dan juga seorang vegetarian, tetapi mereka menjadi lebih menerima sikapnya ketika dia menjelaskan tentang dirinya sendiri. Aburawa menekankan bahwa ia mencoba untuk tidak memberitakan kondisi dirinya yang vegetarian, tetapi lebih mendorong umat Islam untuk mengkonsumsi daging dalam jumlah sedang, lebih disukai dari sumber organik.

Dia menambahkan bahwa umat Islam yang tinggal di Timur Tengah secara umum menunjukkan pemahaman yang kurang bagus bagi para vegetarian dibandingkan dengan mereka yang tinggal di Barat. “Ketika saya menjadi vegetarian delapan tahun yang lalu, keluarga saya di Yordania tidak mengerti apa itu semua,” katanya. “Tapi, selama bertahun-tahun mereka akhirnya bisa memakluminya.”

Alasan Azhari menjadi Vegetarian

Lain Aburawa lain pula Azhari, “saya menjadi vegetarian karena dulu saya berkacamata, jadi guru saya menyuruh banyak makan sayuran” lanjut Azhari menjelaskan mengapa ia menjadi vegetarian.

Azhari (36) adalah pria kelahiran Medan , tampang nya sepintas mirip orang Cina, tetapi Azhari adalah orang Batak bermarga Hasibuan. Usaha nya di Batam menjual kopi, beberapa gerainya seperti di Pelabuhan Ferry Batam Center misalnya, mencantumkan nama KOPI TIAM , KAYA TOST , NAN YANG, gerai itu kental nuansa orientalnya. Menu nya pun pakai istilah Cina, dan unik nya lagi ada jual sop ikan yang cukup lezat disitu ……

Tidak sebagaimana vegetarian murni karena memang ajaran agama, Azhari masih mau mengkonsumsi sate kerang, kuah soto ayam pun dia masih mau. Suatu ketika selepas shalat jumat dari masjid Raya Batam kami sengaja mampir makan siang di warung SOTO MEDAN.

Islam dan Vegetarian

Fatwa Islam ‘konon’ mentolerir sikap vegetarian, tetapi biasanya tidak mendorong hal itu. “Seorang Muslim dapat menjadi seorang vegetarian,” kata Mufti Afrika Selatan Ebrahim Desai seperti dikutip situs IslamicConcern.com atas fatwanya, sebuah situs yang menganjurkan vegetarianisme dalam Islam. “Namun, ia tidak boleh menganggap makan daging sebagai sesuatu yang dilarang.”

Ulama yang juga cendikiawan muslim Amerika Syaikh Hamzah Yusuf, mengarahkan bahwa tradisi lisan Islam membenarkan vegetarianisme. “Secara tradisional Muslim adalah semi-vegetarian,” ujar Yusuf dalam sebuah rekaman audio agama”.

Khalifah Umar berkata: “Waspadalah terhadap daging, karena daging memiliki kecanduan seperti kecanduan anggur,” katanya menambahkan. Tapi jelas ekspresi vegetarianisme jarang terjadi di dunia Arab dan dunia Islam secara umum.

wallahua’lam

Gunung Sinabung Yang Pernah Kudaki Itu Kini Meletus


Pramuka Saka Bayangkara

Gunung Sinabung Kabanjahe Sumatera Utara, Desa Guruh Kinayan sebelah kiri mulai pendakian dan Desa Lau Kawar tempat Finis kaki gunung sebelah kanan.

Gunung Sinabung Kabanjahe Sumatera Utara, Desa Guruh Kinayan sebelah kiri mulai pendakian dan Desa Lau Kawar tempat Finis kaki gunung sebelah kanan.

Iya Gunung yang sekarang mengeluarkan lava panas nya itu pernah ku daki, itu terjadi pada awal tahun 70 an . Aku adalah salah seorang anggota Pramuka Gugus Depan Medan 3- 6 , yang tergabung dalam Saka Bayangkara di  Komdak II Sumatera Utara, Dulu namanya Komdak  (Komando Daerah Kepolisian) , ya kalau sekarang ini setingkat POLDA. Di awal tahun 70 itu Komdak II beralamat di Jalan H Zainul Arifin, atau orang Medan menyebut nya Kampung Keling.

Tidak seperti sekarang ini satu Gugus Depan (Gudep) Pramuka hanya terkonsentrasi di satu sekolah sekolah saja.  Kami di Gudep Medan 3-6 anggotanya terdiri dari berbagai sekolah, dan penegak nya  bergabung di Saka Bayangkara.

Banyak hal yang yang dapat di buat dengan bergabung di dalam Saka, karena kami di Bayangkara sering dan acap dilibatkan dalam kegiatan Kepolisian seperti KAMTIBMAS misalnya.  Yang sering sekali adalah membantu pak Polisi menjaga kelancaran lalu lintas.

Hiking Ke Kabanjahe

Kami juga tergabung dalam group Hiking Daerah Sumatera Utara, dan itu adalah kegiatan Hiking yang ke dua se-Sumut,  senang sekali rasanya Saka kami pun ikut dalam kegiatan Hiking yang akan di adakan di Kabanjahe. Kabanjahe adalah kota kecil di Tanah Karo, dari Medan dengan 2 bus yang di fasilitasi oleh KOMDAK, rombongan saat itu tidak langsung ke Kabanjahe, tetapi kami satu malam kemping di  Sibolangit. Besoknya di lanjutkan ke Kabanjahe.

Sebelum Kabanjahe ada satu kota di Sumatera Utara (Tanah Karo) yang cukup terkenal dengan Pariwisatanya yaitu Brastagi. Banyak Turis datang kesana, disitu pun ada satu Gunung, Gunung Sibayak namanya, tetapi tidak setinggi Gunung Sinabung di Kabanjahe.

Gunung Sibayak pun tetap mengeluarkan asap belerang, asap ini terlihat dari jauh. Sekarang Pertamina sedang memanfaatkan panas bumi dari situ (geothermal). Udara di Brastagi cukup dingin , tetapi lebih dingin lagi udara di Kabanjahe. Tak tahu saat itu berapa derajat suhunya, hanya saja dapat dirasa dan dilihat dari saat kita bernafas, uap yang keluar dari mulut berwarna seperti awan.

Dan bisa juga di lihat hampir semua hidung anak anak disana yang kami lihat pucuk hidungnya memerah dan terkelupas, mungkin ini akibat uap belerang dan udara dingin disana. Terkadang sesekali tercium seperti bau kentut, rupanya itu bau belerang.

Berjalan di daerah pertanian baik di Brastagi maupun di Kabanjahe, hamparan kebun kol (kubis) , tomat , wortel dan palawija lain menjadi pemandangan tersendiri. Kami di wanti wanti jangan sekali sekali mengambil tomat yang ranum yang banyak dijumpai di sepanjang  jalan  yang di lalui . “Konon kabarnya bisa tumbuh tomat di perut”  itu lah hebat nya patsum yang harus di turut. Lha caranya kalau kita mau beli orang nya tidak ada,  “letakkan saja uang nya nya disekitar pohon yang kita ambil buahnya”  itu lah pesan kakak Pembina.

Guruh Kinayan dan Lau Kawar

Untuk mendaki Gunung Sinabung yang tingginya sekitar 2.400 meter diatas permukaan laut itu, kami diantar oleh bus sampai ke Desa yang bernama Guruh Kinayan, sampai situlah bus yang bisa saat itu. Disitu telah banyak sekali rombongan pendaki. Dari desa itu kita berjalan kaki ke rute pendakian.

Bagi kami yang belum pernah mendaki gunung dan ini adalah yang pertama sekali, semua petunjuk dari kakak Pembina seperti harus tetap dalam satu rombongan, tetap memegang tali. Di Ransel pun telah siap bongkahan kelapa dan gula merah. Bagi pendaki atau orang gunung tahu benar kegunaan kedua makanan ini.

Jadilah kami berangkat memulai pendakian setelah magrib, meninggalkan Desa Guruh Kinayan, rasanya ingin cepat cepat meninggalkan desa itu, maklum banyak sekali babi berkeliaran. Kalau sudah berkeliaran seperti itu, ya tentunya kotoran nya pun berserak di mana-mana.

Bagi pendaki profesional, atau masyarakat sekitar yang mengambil hasil bumi (belerang) di puncak gunung itu, mereka bisa mencapai puncak nya hanya dalam 3 atau 4 jam saja. Sementara rombongan kami (Gudep Medan 3-6) yang terdiri dari 23 orang  sampai ke puncak hari telah menjelang subuh. Malah ada sebahagian peserta lain yang mulai turun.  Tak apa lah yang penting sampai ke puncak dengan selamat, kata kakak Pembina menyemangati.

Kawah Gunung Sinabung saat itupun tetap mengeluarkan asap tak jauh beda dengan uap asap belerang yang ada di kawah Gunung Tangkuban Perahu. Jadi sebenarnya Gunung Sinabung itu adalah salah satu Gunung yang aktif . Meskipun 400 tahun terlihat diam saja.  Kini Gunung yang baru meletus itu dimasukkan Pemerintah dalam kategori A yang semula B , dan harus diawasi selama 24 jam.

Memandang sekeliling puncak-puncak yang ada disekitran Gunung itu, indah sekali, membuat kita kagum akan ciptaan Nya, dari situ terlihat kota Medan tetapi hanya lampu lampunya. Hari mulai terang selepas salat subuh, kami berangkat meninggalkan puncak Gunung Sinabung , menuruni puncak gunung melalui celah dan semak belukar, terkadang bebatuan yang terkena ujung tongkat penyanggah berguling guling kebawah membuat fenomena tersendiri.

Kalau saat naik tidak ada masaalah yang berarti, malah lebih banyak beristirahat , sebentar-sebentar rombongan kami minta berhenti menenangkan nafas yang memburu tersengal-sengal, apalagi hujan rintik terus turun, tetapi badan berkeringat karena terbungkus kantong plastik.    Kami terus diberi semangat dengan menyanyi salah satu kata kata yang masih ku ingat sampai sekarang adalah “Mari kita begabung,   Kita taklukan Gunung Sinabung ”

Sewaktu turun koq rasanya enak saja , itu yang membuat kita jadi lengah terutama aku, lepas pegangan tangan dari tali yang sudah disiapkan , tongkat penyanggah ku terdorong kebawah menekan tanah labil, bongkahan batunya mengelundung kebawah , aku kehilangan keseimbangan dan ikut berguling guling kebawah, aku masih sadar dan masih jelas mendengar orang menjerit jerit  “ada orang jatuh”.

Aku terus terguling guling lagi, kemudian bisa berdiri  sendiri, terus doyong lagi , terguling lagi, semua itu aku sadari. “Jangan berdiri, duduk saja”  satu suara terdengar di telingaku, aku pun berusaha untuk tidak berdiri saat tersangkut di batang pepohonan semak kecil seperti pohon Kerimunting, yang ada di lereng Gunung itu.   Dan hal itu lah yang membuat aku tak terguling guling lagi.

Beberapa orang yang tak ku kenal menghampiri ku, karena memang jalur sepanjang turun itu ada rombongan yang sudah mencapai Lau Kawar , tempat finis. Aku senyum kepadanya  karena memang aku sadar meskipun ratusan meter terguling guling dari atas sana. Dengkul celana ku koyak dan berdarah, tetapi tidak sakit aku masih bisa berdiri. Pinggang ku lecet agak terasa sakit, mungkin karena tersangkut batang pohon kecil yang menahan tubuh ku, lha mungkin kalau tidak ada pohon kecil itu aku masih terus terguling guling lagi.

Rupanya bukan aku saja yang bernasib seperti itu, terguling guling menggelinding kayak tringgiling. Tetapi tak semua yang bernasib seperti aku masih bisa berjalan lagi sampai ke Lau Kawar, Danau kecil yang indah di kaki Gunung bagian selatan Gunung Sinabung. Ada yang di tandu dan ada yang tinggal nama pulang ke rumah.

Istimewa nya lagi aku duluan sampai ke perkemahan yang sudah dipersiapkan oleh teman-teman  yang tak ikut mendaki .  “ya pasti duluan orang gelundung” celetuk Syahrial temanku asal Medan Glugur, aku tak tahu dimana dia sekarang. Mandi di air yang begitu segar dan sejuk di Danau Lau Kawar , menjadi kan badan segar kembali, di kelilingi pemandangan dan hutan yang masih asri .

Sejak itu aku tak pernah lagi ke Gunung Sinabung, kalau sampai  Kabanjahe apalagi Brastagi acap ku singgahi , disitu ada wisma Pertamina tempat ku bekerja. Sesekali ada Pelatihan dari Perusahaan di buat disana. Dan Disana pun banyak saudara-saudara  yang berkebun jeruk , terutama di kampung Barus.

Untuk saudara-saudara ku di Kabanjahe yang sekarang lagi tertimpah musibah, Mejua-jua krina ….. sabar ya….ingat lah mungkin Allah sedang memberi pupuk kepada kita, kepada tanah Karo…….. agar lebih subur lagi.

%d blogger menyukai ini: