Makanan Halal di Veitnam


dscf0549.jpg

 

Makanan Halal di Vietnam

 

 

Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam mengunjungi beberapa tempat penjual makanan halal saat ziarah di Negara tetangga Asean akhir bulan Februari 2008 .

Di Vietnam, di kota Ho Chi Min, sebagian orang disana masih menyebut Saigon, ada beberapa tempat Restoran Halal, salah satunya Kedai Shamsudin, restoran yang beralamat 445 Le Honh Phong P.2 Q.10 TP Ho Chi Min.

Di depan restoran ini pun banyak Guest House ataupun Hotel. Salah satunya adalah milik Shamsudin yang dapat berbahasa melayu, demikian juga beberapa orang pegawainya. Beragam jenis makanan ada dijual disini, dari masakan india, china maupun masakan barat.Agak ke selatan ke distrik Chou Doc banyak komunitas muslim, sekitar 60 ribuan, sebagian besar mereka dapat berbahasa melayu.

Chou Doc ini berbatasan langsung dengan Kamboja. Banyak masjid disini “ada sebelas” ujar ustaz Abdul Kabir, guru madrasah Mahmudiayah di Chou Duc.

Dari Ho Chi Min ke Hanoi

Kalau hendak ke Hanoi ibukota negara Vietnam di utara, bila naik pesawat udara tak begitu repot dengan makanan halal, karena penerbangan hanya di tempuh 1 jam 45 menit, tetapi bila naik bus jalan darat sembari menikmati pemandangan indah sepanjang tepi pantai Vietnam dan melihat kota Da Nang, pusat kerajaan Champa abad ke 16, Kita haruslah mempersiapkan makanan terlebih dahulu di Ho Chi Min.  Champa adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara, salah seorang putri Champa dipersunting oleh raja Majapahit, dan keturunannya adalah wali songo yang kesohor itu.

Hampir 40 jam perjalanan darat dari Ho Chi Min ke Hanoi, disepanjang perjalanan tidak dijumpai kedai ataupun restoran Halal, Nasi goreng dapat bertahan 2 hari, karena saat Februari di Hanoi temperatur udara mencapai 10 derajat celsius, Roti banyak di jual di Ho Chi Min, dengan potongan ayam goreng bisa menjadi menu. Mie instan pun dapat juga menjadi bekal sepanjang perjalanan, Bus super Vip, memberikan kupon makan di setiap restoran yang disinggahi.

Yang penting juga adalah saat istinjak (bersuci) tidak semua toilet di Vietnam menyediakan air, untuk bersuci selepas buang air kecil misalnya. Di terminal bus di Ho Chi Min, toiletnya tidak disediakan air, siap-siap istinjak dengan kertas, dan kertas atau air itu dibawa sendiri.

Restoran Halal di Ha noi

Restoran halal di Ha noi daging sapi dan daging ayam dipotong oleh staf kedutaan Hanoi, mereka memotong seekor sapi 3 bulan sekali. “Saya yang potong , 3 bulan sekali terkadang tak sampai 3 bulan, warga muslim bukan dari Indonesia pun membelinya di Restoran itu,” jelas Azhari Rizal staf kedutaan di Hanoi kepada YLKM Batam.Restoran Halal, tidak hanya dikunjungi oleh muslim , tetapi kaum vegetarian pun makan disitu, juga ramai dikunjungi turis-turis dari mancanegara.

Lembaga Halal

Menurut penjelasan Ustaz Abdul Kabir Chou Duc, sertifikasi halal hanya dilakukan oleh umat Muslim yang ada di Ho Chi Min saja, ada beberapa produk Vietnam yang telah mencantumkan logo Halal, minuman sarang burung contohnya. Jadi di Ibukota negara Vietnam belum ada lembaga seperti di Bangkok Thailand yang difasilitasi oleh negara untuk sertifikasi makanan halal. Di Vietnam pun ada beberapa produk Thailand yang beredar yang berlogo halal, seperti minuman kaleng kacang soya. (iis)

Apa Sih Tugas Kedutaan Kita?


 dscf0605.jpg

Februari 2008 yang lalu YLKM Batam berkesempatan berkunjung ke Hanoi ibukota Vietnam dan Ke Vientiane ibukota Laos. Tidak ada rencana mau ke kedua kota dan ke kedua negara itu. Rencana semula hanya dari Kuala Lumpur Malaysia ke Phnom Penh Kamboja, di Kamboja melihat dan ziarah pada komunitas muslim yang ada disana, setelah itu ke Chou Doc kota perbatasan Kamboja dengan Vietnam Selatan yang masuk Provinsi Ho Chi Minh dahulu Saigon, setelah itu kembali semula ke Phnom Penh dan pulang ke Batam via Kuala Lumpur, tiket Air Asia sudah dipesan jauh-jauh hari kebetulan sedang ada promosi Kuala Lumpur – Phnom Penh – Kuala Lumpur.

Yang jadi masaalah saat mendarat di bandara Phnom Penh, warga Indonesia dikenakan visa masuk sebesar 20 US dollar , untuk foto copy dan lain-lain 5 US dollar lagi. Jadi sama dengan ke Myanmar Burma warga negara Indonesia pun dikenakan visa masuk kesana. 

Teman di Phnom Penh mengatakan ke Vietnam pun mungkin warga negara Indonesia dikenakan biaya, lhaaa kalau nanti ke Vietnam dan harus kembali ke Kamboja juga dikenakan lagi visa, Aku memutuskan untuk ke Hanoi saja sekalian melihat kota itu.

Dari Ho Chi Minh ke Hanoi YLKM naik bus ditempuh 40 jam, teman di Ho Chi Minh sudah wanti-wanti sepanjang jalan tak ada restoran yang menjual makanan Halal, persiapan makanan dari Ho Chi Minh untuk 2 hari sudah dipersiapkan, tetapi siapa yang akan di kunjungi di Hanoi???

Sungguh tak ada teman yang dikenal di Hanoi, di ibukota negara Komunis itu tak ada tempat yang akan dituju. Muhammad Azhari,  teman YLKM  orang Vietnam di Ho Chi Minh menyarankan agar YLKM ke Embassy saja, Azhari pula yang menyiapkan makanan untuk bekal dalam perjalanan.

27 Februari 2008 petang dari Ho Chi Minh tiba di Hanoi tanggal 29 Februari pukul 06.00 tidak ada perbedaan waktu Indonesia bagian barat dengan di Vietnam, dengan bus Mailinh Express yang cukup bersih, kondektur, supirnya, memakai seragam layaknya pilot pesawat udara, ongkos dari Ho Chi Minh ke Hanoi 480.000 Dong, 1 dollar us setara 15.000 Dong. 

YLKM dari stasiun Bus langsung naik taxi ke Kedutaan, di 50 NGO QU YEN STREET, DAI SU QUAN INDONESIA atau keduataan Indonesia, supir taxi tahu alamat itu dan argo meter menunjukkan 200.000 Dong.

Karena masih pagi, staf kedutaan belum ada yang masuk kantor, dari kamera cctv di depan pintu kedutaan YLKM menunjukkan paspot, penjaga membuka pintu menyilakan masuk, pegawai lokal itu tak dapat berbahasa Indonesia, tetapi dia mengenal paspot Indonesia dengan baik agaknya, buktinya YLKM diperkenan masuk, penjaga tadi menelepon seseorang, muncul mas Warno pria 40 an asal Jawa Tengah, senyumnya mengembang ramah, dari ruang penjagaan ada bangunan untuk tamu, kesitulah YLKM dibawa oleh Mas Warno, diruang tunggu ada seperangkat kursi dari jati, ruang itu adalah ruang tunggu tamu dubes, tahu kalau YLKM dari ho CHi Minh 2 hari yang lalu, dia menyarankan agar mandi dahulu, di sebelah ruang tunggu ada kamar lagi ukuran 4 x 10 M dilengkapi dengan kamar mandi ruangan ini masih satu bangunan, dengan senyumnya yang khas Mas Warno menyerahkan handuk kepada YLKM, sembari menunjukkan kamar mandi yang dilengkapi air panas, di ruangan itu ada AC yang juga dilengkapi dengan Heater (pemanas) saat itu di Hanoi temperatur 12 derjat celcius. Tetapi di ruangan itu terasa hangat.

Selepas mandi di meja diruangan dalam tadi telah tersedia beberapa potong roti berikut teh hangat, sembari menyeruput teh YLKM melihat pajangan yang ada di dalam ruangan itu, ada gambar-gambar ukuran besar dari daerah-daerah di Indonesai terpasang di dinding, di pojok kanan ada pajangan baju pengantin dari daerah Pelembang.  

Pegawai dan Staf kedutaan ternyata sudah berdatangan, dan keberadaan YLKM sudah mereka ketahui, beberapa staf wanita berjilbab, satu persatu YLKM salami, “Ya semua staf dan pegawai disini beragama Islam” ujar Marbun pria Batak yang telah tinggal di Hanoi 6 tahun yang lalu.

Hanya Dubes yang non Muslim tapi sekarang ibu Tobing sang Dubes, lagi pulang ke Indonesia, dubes baru belum datang. YLKM menjelaskan keperluan datang ke Hanoi antara lain ingin mengunjungi Masjid yang ada di Hanoi, dan tentang makanan halal serta komunitas Islam.

“Wah kalau itu dengan Azhari saja” ujar mas Warno. Azhari Rizal AM, pria asal Kalimantan telah beristeri, menjadi staf lokal di Hanoi, banyak menceritakan tentang kegiatan dan dakwah Islam di Hanoi, Azhari juga adalah jagal sapi di Hanoi, untuk kebutuhan restoran dan kaum muslim di Hanoi akan daging sapi 3 bulan sekali Azhari Rizal merangkap menjadi tukang potong sapi.

Siang itu kami beserta staf kedutaan Hanoi sholat Jumat di Masjid Al Nour, ada Rizal, Marbun, Rayhan, Warno, Budi, Ramadhan. Masjid Al Nour dahulunya adalah Temple India, di masjid inilah semua staf kedutaan negara-negara sahabat yang beragama Islam sholat. Khatib dan Imam adalah warga setempat orang Vietnam, khotbah dalam dua bahasa yaitu Arab dan Inggris, “Baru tahun ini Imam masjidnya orang Vietnam” jelas Marbun yang mengaku pengurus masjid Al Nour juga.

Selepas shalat, makan siang telah tersedia, dipesan dari restoran Halal yang ada di Hanoi, sembari makan kami berbincang-bincang, antara lain YLKM menanyakan apa-apa saja tugas dan fungsi dari kedutaan, “Selama saya disini orang seperti pak Imbalo belum ada yang datang, biasanya yang datang kemari adalah pejabat yang berkunjung, delegasi, yang meminta stempel surat perjalanan dinas. Dan ada lagi setahun yang lalu orang Indonesia yang kehabisan ongkos pulang minta bantuan”, jelas Azhari Rizal. “Dibantu?”  tanyaku. “Mana ada anggaran untuk itu, yakh kami saja lah yang kumpul-kumpul uang, staf-staf yang ada disini” jawab Azhari.

“SMS dari Jakarta masuk ke ponselku, dari Habib Hizrin, beberapa kali aku bertemu dengannya di Batam, Mas Habib menanyakan Muhammadiyah Asean, mungkin karena aku sering bepergian dengan ustaz Abdul Wahab yang di Kedah Malaysia. “Akhir Maret 2008 saya ada seminar di Hanoi, kalau ada kontak person sejawat Muslim tolong beritahu saya” begitu bunyinya. Pesan singkat itu aku tunjukkan kepada Azhari Rizal, ternyata Tokoh Muhammadiyah ini dikenal baik oleh mereka. Terlihat mereka senang tokoh sekaliber Habib Hizrin akan datang ke Hanoi.

Hanoi Vietnam Utara perbatasan dengan Laos, YLKM pun ingin ke sana, disanapun tidak ada teman dan tempat yang akan dituju, pengalaman di Hanoi mengajarkan kenapa tidak ke Embassy saja, disanakan kita dapat informasi yang dibutuhkan seperti di Hanoi pikirku.

Perjalanan ke Vientiane Laos dari Hanoi ditempu hampir 24 jam dengan Bus, bukan lama perjalanan saja yang memakan waktu, pemeriksaan imigrasi di border Vietnam dengan Laos hampir 3 jam. Dari Hanoi ke Vientiane ibukota Laos dengan bus ongkosnya 40 us dollar termasuk visa ke Laos 20 us dollar. Di border, saat keluar dari Vientiane kita diminta biaya sebesar 1 us dollar atau 15.000 Dong, dan masuk ke Laos di border pun harus membayar lagi 20 bath disamping visa 20 us dollar. Di Laos uang Bath Thailand dapat dipergunakan untuk transaksi.

Menjelang Ashar tiba di terminal Bus luar kota Vientiane, dari situ naik tuk-tuk ke City center ongkosnya 2 us dollar perorang, di pusat kota itu banyak guest haouse maupun hotel, ingat pengalaman di Hanoi, alangkah baiknya ke Kedutaan terlebih dahulu pikirku, menanyakan informasi tentang komunitas muslim di Vientiane.

Tak jauh dari pusat kota dengan Kedutaan Indonesia naik tuk-tuk hanya 25.000 keef mata uang Laos , 1 dollar us setara dengan 9.800 keef, sampai di Kedutaan, security keluar pintu melihat ada tamu, menanyakan apa keperluannya, melalui intercom aku dihubungkan dengan orang di dalam bangunan kedutaan, aku diminta menunggu, sebentar akan ada petugas yang datang katanya, menjelaskan apa-apa yang kubutuhkan. Bangunan Kedutaan Indonesia di Vientiane negara jajahan Francis ini ada dua, masing-masing berseberangan jalan di jalan yang sama berhadap-hadapan, di bangunan seberang terlihat seorang yang sedang menyapu halaman, bernama Gatot orang Indonesia.

Gatot lah yang datang menemuiku di pinggir jalan hampir 15 menit aku menunggu Gatot menyelesaaikan pekerjaannya baru datang menemuiku, itupun setelah petugas jaga menjemputnya, saat kutanya, Gatot tak tahu dimana komunitas Islam, kalau masjid dia tahu, tapi tidak pernah pergi kesana, dalam bahasa Laos Gatot menjelaskan alamat masjid Pakistan itu kepada supir tuk-tuk yang masih menungguku, pantas gatot tak pernah ke masjid karena dia Katolik, yang tahu tentang Islam orang kedutaan bernama Wahyu tetapi karena hari sudah sore Wahyu telah pulang kerumahnya, sementara orang yang meneleponku dan menyuruh memanggilkan Gatot tak berkenan dihubungi lagi.

Aku tersenyum kecut, aku membayangkan dapat informasi dari staf kedutaan seperti di Hanoi, aku hanya melirik melalui jendela pos jaga ukuran 40 x 40 cm yang masih terbuka kedalam halaman kedutaan Indonesia di Vientinae, penjaga warga setempat yang tak dapat berbahasa melayu dan inggris itu pun menutup pintu.  

500 meter dari kedutaan aku menginap di Hotel Mina, dan setelah itu ke masjid Pakistan, masjid Jamik, masjid terbesar di Laos, dan terletak disebelah timur dari City center, disitu ada 5 restoran yang menyediakan makanan halal, 300 meter arah ke selatan adalah sungai Mekong, sungai Mekong sedang mengering karena sudah 4 bulan tak turun hujan, sungai yang berbatasan langsung antara negeri Laos dengan Provinsi Chiang Mai dan Provinsi Udon Thani di Thailand. 

Beda Hanoi beda Vientiane, meskipun sama-sama Kedutaan Besar Republik Indonesia, aku teringat dengan cerita mas Warno, warga negara asing saja yang masuk kedutaan kita perlakukan dengan baik, setahun yang lalu kata mas Warno ada orang Korea yang lompat pagar masuk kedutaan Indonesia di Hanoi, “itu pagar belakang setinggi hampir enam meter” kata mas Warno sambil menunjukkan tempat orang Korea itu melompat, warga negara Korea itu minta suaka politik. 

Begitulah, seharusnya mereka tetap mengacu kepada : 

Kepres RI No.108 Thn.2003 Tentang Organisasi Perwakilan RI Di Luar Negeri
 

BAB III

KEDUDUKAN, TUGAS POKOK,DAN FUNGSI PERWAKILAN

Pasal 3

(1) Perwakilan Diplomatik berkedudukan di Ibu Kota Negara Penerima atau di tempat kedudukan Organisasi Internasional, dipimpin oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh yang bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Luar Negeri.

(2) Perwakilan Konsuler berkedudukan di wilayah Negara Penerima, dipimpin oleh seorang Konsul Jenderal atau Konsul yang bertanggung jawab secara operasional kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh yang membawahkannya.

(3) Konsul Jenderal atau Konsul yang tidak berada di bawah tanggung jawab Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, bertanggung jawab langsung kepada Menteri Luar Negeri.

(4) Pembinaan dan pengawasan terhadap Perwakilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) secara operasional dan administratif dilaksanakan oleh dan menjadi tanggung jawab Menteri Luar Negeri.Pasal 4Perwakilan Diplomatik mempunyai tugas pokok mewakili dan memperjuangkan kepentingan Bangsa, Negara, dan Pemerintah Republik Indonesia serta MELINDUNGI WARGA NEGARA INDONESIA, Badan Hukum Indonesia di Negara Penerima dan/atau Organisasi Internasional, melalui pelaksanaan hubungan diplomatik dengan Negara Penerima dan/atau Organisasi Internasional, sesuai dengan kebijakan politik dan hubungan luar negeri Pemerintah Republik Indonesia, peraturan perundang-undangan nasional, hukum internasional, dan kebiasaan internasional. Pasal 5Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Perwakilan Diplomatik menyelenggarakan fungsi :a. peningkatan dan pengembangan kerja sama politik dan keamanan, ekonomi, sosial dan budaya dengan Negara Penerima dan/atau Organisasi Internasional;b. peningkatan persatuan dan kesatuan, serta kerukunan antara sesama Warga Negara Indonesia di luar negeri;c. pengayoman, pelayanan, perlindungan dan pemberian bantuan hukum dan fisik kepada Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia, dalam hal terjadi ancaman dan/atau masalah hukum di Negara Penerima, sesuai dengan peraturan perundang-undangan nasional, hukum internasional, dan kebiasaan internasional;d. pengamatan, penilaian, dan pelaporan mengenai situasi dan kondisi Negara Penerima;

e. konsuler dan protokol;

f. perbuatan hukum untuk dan atas nama Negara dan Pemerintah Republik Indonesia dengan Negara Penerima;

g. kegiatan manajemen kepegawaian, keuangan, perlengkapan, pengamanan internal Perwakilan, komunikasi dan persandian;

h. fungsi-fungsi lain sesuai dengan hukum dan praktek internasional.

Pasal 6

Perwakilan Konsuler mempunyai tugas pokok mewakili dan memperjuangkan kepentingan Bangsa, Negara, dan Pemerintah Republik Indonesia serta melindungi kepentingan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia melalui pelaksanaan hubungan kekonsuleran dengan Negara Penerima, termasuk peningkatan hubungan ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan kebijakan Politik dan Hubungan Luar Negeri Pemerintah Republik Indonesia, peraturan perundang-undangan nasional, hukum internasional dan kebiasaan internasional.

Ziarah ke Malaysia,Kamboja, Vietnam, Thailand dan Laos


dscf0594.jpg 

salah satu sudut kota Hanoi

Dari Pelabuhan Batam Center selepas sholat Jumat di Masjid Raya Batam tanggal 22 Februari 2008 aku naik Ferry ke Johor Bahru via Stulang Laut, perjalanan ditempuh selama lebih kurang 2 jam, karena sebelumnya aku telah membeli ticket Air Asia dari Kuala Lumpur – Phnom,  Pulang Pergi. Sehingga destinasi selanjutnya adalah Kuala Lumpur dari Johor Bahru ke Kuala Lumpur aku naik Bus dari terminal Larkin di Johor Bahru, Stulang Laut ke Larkin ongkos taxi sekitar 20 ringgit Malaysia (RM)  , sementara tambang Bus Johor Bahru ke Kuala Lumpur 28 RM.

Tiba di Kuala Lumpur aku di jemput oleh Akhmad Batu Pahat demikan aku memanggilnya, Akhmad BP ini aku kenal  ketika Desember 2007 lalu di Chiang Rai Thailand dalam rangka Idul Qurban disana, petang dari JB tiba di KL sekitar pukul 23 malam waktu setempat, dengan keretanya aku diantar ke rumah Yatim Al Khaadem yang terletak di Taman Maluri tak berapa jauh dari Pudu Raya terminal Bus di Kuala Lumpur. Di Tanjung Pinang Riau akupun pernah beberapa kali nginap di panti asuhan yatim yang di kelola oleh Muhammadiyah.

Karena akupun yatim sejak usia 5 tahun , pagi selepas shalat subuh aku diminta oleh ustaz Umar memberikan tausiah kepada anak-anak Yatim di Al Khaadem, aku ceritakan bagaimana anak-anak yatim sering diexploitasir oleh pengelola panti,  di Batam pun aku masih tercatat sebagai wakil Ketua Asosiasi Pengurus Pantai Asuhan Batam.

Bagaimana rasanya menjadi anak yatim tak kan mungkin dirasakan oleh orang yang tak pernah menjadi yatim, di Al Khaadem ada anak yatim dari Indonesia, ibunya bekerja di Kuala Lumpur, tetapi kini telah pulang ke Medan, tahu kalau aku dari Indonesia dan asal Medan pula , air matanya berlinang, dia sangat rindu kepada ibunya katanya, kau mau pulang ke Medan tanyaku, ia mengangguk perlahanan, hal itu pernah aku rasakan saat aku masih kecil ketika tinggal bersama saudara dan bersekolah di Medan . Rindu yang tiba-tiba menyergap membuat air mata berlinang.

Panti Al Khaadem atau Pertubuhan Al Khaadem cukup baik pengelolaannya, terstruktur, mungkin awal April 2008 mereka akan menempati gedung baru , gedung megah dan ditempat lokasi yang luas ini adalah bantuan dari negara Timur Tengah, Pertubuhan ini diteraju oleh ustaz Hussain Yee, ustaz Hussain Yee adalah keturunan Cina, ada empat panti tempat lainnya selain di Taman Maluri.  Pusatnya di 1034 Jalan Cempaka, Sungai Kayu Ara, Petaling Jaya, Selangor Darul Ehsan. “Pak Imbalo jangan nginap di Hotel , orang Sunnah biasa nginap di masjid dan di panti.” pesan ustaz Abdul Wahab karibku dari Kulim Kedah kepadaku melalui telpon, besok tengah hari kita jumpa di KLCC tambahnya lagi. itulah sebabnya aku nginap di Panti asuhan Al Khaadem Kuala Lumpur.

Dari Kuala Lumpur tiba di bandara Phnom Penh petang hari, di counter pemeriksaan pasport, petugas imigrasi sesaat melihat paspor yang ku sodorkan dan berkata “visa” sembari menunjuk ke petugas imigrasi yang banyak berdiri tak jauh dari tempat counter itu…. dan teman dari Malaysia tidak ada masaalah…. hanya orang indonesia saja yang dikenakan visa sebesar 20 dollar amerika dan upah mengisi form yang disediakan dan foto copy pasport untuk mengambil photo dikenakan biaya sebesar 5 dollar lagi.

Jadi kalau ada yang mau ke Kamboja harus menyediakan pasphoto dan menyiapkan dollar amrekia, meskipun mata uang disana adalah reel tetapi transaksi memakai dollar amerika.

Enggak tahu apa sebabnya ada pengecualian warga negara malaysia dengan indonesia , ini bukan saja di kamboja tetapi juga di Myanmar perlakuan diskriminatif sesama warga asean ini.

Kami dijemput oleh Fatah, Fatah adalah putra ke sepuluh dari Toun Sman Muhammad (Imam Ahmad Hasan), Imam Ahmad Hasan ini adalah imam masjid Dubai, masjid Dubai adalah masjid terbesar di Phnom Penh, masjid ini dibangun oleh orang Dubai, “kemarilah semua orang kedutaan yang ada di Phnom Penh sholat” kata Fatah kepada kami dengan bahasa melayu.

Fatah, meskipun dilahirkan di Phnom Penh, di kota, tetapi ia dapat berbahasa ibu, ibunya adalah orang chmampa demikian pula imam ahmad asli dari champa, “kalau tak salah silap dah 400 tahun lebih tok tok kami di sini” jelas Imam akmad kepada kami tentang keberadaan mereka disini.

Semua anak beranak mereka dapat berbahasa melayu, Imam ahmad lelaki berusia 70an ini adalah mantan askar di jaman pol pot, merasakan bagaimana berperang ketika itu, demikian kehidupan beragama.

Tetapi dia tetap mendidik anak-anaknya dalam Iman Islam dan tetap berbahasa melayu. (bang Aries tolong tuliskan tentang penyebaran champa sampai ke kamboja dari kampung champa di vietnam), kesebelas anaknya dapat berbahasa melayu dan beberapa dari putranya kini sedang menyelesaikan master, selama kami di kamboja Fatah dan Younes (baca yunus) yang memandu dan menemani dan penterjemah kami mengunjungi komunitas muslim yang ada di kamboja.

Berdua abang adik ini dapat berbahasa kmer, champa begitupun dengan bahasa Inggris, selain berbahasa melayu, “kita seperti di kampung sendiri saja , seperti tak diluar negeri” celetuk ustad Wahab dengan kepasihan mereka berbahasa melayu.

dscf0608.jpg 

salah satu masjid di Vientiane Laos di City center

Di Kamboja ada beberapa Hotel tempat makanan restoran halal, dan itu semua dapat ditunjukkan oleh kedua pria 20 an ini. Saat ini di Kamboja sedang kemarau sudah hampir 4 bulan tak turun hujan kata pak Imam, halaman masjid berdebu, masjid Internasional itu pun terlihat kumuh, dihalaman masjid terlihat 2 batang pohon korma dan beberapa batang pohon akasia, tak layak disebut masjid internasional yang sebagian besar jamaahnya adalah muslim dari kedutaan

%d blogger menyukai ini: