Pulau Boyan Rumah Pak Panjang


Dari Perjalanan Mengunjungi Pemukiman Sulu Laut

Dari Pelabuhan Sagulung, kami naik spead boat 40 PK. Hanya beberapa menit saja, persis disebalik sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sampailah kami di Pulau Boyan.  Pulau Boyan di dalam peta tertulis Pulau Bayan. Entah sejak bila, pulau kecil berpenghuni belasan kepala keluarga suku laut ini, berubah nama menjadi Pulau Boyan.

Pak Panjang Orang yang paling tua di pulau itu pun tak tahu persisnya. Sekitar tiga tahun yang lalu, kami dirikan sebuah mushala kecil disitu. Dai yang dikirim oleh AMCF, hanya bertahan setahun. “Sejak Ustadz Tasman tak ada, tak ada lagi yang mengajari kami me ngaji” ujar Ibu Ani.  “Di mushala jarang ada kegiatan”.lanjutnya Kami shalat Juhur dan Asyar di jamak dan diqasar berjamaah.

Di dalam mushala terlihat bersih, tetapi hampir seluruh dinding plaster semen terkelupas. Mung kin dulu pasir yang digunakan bercampur dengan air asin, jadi mudah terkelupas. Dibagian luar dinding mushala pun demikian juga. Plasteran terlihat mengelem bung, seakan ingin berpisah deng an pasangan batunya.

Pulau kecil masuk dalam kelu rahan Pulau Buluh dan kecamatan Bulang ini, tidak ada sumber air tawarnya , tetapi Alhamdulillah saat wuduk tadi, tandon 1000 liter sumbangan dari seseorang yang tak mau disebut namanya, berisi air, walaupun tidak penuh. Beberapa kali ada lembaga sosial survei kesitu, ingin membantu membuat sumur bor, tapi hingga kini belum terwujud.

Beberapa tahun yang lalu pu lau kecil yang eksotik ini, ramai di kunjungi kapal kapal kecil yang lalu lalang, untuk mengisi minyak. Disitu dulu, ada pangkalan pengisi an bahan bakar minyak (BBM). Masih terlihat beberapa buah tangki dari baja yang sudah mulai berkarat. Perpipaannya pun masih rapi terpasang. Diantara pipa – pipa dan tangki BBM itulah ada jalan setapak menu ju ke pantai, kerumah ibu Ani. Bu Ani mengharapkan ada seorang Dai lagi datang ke situ, agar dapat mengajari mereka tentang Islam.

Pak Panjang Dari jauh , melihat kami datang, ter gopoh gopoh pak Panjang datang, Pria tua 70 tahunan ini tersenyum, terlihat giginya rapi, rupanya baru dipasang gigi palsunya. Pak Panjang punya beberapa orang anak perempuan , seorang anak perempuannya bernama Fatimah menikah dengan warga keturunan dan hingga kini meme luk agama suaminya. Begitu juga cucu lelaki bu Ani, menikah dan mengikut agama isterinya.

Tak banyak yang dapat kami lakukan, hanya mendengar cura han hati dari penduduk kampung pulau Boyan itu. Pulau Boyan, mau dikatakan pulau terpencil, tidak juga. Hanya beberapa menit saja dari Batam, kota Metropolitan yang sibuk dengan segala kegiatan.

Tak jauh dari pulau itu ratusan kapal – kapal besar bersandar dan berlabuh menunggu perbaikan. Tentunya itu semua adalah devisa, yang tak menyentuh kehidupan mereka. “Umur saya paling juga 3 tahun lagi” ujar pak Panjang kali ini dia tidak tersenyum, tetapi tertawa, tampak semua gigi palsu nya. “Kapan kampung kami ada listriknya”. rungutnya.

Pantas pak Panjang merungut, tak jauh dari pulau itu pipa Gas diameter besar mengalir ke Singapura, puluhan kilo meter panjangnya. Aku tersenyum, lalu mengajak nya photo bersama. Kumasukkan lembaran berwarna biru ke dalam sakunya, itulah yang dapat kula kukan. Dan Aku tak mau berjanji, tapi isnyaAllah, akan kukabar kepada Datuk Bandar, mudah mudahan beliau mendengar.

Kami tinggalkan pulau Bayan, bersama Adi Sadikin dari Malaysia, Ita Hasan Si Pulau Terluar, Aisya dari Pekanbaru, Jogie dari Hang Tuah, Sabri anak jati pulau Bulang dengan lincahnya menjadi tekong kami menuju destinasi yang lain.

Hari pun beranjak petang. (*)

Info Halal : Selanjutnya Terserah Anda


Makanan halal menjadi tidak halal, ada beberapa faktor penyebabnya. Seperti masakan laut (seafood) misalnya, makanan yang sangat banyak penggemarnya ini, menjadi tidak halal apabila bumbu masak nya terbuat dari yang tidak halal.

Hampir semua masakan laut menggunakan saus, tidak afdol masakan itu tanpa saus. Apa lacur kalau saus digunakan dari barang yang tidak mempunyai sertifikat Halal?.
Seperti penuturan Herman (65) : “Kalau kami ganti sausnya dengan yang lain, langganan kami sudah terbiasa dengan saus yang itu” Ujar Herman pengelola Restoran Dju Dju Baru, sembari mengangkat sebuah botol tanpa label, berisi cairan bening dan kental.
Restoran Dju Dju Baru berada di seputaran Nagoya, Buletin Jumat (BJ) berkunjung ke Restoran itu kemarin, selasa (26/02). Adalah Ibu Yanti dari Telaga Punggur bertanya kepa da BJ tentang ke-halalan masa kan di Restoran itu.
“Restoran ini sudah 18 tahun, sejak kami dibelakang Hotel Harmoni” ujar Herman. “Tidak ada masaalah, tanpa sertifikat halal, langganan kami tetap ramai” Tambahnya lagi.
“Kalau ada sertifikat Halal, nanti kami tak boleh jual Beer, tak boleh ini tak boleh itu, banyak aturan” Jelasnya lagi. Herman pun menjelaskan kalau Restorannya tidak menjual Daging Babi. “Yang Jual Babi di Restoran Dju Dju satu lagi.” Ujar Herman.
Tidak berapa jauh dari Restoran Dju Dju Baru, persis disamping Hotel Dju Dju ada sebuah Restoran bernama Dju Dju, tanpa kata Baru, pengelola nya masih kerabat Herman.

Haram bukan karena unsur babi saja

Jadi, menurut sebagian orang, Halal itu cukup tidak ada babi. Sebagaimana pernyataan Herman. Menurut Herman tetamunya yang dari luar negeri selalu minta Beer, itulah sebab nya Restoran menyediakan minuman beralkohol itu.
Kalau tetamu dari dalam, jarang yang minta Beer. “Banyak juga tamu dari orang pemerintahan.” Ujar Herman lagi sambil terse nyum. Bahkan mantan orang nomor satu di Kepri ini pun acap makan di Restoran itu.
Semua mereka Muslim. “Kalau mereka datang lantai dua itu penuh, muat 50 orang” ujar Herman , matanya menga rah ke lantai dua Restoran itu.

Tidak Melanggar UU Perlindungan Konsumen

Kita tidak bisa memaksa Herman harus mengurus serti fikat Halal untuk Restorannya, tanpa itu pun pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Herman pun tak henti-henti nya menerima pembayaran uang dari pembeli selama kami berbincang.
“Sabar ya pak, Sabar ya pak, jangan tulis seperti itu. Nanti terdengar kasar, agak lembut sedikit.” ujar Herman kepada BJ. Sesaat BJ hendak meninggalkan Restoran itu.
Apa yang dikatakan Herman adalah benar, disisi Undang Un dang Perlindungan Konsumen, karena Restoran Dju Dju Baru tidak melanggar Undang-Undang. Herman tidak menyata kan Halal Restorannya :”Terse rah mau makan disini atau tidak, karena saya akan tetap menjual Beer dan menggunakan saus dan bumbu yang sama”.
Jadi terpulanglah kepada kita sebagai Muslim, peminat makanan laut yang masih peduli dengan halal dan haram. Kami anjurkan belilah dan konsumsilah makanan di tempat yang sudah berser tifikat Halal.

Info Halal Disekitar Kita : Resto Kediri Batam


Terhitung awal Januari 2013, Sertifikatnya tidak berlaku lagi.    (poto:viky)

Terhitung awal Januari 2013, Sertifikatnya tidak berlaku lagi. (poto:viky)


Dalam situs resmi LP POM MUI Kepri, Resto Kediri, yang terletak di Batam Center, dekat Masjid Raya Batam ini, tidak lagi memperpanjang Sertifikat Halalnya.

“Kami tidak lagi bertanggung jawab atas kehalalan Resto Kediri” Ujar Tengku Azhari Abbas. Menurut Ketua MUI Kepri ini, pernah saat sidak, ditemukan daging yang tidak mempunyai sertifikat halal.

Salah satu restoran di termina ferry Batam Center yang  memiliki sertifikat halal (poto:imbalo)

Salah satu restoran di termina ferry Batam Center yang
memiliki sertifikat halal (poto:imbalo)


Banyak masayarakat bertanya-tanya,seperti ibu Yanti dari Telaga Punggur misalnya. Kepala Sekolah Islam berbasis pesanteren ini sering mengajak tamunya makan disitu. “Saya sering mengajak tamu saya makan disitu, dan juga makan di Dju Dju serta di Yong Kee” ujar Ibu paro baya ini dalam kesempatan bertemu di masjid Jabal Arafah saat acara Maulid nabi pekan lalu.

Pekan lalu, Buletin Jumat (BJ) berkesampatan mengunjungi Restoran yang juga dijadikan tempat Ibadah jamaah GEMINDO itu. Terlihat tanda halal yang tidak standar masih tercantum di papan nama Resto, yang terdiri dari tiga lantai itu. Dan tercantum juga tahun mendapatkan sertifikat Halal, yaitu sejak tahun 2003, ditu tup dengan lakban.

Kasir yang kami temui tidak dapat menjelaskan mengapa mereka tidak memperpanjang sertifikat Halalnya. “Bukan wewenang saya, saya hanya pekerja” ujar kasir Resto itu sembari memberi nomor telepon yang harus dihubungi.

Restoran ini belum mendapat sertifikat Halal, karena bumbu masaknya, diragukan kehalalannya. (poto:viky)

Restoran ini belum mendapat sertifikat Halal, karena bumbu masaknya, diragukan kehalalannya. (poto:viky)


Cukup lama juga Resto itu beroperasi, “Dulu lumayan ramai pengunjungnya, belakangan ini terasa berat untuk biaya operasi” Ujar M Munip, Munip katanya mewakili perusahaan, saat menghubungi BJ.

Munip pun menjelaskan sepinya pengunjung Resto itu, sangat berpengaruh dengan akses jalan.
“Kami bukan tidak mau memperpanjang sertifikat halal, tetapi sedang konsentrasi dan fokus mengurus kepindahan Resto ke Winsor, sebelah Lachosta. Tulis M Munip lagi dalam sms kepada BJ. “Tiga bulan lagi selesai” tambahnya.

Sementara Restoran Yong Kee, belum mendapatkan Halal, karena bumbu masaknya ada yang tidak halal. Informasi ini kami dapatkan dari LPPOM MUI juga, dan Rdiwan bekas koki yang sudah lima tahun bekerja di Restoran makanan laut itu juga membenarkan.

Di terminal Ferry Pelabuhan Batam Center, kamai sarankan makan minumlah di tempat yang ada logo halalnya. Logo Halal yang dikeluarkan oleh LP POM MUI itu jelas terpampang di sebelah Depan. Kalau belum dan tidak ada logo Halalnya hindari lah.

White Channel TV Muslim di Thailand


WhitFotoe Channel adalah nama sebuah stasiun televisi di Bangkok.  Akhir Januari 2013 yang lalu, Buletin Jumat (BJ) berkesempatan mengunjungi stasiun televisi yang cukup banyak pemirsanya itu, tentulah dari kalangan Islam.

Hampir semua rumah, dari komunitas Islam yang ada di Thailand, dan yang pernah kami kunjungi dan temui, pernah melihat acara televisi tanpa musik ini. Seperti pengakuan seorang ibu rumah , yang tinggal di Pattaya Bangkok Thailand. “Saya paling suka tengok acara waicenet” ujar ibu Sarannyu. Sarannyu, adalah pelajar Thailand yang menuntut Ilmu di Batam. Senang sekali terlihat ibu Sarannyu, ikut bersama kami mengunjungi stasiun televisi Dakwah itu.

Sewaktu kami masuk ruang lantai dasar tempat menerima tamu, terlihat hanya ada seorang wanita. Shaik Ridha adalah nama pemilik dan pengelola tv yang terletak di Jalan Ban Kapi, lokasinya persis ditengah jantung kota Bangkok. Shaik Ridha menerima rombongan kami diruang kerjanya dilantai tiga. Saat itu, tv White Channel sedang menyiarkan ceramah agama, disampaikan oleh ustad DR Ismail Lutfi Chapakia, Rektor universitas Yala Thailand.

Di Thailand, tv Islam seperti White Channel, ada empat station. Padahal negeri Gajah Putih itu mayoritas penduduknya beragama Budha. Kesulitan mendapatkan izin frequensi, mereka atasi dengan menggunakan streaming. Jadilah siaran tv Dakwah ini, dapat diakses diseluruh wilayah Thailand , bahkan diseluruh Dunia.

Hampir nyaris rasanya saat ini, hal itu terlaksana di Indonesia, yang mayoritas penduduknya muslim. Bahkan Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini, kalah jauh dalam bidang per-televisian bila dibanding Vietnam sekalipun. Kalau benar info yang kami dapat, dari sepuluh Negara yang tergabung dalam Asean, Indonesia, adalah Negara terbawah dalam bidang pelayanan umum, yang menyangkut fasilitas telekomunikasi, seperti kebutuhan akan bandwidth misalnya. Dalam pengembangan media Isam, terutama media elektronika seperti televisi, di Batam, khususnya daerah perbatasan , hal yang mustahil rasanya mendapatkan izin fequensi, karena memang jumlah yang terbatas. Disamping itu Indonesia, masih diatur dan sangat tergantung dengan Malay sia, apalagi Singapura.

Meskipun sudah memungkinkan dan ada regulasi untuk tv digital, adanya  pembagian channel – channel yang lebih banyak lagi. Investasi untuk itu terlalu besar, Nyaris pula investor hendak menanamkan modalnya ditempat yang hanya sedikit pemirsanya.

Yang memungkinkan adalah dengan Streaming, sebagaimana yang dilakukan oleh TV White Channel dan TV Islam lainnya yang ada di Thailand. Namun kendala adalah, radio ataupun televisi streaming ini, sangat tergantung dengan fasilitas dan kwalitas bandwidth yang ada, Negara kita, Indonesia ini, masih sangat jauh dari yang diharapkan.
Kalau dari segi sumber daya manusia, memang kita tidak kalah dengan mereka. Namun demikian, untuk bertukar pengalaman dan pengembangan sumber daya manusia. “White Channel memberi kan kesempatan kepada pelajar yang hendak Prektek Kerja Lapangan (PKL), maupun pelatihan yang menyangkut konten siaran” ujar Shaik Ridha, sembari mempersilahkan rombongan kami makan, bersama dengan tamu tamu yang tak henti henti nya datang ke studio TV, yang banyak menggalang dana untuk pengungsi Rohingya itu. Tengah hari itupun bersama lebih 50an orang crew TV White Channel kami shalat Juhur berjamaah, dan Shaik Ridha sebagai Imamnya.

BJ juga, melalui media elektronik nya seperti radio, dan terutama televisinya, yang tergabung dalam Hang Tuah Group, kini sedang mengembangkan siaran dengan Streaming. Seperti di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Islam Hang Tuah Batam, mungkin satu-satunya sekolah SMK yang mempunyai studio radio dan televisi milik sendiri. Para pelajar beserta staf pengajarlah, yang mengelola siaran berbasis streaming ini. Tidak tertutup kemungkinan mereka pun akan berkunjung kesana.

Disana sebagaimana yang direncanakan, mereka para pelajar itu akan dilatih membuat konten siaran, dan mempelajari bagaimana cara kerja Streaming, dan yang utama kerja sama dalam bidang siaran antar dua negara.

Di Batam banyak pelajar asal Thailand, beberapa diantara mereka fasih dan lancar berbicara dan menulis dalam empat bahasa, seperti Sarannyu yang menemani dan menjadi penterjemah kami sewaktu berkunjung ke TV White Channel itu misalnya, pemuda kelahiran Pattaya Thailand 19 tahun itu, lancar berbahasa Inggris, Arab, Indonesia, dan sudah pasti bahasa Thailand.

Menjelang petang, kami tinggalkan studi tv White Channel itu , setelah hampir semua ruangan gedung berlantai empat itu, baik ruang siaran dan produksi kami kunjungi. (*)

Halal dan Haram Diseputar Kita


Makanan mengandung babi ini, bebas bercamour baur dengan makanan lainnya yang halal

Makanan mengandung babi ini, bebas bercamour baur dengan makanan lainnya yang halal

Bercampurnya Makanan Halal dan Haram, membuat makanan yang tadinya halal menjadi haram.
Inilah yang terjadi di Super Market Top 100 Penuin Batam baru-baru ini. Terlihat sang pengelola sedang memperhatikan Buletin Jumat yang diterbitkan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam.
Makanan mengandung Babi ini, disimpan di dalam frizer yang sama dengan makanan yang berlogo Halal. Itu adalah perbuatan yang terlarang .SONY DSC
Kepada konsumen Muslim, diminta dan diharapkan agar berhati hati belanja di Super Market seperti ini . Sudah waktunya kita peduli dan telitilah sebelum membeli.
Hal seperti ini pun pernah terjadi di beberapa Super Market yang ada di Batam.

dscf4212Seperti di Carrefour, tempohari misalnya, tempat penjualan daging babi, daging sapi dan daging ayam bersebelahan saja, sementara petugas /penjualnya memakai alat potong yang sama. Tetapi syukur pengelolanya segera merespon dan tidak menjual daging babi lagi.
Temuan lain yang pernah kami alami adalah disebuah Super Market yang cukup ramai pembelinya, berada didaerah Jodoh, waktu itu daging babi disitu masih di jual bebas, bersebelahan persis tempat jual daging babi itu dengan tempat penjualan makanan yang sudah dimasak.. Geli dan jijik rasanya setelah melihat pembeli memegang daging babi dan memegang makanan yang sudah dimasak itu.
Apatah lagi troli dan keranjang untuk itu menjadi satu .

UU NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
PERBUATAN YANG DILARANG
BAGI PELAKU USAHA
Pasal 8 item h.

Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa
yang :tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan
“halal” yang dicantumkan dalam label

Restoran Grand Duck Nagoya Hill Batam


Sertifikat halal pemotongan bebek, dipajang tinggi, tidak terlihat konsumen apa isi tulisannya. Pajangan minuman beralkohol berbagai merk, bumbu masak, sulit bagi Restoran ini mendapatkan sertifikat halal. (photo istimewa)

Sertifikat halal pemotongan bebek, dipajang tinggi, tidak terlihat konsumen apa isi tulisannya. Pajangan minuman beralkohol berbagai merk, bumbu masak, sulit bagi Restoran ini mendapatkan sertifikat halal. (photo istimewa)


Ternyata Restoran Grand Duck yang berada di Mall Nagoya Hill Batam itu belum bersetifikat Halal.
Adalah petugas LP Pom MUI yang memberitahukan kepada Buletin Jumat, bahwa sertifikat Halal yang tercantum di Restoran Grand Duck Nagoya Hill itu, bukan LP POM MUI Batam yang mengeluarkannya.
600725_596916783655730_679272612_n
Dan celakanya pula, sertifikat yang terpajang didalam Restoran itu, bukan sertifikat Halal untuk Restoran, demikian penjelasan Menejer Restoran yang sudah menjual menu Bebek itu hampir 6 tahun. Banyak konsumen yang tak tahu kalau Restoran itu menjual makanan yang tidak Halal, karena di dalam Res toran ada tergantung dan terpampang sertifikat Halal yang terbingkai bagus. Dipajang di tiang agak tinggi dekat dengan kasir.

Jadi agak susah memang memperhatikan apa saja yang tertulis di sertifikat itu, hanya tulisan Halal terlihat agak jelas. Namun setelah ditanyakan dan diteliti, sertifikat yang selama ini tergantung itu hanya menyatakan, bahwa Bebek yang dimasak di Restoran itu di potong secara halal, tetapi dipotong bukan di Batam. “Semua dikirim dari luar” ujar penanggung jawab Restoran menjelaskan.

Ironisnya lagi Sertifikat halal potocopian yg sudah lusuh itu, sudah habis masa berlakunya hampir 3 tahun yang lalu.
Mencantumkan halal tidak berproduksi secara halal, hukuman nya pidana 2 tahun penjara, tidak itu saja boleh didenda 5 miliar rupiah, demikian bunyi Undang-Undang Perlindungan Konsumen no. 8 tahun 1999.
223402_596915916989150_148759940_n
Menejer Restoran yang kami temui adalah seorang Muslim, sejak lagi Restoran itu dibuka Dia sudah mulai bekerja disitu. Kami beritahukan kepada sang Menejer, bahwa ada sanksi hukum terhadap perlakuan Restoran yang dikelolanya itu.

Mungkin sang pengelola tidak tahu bahwa ada sanki hukum sebagaimana bunyi UU Perlindungan Konsumen tersebut diatas. Tetapi Sang Menejer itu tahu betul, apa saja campuran bumbu masak untuk menu yang sangat banyak penggemarnya itu.

Katakanlah Bebek yang dikirim dari luar daerah itu dipotong secara halal, tetapi menjadi tidak halal, karena bumbu untuk memasaknya dicampur dengan bahan yang tidak halal.

“Dua Tahun yang lalu mereka mengajukan sertifikasi halal” ujar Khairuddin Nasution Kepada Buletin Jumat. “Tetapi semua bumbu masak yang kami rekomendasikan untuk diganti karena mengandung bahan yang tidak halal, tidak mereka setujui” Ujar Sekretaris LP POM MUI Kepri ini.
“Informasi kami dapati dari sang juru masak , bahan – bahan apa saja yang dicampur untuk memasak Menu Bebek itu” jelas Khoiruddin lagi.

Saat kami mengunjungi Restoran dipetang hari itu, hampir semua meja terisi penuh, terlihat pasangan suami isteri (berjilbab), katanya dari Tanjung Pinang, sengaja datang untuk menikmati Menu Bebek yang cukup lezat itu, kelihatan agak terperangah dan terkejut, saat kami temui dan bertanya.

Selanjutnya agar tidak konsumen terkecoh, dengan adanya tulisan halal didalam Restoran itu, kami minta kepada Menejer, segera mencopot sertifikat pemotongan bebek yang sudah kadaluarsa itu. Apalagi sertifat itu pun bukan sertifikat Halal untuk Restoran. Kalaupun ada sertifikat yang sebenarnya, seharusnya di pajang ditempat yang gampang terbaca.

Bagi Konsumen Muslim kami anjurkan Telitilah Sebelum Mengkonsumsi, adalah hak kita sebagai konsumen bertanya apakah makanan yang disajikan itu halal atau tidak, dan seharusnya dibuktikan dengan sertifikat halal yang dikeluarkan oleh lembaga resmi.

Berkunjung ke Pemukiman Suku Laut di Batam


Style Mak Dayang dengan Jilbabnya....... tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek.... satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya......... banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama.....

Mak Dayang , Pak Tamam, Adi Sadikin dan ustadz Masri ,

“Saya mau ke tempat pak Din, boleh antar dan temanin saya pak?” tulis Adi di pesan facebookku. Adi Sadikin adalah seorang warga Negara Malaysia. Aku menyanggupinya.

Sebelumnya Adi  telah beberapa kali mengomentari tulisanku. Adi tertarik mengunjungi Batam setelah membaca tulisan tentang pak Din yang tinggal di Pulau Air Mas. https://imbalo.wordpress.com/2008/04/17/suku-laut-di-batam/

Jadilah hari itu jumat 25 Januari 2013, Adi datang ke Batam. Ku jeput dia di Bandar Udara Hang Nadim. Fireplay dari Subang Malaysia mendarat sekitar pukul 11.00 wibb. Kami masih sempat shalat Jumat di Masjid Raya Batam.

Setelah istirahat sejenak dan menyiapkan segala sesuatunya, dari Bengkong, kami berangkat ke Telaga Punggur, sekitar pukul 5 petang kami tiba di pelabuhan Telaga Punggur, dengan pompong kami menuju pulau Air Mas, cuaca agak gelap, awan terlihat menggumpal, angin utara bertiup kencang, nun jauh di selat Johor terlihat gulungan ombak putih, menandakan gelombang cukup tinggi.

Sampai di Selat Desa Dapur Arang, ustadz Masri yang kami temui telah selesai melaksanakan shalat magrib, berdua dengan Adi, kami shalat qasar dan jamak takdim, di mushala Taqwa. Mushala kecil yang terletak di pemukiman suku laut itu dibangun oleh AMCF dan Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam.
Tak lama kemudian Mak Dayang dan Pak Tamam datang ke mushala, pasangan suami isteri ini, termasuk penduduk tertua di pemukiman itu.

Seperti biasa mak Dayang bila menemui kami di mushala tak lupa memakai kerudungnya. Kulihat Adi memperhatikan Mak Dayang, tak tahulah apa yang ada dipikiran Adi terhadap Mak Dayang, setelah melihatnya langsung. Mak Dayang terbiasa bercelana pendek (sedengkul) dan berbaju lengan pendek, tetapi memakai kerudung.

Pak Din dan Adi di

Pak Din dan Adi

Adi yang jauh bekerja di Qatar itu, memang sengaja menyempatkan diri datang ke Batam dalam masa liburnya di darat. “Saya bekerja di Qatar selama 40 hari di laut dan libur 40 hari pula di darat, tetapi saya pulang ke Malaysia “ ujar Adi menjelaskan. “ Saya mau bantu perbaiki pelantar rumah pak Din” tambahnya lagi.

Adi yang tinggal di Serdang Kuala Lumpur ini , masih muda, umurnya sekitar 35 tahun, punya seorang isteri dan empat orang anak. Adi sudah lama berniat ingin membantu memperbaiki pelantar di pemukiman suku laut itu.
Tersentuh hatinya setelah membaca tulisan tentang bagaimana, suku laut yang minoritas muslim di Pulau Air Mas itu, selalu disindir oleh saudara mereka sendiri, karena terpaksa harus memakai pelantar yang juga sudah mulai rusak itu.

Ada dua pelantar di kampung laut itu, satu pelantar umum, pelantar dekat rumah pak Din dan juga pelantar yang menuju ke masjid, tetapi sudah rusak parah saat itu. Satu lagi pelantar, konon dibangun oleh orang Korea.

Meskipun mereka terbilang masih bersaudara, bahkan ada yang seibu dan sebapa, tetapi dalam soal keyakinan, mereka berbeda agama. Sindiran dari balik dinding kamar/rumah itulah, apabila saat melaui pelantar, terasa menyakitkan hati. Ujar isteri pak Din suatu hari. Pelantar di situ pula, sebagaimana jamaknya pelantar, di perkampungan nelayan memang berada diantara rumah-rumah.

Di pulau Air Mas , hampir semua suku laut yang bermukim di pulau itu adalah keluarga mak dayang , termasuk lah Pak Din. Pak Din dan Mak Dayang adalah adik beradik, sebagian anak-anak Pak Din dan Mak Dayang, terutama yang telah berkeluarga, beralih ke agama bukan Islam. Ada yang menikah karena pasangannya beragama lain.

Ternyata Adi tak tahu kalau pelantar rumah mak Dayang dan pak Din sudah diperbaiki oleh pemko Batam. Adi pun tidak mengatakan, kalau kedatangannya ingin membantu biaya perbaikan pelantar.

Sewaktu kami mampir dan bertemu dengan pak Din di Air Mas. Di masjid, tidak ada seorang pun yang shalat pada saat itu. Karena memang tidak ada orang yang mampu dan bisa menjadi Imam. Melihat kenyataan itu terdengar Adi bergumam : “Di Selat Desa Dapur Arang, ada ustadz Masri, tetapi di Air Mas tak ada ustadz” ujar Adi seakan bertanya. “Saya akan alihkan saja bantuan saya ini, untuk ustadz yang mau tinggal di Air Mas” kata Adi. “Ya seperti ustadz Masri, kalau dapat,  insyaAllah, saya akan kirim setiap bulan biayanya” kata Adi lagi, bersungguh sungguh.

Kulihat Adi mengeluarkan dompetnya, Aku tak tahu berapa lembaran rupiah yang diberikan Adi kepada Mak Dayang, dan berapa pula yang diberikannya kepada ustadz Masri. Yang jelas, Adi memberikan beberapa lembaran dollar US nominal 100 an kepadaku, “ Ini untuk sekian bulan kedepan, tolong carikan ustadz pak” harap Adi kepadaku. Malam itu kami tinggalkan pulau Air Mas, pompong 40 pk yang membawa kami pulang, terombang ambing mengikuti alunan gelombang.

Dari jauh Batam terlihat indah, kelap kelip lampu, dari ratusan kapal yang bersandar dan berlabuh di perairan.
Keberadaan kapal – kapal itu adalah salah satu sumber Devisa bagi Batam, cukup besar. Tetapi nyaris tidak menyentuh kehidupan para Nelayan, yang hanya berjarak beberapa mil saja, dari pusat pemerintahan itu.

Mereka tetap terpinggirkan, bahkan peraian yang biasa tempat mereka mencari ikan, kian tercemar oleh limbah. Mungkin itulah salah satu pemicu, para hinterland, demikian mereka disebut, berencana memisahkan diri dari pemerintahan kota Batam. Wallahu’alam.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 4.960 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: