Berkunjung ke Pemukiman Suku Laut di Batam


Style Mak Dayang dengan Jilbabnya....... tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek.... satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya......... banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama.....

Mak Dayang , Pak Tamam, Adi Sadikin dan ustadz Masri ,

“Saya mau ke tempat pak Din, boleh antar dan temanin saya pak?” tulis Adi di pesan facebookku. Adi Sadikin adalah seorang warga Negara Malaysia. Aku menyanggupinya.

Sebelumnya Adi  telah beberapa kali mengomentari tulisanku. Adi tertarik mengunjungi Batam setelah membaca tulisan tentang pak Din yang tinggal di Pulau Air Mas. https://imbalo.wordpress.com/2008/04/17/suku-laut-di-batam/

Jadilah hari itu jumat 25 Januari 2013, Adi datang ke Batam. Ku jeput dia di Bandar Udara Hang Nadim. Fireplay dari Subang Malaysia mendarat sekitar pukul 11.00 wibb. Kami masih sempat shalat Jumat di Masjid Raya Batam.

Setelah istirahat sejenak dan menyiapkan segala sesuatunya, dari Bengkong, kami berangkat ke Telaga Punggur, sekitar pukul 5 petang kami tiba di pelabuhan Telaga Punggur, dengan pompong kami menuju pulau Air Mas, cuaca agak gelap, awan terlihat menggumpal, angin utara bertiup kencang, nun jauh di selat Johor terlihat gulungan ombak putih, menandakan gelombang cukup tinggi.

Sampai di Selat Desa Dapur Arang, ustadz Masri yang kami temui telah selesai melaksanakan shalat magrib, berdua dengan Adi, kami shalat qasar dan jamak takdim, di mushala Taqwa. Mushala kecil yang terletak di pemukiman suku laut itu dibangun oleh AMCF dan Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam.
Tak lama kemudian Mak Dayang dan Pak Tamam datang ke mushala, pasangan suami isteri ini, termasuk penduduk tertua di pemukiman itu.

Seperti biasa mak Dayang bila menemui kami di mushala tak lupa memakai kerudungnya. Kulihat Adi memperhatikan Mak Dayang, tak tahulah apa yang ada dipikiran Adi terhadap Mak Dayang, setelah melihatnya langsung. Mak Dayang terbiasa bercelana pendek (sedengkul) dan berbaju lengan pendek, tetapi memakai kerudung.

Pak Din dan Adi di

Pak Din dan Adi

Adi yang jauh bekerja di Qatar itu, memang sengaja menyempatkan diri datang ke Batam dalam masa liburnya di darat. “Saya bekerja di Qatar selama 40 hari di laut dan libur 40 hari pula di darat, tetapi saya pulang ke Malaysia “ ujar Adi menjelaskan. “ Saya mau bantu perbaiki pelantar rumah pak Din” tambahnya lagi.

Adi yang tinggal di Serdang Kuala Lumpur ini , masih muda, umurnya sekitar 35 tahun, punya seorang isteri dan empat orang anak. Adi sudah lama berniat ingin membantu memperbaiki pelantar di pemukiman suku laut itu.
Tersentuh hatinya setelah membaca tulisan tentang bagaimana, suku laut yang minoritas muslim di Pulau Air Mas itu, selalu disindir oleh saudara mereka sendiri, karena terpaksa harus memakai pelantar yang juga sudah mulai rusak itu.

Ada dua pelantar di kampung laut itu, satu pelantar umum, pelantar dekat rumah pak Din dan juga pelantar yang menuju ke masjid, tetapi sudah rusak parah saat itu. Satu lagi pelantar, konon dibangun oleh orang Korea.

Meskipun mereka terbilang masih bersaudara, bahkan ada yang seibu dan sebapa, tetapi dalam soal keyakinan, mereka berbeda agama. Sindiran dari balik dinding kamar/rumah itulah, apabila saat melaui pelantar, terasa menyakitkan hati. Ujar isteri pak Din suatu hari. Pelantar di situ pula, sebagaimana jamaknya pelantar, di perkampungan nelayan memang berada diantara rumah-rumah.

Di pulau Air Mas , hampir semua suku laut yang bermukim di pulau itu adalah keluarga mak dayang , termasuk lah Pak Din. Pak Din dan Mak Dayang adalah adik beradik, sebagian anak-anak Pak Din dan Mak Dayang, terutama yang telah berkeluarga, beralih ke agama bukan Islam. Ada yang menikah karena pasangannya beragama lain.

Ternyata Adi tak tahu kalau pelantar rumah mak Dayang dan pak Din sudah diperbaiki oleh pemko Batam. Adi pun tidak mengatakan, kalau kedatangannya ingin membantu biaya perbaikan pelantar.

Sewaktu kami mampir dan bertemu dengan pak Din di Air Mas. Di masjid, tidak ada seorang pun yang shalat pada saat itu. Karena memang tidak ada orang yang mampu dan bisa menjadi Imam. Melihat kenyataan itu terdengar Adi bergumam : “Di Selat Desa Dapur Arang, ada ustadz Masri, tetapi di Air Mas tak ada ustadz” ujar Adi seakan bertanya. “Saya akan alihkan saja bantuan saya ini, untuk ustadz yang mau tinggal di Air Mas” kata Adi. “Ya seperti ustadz Masri, kalau dapat,  insyaAllah, saya akan kirim setiap bulan biayanya” kata Adi lagi, bersungguh sungguh.

Kulihat Adi mengeluarkan dompetnya, Aku tak tahu berapa lembaran rupiah yang diberikan Adi kepada Mak Dayang, dan berapa pula yang diberikannya kepada ustadz Masri. Yang jelas, Adi memberikan beberapa lembaran dollar US nominal 100 an kepadaku, “ Ini untuk sekian bulan kedepan, tolong carikan ustadz pak” harap Adi kepadaku. Malam itu kami tinggalkan pulau Air Mas, pompong 40 pk yang membawa kami pulang, terombang ambing mengikuti alunan gelombang.

Dari jauh Batam terlihat indah, kelap kelip lampu, dari ratusan kapal yang bersandar dan berlabuh di perairan.
Keberadaan kapal – kapal itu adalah salah satu sumber Devisa bagi Batam, cukup besar. Tetapi nyaris tidak menyentuh kehidupan para Nelayan, yang hanya berjarak beberapa mil saja, dari pusat pemerintahan itu.

Mereka tetap terpinggirkan, bahkan peraian yang biasa tempat mereka mencari ikan, kian tercemar oleh limbah. Mungkin itulah salah satu pemicu, para hinterland, demikian mereka disebut, berencana memisahkan diri dari pemerintahan kota Batam. Wallahu’alam.

Berdakwah Dengan Sebuah Gunting Kuku


gunting kuku2
Tak ada data pasti berapa persent remaja yang tidak mengerti bahwa menggunting kuku adalah salah satu fitrah, yang sangat dianjurkan dalam Islam, disamping tentunya mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kumis.

Aat misalnya seorang pemuda 20 an , setiap kali kami bertemu, dia akan selalu tersenyum dan menunjukkan jari jari tangannya. Dua bulan yang lalu , kesepuluh jari tangannya masih memiliki kuku yang panjang. Kuku Aat terawat rapi, terlihat bersih, lebih satu centi meter panjangnya. Sementara kuku pada ibu jarinya terlihat lebih panjang lagi.
gunting kuku3
Dalam beberapa hadist ada disebutkan bahawa : “Perkara fitrah ada lima: Berkhitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, menggunting kuku dan mencabut bulu ketiak.” (H.R Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits shahih lainnya disebutkan bahwa perkara fitrah ada sepuluh, salah satunya adalah menggunting kuku. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallaahu ‘Anhu ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam memberi kami batas waktu untuk menggunting kumis, menggunting kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, yaitu tidak membiarkannya lebih dari empat puluh hari.” (H.R Ahmad, Muslim dan Nasa’i, lafal hadits di atas adalah lafal hadits riwayat Ahmad).

Hadis inilah yang dibaca Aat sehingga dia rela menggunting semua kuku panjangnya. Disuatu Jumat, Aat yang kebetulan duduk satu shaf disampingku, menerima sebuah gunting kuku yang kusodorkan, terlihat agak berlinang matanya, saat mengerat keseluruh kuku-kunya itu.

Banyak pemuda sebaya Aat yang tak mengerti dan tak faham, tentang anjuran memotong kuku, dengan berbagai dalih, kuku kuku mereka dibiarkan panjang. “Susah menjaga kebersihannya” jelas KH Usman Ahmad Ketua MUI kota Batam menanggapi kuku panjang ini. “Apalagi saat istinjak, kotoran bisa nyelit dan tersisa di celah kuku panjang itu” tambahnya lagi.

Entah karena kebiasan memperhatikan kuku pelajar yang bersekolah di tempat kami, kemana pergi InsyaaAllah kami, tak pernah lupa membawa sebuah gunting kuku. Gunting kuku ini pula acap dipakai para jamaah shalat jumat sebelum berwuduk.
Murid disekolah kami, yang sudah balig, ratusan jumlahnya, terutama pelajar putrinya, paling suka berkuku panjang. Gunting kuku itu nyaris tak pernah henti bekerja.

Sementara itu, dari hasil wawancara kami kepada puluhan pemuda, sebagaimana bunyi hadis diatas, hanya sekitar 25 persent mereka melaksanakan anjuran mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak.

Yang pernah mendengar dan pernah tahu kalau ada anjuran seperti itu, tapi tidak melaksanakan, sekitar 50 persen

Dan yang tak tahu dan tak pernah melaksanakan , lebih banyak lagi. “Gatal pak” alasan mereka. Lha kan pernah dipotong dan dicukur. “iya , tapi bukan karena tahu kalau itu anjuran dan ada waktunya pula” jawab salah seorang yang kami wawancarai . “Dan itu dilakukan (mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak) , sudah tak ingat entah berapa tahun yang lalu” jawab yang lainnya pula.

Begitulah….

Ziarah ke Makam Kakek Bantal : Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim


sunan gresik
Setelah mengunjungi Makam Sunan Giri di Gresik , kami juga singgah di Makam Maulana Malik Ibrahim, atau dikenal juga dengan sebutan Sunan Gresik. Maulana Malik Ibrahim wafat sekitar tahun 14 19 M . Beliau dimakamkan di di desa Gapurosukolilo, kota Gresik, Jawa Timur.
Sunan yang termasuk walisongo ini dianggap wali yang pertama sekali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Tidak seperti makam sunan Giri yang terletak diatas perbukitan, makam Sunan Gresik, terletak persis di pinggir jalan. Komplek makam hanya dibatasi pagar, setinggi 2 meter, Pintu ke pemakamaan itu tertutup, pengunjung tidak dibenarkan masuk , karena sedang ada perbaikan.
Sama dengan pengunjung ke makam sunan Giri, di komplek makam sunan Gresik ini pun penziarah ramai sekali. Ratusan anak-anak usia SMA terlihat khusuk memanjatkan doa dipimpin oleh gurunya .
suan gresik 2

Entah apa sebabnya Maulana Malik Ibrahim , terkenal dengan sebutan nama Kakek Bantal, Sunan Gresik disebutkan juga pernah menetap di Champa, selama tigabelas tahun, menikahi putrid raja, beliau dikarunia 2 orang putra, yaitu Raden Rahmat atau yang lebih terkenal dengan nama Sunan Ampel dan seorang lagi Syaid Ali Murthada atau Raden Santri.

Di depan komplek makam ini pun banyak pengemis, namum pedagang cenderamata dan jajanan tidak sebanyak di komplek makam Sunan Giri..
Menurut silsilah Sunan Gresik adalah paman dari Sunan Giri. Sunan Gresik terkenal juga dengan keahliannya sebagai tabib disamping pedagang yang sukses.
sunan gresik 1
Lebih enam abad, sejak wafatnya hingga ke hari ini makam Sunan yang berasal dan dilahirkan di Samarkand Asia Tengah itu, tetap ramai diziarahi, terutama pada malam jumat legi. Dan hari kemangkatannya tetap di peringati hingga ke hari ini.

Sebagaimana tertulis dalam bahasa arab pada makamnya sbb : Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para sultan dan wazir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah.

Saat ini, jalan yang menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik Ibrahim

Ziarah ke Makam Sunan Giri di Gresik Surabaya


Makam Sunan Giri
Mengunjungi Gresik rasanya kurang afdol tidak ziarah ke makam Sunan Giri. Makam yang terletak di desa Giri Kebomas Gresik Surabaya itu, akhir Desember 2012 lalu, kembali kami kunjungi. Giri yang berarti perbukitan, dipuncak bukit itulah berada makam salah seorang sunan yang termasuk walisongo.

Banyak versi cerita tentang Sunan yang juga terkenal dengan nama Joko Samudro ini, Ada juga pendapat lainnya yang menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq, dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur, dan catatan nasab Sa’adah Ba Alawi Hadramaut.

Versi lain menyatakan bahwa Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Maka ia dipaksa ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak yang baru dilahirkannya itu. Lalu, Dewi Sekardadu dengan rela menghanyutkan anaknya itu ke laut/selat bali sekarang ini.

Dipelataran parkir komplek makam Sunan Giri, terlihat hanya minibus dan mobil pribadi saja. Sementara untuk Bus besar diparkir lumayan jauh dari komplek makam. Dari parkiran bus ke makam tersedia sejenis dokar dan juga speda motor ojek. Tak mahal ongkosnya
Bagi penziarah yang ingin berjalan kaki, ada ratusan anak tangga yang harus didaki untuk mencapai puncak giri. Diatas puncak terdapat sebuah masjid, tak begitu luas pelatarannya, Dari samping utara masjid terdapat jalan setapak kearah timut terletak komplek makam keluarga . Terlihat sebuah pendopo dengan lantai keramik putih, disitulah Sunan Giri bersemayam. Selain makam Sunan Giri terdapat beberapa makam lain.


Tak henti – hentinya penziarah berdatangan, masuk silih berganti, duduk bersila, disela sela makam didalam pendopo. Sunan yang berdakwah dengan mendirikan pesanteren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.

Bagi masyarakat Jawa terutama anak-anak, tidak asing dengan permainan seperti Jelunagan, Li-ilir dan Cublak Suweng, semua permainan itu dianggap berhubungan dengan Sunan Giri.

Kembali , kami turuni anak tangga, tak terasa penat, seperti saat mendaki tadi, dikiri kanan jalan banyak terdapat penjual penganan khas Gresik.
Penziarah pun terus berdatangan ke makam murid dari Sunan Ampel Surabaya ini. Tak kira siang atau pun malam.

Bulang Lintang, Pulau Bersejarah yang Terlupakan.



Pulau Bulang pernah memainkan peranan penting dalam peristiwa sejarah di kawasan Selat Melaka. Ia jadi pusat pertahanan Kerajaan Melayu dari serangan Portugis. Kini, Bulang terabaikan, satu per satu instansi pemerintah angkat kaki dari pulau itu.

Pelabuhan Bulang Lintang tak begitu ramai, Kamis (20/12) siang. Hanya ada dua kapal motor bersandar di sana. Satu kapal siap mengantar sejumlah warga ke Batam. Satu kapal lagi mengangkut semen dan bahan bangunan.
542015_532189270133729_72298048_n
Siang itu, warga Bulang Lintang bergotong royong membangun masjid. Mereka bergantian memindahkan semen dan besi dari kapal ke atas ponton pelabuhan dan mengangkutnya dengan sepeda motor ke lokasi pembangunan masjid yang berjarak 200 meter dari pelabuhan.

Gotong royong siang itu merupakan satu-satunya aktivitas warga Bulang Lintang. Biasanya, mereka beristirahat di siang hari. Baru sehabis salat Isya mereka melaut hingga dini hari.

Penduduk Bulang Lintang sekitar 400 kepala keluarga. Sebagian besar nelayan. Mereka tinggal di tepi laut, di rumah-rumah panggung berpancang kayu. Akses jalan yang membelah perkampungan berupa jalan semen selebar 2 meter. Banyak sisa-sisa pembangunan di kampung itu. Bulang Lintang pernah jadi ibu kota kecamatan. Namun, sejak beberapa tahun lalu Kantor Camat Bulang berupa bangunan dua lantai ditinggal. Kantor camat pindah ke Pulau Buluh.
206499_532189576800365_1427244422_n
“Sebentar lagi Puskesmas juga akan ikut pindah ke Pulau Buluh,” kata Raja Hilmi, Ketua RW I Bulang Lintang.

Pulau Buluh berjarak 20 menit perjalanan laut dari Bulang Lintang. Jika Puskesmas ikut pindah, suasana Bulang Lintang akan lebih sepi lagi. Sebelumnya, Kantor Urusan Agama (KUA) Bulang juga sudah pindah ke Pulau Buluh bersamaan dengan pindahnya kantor camat.
148948_532189593467030_1960805901_n
Bulang Lintang bukan pulau sembarangan. Pulau ini sarat sejarah. Menteri Pariwisata dan Kebudayaan I Gede Ardika, pernah menyambangi pulau ini. Puluhan tahun sebelumnya, pasukan TNI AD dan marinir juga pernah mendiami pulau ini saat Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia, sekitar tahun 1963.
564588_532189446800378_1488114146_n
Ratusan tahun sebelumnya, jauh sebelum Batam dikenal, Bulang Lintang juga sudah tercatat dalam sejarah Melayu Riau-Lingga-Johor. Di sana, ada situs sejarah Melayu. Ada makam Bendahara Temenggung Abdul Jamal bersama istrinya Raja Maimunah.

Pemko Batam memasukkan makam Temenggung Abdul Jamal dalam peta pariwisata religius Kota Batam. Begitu juga Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, menjual pulau ini sebagai salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi.

 Yayasan Amal Malaysia datang berkunjung

Yayasan Amal Malaysia datang berkunjung


Namun, kondisi situs sejarah tersebut tak dikelola dengan baik. Penunjuk jalan menuju area makam hanyalah berupa plang bertuliskan nama jalan Temenggung Abdul Jamal. Kita harus bertanya ke penduduk sekitar untuk mengetahui letak makam sang Bendahara. Lokasinya sekitar 100 meter dari pelabuhan.

Memasuki area pemakaman Temenggung Abdul Jamal kita akan langsung berhadapan dengan gapura khas Melayu. Gapura itu bercat kuning dengan tulisan Obyek Wisata Religius Makam Bulang Lintang berwarna hijau. Begitu kaki melangkah, dedaunan kering sudah langsung menyambut. Daun-daun itu mengotori jalan, terlihat jarang dibersihkan. Pohon-pohon seperti cempedak, akasia, rambe, dan lainnya menaungi area pemakaman.

Makam Temenggung Abdul Jamal berada di dalam komplek pemakaman seluas 12×15 meter. Pagar asli makam tersebut berupa batu kapur dibiarkan tetap berdiri. Di luarnya, Pemko Batam memugarnya dengan membangun tembok setinggi 1,5 meter. Tembok tersebut juga dicat kuning. Sebagian sudah berlumut. Warna kuningnya kusam, tak lagi bercahaya.

Jasad Makam Temenggung Abdul Jamal dibaringkan tepat di tengah-tengah komplek pemakaman. Makam sang bendahara dinaungi rumah kecil. Nisannya berupa batu berbentuk tiang bulat. Nisan itu dilapisi kain kuning. Ada sejumlah tasbih membelit nisannya. Di sebelah kirinya, istrinya, Raja Maimunah dimakamkan. Di sekelilingnya, banyak makam berukuran sedang. Ada juga belasan makam berukuran kecil, seperti makam bayi-bayi.

Selain makam Temenggung Abdul Jamal dan istrinya tak ada keterangan apapun tentang makam-makam yang lain. Kamarul Zaman, anak pasangan Mustafa dan Raja Halidah, pemegang pusaka peninggalan Temenggung Abdul Jamal, menduga makam-makam di sekeliling Abdul Jamal adalah makam para pembantu bangsawan tersebut. “Mungkin semacam hulubalangnya,” katanya.

Di luar komplek makam Temenggung, ada sebuah museum kecil bernama Museum Mini Cik Puan Bulang. Museum itu dibangun bersamaan dengan pemugaran komplek makam Tumenggung di zaman Wali Kota Batam Nyat Kadir, sekitar sepuluh tahun lalu. Ukurannya 8×8 meter. Isinya kosong. Tak ada barang atau dokumen apapun yang disimpan di museum tersebut.

Awalnya, museum tersebut akan diisi peninggalan Temenggung Abdul Jamal berupa dua keris berlekuk tiga, tongkat raja, pedang, dua tombak berbalut bulu kuda, dan separuh potongan kelapa laut. Separuh potongan kelapa laut itu konon adalah tempat membasuh kaki Temenggung Abdul Jamal. Namun, benda pusaka itu tak pernah menghuni museum karena pemegang pusaka yakni keluarga Raja Halidah dan Mustafa tak mengizinkannya.

“Takut hilang,” kata Mustafa, Kamis siang itu.

Dulu, kata Mustafa, banyak orang datang ke rumahnya ingin melihat benda-benda pusaka itu. Sebagian bermaksud hendak mengambil harta karun yang terkubur di area makam Temenggung Abdul Jamal. “Banyak yang sudah mencoba ambil harta karun, tapi tak ada yang bisa,” ujarnya. Itu sebabnya, katanya, ia tak meletakkan benda-benda peninggalan Temenggung Abdul Jamal di museum itu.

Mustafa mengaku benda pusaka itu milik keluarga istrinya. Ia bercerita, suatu hari mertuanya Raja Umar kedatangan tamu dari Pulau Penyengat. Namanya Mukhsin Khalidi, penilik dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Kepri.

Kepada mertuanya, kata Mustafa, Khalidi menanyakan apakah mertuanya memegang benda-benda pusaka peninggalan Temenggung Abdul Jamal? “Mertua saya tak langsung jawab. Mertua saya balik nanya, benda apa,” kata Mustafa.

Barulah setelah Khalidi menjelaskan soal keris dan pedang, Raja Umar membenarkan, dialah yang memegang benda-benda itu. “Sejak saat itulah benda pusaka ini ada di keluarga kami,” tuturnya.

Meski pemegang benda pusaka, Mustafa tak bisa memastikan, apakah keluarga istrinya termasuk keturunan Temenggung Abdul Jamal. Tak ada catatan tertulis soal silsilah keturunan Temenggung Abdul Jamal di keluarga mereka. Yang Mustafa tahu, mertuanya bernama Raja Umar bin Raja Yahya. “Di atas Raja Yahya, mertua saya tak ada cerita lagi,” tukasnya.

Mustafa sendiri adalah perantauan dari Adonara, Nusa Tenggara Timur. Ia datang ke Bulang Lintang sekitar tahun 1962. Belum banyak penduduk di sana, hanya ada tiga kepala keluarga. Setahun kemudian, Bulang Lintang menjadi basis tentara saat Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia. “Banyak tentara yang berjaga-jaga di sini. Mereka bikin tenda di dekat makam Tumenggung Abdul Jamal,” ucapnya.

Di masa-masa konfrontasi itulah, kata Mustafa, ia menikah dengan Raja Halidah, anak Raja Umar. Dari pernikahan itu, ia dikarunia tujuh anak. Kamarul Zaman, yang hari itu, mengantar Batam Pos ke situs-situs sejarah Temenggung Abdul Jamal, adalah anak Mustafa-Halidah, yang kini menjadi pegawai di kantor Lurah Bulang Lintang.

Banyak turis Malaysia maupun rombongan ibu-ibu majelis taklim yang berkunjung ke makam tersebut. Sebagian, setelah berziarah ke makam, melihat-lihat pusaka peninggalan Temenggung Abdul Jamal. Konon, tempat membasuh kaki Temenggung Abdul Jamal memiliki khasiat menyembuhkan batuk dan flu. Mustafa mengaku sudah membuktikan kesaktian tempat membasuh kaki itu. Semua anaknya, katanya, jika batuk cukup ia beri air yang sebelumnya diendapkan dulu di dalam tempat membasuh kaki Temenggung Abdul Jamal itu.

“Orang Malaysia yang datang juga banyak yang minta minum air dari tempat membasuh kaki ini,” kata Mustafa.

Keluarga Mustafa ikut memegang kunci makam Temenggung Abdul Jamal. Namun, mereka bukan penjaga makam. Penjaganya adalah Mathaha atau biasa dipanggil Wak Taha oleh warga sekitar. Wak Taha mengaku sudah berumur 80 tahun. Rambutnya memutih. Kulitnya legam terbakar matahari. Giginya sudah banyak yang tanggal. Cara berjalannya agak membungkuk.

Wak Taha mengaku diminta Wali Kota Batam Nyat Kadir menjaga makam saat pertama kali area pemakaman itu dipugar Pemko Batam. Sampai sekarang ia menjaga makam tersebut. Setiap bulan, katanya, ia mendapatkan gaji Rp500 ribu dari Camat Bulang. Namun, karena usianya yang sudah tua, Wak Taha tak lagi rajin membersihkan area pemakaman. Daun-daun kering di sana dibiarkannya.

Meski begitu, Wak Taha masih rajin membaca tahlil di makam Temenggung Abdul Jamal, saban malam Jumat. Ia mengaku sering didatangi sosok Temenggung Abdul Jamal. Saat pertama kali menjaga, katanya, Temenggung Abdul Jamal hadir di depannya. Saat itu, ia sedang membaca tahlil. Temenggung tiba-tiba datang, memegang tangannya, dan meminta dia menjaga kebersihan makam tersebut.

Temenggung Abdul Jamal, kata Wak Taha, datang dengan menggunakan baju Melayu warna kuning. Ia bertanjak dan mengenakan selendang yang juga berwarna kuning. “Jenggotnya panjang, sudah beruban. Dia datang hanya sekilas. Setelah minta saya bersihkan makamnya, ia menghilang,” kata Wak Taha.

Aswandi Syahri, Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Provinsi Kepulauan Riau, mengatakan berdasarkan penelitiannya, saat ini tak ada lagi keturunan Temenggung Abdul Jamal di Bulang Lintang. Pasalnya, Bulang Lintang yang pernah ditinggali keluarga Temenggung Abdul Jamal sejak tahun 1722, sudah ditinggalkan keluarga tersebut tahun 1824.

“Keturunan Temenggung Abdul Jamal yakni Temenggung Abdulrahman pindah ke Singapura pada tahun 1811. Keluarga itu pindah bertahap dan tahun 1824 itu sudah tak ada lagi keluarganya yang mendiami Bulang Lintang,” katanya, Sabtu (22/12).

Temenggung Abdul Rahman membuka kawasan pemerintahan Temenggung Johor di kuala Sungai Singapura. Saat ini, kata Aswandi, keturunan Temenggung Abdul Jamal menjadi Sultan Johor. “Kalau silsilahnya, Sultan Johor yang sekarang Sultan Ibrahim Ismail inilah keturunan Temenggung Abdul Jamal,” tutur Aswandi.

Aswandi pernah menulis buku Pulau Bulang dan Sejarah Temenggung Riau-Lingga-Johor dan Pahang Yang Terlupakan (1722-1824). Menurut dia, sejumlah bahan sumber Melayu dan Eropa mencatat bahwa Pulau Bulang pernah memainkan peranan yang cukup penting dalam peristiwa sejarah di kawasan Selat Melaka. Dalam Sejarah Melayu Sulalatus Salatin umpamanya, nama Pulau Bulang paling tidak telah dicatat dalam kaitannya serangan-serangan Portugis terhadap pusat pertahanan Sultan Mahmud Syah, Sultan Melaka yang menyingkir ke Pulau Bintan.

Kawasan perkampungan orang-orang Melayu di Pulau Bulang pernah dibakar habis oleh sayap armada laut Portugis di bawah komando Don Sancho Enriquez yang berkekuatan 25 buah perahu, galley, dan fusta, sebelum menyerang pusat pertahanan Sultan Mahmud Syah, yang dikenal dengan nama Kopak dan Kota Kara di Pulau Bintan pada pada tahun 1526.

Sebuah laporan Portugis juga mencatat bahwa kawasan sekitar Pulau Bulang telah terkenal sebagai pelabuhan dagang sejak tiga puluh lima tahun sebelum Laksamana Tun Abdul Abdul Jamil dari Johor (Lama) diutus membuka sebuah negeri baru di Pulau Bintan yang kemudian dikenal sebagai “bandar dagang” bernama Riau pada tahun 1673.

Resende, orang Portugis yang menulis laporan itu mencatat terdapat pelabuhan dagang yang penting berhampiran dengan Selat Singapura yang disebutnya dengan nama Bulla atau Bulang dekat Pulau Batam.

Menurut Resende, pelabuhan ini padat dengan penduduk Melayu dan seringkali dibanjiri oleh sejumlah pedagang dari seluruh rumpun masyarakat dari wilayah Selatan pelabuhan itu.

Dua ratus tahun kemudian, perairan di sekitar Teluk Bulang juga tampil memainkan peranan yang sama, seperti pada zaman Resende melaporkan situasi pulau ini pada tahun 1638. Pada tahun 1843, seorang pengamat Eropa lainnya bernama Horsburg melaporkan, “Teluk Boolang, di Pulau Battam, atau Pulo Battam, terletak kira-kira 13 atau 14 miles sebelah tenggara Singapura, menyediakan tempat berlabuh yang aman, dan sering dikunjungi kapal-kapal Amerika; di sini mereka memperoleh barang muatan, dan berdagang dengan Singapura, dalam rangka menghindari biaya tambahan bila langsung pergi ke Singapura, karena Teluk Bulang berada di luar batas wilayah kekuasaan Inggris”.

Pada masa pemerintah Sultan Riau yang pertama, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1722-1760), Pulau Bulang tampaknya juga menjadi “benteng alamiah” yang melindungi Riau dan sekaligus tempat “perlindungan” menjelang menyingkir ke kawasan tertentu bila terjadi krisis politik di Riau.

Sekitar tahun 1724, umpamanya, Sultan Sulaiman pernah berada di Pulau Bulang sebelum menyingkir ke Kampar ketika terjadi perselisihan dengan pembesar-pembesar Bugis di Riau. Menurut sejarawan Eliza Netscher, salah satu sebabnya adalah karena terdapat sebuah benteng tangguh bernama Kota Karang di pulau ini. (abdul hamid) (82)

Masjid Cheng Ho Surabaya : Tiru Arsitektur Masjid Niu Jie Beijing


Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya

Tiba  dilokasi masjid Muhammad Cheng Ho, seorang satpam menyambut kami. Dari pintu gerbang masuk , tak terlihat kalau ada masjid. Terhalang bagian belakang areal bangunan serba guna komplek Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI) Jawa Timur .

Memasuki halaman parkir yang juga berfungsi sebagai lapangan oleh raga, barulah terlihat bangunan yang menyerupai kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma) . Itulah masjid Cheng Ho, masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid.

Arsitektur Masjid Cheng Ho meniru Masjid Niu Jie (Ox Street) di Beijing sana yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal, Jawa. Arsiteknya pula adalah Ir. Abdul Aziz dari Bojonegoro.

Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.Selain Surabaya di Palembang juga telah ada masjid serupa dengan nama Masjid Cheng Ho Palembang atau Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang.

Bersama Ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid Cheng Ho Surabaya

Bersama Ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid Cheng Ho Surabaya

Masjid ini terletak di jalan Gading Surabaya , saat kami datang, shalat juhur sedang berlangsung, Buletin Jumat (BJ) bergegas mengambil wuduk, namun sayang tak sempat mengikuti shalat berjamaah.

Masjid Cheng Ho ini selesai dibangun dan diresmikan 13 Oktober 2002,” Diberikan nama seperti itu merupakan bentuk penghormatan pada Cheng Ho, Laksamana asal Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho bukan hanya berdagang dan menjalin persahabatan, juga menyebarkan agama Islam”. Jelas ustadz Haji Wang Jin Shui , Imam masjid yang sudah delapan tahun menjadi imam tetap di masjid itu.

Tak ada daun pintu di masjid, secara keseluruhan Masjid Muhammad Cheng Hoo berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama 11 x 9 meter. Pada sisi utara dan selatan bangunan utama terdapat bangunan pendukung yang lebih rendah daripada bangunan utama. Ukuran 11 meter pada bangunan utama masjid diambil dari ukuran panjang/lebar Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Sedangkan ukuran 9 meter inspirasinya didapat dari sejarah Walisongo yang melaksanakan syi’ar Islam di tanah Jawa. Masjid Muhammad Cheng Hoo mampu menampung hingga 200 orang jamaah.
Imam masjid yang juga punya nama Indonesia , H. Ahmad Hariyono ini menjelaskan, soal penyebutan china yang sangat menyakitkan hati, diawal kemerdekaan RI. Hingga ke hari ini masih terngiang ngiang dan sejarah pahit bagi mereka.  “Sebut dan panggil saja Tiong Hoa “ jelas ustad yang fasih berbahasaa Arab ini.

Gedung PITI Jawa Timur

Gedung PITI Jawa Timur

Saat BJ mengenalkan diri dan menyebut nama Indonesia, Imbalo Iman Sakti,  dan punya nama Tiong Hoa juga, yaitu “Tan Ko Cu”.  Ustadz Ahmad Wong,  demikian beliau sering disapa tersenyum lucu.  Tetapi, setelah dijelaskan bahwa Tan bukan lah she (marga) hanya asal kata dari ATAN, itu  adalah panggilan untuk lelaki suku melayu, tempatku bermastautin di Batam sekarang, dan KO CU pula kebalikan dari asal kata UC OK, nama panggilan anak lelaki di Tapanuli, tempat kelahiranku dulu. Ustadz yang sedang menunggu bea siswa untuk melanjutkan Phd nya ini, malah tambah tertawa. Dan aku yakin,  beliu tahu betul dengan Ucok AKA penyanyi legendaris asal Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo dibangun atas gagasan HMY. Bambang Sujanto dan teman-teman PITI. Fasilitas yang ada di dalam kompleks Masjid Muhammad Cheng Hoo itu antara lain: kantor, sekolah TK, lapangan olah raga yang juga berfunsi sebagai lapangan parkir , kelas kursus bahasa mandarin dan kantin.
Fasilitas tersebut disediakan demi kenyamanan beribadah dan untuk mempererat tali silaturahmi sesama umat. Selain itu banyak juga kegiatan sosial yang diselenggarakan PITI mengambil tempat di kompleks masjid ini, beberapa diantaranya: distribusi sembako murah, donor darah, serta pengobatan akupunktur.

Ustadz Ahmad Wong, bergegas masuk ke ruang sebelah tempat Imam , beberapa buku diberikannya kepada BJ. Sayang kami tak dapat bertemu dengan Haji Bambang Sujanto pendiri dan penggagas berdirinya masjid yang banyak dikunjungi orang baik dalam dan luar negeri ini . “Beliau selalu berpergian keluar daerah maupun keluar negeri” ujar Imam Ahmad Wong yang juga dosen tetap disalah satu universitas terkenal di Surabaya.
Kami tinggalkan komplek masjid yang diilhami Perpaduan Gaya Tiongkok dan Arab yang memang menjadi ciri khas masjid itu.

Ilal Liqo ustadz Wong, semoga cepat dapat bea siswa.

Wisata Religi di Batam : Minal Masjid Ilal Masjid


minal masjid ilal masjid
Bukan mudah merubah imej negatif tentang kehidupan Batam di luar negeri, sebagai tujuan wisata ke tiga terbanyak di Indonesia , apa yang bisa “dijual”?

Minal Masjid Ilal Masjid, itulah tema yang diusung oleh AJK (Ahli Jabatan Kuasa) masjid – masjid Negara Brunei Darussalam. Sebanyak 30 orang rombongan yang di ketua oleh H. Kamal, datang berkunjung ke Batam, sejak 14 hingga 16 Desember 2012.

Pemko Batam cukup respon, rombongan AJK masjid-masjid Negara Brunei Darussalam itu di terima oleh Assisten, Kadis Kesra, pengurus DMI (Dewan Masjid Indonesia) kota Batam . Dijamu makan siang di Masjid Raya Batam selepas shalat jumat. Banyak hal yang dibicarakan, kedua belah pihak, terutama tentang Lembaga Zakat . Hal ini disampaikan oleh Ustadz Amiruddin Dahad mewakili MUI dan LAZ masjid raya diwakili oleh Syarifuddin.

Di hari yang sama , rombongan berkunjung ke masjid Jabar Arafah, selepas shalat magrib tamu rombongan dijamu makan malam oleh pengurus masjid . Menyaksikan progres report melalui slide, yang ditayangkan, pembangunan masjid yang terletak di tengah kota Batam, bersebelahan dengan mall Nagoya Hill ini, baru selesai sekitar 30 persen . Padahal dana yang dikeluarkan sudah mencapai puluhan miliar rupiah. Sebagaimana dijelaskan oleh pengurus masjid Jabal Arafah H Alamsyahruddin. Jadi masih banyak lagi dana yang diperlukan.

Keesokan harinya rombongan berkesempatan mengunjungi Sekolah Islam Hang Tuah, Sekolah yang terletak di Bengkong Polisi ini, bersebelahan lokasinya dengan masjid Nurul Hidayah. Suguhan tari selamat datang , dan tarian dari anak-anak taman kanak kanak Islam Hang Tuah, yang memakai pakaian adat melayu , dan terlihat lucu, membuat Datuk Paduka Haji Ahmad bin Haji Ibrahim yang masih kerabat Sultan itu, serta rombongan lainnya , berebut untuk poto bersama.

Dari Sekolah Islam Hang Tuah perjalanan dilanjutkan ke lokasi sebuah masjid yang belum selesai , lokasi masjid ini terletak di Sei Panas, dekat patung kuda, demikian orang menyebut lokasi masjid yang belum selesai hampir sepuluh tahun itu. Hujan lebat , rombongan hanya dapat melihat bangunan yang ditumbuhi ilalang dan semak belukar itu dari dalam bus saja.

Buletin Jumat (BJ) bersama rombongan meneruskan perjalanan ke arah Barelang, hendak menuju sebuah surau diperkampungan suku laut di Air Lingka kecamatan Galang . Namun bus yang ditumpangi mengalami kerusakan setelah jembatan 4, sehingga tidak semua rombongan dapat datang ke Air Lingka.
Jembatan 6 yang masih belum selesai perbaikan itu, kami lalui dengan Rush muat tujuh orang, sampai juga kami ke suaru kecil di pinggir pantai yang dihuni minoritas muslim suku laut itu. Keseriusan Ibu Siti mengajari anak2 suku laut mengenalkan Islam, menjadikan kesan tersendiri bagi Prof. Madya DR H Hashim bin Abd Hamid .

Rombongan lain dengan Bus menuju desa Monggak , di panti asuhan al mubarrok yang terletak di kecamatan Rempang Cate , rombongan kami, bersatu kembali. Dua puluhan anak – anak asuh panti , menyambut dengan pukulan rebana .
Cuaca mendung dan terkadang rintik hujan, membuat ribuan lalat berkerumun menghinggapi makanan yang disajikan tuan rumah. Buah nangka dan pisang yang tadinya berwarna kuning nyaris berubah hitam, begitu banyaknya lalat hinggap. Tak heran lalat begitu banyak, puluhan kandang ayam ternak berdiri di daerah itu.

Ada beberapa tamu tak sanggup makan melihat ribuan lalat yang hinggap terus tak henti hentinya , disemua makanan yang terhidang. Sembari makan sembari mengibaskan tangan menghalau lalat. Berebut makan dengan ribuan lalat, adalah pengalaman bagi mereka seumur hidup agaknya .
Kami tinggalkan desa monggak, menuju Batam. Kerumunan lalat yang sempat masuk kedalam bus pun menjadi pembicaraan diantara para rombongan. Antara lain tak satupun penduduk dan anak asuh disitu yang terserang sakit perut.

“Insya Allah kami akan datang lagi” ujar H Kamal. “Dengan rombongan yang lebih banyak lagi, dan semuanya anak muda, akan mengunjungi pulau – pulau sekitaran Batam “ tambahnya lagi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.980 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: