Mengunjungi Masjid Masjid Bersejarah di Medan


Catatan Perjalanan Mengunjungi Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Aceh, Sumut, Sumbar dan Riau

SELEPAS shalat Jumat (22/11) di Masjid Raya Batam Center , Buletin Jumat (BJ) berangkat ke Medan dengan Lion Air pukul 14.45 wibb, tiba di Bandara Kuala Namu hari telah menjelang petang. Bandara baru ini sedang berbenah, terlihat disana sini pekerja .

Damri dari Kuala Namu - Medan

Damri dari Kuala Namu – Medan

Dari Bandara Kuala Namu ke kota sekitar 39 kilometer, cukup jauh bila dibandingkan lapangan terbang yang lama Polonia. Keluar saja dari ruang kedatangan Bandara ini, disebelah kanan tertulis Bus dan Taxi. Naik Bus Damri ke Simpang Amplas tarifnya 20 ribu rupiah, ada dua tempat tujuan hendak ke Medan satu lagi turun di Careefour.
Naik Taxi, masih seperti biasa hampir diseluruh bandara yang punya taxi, bisa nego maupun dengan argo. Banyak taxi liar menawarkan harga miring dari tariff taxi resmi. Mobil sejenis avanza misalnya, cukup 80 ribu rupiah diantar ketempat.

Ada juga Bus ALS , Bus ini langsung ke kota Binjai Kabupaten Langkat. Naik Kereta Api , dari Bandara kedua terbesar di Indonesia ini, ongkosnya 80 ribu rupiah, Kereta Api hanya tiga kali sehari. Untuk menghindari macet, satu lagi moda transportasi dari Bandara yang baru diresmikan 25 Juli 2013 yang lalu itu adalah speda motor “ojek” .

Masjid – Masjid Bersejarah
BJ, berkesempatan mengunjungi Masjid bersejarah, yaitu satu tempat tujuan orang datang ke Medan, namanya Masjid Raya Medan, masjid ini mulai dibangun pada tahun 1906 semasa Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli . Masjid yang terletak di Jalan Sisingamangaraja XII ini, Sultan memang sengaja membangun mesjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun.

Masjid Raya Medan

Masjid Raya Medan

Persis di depan Masjid yang juga bernama Al Mashun ini, berdiri sebuah Hotel Madani. Hotel ini pun menjadi tempat tujuan wisatawan terutama dari Malaysia, Singapura, dan Brunei.

Hotel Madani Medan

Hotel Madani Medan

Masjid Raya Stabat Kabupaten Langkat

Masjid Raya Stabat Kabupaten Langkat

Sekitar 60 kilometer dari Medan arah ke Timur, terdapat sebuah masjid bersejarah juga. Yaitu Masjid Azizi. Dengan bersepada motor dari Medan sekitar 1, – 2 jam saja lamanya. Sebelum sampai ke Lankat, Tanjung Pura, BJ mampir sejenak di dekat Jembatan Sungai Wampu, Persis di pinggir Jembatan itu ada sebuah masjid , namanya masjid Stabat.

Masjid Azizi Langkat Tanjung Pura

Masjid Azizi Langkat Tanjung Pura

Stabat kini menjadi ibukota Kabupaten Langkat.
Belum lagi masuk waktu Juhur, BJ lanjutkan perjalanan setelah menghilangkan rasa dahaga dengan segelas cendol yang dijual dihalaman masjid Stabat itu.
BJ, Masih sempat shalat Juhur berjamaah di Masjid Azizi, Masjid  ini adalah masjid peninggalan Kesultanan Langkat yang berada di kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang merupakan ibukota kesultanan Langkat di masa lalu.

Masjid ini terletak di tepi jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Medan dengan Banda Aceh. Mulai dibangun oleh Sultan Langkat Haji Musa pada tahun 1899, selesai dan diresmikan oleh putra beliau, Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah pada tahun 1902.
Keindahan Masjid Azizi ini kemudian dijadikan rujukan pembangunan Masjid Zahir di Kedah Malaysia  hingga kedua masjid tersebut memiliki kemiripan satu dengan yang lain.
Kubah masjid dua Kesultanan Deli dan Kesultanan langkat ini pun mirip.

Pusara Tengku Amir Hamzah Putra Langkat , Pahlawan Nasional

Pusara Tengku Amir Hamzah Putra Langkat , Pahlawan Nasional

BJ, berkesempatan ziarah ke pusara yang ada di halaman depan masjid Azizi. Di komplek makam itu terbaring jasad seorang Pahlawan Nasional yang bernama Tengku Amir Hamzah. Beliau dikenal dengan Sastrawan Pujangga Baru. (***)

Kisah Tok Lambertus Laba Masuk Islam


tok laba dan tok Nur melaksanakan shalat pertama kali setelah masuk Islam

tok laba dan tok Nur melaksanakan shalat pertama kali setelah masuk Islam

NAMANYA Lambertus Laba, lahir di Lembata Flores, sejak muda lagi telah meninggalkan kampung halamannya. Tok Laba demikian dia disapa oleh cucu-cucunya, bahkan orang tua ini telah punya beberapa orang cicit. Laba, nama marga suku di Nusa Tenggara Timur sana.

Kamis 31 Oktober 2013 di rumah nya yang sederhana, rumah diatas laut, perkampungan SUKU LAUT, Pulau Lingka Batam, tok Laba yang sepanjang usianya adalah penganut Katolik, mengucapkan Dua Kalimat Syahadat meskipun dengan terbatah-batah. “Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah” ucap tok Laba, maklum tok Laba dua kali diserang strok. Sejak mengucapkan Syahadat, nama tok Laba berubah, diganti menjadi Muhammad Laba.

Rumah tok Laba di Pulau Lingka Bersama anak , menantu dan cucu cucu tok Laba

Rumah tok Laba di Pulau Lingka Bersama anak , menantu dan cucu cucu tok Laba

Apa gerangan yang mempengaruhi tok Laba berubah keyakinan? Ternyata cucu-cucunya yang telah terlebih dahulu ber-agama Islam.
Setiap hari, berangkat dan pulang mengaji di surau kecil di belakang rumah panggung mereka, cucu-cucu tok Laba acap dan mesti menyalami kedua orang tua itu.

Demikan pula ketika sang cucu hendak pergi shalat, sang Atok pun diajak dan ditanya. Rupanya sapaan dan ajakan untuk pergi shalat bersama oleh sang cucu yang comel itu dapat mengugah hati tua tok Laba.

tok Laba , tok Nur

tok Laba , tok Nur

Tengah hari itupun bersama tok Laba, tok Nur isteri yang telah dinikahi oleh tok Laba hampir 50 tahun lalu, ikut bersama berikrar, bahwa, Tuhan mereka kini Allah, Satu, tidak Tiga, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sekutu baginya. Tok Nur, meskipun dilahirkan di sampan diberi nama Nur Mardiah, sehingga saat mengulang ucapan Dua Kalimat Syahadat, tak harus berganti nama.

Tok Nur adalah perempuan suku Laut yang lugu, terlahir dan besar hinggakan tua bersama dengan sukunya. Suku Laut seperti tok Nur ini, banyak mendiami perairan Batam, mereka memakai adat istiadat Melayu, seperti panggilan tok.

Ratusan bahkan mungkin ribuan keluarga seperti tok Nur ini, mereka tak terjamah dakwah, yang mereka terima malah info dan cerita salah, bahwa suku Laut tak beragama, sehingga bebaslah para misionaris menggarap mereka.

Hal yang perlu diluruskan bahwa Suku Laut yang ada di perairan Batam bukan tidak beragama, kita bisa merujuk perang saudara antara Laksamana Lingga dgn Laksamana Bintan, kisah mangkatnya Sultan Mahmud II dan tidak adanya yang mengajari mereka tentang agama Islam itu yang membuat mereka demikian.

Buktinya, Ustadz Beny yang kini menetap disitu dengan tekun membimbing dan menuntun mereka, keluarga suku laut yang ada di Pulau Lingka itu.
Meskipun tak jauh dari kediaman tok Laba ada gereja besar dan megah, hati tok tok berdua, luluh dan lebih memilih Islam, melihat akhlak cucu-cucu mereka, san cucu tetap hormat dan sayang, walau berlainan agama. (Imbalo)

Awang, Suku Laut dari Pulau Caros


Julius (Jefriandi) , Mirna, Awang Sabtu dan penulis

Julius (Jefriandi) , Mirna, Awang Sabtu

Lama juga kami tak bersua, dan lama pula tak mengunjungi Pulau Caros . Petang kemarin  aku hubungi pak Awang, Awang dari Pulau Caros, lelaki 50 an ini lebih dikenal dengan panggilan Awang Sabtu.  Rencana nak ke Caros, ada sedikit paket lebaran yang akan diserahkan. “Sekarang kami sudah 15 kepala keluarga ” ujar pak Awang melalui ponselnya. Dan tak lama kemudian masuk sms , tertera nama-nama kepala keluarga yang dimaksud. Salah satunya tertulis Jefriandi, suami dari Mirna.

Mirna anak perempuan pak Awang dari delapan bersaudara. Dan hanya Mirna pulalah anak pak Awang yang pernah bersekolah sampai kelas 3 Sekolah Dasar. Aku tahu persis  itu tulisan Mirna.  Agak terkesima sedikit membacanya,  seingatku nama suami Mirna adalah Julius, dan beragama Katolik. “Iya pak sejak masuk Islam, nama Julius diganti Jefriandi” tulis Mirna lagi.

Aku teringat 2 tahun yang lalu, Agustus tahun 2011,  persis bulan Ramadhan juga, kami mengunjungi Caros. Mirna, sudah menikah dengan Julius,  ketika menikah itulah Ia  berpindah agama mengikuti agama suaminya.  Acara kami di Pulau Caros, meresmikan pemakaian sebuah mushala kecil yang dibangun di perkampungan Suku Laut, tempat pak Awang menetap. Semua penduduk kampung itu adalah keluarga pak Awang.

Mukenah Untuk Mirna (silahkan klik dan baca)

Meskipun Mirna Katolik, dia hadir disitu. Karena kehadirannya itulah, Mirna pun mendapatkan sebuah mukenah, tentu atas persetujuan Julius suaminya. Dan kuminta Julius yang  memakaikan Mukenah itu kepada isterinya.  Saat itu terlihat mata pak Awang berkaca-kaca, Ia sangat terharu. Acap perihal Mirna yang berpindah agama ini diutarakannya kepadaku.

dua tahun yang lalu saat Mirna mencoba memakai Mukenah, waktu itu dia beragama Katolik

dua tahun yang lalu saat Mirna mencoba memakai Mukenah, waktu itu dia beragama Katolik

Awang Sabtu, menyadari betul kemampuannya tentang agama yang dianutnya, jangankan shalat, syahadat saja pun tak mampu diucapkannya. Dia adalah suku laut, yang tak pernah belajar tulis baca, hidupnya lebih lama diatas sampan, berpindah pindah dari selat ke selat, hampir semua teluk dilayarinya.

Awang muda menetap di Caros,  setelah ada Dapur Pembuat Arang Kayu. Meskipun dekat dengan Rempang Batam, awalnya kampung Caros  termasuk wilayah Tanjung Pinang.  Puluhan tahun menetap disitu, nyaris tak ada saudara muslim yang menjenguk dan mengajar  mereka tentang Islam.   Malah yang rajin datang dan rutin setiap hari minggu, adalah perahu bermotor yang membawa anak-anak pak Awang ke gereja yang ada di seberang pulau.

Buka Bersama

Petang, setelah keesokan harinya kami berjumpa,  pak Awang terlihat berpakaian rapi dan sangat gembira , sudah 6 bulan ini Mirna kembali ke memeluk Islam. Bukan Mirna saja, Juliuspun turut serta mendapat hidayah. Seorang lagi anak lelaki pak Awang yang sudah berkeluarga bernama Minggu dan isterinya, yang dulu rajin ikut perahu bermotor, setiap hari minggu ke gereja, pun mengucapkan syahadat bersama.

Rupanya petang itu pak Awang  sekeluarga di undang oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau ke Batam, untuk berbuka bersama.   “Iya kami tidur di Batam” kata pak Awang. “Tetapi tak semua kesana , ada Den dan Halimah ” jelas pak Awang lagi.

Pak Awang nak ngusulkan kepada pak Wagub agar dibuatkan satu rumah kecil untuk ustadz yang nak tinggal di Caros , “Jadi bolehlah, ade imam kami shalat di mushala kita itu” harap pak Awang lagi dengan logat melayunya. “Sekarang ni ade ustadz yang datang setiap hari sabtu dan minggu saje ketempat kami, tetapi pulang hari” jelas pak Awang

Insyaallah, semoga terkabul keinginan pak Awang Sabtu itu.

 

Memberi Salam, Sunnah Yang Nyaris Hilang


masjid cotabatu 1Catatan Perjalanan

Imbalo Iman Sakti

– Filipina –

Pagi itu mini bus yang akan membawa kami telah standby di depan Hotel tempat kami menginap.

Selepas sarapan, kami dibawa ke kantor Hadja Bainon G Kiram. Disamping sebagai Regional Vice Governor Aotonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM), Madam Bainon ini, juga Sekretaris Departemen Kesejahte raan Sosial dan Pembangunan (DSWD – ARMM).

Terletak dalam satu komplek dikelilingi tembok tinggi, belasan bangunan dari berbagai instansi yang menyangkut peranan wanita, ada disitu.

Sejak ketibaan kami di Lapangan Terbang Cotabatu yang mendampingi kami, sekretaris Madam Bainon, seorang wanita, selama empat hari keberadaan kami disana, sekretaris pribadi Madam Bainon ini terus bersama kami. Wanita paroh baya, berkerudung ini dengan cekatan menyiapkan semua keperluan, baik itu acara seminar ataupun kunjungan.

Sejak menjejakkan kaki di Manila, terlihat peran wanita sangat dominan disana. Perempuan Islam dengan mudah dikenali karena semua memakai kerudung. Tak kira di Mall-Mall, banyak dari mereka yang berdagang. Di sektor pemerintahan pun banyak perempuan Filipina yang memegang tampuk pimpinan. Dua presiden Filipina adalah wanita. Di MRT dan LRT, gerbong untuk wanita dipisahkan. Hendak masuk/keluar Mall saja pun, lelaki perempuan, jalannya terpisah.

Di Cotabatu peran ini semakin nyata, entah karena ratusan tahun dalam perang, banyak lelaki yang memanggul senjata dan berperang, jadi terpaksa wanita yang mengganti peranan lelaki, mencari nafkah.

Menikmati suasana Cotabatu, mini bus kami meluncur arah keluar kota. Dari jauh terlihat bangunan masjid megah didominasi warna putih. Empat menaranya menjulang tinggi, kubah besar warna kuning ditengahnya, agak mirip dengan masjid emas di Brunei, dan memang yang membangun masjid putih itu adalah Sultan Hasanal Bolkiyah. Masjid ini menjadi land mark Cotabatu.

Karena letaknya diluar kota dan jauh dari pemukiman, Masjid ini hanya ramai pada shalat Jumat saja. Terletak persis di muara teluk Moro. Menjadi tujuan turis dan kunjungan pasangan anak muda. Mereka berpoto ria baik didalam maupun dihalaman masjid yang luas itu. Melihat pakiannya mereka bukanlah Muslim karena yang wanita tidak memakai kerudung.

Ada moment posisi berpoto yang mereka lakukan adalah mengangkangi bangunan masjid. Didalam poto, seluruh bangunan masjid itu akan terlihat dibawah selangkangan mereka. Dan posisi yang lain adalah dengan membungkuk, seperti posisi rukuk, pantat mereka mengarah ke bangunan masjid. Entah apa maksud nya berpose seperti itu.

Meskipun Mindanao dan empat provinsi lainnya adalah Pemerintahan otonomi Muslim, tetapi mayoritas penduduknya non muslim. Sejak dijajah Spanyol dan Amerika, tanah-tanah pertanian yang subur banyak dimiliki pihak non muslim. Pengaruh budaya penjajah pun sangat terasa sampai kehari ini, budaya itu melekat, dalam keseharian. Sampai kepelosok, dari yang kecil sampai yang tua, mereka menggunakan bahasa inggris disamping bahasa daerah.

Kata Hai, Hallo, how are you sapaan saat berjumpa dan bye bye, see you, hal yang acap digunakan. Cipika, Cipiki adalah hal yang lumrah. Padahal teman itu pengurus pemuda Islam.

Nyaris tak terdengar salam – Assala mualaikum – saat bertemu dan berpisah. Teman seperjalanan setuju, “ Mari kita mulakan”.
Dan itu kami laksanakan, menebarkan salam, sepanjang perjalanan. Dalam penutupan Seminar tentang potensi wakaf di Hotel Eston, di ruang yang ada patung besar berdiri, patung Bunda Maria. Doa dalam bahasa Arab pun dilantunkan seluruh peserta.

Kepada vice Gobernor Hj Bainon, perihal ini kami harap dapat terus dilaksanakan. Amin (***)

Bangsamoro di Filipina


SONY DSC
Catatan Perjalanan

Imbalo Iman Sakti – Filipina –

Selepas Ashar, kami meninggalkan Camp Army MNLF Laguitan. Masih dengan boat farm yang sama tetapi tidak turun di Lebak sebagaimana perginya.

Menuju suatu tempat kediaman adik Datu Randy bernama Datu Bobby di Lepang. Datu Bobby seorang Senator di daerah itu. Daerah tempat Datu Bobby, banyak penduduknya berternak kambing dan Lembu.

Insyaallah rekan dari Malaysia akan buat Qurban Hari Raya Haji mendatang. Harga Kambing layak potong, di Cotabatu jauh lebih murah dibanding di Chiang Rai Thailand Utara. Apalagi dibanding kan dengan Batam, Harga satu ekor kambing sekitar enamratus sampai tujuh ratus limapuluh ribu rupiah.

Dari Lepang kediaman Datu Bobby, kami naik kenderaan roda empat yang tadi pagi membawa kami. Banyak tempat yang kami kunjungi sepanjang jalan pulang ke Cotabatu, terus dibawa berkeli ling kedaerah daerah yang sedang dibangun dan telah selesai diba ngun oleh pemerintah Otonomi Islam Mindanao. Seperti Dermaga pelabuhan Lepang misalnya, yang menghubungkan Lepang – Cota batu dengan Ferry. Sehingga ada alternatif jalan lain.
SONY DSC

Tiba di Hotel hari menunjukkan pukul 10 malam. Di Restoran telah menunggu Hadja Bainon G.. Karon, beliau adalah Regional Vice Governor Aotonomous Region In Muslim Mindanao. Banyak tetamu lain hadir dijamuan makan malam itu. Beliau yang masih kakak dari Datu Randy menyerahkan sertifikat penghargaan kepada kami.

Madam Bainon demikian para te tamu memanggilnya, terus bercerita bagaimana memajukan potensi umat Islam di Mindanao, Cotabatu khususnya. melalui pemberdayaan zakat dan terutama Wakaf. Dua hari berturut turut sebelumnya, di Hotel Estosan Garden hampir seluruh lembaga-lembaga Islam dan pengu rus organisasi Islam yang ada di Cotabatu mengikuti Seminar tentang Wakaf tadi.

Saya seorang dari Batam Indonesia, menyampaikan kepada mereka tentang adanya bea siswa berasrama, kepada pelajar di Min danao khususnya dan Filipina umumnya yang ingin belajar Bahasa Arab dan Study Islam selama dua tahun di Mahad Said bin Zaid Batam.
SONY DSC
Ada kesan khusus terlihat di wajah mereka, bicara soal Indonesia. Nyaris tak satupun dari mereka dapat berbahasa Indonesia, “Kalau di Davao ada yang pandai” timpal Asheem Gaoupal, Asheem inilah yang membawa kami dari Manila ke Cotabatu. Asheem masih kerabat Madam Bainon. Bekerja di Asian Institut of Management (AIM) di Manila. Dan seperti nya juga mengurusi kepen tingan Pemerintah Otonomi Mindanao wilayah Coatabatu.

Besok masih ada perjalanan lagi, sebelum pulang ke Manila pukul 12.45, kami akan mengun jungi masjid terbesar dan terindah yang ada di Cotabatu, bahkan mungkin sekarang ini di Filipina. Masjid yang di bangun oleh Kesultanan Brunei ini baru saja selesai, orang menamakan nya masjid putih. Dan menjadi Land Mark Cotabatu City. Puluhan kilometer sewaktu memasuki Cotabatu dari Davao masjid ini terlihat dengan indah nya. terletak persis di muara teluk Moro.

Bangsamoro demikian mereka suka disebut. Yang perlu diingat Bangsamoro identik dengan Islam. Bangsa ini masih belum kompak lagi, Lima provinsi dalam otonomi Islam Mindanao (ARMM) Lanao, Basilan, Magu indanao, Sulu, Tawi-Tawi, masih menyisakan kesepakatan yang belum sepakat.
Insyaallah mereka akan sepakat di dalam Masjid (***)

Pemukiman Islam di Quiapo Manila


Catatan Perjalanan

Imbalo Iman Sakti
– Filipina –

SONY DSC
Pagi itu selepas sarapan, kami menuju satu pemuki man Islam di Quiapo. Dengan taxi dari Hotel di Makati ke Quiapo sebesar 160.00 peso.

Kontras sekali suasa di Makati dengan di Quiapo meskipun masih di kawasan Manila city. Makati adalah daerah elit di Metro Manila, gedung pencakar langit hampir berada semua disitu, sementara Quiapo adalah kota lama, pasarnya penuh dengan gelandangan, pengemis, jalanan macet.

Dibagian lain kota Quiapo, ba nyak bangunan lama peningga lan Spanyol masih berdiri kukuh, sebagian tua dimakan usia dan ti dak terawat. Sebuah Gereja Kato lik paling pertama di Manila ada di Quiapo. Gereja ratusan tahun itu masih terawat dengan baik. Gereja itu dibangun oleh Spanyol, saat negeri Fi Amanillah – kini Manila- di taklukkan oleh Spanyol. Saat Spanyol menjajah Manila, populasi muslim 98 persen, Dulu sebelum dijajah Manila adalah kerajaan Islam dibawah Sultan Sulaiman.

Spanyol menghancurkan selu ruh bangunan yang berbau Islam, bayangkan dari 98 persen dulu nya, kini agama Islam diseluruh Filipina hanya sekitar 5 persen saja lagi, itupun mayo ritas berada di Selatan. Umat Islam yang dari Selatan inilah bermi grasi ke Utara, setelah Amerika mengam bil alih kekuasaan di Filipina.

Geliat Islam mulai terlihat sejak tahun 1964, Pemukiman Islam di Quiapo ini termasuk yang perta ma ada, pemukiman ini, bersebe lahan dengan lokasi gereja katolik yang pertama kali dibangun oleh Spanyol tadi. Tidak sulit untuk menemukan pemukiman Islam ini, nyaris semua taxi tahu. sebut saja masjid kubah emas.

Memasuki pemukiman muslim di Quiapo, kita akan melalui pintu gerbang besar, ada pelang nama nya tertulis Muslim Town. Yang menarik, semua perempuan saat masuk melewati pintu gerbang menuju pemukiman itu, bersegara memakai kerudung, meskipun mengenakannya sekedarnya saja. Demikian pula bila hendak masuk ke areal masjid.

Masjid Kubah Emas dibangun oleh pemerintah Filipina, sesaat Presiden Muammar Kadafi hendak berkunjung ke Manila. Halamannya menjadi akses jalan keluar masuk ke pemukiman penduduk yang ada di samping dan belakang masjid. Jadi ada pintu gerbang besar menu tup jalan itu, pintu itu bisa dilalui kenderaan roda empat dan selalu tertutup. Membludaknya jamaah masjid terutama saat shalat jumat, jalan itu pun terkadang terpakai untuk jamaah.

Ada pintu kecil semuat orang untuk lalu lalang, disitu ada kotak sumbangan, ada security berjaga, dan dipintu itupun akan terlihat kalau ada perempuan yang tidak memakai tutup kepala berlalu.

Tak ada data pasti berapa popu lasi umat Islam sekarang yang bera da di Quiapo, puluhan ribu banyaknya. Urbanisasi, terutama dari selatan ke utara menjadi penduduk tak terdata. Ramai diantara penduduk urban itu menjadi pekerja disektor pernia gaan. Ada pemilik hotel, resto ran, Super maket.

Hebatnya lagi, bahkan diselu ruh Mall yang ada di Metro Manila, yang dikunjungi Buletin Jumat, terdapat masjid dan mushalah. Karena disektor retil ini pun banyak pekerja muslim nya, terlihat dari cara berpakaian nya, wanitanya berkerudung.

Beberapa masjid itu sengaja kami kunjungi, disamping bersila turahmi, kami juga memberitahu kan kepada pengurus jamaah disitu, bahwa di Batam ada Ma had yang dapat menerima pelajar dari Filipina untuk belajar bahasa Arab dan study Islam, selama dua tahun dan tidak berbayar.

Tengah hari selepas shalat jamak dan qashar kami kembali ke hotel di Makati city. Karena harus mengikuti acara lainnya. Kalau tadi dari Makati ke Quiapo hanya sebesar 160.00 peso, sampai di depan Hotel di Makati tempat kami menginap, argo meter menunjukkan 330.000 peso. Itulah kalau naik taxi di Manila. Padahal dengan jarak yang nyaris sama. (bersambung)

Chang Wu Lim : Mengenal Islam Dari Internet



“Sejak umur 13 tahun saya sudah tertarik dengan Islam”. ujar Chang Wu Lim. Akhirnya, setelah sepuluh tahun kemudian, pria kelahiran Pontianak ini, terlaksana keinginannya mengucapkan Dua kalimat syahadat, tepatnya di Bulan Nopember 2012, di Batam.

Deny Boy demikian Chang Wu Lim selalu disapa. “ Saya, banyak belajar Islam melalui internet” ujarnya lagi. Deny, tidak sempat mengecap pendidikan formal. Tidak pernah duduk di bangku Sekolah. Maklumlah hidupnya sejak kecil berpindah-pindah, terkadang diasuh neneknya, terkadang pula bersama bibinya. Deny pun tak sempat kenal ayah kandungnya, sementara ibunya sudah menjadi warga Negara Singapura . Tetapi Deny dapat membaca dan menulis.

Lamanya juga Deny kecil berada dibawah asuhan sebuah lembaga keagamaan, disitu awal dia mendapat hidayah, ada pertanyaan yang terus mengganj al dihatinya. “Mengapa rupa Tuhan berubah-ubah.” ?

Deny yang saat itu beranjak remaja, pun selalu ingin tahu, Manusia koq nyembah manusia. Jabawan dari Pertanyaan itu, didapatkan nya melalui internet. Tambah man tab hatinya ingin memeluk Islam, tetapi Deny belum tahu hendak kemana, tempat dan teman yang dituju.

Diawal tahun 2012 Deny berke nalan dengan seseorang yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya di Batam Center, ustadz demikian Deny memanggil nya, ustadz itulah yang membim bingnya mengucapkan syahadat. Tepat di usianya yang ke 23 tahun “Tetapi saya belum dapat surat lagi” terang Deny kepada Buletin Jumat (BJ).

LAZ Masjid Raya Batam

Deny, bertemu dengan BJ saat pengukuhan kepengurusan Persa tuan Perantau Muslim Medan dan Sekitarnya (PPMMS) pada Sabtu (7/4/13) lalu, di Asrama Haji. Pulu han para muhtadin (orang yang diberi petunjuk) binaan LAZ Masjid Raya Batam hadir disitu, termasuklah Deny. Perihal Deny kini ditangani oleh Masjid Raya Batam.

Alhamdulillah, rencana akan ada bantuan modal usaha kepada Deny berupa gerobak jualan minu man ringan. Gembira sekali terlihat Deny, dengan adanya bantuan itu bolehlah dia mulai mandiri. “Saya tidak mau menjadi beban, dan ja ngan karena ke-mualafan saya ini, orang merasa kasihan”. Ujar Deny.

Hal itu dibenarkan oleh Syari fuddin pengurus LAZ Masjid Raya Batam. Mereka akan segera membantu pengurusan surat-surat ke-Islaman Deny dan sekar ang tahap pelatihan usaha minu man ringan itu.

Pulau Boyan Rumah Pak Panjang


Dari Perjalanan Mengunjungi Pemukiman Sulu Laut

Dari Pelabuhan Sagulung, kami naik spead boat 40 PK. Hanya beberapa menit saja, persis disebalik sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sampailah kami di Pulau Boyan.  Pulau Boyan di dalam peta tertulis Pulau Bayan. Entah sejak bila, pulau kecil berpenghuni belasan kepala keluarga suku laut ini, berubah nama menjadi Pulau Boyan.

Pak Panjang Orang yang paling tua di pulau itu pun tak tahu persisnya. Sekitar tiga tahun yang lalu, kami dirikan sebuah mushala kecil disitu. Dai yang dikirim oleh AMCF, hanya bertahan setahun. “Sejak Ustadz Tasman tak ada, tak ada lagi yang mengajari kami me ngaji” ujar Ibu Ani.  “Di mushala jarang ada kegiatan”.lanjutnya Kami shalat Juhur dan Asyar di jamak dan diqasar berjamaah.

Di dalam mushala terlihat bersih, tetapi hampir seluruh dinding plaster semen terkelupas. Mung kin dulu pasir yang digunakan bercampur dengan air asin, jadi mudah terkelupas. Dibagian luar dinding mushala pun demikian juga. Plasteran terlihat mengelem bung, seakan ingin berpisah deng an pasangan batunya.

Pulau kecil masuk dalam kelu rahan Pulau Buluh dan kecamatan Bulang ini, tidak ada sumber air tawarnya , tetapi Alhamdulillah saat wuduk tadi, tandon 1000 liter sumbangan dari seseorang yang tak mau disebut namanya, berisi air, walaupun tidak penuh. Beberapa kali ada lembaga sosial survei kesitu, ingin membantu membuat sumur bor, tapi hingga kini belum terwujud.

Beberapa tahun yang lalu pu lau kecil yang eksotik ini, ramai di kunjungi kapal kapal kecil yang lalu lalang, untuk mengisi minyak. Disitu dulu, ada pangkalan pengisi an bahan bakar minyak (BBM). Masih terlihat beberapa buah tangki dari baja yang sudah mulai berkarat. Perpipaannya pun masih rapi terpasang. Diantara pipa – pipa dan tangki BBM itulah ada jalan setapak menu ju ke pantai, kerumah ibu Ani. Bu Ani mengharapkan ada seorang Dai lagi datang ke situ, agar dapat mengajari mereka tentang Islam.

Pak Panjang Dari jauh , melihat kami datang, ter gopoh gopoh pak Panjang datang, Pria tua 70 tahunan ini tersenyum, terlihat giginya rapi, rupanya baru dipasang gigi palsunya. Pak Panjang punya beberapa orang anak perempuan , seorang anak perempuannya bernama Fatimah menikah dengan warga keturunan dan hingga kini meme luk agama suaminya. Begitu juga cucu lelaki bu Ani, menikah dan mengikut agama isterinya.

Tak banyak yang dapat kami lakukan, hanya mendengar cura han hati dari penduduk kampung pulau Boyan itu. Pulau Boyan, mau dikatakan pulau terpencil, tidak juga. Hanya beberapa menit saja dari Batam, kota Metropolitan yang sibuk dengan segala kegiatan.

Tak jauh dari pulau itu ratusan kapal – kapal besar bersandar dan berlabuh menunggu perbaikan. Tentunya itu semua adalah devisa, yang tak menyentuh kehidupan mereka. “Umur saya paling juga 3 tahun lagi” ujar pak Panjang kali ini dia tidak tersenyum, tetapi tertawa, tampak semua gigi palsu nya. “Kapan kampung kami ada listriknya”. rungutnya.

Pantas pak Panjang merungut, tak jauh dari pulau itu pipa Gas diameter besar mengalir ke Singapura, puluhan kilo meter panjangnya. Aku tersenyum, lalu mengajak nya photo bersama. Kumasukkan lembaran berwarna biru ke dalam sakunya, itulah yang dapat kula kukan. Dan Aku tak mau berjanji, tapi isnyaAllah, akan kukabar kepada Datuk Bandar, mudah mudahan beliau mendengar.

Kami tinggalkan pulau Bayan, bersama Adi Sadikin dari Malaysia, Ita Hasan Si Pulau Terluar, Aisya dari Pekanbaru, Jogie dari Hang Tuah, Sabri anak jati pulau Bulang dengan lincahnya menjadi tekong kami menuju destinasi yang lain.

Hari pun beranjak petang. (*)

Info Halal : Selanjutnya Terserah Anda


Makanan halal menjadi tidak halal, ada beberapa faktor penyebabnya. Seperti masakan laut (seafood) misalnya, makanan yang sangat banyak penggemarnya ini, menjadi tidak halal apabila bumbu masak nya terbuat dari yang tidak halal.

Hampir semua masakan laut menggunakan saus, tidak afdol masakan itu tanpa saus. Apa lacur kalau saus digunakan dari barang yang tidak mempunyai sertifikat Halal?.
Seperti penuturan Herman (65) : “Kalau kami ganti sausnya dengan yang lain, langganan kami sudah terbiasa dengan saus yang itu” Ujar Herman pengelola Restoran Dju Dju Baru, sembari mengangkat sebuah botol tanpa label, berisi cairan bening dan kental.
Restoran Dju Dju Baru berada di seputaran Nagoya, Buletin Jumat (BJ) berkunjung ke Restoran itu kemarin, selasa (26/02). Adalah Ibu Yanti dari Telaga Punggur bertanya kepa da BJ tentang ke-halalan masa kan di Restoran itu.
“Restoran ini sudah 18 tahun, sejak kami dibelakang Hotel Harmoni” ujar Herman. “Tidak ada masaalah, tanpa sertifikat halal, langganan kami tetap ramai” Tambahnya lagi.
“Kalau ada sertifikat Halal, nanti kami tak boleh jual Beer, tak boleh ini tak boleh itu, banyak aturan” Jelasnya lagi. Herman pun menjelaskan kalau Restorannya tidak menjual Daging Babi. “Yang Jual Babi di Restoran Dju Dju satu lagi.” Ujar Herman.
Tidak berapa jauh dari Restoran Dju Dju Baru, persis disamping Hotel Dju Dju ada sebuah Restoran bernama Dju Dju, tanpa kata Baru, pengelola nya masih kerabat Herman.

Haram bukan karena unsur babi saja

Jadi, menurut sebagian orang, Halal itu cukup tidak ada babi. Sebagaimana pernyataan Herman. Menurut Herman tetamunya yang dari luar negeri selalu minta Beer, itulah sebab nya Restoran menyediakan minuman beralkohol itu.
Kalau tetamu dari dalam, jarang yang minta Beer. “Banyak juga tamu dari orang pemerintahan.” Ujar Herman lagi sambil terse nyum. Bahkan mantan orang nomor satu di Kepri ini pun acap makan di Restoran itu.
Semua mereka Muslim. “Kalau mereka datang lantai dua itu penuh, muat 50 orang” ujar Herman , matanya menga rah ke lantai dua Restoran itu.

Tidak Melanggar UU Perlindungan Konsumen

Kita tidak bisa memaksa Herman harus mengurus serti fikat Halal untuk Restorannya, tanpa itu pun pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Herman pun tak henti-henti nya menerima pembayaran uang dari pembeli selama kami berbincang.
“Sabar ya pak, Sabar ya pak, jangan tulis seperti itu. Nanti terdengar kasar, agak lembut sedikit.” ujar Herman kepada BJ. Sesaat BJ hendak meninggalkan Restoran itu.
Apa yang dikatakan Herman adalah benar, disisi Undang Un dang Perlindungan Konsumen, karena Restoran Dju Dju Baru tidak melanggar Undang-Undang. Herman tidak menyata kan Halal Restorannya :”Terse rah mau makan disini atau tidak, karena saya akan tetap menjual Beer dan menggunakan saus dan bumbu yang sama”.
Jadi terpulanglah kepada kita sebagai Muslim, peminat makanan laut yang masih peduli dengan halal dan haram. Kami anjurkan belilah dan konsumsilah makanan di tempat yang sudah berser tifikat Halal.

Info Halal Disekitar Kita : Resto Kediri Batam


Terhitung awal Januari 2013, Sertifikatnya tidak berlaku lagi.    (poto:viky)

Terhitung awal Januari 2013, Sertifikatnya tidak berlaku lagi. (poto:viky)


Dalam situs resmi LP POM MUI Kepri, Resto Kediri, yang terletak di Batam Center, dekat Masjid Raya Batam ini, tidak lagi memperpanjang Sertifikat Halalnya.

“Kami tidak lagi bertanggung jawab atas kehalalan Resto Kediri” Ujar Tengku Azhari Abbas. Menurut Ketua MUI Kepri ini, pernah saat sidak, ditemukan daging yang tidak mempunyai sertifikat halal.

Salah satu restoran di termina ferry Batam Center yang  memiliki sertifikat halal (poto:imbalo)

Salah satu restoran di termina ferry Batam Center yang
memiliki sertifikat halal (poto:imbalo)


Banyak masayarakat bertanya-tanya,seperti ibu Yanti dari Telaga Punggur misalnya. Kepala Sekolah Islam berbasis pesanteren ini sering mengajak tamunya makan disitu. “Saya sering mengajak tamu saya makan disitu, dan juga makan di Dju Dju serta di Yong Kee” ujar Ibu paro baya ini dalam kesempatan bertemu di masjid Jabal Arafah saat acara Maulid nabi pekan lalu.

Pekan lalu, Buletin Jumat (BJ) berkesampatan mengunjungi Restoran yang juga dijadikan tempat Ibadah jamaah GEMINDO itu. Terlihat tanda halal yang tidak standar masih tercantum di papan nama Resto, yang terdiri dari tiga lantai itu. Dan tercantum juga tahun mendapatkan sertifikat Halal, yaitu sejak tahun 2003, ditu tup dengan lakban.

Kasir yang kami temui tidak dapat menjelaskan mengapa mereka tidak memperpanjang sertifikat Halalnya. “Bukan wewenang saya, saya hanya pekerja” ujar kasir Resto itu sembari memberi nomor telepon yang harus dihubungi.

Restoran ini belum mendapat sertifikat Halal, karena bumbu masaknya, diragukan kehalalannya. (poto:viky)

Restoran ini belum mendapat sertifikat Halal, karena bumbu masaknya, diragukan kehalalannya. (poto:viky)


Cukup lama juga Resto itu beroperasi, “Dulu lumayan ramai pengunjungnya, belakangan ini terasa berat untuk biaya operasi” Ujar M Munip, Munip katanya mewakili perusahaan, saat menghubungi BJ.

Munip pun menjelaskan sepinya pengunjung Resto itu, sangat berpengaruh dengan akses jalan.
“Kami bukan tidak mau memperpanjang sertifikat halal, tetapi sedang konsentrasi dan fokus mengurus kepindahan Resto ke Winsor, sebelah Lachosta. Tulis M Munip lagi dalam sms kepada BJ. “Tiga bulan lagi selesai” tambahnya.

Sementara Restoran Yong Kee, belum mendapatkan Halal, karena bumbu masaknya ada yang tidak halal. Informasi ini kami dapatkan dari LPPOM MUI juga, dan Rdiwan bekas koki yang sudah lima tahun bekerja di Restoran makanan laut itu juga membenarkan.

Di terminal Ferry Pelabuhan Batam Center, kamai sarankan makan minumlah di tempat yang ada logo halalnya. Logo Halal yang dikeluarkan oleh LP POM MUI itu jelas terpampang di sebelah Depan. Kalau belum dan tidak ada logo Halalnya hindari lah.

%d blogger menyukai ini: