• kunjungan

    free counters
  • RSS hang tuah batam

  • Album Foto

  • fans page

  • <script type="text/javascript">var cstrpuid = 234893;var cstrpwidth = "200";var cstrpheight = "130";</script><script type="text/javascript" src="http://cdn.caster.fm/0070B7/widgets/player.js"></script><!-- DO NOT REMOVE THE LINKS BELOW, THEY WILL BE HIDDEN (AND WILL HELP US A LOT) --><a id="cstrplb" href="http://www.caster.fm/">Free Shoutcast Hosting</a><a id="cstrplb2" href="http://www.caster.fm/">Radio Stream Hosting</a><div id="cstrpdiv"></div>
  • Iklan

Berkunjung ke Pemukiman Suku Laut di Batam


Style Mak Dayang dengan Jilbabnya....... tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek.... satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya......... banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama.....

Mak Dayang , Pak Tamam, Adi Sadikin dan ustadz Masri ,

“Saya mau ke tempat pak Din, boleh antar dan temanin saya pak?” tulis Adi di pesan facebookku. Adi Sadikin adalah seorang warga Negara Malaysia. Aku menyanggupinya.

Sebelumnya Adi  telah beberapa kali mengomentari tulisanku. Adi tertarik mengunjungi Batam setelah membaca tulisan tentang pak Din yang tinggal di Pulau Air Mas. https://imbalo.wordpress.com/2008/04/17/suku-laut-di-batam/

Jadilah hari itu jumat 25 Januari 2013, Adi datang ke Batam. Ku jeput dia di Bandar Udara Hang Nadim. Fireplay dari Subang Malaysia mendarat sekitar pukul 11.00 wibb. Kami masih sempat shalat Jumat di Masjid Raya Batam.

Setelah istirahat sejenak dan menyiapkan segala sesuatunya, dari Bengkong, kami berangkat ke Telaga Punggur, sekitar pukul 5 petang kami tiba di pelabuhan Telaga Punggur, dengan pompong kami menuju pulau Air Mas, cuaca agak gelap, awan terlihat menggumpal, angin utara bertiup kencang, nun jauh di selat Johor terlihat gulungan ombak putih, menandakan gelombang cukup tinggi.

Sampai di Selat Desa Dapur Arang, ustadz Masri yang kami temui telah selesai melaksanakan shalat magrib, berdua dengan Adi, kami shalat qasar dan jamak takdim, di mushala Taqwa. Mushala kecil yang terletak di pemukiman suku laut itu dibangun oleh AMCF dan Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam.
Tak lama kemudian Mak Dayang dan Pak Tamam datang ke mushala, pasangan suami isteri ini, termasuk penduduk tertua di pemukiman itu.

Seperti biasa mak Dayang bila menemui kami di mushala tak lupa memakai kerudungnya. Kulihat Adi memperhatikan Mak Dayang, tak tahulah apa yang ada dipikiran Adi terhadap Mak Dayang, setelah melihatnya langsung. Mak Dayang terbiasa bercelana pendek (sedengkul) dan berbaju lengan pendek, tetapi memakai kerudung.

Pak Din dan Adi di

Pak Din dan Adi

Adi yang jauh bekerja di Qatar itu, memang sengaja menyempatkan diri datang ke Batam dalam masa liburnya di darat. “Saya bekerja di Qatar selama 40 hari di laut dan libur 40 hari pula di darat, tetapi saya pulang ke Malaysia “ ujar Adi menjelaskan. “ Saya mau bantu perbaiki pelantar rumah pak Din” tambahnya lagi.

Adi yang tinggal di Serdang Kuala Lumpur ini , masih muda, umurnya sekitar 35 tahun, punya seorang isteri dan empat orang anak. Adi sudah lama berniat ingin membantu memperbaiki pelantar di pemukiman suku laut itu.
Tersentuh hatinya setelah membaca tulisan tentang bagaimana, suku laut yang minoritas muslim di Pulau Air Mas itu, selalu disindir oleh saudara mereka sendiri, karena terpaksa harus memakai pelantar yang juga sudah mulai rusak itu.

Ada dua pelantar di kampung laut itu, satu pelantar umum, pelantar dekat rumah pak Din dan juga pelantar yang menuju ke masjid, tetapi sudah rusak parah saat itu. Satu lagi pelantar, konon dibangun oleh orang Korea.

Meskipun mereka terbilang masih bersaudara, bahkan ada yang seibu dan sebapa, tetapi dalam soal keyakinan, mereka berbeda agama. Sindiran dari balik dinding kamar/rumah itulah, apabila saat melaui pelantar, terasa menyakitkan hati. Ujar isteri pak Din suatu hari. Pelantar di situ pula, sebagaimana jamaknya pelantar, di perkampungan nelayan memang berada diantara rumah-rumah.

Di pulau Air Mas , hampir semua suku laut yang bermukim di pulau itu adalah keluarga mak dayang , termasuk lah Pak Din. Pak Din dan Mak Dayang adalah adik beradik, sebagian anak-anak Pak Din dan Mak Dayang, terutama yang telah berkeluarga, beralih ke agama bukan Islam. Ada yang menikah karena pasangannya beragama lain.

Ternyata Adi tak tahu kalau pelantar rumah mak Dayang dan pak Din sudah diperbaiki oleh pemko Batam. Adi pun tidak mengatakan, kalau kedatangannya ingin membantu biaya perbaikan pelantar.

Sewaktu kami mampir dan bertemu dengan pak Din di Air Mas. Di masjid, tidak ada seorang pun yang shalat pada saat itu. Karena memang tidak ada orang yang mampu dan bisa menjadi Imam. Melihat kenyataan itu terdengar Adi bergumam : “Di Selat Desa Dapur Arang, ada ustadz Masri, tetapi di Air Mas tak ada ustadz” ujar Adi seakan bertanya. “Saya akan alihkan saja bantuan saya ini, untuk ustadz yang mau tinggal di Air Mas” kata Adi. “Ya seperti ustadz Masri, kalau dapat,  insyaAllah, saya akan kirim setiap bulan biayanya” kata Adi lagi, bersungguh sungguh.

Kulihat Adi mengeluarkan dompetnya, Aku tak tahu berapa lembaran rupiah yang diberikan Adi kepada Mak Dayang, dan berapa pula yang diberikannya kepada ustadz Masri. Yang jelas, Adi memberikan beberapa lembaran dollar US nominal 100 an kepadaku, “ Ini untuk sekian bulan kedepan, tolong carikan ustadz pak” harap Adi kepadaku. Malam itu kami tinggalkan pulau Air Mas, pompong 40 pk yang membawa kami pulang, terombang ambing mengikuti alunan gelombang.

Dari jauh Batam terlihat indah, kelap kelip lampu, dari ratusan kapal yang bersandar dan berlabuh di perairan.
Keberadaan kapal – kapal itu adalah salah satu sumber Devisa bagi Batam, cukup besar. Tetapi nyaris tidak menyentuh kehidupan para Nelayan, yang hanya berjarak beberapa mil saja, dari pusat pemerintahan itu.

Mereka tetap terpinggirkan, bahkan peraian yang biasa tempat mereka mencari ikan, kian tercemar oleh limbah. Mungkin itulah salah satu pemicu, para hinterland, demikian mereka disebut, berencana memisahkan diri dari pemerintahan kota Batam. Wallahu’alam.

Iklan

Jabal Arafah : Masjid Kebanggaan Warga Batam



Jabal Arafah adalah nama sebuah masjid di Batam. Masjid ini belum selesai dibangun “Ruangan yang sekarang dipakai untuk shalat itu, nantinya digunakan untuk ruang pertemuan semacam aula” ujar Fuardi Djarius. Mantan Kepala Dinas Kesehatam Kota Batam ini, menjelaskan kepada Buletin Jumat (BJ) biaya yang dikeluarkan sudah mencapai 10 miliar rupiah lebih. “Sekarang pembangunan difokuskan membuat menara dulu, agar kelihatan ikonya” tambah Fuardi lagi. Kalau dilihat sepintas dan tidak membaca tulisan, bangunan baru itu memang belum mencerminkan bentuk sebuah masjid.

Bangunannya bertingkat-tingkat, mengikuti struktur tanah, dari mulai tempat parkir, ruangan kantor masjid dan keatas tempat wuduk, setingkat lagi bangunan aula yang sekarang dibuat untuk tempat shalat. Tersedia juga mini market, menjual aneka ragam makanan ringan, tentu minuman juga tersedia. “Sementara ini hanya dihari Jumat ada jual nasi dan kari kambing” lanjut Fuardi lagi. Rencana kantin masjid itu belum selesai lagi.

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah


Disitulah Fuardi menghabiskan waktunya mulai masuk waktu shalat Juhur hingga selesai shalat asyar. Fuardi tidak sendiri, teman sejawat sesama pensiunan acap datang berjamaah dan bercengkerama. layaknya masjid ini semacam taman orang tua, dan tempat bertemu lansia . Mereka berbincang dibawah tenda yang disediakan oleh pengelola masjid.
mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga

mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga


Masjid Jabal Arafah, terletak persis di samping timur Mall Nagoya Hill, bisa jadi Mall ter-besar dan ter-ramai di Batam ini, membuat orang jadi ramai pula berkunjung ke masjid. “Yang jelas kami sekeluarga memang sengaja datang kesini” ujar Hanafi, bersama isteri dan ketiga anaknya, dihari hari libur dan senggang, meraka menyempatkan datang. Banyak keluarga muda seperti Hanafi datang mengunjungi masjid Jabal Arafah ini.

Lumayan menguras tenaga dari jalan raya naik ke bukit, dengan berjalan kaki. Tetapi tidak bagi ke-enam anak lelaki usia sekolah dasar (SD), tengah hari itu, mereka memang sudah berencana selepas sekolah hendak shalat di masjid yang ambalnya tebal, enak sujudnya kata mereka. Masih terlihat segar, apalagi selepas wuduk, mereka berlari dan bercanda, masuk ke ruang shalat.

"Maha Suci Engkau Ya Allah" jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka.."Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya....

“Maha Suci Engkau Ya Allah” jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka..”Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya….


Halaman masjid ini dilengkapi taman yang sedap dipandang mata, ada kolam ikan dengan air mancurnya. ” Kami diantar travel kemari” ujar Tati ketua rombongan studi banding dari Pemkab Bekasi, mereka menyempatkan berpoto disela-sela pohon kurma yang sengaja ditanam, dan tertata rapi.

Petang itu pula Novi pekerja dari Muka Kuning, sengaja datang bersama sang kekasih. Lepas magrib, melepaskan lelah, duduk di bangku yang memang tersedia di taman, pemandangan indah dari ketinggian bukit masjid Jabal Arafah, membuat mereka sering datang ke masjid itu.

Ustadz Amiruddin Dahad , sering menjelaskan dalam kesempatan ceramah diberbagai tempat tentang konsep pengelolaan masjid. Masjid Jabal Arafah ini acap pula sebagai contoh beliau. Imam yang fasih bacaannya, dan hafis pula. Sound System yang tidak menggangu telinga. Bukan karena tempat yang stategis saja.

Hal itu dibenarkan oleh DR Amirsyah Tambunan, wasekjen MUI Pusat, saat datang ke Batam dalam rangka Rakorda MUI I se-Sumatera, isteri wasekjen ini terkagum kagum dengan kebersihan dan design tempat wuduk dan kamar mandinya “Bak hotel berbintang saja” ujarnya.

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid


Masjid Jabal Arafah, bukan pengganti masjid Arafah yang ada di pintu Selataan Mall Nagoya Hill, masjid Arafah yang berada di lantai tiga pertokoan yang berhampiran dengan Hotel Nagoya Plaza, tetap digunakan.

Meskipun baru ruang aula saja yang selesai dan sudah digunakan utuk shalat, masjid Jabal Arafah ini ramai dikunjungi, tak kira anak-anak, remaja, keluarga. Rombongan tamu yang berkunjung ke Batam pun tak lepas datang mengunjungi masjid ini. Dari Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand misalnya, tamu yang datang selalu kami bawa ke masjid itu.

“Pemandangannya bagus, bersih” ujar ustadz Zenal Satiawan , menirukan ucapan tamunya dari Singapura yang dibawanya, saat shalat ke masjid itu. “Sebagai warga Batam kita jadi bangga dan tidak malu” ujar ustadz itu lagi.

Masjid yang punya panorama indah ini memang perlu diacungi jempol kepada penggagas dan pengelolanya. Masjid ini bisa dijadikan contoh bagaimana layaknya mengelola manajemen masjid. Semoga rezeki tetap tercurah kepada penyandang dana pembangunan masjid itu.

Peristiwa Berdarah Tak Bai Thailand Delapan Tahun Lalu


Peristiwa Berdarah Tak Bai


Tak Bai adalah nama salah satu tempat di Provinsi Narathiwat Thailand Selatan. Sama dengan Provinsi Yala, Patani dan juga Songkla, daerah ini dulu adalah kerajaan Islam Patani, sebelum di obok-obok oleh Inggris.

Patani termasuk kerajaan Islam terkemuka di Nusantara, sebagian daerah takluknya dibagi pula oleh Inggris kepada Malaysia. Hinggalah kerajaan Islam yang cukup termasyhur itu hilang dari muka bumi. Hingga sekarang rakyat Patani, tetap menuntut kemerdekaan, lebih seratus tahun mereka menuntut haknya kembali, sudah puluhan ribu nyawa terkorban untuk hal itu.

Sekatan kawat berduri seperti ini, mewarnai sepajang jalan di empat Wilayah kompli selatan Thailand

Sekatan kawat berduri seperti ini, mewarnai sepajang jalan di empat Wilayah kompli selatan Thailand

Empat daerah yang dianeksasi oleh Kerajaan Siam yang mayoritas Budha, hingga kehari ini terus bergolak. Empat daerah konflik ini pula mayoritas penduduknya beragama Islam dan berbahasa melayu. Dari segi agama, bahasa, tulisan dan adat istiadat, sungguh sangat jauh berbeda. Pemaksaan tidak secara langsung itulah yang kerap dan acap terjadi.

Tak Bai Narathiwat Thailand, daerah ini berbatasan langsung dengan Kelantan Malaysia, budaya dan bahasanya sama, karena mereka memang dulunya bersaudara, hanya sungai golok yang tak seberapa lebar itu saja yang memisahkan kedua Daerah dan Negara ini.

Delapan tahun yang lalu tepat nya 24 Oktober 2004 terjadi suatu peristiwa yang sangat menyayat hati. Umat Islam yang saat itu sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, dibantai dengan bengis dan sadis oleh tentara Siam Thailand. Tak Bai yang terletak di pinggir salah satu pantai itu dipenuhi genangan darah dan tumpukan mayat.

Tentara Siam siaga 24 jam sepanjang tahun di jalan - jalan

Tentara Siam siaga 24 jam sepanjang tahun di jalan – jalan

Mayat yang mati lemas karena ditumpuk bertindih tindih , dan dilemparkan begitu saja ke dalam truck, menurut laporan resmi pemerintah Thailand sekitar 85 orang yang mati saat itu. Tetapi orang kampong bilang jauh lebih banyak dari pada itu.

Tak Bai delapan tahun yang lalu disaat itu bulan Ramadhan, ditengah panas terik mereka dijejerkan dan dibaringkan di pinggir pantai di jalan dan pasir yang panas, diseret dan dilemparkan kedalam truck untuk dijebloskan ke tahanan. Hampir ribuan jumlahnya.

Oktober 2012 yang lalu Buletin Jumat (BJ) berkesempatan mengunjungi Tak Bai, dari Hadyai menuju Narathiwat , mampir beberapa jam di Patani. Sekatan jalan raya dari tumpukan pasir dan gulungan kawat berduri, nyaris terlihat disemua persimpangan. Disamping dipersimpangan jalan, jarak-jarak beberapa kilometer tentara Siam dengan senjata laras panjang terhunus, memeriksa semua kenderaan yang lalu llang dan memeriksa seluruh penumpangnya tanpa terkecuali.

Apalagi menjelang tanggal 24 Oktober 2012 itu, penjagaan semakin diperketat. Memasuki daerah Tak Bai, sepeda motor yang masuk keluar daerah itupun di periksa. Minibus yang ditumpangi BJ, hampir semuanya adalah penduduk Tak Bai yang sedang merayakan Idul Adha 1433 H di sana. Terlihat setiap ada pemeriksaan tentara yang berlebihan, contohnya pasangan yang duduk disamping BJ menarik nafas panjang.

Begitulah kondisi Tak Bai saat BJ kesana, setelah delapan tahun kasus berdarah yang tak pernah dapat perhatian Dunia ini, seakan terlupakan begitu saja, tetapi terlihat pemerintah Siam malah semakin takut dan meningkatkan pengamanan dengan menambah tentara dan sekatan jalan raya dimana-mana, dan tetap juga bom-bom meletup dimana-mana di daerah 4 komplik itu.

Entah sampai bila hal ini berakhir, sudah seratus tahun lamanya. Tak Bai masih seperti dulu, tak ada bangunan yang berubah, Jalan raya yang menghubungkan Patani – Narathiwat , kini dapat di tempu hamper 3 jam itu memang terlihat mulus, dua jalur. Dibangun oleh Kerajaan Siam, tetapi puluhan pos keamanan dengan bentangan kawat berduri dan tumpukan pasir dengan tentara yang terus 24 jam berjaga dengan senapang terhunus, masih juga menjadi pandangan yang dominan bagi para pendatang.

Sekatan di tengah pekan (bandar) empat wilayah komplik , biasanya tentara ini siaga di tempat-tampat fasiltas kerajaan dan toko warga non muslim

Sekatan di tengah pekan (bandar) empat wilayah komplik , biasanya tentara ini siaga di tempat-tampat fasiltas kerajaan dan toko warga non muslim

Peristiwa Tak Bai di Narathiwat Thailand, pembunuhan terhadap umat Islam oleh tentara Siam Budha yang kita tahu untuk merengut nyawa serangga saja mereka tidak lakukan, Tetapi mengapa begitu sadisnya mereka menembaki dan membunuh dan mencabut nyawa manusia.

Tak jauh beda umat Budha di Thailand dan umat Budha di Myanmar Burma sana, mengapa mereka begitu bencinya terhadap sesame manusia, yang kebetulan beragama Islam.

Ya Allah tolonglah Saudara kami yang terzolimi di sana……………

Pengalaman Qurban 1433 H di Burma, “Terjebak di Perbatasan”


Kota Kok Song Myanmar

Kota Kok Song Myanmar

Lepas saja dari kawasan hutan dan jalan bebatuan, lega sedikit perasaan. Kampung Teluk Cina kami tinggalkan, menuju Pulau Dua. Hampir 50 kilogram daging qurban yang dibawa, rencana untuk dibagi kepada saudara muslim yang ada dikampung Pulau Dua itu.

Ada perbedaan yang sangat terasa saat mengendarai kenderaan di Burma, kita berjalan di sebelah kanan. Teman dari Thailand yang membawa sepeda motor selalu lupa, kalau kami masih di Burma. Meskipun jalan tak ramai hanya sesekali ada sepeda motor dan sejenis tuk tuk yang lalu, selalu saja arah sepeda motor kami masuk kejalur kiri.

Tidak seperti sewaktu berangkat ke Teluk Cina, pagi harinya. Sepeda motor yang kami sewa , sudah diservise , karburator dan remnya pun sudah diperbaiki. Memang sewaktu keluar hutan kami tidak bersama, aku diantar dengan sepeda motor oleh seorang pemuda Abidin namanya. Tidak ada signal henpon sepanjang jalan yang kami lalui, sehingga tidak bisa mengabarkan kepada kawan yang ada di Pulau Dua, bahwa kami akan tetap pulang juga malam itu.

Seorang lelaki yang dari tadi mengikuti kami dari belakang dengan sepeda motornya , menyapa dengan salam. Tak tahu apa yang diucapkannya dalam bahasa setempat , kami mengikutinya berputar arah ke bukit yang lebih tinggi , ada dua garis signal terkadang satu terlihat di layar henponku . Satu nomor Thailand yang sudah ter-regstrasi dan satu lagi nomor Telkomsel roaming dari Indonesia.

Alhamdulillah dengan berteriak teriak melalui henpon, keberadaan kami diketahui oleh kawan yang ada di dermaga, 30 menit lagi harus sudah sampai disana. Jalanan aspal berlobang lobang , mirip di Batam , ditancap terus karena mengejar waktu. Penat rasanya pinggang menahan sepeda motor agar jangan terus arah ke kiri, kawan orang Thailand tetap saja mengarah jalan kekiri.

Akhirnya sampai juga di dermaga, kami melaju menuju Ra Nong Thailand malam itu juga. Setelah sebagian daging qurban diserahkan di Kok Song, yang kami khawatirkan tadinya bisa busuk, sebagian lagi kami bawa ke Ra Nong Thailand.

Semua perkantoran sudah tutup. Hal ini yang membuatku gelisah, meskipun pasporku sudah di chop keluar di checkpoint imigrasi Kok Song Myanmar, tetapi checkpoint imigrasi Ra Nong Thailand ternyata sudah tutup. Anehnya 3 pos pemantauan di perbatasan yang kami lalui memberikan izin memasuki batas wilayah.

Kantor imigrasi Ra Nong yang kudatangi menyarankan agar aku kembali saja keesokan harinya ke checkpoint di dermaga. Namun setelah keesokan harinya petugas imigrasi di checkpoint Ra Nong Thailand tidak mau terima alasan yang kami buat, tetap saja dia ngotot menyuruhku kembali ke Kok Song Myanmar .

Lemas rasanya, karena aku sudah keluar dari sana dan harus masuk kesana lagi tanpa ada penjelaasan . Seorang pemuda setempat ber tato menghampiriku , dia bersedia membantu menguruskannya . 400 bath untuk bot pulang pergi, dan 100 bath untuk di pos pemantauan perbatasan. Aku bertolak lagi ke Kok Song Myanmar , bersama beberapa warga Negara Asing berambut pirang. Tekong bot orang Burma yang pandai berbahas inggris ini menyarankan kepadaku agar aku mengangguk saja bila ditanya.

Benar saja, petugas imigrasi di checkpoint Kok Song itu memandangi wajahku, aku tersenyum sembari mengangguk kepadanya , dibalasnya senyumanku terlihat gigi-giginya memerah karena banyak makan sirih. Untuk merubah dan membatalkan tanggal keberangkatan , petugas imigrasi itu memintaku uang 500 bath lagi. Aku bernafas lega. Lepas satu masaalah pikirku dalam hati.

Aku kembali lagi ke Ra Nong Thailand , petugas imigrasi di checkpoint tadi masih bertugas. Kesal saja kepadanya, padahal seperti ini (bermalam di checkpoint) adalah hal yang lumrah karena tutup dan petugas sudah pulang. Seperti kalau kita dari Ha Noi Vietnam naik Bus hendak ke Vientiane Laos , kedua Negara itu menutup perbatasannya sebelum magrib. Dan kita harus menunggu sampai pagi pukul 7 keseokan harinya.

Mudah2an hal ini tidak terjadi lagi……

Merentasi Hutan Belantara Bumi Burma, Qurban 1433 H


Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H

Ali dan komunitas muslim lainnya disatu kampung dipedalaman Burma, Qurban 1433 H


Pagi itu Jumat (26/10), dicheck point keberangkatan Imigrasi di Ra Nong Thailand penuh sesak, antrian mengular panjang sampai ketempat penjualan ikan. Buletin Jumat salah seorang yang ikut antri dalam barisan itu.

Di Thailand pelaksanaan Idul Adha 1433 H, adalah sama dengan di Arab Saudi, yaitu hari Jumat 26 Oktober 2012, sementara di Myanmar , sebagaimana kita maklumi, pemerintahnya melarang kegiatan yang berbau pemotongan hewan sapi/lembu itu. Kita juga tahu sebagian besar pemeluk agama di negeri para biksu itu menganggap suci sapi/lembu. Tragedi pembantaian Muslim minoritas Rohingya di Arakan, berdampak juga sampai ke Rangon, bahkan hampir seluruh wilayah Myanmar (Burma).

Menurut KBRI di Rangon, mereka tetap shalat idul adha dan pemotongan hewan qurban hari Jumat. Namun di tempat lain terutama di kota-kota, umat Islam melaksanakan shalat hari Sabtu (27/10). Staff KBRI ini juga menyarankan kepadaku kalau hendak ke Myanmar, harus applay izin dulu ke Jakarta. “Kalau langsung datang (VOA), nanti bikin repot, kami harus datang ke Imigrasi” ujar staff perempuan yang kuhubungi melalu telpon selular, apakah sudah bisa masuk ke Rakhine.

Selat Andaman

Selat Andaman

Selesai saja pasport dicop, aku bekejar ke boat yang telah menunggu di dermaga.Sengaja kami charter boat seharga 200 baht. Boat melaju ke ke pos pertama 50 bath lagi harus dibayar ke petugas imigrasi dan bea cukai yang ada di satu pulau yang masih wilayah Ra Nong Thailand.

Dari pos pertama tadi ada satu pulau lagi yang harus disinggahi, pulau paling ujung, setelah itu kita akan kelaut bebas,Laut Andaman. Di pos ini hanya dari jauh kita tunjukkan buku paspor masing-masing penumpang. Di pos itu beberapa petugas yang memakai baju loreng hijau seragam lengkap dengan senjata laras panjang yang tersandang di bahu.

Hampir 30an menit melalui selat Andaman, kita akan tiba di satu pulau pula, pulau ini sudah masuk wilayah Burma, semua barang bawaan diperiksa oleh petugas. Barulah kita akan merapat ke dermaga khusus boat yang tidak jauh dari kantor imigrasi di kota Kok Song Myanmar.

Sama dengan di Ra Nong Thailand, di check pont imigrasi Kok Song Myanmar ini pun penuh sesak. Tiba giliranku bertatap dengan petugas imigrasi, petugas itu membolak balik buku paspor milikku, seakan tak percaya ada paspor hijau milik orang Indonesia , mau datang ke Kok Song. Agak tersenyum petugas itu, melihat stempel imigrasi Myanmar yang sudah beberapa kali tertera di pasporku. “Ten Dollar” ujarnya. Tak tok tak, tertera masuk tanggal 26 keluar tanggal 8 Nopember 2012.

Di Kota Kok Song atau dalam bahasa melayu berarti Pulau Dua, tidak terlihat suasana Idul Adha, kalau pun ada, banyaknya orang lalu lalang di pintu masuk tadi, dari cara berpakaian menunjukkan kalau mereka Islam. Di Kok Song ada beberapa masjid, pun tak terlihat suasana pemotongan hewan.

Nun jauh di pelosok hutan, di teluk – teluk sepanjang pantai laut Andaman, banyak bermukim komunitas muslim yang sudah ratusan tahun menetap disana. Jauh sebelum negara Myanmar terbentuk. Komunitas ini sebagian berasal dari Langkawi, seorang dari mereka bernama Tengku Yusuf.
“Sejak tok – tok kami sudah tinggal disini” ujar nya menerangkan tentang keberadaan mereka disalah satu teluk indah, daerah penghasil emas dulunya.

Tidak ada akses jalan darat ke pemukiman – pemukiman itu, semua ditempuh melalui perjalanan laut. Kalau tetap ingin memaksanakan jalan darat harus ditempuh dengan masuk hutan keluar hutan, dan berjalan diatas aliran sungai yang kering berbatu-batu kiloan meter jauhnya. Dari satu teluk ke teluk lainya bisa empat jam perjalanan dengan sepeda motor, bukan hanya hutan saja dilalui, tetapi naik bukit dan turun bukit yang berbatu-batu cadas.

Di pemukiman itu banyak penduduk usia diatas 60 tahun yang dapat dan menulis huruf jawi (arab melayu),dan tentunya berbahasa melayu.”Sejak 20 tahun terakhir ini, banyak pula orang macam Ali ini kat sini” kata Tengku Yusuf menerangkan sembari memperkenalkan Ali. Ali pemuda 30 an itu ikut membantu memotong hewan Qurban, kulit Ali rada hitam hidungnya mancung, giginya terlihat agak kemerah merahan, karena mereka disana suka makan sirih.

“Kami Shalatnya (maksudnya Idul Adha) tadi” ujar Tengku Yusuf lagi. “Karena kemarin (Kamis) wukuf di Arafah” ujarnya lagi. Tengku Yusuf terus bercerita tentang masa lalu sambil rebahan di lantai masjid kecil yang baru saja selesai dibangun mereka. Badannya terlihat lemah, senang sekali kelihatan dia dengan kedatanganku. Banyak yang diceritakannya kepadaku, yang tak mungkin kutulis satu persatu di media ini. Banyak yang diharapkannya dan penduduk kampung itu,tak terkecuali tragedi Arakan yang menyayat hati. Tengku Yusuf pun sama tak berharap terus membayar upeti dari hasil jerih payah mereka, kepada pemerintah yang tak pernah memperhatikan kehidupan sosial mereka.

Bukan kehendak mereka seperti itu, jauh sebelum perang dunia meletus mereka adalah bangsa yang berdaulat. Tidak disekat-sekat batas negara nisbi, dan ambisi segelintir manusia. Jauh sebelum pemerintah Junta memerintah mereka adalah manusia yang bertamadun. Jauh sebelum traktat London diterapkan.

Hari menjelang petang, aku masih terpikir dan teringat perjalanan masih jauh, akan 4 jam lagi melalui hutan semak belukar dan bebatuan air sungai yang mengering sebatas mata kaki, untuk pulang. Tiga kali terguling-guling dan terjerembab dari boncengan sepeda motor saat menuruni bukit bebatuan,sewaktu datang ke kampung itu tadi, bukanlah hal yang pernah kubayangkan sebelumnya. Seakan Tengku Yusuf membaca pikiranku, mengajakku untuk bermalam di kampung itu saja, kahawatir hari telah gelap.

Masih banyak yang akan di kerjakan esok harinya,ditempat lain pula, kami putuskan berangkat pulang, petang hari itu juga, nun jauh disana terlihat indah ciptaan Allah, di ujung pepohonan puncak bebukitan laut Andaman, hari ke 12 bulan Zulhijjah 1433 H, bulan purnama mulai mengambang, menerangi perjalanan kami, merentasi hutan belantara, bumi Burma.

Sampai jumpa lagi, ilal liqok. Semoga Allah membebaskan penderitaan saudara kami yang ada disana.

Sholat di Masjid Pengungsi Rohingya


bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar

bersama Imam Masjid asal Rohingya Myanmar


Rak Nong adalah salah satu provinsi di Thailand yang berbatasan langsung dengan Kok Song Myanmar. Kedua wilayah ini dipisah oleh Laut Andaman. Dari Bangkok ke Rak Nong di tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan Bus. September 2012 yang lalu saya berkesempatan kembali mengunjungi Rak Nong.

Di Provinsi yang dikelilingi dengan perbukitan hijau ini banyak dijumpai warga Myanmar keturunan Rohingya. Tidak diketahui jumlah pasti. “Bisa ribuan banyaknya “ Ujar pak Sobirin sambil menyetir kenderaannya . Pak Sobirin adalah penduduk Rak Nong , pria paro baya ini, senang sekali dengan kedatanganku dan menginap pula di rumahnya. Pak Sobirin dapat berbahasa melayu dengan lancar. Bahasa Myanmar pun dikuasainya dengan fasih. “Sayapun pandai bahasa Bangladeh” ujarnya lagi.

Tengah hari itu Jumat (14/9), aku dibawa oleh pak Sobirin ke suatu masjid yang khusus jamaahnya warga Rohingya. Masjid yang terletak dipinggiran kota ini bentuknya memanjang, karena memang bekas ruko, dan benar dipenuhi jamaah, hampir semua warga Rohingya. Tetapi kalau ditanya , mereka tak menjawab betulkah mereka warga Myanmar.

Dari jamaah yang hadir nyaris kami berdua saja yang lain warna kulitnya. Pada saat masuk kedalam masjid , kulihat khatib sudah memberikan khotbahnya , aku bergegas shalat dua rakaat dan duduk dengan tertib di barisan kedua . Tetapi anehnya pak Sobirin menggamitku dan mengajakku pindah duduk, agak ke ujung barisaan.

Aku mengikutinya, karena enggak enak hati sebagai tamunya. Sama seperti saat di mobil sewaktu menuju masjid, pak Sobirin pun terus bercerita. Padahalkan khatib sedang khotbah pikirku dalam hati, mengapalah pak Sobirin ini terus bercerita. Memang terus terang sedikitpun aku tak tahu apa yang diutarakan khatib didepan mimbar itu.

Hampir 30 menit khotbah itu berlangsung. Setelah itu kulihat hampir semua jaamaah shalat dua rakat. Dan sang khatib tadi turun , kulihat juga melaksankan shalat , tak lama kemudian azan dikumandangkan , dan seorang khatib yang lain naik keatas mimbar.

Khatib yang baru ini khotbah bercampur bahasa arab sebagaimana layaknya khotbah di tempat kita (Indonesia) tetap dua khotbah berhenti sejenak dan hanya beberapa menit saja sudah selesai , dan dilanjutkan dengan shalat dua rakaat. Selesai lah sudah pelaksanaan shalat jumat hari itu.

Setelah itu barulah kutahu ternyata khotbah yang pertama dengan khatib yang lain tadi yang kukira adalah khotbah jumat bukanlah khotbah , itu hanyalah semacam ceramah sebelum khotbah. Menurut Ustadz Zenal Satiawan Lc , tuntunan shalat Jumat itu , ya seperti itu , lamanya bacaan khotbah, tidak lebih lama waktunya dari pada shalat itu sendiri.

Hem panteslah pak Sobirin tadi masih terus bercerita dengan ku . Dia tahu bahwa itu bukan khotbah , hanya ceramah biasa.
Jadi sangat beda sekali misalnya dengan di beberapa masjid di Batam. Jumat yang lalu khatib khotbah lebih 30 menit, sementara shalatnya tak sampai 5 menit. Banyak masjid di Malaysia pun berbuat hal yang sama dengan di Indonesia, khotbah berlama-lama dan shalatnya sendiri hanya sebentar.

Rencana Khitan di Phan Rang Vietnam


masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi

masjid ini dibangun oleh Dubai persis terletak di jalan raya Phan Rang menuju Hanoi


Bersama Yayasan Amal Malaysia di Saigon

Rasa tak muat lagi perut hendak menyantap hidangan pagi dirumah Tok Hakim Ysa. Menu yang telah tersedia tak jauh beda dengan di rumah Hasan, ada roti, telur ceplok, sayuran berbagai macam dan yang lain adalah bubur dari gandum, dan sup.

Tak satupun kawan yang hendak makan, kami minta selepas shalat Jumat saja makan kembali. Ibu Basirun yang memasak semua masakan itu dapat memahaminya. Untuk menghilangkan rasa kecewanya berdua orang satu piring bubur itu kami makan juga.

Tok Hakim Ysa menyarankan kepada kami pakai mini bus saja, kapasitas 12 tempat duduk, hari itu Jumat (7/9) masih sekitar pukul 11 waktu setempat, disepakati harga sewa 4.5 juta Dong hingga ke hari senin (10/9) sampai pukul 8 malam berakhir dibandara Ho Chi Min, rombongan diantar pulang.

Betul saran Tok Ysa, dengan mini bus ini kami lebih mudah mengunjungi berbagai tempat, di kampong Ban Lam ada dua masjid selain masjid Islam Bani. Keluhan yang sama kami dengarkan dari penduduk sekitar masjid itu. Perlunya tenaga pendidik untuk agama Islam disana.

Tidak terasa singkat sekali rasanya waktu, waktu shalat hamper tiba. Kami segera bergegas ke Masjid yang satu lagi masjid dekat rumah Tok Hakim. Persis di depan Masjid rumah Tok Hakim Ysa berdiri sebuah masjid Islam Bani, masjid aitu cukup besar, tidak terlihat aktifitas orang melaksanakan shalat jumat disana.

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa

Tok Hakim Bani dan Tok Imam yang membedakan selempang di depa


Selepas makan di rumah Tok Hakim Ysa, kami pamitan, Sani, telah menunggu kami untuk bertemu Tok Hakim Islam Bani. Namun sebelum ke rumah Tok Hakim Bani kami mampir dulu kesebuah masjid yang juga berdampingan dengan masjid Bani. Dua tahun lalu saya pernah ke masjid ini, sehingga ada beberapa jamaah yang masih ingat kepadaku.

Banyak cerita tentang Islam Bani meluncur lancer dari bibir Tok Hakim Bani, Hasan dan Sani yang menjadi penterjemah. Koleksi Alquran terbitan Iran ada disana, begitu juga kitab panduan tulisan tangan diperlihatkan oleh Tok Hakim.

Rumah Tok Hakim Bani tak seberapa jauh dari masjid Bani, berjalan kaki kami kesana, menurut Tok Hakim Bani ini, jamaah Bani tidak shalat dan tidak puasa diwakilkan kepada Imam, ada 20 Imam sebagai perwalian seluruh umat Islam Bani di daerah Phan Rang itu. Para Imam ini pun tak perlu shalat sebagaimana layaknya umat Islam lima kali sehari semalam. Hanya sesekali saja. Begitu juga dengan puasa ramadhan, cukup sekali saja. Tok Hakim adalah yang mengetuai seluruh Imam Bani, termasuk menikah kan pasangan umat Bani.

Tok Hakim ini sepanjang umurnya tetap bebaju putih dengan desain khusus, lengan panjang seperti jubah. Dan menurut Tok Hakim ini, diseluruh kain jubah itulah amalan dan syariat umat Bani melakat. Dan beliau yang mempertanggungjawabkannya kelak dihadapan Allah SWT.

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran

kitab pedoman Islam Bani potongan potongan ayat Alquran


Ada selempang kain berwarna-warni melilit di leher Tok Hakim Bani yang katanya pernah Umrah ke Makkah itu, dan konon katanya lagi Tok Hakim inilah satu satunya Tok Hakim yang pernah menginjak Makkah. Selempang berwarna warni itu menandakan surga , sementara ada pula seperti 3 buah kantong bertali menjuntai dari depan ke belakang di pundak Tok Hakim. Kantong macam uncang itu berwarna warni juga, ada manik manik melekat menhiasi pinggirannya, ketiga uncang itu mengandung pengertian yang berbeda, yaitu tentang alam, alam sebelum lahir , alam dunia dan alam akhirat.

Tok Hakim yang satu ini baru diangkat menjadi Tok Hakim Baru, Tok Hakim yang lama adalah masih pakcik Sani. Kondisi ruang tamu Tak Hakim lama dengan yang baru mirip, di sudut raung ada bale bale dari kayu tanpa alas, papan bale bale ini mengkilap. Biasanya Tok Hakim duduk menerima tamu disitu terkadang menjuntai kaki. Tetapi mungkin karena rombongan kami banyak kami duduk dengan menggelar tikar di lantai.

Hari beranjak petang saat kami meninggalkan rumah Tok Hakim, ada satu lagi masjid yang hendak kami kunjungi. Masjid ini masih baru , terletak persis di pinggir jalan raya kampong Ban Lam Phan Rang. Masjid ini dibangun oleh orang Dubai. Berpagar rapi lengkap dengan sanitasi yang memadai, dua tahun yang lalu saat aku mengunjungi Phan Rang , masjid ini baru selesai diresmikan .

Masjid itu hanya kami lalui saja, karena hendak mencari makanan, untuk makan malam. Tidak ada restoran atau kedai makanan di kampong itu, di Bandar Phan Rang pun belum pasti ada yang halal. Sani lah yang mengajak kami makan malam dirumah kerabatnya.

Rumah itu cukup besar berlantai dua, halamannya cukup luas , dari jalan raya sekitar 3 kilometer, jalanan ke rumah itu kiri kanannya sawah, tidak beraspal. Pemilik rumah itu seorang perempuan tua, anak perempuannya menikah dengan orang Islam dan bekerja di Luar Negeri. Agaknya yang membangunkan rumah itu adalah anak menantunya tadi. Dan sang Ibu tua itu, baru sekitar setahun mengucapkan syahadat, mengikuti agama putrinya.

Senang sekali ibu tua itu menerima kami, kami disuguhi satu jenis makanan seperti kulit lumpia kering tetapi ditaburi dengan sejenis wijen yang di sangria dengan minyak , dengan lembaran itu dimasukkan berbagai jenis sayuran , ikan , daging ataupun telur dadar digulung dan dicelupkan ke dalam bumbu sebelum di makan.

Seorang lagi putri ibu itu menikah, dan masuk Islam, sekitar dua tahun yang lalu. Namun hingga kini belum lagi di khitan. Dan masih seorang lagi kerabat sang ibu yang bersama kami makan malam itu juga telah masuk Islam umurnya sekitar 40an tahun dan juga berlum ber khitan.

Hal seperti kedua lelaki tadi banyak terdapat di Phan Rang, belum lagi mereka yang dari Islam Bani, nyaris semua tidak di khitan, termasuk Tok Imam. Itulah salah satu misi kunjungan kami bersama Yayasan Amal Malaysia (Amal Kedah) ke sana.

Insyaallah bulan juni 2013 saat libur anak sekolah Amal Kedah akan mengadakan sunat massal disana. (bersambung)

%d blogger menyukai ini: