• kunjungan

    free counters
  • RSS hang tuah batam

  • Album Foto

  • fans page

  • <script type="text/javascript">var cstrpuid = 234893;var cstrpwidth = "200";var cstrpheight = "130";</script><script type="text/javascript" src="http://cdn.caster.fm/0070B7/widgets/player.js"></script><!-- DO NOT REMOVE THE LINKS BELOW, THEY WILL BE HIDDEN (AND WILL HELP US A LOT) --><a id="cstrplb" href="http://www.caster.fm/">Free Shoutcast Hosting</a><a id="cstrplb2" href="http://www.caster.fm/">Radio Stream Hosting</a><div id="cstrpdiv"></div>

Bersama Yayasan Amal Kedah Malaysia mengunjungi Saigon.


Tengah, Tok Hakim Islam Bani, kanan Hasan nama Vietnamnya adalah Thap DaiTruong Tho

Tengah, Tok Hakim Islam Bani, kanan Hasan nama Vietnamnya adalah Thap DaiTruong Tho

Sebenarnya rencana kami hendak ke Saigon sudah dirancang dua bulan yang lalu yaitu awal Juli 2012 , pada saat itu harga tiket Air Asia dari Kuala Lumpur – Ho Chi Min , masih sekitar seratusan ringgit saja .
Kawan dari Malaysia sudah beli tiket “Kami sudah beli tiket untuk 5 orang” tulis Zul Lebai Baron dalam pesannya di Facebookku. “Jadi kan pak Imbalo, ikutlah dengan kami” lanjutnya lagi berharap.
“Insyaallah” jawabku ketika itu. Tetapi sampai menjelang 2 hari sebelum keberangkatan (5/9) belum juga tiket kupesan.

Rencana teman teman dari Amal Kedah Malaysia hendak ke Saigon adalah dalam rangka survey untuk ber- qurban bulan Oktober 2012 mendatang , dan juga kemungkinan untuk melaksankan khitanan masal disana.

Akhirnya kuputuskan juga untuk berangkat menemani mereka, Berangkat dari Batam (5/9) petang naik ferry terakhir, sampai di terminal bus Larkin Johor Bahru , terdengar azan Isya berkumandang .

Sengaja kuambil keberangkatan bus pukul 9 malam dengan harga tiket sebesar 31 RM, rencana semula langsung ke Kuala Lumpur, tetapi aku turun di hentian Nilai. Di hentian Nilai telah menunggu Nadzmi putra pak Yusuf dan Nadzmilah yang mengantarkan ku ke LCCT dan bergabung dengan teman2 yang dari Kedah , saat tiba di LCCT hari telah pukul 2 pagi.

Sepagi itu Kounter Air Asia belum buka , terpaksa menunggu 2 jam lagi. rencana hendak menukar jadwal penerbanganku dari AK 886 ke AK 880 , karena semua teman dari Malaysia yang akan berangkat ke Saigon dengan penerbangan AK 880 pukul 7 pagi , sementara aku sendiri berangkat dengan AK 886 pukul 12 tengah hari.

Awalnya Kami yakin bisa sama-sama berangkat dengan penerbangan AK 880 pagi , dari pengalaman beberapa maskapai penerbangan lain, bila masih ada sit kosong pada penerbangan awal. Ternyata hal ini tidak berlaku bagi Air Asia. “Macam tu boleh dilakukan sebelum 2×24 jam” ujar petugas Air Asia yang berada diterminal itu. Apa boleh buat sudah cepat2 datang ke LCCT, tak dapat nak berangkat bersama. Terpaksalah berangkat tengah hari seorang diri.

Tujuh jam lagi harus berada di LCCT , Apa yang harus kubuat. Pengalaman ber jam jam di Bandara bukanlah hal yang pertama kali kualami. Beberapakali dari Phnom Phen (Kamboja) naik Bus ke Bangkok, tiba di Bangkok hari telah pukul 11 malam , malam pada jam seperti itu sulit mendapatkan bus langsung ke Hadyai (perbatasan Malaysia – Thailand) , Nah , tempat yang aman untuk bermalam (tidur) bagi orang sepertiku ini adalah di Bandara Swarnabumi Bangkok, menunggu siang keesokan harinya.

Di Bandara negeri Gajah Putih itu banyak tersedia kursi yang dapat dipakai untuk meluruskan pinggang, kalau pun mau tiduran di lantai, tempat nya luas dan bersih . LCCT sungguh tidak sama dengan dan tidak mungkin bisa disamakan dengan Swarnabumi Bangkok misalnya, tetapi paling tidak tambahlah kursi di ruang tunggu itu. Belum lagi bau menyengit Toilet persis di depan ruang keberangkatan tidak dibersihkan. Saran untuk Air Asia jangan rajin jual makanan saja diatas pesawat.

Penumpang diLCCT dan Swarnabumi hampir sama membludaknya. Ratusan bahkan ribuan orang yang bernasib sama dengan ku, menunggu penerbangan berikutnya, bahkan ada yang sudah lebih dari 24 jam berada disitu , seperti mahasiswa dari Thailand yang hendak berangkat ke Indonesia misalnya.
Dan jangan harap ada air mineral free diruang tunggu bandara biaya murah itu, sebagaimana Bandara lain, toh bukan kah sama-sama terbang dengan Air Asia ?

“Pak kalau mau tiduran di ruang kedatangan, gak terganggu” ujar seorang lelaki paroh baya yang kukenal saat selonjoran kaki di Bandara yang baru saja di pogging dengan asap berbau melatin anti nyamuk demam berdarah. Bau asap membuat orang – orang yang berada di ruang tunggu pada bertempiaran kemana – mana. Hem beginilah nasib lapangan terbang biaya murah. Tak ada sedikitpun permintaan maaf hendak menyemprot asap yang membuat pusing kepala dipagi buta itu.

Tak sadar aku terlelap juga di bangku ruang kedatangan, terbangun saat sms masuk ke hpku, ternyata kawan- kawan sudah sampai di Ho Chi Min. “Mereka sudah makan dan sekarang sedang tiduran, papak sudah dimana?”. tulis Hasan pemuda asli Champa asal Provinsi Phan Rang Vietnam yang pernah belajar di Indonesia . “Saya sekarang tunggu papak di Lapangan Terbang” tulis nya lagi.

Sekitar Pukul 13.30 aku tiba di bandara Saigon, terlihat Hasan tersenyum menyambutku. Ada rasa haru bertemu lagi dengan Hasan , teringat ketika dia datang ke Batam belajar di Mahad Said bin Zahid beberapa tahun yang lalu, saat itu Hasan, sepatah pun tak dapat mengucapkan bahaya Indonesia, Syahadat pun dia tak bisa melapazkannya , apalagi huruf Hijaiyah.

Hasan adalah orang keturunan Champa yang mengaku beragama Islam. Di daerah Phan Rang Vietnam mereka menamakan Islam Bani, berbeda dengan Islam lainnya. Mereka, pengikut Bani tidak sembahyang dan tidak berpuasa , semua amalan itu diwakilkan kepada orang yang dipanggil tok Imam dan tok Hakim pemuka Agama Islam Bani .

Orang – orang Bani pun tidak di khitan, masjid mereka tersendiri. Jadi rencana kami adalah ke Provinsi Phan Rang , ke rumah dan ke kampong Hasan, Hasan sekarang sudah melaksanakan shalat 5 kali sehari semalam , banyak ayat2 pendek yang sudah dihafalnya , lumayan lancer bahasa Indonesianya.

Sementara kedua orang tua Hasan masih beragama Islam Bani, begitu juga seluruh keluarganya. (bersambung)

Cina Larang Puasa Bagi Pejabat Dan Siswa Muslim Uighur


Muslim Uighur di Tanah Suci....... tidak mudah bagi mereka bebas melaksanakan kewajiban agamanya.

Muslim Uighur di Tanah Suci……. tidak mudah bagi mereka bebas melaksanakan kewajiban agamanya. 

Pihak berwenang di wilayah barat laut Cina yang bergolak, Xinjiang, melarang pejabat dan siswa Muslim untuk berpuasa selama bulan Ramadhan. Seruan yang diposting di situs pemerintah itu meminta para pemimpin Partai Komunis untuk membatasi kegiatan agama Islam selama bulan suci, termasuk puasa dan mengunjungi masjid.

Sebuah pernyataan dari kota Zonglang di distrik Kashgar mengatakan bahwa “komite daerah telah mengeluarkan kebijakan komprehensif untuk menjaga stabilitas sosial selama bulan Ramadhan. Yaitu melarang kader Partai Komunis, pejabat sipil (termasuk mereka yang sudah pensiun) dan siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan selama Ramadhan.”

Pernyataan itu, diposting di situs web pemerintah Xinjiang, mendesak para pemimpin partai untuk membawa “hadiah” makanan untuk para pemimpin desa setempat untuk memastikan bahwa mereka makan selama bulan Ramadhan.

Perintah serupa untuk membatasi kegiatan Ramadhan juga diposting di website lain pemerintah daerah. Biro pendidikan di Wensu mendesak sekolah-sekolah untuk memastikan bahwa siswanya tidak masuk masjid selama bulan Ramadhan.

Kelompok hak asasi di pengasingan, World Uyghur Congress, memperingatkan kebijakan akan memaksa “orang-orang Uighur untuk menolak (kekuasaan Cina) lebih jauh.”

“Dengan melarang puasa pada bulan Ramadhan, Cina menggunakan metode administratif untuk memaksa orang Uighur untuk tak beribadah selama Ramadhan,” kata juru bicara kelompok, Dilshat Rexit, dalam sebuah pernyataan.

Xinjiang adalah rumah bagi sekitar sembilan juta orang Uighur yang berbahasa Turki dan mayoritas beragama Islam. Banyak yang menuduh pemerintah Cina melakukan penganiayaan agama dan politik atas etnis ini.

Wilayah ini beberapa kali diguncang oleh kekerasan etnis. Namun sejauh ini Cina membantah klaim bersikap represi dan bergantung pada puluhan ribu pejabat Uighur untuk membantu mengatur pemerintahan di Xinjiang.

Toko Online Fiktif


nirwanaelektronik.blogspot.com

nirwanaelektronik.blogspot.com

Assalammu’alaikum wr.wb

Nama saya windu utari
Saya ingin menceritakan kejadian yg terjadi sama saya,   yaitu di mulai pada tanggal 19 september 2011 pak,   pada waktu itu saya mau memesan HP BLACBERRY dengan tipe 8520 curve gemini dengan harga Rp.1.000.000,yaitu dari alamat situs  http://www.nirwanaelektronik.co.cc/
Pemerintah Provinsi Batam

Surat Izin Tempat Usaha Palsu mana ada Pemerintah Provinsi Batam

alamat tokonya Kompl. Lucky Plaza Blok G C2 Lt I Batam kepulauan Riau 29432 alamat itu saya melihat semua profilnya, dan tertera juga nomer HP: 085380833335,  di  alamat itu saya lihat untuk surat izin tempat usahanya juga ada,  makanya sedikitpun saya tidak ada curiga kalau perusahaan mereka ada niat untuk menipu ataupun membohongi saya.
Saya tergiur karena harganya murah pak.  Sebelumnya memang saya sama sekali belum pernah memesan barang secara online.
Jadi pada tanggal 19 september 2011,  saya mendapatkan sms dari bapak yang punya nomer 085380833335,  dia sms saya kemudian bertanya : “bagaimana, apakah jadi untuk memesan BLACKBERRY dengan tipe yang sudah anda sebutkan itu?”,  lantas saya balas jadi,  terus sayapun sms kembali, jadi untuk pengiriman uangnya bagaimana? . Dan bapak itupun membalas : ke nomer rekening : 022101022726503 atas nama SRI NIRWANA,  kemudian uangnya hari itu juga saya transfer senilai Rp.1.000.000,-.
Dan pada hari itu juga bapak itu nelpon saya dan dia bilang kalo barangnya yang di kirim itu ada empat buah yang di dalamnya ada BB TORCH 2 buah,  BB ONIX 1 buah dan BB yang saya pesan,  dan katanya harga barang yang dia kirim semuanya itu dengan total 7 juta rupiah, kemudian dia berkata lagi kalo saya harus mentransferkan uang jaminan, untuk barang mereka,  disitu sudah saya katakan kalau  itu bukan kesalahan dari saya, tapi bapak itu minta-minta tolong sama saya, untuk mentransferkan uang jaminan tersebut,  terus saya tanya berapa yng harus saya transfer?.
Terus dia bilang pertama setengahnya,  ya saya bilang lagi saya enggak bisa transfer dengan jumlah yang bapak bilang jadi kesepakatan kami pada hari itu yang saya transfer Rp.1500.000,- dengan alasan katanya nanti saya akan konfirmasikan lagi dengan pimpinan saya katanya dan dia bilang juga nanti sisanya saya yang nanggung untuk uang jaminan itu, pada saat itu sama sekali saya tidak ada menaruh rasa curiga terhadap dia.
bukti rekening yang dikirim ke toko nirwana elektronik fiktif

bukti rekening yang dikirim ke toko nirwana elektronik fiktif

Keesokan harinya (tgl 20 september 2011) dia nelpon saya lagi,  katanya dia sudah konfirmasikan dengan pimpinannya, dan dia bilang kalau uang yang saya kirim itu enggak cukup untuk dijadikan uang jaminan, jadi dia bilang paling tidak harus 50% dari yang 7 juta itu, terus dia bilang barangnya sudah sampai di Medan,  tapi mereka harus menahannya terlebih dahulu dikerenakan uang jaminan saya belum mencukupi, disitu saya uda pusing dan saya cuma mau barang saya nyampe sama saya, jadi saya tanpa curiga dan enggak berfikir panjang lagi terus saya bilang jadi harus berapa lagi yang harus saya transfer, terus dia bilang paling tdk Rp.2.300.000,- terus saya bilang ya sudah lah saya akan tranfer uangnya senilai Rp.2.500.000,- tapi barangnya hari ini  suda bisa nyampe sama saya kan pak?
Terus dia bilang iya hari ini juga akan nyampe barangnya, sore itu juga uang itu saya transfer ke dia. Dan dengan perjanjian dia sebelumnya uang jaminan itu akan kembali lagi sama saya semuanya setelah barang yang dikirimnya itu saya terima kemudian saya paketkan dan saya kembalikan lagi ke dia kecuali barang yang saya pesan,  ya saya percaya aja sama dia jadinya.
Ehhhhh, besoknya (tgl 21 September 2011) dia nelpon lagi,  dia bilang uang itu belum cukup juga katanya setelah dia konfirmasi sama pimpinannya,  malah dia dia bilang uang jaminan itu harus semuanya saya tebus yang senilai 7 juta itu, ya saya enggak mau pertamanya, dengan segala bujuk rayu dia dan saya juga masih belum sadar kalau itu suda modus penipuan,  ya saya transfer lagi uangnya sebesar Rp.1.000.000,-dia bilang kalo bisa transfernya sebelum jam 1 siang karena barangnya nyampenya jam 1 siang,  saya percaya-percaya saja sama dia, terus saya sms sama dia dan saya bilang kalo uangnya sudah saya transfer,lantas bagaimana dengan barang dan uang saya,saya bilang gitu,  dia bilang smskan nomer rekening saya. Terus  sudah saya sms ke dia, kemudian saya tanya lagi.  Lantas bagaimana saya bisa mengetahui kalau uang uang jaminan saya sudah masuk ke rekening saya atau belum?.
Terus diabilang saya di suruh ke mesin ATM, katanya biar di transferkan dia secara online katanya, ya saya ngikut aja dan pergi ke ATM,  nah disitu saya nelpon dia lagi terus saya bilang kalau  saya udah di ATM, terus dia memberikan arahan kepada saya,  dengan kode yang sangat rumit, terus dia nyuruh mencet angka-angkanya dengan nada tinggi sehingga saya jadi panik, terus dia malah nyuru saya untuk mencet pemindahbukuan terlebih dahulu biar uangnya disatukan katanya, ehhhhh malah tabungan saya ludes jadinya,,,,,,,,habis lah uang yang ada di tabungan saya,  jadinya tinggal Rp100.000 perak pak,  kemudian saya marah2 sama dia,  ehhhhhhh dia malah mati’in telfon saya, dan saya nelpon dia gk diangkatnya sampai  sekarang, dari situ saya baru sadar kalau  saya udah di tipu sama dia.
Disini saya mau minta tolong kepada pihak Yayayasaan Lembaga Konsumen Muslim Batam ,  kalaupun uang saya gk balik tapa tolong di peringati orang yang sudah menipu saya itu, biar jangan bertambah korbannya pak…….
Karena dia orangnya selalu mengatasnamakan dan membawa2 nama ALLAH untuk membuat orang percaya sama dia……….
Hanya itu saja yang dapat saya tuliskan, saya juga uda bingung sekarang mau bagaimana lagi pak, lebih dan kurangnya saya minta ma’af dan saya juga minta tolong agar Bapak dapat memberikan bantuan terhadap saya untuk masalah ini
Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih karena Bapak sudah mau mendengarkan dan membaca keluhan saya
Wassalammu’alaikum wr.wb…….

Benyamin Ketang dan Unggun Dahana


Dua nama tersebut diatas sedang menjadi pembicaraan pekan ini, maklum keduanya berencana melaksanakan HUT kemerdekaan Israel di Indonesia. Entah terlaksana entah tidak kita tunggu saja.

benyamin ketang

benyamin ketang

Menurut Artawijaya, seorang pengkaji Yahudi di Indonesia, Benjamin Ketang adalah kader muda NU binaan Gus Dur yang berhasil menyelesaikan studi masternya di Hebrew University, Jerussalem.

Benjamin Ketang yang bernama asli Nur Hamid adalah kader muda NU yang diplot untuk membangun sebuah jejaring politik dan bisnis Yahudi di Indonesia. IIPAC yang diketuai Ketang beraliansi ke AIPAC dan Australia Jewish Comitte

unggun dahana

unggun dahana

Nama Unggun Dahana belakangan ini mencuat ke media menyusul gagasannya soal komunitas Yahudi yang ingin merayakan HUT Israel di Jakarta esok hari.

Gagasannya tersebut selanjutnya membuat Unggun dikaitkan sebagai sosok dari Badan Intelejen Israel (Mossad) yang disusupi ke Indonesia. Menanggapi hal itu Unggun malah berbalik bertanya. “Mosaad dari mana?” tanyanya ketika wartawan menanyakan hal tersebut, Jumat (13/5/2011).

Selanjutnya Unggun mengaku jika dirinya beragama Kristen dan sebagai penggemar negara Israel. Alasan tersebut yang kemudian membuat dia ingin merayakan HUT Israel.

Tidak hanya itu saja, Unggun juga akan mengibarkan bendera Israel, walaupun Mabes Polri akan melarang pengibaran bendera Israel tersebut.

Ada ada saja….

Papan Reklame Hari Kiamat di Batam


Kalau yang ini papan reklame hari kiamat tanggal 21 mei 2011 yang bertebaran terpasang di Batam

Kalau yang ini papan reklame hari kiamat tanggal 21 mei 2011 yang bertebaran terpasang di Batam

Wahai orang Batam bersiap-siaplah karena pekan depan,  Sabtu 21 Mei 2011 akan kiamat. Papan Reklame berbunyi seperti itu banyak terpasang  di Sepanjang Jalan di Batam.

Di Dubai dan Yordania, papan reklame jenis ini disingkirkan oleh otoritas setempat.

Di Palestina, papan reklame tersebut terpasang di pintu masuk kota Nablus, Bir Zeit, Tepi Barat dengan isi tulisan dalam bahasa Arab yang menyatakan: “Hari kiamat tanggal 21 Mei … Injil menjamin itu!”, serta tertulis juga alamat situs Familyradio.com sebagai pihak yang bertanggung jawab akan papan reklame tersebut.

Seorang bloger Palestina bernama Munir Al-Jaghub menuntut pihak berwenang untuk mencopot semua papan reklame “hari kiamat” tersebut. Bloger Palestina itu menegaskan bahwa pernyataan dalam papan reklame milik organisasi kristen itu sangat bertentangan dengan keyakinan umat Islam serta merugikan perasaan umat Islam, dan mengatakan bahwa dirinya telah meminta tanggapan dari teman-teman kristennya tentang hal ini, dan teman-temannya dengan tegas menyatakan bahwa papan reklame itu sebagai sebuah “omong kosong”.

Menurut mereka hanya Allah saja lah yang tahu kapan kiamat akan datang.

Familyradio.com sendiri merupakan sebuah situs stasiun radio “misionaris” yang berbasis di Ohio, Amerika Serikat. Di Batam, Familyradio.com dapat di dengar melalui 107 FM . 

Kelompok Gereja

papan reklame kiamat tanggal 21 mei 2011 yang terpasang di Palestina

papan reklame kiamat tanggal 21 mei 2011 yang terpasang di Palestina

Adalah Marie Exley, veteran Angkatan Darat AS yang gencar mengkampanyekan peringatan kiamat ini. Exley adalah anggota gereja independen AS yang berkotbah melalui siaran radio dan Internet. Kelompok gereja ini mengklaim mendasarkan ramalannya pada Alkitab.

Mereka gencar menyebarkan pesan kiamat melalui papan reklame, bangku-bangku di halte bus, karavan, dan mengerahkan sukarelawan menyebarkan pamflet-pamflet di berbagai sudut kota, dari Bridgeport hingga Little Rock, Arkansas. Untuk menyebarkan pesan itu di luar AS, mereka bahkan punya kelompok sukarelawan yang akan berkeliling Afrika dan Amerika Latin.

“Banyak orang mungkin berpikir: kiamat akan datang, ayo berpesta. Tapi kami diperintahkan Tuhan untuk memberi peringatan,” kata Exley. “Aku bisa saja seperti orang lain, tapi akan lebih baik tahu ketika kiamat tiba, Anda tahu, Anda akan selamat.”

Pada bulan Agustus, Exley meninggalkan rumahnya di Colorado Springs, untuk bekerja di sebuah radio komunitas di Oakland, California. Radio tersebut adalah radio pelayanan Kristen yang dipimpin Harold Camping– orang yang paling bertanggung jawab atas ramalan akhir zaman versi ini.

“Jika Anda masih ingin mengatakan kami gila, silakan. Tapi tidak ada salahnya untuk melihat pesan ini,” kata Exley. Harold Camping (89) yakin Alkitab pada dasarnya memiliki fungsi sebagai kalender kosmik yang menjelaskan dengan pasti hal-hal yang bisa diramalkan. Pensiunan insinyur itu mengklaim kalkulasinya didasarkan pada Alkitab.

Berbagai peristiwa eksternal, seperti berdirinya negara Israel pada 1948, menurutnya adalah tanda-tanda yang mengkonfirmasikan akurasi kalkulasinya. “Tanpa keraguan, aku berpendapat 21 Mei adalah hari pengangkatan dan penghakiman,” kata dia. Camping percaya, di bulan Oktober 2011, orang-orang yang beriman akan dibawa ke surga dan para pendosa tetap berada di Bumi untuk menerima siksa.  Bagaimana jika 21 Mei berlalu tanpa ada apapun?  “Kalau 21 Mei berlalu dan aku masih di sini, berarti aku tak diselamatkan. Apakah itu berarti firman Tuhan tak akurat? Tidak sama sekali,” dia berkilah.

Prediksi Camping tak diamini banyak gereja lainnya. Kata mereka, tak seorangpun yang bisa memastikan hari atau jam semesta akan berakhir.Ramalan ala Camping bukan hal baru. Seorang pemimpin kelompok Baptis, William Miller pernah meramalkan dunia berakhir 22 Oktober 1844 silam, namun toh matahari masih bersinar terang sampai hari ini.

Kita tunggu pekan depan, berapa banyak orang yang akan diselamatkan. Sebagaimana pesan pada papan reklame itu yang mengklaim tanggal 21 Mei akan menjadi hari penghakiman sesuai menurut ‘nubuat’ dari Injil. 

Rumah Singgah Anak Jalanan


anak penjual koran

anak penjual koran

“Datanglah pukul satu , selepas Juhur” ujar Imran AZ kepadaku melalui henponnya. Imran AZ adalah Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) kota Batam. Apa gerangan yang membuat runsing pria 60 an tahun ini?.

Sebagai Ketua LAM, Imran AZ yang lahir dan di besarkan di Belakang Padang ini, ditabalkan dan diberi gelar Datuk. Beliau kukenal  lebih dari 30 tahun, sama-sama “mencari makan” di Pertamina. Jadi paling tidak sedikit sebanyak, mengertilah aku akan nada bicaranya, mestilah ada yang perlu dibincangkan.

Aku pun acap  berkeluh kesah kepadanya, terutama soal Marwah Melayu,  dan kurasa pantaslah kalau keluh kesah itu disampaikan kepadanya, apalagi kini, karena bang Imran demikian aku memanggilnya, sedang menjabat sebagai yang dikedepankan selangkah, ditinggikan seranting  di bumi segantang lada ini.

“Adakan mereka nak minta SKB dua menteri” kataku mengadu kepada beliau, suatu waktu dulu, saat itu kami hendak mendirikan mushala kecil di Pulau Kubung.  Karena disitu telah berdiri terlebih dahulu sebuah rumah ibadah agama lain.

Penduduk yang mendiami pulau itu kini minoritas muslim, dari puluhan KK yang ada disitu hanya tinggal 7 KK lagi yang ber agama Islam.  Dan banyak lagi hal-hal lain yang menyangkut soal ke masyarakatan , sering kami bincangkan.

Mungkin agaknya karena itulah, Bang Imran mengajakku berembuk tengah hari itu. Dan benar belaka,  topik yang  kami bahas,  tak jauh-jauh juga dari penyakit masyarakat, yang kini sedang marak di Batam.

Anak Jalanan   

Jadilah tengah hari itu kami bertemu di lantai 3 kantor Walikota Batam. Kulihat  disitu hadir, Ibu Nurmadiah, dari pemberdayaan perempuan, pak Syahrir  dari dinas sosial,  ada juga pak Munir dari Kepolisian, pak Zulhendri Satpol PP, dan beberapa orang lainnya.

“Saya kurang  setuju dengan istilah anak jalanan” cetus ibu Nurmadiah ” Mereka adalah anak-anak yang butuh perhatian” jelasnya lagi.  Meskipun Anak – anak butuh perhatian ini , sering membuat onar dan menggangu ketertiban umum. Mengamen dan sex bebas hal biasa bagi mereka.

Kami dari pihak Kepolisian pun serba salah, “Melarang anak-anak di usia sekolah dan jam sekolah menjual koran, kita malah diberitakan oleh pihak pemilik Media”  kata pak Munir menimpali. “Bahkan bukan hanya dari pihak Media saja, banyak pihak sekarang yang mengatasnamakan HAM, kalau anak-anak yang di eksploitasi itu “diamankan” tambahnya lagi.

“Kami pun sudah berbuat ada pusat rehabilitasi, tahun 2010 ada 300 orang yg sudah dibina, tahun ini hanya sekitar 30 orang saja ” kata pak Syahrir pula. Tahun 2011 ini anggaran yang disetujui hanya sebanyak itu saja. Lagian tempat pusat rehabiltasi itu jauh dari pusat kota, di Nongsa sana. Anak-anak Punky yang kini membuat club bernama The Lengket itu tak betah jauh dari pusat keramaian.

Rumah Singgah  

Apa yang telah dibuat tak menambah surut keberadaan anak-anak bermasaalah ini, meskipun telah ada Perda dibuat, pengemis dan gelandangan masih tetap bergentayangan .

Menurut informasi ada sebuah rumah singgah, yang menampung anak jalanan ini. Rumah Singgah  yang satu ini terletak di pusat keramaiaan, tak jauh dari Hotel Planet Holiday, kesitulah sebagian anak-anak butuh perhatian itu, benar-benar singgah. Hampir semua anak2 itu beragama Islam. Rumah singgah itu pula di kelola oleh non Muslim. Konon kabarnya, disitu diajarkan juga tentang agama, tentu saja sesuai agama yang dianut oleh si pengelola rumah singga tersebut.

Agak  miris  rasanya mendengar pemaparan tentang konsep rumah singgah ini,  jadi teringat soal populasi umat Islam di Batam, kalau data ini memang valid. Yaitu, tahun 1985 umat Islam di Batam sekitar 93,8 % dan tahun 2010  tinggal 72 % saja lagi.

Di Pulau – Pulau sekitaran Batam ataupun pinggiran Batam banyak berdiri sejenis Rumah Singgah ini, ada yang mereka beri nama  Pondok .

Penduduk yang dulunya Nomaden itu,  kini bermukim dan dimukimkan di perkampungan perkampungan yang hingga kini belum teraliri listrik itu, gencar didatangi tamu-tamu dari luar Batam.  Tak susah menarik mereka simpati kepada si pembawa “warta”  dengan bahasa yang sederhana dan logika.

Seperti ini misalnya,  “Anda cukup sekali saja dalam satu minggu sembahyang, di jamin masuk surga, dari pada 5 kali sehari semalam, belum tentu masuk surga, pilih mana?” .  Bisa – bisa yang lima kali malah masuk neraka wil , Fawailullil mushalin 

Tentu saja pilihan jatuh kepada yang sekali sepekan, apalagi waktunya bisa diatur sendiri, mau pukul delapan atau pukul 10 pagi, atau agak sorean dikit,  tidak harus pagi pagi buta, dikala ayam mulai berkokok,  lagi  enak2an tidur. Bukankah yang bangun pagi pagi itu adalah pembantu rumah tangga.?

Itulah yang terus dicekokin kepada mereka yang masih awam dalam beragama dan sungguh-sungguh  masih lemah dalam aqidah.

Siapa gerangan yang bisa mengkaounter perang pemikiran seperti itu?, mengatakan kepada penduduk yang sekarang sudah menetap dan tak nomaden itu lagi,  bahwa 5 kali sehari semalam saja belum di jamin apalagi sekali sepekan. Siapa pula yang menjelaskan bahwa Tuhan itu Allah , tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Agaknya siapa yang bersedia dan berlapang waktu, memberitahukan kepada mereka bahwa Allah itu satu, Ahad,  sejak awal, sejak manusia pertama diciptakan – Adam as – hinggalah kini dan akhir zaman,  tidak dua, apalagi  tiga.

Tak tahulah,  apakah rumah singgah yang kami usulkan itu, rumah singgah untuk menampung anak2 butuh perhatian, terutama perhatian masaalah aqidah sebagaimana yang di runsingkan Datuk Imran AZ,  dapat diwujudkan. Wallahu a’lam .

Shalat Tetapi Nampak Aurat, Batalkah ?


Suatu waktu terlihat dua orang lelaki muda masuk ke dalam masjid, saat itu hari Jumat. Sudah dapat dipastikan bahwa mereka mestilah hendak shalat Jumat. Keduanya memakai celana jin dan berbaju kaos . Kedua pemuda itu berjanggut dan berjambang, seperti nya dari keturunan India, dan memang mereka adalah warga Singapura. Pemandangan seperti itu – bercelana jin dan berbaju kaos – adalah hal yang biasa terlihat kini di dalam masjid .

Ribuan orang yang memadati ruangan utama Masjid Raya Batam, kalau kita perhatikan hanya beberapa orang saja yang hendak shalat Jumat di Masjid kebanggaan masyarakat Batam ini yang menggunakan sarung/plekat. Tak sampai agaknya sepuluh orang.

Jamaah lelaki itu ada yang memang berbaju Gamis, banyak juga berbaju melayu lengkap dengan kainnya. Yang berbaju batik pun tak terkira jumlahnya. Para pekerja dan karyawan industri pun banyak terlihat memakai seragam kerja, terlihat dari atribut yang dipakainya .

Pak Polisi, pak Jaksa, pegawai Bea Cukai pun ada yang memakai seragam dinas nya. Ada pula sebahagain dari anggota polri itu memakai celana coklat dan berbaju kaos saja. Semua pakaian yang dipakai jamaah lelaki shalat Jumat itu terlihat menutup aurat. Karena batas aurat lelaki adalah antara lutut dengan pinggang/pusat.

Tetapi cobalah perhatikan saat mereka yang hanya memakai celana jin dan berbaju kaos itu shalat tahyatul masjid misalnya. Sewaktu rukuk dan sujud , kaos/baju yang dipakainya tersingkap, karena pendek agaknya, nyaris belahan punggungnya terlihat.

Tak tahu lah apakah mereka sadar atau tidak, bagian yang terlihat itu bukan kah sudah termasuk aurat ? . Nah apa jadinya bila kita shalat terdedah aurat?.

Entah mengapa pula, disain baju yang dipakai para pekerja industri, yang ada di Batam ini pula, panjangnya hanya sebatas pinggang saja.

 

Shamin dan Saufi pemuda asal Singapura di Masjid Raya Batam mereka pun suka pakai Jeans dan kaos saat shalat kaos dimasukkan ke dalam Jeans sehingga sewaktu rukuk dan sujud belahan punggung tidak terlihat.

Shamin dan Saufi pemuda asal Singapura di Masjid Raya Batam mereka pun suka pakai Jeans dan kaos saat shalat kaos dimasukkan ke dalam Jeans sehingga sewaktu rukuk dan sujud belahan punggung tidak terlihat.

Selesai shalat kedua pemuda Singapura tadi aku temui, menanyakan hal pakaian yang di pakainya. Mereka menyadari hal itu. Tetapi sebelum shalat baju kaos yang dipakainya telah dimasukkan terlebih dahulu ke dalam celana.  “ Di tempat kami banyak yang pakai macam gini, tetapi sebelum shalat dah dimasukkan kedalam macam ni” ujar mereka sembari menunjukan pinggang seluarnya, dan memperagakan rukuk, ternyata kaos yang dipakai nya tidak tertarik keatas.

Sayang nya yang kita lihat, tidak semua melakukan hal yang dibuat kedua pemuda itu, mereka cenderung membiarkan pinggang celana tertarik kebawah dan ujung baju kaos tertarik keatas, sehingga tampak lah belahan pantat, apalagi postur tubuh agak gemuk .

 

Ahmadiyah Batam


Tengah hari tadi selepas shalat jumat (4/3) dari masjid Raya Batam, sengaja kami mampir ke masjid Ahmadiyah di Batam. Meskipun namanya mushala,  ditempat itu dilaksanakan  shalat jumat bagi komunitas anggota Ahmadiyah  yang ada di Batam. Mushala yang bernama Baitul Zikkir itu terdiri dari bangunan ruko dua lantai terletak di seputaran Nagoya dekat tanah longsor dan disekilingnya banyak bengkel mobil dan speda motor. Jadi yang menunjukkan kalau itu mushala hanyalah papan nama yang bertuliskan warna hijau, dan terlihat sudah buram.

Masih banyak sepeda motor terparkir diluar ruko itu saat kami tiba, pintu ruko itu terbuka semuat orang lalu. Dari luar terlihat gelap, dua orang wanita terlihat keluar membawa anaknya. Beberapa orang lelaki pula  keluar melihat kedatangan kami. Ada yang memang sudah siap hendak pulang agaknya karena shalat jumat sudah selesai, dan  ada helm diatas kepalanya.

Jangan Panggil Ustadz Panggil Mubalig

Melihat kami datang lelaki tersebut tak jadi pulang  dan ikut nimbrung di dalam ruangan ukuran 5 x 4 meter. Di pojok ada sofa muat untuk 5 orang . Tak ada prabot lain di dalam ruangan itu. Hanya rak untuk meletak helm yang bisa diduduki juga.  Ada tiga gambar tergantung di dinding sebelah kiri, dua gambar orang bersorban dan berjanggut , tak jelas gambar siapa, dan satu lagi adalah gambar Amien Rais yang sedang bersalaman. Gambar Amien Rais ini pernah kulihat saat Ahmadiyah mengadakan pameran buku beberapa tahun yang lalu di Batam. Kalau tak salah ingat saat itu Amien Rais menjabat sebagai Ketua MPR RI.

Nasrul yang menerima kami berbincang bincang di ruang tengah itu. Untuk menghormatinya Nasrun kupanggil ustadz , tetapi seorang jamaah yang juga hadir di tempat itu langsung menyela. “Jangan panggil ustadz, panggilan di jamaah kami adalah mubalig”  kata lelaki yang tetap berdiri karena memang tak ada kursi lain selain sofa yang kami duduki dan rak tempat helm tadi.

Imam Mahdi

Nasrul usianya sekitar 30 tahunan. Dia yang kini menjadi mubalig Ahmadiyah di Batam. Sebelum  Nasrun yang menjadi mubalig di Batam adalah Barus pria asal Medan, sementara Nasrun berasal dari Tembilahan.  Nasrun baru sekitar 10 tahun menjadi jamaat Ahmadiyah, isterinya orang Bogor. Dulu katanya dia paling benci dengan Ahmadiyah, tetapi setelah membaca buku tentang Mirza Gulam Ahmad, pikirannya menjadi berubah. “Kalau mau tahu apa yang sebenarnya haruslah kita masuk kedalamnya.” kata Nasrun tentang pengalamannya ber-Ahmadiyah.

Sama dengan penjelasan Pimpinan mereka di Jakarta dan disiarkan oleh TV Nasional,  Mirza Gulam Ahmad adalah Imam Mahdi yang memang sudah pernah di perbincangkan dan disebut-sebut pada zaman Rasulullah SAW. yang nantinya akan datang ke muka bumi ini, warga Ahmadiyah menganggap dan percaya Imam Mahdi itu adalah Mirza.

Nasrun tak jelas menjawabnya saat kutanya apakah akan ada lagi Imam Mahdi Imam Mahdi yang lain, karena  tugas Imam itu belum selesai antara lain untuk mematahkan salib dan membunuh babi. Nasrun pun mengerti bahwa yang dimaksud dengan mematahkan salib dan membunuh babi bukan lah dengan tangan langsung Imam Mahdi.

Syahadat yang Sama?

Menurut Nasrun jumlah jamaat Ahmadiyah di Batam sekitar 70 orang, sudah termasuk bayi dan anak-anak. Dia tak menjelaskan berapa KK semuanya. Tetapi semua kegiatan Ahmadiyah di pusatkan di ruko itu. Di ruko itu juga Nasrun tinggal, ruko yang terdiri dua lantai dan dua pintu itu dulunya adalah toko buku, kini toko buku itu sudah tutup, disebelah nya pun kini sudah disewakan. ” Ruko sebelah jual kacamata” kata Nasrun kepada kami

Kami disuguhi minuman teh botol, tak terasa lebih satu jam kami berbincang bincang dengan Nasrun, Nasrun pun menjelaskan kepada kami dimana letak kesesatan Ahmadiyah. Kata Nasrun Syahadat kami sama. Tetapi saat ku tanya yang dimaksud dengan Muhammad dalam syahadat yang mereka ucapkan  itu apakah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutalib, yang lahir di Makkah atau Muhammad yang lain. Nasrun menjawabnya dengan kisah sahabat dan Nabi SAW.

Ada Jamaah Ahmadiyah yang pergi Haji ke Makkah

Yang menarik dari bincang bincang kami siang tadi ternyata ada juga jamaat Ahmadiyah yang menunaikan ibadah Haji ke Makkah. “Dari Tanjung Balai Karimun dan dari Tanjung Pinang, dari Batam belum ada” jelas Nasrun sembari menjelaskan bahwa kepergian ke Makkah itu beberapa tahun yang lalu sebelum ramai ramai seperti sekarang ini. Mereka bisa diberangkatkan karena petugas haji tidak pernah menanyakan apa kah mereka Ahmadiyah atau bukan.

Nasrun pun punya niat hendak ke Makkah, kalau memang tidak diperkenankan oleh kerjaan Saudi Arabia,  Nasrun menganggapnya seperti sewaktu Rasulullah SAW mau masuk ke Makkah dahulu tidak diperkenankan oleh  kafir Qurais. Menurutnya lagi ada tiga syarat hendak menunaikan ibadah haji, salah satunya keamanan. Jadi sekarang kondisinya belum aman.

Dan masaalah keamanan mereka di Batam karena di beberapa daerah seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, Banten gubernurnya sudah melarang kegiatan Ahmadiyah, Nasrun mengatakan kami serahkan saja ke kepolisian.

Mereka tenang tenang saja, karena ini menyangkut masalah rohani dan pemahaman kata Nasrun.

Mushala Kecil di Kampung Tua Setengar


Adalah pak Pinci dari kampung Tia Wangkang yang memberitahukan kepada kami bahwa ada kampung yang nama nya Setengar. Dan di Setengar itu ada tinggal kerabat pak Pinci masih dari Suku Laut yang muslim, namanya pak Abu. Hanya pak Abu keluarga muslim yang masih bertahan di kampung itu. Seorang putri pak Abu menikah dengan Sunoto asal Rembang Jawa Tengah dan tinggal di kampung itu juga tetapi agak ke darat, tidak di pinggir pantai, seorang lagi putri pak Abu menikah dengan orang Air Raja.

Keluarga pak Abu mewakafkan sebidang tanah untuk didirikan mushala, persis diatas bukit yang berada di tanjung kampung itu kini berdiri mushala kecil. Sunoto dan 2 orang temannya yang menjadi tukang nya. Bukan main senang nya hati Sunoto dengan keberadaan mushala itu. Karena sudah ratusan tahun keberadaan kampung tua Setengar, baru lah kini ada mushala di situ.

mushala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

ala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

“Datanglah pak kalau bisa, besok kami akan menaikkan kubah” pinta Sunoto kepadaku melalui HP nya. “Kami pun mengundang juga yang non muslim, karena memang masih saudara” tambah Sunoto lagi.   Terenyuh hatiku mendengar nya karena saat itu aku tak bisa memenuhi undangan mas Sunoto begitu aku memanggilnya,  karena  pada saat yang sama aku ada urusan dengan  Polsek Bengkong. Mudah mudahan mas Sunoto dapat memaaklumiku.

Selama ini bila ke Setengar aku selalu melalui kampung Tia Wangkang diantar oleh pak Pinci dengan speed boat. Membelah Selat antara Pulau Batam dengan Pulau Tonton lalu persis dibawah jembatan I Barelang (Raja Haji Fisabillah), terasa tinggi sekali jembatan ini saat kita dibawahnya, kagum kepada pembuaat nya. Terus speed boat melaju  menuju arah ke Tanjung Piayu Laut, terlihat kecil pula jembatan II (Nara Singa) dari jauh, berkelok ke kiri memasuki selat yang berputar putar arusnya disitulah terletak kampung Tua Setengar.

Dan memanglah secara administrasi kampung Tua yang hanya dihuni beberapa kepala keluarga ini RT nya di jabat oleh pak Anton orang kampung Tia Wangkang. Kampung Tia Wangkang pula  masuk keluarahan Tembesi kecamatan Sagulung. “Itu sudah sejak dahulu pak” jelas Sunoto.

Sekali pernah kucoba jalan melalui darat, karena menurut informasi dari Sunoto untuk ke kampung tua itu bisa melalui darat. Berdua dengan Aries Kurniawan kami jelajahi jalan-jalan tak beraspal mulai dari Kantor Kelurahan Pancur Tanjung Piayu.

Sepanjang hutan yang kami lalui ternyata adalah hutan tempat latihan Militer Tuah Sakti. Puluhan kilometer tanah berbauksit dan berlubang lubang terkadang becek dan harus extra hati hati. Di kiri kanan jalan itu banyak  kebun sayur, ada yang sedang panen semangka. Dan juga puluhan kandang ayam (peternakan) yang menyebarkan aroma  spesial.

RUSH  kami terhenti di puncak bukit terjal, tak dapat melanjutkan perjalanan lagi karena memang tak ada fasilitas jalan untuk roda empat.  Kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Menyusuri pinggiran hutan mangrove naik turun beberapa gundukan bukit yang cukup menguras tenaga. Kami memotong jalan agar lebih dekat  di pandu oleh Sunoto.

“Kalau jalan dari sana , lebih jauh lagi pak” kata Sunoto sembari menunjukkan bangunan tugu tanda bahwa kampung Setengar adalah kampung tua. Bangunan tugu tanda kampung tua itu adalah proyek pemko Batam sedang dibangun oleh beberapa orang pekerja.

Jarang berjalan jauh nafas ngos-ngosan juga, sampai di pinggir pantai, sebuah sampan kecil yang hanya dapat dimuat empat orang  menunggu kami. Dengan sampan itulah kami berkayuh  menuju ujung tanjung tempat mushala itu berdiri.

Sebenarnya merentas hutan perdu untuk mencapai lokasi mushala yang saat itu sedang dibangun, dapat juga di lalui dengan jalan setapak, tidak harus bersampan.  Tetapi sebelum kelokasi ada puluhan kuburan terdapat disitu. Mungkin Sunoto segan membawa kami melalui kuburan itu.

Tetapi pada kesempatan lain nya saat aku mengunjungi kampung Setengar sengaja kulalui kuburan di Kampung itu. terlihat beberapa puluh batu nisan tua yang menandakan kalau itu adalah kuburan muslim.

“Itulah pak kalau mushala ini sudah siap, diharapkan orang kampung kembali ke mari” harap Sunoto.  Di samping mushala itu pun kini  sedang kami bangun sebuah rumah kecil untuk Dai yang nantinya akan tinggal disana.

“Dan kami pun mengharapkan disini ada RT sendiri. Warga tidak harus ke Tia Wangkang lagi”. Harap Sunoto

Kalau kita simak secara kedekataan kampung Setengar sebaiknya memang masuk kedalam wilayah Kelurahan Pancur. “Hal ini sudah pernah kami sampaikan kepada pak Rinaldy” kata Sunoto lagi.   Pak Rinaldy yang dimaksud Sunoto itu adalah pak Lurah Pancur.

Sunoto bercerita terus tak terasa kami sudah sampai di rumah pak Daniel, Pak Daniel ini adalah Orang Tua pak Pinci tetapi berlainan agama, usia nya sekitar 70 an tahun, pak Pinci beragama Islam.  Untuk menaiki speed boat harus melalui rumah pak Daniel karena air sudah surut.

Anjing penjaga kerambah toke dari Batam menyalak beramai-ramai melihat kami melalui kerambah kerambah apung yang banyak terpasang di alur laut Selat Setengar itu. Kerambah itu harus di lalui karena persis di depan rumah pak Daniel.

Sambil melambaikan tangan. Aku berharap mudah-mudahan harapan Sunoto terkabul.

Balada Anak Pulau : Nelayan di Angin Utara


naik bot mengantar ustadz.....

naik bot mengantar ustadz.....

Selat Desa

“Sekarang ni pun  dah tak ada lagi persedian” kata Nadi kepada kami saat berkunjung ke Selat Desa. Selat Desa adalah sebuah perkampungan Nelayan yang tak jauh dari Pulau Batam. Ombak di perairan Selat Desa, Pulau Kubung, Pulau Todak , Pulau Seribu  dan pulau pulau sekitarannya cukup besar, mencapai   3 meter.

Tak banyak Nelayan Suku laut yang tinggal di Selat Desa hanya beberapa keluarga saja, salah seorang nya adalah Nadi, Nadi adalah menantu Mak Dayang. Di Selat Desa kami bangun sebuah mushala kecil,  mushala itu  terletak persis di pinggir pantai, di mushala itu lah kami berbincang sembari terlihat air laut mulai pasang naik.

“Kalau sudah seperti sekarang ini (angin utara) susah nak melaut” timpal Nadi lagi.   Tak tahu apa yang akan di kerjakan, kemarin petang (25/01) dua orang wanita anak beranak meninggal dunia akibat amukan ombak. Sudahlah ombak besar di timpali pula gelombang dari ferry Tanjung Pinang – Batam yang melintas  di perairan itu.

Di mushala itu kini bermukim ustadz Hadi dari Medan, jadi salah satu tujuan kami datang ke Selat Desa itu adalah mengantar ustadz Hadi, ustadz Hadi akan mengajar agama Islam kepada Suku Laut Muslim disitu.

Kami tinggalkan ustadz Hadi dan Nadi karena hari sudah mulai petang, dengan bot pancung pak Awang Belanda mesinnya  Yahama 40 PK  kami tempuh ombak yang cukup tinggi.

Mendekati perairan pulau Kubung terlihat Pulau Todak , terbayang bagaimana Una (55) dan Mina (19) meregang nyawa di hantam ombak  tinggi dan hujan deras. Dan terbayang pula bagaimana perjuangan  anak perempuannya yang seorang lagi tetap mempertahan kan jasad ibu dan adik nya agar tidak hanyut dan tenggelam ke dalam laut. Hemmmm. aku menarik napas panjang, “mereka masih saudara kami” kata Poni dari Pulau Air Mas.

Pulau Lingka

Di Pulau Lingka Sagulung Batam,  ada ustadz Masri asal Nias Gunung Sitoli kini bermukim. Ustadz Masri ini pun adalah Dai yang di tempatkan oleh AMCF.  Di Pulau Lingka yang terletak bagian Barat Batam ini tak banyak keluarga Suku Laut yang muslim, disana  hanya ada sekitar 5 keluarga saja.  Di Pulau Lingka kami bangun sebuah mushala kecil seperti di  Selat Desa Ngenang. Di seberang pulau Lingka terdapat pulau Bertam, terdapat sebuah masjid di pulau Bertam, penduduknya terdiri dari Suku Laut , lebih 50 % beragama Islam.

Tak jauh dari mushala yang kami namakan mushala TAQWA itu  ada sebuah  gubuk kecil ukuran 3 x 4 meter , disitulah ustadz Masri tinggal. Persis di depan Pulau Lingka terletak Pulau Gara, di Pulau Gara pula  seluruh Suku Laut yang menetap disana adalah muslim.

Kehidupan nelayan disitu pun tak jauh berbeda dengan di Selat Desa, malah boleh dikatakan lebih parah lagi. Akibat ratusan galangan kapal yang memanjang sepanjang garis pantai  Pulau Batam dan Pulau Pulau disekitarnya, air laut tak memungkin lagi menjadi tempat ikan berkembang biak. Kapal ribuan ton dibina,  berlabuh dan diperbaiki tak terhitung berapa banyak jumlahnya.

Kalau dulu pemuda nelayan disitu menyelam menangkap ketam dan unduk unduk (kuda laut), kini mereka beralih profesi menjadi penyelam besi bekas potongan pembuatan kapal. Celakanya besi scrap itu ternyata menjadi masaalah. Terkadang mereka berhadapan dengan moncong senjata dari aparat yang menjaga area.

Kemarin pula  saat kami mengantar  ustadz Masri, 4 orang pemuda Pulau Gara tertuduh mengambil potongan  besi yang sudah “tercampak”  ke dalam laut. Kini mereka di dalam “pengawasan” kepolisian.

pelantar pulau kubung depan, di depan terlihat pulau todak.....

pelantar pulau kubung , di depan terlihat pulau todak...

Pulau Teluk Nipah

Paulau Teluk Nipah terletak sekitar 4 mil dari Kampung Baru Pulau Galang Baru, untuk mencapai Pulau Galang Baru harus melalui jembatan 6 (enam) terlebih dahulu, tak jauh dari Pulau Teluk Nipah itu terletak Pulau Nanga, Pulau Sembur dan arah ke Timur adalah Pulau Karas.

Di Pulau Teluk Nipah ini pun banyak orang  Suku Laut bermukim, sekitar 20 tahunan yang lalu mereka di mukimkan disitu, saat itu penguasa Batam adalah alm. Mayjen Soedarsono. Dari puluhan kepala keluarga yang tinggal disitu  hanya sekitar 7 kepala keluarga saja yang beragama Islam.

Di pulau itu kini ada ustadz Dari, ustadz asal Medan ini sementara tinggal bersama pak Abdullah, pak Abdullah pria tua usianya sekitar 70 tahun asal Flores yang sudah berpuluh tahun menetap disana , matanya telah buta tak dapat melihat lagi, berjalan pun Ia dituntun.  Pak Abdullah ini lah yang mewakafkan sebidang  tanahnya untuk kami bangun sebuah mushala kecil.

Kini anak anak Suku Laut yang muslim telah dapat belajar mengaji dengan ustadz  Hadi, mereka tidak lagi harus pergi ke pulau Nanga berciau. Kalau hari hujan dan gelombang seperti saat ini, jangan kan menyeberang laut, nak berangkat ke mushala di dekat rumah saja  berat rasanya.

Sejak sepekan ini hujan turun tiada henti, hampir seluruh wilayah Batam hujan turun terus menerus. “jadi pak RT dari Melagan tak dapat datang” kata ustadz Dari via ponselnya. Pak RT Pulau Melagan ini adalah yang membangun mushala dan rumah untuk ustazd Dari. Pulau Melagan pula terletak antara Pulau Karas dengan Pulau Teluk Nipah.

Pulau Boyan

Memang dalam  pekan terakhir ini kami rada sibuk, maklum kami kedatangan tamu, yaitu ustadz kiriman AMCF dari Jakarta. yang akan di tempat kan di pulau pulau terpencil di kepulauan Riau.   Ada yang akan ke Natuna, Lingga, Tanjung Balai Karimun dan di kepulauan Batam sendiri.

Salah satunya adalah ustadz Tasman. Ustadz yang masih belum berkeluarga ini di tempatkan di Pulau Boyan. Pulau Boyan tak berapa jauh dari Senggulung atau Pulau Buluh. Di Pulau Boyan itu kami dirikan juga sebuah mushala, sama bentuk dan ukurannya dengan yang di Pulau Lingka.

Di Pulau Boyan ada Pak Panjang, pak Panjang ini adalah orang Suku Laut lelaki yang paling tua agaknya.  Dia lah yang menganjurkan kan kepada kami untuk mendirikan mushala disitu.

Tidak semua suku laut di Pulau Boyan yang kecil itu beragama Islam. Ada keluarga yang ibunya Islam tetapi anak anaknya sudah menganut agama lain. Mereka semua adalah masih kerabat pak Panjang, orang pulau itu memanggil pak Panjang  atok.

Pak Panjang telinga nya rada pekak, maklum sudah tua, itulah sebabnya dia mengharapkan ada sound system atau load speaker terpasang di mushala, agar laungan azan terdengar. Memang belum ada pengeras suara di mushala – mushala yang kami dirikan.

Ustadz Tasman sementara ini tinggal  di rumah  pak RT. Kemarin ada sumbangan beberapa helai sajadah dari pak Yahya untuk mushala di Pulau Boyan ini. Pak Yahya adalah orang Dinas Pendidikan Kota Batam.

Di Pulau Pulau sekitaran Batam ada 19 buah mushala yang sudah selesai dan sedang dibangun, sebagian besar mushala itu sangat membutuhkan sajadah.   Maklum lah karena keberadaan mushala itu memang di tempat minoritas muslim terutama suku laut yang memang sangat membutuhkan bantuan.

Kemarin kami juga mendapat bantuan beberapa buah tangki air kapasitas 1.000 ton yang terbuat dari fiber glass dari seorang anggota KPU Batam,  tangki-tangki air tersebut telah kami distribusikan ke mushala yang membutuhkan.

Siapa lagi agaknya menyusul ya..?????

%d blogger menyukai ini: