Harga Kursi Wakil Rakyat Republik Indonesia


kerusi anggota banggar dpr yang akan datang...........

kerusi anggota banggar dpr yang akan datang...........

Tahukah anda 1 (satu) unit kursi alias kerusi bahasa di tempat kami, anggota banggar dpr di negara republika indonesia seharga rp. 27.000.000,-?

Sementara sebuah kerusi berikut dengan meja lipat di depannya yang dipakai murid SMK di tempat kami seharga rp. 270.000,-  merk FUTURA lumayan bagus kualitasnya. Satu kerusi anggota dpr yang katanya terhormat itu senilai 100 set kerusi siswa SMK di tempat kami.

Ruang banggar  senilai rp. 20.000.000.000,- terbilang : DUA PULUH MILIAR RUPIAH  itu kalau dijadikan kelas baru di tempat kami bisa dapat 138 ruang belajar dengan ukuran 8×9 m = 72 M2 atau dijadikan sekolah dengan rombongan belajar (rombel) 2 saja dengan 3 kelas bisa jadi 15 sekolah SMK .

8×9 = 72 M2 itu sudah cukup besar lho. Ruang yang kami pakai sekarang hanya 10 x 5 meter saja = 50 M2 . sudah nyaman karena kelas kecil .

1 ruang belajar ukuran 8 x 9 = 72 M2 (standar) Kemendiknas sekarang Kemendikbudnas .

harga per M di tempat kami untuk membangun sekolah = rp. 2.000.000,-

satu ruang 72M2 x rp. 2.000.000,- = rp. 144.000.000,-per ruang

rp. 20.000.000.000,- : rp. 144.000.000,- per ruang : 138.8 ruang

itu sudah lantai keramik anti gores  seharga rp. 65.000,- per meternya.  Pintu dan jendela terbuat dari kaca , kosen pintu dan jendela dari aluminium, rangka atap baja ringan dan atap dari spandek.

Kerusi jadi JEMURAN DI RUANG SIDANG DPRD...Batam

Kerusi jadi JEMURAN DI RUANG SIDANG DPRD..Batam

Ironis memang wakil rakyat republik indonesia ini, banyak sekali sekolah yang rusak, masih banyak siswa yang masih belajar di lantai, menumpang di masjid dan di gereja.

Tetapi mereka seenaknya saja mengeluarkan biaya untuk merenovasi ukuran yang hanya beberapa meter saja ber puluh puluh miliar.

Masih pantas kah mereka disebut terhormat?.

Mushala Kecil di Kampung Tua Setengar


Adalah pak Pinci dari kampung Tia Wangkang yang memberitahukan kepada kami bahwa ada kampung yang nama nya Setengar. Dan di Setengar itu ada tinggal kerabat pak Pinci masih dari Suku Laut yang muslim, namanya pak Abu. Hanya pak Abu keluarga muslim yang masih bertahan di kampung itu. Seorang putri pak Abu menikah dengan Sunoto asal Rembang Jawa Tengah dan tinggal di kampung itu juga tetapi agak ke darat, tidak di pinggir pantai, seorang lagi putri pak Abu menikah dengan orang Air Raja.

Keluarga pak Abu mewakafkan sebidang tanah untuk didirikan mushala, persis diatas bukit yang berada di tanjung kampung itu kini berdiri mushala kecil. Sunoto dan 2 orang temannya yang menjadi tukang nya. Bukan main senang nya hati Sunoto dengan keberadaan mushala itu. Karena sudah ratusan tahun keberadaan kampung tua Setengar, baru lah kini ada mushala di situ.

mushala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

ala kecil di kampung tua Setengar..........ratusan tahun kampung itu baru ini ada mushala

“Datanglah pak kalau bisa, besok kami akan menaikkan kubah” pinta Sunoto kepadaku melalui HP nya. “Kami pun mengundang juga yang non muslim, karena memang masih saudara” tambah Sunoto lagi.   Terenyuh hatiku mendengar nya karena saat itu aku tak bisa memenuhi undangan mas Sunoto begitu aku memanggilnya,  karena  pada saat yang sama aku ada urusan dengan  Polsek Bengkong. Mudah mudahan mas Sunoto dapat memaaklumiku.

Selama ini bila ke Setengar aku selalu melalui kampung Tia Wangkang diantar oleh pak Pinci dengan speed boat. Membelah Selat antara Pulau Batam dengan Pulau Tonton lalu persis dibawah jembatan I Barelang (Raja Haji Fisabillah), terasa tinggi sekali jembatan ini saat kita dibawahnya, kagum kepada pembuaat nya. Terus speed boat melaju  menuju arah ke Tanjung Piayu Laut, terlihat kecil pula jembatan II (Nara Singa) dari jauh, berkelok ke kiri memasuki selat yang berputar putar arusnya disitulah terletak kampung Tua Setengar.

Dan memanglah secara administrasi kampung Tua yang hanya dihuni beberapa kepala keluarga ini RT nya di jabat oleh pak Anton orang kampung Tia Wangkang. Kampung Tia Wangkang pula  masuk keluarahan Tembesi kecamatan Sagulung. “Itu sudah sejak dahulu pak” jelas Sunoto.

Sekali pernah kucoba jalan melalui darat, karena menurut informasi dari Sunoto untuk ke kampung tua itu bisa melalui darat. Berdua dengan Aries Kurniawan kami jelajahi jalan-jalan tak beraspal mulai dari Kantor Kelurahan Pancur Tanjung Piayu.

Sepanjang hutan yang kami lalui ternyata adalah hutan tempat latihan Militer Tuah Sakti. Puluhan kilometer tanah berbauksit dan berlubang lubang terkadang becek dan harus extra hati hati. Di kiri kanan jalan itu banyak  kebun sayur, ada yang sedang panen semangka. Dan juga puluhan kandang ayam (peternakan) yang menyebarkan aroma  spesial.

RUSH  kami terhenti di puncak bukit terjal, tak dapat melanjutkan perjalanan lagi karena memang tak ada fasilitas jalan untuk roda empat.  Kami lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Menyusuri pinggiran hutan mangrove naik turun beberapa gundukan bukit yang cukup menguras tenaga. Kami memotong jalan agar lebih dekat  di pandu oleh Sunoto.

“Kalau jalan dari sana , lebih jauh lagi pak” kata Sunoto sembari menunjukkan bangunan tugu tanda bahwa kampung Setengar adalah kampung tua. Bangunan tugu tanda kampung tua itu adalah proyek pemko Batam sedang dibangun oleh beberapa orang pekerja.

Jarang berjalan jauh nafas ngos-ngosan juga, sampai di pinggir pantai, sebuah sampan kecil yang hanya dapat dimuat empat orang  menunggu kami. Dengan sampan itulah kami berkayuh  menuju ujung tanjung tempat mushala itu berdiri.

Sebenarnya merentas hutan perdu untuk mencapai lokasi mushala yang saat itu sedang dibangun, dapat juga di lalui dengan jalan setapak, tidak harus bersampan.  Tetapi sebelum kelokasi ada puluhan kuburan terdapat disitu. Mungkin Sunoto segan membawa kami melalui kuburan itu.

Tetapi pada kesempatan lain nya saat aku mengunjungi kampung Setengar sengaja kulalui kuburan di Kampung itu. terlihat beberapa puluh batu nisan tua yang menandakan kalau itu adalah kuburan muslim.

“Itulah pak kalau mushala ini sudah siap, diharapkan orang kampung kembali ke mari” harap Sunoto.  Di samping mushala itu pun kini  sedang kami bangun sebuah rumah kecil untuk Dai yang nantinya akan tinggal disana.

“Dan kami pun mengharapkan disini ada RT sendiri. Warga tidak harus ke Tia Wangkang lagi”. Harap Sunoto

Kalau kita simak secara kedekataan kampung Setengar sebaiknya memang masuk kedalam wilayah Kelurahan Pancur. “Hal ini sudah pernah kami sampaikan kepada pak Rinaldy” kata Sunoto lagi.   Pak Rinaldy yang dimaksud Sunoto itu adalah pak Lurah Pancur.

Sunoto bercerita terus tak terasa kami sudah sampai di rumah pak Daniel, Pak Daniel ini adalah Orang Tua pak Pinci tetapi berlainan agama, usia nya sekitar 70 an tahun, pak Pinci beragama Islam.  Untuk menaiki speed boat harus melalui rumah pak Daniel karena air sudah surut.

Anjing penjaga kerambah toke dari Batam menyalak beramai-ramai melihat kami melalui kerambah kerambah apung yang banyak terpasang di alur laut Selat Setengar itu. Kerambah itu harus di lalui karena persis di depan rumah pak Daniel.

Sambil melambaikan tangan. Aku berharap mudah-mudahan harapan Sunoto terkabul.

Balada Anak Pulau : Nelayan di Angin Utara


naik bot mengantar ustadz.....

naik bot mengantar ustadz.....

Selat Desa

“Sekarang ni pun  dah tak ada lagi persedian” kata Nadi kepada kami saat berkunjung ke Selat Desa. Selat Desa adalah sebuah perkampungan Nelayan yang tak jauh dari Pulau Batam. Ombak di perairan Selat Desa, Pulau Kubung, Pulau Todak , Pulau Seribu  dan pulau pulau sekitarannya cukup besar, mencapai   3 meter.

Tak banyak Nelayan Suku laut yang tinggal di Selat Desa hanya beberapa keluarga saja, salah seorang nya adalah Nadi, Nadi adalah menantu Mak Dayang. Di Selat Desa kami bangun sebuah mushala kecil,  mushala itu  terletak persis di pinggir pantai, di mushala itu lah kami berbincang sembari terlihat air laut mulai pasang naik.

“Kalau sudah seperti sekarang ini (angin utara) susah nak melaut” timpal Nadi lagi.   Tak tahu apa yang akan di kerjakan, kemarin petang (25/01) dua orang wanita anak beranak meninggal dunia akibat amukan ombak. Sudahlah ombak besar di timpali pula gelombang dari ferry Tanjung Pinang – Batam yang melintas  di perairan itu.

Di mushala itu kini bermukim ustadz Hadi dari Medan, jadi salah satu tujuan kami datang ke Selat Desa itu adalah mengantar ustadz Hadi, ustadz Hadi akan mengajar agama Islam kepada Suku Laut Muslim disitu.

Kami tinggalkan ustadz Hadi dan Nadi karena hari sudah mulai petang, dengan bot pancung pak Awang Belanda mesinnya  Yahama 40 PK  kami tempuh ombak yang cukup tinggi.

Mendekati perairan pulau Kubung terlihat Pulau Todak , terbayang bagaimana Una (55) dan Mina (19) meregang nyawa di hantam ombak  tinggi dan hujan deras. Dan terbayang pula bagaimana perjuangan  anak perempuannya yang seorang lagi tetap mempertahan kan jasad ibu dan adik nya agar tidak hanyut dan tenggelam ke dalam laut. Hemmmm. aku menarik napas panjang, “mereka masih saudara kami” kata Poni dari Pulau Air Mas.

Pulau Lingka

Di Pulau Lingka Sagulung Batam,  ada ustadz Masri asal Nias Gunung Sitoli kini bermukim. Ustadz Masri ini pun adalah Dai yang di tempatkan oleh AMCF.  Di Pulau Lingka yang terletak bagian Barat Batam ini tak banyak keluarga Suku Laut yang muslim, disana  hanya ada sekitar 5 keluarga saja.  Di Pulau Lingka kami bangun sebuah mushala kecil seperti di  Selat Desa Ngenang. Di seberang pulau Lingka terdapat pulau Bertam, terdapat sebuah masjid di pulau Bertam, penduduknya terdiri dari Suku Laut , lebih 50 % beragama Islam.

Tak jauh dari mushala yang kami namakan mushala TAQWA itu  ada sebuah  gubuk kecil ukuran 3 x 4 meter , disitulah ustadz Masri tinggal. Persis di depan Pulau Lingka terletak Pulau Gara, di Pulau Gara pula  seluruh Suku Laut yang menetap disana adalah muslim.

Kehidupan nelayan disitu pun tak jauh berbeda dengan di Selat Desa, malah boleh dikatakan lebih parah lagi. Akibat ratusan galangan kapal yang memanjang sepanjang garis pantai  Pulau Batam dan Pulau Pulau disekitarnya, air laut tak memungkin lagi menjadi tempat ikan berkembang biak. Kapal ribuan ton dibina,  berlabuh dan diperbaiki tak terhitung berapa banyak jumlahnya.

Kalau dulu pemuda nelayan disitu menyelam menangkap ketam dan unduk unduk (kuda laut), kini mereka beralih profesi menjadi penyelam besi bekas potongan pembuatan kapal. Celakanya besi scrap itu ternyata menjadi masaalah. Terkadang mereka berhadapan dengan moncong senjata dari aparat yang menjaga area.

Kemarin pula  saat kami mengantar  ustadz Masri, 4 orang pemuda Pulau Gara tertuduh mengambil potongan  besi yang sudah “tercampak”  ke dalam laut. Kini mereka di dalam “pengawasan” kepolisian.

pelantar pulau kubung depan, di depan terlihat pulau todak.....

pelantar pulau kubung , di depan terlihat pulau todak...

Pulau Teluk Nipah

Paulau Teluk Nipah terletak sekitar 4 mil dari Kampung Baru Pulau Galang Baru, untuk mencapai Pulau Galang Baru harus melalui jembatan 6 (enam) terlebih dahulu, tak jauh dari Pulau Teluk Nipah itu terletak Pulau Nanga, Pulau Sembur dan arah ke Timur adalah Pulau Karas.

Di Pulau Teluk Nipah ini pun banyak orang  Suku Laut bermukim, sekitar 20 tahunan yang lalu mereka di mukimkan disitu, saat itu penguasa Batam adalah alm. Mayjen Soedarsono. Dari puluhan kepala keluarga yang tinggal disitu  hanya sekitar 7 kepala keluarga saja yang beragama Islam.

Di pulau itu kini ada ustadz Dari, ustadz asal Medan ini sementara tinggal bersama pak Abdullah, pak Abdullah pria tua usianya sekitar 70 tahun asal Flores yang sudah berpuluh tahun menetap disana , matanya telah buta tak dapat melihat lagi, berjalan pun Ia dituntun.  Pak Abdullah ini lah yang mewakafkan sebidang  tanahnya untuk kami bangun sebuah mushala kecil.

Kini anak anak Suku Laut yang muslim telah dapat belajar mengaji dengan ustadz  Hadi, mereka tidak lagi harus pergi ke pulau Nanga berciau. Kalau hari hujan dan gelombang seperti saat ini, jangan kan menyeberang laut, nak berangkat ke mushala di dekat rumah saja  berat rasanya.

Sejak sepekan ini hujan turun tiada henti, hampir seluruh wilayah Batam hujan turun terus menerus. “jadi pak RT dari Melagan tak dapat datang” kata ustadz Dari via ponselnya. Pak RT Pulau Melagan ini adalah yang membangun mushala dan rumah untuk ustazd Dari. Pulau Melagan pula terletak antara Pulau Karas dengan Pulau Teluk Nipah.

Pulau Boyan

Memang dalam  pekan terakhir ini kami rada sibuk, maklum kami kedatangan tamu, yaitu ustadz kiriman AMCF dari Jakarta. yang akan di tempat kan di pulau pulau terpencil di kepulauan Riau.   Ada yang akan ke Natuna, Lingga, Tanjung Balai Karimun dan di kepulauan Batam sendiri.

Salah satunya adalah ustadz Tasman. Ustadz yang masih belum berkeluarga ini di tempatkan di Pulau Boyan. Pulau Boyan tak berapa jauh dari Senggulung atau Pulau Buluh. Di Pulau Boyan itu kami dirikan juga sebuah mushala, sama bentuk dan ukurannya dengan yang di Pulau Lingka.

Di Pulau Boyan ada Pak Panjang, pak Panjang ini adalah orang Suku Laut lelaki yang paling tua agaknya.  Dia lah yang menganjurkan kan kepada kami untuk mendirikan mushala disitu.

Tidak semua suku laut di Pulau Boyan yang kecil itu beragama Islam. Ada keluarga yang ibunya Islam tetapi anak anaknya sudah menganut agama lain. Mereka semua adalah masih kerabat pak Panjang, orang pulau itu memanggil pak Panjang  atok.

Pak Panjang telinga nya rada pekak, maklum sudah tua, itulah sebabnya dia mengharapkan ada sound system atau load speaker terpasang di mushala, agar laungan azan terdengar. Memang belum ada pengeras suara di mushala – mushala yang kami dirikan.

Ustadz Tasman sementara ini tinggal  di rumah  pak RT. Kemarin ada sumbangan beberapa helai sajadah dari pak Yahya untuk mushala di Pulau Boyan ini. Pak Yahya adalah orang Dinas Pendidikan Kota Batam.

Di Pulau Pulau sekitaran Batam ada 19 buah mushala yang sudah selesai dan sedang dibangun, sebagian besar mushala itu sangat membutuhkan sajadah.   Maklum lah karena keberadaan mushala itu memang di tempat minoritas muslim terutama suku laut yang memang sangat membutuhkan bantuan.

Kemarin kami juga mendapat bantuan beberapa buah tangki air kapasitas 1.000 ton yang terbuat dari fiber glass dari seorang anggota KPU Batam,  tangki-tangki air tersebut telah kami distribusikan ke mushala yang membutuhkan.

Siapa lagi agaknya menyusul ya..?????

Hasil Quick Count Pilwako Batam 2011


lima pasangan pilwako batam

lima pasangan pilwako batam

Hari ini Rabu (5/1) adalah hari libur di Batam, karena bertepatan dengan pemilihan walikota. Ada lima pasang yang bertanding.

Hasil sementara  Quick Count atau perhitungan cepat Pilwako Batam tahun 2011 atas  lima pasangan yang bertanding itu sbb :

Pasangan Ahmad Dahlan – Rudi Unggul ?

“Tidak ada lembaga survey bang” kata M Nur wartawan Batam Pos kepadaku, ketika kutanya mengapa M Nur menambahkan kalau tak ada biaya untuk itu. Sementara di TPS 45 Bengkong pasangan No 1  Dahlan – Rudi unggul.  Sementara di tempat ke dua pasangan no 5.

Biasa nya dari beberapa kali pemilihan di Batam, pasangan yang menang di TPS ini, adalah juga jadi pemenangnya.  Pemilih hanya sekitar 30 – 40 % lainnya tak memilih. Data ini juga mencerminakan pemilih diseluruh Batam. Nampaknya isu soal dana Bansos tak banyak berpengaruh terhadap pasangan ini.

“Di Pulau Kasu, di Karas pasangan no 1 yang menang bang” kata Nur Yasin seorang guru menuliskan di FB ku.  Tetapi di daerah Tiban kata Atin beberapa TPS di pegang oleh pasangan no 2.

Incumbent akan menang ……… Jadi ini hanya prediksi ku saja…………

Cina Muslim Batam


komunitas muslim di Thailand Utara,

komunitas muslim di Thailand Utara,

Dewi Oktora namanya, dia adalah guru bahasa Inggris di sekolah kami. Perempuan asal Medan ini disamping fasih berbahasa Inggris dia pun  fasih berbahasa Cina. Karena dia memang orang Cina. Hokkian,  Mandarin dan beberapa dialek lainnya dia kuasai.

Dewi yang satu ini berkerudung, dia muslim. Bukan karena menikah dengan Mas Selamat pria Jawa kelahiran Sumatera itu, tetapi jauh sebelum nya Dewi  sudah memeluk Islam. Ibu nya orang Tionghoa dan papanya orang Medan.

Di Sekolah kami Ibu Dewi demikian dia di panggil murid muridnya sering menjadi juru bicara, aku sengaja dan sering meminta jasa nya dalam menghadapi orang tua  etnis Tionghoa yang anaknya bersekolah di tempat kami.

Ibu lima anak

Meskipun sekolah kami adalah sekolah Islam tetapi banyak siswanya dari etnis keturunan yang bukan beragam Islam. Entah mengapa tetapi mungkin karena sekolah kami memang diperuntukkan bagi kalangan kurang mampu.

Di tempat kami di Batam banyak sekali sekolah swasta yang pengelola dan pemiliknya adalah orang Tionghoa. Yaitu tadi  hampir semua yang bersekolah disitu dari golongan Tionghoa yang mampu.

“Anak saya ada 5 orang semuanya mau saya sekolahkan disini ” kata seorang Ibu suatu ketika. Kelihatan dari nada bicaranya kalau ianya adalah orang Cina. Tadinya beberapa orang anaknya disekolah yang dikelola oleh orang Tionghoa, karena dia sudah berpisah dengan suaminya sehinggah tak mampu lagi membiayai ke sekolah yang mahal itu.

Untuk menangani hal ini termasuklah urusan administrasi kepindahan murid dan mengisi formulir diserahkan ke Ibu Dewi Oktora. Ibu wali murid  yang baru cerai suaminya yang katanya sudah muslim sejak menikah terlihat merasa senang ada guru yang dapat berbahasa Tionghoa melayaninya.

Bapak tiga anak

Menjelang ujian semester seperti saat ini, aku akan kebanjiran bertemu dengan orang tua murid yang minta tolong keringan agar anaknya diperkenankan mengikuti ujian. Ketentuan dari sekolah bila menunggak uang sekolah tidak boleh mengikuti ujian.

Seorang Bapak terlihat tertuduk lesu, dari tadi kuperhatikan dia duduk di pinggiran tembok teras. Tiga orang anaknya bersekolah di tempat kami, ketiga nya belum lagi membayar uang sekolah sudah 3 bulan. “Malu rasanya pak” ujar nya saat kutanya.

Bapak tiga orang anak tadi adalah Tionghoa Muslim bekerja di bengkel , yang akhir akhir ini jarang mendapat orderan. Bengkel nya yang lama di gusur katanya ditempat yang baru tidak seperti di tempat yang lama.

Ketua NU Batam

Kalau yang ini namanya Haji Aseng sering demikian orang memanggilnya, beliau adalah Ketua NU Batam , baru baru ini mendapat keelakaan di jlan raya, masih di rawat di slah stu Hospital di johor bahru Malaysia.

Haji Aseng atau Haji Khairul ini salah seorang pengusaha yang sukses di Batam memiliki perusahan pelayaran Indomas ferry Stulang Laut – Batam Center. Seorang putranya menjadi legislator dan beliu pun mengelola lembaga pendidikan.

Saptono Mustakim

Kalau yang satu ini adalah mantan Wakil Bupati Lingga, saat ini dalam masa berkabung karena orang tua lelakinya meninggal dunia.  Pernah menjadi anggota DPRD Batam juga provinsi Kepri. Saptono juga dulunya adalah seorang pengusaha

Banyak lagi sebenarnya orang orang Tionghao yang muslim yang berhasil di Batam tidak seperti dugaan dan anggapan sebahagian orang, kalau orang Cina atau Tionghoa menjadi muslim akan menjadi miskin.

Dan tidak pula di nafikan ada yang memang kebetulan setelah muslim jadi miskin. Dan rasanya di daerah melayu ini sulit akan menjadi pejabat setingkat Bupati misalnya kalau dia tidak Muslim.

Yang bekerja di Bank , menjadi Camat, di Kepolisian misalnya. Camat wanita pertama di Kota Batam adalah seorang perempuan Tionghoa Muslim. Di Pulau Bulang pak Haji Akhmad adalah Nelayan yang sukses orang Tionghoa, daging kepiting rebusnya berharga ratusan ribu perkilonya dijual ke hotel hotel untuk dibuat menu sop kepiting.

Hanya saja orang Tionghoa kalau sudah muslim tidak menjadi exlusif lagi, mana ada masjid Cina yang mengkhususkan orang Cina saja yang boleh shalat disana sebagai mana yang kita lihat pada agama lain.

Jadi tidak benar kalau orang Cina menjadi muslim jadi miskin .


Mushalla Taman Dayang di Selat Desa Ngenang Pulau Batam


Mak Dayang dan Pak Taman di depan Mushalla

Mak Dayang dan Pak Taman di depan Mushalla

Masih ingat mak Dayang dari Pulau Selat Desa Kelurahan Ngenang Kecamatan Nongsa Batam dan pak Din dari Pulau Air Mas masih dalam kelurahan dan kecamatan yang sama, mereka berdua itu adalah abang beradik, ketika datang “mengadu” ke Muhammdiyah Batam.

Satu yang diharapkan Mak Dayang,  “Kalau lah Ada Mushalla di Tempat Kami Kata Mak Dayang” saat itu , karena di tempat Pak Din sang Abang telah berdiri masjid. “Jauh bekayu kesana (Air Mas) ” keluh nya apalagi saat cuaca tak bersahabat.

Sememang nya lah kehidupan nelayan di perairan Batam tak terperhatikan, kontras sekali kehidupan di hinterland demikian orang Batam menyebut mereka yang tinggal di pulau pulau kecil itu. Tak terkecuali mak Dayang dan keluarga nya. Di Pulau itu tinggal sekitar 20 an  Kepala Keluarga (KK) sekitar 7 KK yang muslim, dari 7 KK itu hanya beberapa orang yang lancar mengucapkan syahadat, jadi jangan diharap mereka bisa membaca quran apalagi shalat.

Anak anak dari Selat Desa  belajar quran (TPA) ke Pulau Air Mas dengan sampan kecil, di Pulau itu (air mas) ada ustazd Abdullah dari Pulau Ngenang, tetapi itu tadi jarak yang jauh dan keadaan cuaca membuat mereka tak seminggu sekali pun datang kesana. Ada Masjid dan Mushalla saja belum tentu datang, apalagi tak ada sarana ibadah. Ditambah  lagi tak ada seorang mubaligh pun yang betah tinggal disana.

Shalat Ashar di Mushalla Baru

Jamaah shalat Ashar pertama di mushalla "Taman Dayang" Selat Desa Pulau Ngenang Batam

Jamaah shalat Ashar pertama di mushalla "Taman Dayang" Selat Desa Pulau Ngenang Batam

Ahad 15/8 petang waktu ashar  kami ke Selat Desa, terkadang orang menyebut nya Dapur Arang, karena dulu disitu berdiri beberapa dapur pembuat arang, dari jauh dah terlihat bangunan bercat putih ukuran 5 x 5 meter, kalau itu menandakan mushalla di puncak nya ada lambang bulan sabit . Itulah mushallah yang baru berdiri, di bangun sebulan yang lalu , bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ) Masjid Raya Batam.

Mendekat ke bibir pantai terlihat pak Taman suami mak Dayang sedang mebersihkan halaman mushalla, kami,  dengan pompong pak Usman dari Telaga Punggur merapat langsung ke bibir pantai di depan mushallah yang belum bernama itu. “Kalau air pasang macam ni kita boleh langsung merapat ke pantai ” kata pak Usman, lelaki 50 an tahun asal Flores ini menjelaskan , kami pun melompat satu persatu dari pompong ke darat.

Mushalla itu belum ada tempat wuduk, memang ada perigi di samping mushalla, tetapi air nya masih keruh. Agak ke kanan ada sebuah perigi yang air nya jernih , ada sebuah timba terletak berisi air,  dan seekor anjing sedang minum dari timba yang berisi air itu. Sehingga jadilah kami berwuduk dengan air laut.

Mushallah ini benar benar baru di buat dinding sebelah dalam masih basah oleh “keringat” semen yang mengeluakan uap, begitu pun lantai nya hanya semen di aci masih basah berair. Disitu lah kami shalat dengan lembaran terpal plastik alas tidur pak Taman, dilapisi dengan sapu tangan , kebetulan ada 2 lembar sajadah.

Pak Taman ikut berjamaah , sementara pak Narzi masbuk. Melihat kami sudah selesai shalat , pak Narzi kebingungan hendak shalat sendiri. Dan sememang nya dia tak tahu bagaimana tata cara shalat.  Ustadz Subur dari AMCF yang kebetulan beserta kami “terpaksa” menjadi imam kembali , mengimami pak Narzi.

Mushalla Taman Dayang

Mushalla ini belum ada namanya, Pak Taman adalah suami mak Dayang, ” Ya udah untuk mengingat kegigihan mereka berdua agar terwujudnya mushalla di pulau yang di huni SUKU LAUT yang minoritas muslim itu, untuk sementara mushalla nya  kami beri nama MUSHALLA TAMAN DAYANG………

Bang Syarifuddin dari Laz Masjaid Raya Batam Center tersenyum menanggapi nama mushalla itu.   “Insyaallah dalam bulan Ramadhan 1431 H ini kita akan berbuka bersama di sana sekaligus memberikan zakat fitrah” ujar bang Syarifuddin pengurus LAZ yang baru mendapat penghargaan sebagai pengelola Zakat terbaik Nasional.

Masih banyak yang dibutuhkan untuk kelengkapan mushalla itu, seperti tikar atau sajadah, bak air untuk wuduk misalnya, karena disitu mayoritas non muslim dan mereka memelihara anjing, perlu juga kiranya pagar.

Dan jangan harap ada penerangan di pulau itu, meskipun negara kita telah merdeka 65 tahun. Pulau tak jauh dari Batam hanya sepelemparan batu…. ironis ya…. . tapi tak apa lah mak Dayang dan pak Taman tampak berseri seri, apalagi tak lama lagi akan ada seorang Da’i yang akam menjambangi mereka , mengajarkan islam . Itulah yang diharapkan mak Dayang sekeluarga………

Hasil quick count pilkada kepulauan riau 2010 (sementara) 2 HMS Menang


Kalau melihat hasil pilkada kepri hingga pukul 21.00 wibb 1.Duo HMS (No.urut 2) = 37 %
2.NKRI (No.Urut 1) = 31.52 %   sementara no 3. Aida berjaya (No. urut 3) = 31.48%

Agak susah angka angka ini berubah, dan kemungkinan untuk satu putaran sebagai mana yang di gemborkan oleh masing masing pasangan.

%d blogger menyukai ini: