UU RI NO 40 TENTANG PERS (1)


10547456_892209664126439_2787480722696643427_nHampir lima belas tahun yang lalu, Undang – Undang Pers diundangkan, tepatnya 23 September 1999 oleh Presiden waktu itu BJ Habibie.
Kebebasan pers di jamin di Indonesia, tidak ada bredel- bredelan lagi itu intinya, tidak ada izin-izin lagi untuk menerbitkan media cetak , cukup berbadan hukum Indonesia, ada alamat lengkap ada dewan redaksi , semua itu tertuang dalam UU NO 40 tahun 1999 tentang PERS.

Lima belas tahun yang lalu Buletin Jumat (BJ) terbit untuk perdana kalinya, bertepatan dengan bulan ramadhan seperti ini, Gus Dur jadi presiden menggantikan BJ Habibie, datang ke Batam, membuka Forum Organisasi Zakat (FOZ) II.

BJ, hanya selembar kertas HVS ukuran F4 dicetak timbal balik, tulisannya berwarna biru, isinya memuat tentang kegiatan ke-Islaman antara lain masjid-masjid yang ada di Batam. Karena memang lembaga yang menaungi BJ adalah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Batam.

Masih ingat benar tulisan pertama tentang Masjid di Komplek perumahan Sukajadi Batam Center dengan Judul “Masjid Sukajadi Tak Jadi-Jadi” , pengembang nya cukup respon setelah membaca tulisan itu, dan berjanji untuk membangun struktur hingga 30% sebagaimana ketentuan bagi pengembang di Indonesia. Masjid yang terletak di perumahan elit di Batam itu kini terus bertambah luas, banyak jamaahnya terutama pada shalat magrib, tak henti henti, mungkin karena terletak di jalur sebelah kiri jalan arah ke Batu Ampar dari Tanjung Uncang, memudahkan terutama para pekerja galangan.

Di perumahan Legenda Malaka, pengembangnya belum menyiapkan lokasi untuk tempat Ibadah, ratusan kepala keluarga muslim telah bermukim disana, solusi atas kesepakatan warga dibuat masjid di luar lokasi tanah pengembang, hingga sekarang masjid itu kokoh berdiri dan telah berdiri pula lembaga pendidikan . Ternyata tempat masjid itu berdiri adalah jalur alternative sebelah kiri jalan menuju Bandara.

Kawasan Industri Muka Kuning punya masjid namanya Nurul Islam, dibangun oleh pengelola, tak mampu menampung jumlah jamaah lelaki, terutama pada shalat jumat, sudah dipasang tenda sampai keluar hanya bisa menampung ribuan orang saja, beberapa tenan yang karyawannya ratusan bahkan ribuan orang, melaksanakan shalat jumat di ruang serbaguna, ribuan hektar luasnya, puluhan tenan besar menempati kawasan, puluhan ribu karyawan di kawasan industri itu, delapan puluh present Islam, masjid hanya satu, Alhamdulillah atas usulan DMI Batam, berdiri masjid Nurul Iman lokasinya diluar lokasi kawasan industry Muka Kuning, tak apalah.

Hampir semua pengembang di Batam sejak awal lagi, tidak menyiapkan sarana tempat ibadah untuk umat Islam ini, perumahan Anggrek Mas, hanya memberikan secuil lokasi tanah dibelakang sekolah Juwita, sekarang masjid itu di perbesar, karena tidak mampu lagi menampung jamaah dari tiga lokasi Anggrek yang lain.

Hingga ke hari ini Lapangan Terbang Internasional Hang Nadim, belum memiliki masjid tersendiri, rencana perluasan tahap III, konon kabarnya akan di bangun sesuai rencana lokasi didekat areal parkir, karyawan dan pekerja muslim , shalat jumat di komplek perumahan bandara, dulu ada bekas mushala direksi kit dijadikan masjid untuk pelaksanaan shalat jumat.

Di pelabuhan sekupang pun belum memilik masjid, pekerja disana shalat jumat ke masjid terdekat di komplek Telkom .
Yang ironis, belasan tahun umat islam, di daerah Batam center, terutama karyawan Otorita Batam, Pemko Batam, dulu, shalat jumat di lantai tiga ruang serba guna kantor Otorita itu. Namanya ruang serbaguna, terkadang dibuat untuk acara kebaktian umat lain (non islam), kadang acara music, kesenian, pelantikan pejabat dan lain-lain. Alhamdulillah berdiri masjid raya Batam, digesa cepat semula 4 tahap menjadi satu tahap saja.

Iya , Buletin Jumat identic dengan masjid, karena dibawah naungan lembaga DMI tadi, termasuklah tempat shalat bagi karyawan muslim yang ada di mall-mall, hanya seadanya saja.

BJ sempat tidak terbit beberapa saat, karena kami tidak menjadi pengurus DMI lagi, setelah itu tebit lagi tetapi di kelola oleh Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam.

Marak pula makanan yang tidak halal, masuk dan membanjiri Indonesia, termasuk paha ayam dari Amerika masuk ke Batam, kasus ini mencuat hingga Nasional, Buletin Jumat sampai ke pengadilan, pejabat yang berwenang di Batam, tidak bisa secara langsung menutup media yang hanya selembar itu, terganjal UU NO 40 tentang PERS diatas, menurut Parni Hardi kepala kantor berita ANTARA saat itu, walau hanya selembar, memuat dan menyajikan berita tulisan rutin dan terus menerus adalah pers. Merasa tertolong oleh ketentuan itu, kami pun beli mesin cetak sendiri agar BJ tetap terbit.

Iklan

Jabal Arafah : Masjid Kebanggaan Warga Batam



Jabal Arafah adalah nama sebuah masjid di Batam. Masjid ini belum selesai dibangun “Ruangan yang sekarang dipakai untuk shalat itu, nantinya digunakan untuk ruang pertemuan semacam aula” ujar Fuardi Djarius. Mantan Kepala Dinas Kesehatam Kota Batam ini, menjelaskan kepada Buletin Jumat (BJ) biaya yang dikeluarkan sudah mencapai 10 miliar rupiah lebih. “Sekarang pembangunan difokuskan membuat menara dulu, agar kelihatan ikonya” tambah Fuardi lagi. Kalau dilihat sepintas dan tidak membaca tulisan, bangunan baru itu memang belum mencerminkan bentuk sebuah masjid.

Bangunannya bertingkat-tingkat, mengikuti struktur tanah, dari mulai tempat parkir, ruangan kantor masjid dan keatas tempat wuduk, setingkat lagi bangunan aula yang sekarang dibuat untuk tempat shalat. Tersedia juga mini market, menjual aneka ragam makanan ringan, tentu minuman juga tersedia. “Sementara ini hanya dihari Jumat ada jual nasi dan kari kambing” lanjut Fuardi lagi. Rencana kantin masjid itu belum selesai lagi.

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah

Pemandangan dari halaman masjid jabal arafah


Disitulah Fuardi menghabiskan waktunya mulai masuk waktu shalat Juhur hingga selesai shalat asyar. Fuardi tidak sendiri, teman sejawat sesama pensiunan acap datang berjamaah dan bercengkerama. layaknya masjid ini semacam taman orang tua, dan tempat bertemu lansia . Mereka berbincang dibawah tenda yang disediakan oleh pengelola masjid.
mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga

mereka sengaja datang ke masjid , bersama keluarga


Masjid Jabal Arafah, terletak persis di samping timur Mall Nagoya Hill, bisa jadi Mall ter-besar dan ter-ramai di Batam ini, membuat orang jadi ramai pula berkunjung ke masjid. “Yang jelas kami sekeluarga memang sengaja datang kesini” ujar Hanafi, bersama isteri dan ketiga anaknya, dihari hari libur dan senggang, meraka menyempatkan datang. Banyak keluarga muda seperti Hanafi datang mengunjungi masjid Jabal Arafah ini.

Lumayan menguras tenaga dari jalan raya naik ke bukit, dengan berjalan kaki. Tetapi tidak bagi ke-enam anak lelaki usia sekolah dasar (SD), tengah hari itu, mereka memang sudah berencana selepas sekolah hendak shalat di masjid yang ambalnya tebal, enak sujudnya kata mereka. Masih terlihat segar, apalagi selepas wuduk, mereka berlari dan bercanda, masuk ke ruang shalat.

"Maha Suci Engkau Ya Allah" jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka.."Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya....

“Maha Suci Engkau Ya Allah” jauh dari rumah, naik bukit berjalan kaki ke-enam anak-anak ini riang gembira melaksanakan shalat Juhur berjamaah dimasjid yang jadi kebanggaan mereka..”Yang besar jadi Imam, yang agak kecilan dikit iqomah. Ujarku saat terlihat mereka bingung karena ketika mereka datang dan masuk kedalam masjid tak ada orang dewasa , mereka melirikku sejenak, seakan tak percaya, dan ternyata mereka bisa. Aku terharu melihatnya….


Halaman masjid ini dilengkapi taman yang sedap dipandang mata, ada kolam ikan dengan air mancurnya. ” Kami diantar travel kemari” ujar Tati ketua rombongan studi banding dari Pemkab Bekasi, mereka menyempatkan berpoto disela-sela pohon kurma yang sengaja ditanam, dan tertata rapi.

Petang itu pula Novi pekerja dari Muka Kuning, sengaja datang bersama sang kekasih. Lepas magrib, melepaskan lelah, duduk di bangku yang memang tersedia di taman, pemandangan indah dari ketinggian bukit masjid Jabal Arafah, membuat mereka sering datang ke masjid itu.

Ustadz Amiruddin Dahad , sering menjelaskan dalam kesempatan ceramah diberbagai tempat tentang konsep pengelolaan masjid. Masjid Jabal Arafah ini acap pula sebagai contoh beliau. Imam yang fasih bacaannya, dan hafis pula. Sound System yang tidak menggangu telinga. Bukan karena tempat yang stategis saja.

Hal itu dibenarkan oleh DR Amirsyah Tambunan, wasekjen MUI Pusat, saat datang ke Batam dalam rangka Rakorda MUI I se-Sumatera, isteri wasekjen ini terkagum kagum dengan kebersihan dan design tempat wuduk dan kamar mandinya “Bak hotel berbintang saja” ujarnya.

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid

Para Lansia bercengkerama di halaman masjid


Masjid Jabal Arafah, bukan pengganti masjid Arafah yang ada di pintu Selataan Mall Nagoya Hill, masjid Arafah yang berada di lantai tiga pertokoan yang berhampiran dengan Hotel Nagoya Plaza, tetap digunakan.

Meskipun baru ruang aula saja yang selesai dan sudah digunakan utuk shalat, masjid Jabal Arafah ini ramai dikunjungi, tak kira anak-anak, remaja, keluarga. Rombongan tamu yang berkunjung ke Batam pun tak lepas datang mengunjungi masjid ini. Dari Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand misalnya, tamu yang datang selalu kami bawa ke masjid itu.

“Pemandangannya bagus, bersih” ujar ustadz Zenal Satiawan , menirukan ucapan tamunya dari Singapura yang dibawanya, saat shalat ke masjid itu. “Sebagai warga Batam kita jadi bangga dan tidak malu” ujar ustadz itu lagi.

Masjid yang punya panorama indah ini memang perlu diacungi jempol kepada penggagas dan pengelolanya. Masjid ini bisa dijadikan contoh bagaimana layaknya mengelola manajemen masjid. Semoga rezeki tetap tercurah kepada penyandang dana pembangunan masjid itu.

Nasuha bin Kasian Pemilik Ladang Herba Terbesar di Asia


Hj Nasuha bin Kasian (kanan) pendiri dan pemilik Organic Natural Herbal Nasuha.

Hj Nasuha bin Kasian (kanan) pendiri dan pemilik Organic Natural Herbal Nasuha.

“Dah ada janji ?” tanya resepsionis setiba saja kami di Restoran Herbal milik Haji Nasuha bin Kasian yang bernaung dibawah syarikat Budayatama Corporation Sdn. Bhd.

Aku tersenyum sembari menjawab bahwa kedatanganku hanya untuk melihat lokasi Organic Natural Herbal ini dan medapatkan sedikit informasi tentang  Nasuha. Dan terus terang, aku  agak penasaran juga tentang Nasuha ini, mengapa sampai teman-teman dari Brunei ingin sekali hendak melawat.

Kulihat sekeliling ruangan, banyak pengunjung terlihat memenuhi meja. Suasana restoran temaram, meja-meja  yang terbuat dari kayu alami  berwarna coklat itu, menambah redup suasana,  lantai restoran tersusunan dari batu batu krikil yang diatur sedemikian rupa. Masuk ke dalam ruang restoran herbal itu harus membuka alas kaki,  tonjolan tonjolan lantai tadi terasa enak saat kita berjalan seakan  merefleksi syaraf kaki.

Ladang dan Kilang sekaligus tempat wisata Nahusa Herbal di Pagoh Muar Malaysia

Ladang dan Kilang sekaligus tempat wisata Nahusa Herbal di Pagoh Muar Malaysia

Kami berdua dengan cik Zainuddin memilih duduk agak ke pojok sebelah kanan, sehingga hampir semua meja yang ada di ruangan restoran itu bisa terlihat dari tempat kami duduk.   Cik Zainuddin adalah  staf pengajar di Sekolah Menengah Kerajaan Muar Johor (SAMURA) Malaysia. Kami sudah makan tengah hari  sebelum berangkat ke NASUHA yang terletak sekitar 19 kilometer dari Bandar Muar arah ke Barat, tepatnya Jalan Muar – Pagoh, 84500 Muar Johor Darul Takzim Malaysia.

Jadilah di restoran herbal itu kami hanya memesan minuman saja. Semangkok  cendol herbal dan sepiring rujak buah rasa herbal pesananku datang, nikmat rasanya, cendol yang sama ada di Indonesia, tetapi ini rasa herbal, seperti ada rasa kulit manis dan jahenya. Begitu pun rujak buah rasa herbal, bumbu kacang tanah mungkin diberi jahe atau rempah apa sehingga terasa lain di tenggrokan.

Sembari menikmati cendol dan rujak yang cukup besar porsinya, aku  membaca-baca brosur didampingi staf dari NASUHA. Nasuha tidak hanya menjual rempah ratus, tetapi juga menyediakan Log Cabin. Log Cabin ini terletak di lerang lerang pebukitan yang di kelilingi pokok-pokok herba dan rempah,  seperti pokok eucalyptus yang berasal dari Australia. Log Cabin ini juga menggunakan kayu log yang beraromatherapy.

Cukup luas lokasi tanah ladang milik haji Nasuha ini, hampir seluas 3.200 ekar, agaknya ini merupakan ladang herba dan rempah ratus terbesar di Asia.  Ladang yang mampu mengeluarkan hingga 6 sampai 10 ton metrik perhari bahan mentah, semuanya di tanam di ladang itu tidak menggunakan pupuk kimia. Pengeringan bahan mentah tadi pun menggunakan sistem pengeringan berteknologi tinggi.

Beberapa Log Cabin, ada juga Dormitory yang bisa dimuat sepuluh orang per ruang, ruang pertemuan kapasitas sampai 400 orang. Nasuha pun membuat paket – paket menarik buat pengujungnya, seperti mengunjungi ladang herba menggunakan kereta, kolam pancing, taman burung, peternakan biri-biri/kambing dan kebun buah durian yang berasa rempah.

Selain tempat SPA yang beraroma herba dan rempah, NASUHA pun memproduksi rempah ratus MAK SITI, puluhan jenis bumbu masak seperti Kari Daging, Rendang kesemuanya produk NASUHA dan MAK SITI ini telah mendapat setifikat halal.

Sosok Haji Nasuha bin Kasian

Tak sanggup rasanya nak menghabiskan sepiring rujak dan semangkuk cendol rasa herbal tu, memanglah porsinya besar lagi pula baru saja makan siang tengah hari, lain kali kalau datang kesana tak payah nak makan terlebih dahulu. Sisa  Cendol yang aku pesan kusuruh di bungkus masukkan ke dalam gelas plastik saja. Karena aku segera nak berangkat ke Stulang Laut Johor Baru, mengejar ferry terakhir ke Batam.  Biasanya dari Muar sampai ke Larkin Johor Bahru sekitar 2 jam perjalanan dengan Bus.

Kami beranjak ke luar restoran, tak dinyana sesosok pria sebaroh baya sekitar 60 tahunan muncul di pintu restoran, sangat bersahaja, berbaju coklat muda lengan pendek, rambut nya  sudah memutih berperawak tegap, wajah nya benar – benar seperti peladang, mungkin karena sering terkena panas matahari agaknya.  Dia lah haji Nasuha. Tambah sipit matanya saat tersenyum, dan terus  menyalami kami.

Terpaksa kami duduk kembali ke meja semula, rupanya pak Haji ini menerima telpon dari staf nya di front restoran tadi mengabarkan kedatangan kami, padahal dia sedang berada di tengah ladangnya.

Tahu kalau aku dari Indonesia agaknya, pak Haji yang mengaku orang tuanya asal dari Cirebon itu berbicara satu dua patah kata dalam bahasa  Jawa. Bahasa Jawa nya orang Malaysia (melayu) ya gak pelat di dengar. Senyum saja aku mendengarnya. Banyak cerita pria yang sudah malang melintang ke manca negara ini, bagaimana dia mulai usaha ladang herbal dan rempah ratus nya .

Pak Haji yang ibu nya keturuan dari Jepang – orang Malaysia menyebutnya Jepun – pun mengekspor rempah ratus dan herbal nya kenegara matahari tebit itu. Ada beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor dari produk NASUHA , “Kalau di Indonesia sudah masuk ke beberapa kota” jelas pak Nasuha.  ” Kebetulan petang nanti perwakilan dari Batam akan datang ke mari” tambahnya lagi .

Banyak lagi  cerita yang akan disampaikan pak Nasuha yang sudah punya cucu ini, tetapi karena kesuntukan masa aku terpaksa pamit pulang. Pak Nasuha agak terdiam sejenak dan terkesima  saat ku kabarkan bahwa Profesor Hembing telah meninggal dunia.

Ternyata haji Nasuha belum dapat kabar kalau Prof. Hembing sang Maestro pengobataan herbal terkemuka di Indonesia bahkan di dunia itu telah meninggal, begitu pula dengan banyak rakyat Malaysia sendiri yang tak tahu dan belum dapat kabar kalau ada ladang rempah ratus dan herbal di Pagoh Muar Johor Malaysia, bahkan ladang yang terbesar di Asia.

Sampai jumpa lain waktu pak Nasuha.

Balada Anak Pulau : Nelayan di Angin Utara


naik bot mengantar ustadz.....

naik bot mengantar ustadz.....

Selat Desa

“Sekarang ni pun  dah tak ada lagi persedian” kata Nadi kepada kami saat berkunjung ke Selat Desa. Selat Desa adalah sebuah perkampungan Nelayan yang tak jauh dari Pulau Batam. Ombak di perairan Selat Desa, Pulau Kubung, Pulau Todak , Pulau Seribu  dan pulau pulau sekitarannya cukup besar, mencapai   3 meter.

Tak banyak Nelayan Suku laut yang tinggal di Selat Desa hanya beberapa keluarga saja, salah seorang nya adalah Nadi, Nadi adalah menantu Mak Dayang. Di Selat Desa kami bangun sebuah mushala kecil,  mushala itu  terletak persis di pinggir pantai, di mushala itu lah kami berbincang sembari terlihat air laut mulai pasang naik.

“Kalau sudah seperti sekarang ini (angin utara) susah nak melaut” timpal Nadi lagi.   Tak tahu apa yang akan di kerjakan, kemarin petang (25/01) dua orang wanita anak beranak meninggal dunia akibat amukan ombak. Sudahlah ombak besar di timpali pula gelombang dari ferry Tanjung Pinang – Batam yang melintas  di perairan itu.

Di mushala itu kini bermukim ustadz Hadi dari Medan, jadi salah satu tujuan kami datang ke Selat Desa itu adalah mengantar ustadz Hadi, ustadz Hadi akan mengajar agama Islam kepada Suku Laut Muslim disitu.

Kami tinggalkan ustadz Hadi dan Nadi karena hari sudah mulai petang, dengan bot pancung pak Awang Belanda mesinnya  Yahama 40 PK  kami tempuh ombak yang cukup tinggi.

Mendekati perairan pulau Kubung terlihat Pulau Todak , terbayang bagaimana Una (55) dan Mina (19) meregang nyawa di hantam ombak  tinggi dan hujan deras. Dan terbayang pula bagaimana perjuangan  anak perempuannya yang seorang lagi tetap mempertahan kan jasad ibu dan adik nya agar tidak hanyut dan tenggelam ke dalam laut. Hemmmm. aku menarik napas panjang, “mereka masih saudara kami” kata Poni dari Pulau Air Mas.

Pulau Lingka

Di Pulau Lingka Sagulung Batam,  ada ustadz Masri asal Nias Gunung Sitoli kini bermukim. Ustadz Masri ini pun adalah Dai yang di tempatkan oleh AMCF.  Di Pulau Lingka yang terletak bagian Barat Batam ini tak banyak keluarga Suku Laut yang muslim, disana  hanya ada sekitar 5 keluarga saja.  Di Pulau Lingka kami bangun sebuah mushala kecil seperti di  Selat Desa Ngenang. Di seberang pulau Lingka terdapat pulau Bertam, terdapat sebuah masjid di pulau Bertam, penduduknya terdiri dari Suku Laut , lebih 50 % beragama Islam.

Tak jauh dari mushala yang kami namakan mushala TAQWA itu  ada sebuah  gubuk kecil ukuran 3 x 4 meter , disitulah ustadz Masri tinggal. Persis di depan Pulau Lingka terletak Pulau Gara, di Pulau Gara pula  seluruh Suku Laut yang menetap disana adalah muslim.

Kehidupan nelayan disitu pun tak jauh berbeda dengan di Selat Desa, malah boleh dikatakan lebih parah lagi. Akibat ratusan galangan kapal yang memanjang sepanjang garis pantai  Pulau Batam dan Pulau Pulau disekitarnya, air laut tak memungkin lagi menjadi tempat ikan berkembang biak. Kapal ribuan ton dibina,  berlabuh dan diperbaiki tak terhitung berapa banyak jumlahnya.

Kalau dulu pemuda nelayan disitu menyelam menangkap ketam dan unduk unduk (kuda laut), kini mereka beralih profesi menjadi penyelam besi bekas potongan pembuatan kapal. Celakanya besi scrap itu ternyata menjadi masaalah. Terkadang mereka berhadapan dengan moncong senjata dari aparat yang menjaga area.

Kemarin pula  saat kami mengantar  ustadz Masri, 4 orang pemuda Pulau Gara tertuduh mengambil potongan  besi yang sudah “tercampak”  ke dalam laut. Kini mereka di dalam “pengawasan” kepolisian.

pelantar pulau kubung depan, di depan terlihat pulau todak.....

pelantar pulau kubung , di depan terlihat pulau todak...

Pulau Teluk Nipah

Paulau Teluk Nipah terletak sekitar 4 mil dari Kampung Baru Pulau Galang Baru, untuk mencapai Pulau Galang Baru harus melalui jembatan 6 (enam) terlebih dahulu, tak jauh dari Pulau Teluk Nipah itu terletak Pulau Nanga, Pulau Sembur dan arah ke Timur adalah Pulau Karas.

Di Pulau Teluk Nipah ini pun banyak orang  Suku Laut bermukim, sekitar 20 tahunan yang lalu mereka di mukimkan disitu, saat itu penguasa Batam adalah alm. Mayjen Soedarsono. Dari puluhan kepala keluarga yang tinggal disitu  hanya sekitar 7 kepala keluarga saja yang beragama Islam.

Di pulau itu kini ada ustadz Dari, ustadz asal Medan ini sementara tinggal bersama pak Abdullah, pak Abdullah pria tua usianya sekitar 70 tahun asal Flores yang sudah berpuluh tahun menetap disana , matanya telah buta tak dapat melihat lagi, berjalan pun Ia dituntun.  Pak Abdullah ini lah yang mewakafkan sebidang  tanahnya untuk kami bangun sebuah mushala kecil.

Kini anak anak Suku Laut yang muslim telah dapat belajar mengaji dengan ustadz  Hadi, mereka tidak lagi harus pergi ke pulau Nanga berciau. Kalau hari hujan dan gelombang seperti saat ini, jangan kan menyeberang laut, nak berangkat ke mushala di dekat rumah saja  berat rasanya.

Sejak sepekan ini hujan turun tiada henti, hampir seluruh wilayah Batam hujan turun terus menerus. “jadi pak RT dari Melagan tak dapat datang” kata ustadz Dari via ponselnya. Pak RT Pulau Melagan ini adalah yang membangun mushala dan rumah untuk ustazd Dari. Pulau Melagan pula terletak antara Pulau Karas dengan Pulau Teluk Nipah.

Pulau Boyan

Memang dalam  pekan terakhir ini kami rada sibuk, maklum kami kedatangan tamu, yaitu ustadz kiriman AMCF dari Jakarta. yang akan di tempat kan di pulau pulau terpencil di kepulauan Riau.   Ada yang akan ke Natuna, Lingga, Tanjung Balai Karimun dan di kepulauan Batam sendiri.

Salah satunya adalah ustadz Tasman. Ustadz yang masih belum berkeluarga ini di tempatkan di Pulau Boyan. Pulau Boyan tak berapa jauh dari Senggulung atau Pulau Buluh. Di Pulau Boyan itu kami dirikan juga sebuah mushala, sama bentuk dan ukurannya dengan yang di Pulau Lingka.

Di Pulau Boyan ada Pak Panjang, pak Panjang ini adalah orang Suku Laut lelaki yang paling tua agaknya.  Dia lah yang menganjurkan kan kepada kami untuk mendirikan mushala disitu.

Tidak semua suku laut di Pulau Boyan yang kecil itu beragama Islam. Ada keluarga yang ibunya Islam tetapi anak anaknya sudah menganut agama lain. Mereka semua adalah masih kerabat pak Panjang, orang pulau itu memanggil pak Panjang  atok.

Pak Panjang telinga nya rada pekak, maklum sudah tua, itulah sebabnya dia mengharapkan ada sound system atau load speaker terpasang di mushala, agar laungan azan terdengar. Memang belum ada pengeras suara di mushala – mushala yang kami dirikan.

Ustadz Tasman sementara ini tinggal  di rumah  pak RT. Kemarin ada sumbangan beberapa helai sajadah dari pak Yahya untuk mushala di Pulau Boyan ini. Pak Yahya adalah orang Dinas Pendidikan Kota Batam.

Di Pulau Pulau sekitaran Batam ada 19 buah mushala yang sudah selesai dan sedang dibangun, sebagian besar mushala itu sangat membutuhkan sajadah.   Maklum lah karena keberadaan mushala itu memang di tempat minoritas muslim terutama suku laut yang memang sangat membutuhkan bantuan.

Kemarin kami juga mendapat bantuan beberapa buah tangki air kapasitas 1.000 ton yang terbuat dari fiber glass dari seorang anggota KPU Batam,  tangki-tangki air tersebut telah kami distribusikan ke mushala yang membutuhkan.

Siapa lagi agaknya menyusul ya..?????

Iklan Kiamat


Iklan seperti ini banyak terpasang di sepanjang jalan di Batam. “Kirain itu iklan radio yang mau siaran” ujar Andre .  Iklan ini sudah hampir setengah tahun terpasang, malah sudah ada yang diganti karena buram. “Jadi itu iklan Kiamat toh ” lanjut Andre lagi .

Iya itu memang iklan hari kiamat yang akan jatuh pada 21 Mei 2011 sebagaimana tulisan dibawah :

Lupakan spekulasi bahwa akhir dunia akan terjadi pada 12 Desember 2012 sebagaimana akhir penanggalan Bangsa Maya. Sebuah kelompok Kristen independen di AS bahkan meramalkan kiamat akan datang lebih cepat: 21 Mei 2011 mendatang.

Adalah Marie Exley, veteran Angkatan Darat AS yang gencar mengkampanyekan peringatan kiamat ini. Exley adalah anggota gereja independen AS yang berkotbah melalui siaran radio dan Internet. Kelompok gereja ini mengklaim mendasarkan ramalannya pada Alkitab.

Mereka gencar menyebarkan pesan kiamat melalui papan reklame, bangku-bangku di halte bus, karavan, dan mengerahkan sukarelawan menyebarkan pamflet-pamflet di berbagai sudut kota, dari Bridgeport hingga Little Rock, Arkansas. Untuk menyebarkan pesan itu di luar AS, mereka bahkan punya kelompok sukarelawan yang akan berkeliling Afrika dan Amerika Latin.

“Banyak orang mungkin berpikir: kiamat akan datang, ayo berpesta. Tapi kami diperintahkan Tuhan untuk memberi peringatan,” kata Exley. “Aku bisa saja seperti orang lain, tapi akan lebih baik tahu ketika kiamat tiba, Anda tahu, Anda akan selamat.”

Pada bulan Agustus, Exley meninggalkan rumahnya di Colorado Springs, untuk bekerja di sebuah radio komunitas di Oakland, California. Radio tersebut adalah radio pelayanan Kristen yang dipimpin Harold Camping– orang yang paling bertanggung jawab atas ramalan akhir zaman versi ini.

“Jika Anda masih ingin mengatakan kami gila, silakan. Tapi tidak ada salahnya untuk melihat pesan ini,” kata Exley.

Harold Camping (89) yakin Alkitab pada dasarnya memiliki fungsi sebagai kalender kosmik yang menjelaskan dengan pasti hal-hal yang bisa diramalkan.

Pensiunan insinyur itu mengklaim kalkulasinya didasarkan pada Alkitab. Berbagai peristiwa eksternal, seperti berdirinya negara Israel pada 1948, menurutnya adalah tanda-tanda yang mengkonfirmasikan akurasi kalkulasinya. “Tanpa keraguan, aku berpendapat 21 Mei adalah hari pengangkatan dan penghakiman,” kata dia.

Camping percaya, di bulan Oktober 2011, orang-orang yang beriman akan dibawa ke surga dan para pendosa tetap berada di Bumi untuk menerima siksa.

Bagaimana jika 21 Mei berlalu tanpa ada apapun?

“Kalau 21 Mei berlalu dan aku masih di sini, berarti aku tak diselamatkan. Apakah itu berarti firman Tuhan tak akurat? Tidak sama sekali,” dia berkilah.

Prediksi Camping tak diamini banyak gereja lainnya. Kata mereka, tak seorangpun yang bisa memastikan hari atau jam semesta akan berakhir. Ramalan ala Camping bukan hal baru. Seorang pemimpin kelompok Baptis, William Miller pernah meramalkan dunia berakhir 22 Oktober 1844 silam, namun toh matahari masih bersinar terang sampai hari ini.

Banyak orang yang terkecoh dengan papan iklan dimaksud,  sebagaimana kata Prayuza Zafin Muhammad : “gila , nih salah satu cara buat ngelunturin iman…astagfirullah”..!
Sementara  Dhanny ‘Chappy’ Monroe berkomentar :  “ini cuma trik pemasaran radio tsb”.

Arfin Efendi : “propaganda ini sudah lama, kok. gue tahu juga bacanya di internet. ini keknya kelompok sekte tertentu dari agama kresten”.

Banyak komentar tentang iklan ini bahkan  ada yang mempertanyakannya  apa tidak ada pengawasan dari pemerintah. Sebagaimana di tulis oleh  Hang Dabo  dalam FB nya : ” iklan kayak gitu pemko apa enggak bisa dibredel, sekalian sama radionya juga di tutup.

Kurang jelas juga apakah frequensi yang digunakan radio  itu  legal,   yang tahu KPI dan Balai Monitor. Soal retribusi atau pajak reklame , yang tahu persis ya Dinas Pendapataan Daerah.

Antara Sabah Dan Sarawak Ada Brunei


shalat di bangku terminal Miri Sarawak. Karena tidak ada fasilytas mushalla di situ

shalat di bangku terminal Miri Sarawak. Karena tidak ada fasilitas mushalla di situ

Ibukota Sabah adalah Kota Kinabalu, rencana tanggal 6 September 2010  akan diadakan pertemuan bilateral antara pemerintah Indonesai dengan Malaysia di Kota itu. Mudah mudahan saja persoalan nya cepat kelar.

Pertengahan Agustus 2010 rombongan kami dari Muhammadiyah Internasional sebanyak sembilan orang mengunjungi  Kota Kinabalu, di sana kami di fasilitasi oleh KJRI Kota Kinabalu, bertemu dengan lembaga keagamaan yang ada disana. Bertemu dengan pengurus Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) Cawangan Sabah. Selain dengan JAKIM yang bersifat Nasional ada juga Penubuhan di Sabah yang bernama Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sabah (JHEAINS), Penubuhan ini bersifat lokal.

Disamping itu ada lagi  Penubuhan Majlis Ugama Islam Sabah (MUIS). Dan NGO yang paling aktif di Sabah dalam kemajuan Agama Islam salah satu nya adalah USIA, USIA adalah singkatan dari United Sabah Islamic Association atau Pertubuhan Islam Seluruh Sabah.

Saudara Baru

Di Sabah, orang menyebut dan menamakan orang -orang yang baru masuk Islam dengan sebutan Saudara Baru. Saudara Baru ini lah yang merubah peta politik di Sabah, sejak September 1975.  Semula diawal bergabungnya Negeri Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Melayu  tahun 1957 penduduk Islam di Sabah hanya sekitar 30 persen saja.  Perkembangan yang begitu signifikan pada tahun 1971 umat Islam di Negeri Sabah telah melebihi 50 persen.

Itulah sebabnya Islam is the religion of the state, namun demikian agama-agama lain boleh diamalkan dengan aman dan harmoni di mana-mana di seluruh negeri.Hal ini tidak lepas dari peranan USIA di Sabah.

Saudara Kita

Kalalu di Sabah penyebutan untuk yang baru memeluk Islam adalah Saudara Baru sementara di Sarawak penyebutan nya adalah Saudara Kita. Luas wilayah Sabah dan Sarawak berbanding sama dengan luas wilayah yang ada di Semenanjung, Mulai dari dari Johor sampai ke Perlis,  kedua negeri ini pula sepajang wilayah nya berbatasan dengan Indonesia. Ribuan kilometer panjangnya.

Menurut Pak Ismail Setia Usaha JAKIM Cawangan Sarawak, orang baru memeluk Islam di Sarawak lebih akrab kalau di panggil Saudara Kita ketimbang Saudara Baru, pak Ismail sang mantan Diplomat yang sudah bekerja menjadi setia usaha di JAKIM ini menjelaskan ada juga NGO di Sarawak yang  serupa dengan USIA Sabah,  yaitu HIKMA Sarawak , yang juga bergerak dalam dakwah Islam.

Mungkin karena luas negeri Sabah hanya setengah luas dari Negari Sarawak begitu pun populasi penduduknya enam kali lebih banyak dari pada negeri Sabah, polulasi penduduk Sabah sekitar 300 ribu jiwa, agama Islam belum menjadi mayoritas di Sarawak.  Sehingga perlembagaan negeri Sarawak belum bisa meluluskan sebagaimana  DUN  Sabah meluluskan dan mensahkan  Islam is the religion of the state.

Selain Kuching sebagai ibukota Negeri , ada lagi beberapa kota lagi di Sarawak, seperti kota Miri, kota ini berbatasan langsung dengan Brunei, sebagai tempat ceck point pemeriksaan Imigrasi.  Di Miri banyak perhikmatan bus yang menuju ke Kuching hampir setiap jam, dan dari Miri pun ada Damri perusahaan Bus Indonesia yang menuju ke Pontianak Kalimanatan.

Boleh dikatakan Miri adalah salah satu kota tersibuk di Sarawak, namun Kota Kinabalu di Sabah adalah negeri kedua tersibuk penerbangan nya setelah Kuala Lumpur.

Fasilitas Umum yang Minim.

 

Photo bersama Katua Pengerusi JAKIM Cawangan Sarawak.

Photo bersama Katua Pengerusi JAKIM Cawangan Sarawak.

Kalau di Sabah Saudara Baru, di Sarawak Saudara Kita di Indonesia apa ya.? Ada yang menyebut orang baru masuk Islam itu adalah  Muallaf tetapi di Batam kami menyebut nya Muhtadin, kata almarhum Haji Adamri Al Husaini mantan Ketua MUI Kota Batam dulu, Muhatadin artinya adalah orang yang diberi petunjuk.

Perjalanan di dalam bulan Ramadan seperti kami memang ada ruksa, yaitu boleh tidak berpuasa, tetapi kami semua nya berpuasa. Pagi selepas Sahur dari rumah kediaman DR Gamal di Brunei, dengan mini bus kami bertolak ke Miri, perjalan sebenarnya  di tempuh sekitar 2 jam, tetapi ada pemeriksaan imigrasi di perbatasan, jadi memakan waktu tiga jam.

Di Miri kami memesan tiket yang langsung ke Kuching, harga per orang nya berkisar dari 70 sampai 90 ringgit Malaysia, wanti wanti ke kounter bus minta yang direct sama seperti bila kita hendak ke Bangkok dari Kuala Lumpur atau dari Singapura Ke Hatyai (Thailand) , ternyata hal itu tak berlaku di Sarawak. Hampir semua stasiun bus yang ada sepanjang perjalanan di singgahi, malahan penumpang di tengah jalan pun bisa menyetop dan diangkut.

Kami memesan bus dengan kursi jejer tiga,  bukan yang empat sit , agar lebih selesah kata orang Malaysia, dan tentunya harganya lebih mahal, berangkat sekitar pukul 2 setengah petang. Menunggu keberangkatan karena masih ada beberapa jam lagi  kami berkeliling dulu di Pasar Miri, suasananya tak begitu jauh dengan pasar Tanjung Pantun dan DC mall di Batam

Tak ada apa yang di beli disitu, masuk waktu Juhur kami sudah berada di terminal Bus, Hari itu Ahad (22/8) , sejak pagi hujan turun , terkadang berhenti sebentar dan lebat kembali. Tak ada fasilitas mushalla di terminal itu. Kami tanyakan kepada petugas yang berseragam dimana kalau mau shalat, dia menunjukan ada bangunan sekolah di sebelah timur terminal. Rupanya hari Ahad semua pagar sekolah itu terkunci.

Seorang ibu mungkin dari suku Kadazan mendengar perbincangan kami, dia mengatakan kalau di Petronas ada tempat shalat, Petronas adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kalau di Indonesia Pertamina. Kesana lah kami pergi di bawah hujan rintik rintik, mendekati lokasi Petronas yang berbatasan dengan Kantin dan lapangan parkir terminal, seorang ibu yang sedang menyingkap celananya menyapa kami ” Tak boleh lalu kesitu, air dalam” sembari menunjukkan betis nya bahwa untuk ke lokasi Petronas jalan pintas memotong harus melalui rawa rawa yang sekarang sedang di genangi air.

Kami pun berputar lagi hari sudah hampir pukul 2 , melalui kantin terminal yang banyak di penuhi orang menjual makanan. Karena kami membawa bekal lauk dari Batam, kami pun membeli nasi putih saja di pojok terminal ada seorang ibu yang memakai kerudung. Untuk ke tempat membeli nasi tadi kami agak menghindar jauh karena sebelum ketempat itu adalah tempat penjualan babi segar.

Kalau harus shalat di Petronas, kita mesti berputar lagi keluar terminal, rasanya sudah letih berputar putar dan bisa jadi ketinggalan bus. Untuk shalat Juhur dan shalat Ashar hari itu kami jamak dan qasar, dan tempat shalat yang kami pilih adalah di bangku terminal Miri. Kayak nya tak ada lagi tempat yang ideal untuk shalat waktu itu, karena hujan dan lapangan becek dan jorok.

Chek Ismail dari JAKIM, di KJRI Kuching Sarawak

Chek Ismail dari JAKIM, di KJRI Kuching Sarawak

Ratusan mata memandang kami berganti ganti shalat di terminal satsiun Bus Miri, hal itu lah yang kami utarakan saat berjumpa dengan Ketua Pengerusi JAKIM di Kuching saat beraudensi.

Shalat dan Sahur di Bus

Shalat Magrib dan Isya, kami jamak dan qasar kembali, dan shalat nya di dalam bus sambil duduk. Bus yang kami tompangi tidak behenti saat waktu berbuka, jadi kami berbuka di dalam bus. Rupanya supir bus sudah tahu kalau kami berpuasa, lampu di dalam bus di terangkan nya, sehingga dapatlah kami berbuka sekadarnya.

Bus kemudian berhenti sekitar pukul sembilan malam, tetapi bukan di terminal bus umum, jauh di luar kota Sibu berhenti di tempat atau kedai nasi yang memang disiapkan oleh pengusaha bus, seperti di Indonesia juga, setiap perusahaan bus masing masing punya kedai nasi langganan.

Niat mau makan sepuasnya disitu tak terlaksana, seorang tukang masak nya dengan bertelanjang  dada, agak berkeringat perut nya gendut , terlihat pusat nya membawa nampan berisi mie di dalam mangkok. Kami hanya numpang buang air kecil dan berwuduk disitu, “tak larat rasanya nak makan dengan aroma yang spesial seperi itu”. sambil tersenyum Aries Kurniawan dan kawan yang  lain sepakat kalau kita kembali ke Bus makan sebisanya di bus.

Semua perihal kami ini kami ceritakan juga dengan dengan pengerusi JAKIM, mereka meminta kami menyampaikan langsung kepada Datuk, Datuk yang dimaksud adalah Menteri Besar Sarawak yang dalam rencana akan berjumpa dengan rombongan kami esok Selasa (24/8)  petang sekitar pukul 4 . “Alangkah baik nya hal ini pak sampaikan langsung ke Datuk, terasa berbeda bila kami yang menyampaikan”  pinta Ketua Pengerusi JAKIM berulang ulang.

Sayang kami tak dapat langsung menyampaikan hal itu kepada Menteri Besar Sarawak sebagai mana yang sudah di jadwal kan oleh JAKIM dan KJRI Sarawak karena  rombongan kami  dari Batam akan bertolak ke Johor Bahru dari Kuching hari itu juga Selasa (24/8)  pada pukul 11 tengah hari.

Ya semoga perjalan berikut nya ada fasilitas mushalla di terminal-terminal Bus , dan lagi, ada perhikmatan Bus seperti Transnasional, yang akan berhenti di terminal yang banyak menjual makanan halal dan berhenti sesuai dengan waktu shalat.

Penerimaan Siswa Baru Hati – Hati Mencari Sekolah Swasta.


Sekedar tip bagi orang tua yang hendak memasukkan anak nya di sekolah swasta.

Penerimaan Siwa Baru di Sekolah Islam Hang Tuah Batam...

Penerimaan Siwa Baru di Sekolah Islam Hang Tuah Batam...

Di Jakarta (DKI) Penerimaan Siswa Baru (PSB) on line bermasaalah, di Batam pun ada di beberapa sekolah yang PSB online bermasalah seperti ada dua nama yang sama, namun hal itu tidak jadi masaalah, tetap nama dan rangkin dibawah nya bisa masuk.

Di Batam ribuan siswa mulai dri TK, SD , SMP, SMA dan SMK tak tertampung di sekolah yang dikelola oleh pemerintah, di sekolah swasta, banyak kursi kosong.

Banyak sekolah swasta di Batam bertumbuhan bak cendawan di musim hujan, ada yang di rumah toko (ruko) bekas gudang, bekas hotel  disulap menjadi sekolah.

Mereka menawarkan bermacam – macam fasilitas pendukung, bahkan ada yang menjanjikan dapat kerja langsung setelah tamat. Bukan main, tipu tipu.

Sekolah ini terletak di Bengkong Polisi telah puluhan tahun berdiri

Sekolah ini terletak di Bengkong Polisi telah puluhan tahun berdiri

Sebenarnya bila sekolah itu beriklan dapat menjamin langsung dapat kerja , ternyata tidak dapat kerja , hal itu jelas melanggar Undang – Undang , dapat dipidana penyelenggara sekolah nya.

Untuk itulah bagi orang tua yang terpaksa harus menyekolahkan anak nya ke sekolah swasta berhati – hati memilih sekolah, jangan tergiur oleh iklan yang menyesatkan tadi.

Spanduk seperti ini harus dicermati, dilihat benar tidak adanya.....

Spanduk seperti ini harus dicermati, dilihat benar tidak adanya.....

Bagi orang tua muslim hendaknya sekolah kan lah anak – anak nya di sekolah yang dikelola oleh orang muslim. Karena semua sekolah swasta punya misi dan visi.

Dan simpan lah iklan mereka yang beriklan di media yang menyatakan ini dan itu , karena dengan iklan itu kita dapat menjerat mereka dengan hukum.

%d blogger menyukai ini: