Pulau Bulang Lintang Batam Indonesia


1488247_770456819635058_691531731_nMasih banyak warga Batam belum tahu mengapa Stadion Olah Raga di Muka Kuning diberi nama Tumenggung Abdul Jamal.
Seorang Tumenggung Kesultanan Johor Riau Lingga yang bernama Abdul Jamal itu,  dulu, bermastautin di Pulau Bulang Lintang ini , makam beliau masih terawat dengan baik.

Konon tempat kediaman sang Tumenggung, dibakar habis oleh Belanda.1499550_770464699634270_167991463_n

Kalau kita kesana, disekitar komplek pemakaman keluarga Tumenggung,  banyak terlihat batu nisan yang sudah berumur ratusan tahun.
Pulau Bulang Lintang dulu sebagai pusat perwakilan kerajaan, kini hanya sebuah desa sepi, meskipun pemerintah Batam menetapkan Pulau ini sebagai ibukota kecamatan Bulang, tetapi pak Camat tak mau berdiam di pulau ini lagi.

Petang 22/12/ 2013 yg lalu, kami mengunjungi Pulau itu lagi, bersama dengan kami ikut beberapa teman dari Kepulauan Sulu atau Jolo Selatan Piliphina, namanya Prof. Neldy Jolo, beliau seorang ahli sejarah Melayu.

Dari Pelabuhan Sagulung Batam ke tempat itu naik speadboat hanya 15 menit saja, dan ongkosnya 10 ribu rupiah perorang.1524963_770464932967580_1012706146_n
Di Batam, kini ratusan pelajar dari berbagai negara Asean, Piliphina, Kamboja, Vietnam, Thailand, Malaysia, tentu saja dari Indonesia lebih banyak, ikut bersama kami. Mereka sedang menuntut ilmu di Mahad Said bin Zaid. Mendengar tutur bahasa mereka menjadi keunikan tersendiri. (imbalo)

Kisah Tok Lambertus Laba Masuk Islam


tok laba dan tok Nur melaksanakan shalat pertama kali setelah masuk Islam

tok laba dan tok Nur melaksanakan shalat pertama kali setelah masuk Islam

NAMANYA Lambertus Laba, lahir di Lembata Flores, sejak muda lagi telah meninggalkan kampung halamannya. Tok Laba demikian dia disapa oleh cucu-cucunya, bahkan orang tua ini telah punya beberapa orang cicit. Laba, nama marga suku di Nusa Tenggara Timur sana.

Kamis 31 Oktober 2013 di rumah nya yang sederhana, rumah diatas laut, perkampungan SUKU LAUT, Pulau Lingka Batam, tok Laba yang sepanjang usianya adalah penganut Katolik, mengucapkan Dua Kalimat Syahadat meskipun dengan terbatah-batah. “Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah” ucap tok Laba, maklum tok Laba dua kali diserang strok. Sejak mengucapkan Syahadat, nama tok Laba berubah, diganti menjadi Muhammad Laba.

Rumah tok Laba di Pulau Lingka Bersama anak , menantu dan cucu cucu tok Laba

Rumah tok Laba di Pulau Lingka Bersama anak , menantu dan cucu cucu tok Laba

Apa gerangan yang mempengaruhi tok Laba berubah keyakinan? Ternyata cucu-cucunya yang telah terlebih dahulu ber-agama Islam.
Setiap hari, berangkat dan pulang mengaji di surau kecil di belakang rumah panggung mereka, cucu-cucu tok Laba acap dan mesti menyalami kedua orang tua itu.

Demikan pula ketika sang cucu hendak pergi shalat, sang Atok pun diajak dan ditanya. Rupanya sapaan dan ajakan untuk pergi shalat bersama oleh sang cucu yang comel itu dapat mengugah hati tua tok Laba.

tok Laba , tok Nur

tok Laba , tok Nur

Tengah hari itupun bersama tok Laba, tok Nur isteri yang telah dinikahi oleh tok Laba hampir 50 tahun lalu, ikut bersama berikrar, bahwa, Tuhan mereka kini Allah, Satu, tidak Tiga, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sekutu baginya. Tok Nur, meskipun dilahirkan di sampan diberi nama Nur Mardiah, sehingga saat mengulang ucapan Dua Kalimat Syahadat, tak harus berganti nama.

Tok Nur adalah perempuan suku Laut yang lugu, terlahir dan besar hinggakan tua bersama dengan sukunya. Suku Laut seperti tok Nur ini, banyak mendiami perairan Batam, mereka memakai adat istiadat Melayu, seperti panggilan tok.

Ratusan bahkan mungkin ribuan keluarga seperti tok Nur ini, mereka tak terjamah dakwah, yang mereka terima malah info dan cerita salah, bahwa suku Laut tak beragama, sehingga bebaslah para misionaris menggarap mereka.

Hal yang perlu diluruskan bahwa Suku Laut yang ada di perairan Batam bukan tidak beragama, kita bisa merujuk perang saudara antara Laksamana Lingga dgn Laksamana Bintan, kisah mangkatnya Sultan Mahmud II dan tidak adanya yang mengajari mereka tentang agama Islam itu yang membuat mereka demikian.

Buktinya, Ustadz Beny yang kini menetap disitu dengan tekun membimbing dan menuntun mereka, keluarga suku laut yang ada di Pulau Lingka itu.
Meskipun tak jauh dari kediaman tok Laba ada gereja besar dan megah, hati tok tok berdua, luluh dan lebih memilih Islam, melihat akhlak cucu-cucu mereka, san cucu tetap hormat dan sayang, walau berlainan agama. (Imbalo)

Mak Dayang, Perempuan Suku Laut Yang Tegar


Enam kali sudah lebaran sejak kenal Mak Dayang, barulah tahun 2013 ini Mak Dayang datang berkunjung ke rumah kami di Batam. Mak Dayang tidak sendiri puluhan kerabatnya ikut bersama.

SONY DSC
Mak Dayang adalah perempuan Suku Laut, kini menetap di pinggir pantai dapur arang Selat Desa. Sebelumnya keluarga Mak Dayang hidup diatas sampan berpindah pindah (nomaden).

Selat Desa, pemukiman Suku Laut itu hanya sekitar 30 menit dengan pompong dari pelabuhan Telaga Punggur. kecamatan Nongsa
Pertengahan tahun 2008 lalu, Mak Dayang dan Pak Din datang ke Pusat Dakwah Muhammadiyah (PDM) di Tembesi. Pak Din adalah ketua Suku Laut, Mak Dayang pula kakak dari Pak Din. Pak Din tinggal di Air Mas.

Mereka sengaja datang ke PDM untuk mengadukan nasib 8 kepala keluarga Suku Laut yang masih setia dalam Islam, lainnya telah berpindah agama, termasuk putra putri Pak Din dan Mak Dayang sendiri.”Sudi apalah kiranya, saudara Islam datang menjenguk dan membantu kami” itulah keluhan kedua kakak beradik ini.

Di Air Mas dan Selat Desa, dipemukiman Suku Laut tempat bermukim kakak beradik yang sudah bercucu ini, hampir semua mereka bersaudara.

Sebenarnya bukan hal perpindahan agama itu saja yang merunsingkan hati Mak Dayang, tangkapan ikan sudah sangat jauh berkurang sebagai sumber penghidupan mereka, laut tercemar, perairan tempat menangkap ikan mereka dilalui hilir mudik ferry cepat dari ke Tanjung Pinang – Batam.

Alih Profesi?

Mak Dayang pun sudah semakin tua dan lemah, “Dah tak larat lagi nak kelaut.” ujar Mak Dayang suatu ketika. Kini, sesekali Mak Dayang bersama teman-temannya datang ke Telaga Punggur, mengumpuli barang bekas, dari tempat pembuangan sampah. Barang yang masih berguna dijual kembali, setelah dicuci bersih.

Akhir tahun 2009, tak jauh dari pondok Mak Dayang kami dirikan sebuah mushala kecil, atas permintaan Mak Dayang. Disitu pula menetap seorang Dai, ustadz Masri namanya. Sehingga bisalah mereka belajar agama, terutama anak-anak mereka dapat juga belajar mengaji.

Style Mak Dayang dengan Jilbabnya....... tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek.... satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya......... banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama.....

Style Mak Dayang dengan Jilbabnya……. tak kesah nak pakai seluar pendek diatas lutut dan baju kaos lengan pendek…. satu dari perempuan suku laut yang masih tetap dalam Iman Islam nya……… banyak yang seperti Mak Dayang berpindah agama…..


Kini telah belasan kepala keluarga Suku Laut yang beragama Islam. Shalat jumat pun telah dilaksanakan di kampung itu.

Ada bantuan Generator Set dari LAZ Masjid Raya Batam. Sepan-jang usia Mak Dayang, hampir sama dengan usia Indonesia Merdeka, barulah itu Mak Dayang menikmati terangnyanya lampu listrik walaupun itu hanyadari pukul 6 petang ke pukul 10 malam.

Baru-baru ini sudah dibangun pula pelantar di pemukiman Suku Laut itu, pelantar bantuan dari Pemko Batam.

Menjelang Idul Fitri 1434H yang baru lalu kampung Selat Desa dikunjungi sahabat dari Singapura, Alhamdulillah, lumayan jumlah infaq yang diterima mereka.
“Bisalah untuk tambang ke Batam naik keri, berhari raya” kata Mak Dayang sambil tersenyum menjeling.

Sebenarnya teringin sekali nak membawa Mak Dayang sekeluarga orang Selat Desa, keliling Batam yang jarang dikunjungi mereka, tetapi hari itu juga aku harus segera ke Teluk Nipah Galang Baru, karena Pak Dul teman lama meninggal dunia. (Imbalo)

Awang, Suku Laut dari Pulau Caros


Julius (Jefriandi) , Mirna, Awang Sabtu dan penulis

Julius (Jefriandi) , Mirna, Awang Sabtu

Lama juga kami tak bersua, dan lama pula tak mengunjungi Pulau Caros . Petang kemarin  aku hubungi pak Awang, Awang dari Pulau Caros, lelaki 50 an ini lebih dikenal dengan panggilan Awang Sabtu.  Rencana nak ke Caros, ada sedikit paket lebaran yang akan diserahkan. “Sekarang kami sudah 15 kepala keluarga ” ujar pak Awang melalui ponselnya. Dan tak lama kemudian masuk sms , tertera nama-nama kepala keluarga yang dimaksud. Salah satunya tertulis Jefriandi, suami dari Mirna.

Mirna anak perempuan pak Awang dari delapan bersaudara. Dan hanya Mirna pulalah anak pak Awang yang pernah bersekolah sampai kelas 3 Sekolah Dasar. Aku tahu persis  itu tulisan Mirna.  Agak terkesima sedikit membacanya,  seingatku nama suami Mirna adalah Julius, dan beragama Katolik. “Iya pak sejak masuk Islam, nama Julius diganti Jefriandi” tulis Mirna lagi.

Aku teringat 2 tahun yang lalu, Agustus tahun 2011,  persis bulan Ramadhan juga, kami mengunjungi Caros. Mirna, sudah menikah dengan Julius,  ketika menikah itulah Ia  berpindah agama mengikuti agama suaminya.  Acara kami di Pulau Caros, meresmikan pemakaian sebuah mushala kecil yang dibangun di perkampungan Suku Laut, tempat pak Awang menetap. Semua penduduk kampung itu adalah keluarga pak Awang.

Mukenah Untuk Mirna (silahkan klik dan baca)

Meskipun Mirna Katolik, dia hadir disitu. Karena kehadirannya itulah, Mirna pun mendapatkan sebuah mukenah, tentu atas persetujuan Julius suaminya. Dan kuminta Julius yang  memakaikan Mukenah itu kepada isterinya.  Saat itu terlihat mata pak Awang berkaca-kaca, Ia sangat terharu. Acap perihal Mirna yang berpindah agama ini diutarakannya kepadaku.

dua tahun yang lalu saat Mirna mencoba memakai Mukenah, waktu itu dia beragama Katolik

dua tahun yang lalu saat Mirna mencoba memakai Mukenah, waktu itu dia beragama Katolik

Awang Sabtu, menyadari betul kemampuannya tentang agama yang dianutnya, jangankan shalat, syahadat saja pun tak mampu diucapkannya. Dia adalah suku laut, yang tak pernah belajar tulis baca, hidupnya lebih lama diatas sampan, berpindah pindah dari selat ke selat, hampir semua teluk dilayarinya.

Awang muda menetap di Caros,  setelah ada Dapur Pembuat Arang Kayu. Meskipun dekat dengan Rempang Batam, awalnya kampung Caros  termasuk wilayah Tanjung Pinang.  Puluhan tahun menetap disitu, nyaris tak ada saudara muslim yang menjenguk dan mengajar  mereka tentang Islam.   Malah yang rajin datang dan rutin setiap hari minggu, adalah perahu bermotor yang membawa anak-anak pak Awang ke gereja yang ada di seberang pulau.

Buka Bersama

Petang, setelah keesokan harinya kami berjumpa,  pak Awang terlihat berpakaian rapi dan sangat gembira , sudah 6 bulan ini Mirna kembali ke memeluk Islam. Bukan Mirna saja, Juliuspun turut serta mendapat hidayah. Seorang lagi anak lelaki pak Awang yang sudah berkeluarga bernama Minggu dan isterinya, yang dulu rajin ikut perahu bermotor, setiap hari minggu ke gereja, pun mengucapkan syahadat bersama.

Rupanya petang itu pak Awang  sekeluarga di undang oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau ke Batam, untuk berbuka bersama.   “Iya kami tidur di Batam” kata pak Awang. “Tetapi tak semua kesana , ada Den dan Halimah ” jelas pak Awang lagi.

Pak Awang nak ngusulkan kepada pak Wagub agar dibuatkan satu rumah kecil untuk ustadz yang nak tinggal di Caros , “Jadi bolehlah, ade imam kami shalat di mushala kita itu” harap pak Awang lagi dengan logat melayunya. “Sekarang ni ade ustadz yang datang setiap hari sabtu dan minggu saje ketempat kami, tetapi pulang hari” jelas pak Awang

Insyaallah, semoga terkabul keinginan pak Awang Sabtu itu.

 

Chang Wu Lim : Mengenal Islam Dari Internet



“Sejak umur 13 tahun saya sudah tertarik dengan Islam”. ujar Chang Wu Lim. Akhirnya, setelah sepuluh tahun kemudian, pria kelahiran Pontianak ini, terlaksana keinginannya mengucapkan Dua kalimat syahadat, tepatnya di Bulan Nopember 2012, di Batam.

Deny Boy demikian Chang Wu Lim selalu disapa. “ Saya, banyak belajar Islam melalui internet” ujarnya lagi. Deny, tidak sempat mengecap pendidikan formal. Tidak pernah duduk di bangku Sekolah. Maklumlah hidupnya sejak kecil berpindah-pindah, terkadang diasuh neneknya, terkadang pula bersama bibinya. Deny pun tak sempat kenal ayah kandungnya, sementara ibunya sudah menjadi warga Negara Singapura . Tetapi Deny dapat membaca dan menulis.

Lamanya juga Deny kecil berada dibawah asuhan sebuah lembaga keagamaan, disitu awal dia mendapat hidayah, ada pertanyaan yang terus mengganj al dihatinya. “Mengapa rupa Tuhan berubah-ubah.” ?

Deny yang saat itu beranjak remaja, pun selalu ingin tahu, Manusia koq nyembah manusia. Jabawan dari Pertanyaan itu, didapatkan nya melalui internet. Tambah man tab hatinya ingin memeluk Islam, tetapi Deny belum tahu hendak kemana, tempat dan teman yang dituju.

Diawal tahun 2012 Deny berke nalan dengan seseorang yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya di Batam Center, ustadz demikian Deny memanggil nya, ustadz itulah yang membim bingnya mengucapkan syahadat. Tepat di usianya yang ke 23 tahun “Tetapi saya belum dapat surat lagi” terang Deny kepada Buletin Jumat (BJ).

LAZ Masjid Raya Batam

Deny, bertemu dengan BJ saat pengukuhan kepengurusan Persa tuan Perantau Muslim Medan dan Sekitarnya (PPMMS) pada Sabtu (7/4/13) lalu, di Asrama Haji. Pulu han para muhtadin (orang yang diberi petunjuk) binaan LAZ Masjid Raya Batam hadir disitu, termasuklah Deny. Perihal Deny kini ditangani oleh Masjid Raya Batam.

Alhamdulillah, rencana akan ada bantuan modal usaha kepada Deny berupa gerobak jualan minu man ringan. Gembira sekali terlihat Deny, dengan adanya bantuan itu bolehlah dia mulai mandiri. “Saya tidak mau menjadi beban, dan ja ngan karena ke-mualafan saya ini, orang merasa kasihan”. Ujar Deny.

Hal itu dibenarkan oleh Syari fuddin pengurus LAZ Masjid Raya Batam. Mereka akan segera membantu pengurusan surat-surat ke-Islaman Deny dan sekar ang tahap pelatihan usaha minu man ringan itu.

Fasos dan Fasum di Komplek Pemukiman


 

FASILITAS sosial adalah fasilitas yang diadakan oleh pemerintah atau pihak swasta yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum dalam lingkungan pemukiman. Contoh dari fasilitas sosial (fasos) adalah seperti puskemas, klinik, sekolah, tempat ibadah, pasar, tempat rekreasi, taman bermain, tempat olahraga, ruang serbaguna, makam, dan lain sebagainya.

Dan pengertian fasilitas umum adalah fasilitas yang diadakan untuk kepentingan umum. Contoh dari fasilitas umum (fasum) adalah seperti jalan, angkutan umum, saluran air, jembatan, fly over, under pass, halte, alat penerangan umum, jaringan listrik, banjir kanal, trotoar, jalur busway, tempat pembuangan sampah, dan lain sebagainya.

Penghuni kompeks permukiman bisa melakukan gugatan class action jika pengembang tidak membangun fasilitas perumahan yang dijanjikan pada saat tran saksi. Berdasarkan Undang-undang no.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, gugatan terhadap pengembang juga bisa dilakukan secara individu.
Pada prinsipnya, penghuni sebuah kompleks perumahan adalah konsumen atau pengguna akhir dari suatu produk barang atau jasa. Oleh karena itu, ia dilindungi UU Perlindungan Konsumen.

Dari mulai fasilitas yang tidak sesuai dengan brosur penawaran sampai soal cicilan lunas tapi sertifikat tidak keluar. Selain itu, juga masih banyak pengembang yang tak menyediakan fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas sosial (Fasos) sesuai aturan.

Ancaman bagi pengembang yang tidak melakukan kewajiban membangun Fasum dan Fasos adalah denda hingga 2 milyar rupiah, atau penjara selama 5 tahun.
Izin membuka perumahan pada pengembang tidak dapat dikeluar kan jika belum memenuhi persyara tan yang telah ditetapkan.
Diantaranya, perumahan yang dibangun harus dilengkapi fasum dan fasos. Perbandingan antara luas fasum dan fasos dengan luas permukiman adalah sekitar 40 banding 60.

Meski begitu, perbandingan/ persentase tersebut tergantung besar kecilnya kompleks peruma han yang dibangun. Untuk peru mahan kecil, yang luas arealnya kurang dari 5000 m2, lahan fasum-fasos bisa 20 atau 30 %.

Kebanyakan digunakan untuk jalan, drainase, gorong-gorong, brangang dan lahan terbuka.
Semua kompleks perumahan harus memiliki fasum dan fasos, meski persentasenya berbeda-beda. Kalau mereka tidak punya, izinnya pasti tidak akan keluar.

Fasum dan Fasos juga harus tercantum dalam site plan, untuk menjadi salah satu persyaratan izin. Selain itu, pengembang juga diharuskan menyediakan areal pemakaman seluas 2 % dari total lahan yang dikembangkan. (*)

Pabrik Bir di Batam


Restoran disponsori Minuman Beralkohol

Adalah Ilham Eka Hartawan Kasubdit Humas dan Publikasi Badan Penguasahaan (BP) Batam mengatakan, bahwa rencana Investasi yang akan ditanamkan perusahaan asal Swiss, semakin meningkatkan citra Batam sebagai salah satu tujuan investasi utama kawasan Asia-Pasifik.

Investasi yang akan ditanamkan perusahaan asal Swiss itu adalah pabrik Bir, bernilai 250 juta Dolar Amerika (AS).
Selain membangun pabrik Bir, kata Ilham investor juga akan membangun fasilitas untuk menikmati Bir bagi para wisatawan seperti cafe Bir. BP Batam pun diminta menyiapkan lahan seluas lima hektar.

Bandar Dunia Madani?

Selama ini kita mendengar Batam adalah Bandar Dunia Madani. Apa hubungannya dengan Bandar Dunia Madani.? Setahu saya tidak ada perda ataupun perangkat hukum yang mengatur dan menyatakan bahwa Batam Bandar Dunia Madani, jadi sah sah saja kalau di Batam di bangun pabrik Bir, kata seorang teman. Dalam Undang Undang Batam adalah Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ).

Namun Ketua MUI Kepri, Haji Azhari Abbas, yang dihubungi Buletin Jumat, rabu (14/03), tidak sependapat. Beliau tidak setuju adanya pabrik minuman beralkohol itu di Batam. “Kalau betul, kita akan pertanyakan hal ini, kita akan ajak hearing DRPD, Walikota Batam dan juga BP Batam.” ujar nya . “Sudah enggak betul itu” sambung Ketua MUI asal Aceh itu.

Kebutuhan Bir di Batam
Sementara itu, Marganas Nainggolan, wartawan Senior koran harian Lokal Batam, menyebutkan, “Memang semakin enggak jelas arah visi, misi Batam ini”. tulisnya melalui sms
Beberapa Tahun yang lalu Marganas yang kini Direktur Utama dan juga Ketua Dewan Redaksi koran terbesar di Batam, pernah menulis bagaimana melimpahnya Bir masuk ke Batam, seakan tak wajar, tetapi itulah kenyataannya. Minuman beralkohol, haram dikonsumsi umat Islam ini, jumlah liter yang masuk dibagi dengan jumlah penduduk Batam, termasuklah bayi, adalah, seorang mengkunsumsi 3 liter perhari. Mungkin itu membuat investor asal Swiss ini tergiur membangun pabrik Bir di Batam.

Rumah Makan Padang Terkenal Pun Gunakan “Anciu”


Bukan berarti kalau disebut Restoran Masakan Padang, makanan yang disajikan Rumah Makan itu sudah pasti di jamin Halal.

Hal itulah yang ditemukan oleh Halal Watch di Jakarta, ada tiga Resto Masakan Padang yang cukup terkenal di Jakarta dan Indonesia, menggunakan Anciu [sejenis arak] dalam masakannya. Karena keserakahannya dan gelap mata menggunakan barang haram tersebut, dengan maksud ayam yang disajikan tetap empuk dan cepat dalam penyajian.

Tidak di Jakarta, di Batam pun banyak Resto Masakan Padang, yang tidak jelas kehalalannya, ada sebuah Reto Masakan Padang terletak di daerah Nagoya, bernama Pagi Sore, awalnya mulai jualan, pemotong ayamnya ber agama Islam dan telah dilatih oleh LP POM MUI, namun belakangan sang petugas berhenti. Dan jadi
lah sang pengelola bertindak merangkap jagal, pada hal Dia non muslim.

Sebuah Resto lagi yang bernama Sanur, Resto ini terletak di Batam center, mengembalikan sertifkat halalnya karena tidak dibenarkan memakai dan menjual barang yang beralkohol.

Sebenarnya tanpa penamba han zat perasa pada masakannya, masakan Padang sudah pasti lezat. Jika mengikuti pola masakan Padang yang sebenarnya, daging ayam itu akan empuk jika dimasak dalam waktu yang lama. Yaitu tadi, dengan alasan ekonomis, mereka mencari jalan pintas, dengan harapan menghemat. Namun mengorbankan umat Islam, karena mengabaikan kehalalannya.

Di Bandara Hang Nadim tidak semua Resto Masakan Padang mempunyai sertifikat Halal. Sebagai konsumen muslim, kita tidak usah segan dan takut menanyakan kehalalan masakan di Resto yang belum pernah kita singgahi apalagi jelas jelas tidak mempunya sertifikat halal.

Di depan pintu masuk Mall Nagoya Hill ada Resto Masakan Padang, sang pengelola bukan orang Minang. Beberapa waktu yang lalu di Resto itu ada tulisan halal tidak standar MUI, alasan sang Kasir yang juga merangkap sebagai pengelola semua karyawan dan tukang masaknya adalah orang Muslim. Dan memang menurut pengakuan juru masak, mereka tidak menjual dan memasak babi. Mempromosikan halal tapi tidak berproduksi secara halal, dan tidak mempunyai sertifikat halal yang berlaku, adalah salah disisi Undang-Undang. Bisa dikenai hukuman Pidana dan Perdata.

Masih di Batam, dari penga matan Buletin Jumat, Resto atau Rumah Makan Masakan Padang ini, bila dikelola oleh orang Minang (Islam) , selalunya memakai nama agak khas, seperti Salero Basamo, Salero Bandaro, Salero Bagindo. Memang kita akui tidak semua yang memakai nama, seperti Pagi Sore, Siang Malam, Sempurna misalnya dikelola dan pemiliknya bukan orang Minang (Islam).

Untuk itulah kita sebagai konsumen harus hati hati dan teliti, dan berani bertanya, dan sebisa mungkin tidak makan di Resto yang tidak jelas kehalalannya. Resto itu akan tutup sendiri nantinya, kalau kita sepakat tidak mau makan disitu. Contoh rumah makan yang terletak di Nagoya (Pagi Sore) .

Pulau Boyan Rumah Pak Panjang


Dari Perjalanan Mengunjungi Pemukiman Sulu Laut

Dari Pelabuhan Sagulung, kami naik spead boat 40 PK. Hanya beberapa menit saja, persis disebalik sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sampailah kami di Pulau Boyan.  Pulau Boyan di dalam peta tertulis Pulau Bayan. Entah sejak bila, pulau kecil berpenghuni belasan kepala keluarga suku laut ini, berubah nama menjadi Pulau Boyan.

Pak Panjang Orang yang paling tua di pulau itu pun tak tahu persisnya. Sekitar tiga tahun yang lalu, kami dirikan sebuah mushala kecil disitu. Dai yang dikirim oleh AMCF, hanya bertahan setahun. “Sejak Ustadz Tasman tak ada, tak ada lagi yang mengajari kami me ngaji” ujar Ibu Ani.  “Di mushala jarang ada kegiatan”.lanjutnya Kami shalat Juhur dan Asyar di jamak dan diqasar berjamaah.

Di dalam mushala terlihat bersih, tetapi hampir seluruh dinding plaster semen terkelupas. Mung kin dulu pasir yang digunakan bercampur dengan air asin, jadi mudah terkelupas. Dibagian luar dinding mushala pun demikian juga. Plasteran terlihat mengelem bung, seakan ingin berpisah deng an pasangan batunya.

Pulau kecil masuk dalam kelu rahan Pulau Buluh dan kecamatan Bulang ini, tidak ada sumber air tawarnya , tetapi Alhamdulillah saat wuduk tadi, tandon 1000 liter sumbangan dari seseorang yang tak mau disebut namanya, berisi air, walaupun tidak penuh. Beberapa kali ada lembaga sosial survei kesitu, ingin membantu membuat sumur bor, tapi hingga kini belum terwujud.

Beberapa tahun yang lalu pu lau kecil yang eksotik ini, ramai di kunjungi kapal kapal kecil yang lalu lalang, untuk mengisi minyak. Disitu dulu, ada pangkalan pengisi an bahan bakar minyak (BBM). Masih terlihat beberapa buah tangki dari baja yang sudah mulai berkarat. Perpipaannya pun masih rapi terpasang. Diantara pipa – pipa dan tangki BBM itulah ada jalan setapak menu ju ke pantai, kerumah ibu Ani. Bu Ani mengharapkan ada seorang Dai lagi datang ke situ, agar dapat mengajari mereka tentang Islam.

Pak Panjang Dari jauh , melihat kami datang, ter gopoh gopoh pak Panjang datang, Pria tua 70 tahunan ini tersenyum, terlihat giginya rapi, rupanya baru dipasang gigi palsunya. Pak Panjang punya beberapa orang anak perempuan , seorang anak perempuannya bernama Fatimah menikah dengan warga keturunan dan hingga kini meme luk agama suaminya. Begitu juga cucu lelaki bu Ani, menikah dan mengikut agama isterinya.

Tak banyak yang dapat kami lakukan, hanya mendengar cura han hati dari penduduk kampung pulau Boyan itu. Pulau Boyan, mau dikatakan pulau terpencil, tidak juga. Hanya beberapa menit saja dari Batam, kota Metropolitan yang sibuk dengan segala kegiatan.

Tak jauh dari pulau itu ratusan kapal – kapal besar bersandar dan berlabuh menunggu perbaikan. Tentunya itu semua adalah devisa, yang tak menyentuh kehidupan mereka. “Umur saya paling juga 3 tahun lagi” ujar pak Panjang kali ini dia tidak tersenyum, tetapi tertawa, tampak semua gigi palsu nya. “Kapan kampung kami ada listriknya”. rungutnya.

Pantas pak Panjang merungut, tak jauh dari pulau itu pipa Gas diameter besar mengalir ke Singapura, puluhan kilo meter panjangnya. Aku tersenyum, lalu mengajak nya photo bersama. Kumasukkan lembaran berwarna biru ke dalam sakunya, itulah yang dapat kula kukan. Dan Aku tak mau berjanji, tapi isnyaAllah, akan kukabar kepada Datuk Bandar, mudah mudahan beliau mendengar.

Kami tinggalkan pulau Bayan, bersama Adi Sadikin dari Malaysia, Ita Hasan Si Pulau Terluar, Aisya dari Pekanbaru, Jogie dari Hang Tuah, Sabri anak jati pulau Bulang dengan lincahnya menjadi tekong kami menuju destinasi yang lain.

Hari pun beranjak petang. (*)

Info Halal : Selanjutnya Terserah Anda


Makanan halal menjadi tidak halal, ada beberapa faktor penyebabnya. Seperti masakan laut (seafood) misalnya, makanan yang sangat banyak penggemarnya ini, menjadi tidak halal apabila bumbu masak nya terbuat dari yang tidak halal.

Hampir semua masakan laut menggunakan saus, tidak afdol masakan itu tanpa saus. Apa lacur kalau saus digunakan dari barang yang tidak mempunyai sertifikat Halal?.
Seperti penuturan Herman (65) : “Kalau kami ganti sausnya dengan yang lain, langganan kami sudah terbiasa dengan saus yang itu” Ujar Herman pengelola Restoran Dju Dju Baru, sembari mengangkat sebuah botol tanpa label, berisi cairan bening dan kental.
Restoran Dju Dju Baru berada di seputaran Nagoya, Buletin Jumat (BJ) berkunjung ke Restoran itu kemarin, selasa (26/02). Adalah Ibu Yanti dari Telaga Punggur bertanya kepa da BJ tentang ke-halalan masa kan di Restoran itu.
“Restoran ini sudah 18 tahun, sejak kami dibelakang Hotel Harmoni” ujar Herman. “Tidak ada masaalah, tanpa sertifikat halal, langganan kami tetap ramai” Tambahnya lagi.
“Kalau ada sertifikat Halal, nanti kami tak boleh jual Beer, tak boleh ini tak boleh itu, banyak aturan” Jelasnya lagi. Herman pun menjelaskan kalau Restorannya tidak menjual Daging Babi. “Yang Jual Babi di Restoran Dju Dju satu lagi.” Ujar Herman.
Tidak berapa jauh dari Restoran Dju Dju Baru, persis disamping Hotel Dju Dju ada sebuah Restoran bernama Dju Dju, tanpa kata Baru, pengelola nya masih kerabat Herman.

Haram bukan karena unsur babi saja

Jadi, menurut sebagian orang, Halal itu cukup tidak ada babi. Sebagaimana pernyataan Herman. Menurut Herman tetamunya yang dari luar negeri selalu minta Beer, itulah sebab nya Restoran menyediakan minuman beralkohol itu.
Kalau tetamu dari dalam, jarang yang minta Beer. “Banyak juga tamu dari orang pemerintahan.” Ujar Herman lagi sambil terse nyum. Bahkan mantan orang nomor satu di Kepri ini pun acap makan di Restoran itu.
Semua mereka Muslim. “Kalau mereka datang lantai dua itu penuh, muat 50 orang” ujar Herman , matanya menga rah ke lantai dua Restoran itu.

Tidak Melanggar UU Perlindungan Konsumen

Kita tidak bisa memaksa Herman harus mengurus serti fikat Halal untuk Restorannya, tanpa itu pun pengunjung tak henti-hentinya berdatangan. Herman pun tak henti-henti nya menerima pembayaran uang dari pembeli selama kami berbincang.
“Sabar ya pak, Sabar ya pak, jangan tulis seperti itu. Nanti terdengar kasar, agak lembut sedikit.” ujar Herman kepada BJ. Sesaat BJ hendak meninggalkan Restoran itu.
Apa yang dikatakan Herman adalah benar, disisi Undang Un dang Perlindungan Konsumen, karena Restoran Dju Dju Baru tidak melanggar Undang-Undang. Herman tidak menyata kan Halal Restorannya :”Terse rah mau makan disini atau tidak, karena saya akan tetap menjual Beer dan menggunakan saus dan bumbu yang sama”.
Jadi terpulanglah kepada kita sebagai Muslim, peminat makanan laut yang masih peduli dengan halal dan haram. Kami anjurkan belilah dan konsumsilah makanan di tempat yang sudah berser tifikat Halal.

%d blogger menyukai ini: