Mengunjungi Karez, Turpan Urumqi Xinjiang Cina


CATATAN PERJALANAN DARI CINA
10325696_857915710889168_7567631160711394665_n
KAREZ dalam bahasa Uyghur berarti baik, tempat ini sekitar 200 kilometer dari Urumqi arah ke tenggara, Gansu, Urumqi adalah ibukota provinsi Xinjiang Cina.
10341999_857892830891456_6504423942862093238_n
Uyghur adalah penduduknya, dari etnik ras-ras Turki, dulu mereka mayoritas di Urumqi, sejak zaman Dinasti Han daerah ini sudah sangat terkenal, kafilah yang akan berniaga sutera mesti melalui daerah ini, istirahat, menambah bekal, sebelum meneruskan perjalanannya.

System pengairan di Karez, yang masuk wilayah Turban ini adalah salah satu yang teristimewa di Dunia, Kanal bawah tanahnya menyambung dari pegunungan Flaminggo lebih 5000 kilometer panjangnya, menghubungkan sumur sumur vertikal ribuan pula banyaknya, sumur-sumur vertikal itu digali dengan tangan, dibantu alat sangat sederhana, terkadang tanah dari dalam sumur itu ditarik oleh hewan.
10390404_857892750891464_1068834565655143786_n (1)
Kanal air bawah tanah ini mengalir dan teratur kecepatannya sampai di Karez, jadilah Karez tempat yang subur, ratusan hektar pohon anggur dan tanaman lainnya menghasilkan produksi yang tak henti hentinya.

Ada kesempatan berkunjunglah kesana, lihatlah betapa sayangnya Allah pada kita, negeri tandus, ribuan kilometer jauhnya dari laut itu pun menghasilkan Garam. Kanal bawah tanah di Karez ini disebut keajaiban dunia kedua setelah tembok Cina.

Jalur Sutera
Jalur Sutera yang terkenal sejak ribuan tahun yang lalu itu, kini tidak susah untuk dikunjungi, sekitar 3 jam dari kota Urumqi dengan kenderaan roda empat.
10325289_857892947558111_3337201705236970361_n (1)
Jalur ini pun dulu, pernah dilalui oleh sahabat Rasulullah SAW, Saad bin Aby Waqas ra. diutus Khalifah Usman bin Affan berdakwah mengembangkan Islam, jejak peninggalan itu masih terlihat hingga sekarang, terlihat pada ras Uyghur yang taat beragama, ramah, dan sangat menghormati tamu.

Kini suku Uyghur sangat tertekan oleh pemerintah Cina, mereka ingin merdeka, budaya gotong royong, dan keramahtamahan seperti dulu mereka membangun kanal dan sumur itu sudah susah ditemui di Xinjiang Cina.

Memelihara jenggot saja sesuai Sunnah, bagi kaum lelaki di Cina adalah hal yang terlarang, padahal kalau kita lihat dari postur tubuh dan banyaknya bulu yg tumbuh di muka mereka, sepertinya sudah menja dikodrat, sangat berbeda dengan orang Cina dari entik lain nyaris mukanya mulus, tidak berbulu itulah dilemma jadi minoritas, minoritas di Cina bukanlah hal yang mereka ingini.

Sepekan sebelum kunjungan kami ke Uyghur (07/05/2014), terjadi huruhara di Stasiun kereta api Urumqi yang menewaskan tiga orang, demikian pula setelah 10 hari dari sana, 31 orang tewas dipasar terbesar Urumqi, dikota penghasil sutera dan jade batu giok itu.

Saat kami ke Turban, Karez, kawalan cukup ketat, pemeriksaan orang dan barang bawaan, beberapa 10322817_857894260891313_5404236719853508991_nakan kita lalui sebelum dan setelah Karez, sepanjang 300 kilometer itu. Tentara dan polisi berjaga di sepanjang jalan, dan dipersimpangan, tetapi walaupun begitu tidak mengurangi minat wisatawan mancanegara datang mengunjungi daerah konflik itu.

Daerah Karez ini seperti cawan, pegunungan Himalaya, Nepal, Tibet menjulang di Selatan. Mongolia, Rusia, Kazakhstan membentang pula di Utara. Turki, Pakistan India di Barat mengapit. Dan nun jauh di Timur, laut Cina 3000 kilo meter jaraknya, meresap airnya dibebatuan pegunungan sampai ke Karez, Danau-Danau asin, kadar garamnya menyamai Laut Mati di Asia Tengah. Subhanallah. (Imbalo)

ISLAM DI CINA


Catatan Perjalanan dari Cina: Imbalo Iman Sakti

Assalamualaikum ucapku, kepada kakek yang hampir berusia 80 tahun ini, jauh dari tempat tinggalnya sengaja datang mendengarkan petuah dan khotbah jumat di Masjid.
10345042_843645205649552_1636978708_n
Tongkat ditangan, tas kecil seukuran 25 x 25 cm sebelah kiri isinya payung lipat, tas terbuat dari kain agak tebal dipakai untuk tempat duduk sebagai alas, dia berjalan perlahan ke ruang belakang masjid menuju tempat wuduk lelaki.

Cuaca saat itu cukup dingin, di Kunming ibukota provinsi Yunnan Cina, sekitar 11 derajat celsius, hujan sesekali turun gerimis. Wuduk, menggunakan air hangat di dalam ceret satu literan yang disediakan oleh pengurus masjid.

Di beberapa masjid air hangat ini tersedia langsung dari kran. Acap teman muslim Cina yang sama wuduk dengan kita menjelaskan cara memakai air hangat ini, mungkin karena kedua sisinya bertuliskan aksara Cina. Meskipun tak mengerti apa perkataan yang diucapkannya, te tapi dengan bahasa tubuh fahamlah kita.

Alhamdulillah tak begitu sulit berkomunikasi dengan Kakek Ibrahim ini, karena ada teman Cina yang dapat berbahasa melayu bersama kami, Ismail yang sedang menyelesaikan Phd nya di Universitas Islam Malayisa, di dapuk jadi juru bahasa.

Sang Kakek ini terus bercerita dalam bahasanya yang sedikitpun tak ku mengerti, “jangan , jangan ” kira kira begitu lah agak katanya, saat kuminta photo berdua, Orang di Cina terutama yang memakai jenggut seperti kakek ini tidak mau di photo, photo itu bisa membaha yakan dirinya, karena bila diberikan kepada pemerintah komunis Cina, sipemberi mendapat uang sampai 8000 yuan, dan si punya jenggot entah bagaimana nasibnya, sebenarnya hal ini terutama di daerah provinsi Xinjiang yang mayoritas Islam suku Uyghur, “diatas 45 tahun sebenarnya boleh pakai jenggot” ujar teman kami dari suku Uyghur……
“jadi di Cina Islam dilarang piara jenggot sebelum usia 45 tahun”.

Muslim Cina Entik Uyghur
Sepertiga Muslim Cina berada di provinsi Xinjiang. Provinsi ini adalah daerah otonomi yang berba tasan dengan daerah Otono mi Tibet di sebelah selatan dan Provinsi Qinghai serta Gansu di Tenggara.

Penduduk Asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uyghur, sekitar 45.21 persen dan suku Kazakh 6, 74 persen.

Kakek Ibrahim berasal dari suku Hui, di Xinjiang selain Uyghur juga terdapat suku Han yang merupakan suku mayoritas di Cina.
Sebelum terbentuk Republik Rakyat Cina tahun 1949, entis Uyghur ini adalah mayoritas di Xinjiang, provinsi ini ibukotanya adalah Urumqi.

Kini mereka menjadi minoritas, suku Han yang semula hanya berkisar 6 persen, menjadi mayoritas menjadi leboih 6o persen.
Pemerintah Cina benar benar memberi tekanan yang berat terhadap suku Uyghur ini terutama dalam Agama dan budaya apalagi terhadap bidang ekonomi.

Itulah mengapa Uyghur hingga kini lebih memilih merdeka memisahkan diri dari pemerintah pusat atau bergabung dengan Karjiskistan yang berbatasan langsung dengan Rusia ke timbang terus dalam cengkeraman Cina.

Kondominium puluhan tingkat ribuan jumlahnya dibangun oleh pemerintah Cina, nyaris penghuninya adalah pekerja dari suku Han yang non Muslim. Bentrok antara dua suku ini sering terjadi.

Negeri jalur sutera, terkenal ribuan tahun lalu yang kaya mineral ini terus di kuras, tak terhitung banyak dan panjangnya setiap hari rangkaian kereta api mengangkut batu bara dari perut bumi Urumqi, jutaan kincir angin pembangkit listrik berdiri kokoh di gurun yang dulu tandus itu, demikian pula solar cell tak terhitung jumlahnya sepanjang jalan sejauh 3000 kilometer antara Chengdu dan Urumqi yang kami lalui, terus mengarah ke matahari memanfaatkan panasnya.

Pompa angguk memompa minyak tak henti henti menggangguk terus mengalirkan minyak. Demikian pula dam bendungan air dan kincir airnya memutar turbin, dan terus mengalir kan air ke tali air ribuan kilometer panjangnya jauh mata memandang ladang gandum, padi terbentang.
Bagaimana mungkin Cina mau melepaskan negeri yang banyak dilalui para kafilah berdagang sutera ini dan pernah dilalui oleh sahabat Rasulullah SAW Saad bin Aby Waqas ber dakwah menyebarkan Islam.

Etnis Uyghur adalah masyarakat yang sederhana, jujur dan menghormati tamu, hal ini sangat kami rasakan, tahu kalau kami datang dari negeri muslim, bagaimana ramahnya Al Murad menjamu kami makan, membawa kami seharian dengan kenderaannya sendiri mengunjungi perkam pungan suku Uyghur nun jauh ratusan kilometer jauhnya sampai ke Turban, Karez.

Meskipun kini pemerintah Cina mulai melunak, dengan diinstruksikan para pejabat pemerintah Cina untuk mempelajari bahasa Uyghur dan teradisi Islam lainnya.

Tetapi anehnya pemerintah Cina malah melarang pria dibawah usia 45 thn memelihara jenggot. (imbalo)

Sungguh Allah Pencipta Yang Sempurna


Catatan Perjalanan ke Cina
10366204_783900314962622_8508420346361356565_n
SEJAK pagi lagi Al Murad pria 30 tahun suku Uyghur yang tinggal menetap di Urumqi provinsi Xin Jiang Cina itu, membawa kami bertujuh dengan Toyota Land Cruiser Outlander dan Honda New CRV nya jauh menyusur ke Selatan kota Urumqi, dialek Cina disana mengucapkan Urumqi terdengar berbunyi seperti “wulumuchi” dan memang dipapan nama yang ada disepanjang jalan tertulis ‘wu lu mu qi’.

Dingin hembusan angin pegunungan berselaput salju dari utara terlihat memutih, Urumqi Cina, berbatasan dengan Mongolia, dan disebelah Selatan, membentang gurun berselaput debu kuning, Urumqi, provinsi otonomi Islam di negeri Cina ini berbatasan dengan Nepal, kadang angin bertiup kencang berputar keatas menerbangankan debu seperti tordano

Sepanjang gurun gersang yang kami lalui ratusan kilometer, dulu, ribuan tahun yang lalu, para kafilah untuk mendapatkan sutera yang terkenal sejak zaman Dinasti Tang itu, gurun ini harus dilalui. Membuat bibir ini tak henti-hentinya bergu mam menyebut asma Allah.

Danau Air Asin
10267768_849625618384844_4690406129174270681_n
Al Murad dengan sabar melayani pertanyaan ketidak tahuan kami, seperti hamparan putih bak salju terlihat menyebar di pinggir danau. Subhanallah, ternyata itu adalah garam yang mengkristal, tak terbayangkan ditengah gurun kerontang, puluhan danau-danau disepanjang jalan itu berair asin (Nacl – Natrium clorida) dan kadar garamnya menyamai kadar garam Laut Mati di Timur Tengah sana.
Allah memberikan rahmat dan hidayah kepada yg diinginkan dan rezeki sudah diatur NYA, kalau hanya mengandalkan akal dan logika semata, tak terbayangkan negeri terjauh dari laut di dunia ini, nyaris jaraknya 3.000 kilometer jauhnya, itulah negeri orang-orang Uyghur, Urumqi.

Turban
10258724_783900691629251_6732547954743343768_n
Daerah tempat tinggal suku Uyghur dipegunungan, pengunungan ini disaat tertentu, musim dingin, malah mengeluarkan panas, telur bisa matang jelas Al Murad kepada kami.

Di dinding gunung terjal itu banyak terlihat gua-gua, sebagian penduduk Uyghur menetap di dalam gua tersebut.
Memasuki perkampungan suku Uyghur, entis yang bahasanya mirip bahasa Turki dan tampang mereka pun sama dengan orang – orang Turki.

Puluhan kilometer jalan beraspal sejak simpang dari jalan besar, mengelilingi pegunungan batu penghasil Jade terkenal di Cina, sampai di perkampungan yang kami tuju, nyaris semua bangunan rumah mereka terbuat dari tanah liat dicampur dengan jerami sebagai penguat.
Perkampungan Uyghur di Turban ini salah satu tujuan wisata andalan Cina.
10366250_783900538295933_1371503712166524297_n
Udara masih dingin pergantian musim, sedang berlangsung, pepoho nan terlihat mulai berbunga , demikian pula ladang anggur puluhan ribu hektar sejauh mata memandang di lembah lembah subur di Turban, mulai memu tik, terlihat rombongan wisata wan tak henti henti berdatangan.

Dengan menikmati buah anggur kering hasil ladang orang Turban, kami tinggalkan kampung itu, menuju tempat lain……….(***)

Urumqi Daerah Otonomi di Cina


Catatan Perjalanan ke Cina

“Yindhinixya” ucapku, setelah menjawab salam dari Al Murad, awal pertemuan, Murad, demikian nama pemuda berbadan kekar itu, mengiraku orang Malaysia.

Soal pertanyaan dan tak dikenalnya orang Indonesia di benua Cina itu, membuat geram Ashari, yang bersamaku dalam program “Bekpeker Dakwah” ke negeri Tirai Bambu itu.

Kami termasuk bekpeker yang nekat, hanya berbekal bahasa alakadarnya dan buku kamus bahasa Indonesia – Mandarin, kami mulai perjalanan dari Batam – Kuala Lumpur dan dari Kuala Lumpur dengan penerbangan murah Air Asia, kami jejak Kunming ibukota provinsi Yunnan, kota paling Selatan di Cina.

Di Kunming tiga hari dengan kereta api seharga 260 yuan selama 18 jam, kami tinggalkan kota terbesar di Selatan Cina itu dengan kereta api, menuju Chengdu. Meskipun Chengdu tidak seramai Kunming, banyak hal yang menarik kami temui di Chengdu, terutama mengenai umat Islam nya. Mereka peduli dengan makanan halal.

3hari dua malam di Chengdu, perjalanan kami lanjutkan ke Utara, meskipun dalam map Cina tempat yang kami tuju terletak di Barat Laut Cina, yaitu provinsi Xinjiang otonomi Urumqi.

Masjid di Urumqi, disela sela gedung pencakar langit.....

Masjid di Urumqi, disela sela gedung pencakar langit…..

Dari Chengdu dengan kereta api selama 48 jam melalui gurun jalur sutera, dua hari kemudian tiba di Urumqi tengah hari, sekitar pukul 12.00 waktu setempat.

Walaupun waktu Kuala Lumpur dengan dengan Urumqi sama, tetapi waktu shalat subuh di Urumqi adalah pukul 03.20 dini hari, nah lho sementara shalat juhurnya pukul 13.20.
SONY DSC
Jadi di Urumqi waktu siangnya, saat ini, lebih panjang dari malamnya. Hari pertama di kota mayoritas muslim Uyghur itu rombongan kami berjalan mengelilingi kota, hampir semua rasanya ceruk kota dah di jalanai, photo sana photo sini, banyak sekali momen momen yang sayang dilewati, kaki ini sudah tak larat nak berjalan di usiaku yang ke 61, dan memang akulah orang tertua dirombongan kami.

Aku menyerah pulang sendiri ke hotel, teman yang lain melanjutkan “tawaf” nya ke tempat tempat lain. Berjalan perlahan, menyusuri jalan semula, sembari mengingat ingat gedung yang sudah dilewat, takut tersesat, kalaupun tersesat, paling juga naik taksi ke hotel yang sudah dicatat alamatnya, dalam perjalan pulang itu terkadang aku berhenti berehat, di bangku – bangku yang banyak tersedia di kota wisata itu, hari sudah pukul 18.30 petang, tetapi sinar matahari masih terang tak terlihat warna merahnya.

Sapaan salam menyentakkanku dari lamunan melihat gedung tinggi berbentuk kubah, “Alaikumsalam” jawabku itulah awal perkenalan dengan Al Murad “Malaysia” tanyanya lagi.

Tahu kalau aku dari Indonesia, orang cina dan dalam kamus yang kubaca, Indonesia dilafalkan Yindhinixya.
Murad bertanya “Apa yang boleh saya bantu untuk pakcik” kata Murad, menjelaskan kalau dia pernah ke Jakarta dan lima tahun di Kuala Lumpur.
“jadi saya boleh sikit bahasa melayu” ujarnya lagi.

Pucuk dicinta ulam tiba, senang sekali hatiku berkenalan dengan Murad, pertemuan tak terduga duga ini, sering kualami di negeri minoritas Islam yang tak mengenal Indonesia dan dapat berbahasa Melayu.

Dengan bahasa alakadarnya, kuutarakan keinginanku hendak mengunjungi pemukiman suku Uyghur, yang kebetulan juga adalah bangsa dan sukunya Murad.
Dan alangkah bahagianya hatiku kalau dapat shalat jumat juga disitu ujarku pada Murad.

Bertukar nomor telpon berpoto bersama, aku mengatakan kalau datang ke Urumqi tidak sendiri, tetapi bersma rekan enam lagi yang sedang keliling melihat lihat kota. Murad berjanji akan datang dan membawa kami ke tempat-tempat khas kehidupan bangsa Uyghur.

Murad meskipun baru berusia 30 tahun, adalah pebisnis yang termasuk sukses. Di Uyghur umat muslimnya puluhan juta jumlahnya, tetapi masih kala persentasi dengan suku Han yang terus menerus memasuki daerah otonomi Cina itu.
Kami agak hati hati membicarakan hal ini.

Kebijakan pemerintah Komunis Cina, seperti tak dibenarkannya kaum Uyghur yang bentuk phisik dan bahasa nya jauh sekali dari suku Han itu memakai jenggot, adalah hal sensitif yang dibicarakan.

Tetapi satu dua orang tua lanjut usia masih terlihat memakai jenggot yang sudah memutih, “Iya dilarang memakai dan memelihara  jenggot dibawah usia 45 tahun” ujar Murad menjelaskan.

Disinggung soal hilangnya pesawat terbang milik Malaysia MAS MH370, dan awal sebelum dinyatakan “berakhir di lautan “ Uyghur, adalah tersangka, satu orang penumpang pesawat itu yang memakai paspor palsu adalah berkebangsaan cina dari suku Uyghur.

Kulihat Murad sering dan acap memperhatikanku, entah apa yang ada didalam pikirannya tentang aku, mungkin kopiah yang selalu kugunakan selama di negeri para Shaolin ini, membuat iya terkesan akupun tak tahu.

Dihari Jumat seperti yang dijanjikan, Sungguh Allah Pencipta Yang Sempurna,  Murad membawa kami, seorang yang menyupiri kami temannya Murad adalah seorang Polisi. Tak menyulitkan kami melalui beberapa kali pemeriksaan sampai keperkampungan suku Uyghur. Barikade tentara dan polisi layaknya daerah bergolak seperti di Aceh jaman DOM dan di Patani Selatan Thailand, begitu juga di Mindanao Filiphina, hal yang sama berlaku juga di seluruh wilayah Urumqi.

Alhamdulillah, aku yakin dan percaya perjalanan kami selama di Urumqi dan pertemuan dengan Al Murad pria beranak dua ini, semua diatur Allah SWT. (Imbalo)

Islam di Yunnan Kunming Cina


Catatan Perjalanan ke Cina

Imam masjid Kunming

bersama Imam masjid Kunming

Buletin Jumat berkesempatan mengunjungi Cina, lawatan, kami mulai dari Kunming ibukota provinsi Yunnan. Hampir empat jam perjalanan dengan pesawat Air Asia, dari Kuala Lumpur Malaysia, tiba di lapangan terbang antara bangsa Kunming, hari menjelang petang, meskipun tidak ada perbedaan waktu antara Kuala Lumpur dengan Kunming, tetapi waktu shalat berbeda.

Dengan taksi menuju pusat kota, tarifnya 100 yuan, 1 yuan sekitar 1.900 rupiah. Bandara Yunnan ini terlihat lengang, masih gersang dari pepohonan, karena sedang dalam tahaf pembangunan. Sepanjang perjalanan ke pusat kota, terlihat pembangunan kondominium dan pabrik tempat industri disana sini.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 tetapi matahari masih bersinar terang, udara terasa dingin sekitar 12 derajat selsius.
Kedatangan kami di Kunming (Cina) sedang libur, hari buruh, hotel penuh, 01 Mei benar benar dinikmati pekerja di negeri tirai bambu tersebut.

Hidung terasa sesak dan kering, cuaca dingin dan bau menyengat khas kota Kunming, awalnya kami tak itu bau apa, ternyata bau tahu busuk dari parit pembuangan, persis di dekat pembuangan limbah ada kamar hotel dekat masjid seharga 240 yuan semalam, dengan dua tempat tidur.

Di Kunming, warga negara asing harus tidur di hotel, sebenarnya ada penginapan murah di sekitar masjid. Tapi pemerintah komunis itu tak membenarkannya.

Karena tak tahan bau yang menyengat entah bau apa, seperti aroma bawang dan busuknya hembusan angin dari parit tertutup pembuangan limbah dari pabrik tahu, malam itu kami menginap di We Long Hotel. Tarif paling murah 450 yuan, satu malam.

Masjid di Kunming

Ada enam masjid, terletak di pusat kota Kunming, satu masjid provinsi yang kami kunjungi, ribuan jumlah jamaahnya pada shalat jumat. Di ruang utamanya dapat memuat sekitar 700 orang jamaah, masjid tanpa kubah ini, adalah masjid paling tua di Kunming. Masjid ini terletak persis di depan jaringan Mall terkenal di Cina yaitu Wang fun jing.

Jamaah shalat jumat penuh sampai ke halaman masjid, diperkirakan ratusan ribu umat islam di Kunming , sebagian besar dari suku Han

Jamaah shalat jumat penuh sampai ke halaman masjid, diperkirakan ratusan ribu umat islam di Kunming , sebagian besar dari suku Han

Diseputaran masjid ini banyak dijual makanan halal. Tidak waktu shalat jumat saja apalagi waktu shalat jumat, jauh waktu sebelum shalat tiba jamaah sudah berdatangan. Kebanyakan warga tua. Masing masing dengan tongkatnya. Mereka duduk berdua dua , duduk di bangku – bangku yang disediakan di halaman masjid, di bawah pohon-pohon pelindung.

Akrab terdengar perbincangan mereka kelihatannya, sebagian jamaah itu datang sengaja untuk shalat jumat, jauh dari kampung kampung kiloanmeter jaraknya dari masjid. Hujan yang turun tiba tiba selama pergantian musim nyaris semua membawa payung, dan bungkusan persegi empat, rupanya bungkusan itu untuk tempat alas duduk, dan sehelai handuk kecil.

Cuaca dingin, sesekali hujan turun, wuduk memakai air panas yang disediakan masjid, handuk kecil tadi digunakan untuk melap bekas wuduk terutama bagian kaki. Setelah dilap langsung memakai kaos kaki.

Kamar kecil untuk tempat buang air besar dan kecil ada yang terpisah, bila tidak biasa istinjak dengan kertas, kita terpaksa harus membawa gayung (ceret) yang ada tersedia disitu yang berisi air panas. Semua jamaah di Kunming shalat pakai kaos kaki, mungkin karena dingin udaranya.

Hari kedua kami menginap di hotel peris bersebelahan dengan masjid, tarifnya lebih murah satu malam 180 yuan. Subuh itu kami datang awal untuk shalat, ada rombongan dari Jakarta ikut turnamen golf disana, sebagian mereka ikut shalat di subuh yang dingin itu. Kebetulan kami satu hotel saat di We Long hotel, ada Ade Chandra mantan pemain Bulu Tangkis.

Di Kunming, sama dengan di Thailand Utara, bacaan basmalah pada Alfatiha tidak di zaharkan, begitu juga sebutan Amin, tidak terdengar, kalau di Indonesia dam Malaysia, sebutan Amin setelah Fatiha terdengar kuat dan panjang.

Bentangan sajadah pun sebagian besar masjid di Cina letaknya tidak memanjang ke depan tetapi kesamping, sajadah hanya untuk tempat duduk dan berdiri, sementara untuk sujud, kening menepel di papan di lantai tidak beralas.

Saat azan dikumandangkan, jamaah yang duduk langsung semuanya berdiri. Hal ini bukan untuk shalat subuh saja, setiap shalat fardu lain pun begitu. Bacaan Fatihah dan ayat yang dibaca intonasinya terdengar agak lain dari biasa yang kita dengar di Tanah air. Muazzin pula mengumandangkan azan di luar bangunan masjid, tidak menggunakan pengeras suara.

Jamaah wanita shalat di bangunan tersendiri, sementara tak terlihat anak-anak maupun remaja.
Esok kami ke Cheng Du……..

Sekelumit Kisah Yusuf Pelaut Muslim Asal Indonesia di Vietnam


SONY DSC
Hampir setahun bekerja di kapal cargo bendera Malaysia, Yusuf namanya, pria 24 tahun asal Bogor Indonesia ini menjabat sebagai 2nd Chief Enginer di kapal kapasitas 2.000 ton yang mengangkut beras dari Vietnam ke Malaysia. ( https://www.facebook.com/silobakj )

“Selama ini saya kalau Jum’atan ke Cou Doc, sekitar 2 jam naik speda motor sewa dari tempat kapal bersandar ” ujar Yusuf . “Khotbahnya pakai tiga bahasa, melayu, kamboja dan vietnam”.tambah Yusuf lagi.

Cou Doc adalah satu kota terbanyak populasi muslimnya di seluruh Vietnam negeri Komunis yang beribukota di utara Ha Noi, tetapi kota terbesar dan terbanyak jumlah penduduk ada di selatan yaitu Ho Chi Min (dulu Saigon).
SONY DSC
Cou Doc masuk dalam provinsi An Giang, provinsi kedua terbesar setelah Ho Chi Min. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Phom Penh Kamboja, bahasa di kedua negeri itu nyaris sama, mereka menggunakan bahasa Champa.

Petang kemarin Jumat (26/4) Yusuf kembali mengunjungi Masjid Salamad di An Giang, menjelang magrib Yusuf baru bisa turun dari kapalnya. “Jadi tidak jum’atan Ki” kata Yusuf. ” saat kutanya pakai bahasa apa dan siapa khatib shalat jum’at di Masjid Salamad itu.

Yusuf yang memanggilku Aki ini baru tahu kalau dari tempat kapalnya bersandar, ada sebuah masjid melalui blog pribadiku https://imbalo.wordpress.com/2012/10/02/masjid-kecil-di-an-giang-vietnam/ Jutaan penduduk kota itu, tak sampai sepuluh keluarga orang muslimnya, dan hanya Masjid Salamad yang mau rubuh itu saja ada rumah ibadah bagi orang Islam disana.
SONY DSC
Tiga tahun belakangan ini pemerintah komunis Vietnam telah membuka diri, terutama terhadap kegiatan islam, seperti jamaah haji misalnya, mereka sudah bisa mengirimkan sendiri langsung dari vietnam , selama ini melalui Thailand atau Malaysia.

Pelajar yang mau belajar Islam dulu tidak diizinkan, kalau mau juga dengan diam diam dan harus menukarkan kewarganegaraannya dengan warga negara Kamboja, kini mahasiswanya telah direstui dan diizinkan menggunakan pasport Vietnam.

Imam masjid Salamad bernama Sholeh, saat kami kunjungi tahun 2012 lalu bersama rekan dari Yayasan Amal Malaysia ( https://www.facebook.com/yayasanamal.malaysia?fref=ts ), mereka sekeluarga belajar Islam melalui internet, menitik air mata saat beliau membaca surat Fatiha, dalam shalat magrib berjamaah yang diimaminya, terdengar tidak sebagaimana lazimnya kita membaca.
Lokasi tanah bangunan masjid itupun kini diincar oleh investor.

” Kaca sebelah selatan masjid sudah pecah Ki” ucap Yusuf kepadaku melalui whatsapp.

Dan Yusuf pun mengirimkan gambar masjid yang sudah tambah reot itu, ibah hati melihatnya.
Kukatakan kepada Yusuf disela sela kesibukannya , agar bisa meluangkan waktunya mengunjungi keluarga Imam Sholeh untuk mengajarkan Quran kepada mereka.

Dua anak pak Sholeh dari 4 bersaudara sudah menikah, nyaris tak bisa membaca al-Quran. Cucu-cucu nya pun sudah mulai masuk usia sekolah.

“Insyaallah Ki” kata Yusuf terkadang kami ngobrol dengan bahasa sunda, rupanya Yusufpun sudah rindu pulang ke kampung halamannya………..

Moga-moga ada pelaut pelaut lain seperti Yusuf yang membaca postingan ini mampir ke sana ke masjid Salamad.Dan ada pula para aghniya yang berkenan membantu untuk merenovasi masjid yang sudah reot itu….????
Kang Arief Darmawan (https://www.facebook.com/arief.darmawan.693?fref=ts) ,tadinya kami sangat berharap satu dari putra Imam Sholeh ini dapat belajar di Mahad Said bin Zaid Batam tapi bagaimana lagi kondisinya seperti itu.

Sriotide Marbun, (https://www.facebook.com/sriotide.marbun?fref=ts) bantu bang melalui Konjen RI di Saigon, kalau dari Ha Noi kejauan…

Ustadz Fadlan, Mengangkat Harkat dan Martabat Muslim Nuu War


604068_819605374720202_349000249_nYang tepat sebutan itu Nuu Waar, ujar ustadz Fadlan kelahiran Fak Fak Papua ini, empat hari di Batam sejak kamis hingga Ahad minggu lepas, beberapa masjid dan majelis taklim di kunjungi beliau.

Suaranya mengelegar saat khotbah Jumat di Masjid Raya Batam Center, jamaah terkesimah, menahan nafas dan berlinang air mata, sosok perawakannya, besar, hitam, keriting mengingatkan kita kepada sahabat Rasululah SAW, Bilal bin Rabah ra.

Ratusan tahun sejak 1885 Kristen masuk ke bumi Papua, mereka dibiarkan tak bercelana, koteka adalah budaya alasannya. Minyak babi melumuri seluruh raga, untuk melindungi sejuknya udara, gigitan nyamuk mendera sepanjang usia mereka, padahal itu bukan solusinya.

“Sabun, Shampo, sikat gigi dan odolnya” itulah senjata dakwah ustadz Fadlan, tanpa iming iming, tanpa paksaan ikhlas dengan pendekatan. Dia pun mendapat gelar ustadz Sabun.

Kini telah ratusan ribu mereka saudara baru kita itu, memakai baju walaupun ada yang alakadarnya, dan terlihat masih sebahagian shalat tanpa busana.

Tak apalah. “Kumpulkanlah akan kami kirim ke Papua” ujar ustadz menghimbau jamaah. Baju bekas layak pakai, masih sangat dibutuhkan disana. “Sebagian dari mereka, sementara ini kami kenalkan pakaian dari pelepah pisang” ujar ustadz Fadlan mengatasi bahan menutup aurat ini.

Banyak kisah suka duka dialamai ustadz yang tiga kali masuk penjara tanpa proses, buahnya ratusan masjid sudah berdiri dipelosok tanah Nuu Waar. “Penduduk Muslim Nuu Waar, adalah ummat pertama yang shalat subuh di Nusantara ini” (imbalo)

HIMBAUAN.
Jamaah masjid yang dirahmati Allah. Mari kita sukseskan GERAKAN PEDULI MUSLIM NUU WAAR
– Sepasang Kambing Satu Masjid. Menggantikan babi, sebelum muslim mereka ternak.
Dapat menghubungi Takmir Masjid setempat –

 

Kriteria Aliran Sesat Dan Antisipasinya


Jamaah Ahmadiyah di Batam

Jamaah Ahmadiyah di Batam

Menyimak isi khotbah shalat Jumat (15/2) oleh ustz. Efendy Asmawi di Masjid Raya Batam Center, tentang kriteria Aliran sesat rasanya perlu simak dan dicermati, Buletin Jumat, menurunkan tulisan dimaksud yang kami rangkum dari beberapa tulisan.

Dalam rangka upaya menangkal dan menghentikan aliran sesat serta menyadarkan para pengikutnya agar kembali ke jalan yang benar, MUI Pusat mengeluarkan Pedoman Identifikasi Aliran Sesat pada tanggal 6 November 2007. Dalam pedoman ini ditetapkan sepuluh kriteria sesat, yaitu:
Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam,
Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar‘i,
Meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Qur’an,
Mengingkari autentisitas dan kebenaran isi Al-Qur’an,
Melakukan penafsiran Al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaedah-kaedah tafsir,
Mengingkari kedudukan Hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam,
Menghina, melecehkan dan merendahkan para nabi dan rasul,
Mengingkari Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul terakhir,
Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti haji tidak ke Baitullah, salat fardu tidak lima waktu,
Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar‘i, seperti mengakafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Di antara kriteria sesat yang menonjol sekarang adalah pengakuan menjadi nabi, menerima wahyu, dan kedatangan Malaikat Jibril. Lia Eden di Jakarta, Ahmad Mushaddeq di Bogor, Jawa Barat, dan seorang oknum kepala SD di Kabupaten Bungo, Jambi semuanya mengaku nabi.
Di zaman Nabi Muhammad saw seorang yang mengaku nabi dihukum bunuh. Musailamatul Kazzab dan al-Aswad al-‘Insi dihukum bunuh karena keyakinan sesat mereka, mengaku sebagai nabi. Bahkan, Abu Bakar memerangi orang murtad dan orang yang enggan membayar zakat.
Indikasi Awal Aliran Sesat

Sebagai indikasi awal yang selayaknya menimbulkan kecurigaan terhadap satu paham atau pengajian bisa melalui tanda-tanda berikut:
Pengajian dilaksanakan secara rahasia-rahasia, tertutup kepada selain jamaahnya. Sebagiannya melakukan pengajian tengah malam sampai subuh dan tempatnya pun sangat terisolir. Gurunya tidak dikenal sebagai ahli Agama, tidak pernah menekuni ilmu agama, dan tidak dikenal sebagai orang yang rajin beribadah, tetapi tiba-tiba menjadi pengajar Agama. Adanya bai‘at atau mitsaq untuk taat pada guru atau pimpinan pengajian. Bahkan, ada janji yang harus ditandatangani oleh anggota pengajian tersebut. Cara ibadah yang diajarkan aneh dan tidak lazim. Ada nya tebusan dosa dengan sejumlah uang yang diserahkan kepada guru atau pimpinan jamaah. Kadang-kadang, pengajian sesat ini mengharuskan adanya sedekah lebih dahulu sebelum berkonsukltasi dengannya.

Adanya penyerahan sejumlah uang, seperti Rp 300.000, dan orang yang menyerahkannya pasti masuk sorga. Adanya sumbangan yang tidak lazim sebagaimana layaknya sumbangan sebuah pengajian. Misalnya, 10% atau 5% dari penghasilan harus diserahkan kepada guru atau pimpinan pengajian. Pengajiannya tidak mempunyai rujukan yang jelas, hanya penafsiran-penafsiran gurunya saja.Pengajiannya tidak memakai Hadis Nabi Saw. Sumber ajaran hanya Alquran dengan penafsiran dan pemahaman guru yang ditetapkan oleh pengajian dan tidak boleh belajar kepada ustaz lain. Wallaua’lam.

Masjid Raya Batam


1394086_746436505370423_17293193_nMasjid ini tidak ada tiang ditengah ruangan, di desain oleh Ir Achmad Noe’man membuat kagum tamu – tamu dari luar negara. Masjid ini dapat menampung 3.500 orang didalam dan diluarnya sekitar 15.000 orang.

Masjid Raya Batam (MRB) mulai dibangun tahun 1999 dan mulai dipergunakan pada tahun 2001 yang lalu. Sejak awal dilaksanakan shalat Taraweh di bulan Ramadhan, masjid ini mengkhatamkan 30 juz Al-Quran, karena imam-imamnya banyak yang hafiz. “Macam di Makkah saja” kata jamaah.

Sebelum masjid ini ada, pegawai, karyawan OB maupun Pemko dan masyarakat di sekitaran Batam center, shalat di lantai tiga, Gedung Otorita Batam.

Ruang serba guna namanya, ya kalau hari Jumat jadi tempat shalat, hari-hari lain untuk acara lain.Terkadang dipakai acara Natalan, hiburan, pelantikan pejabat pun diadakan ditempat yang sama. Namanya juga ruang serba guna. Alhamdulillah MRB cepat terbangun.

Dihari Jumat satu tahun belakangan ini masjid kebanggaan masyarakat Batam ini, shalatnya pun seperti di Makkah dan Madinah, setelah Imam membaca Takbir, ada makmum yang mengulang membaca takbir dengan keras. Begitu juga bacaan bangkit dari rukuk dan salam.

Sedang Shalat Mic Putus

Pernah Buletin Jumat (BJ) shalat Jumat di Masjid kawasan industri Batamindo Muka Kuning, beberapa waktu yang lalu, di ruang utama tak banyak jamaah yang dapat di tampung, sehingga jamaah membludak sampai keluar. Saat itu shalat sudah dimulai, di sujud rakaat pertama, sewaktu hendak berdiri, lama, tidak terdengar suara imam mengucapkan takbir. BJ, yang kebetulan dalam shaf antara dinding dan ruang istirahat imam, sebelah selatan, sekitar 5 orang satu barisnya, tetap saja sujud, sementara jamaah lain sudah hampir rukuk.

Kiranya mic kecil yang tergantung di dekat leher sang Imam putus. Apa jadinya, Sampai selesai prosesi shalat satu rakaat lagi, terpaksalah mak mum, celingak celinguk memperhatikan kiri kanan dan kedepan.

Maling

Jamaah shalat Jumat di MRB belakangan ini kurang begitu ramai, ruang utama yang biasa penuh, terkadang 3/4 saja terisi, mungkin salah satu penyebabnya tak jauh dari MRB ada pelaksanaan shalat jumat, oleh masjid lain. “Disana Lebih cepat shalatnya” kata seorang karyawan yang bekerja di Graha Pena.

Belakangan ini pun MRB kurang aman, maling bebas berkeliaran, Bahkan jamaah sedang shalat tasnya bisa hilang. Ironisnya lagi Brankas Lembaga Amil Zakat (LAZ) pun di gondol maling tanpa bekas. Sepertinya perlu dipasangi cctv. Untuk membantu tugas security.

Masyarakat tidak tahu siapa pengelola MRB ini, apakah masih Otorita Batam atau Pemko Batam. Minimnya pengawasan, nyaris tanpa pintu, seperti lapangan parkir Utara, dulu dirancang dapat menampung puluhan kenderaan roda empat, kini lapangan itu dijadikan badan jalan. Pengganti lapangan parkir itu tidak ada. sepertinya pintu Utara itu, kini, kurang berfungsi.

Mungkin masjid besar yg ramai jamaah bisa mencontoh MRB dalam hal pemakaian mic, bila mic putus jamaah tak kalang kabut. (imbalo)

Kampung Sadap Perkampungan Suku Asli Batam Yang Perlu Perhatian


1654059_10202139474780821_884013112_nKAMPUNG Sadap, tempat pak Kosot, warga Asli Batam ini terletak di pulau Rempang, kelurahan Rempang Cate.

Melewati jembatan empat dari Pulau Batam, setelah pintu gerbang masuk ke kelurahan Rempang Cate, terus saja arah ke Pulau Galang sebelah kiri, ada tulisan Jalan Bumi Melayu, masuk sekitar 4 kilometer, disitulah pak Kosot bermastautin..

Sabtu pekan lalu rombongan dari Batam Pos dikabarkan mengunjungi perkampungan yang nyaris punah itu. Alhamdulillah, terimakasih pembaca Batam Pos, atas perhatiaannya.

Kampung Orang Asli ini sama nasibnya dengan beberapa kampung tua yang sudah sirna dari Bumi Batam tinggal nama saja seperti Mentarau, Tanjung Pinggir.

Di Kampung Sadap, nyaris tidak ada lagi pohon sebesar pelukan manusia, sejak mulai masuk simpang Jalan Bumi Melayu tadi, sampai ke ujung kampung, yang terlihat adalah semak belukar, dan padang ilalang, bekas panen buah semangga, dan palawija.

Puluhan ribu anak kayu sebesar pergelangan tangan pun punah, sebagian besar dibuat bahan kandang peternakan ayam, ratusan mungkin sudah ribuan kandang ini di Barelang.

Disekitar gubuk pak Kosot hanya terlihat beberapa pohon Kelapa, Nangka, rambutan mangga, yang enggan berbuah, Ladang ubi pak Kosot seperti hidup segan mati tak mau, lembah di batas lahan, sudah tak berair lagi, Sungai Sadap yang berair payau bertambah dangkal, karena perambahan hutan-hutan diatasnya, erosi tanah yang dibuat ladang oleh peladang berdasi dari Batam salah satu penyebabnya.

Pak Kosot memandangi terus traktor dan lori lalu lalang di depan kebunnya, di lahan yang hanya tinggal sekitar 6 hektar itu sudah jadi padang jarak padang tekukur, disana sini pohon perdu meranggas, hitam bekas terbakar.

Saudaraku, masih inginkah melihat pak Kosot atau pak Manan sebagaimana nama tertera di KTPnya?, datanglah kesana, penduduk disitu sangat memerlukan perhatian kita, pak Kosot adalah lelaki terakhir Suku Asli Batam yang masih bermukim dan bertahan disana.1888702_10202171126652098_678776280_n

Hendak ke sumur pun terasa susah bagi pak Kosot kini, jarak 150 meter, lumayan jauh baginya, konon pula hendak menanam ubi untuk menyarah hidupnya.

Hampir sebulan tak turun hujan, air sumur hanya sedikit saja, timba plastik sudah tak tenggelam karena sakin dangkalnya, padahal dulu ikan gabus, dan sepat masih banyak di sekitar sumur itu.

Apalah daya hendak menyiram tumbuhan, kering kerontanglah ubi kayu dan tanaman lainnya. Alangkah senang hati pak Kosot kalaulah ada orang menyum bang seperangkat mesin pompa air, dan mengganti tandon (tangki) air yang sudah pecah.

Apalagi ada Dai yang hendak dan bersedia datang, mengajarkan Islam kepadanya, dan kepada cucu-cucunya yang masih usia sekola, tetapi tidak bersekolah, dapatlah dia membaca syahadat dengan lancar dan belajar shalat di akhir akhir hayatnya.

Kalau hal ini terbiarkan dan tak ada perhatian mungkin setelah kepergiannya kelak kepangkuan ilahi rabbi, kampung Sadap tempat tinggalnya dibagi-bagi orang menjadi ladang semangka dan buah naga.

Apakah kita tega?

Wallahu’alam (imbalo)

%d blogger menyukai ini: